17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu India Mengenal Kawitan?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
November 14, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 14 Nopember 2021

.

Apakah penganut Hindu di India mengenal kawitan/leluhur/pitara/pirata?

Jawabannya: Penganut Hindu di India mungkin lebih keras memikirkan kawitan/pitara dibandingkan Hindu di Indonesia. Hal ini jika dilihat dari berbagai kitab yang menyebutkan pentingnya penyembah leluhur yang diwarisi di India. Pentingnya pemujaan leluhur atau ‘kawitan’ disebutkan dalam kitab suci kuno seperti Garuda Purana, Matsya Purana, Wisnu Purana, Vayu Purana dan Manu Smriti, yang menggarisbawahi manfaat melakukan pitra puja. Dalam kitab-kitab ini dikatakan bahwa leluhur kita akan memberkati kita dengan semua kesenangan hidup – seperti pernikahan, anak-anak dan kekayaan materi.

Apakah keyakinan pada kawitan di Bali punya hubungan dengan ajaran kitab-kitab India kuno tersebut?

Tradisi pemujaan leluhur di Bali itu kemungkinan besar percampuran tradisi Nusantara dan ajaran kuno yang merujuk pada teks kitab Garuda Purana. Jika kita baca rujukan lontar upakara Pitra Yadnya di Bali, yaitu lontar Yama Purana Tattwa, peristilahannya memakai peristilahan banten/sarana upakara leluhur yang sampai sekarang dijalankan di India, seperti skul pinda, tarpana, śraddha, dan lain-lain sampai sekarang pun juga masih dipakai sebagai sarana masyarakat Hindu di India dalam melaksanakan pemujaan leluhur. Salah satu agenda tahunan berturut nyejer 16 hari memuja leluhur agendanya bernama masa pemujaan leluhur atau Pitru Paksha ( Sansekerta : पितृ पक्ष , Pitr Paksa ; menyala “dua minggu dari nenek moyang”).

Pitru Paksha adalah kalender khusus bagi masyarakat Hindu di India  untuk “melakukan penghormatan kepada nenek moyang mereka (Pitra)”, terutama dengan persembahan makanan dan upakara persembahan leluhur dalam bentuk pinda. Dalam lontar Jawa Kuno dan Bali dikenal istilah ‘shraddha’ atau ‘tarpana’ dan ‘pinda’, semuanya sama dengan istilah dalam Hindu di India sampai saat ini.  Periode ini juga dikenal sebagai Pitri Paksha / Pitr-Paksha, Pitri Pokkho, Sorah Shraddha (“enam belas shraddhas”), Kanagat, Jitiya, Mahalaya, Apara Paksha dan akhadpak (Marathi).

Dalam Prasasti Gajah Mada atau dikenal sebagai Prasasti Singhasari (1273 Saka/ 1351 Masehi) juga digunakan istilah yang sama bahwa Mpu Mada atau Gajah Mada melakukan pemujaan pada leluhur raja-raja Majapahit. Pemujaan leluhur tersebut punya kesamaan substansi dibandingkan upakara sorah shraddha ( “enam belas shraddha”) yang dirayakan di India sampai sekarang di kalangan penganut Hindu tradisional.

Peristilahan dalam lontar upakara Pitra Yadnya di Bali, yaitu lontar Yama Purana Tattwa, dengan Garuda Purana sangat dekat secara substansi jika dibandingkan dengan Garuda Purana dalam membahas perjalanan leluhur dan upakara untuk leluhur.

Benarkah bukan hanya orang Bali yang mengenal _’salahang kawitan’? Hindu India juga mengenal hal sejenis?

Upakara agar tidak ‘salahang kawitan’ di India ada beragam, diantaranya: Panchak Shanti Karma, Narayan Bali Karma, Pinda Daan, Tarpan, dan pemujaan Shraddha ketika Pitri Paksha.

Apakah namanya ‘salahang Kawitan’ di India?

Namanya: Pitra dosha (Kutukan Nenek Moyang). Juga disebut pitṛśāpa.

Bagaimana penjelasanya?

Tidak semua leluhur yang meninggal mendapat tempat yang baik, itulah konon dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Hindu India membawa sial bagi keturunannya.

“Kutukan nenek moyang” ini dipercaya dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, yang mungkin menjadi sangat rumit sehingga praktisi medis mungkin gagal untuk mendiagnosis penyakit, dan obat yang diresepkan menjadi tidak efektif sama sekali. Masalah kesehatan yang dialami biasanya di luar lingkup ilmu kedokteran. Tidak terdeteksi secara medis.

‘Salahang leluhur’ di India, dalam salah satu pembahasan Pitra Dosha dalam diskusi orang-orang Hindu India, juga disebutkan bisa berdampak membawa akibat keturunannya mengalami gejala seperti perilaku abnormal, kemarahan tak terkendali, menimbulkan cedera fatal pada orang lain, depresi, kecenderungan bunuh diri, rasa sakit tak terkendali bertahan bahkan setelah pengobatan; ruam di bagian tubuh tanpa penyebab yang terlihat, mual mungkin memiliki beberapa hubungan dengan kutukan tersebut. Banyak masalah seperti itu memiliki kejadian siklik dan tampaknya terkait dengan pergerakan planet.

Hal tersebut hampir sama dengan yang banyak dipercaya di Bali.

Para ahli astrologi India melihat bukan hanya hal tersebut di atas dampak dari ‘salahang leluhur’, banyak lagi turunan dari “Pitra dosha”, dapat menyebabkan beberapa masalah lagi seperti: –

  • a) Tanpa anak
  • b) Keguguran berulang
  • c) Perselisihan keluarga
  • d) Masalah kesehatan dalam keluarga
  • e) Hambatan dalam karir dan pendidikan tanpa alasan yang jelas
  • f) Ketidakmampuan untuk menikah
  • g) Kecanduan
  • h) Kelahiran anak tunagrahita
  • i) Kematian anak-anak di usia muda

Para ahli astrologi India biasanya membantu menangani masalah yang dipercaya berkaitan dengan kawitan masyarakat India. Direkomendasikan: Cara terbaik bagi penerusnya (damuh atau keturunan) adalah dengan berdoa kepada Tuhan untuk pengampunan. Karena nenek moyang juga dianggap sebagai jiwa ilahi atau pitara/pirata, seseorang harus meminta pengampunan dari mereka juga. Setiap jiwa yang terlunta, gelisah karena menunggu mukti (keselamatan), maka para penerus harus mengambil langkah-langkah yang ditentukan dalam teks-teks agama untuk “mukti” jiwa leluhur.

Kalau orang India merasa ‘salahang kawitan’ atau kena pitṛśāpa, mereka melakukan langkah-langkah (ini menjadi pengetahuan umum yang beredar di kalangan Hindu India):

a) Seseorang harus bersumpah untuk memberikan pelayanan tanpa syarat kepada orang tua dan orang yang lebih tua. Ini membantu dalam mendapatkan berkah dan ampunan dari leluhur.

b) Diperlukan perilaku yang baik dan amal kepada orang yang membutuhkan. Perilaku yang baik kepada orang-orang yang berada dalam pelayanan kita juga diperlukan. Kedua hal ini direkomendasikan untuk menghilangkan “pitra dosha”

c) Menyembah Dewa-Dewa dianjurkan karena semua jiwa akhirnya bergabung menjadi entitas besar Dewa-Dewa. Penggabungan ini disebut “mukti”.

d) Menyembah “Samarth Sadguru” seperti “Shri Sai Nath of Shirdi” juga akan membantu karena Sadguru seperti lampu suar yang membimbing kita menuju keilahian agung Yang Mahakuasa.

e) Seseorang harus bertanggung jawab dalam urusan perkawinan anak gadis, bertindak baik pada keluarga miskin untuk mendapatkan rahmat Tuhan dan leluhur.

f) Penyembahan harus dilakukan untuk “mukti” jiwa leluhur seperti yang disarankan dan ditentukan dalam sastra Garuda Purana dalam bentuk Pinda, Sraddha, atau Tarpana.

g) Pelafalan atau japa mantra seperti “Shri Gurudev Datta” dikatakan dapat mengurangi efek buruk dari “Pitra dosha”.

Dari mana sumber ajaran bahwa leluhur dikatakan bisa menyakiti keturunannya?

Ada anggapan dalam beberapa kalangan bahwa lebih penting untuk melakukan Pitra Kriya (ritual-pemujaan untuk nenek moyang) daripada Deva Kriya (ritual untuk memuja Deva dan atau Tuhan).

Juga karena leluhur bisa menimbulkan beban atau kutuk jika perjalanan badan halus atau ruhnya setelah kematian tidak lancar.

Garuḍa Purāṇa bab 13 menjelaskan prihal perjalanan ruh leluhur yang telah meninggal dan kemungkinannya memberikan hukuman ke keturunannya jika tidak melakukan pemujaan pada leluhur.

Dalam proses kematian, tubuh halus orang yang telah mati tiba di depan Citragupta. Citragupta lalu menjelaskan kepada jiwa tersebut perbuatan baik dan buruknya selama hidupnya di bumi.

Garuḍa Purāṇa 13 selanjutnya membahas tentang beberapa persembahan bagi tubuh halus yang meninggal ini jika berbuat baik di dunia. Jalan yang ditempuh tubuh halus untuk mencapai dunia Yama sangat gelap. Disebutkan, karena itu sebaiknya keturunannya menyalakan lampu tanah yang harus dinyalakan dan disimpan di tempat kematian atau rumah duka selama empat belas hari. Lampu ini harus menyala terus menerus. Lampu ini diharapkan menerangi jalan yang gelap. Lampu tanah lainnya juga harus diberikan. Sebuah tempayan tanah berisi air harus diberikan pada hari keempat belas atau di bulan karttika. Pemberian tempayan tanah memuaskan dahaga para pelayan Yama.

Tubuh halus sang mati ini menjadi tidak murni setelah meninggalkan tubuh kasar pada saat kematian. Itu mencapai kemurnian hanya pada hari kesebelas. Apapun hadiah yang diberikan atas nama almarhum membantu tubuh halus almarhum untuk melintasi jalan menuju dunia Yama dengan sedikit mudah.

Dari kitab ini juga para penekun kitab memberikan catatan: “Setelah kematian, tubuh halus seseorang dikenali hanya karena karmanya dan bukan karena kekayaan atau kecerdasannya. Harus diingat bahwa kecerdasan spiritual berbeda dari pengetahuan materialistis. Pengetahuan spiritual adalah perlindungang langsung dari Yang Mahakuasa”.

Perlu dibekali atau dihaturkan bagi yang meninggal di antaranya:  Tujuh item payung, alas kaki, pakaian, cincin, toples air, kursi dan bejana disebut ‘pada’. Ketujuh benda ini berguna untuk tubuh halus almarhum saat melintasi dari bumi ke tempat tinggal Yama. Memberi hadiah bejana tembaga berisi air dianggap sebagai yang terbaik. Hadiah yang ditawarkan atas nama almarhum diambil oleh dewa Varua dan diserahkan kepada Viṣṇu, yang pada gilirannya menyerahkannya kepada matahari. Matahari memberikan hadiah ini kepada almarhum.

Kitab ini menjelaskan secara rinci perjalanan jiwa halus orang-orang yang meninggal.

Orang yang melakukan dosa dikirim ke neraka dan tinggal di sana sampai semua dosanya habis. Setelah periode di neraka berakhir, tubuh halus diizinkan untuk melihat berbagai jenis neraka. Jumlah neraka digambarkan sebagai 8.400.000, di mana 21 di antaranya digambarkan sebagai yang mengerikan.

Di sinilah disebutkan pentingnya memiliki keturunan.

Jika seseorang tidak memiliki keturunan dan tidak ada yang memberikan persembahan apa pun atas nama mereka, terus tinggal di neraka ini untuk waktu yang sangat lama dan akhirnya menjadi pasukan Yama.

Ketika tubuh halus disiksa dalam waktu lama di neraka, tubuh halus menjadi perwujudan siksaan. Berdasarkan teori ini, pasukan Yama dikatakan berwajah-rupa mengerikan.

Dikatakan juga bahwa pada saat kematian, panjang tubuh halus adalah sepanjang lengan. Setelah menjalani siksaan di neraka yang berbeda, ia dibawa untuk muncul di hadapan Yama. Pada saat itu, tubuh halus menjadi seukuran ibu jari, sering digambarkan dalam Upaniṣad.

Jika seseorang telah melakukan banyak dharma, dia akan terlahir kembali sebagai manusia. Para pendosa dibuat terlahir sebagai cacing, serangga, hewan, tumbuhan, dll., atau mereka dibuat kembali ke neraka lagi untuk menjalani penderitaan lebih lanjut. Semua ini tergantung pada baik-buruknya karma yang dilakukan seseorang ketika ia masih hidup.

Beberapa orang berdosa dibuat untuk dilahirkan sebagai ‘ruh kesasar’. Terlahir sebagai ‘ruh kesasar’. Mereka menyiksa kerabat mereka karena tidak melakukan ritual shrāddha atau pemujaan leluhur, dan karena tidak mempersembahkan piṇḍa atau tumpeng-banten kepada leluhur.

Garuḍa Purāṇa bab 13 menjelaskan bahwa jika pemujaan leluhur tidak dilakukan seperti yang ditentukan oleh ajaran berleluhur maka pitara akan mengutuk keluarga mereka karena telah membuat mereka mengembara sebagai ‘ruh kesasar’ dan membuat mereka menderita. Kutukannya dapat dilihat secara kasat mata, seperti: Tanaman mereka tidak tumbuh, kekayaan mereka hancur, penyakit menyerang, tidak memiliki keturunan, kehilangan anak secara dini, dll. Penderitaan mereka bisa dalam banyak hal. Ini umumnya disebut pitṛśāpa atau kutukan oleh leluhur.

Satu-satunya cara untuk menghindari pitṛśāpa adalah dengan membuat orang tua bahagia selama masa tua mereka. Tidak ada gunanya melakukan upacara atau memberikan hadiah dalam jumlah berapa pun jika seseorang mengabaikan orang tua di hari tua mereka. Mengabaikan orang tua dianggap sebagai yang dosa terburuk. Semua kutukan leluhur yang menderita di alam sana bisa ditebus dengan melimpahkan kebajikan pada orang tua ita yang masih hidup — demikian penegasan kitab Garuda Purana.

Pentingkah silsilah leluhur atau ‘kawitan’ dalam masyarakat Hindu India?

Gotra adalah sebuah sistem garis silsilah yang sangat menjadi perhatian bagi masyarakat Hindu kuno.

Garis silsilah ini yang menghubungkan seseorang dengan leluhurnya yang paling kuno atau akarnya dalam garis keturunan laki-laki yang tidak terputus.

Katakanlah seseorang bagian dari Bharadwaja Gotra, maka itu berarti dia menelusuri kembali leluhur laki-lakinya ke Rishi Bharadwaja yang disebut dalam Rig Veda.

Gotra, jika dibandingkan dengan soroh atau sistem kawitan di Bali, sama-sama mengacu pada akar muasal dalam garis keturunan laki-laki seseorang. Memegang garis silsilah gotra dipraktikkan di antara sebagian besar umat Hindu di India.

Garis silsilah laki-laki ini kini menjadi pembahasan di India karena dikaitkan dengan temuan kromosom Y. Ini menambahi pendapat di India bahwa garis gotra terkait dengan diksa atau inisiasi kependetaan di kalangan brahmana dan kelompok ksatria. Gotra dikaitkan dengan pendapat bahwa Kromosom Y adalah satu-satunya Kromosom yang diturunkan hanya antara laki-laki dalam garis keturunan. Wanita tidak pernah mendapatkan Kromosom Y ini di dalam tubuh mereka. Dan karenanya Kromosom Y memainkan peran penting dalam genetika modern dalam mengidentifikasi silsilah yaitu nenek moyang laki-laki seseorang.

Disebutkan bahwa sistem Gotra dirancang untuk melacak akar Kromosom Y seseorang dengan cukup mudah. Jika seseorang termasuk Gotra Rśi Angirasa maka itu berarti bahwa Kromosom Y-nya turun jauh selama ribuan tahun dari Riśi Angirasa. Dan jika seseorang milik Gotra (katakanlah Bharadwaja) dengan Pravaras (Angirasa, Bhaarhaspatya, Bharadwaja), maka itu berarti bahwa Kromosom Y orang tersebut turun dari Angirasa ke Bhaarhaspatya ke Bharadwaja ke orang tersebut. Demikian perbincangan kalangan terdidik di India kini melihat silsilah garis kawitan kenapa konon berpatokan pada garis lelaki.

Urusan garis silsilah atau yang di Bali dikenal sebagai garis soroh atau kawitan, di India menjadi diskusi yang sangat serius dan menjadi jalan bagi pembelajaran dharma dan pelanjutan tradisi inisiasi suci atau diksa yang sangat ketat diturunkan dalam berbagai garis gotra. [T]

Tags: balihinduHindu BaliHindu Indiaindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tunas | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat

Next Post

Berpartisipasi di Ruang Digital

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Berpartisipasi di Ruang Digital

Berpartisipasi di Ruang Digital

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co