24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu India Mengenal Kawitan?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
November 14, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 14 Nopember 2021

.

Apakah penganut Hindu di India mengenal kawitan/leluhur/pitara/pirata?

Jawabannya: Penganut Hindu di India mungkin lebih keras memikirkan kawitan/pitara dibandingkan Hindu di Indonesia. Hal ini jika dilihat dari berbagai kitab yang menyebutkan pentingnya penyembah leluhur yang diwarisi di India. Pentingnya pemujaan leluhur atau ‘kawitan’ disebutkan dalam kitab suci kuno seperti Garuda Purana, Matsya Purana, Wisnu Purana, Vayu Purana dan Manu Smriti, yang menggarisbawahi manfaat melakukan pitra puja. Dalam kitab-kitab ini dikatakan bahwa leluhur kita akan memberkati kita dengan semua kesenangan hidup – seperti pernikahan, anak-anak dan kekayaan materi.

Apakah keyakinan pada kawitan di Bali punya hubungan dengan ajaran kitab-kitab India kuno tersebut?

Tradisi pemujaan leluhur di Bali itu kemungkinan besar percampuran tradisi Nusantara dan ajaran kuno yang merujuk pada teks kitab Garuda Purana. Jika kita baca rujukan lontar upakara Pitra Yadnya di Bali, yaitu lontar Yama Purana Tattwa, peristilahannya memakai peristilahan banten/sarana upakara leluhur yang sampai sekarang dijalankan di India, seperti skul pinda, tarpana, śraddha, dan lain-lain sampai sekarang pun juga masih dipakai sebagai sarana masyarakat Hindu di India dalam melaksanakan pemujaan leluhur. Salah satu agenda tahunan berturut nyejer 16 hari memuja leluhur agendanya bernama masa pemujaan leluhur atau Pitru Paksha ( Sansekerta : पितृ पक्ष , Pitr Paksa ; menyala “dua minggu dari nenek moyang”).

Pitru Paksha adalah kalender khusus bagi masyarakat Hindu di India  untuk “melakukan penghormatan kepada nenek moyang mereka (Pitra)”, terutama dengan persembahan makanan dan upakara persembahan leluhur dalam bentuk pinda. Dalam lontar Jawa Kuno dan Bali dikenal istilah ‘shraddha’ atau ‘tarpana’ dan ‘pinda’, semuanya sama dengan istilah dalam Hindu di India sampai saat ini.  Periode ini juga dikenal sebagai Pitri Paksha / Pitr-Paksha, Pitri Pokkho, Sorah Shraddha (“enam belas shraddhas”), Kanagat, Jitiya, Mahalaya, Apara Paksha dan akhadpak (Marathi).

Dalam Prasasti Gajah Mada atau dikenal sebagai Prasasti Singhasari (1273 Saka/ 1351 Masehi) juga digunakan istilah yang sama bahwa Mpu Mada atau Gajah Mada melakukan pemujaan pada leluhur raja-raja Majapahit. Pemujaan leluhur tersebut punya kesamaan substansi dibandingkan upakara sorah shraddha ( “enam belas shraddha”) yang dirayakan di India sampai sekarang di kalangan penganut Hindu tradisional.

Peristilahan dalam lontar upakara Pitra Yadnya di Bali, yaitu lontar Yama Purana Tattwa, dengan Garuda Purana sangat dekat secara substansi jika dibandingkan dengan Garuda Purana dalam membahas perjalanan leluhur dan upakara untuk leluhur.

Benarkah bukan hanya orang Bali yang mengenal _’salahang kawitan’? Hindu India juga mengenal hal sejenis?

Upakara agar tidak ‘salahang kawitan’ di India ada beragam, diantaranya: Panchak Shanti Karma, Narayan Bali Karma, Pinda Daan, Tarpan, dan pemujaan Shraddha ketika Pitri Paksha.

Apakah namanya ‘salahang Kawitan’ di India?

Namanya: Pitra dosha (Kutukan Nenek Moyang). Juga disebut pitṛśāpa.

Bagaimana penjelasanya?

Tidak semua leluhur yang meninggal mendapat tempat yang baik, itulah konon dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Hindu India membawa sial bagi keturunannya.

“Kutukan nenek moyang” ini dipercaya dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, yang mungkin menjadi sangat rumit sehingga praktisi medis mungkin gagal untuk mendiagnosis penyakit, dan obat yang diresepkan menjadi tidak efektif sama sekali. Masalah kesehatan yang dialami biasanya di luar lingkup ilmu kedokteran. Tidak terdeteksi secara medis.

‘Salahang leluhur’ di India, dalam salah satu pembahasan Pitra Dosha dalam diskusi orang-orang Hindu India, juga disebutkan bisa berdampak membawa akibat keturunannya mengalami gejala seperti perilaku abnormal, kemarahan tak terkendali, menimbulkan cedera fatal pada orang lain, depresi, kecenderungan bunuh diri, rasa sakit tak terkendali bertahan bahkan setelah pengobatan; ruam di bagian tubuh tanpa penyebab yang terlihat, mual mungkin memiliki beberapa hubungan dengan kutukan tersebut. Banyak masalah seperti itu memiliki kejadian siklik dan tampaknya terkait dengan pergerakan planet.

Hal tersebut hampir sama dengan yang banyak dipercaya di Bali.

Para ahli astrologi India melihat bukan hanya hal tersebut di atas dampak dari ‘salahang leluhur’, banyak lagi turunan dari “Pitra dosha”, dapat menyebabkan beberapa masalah lagi seperti: –

  • a) Tanpa anak
  • b) Keguguran berulang
  • c) Perselisihan keluarga
  • d) Masalah kesehatan dalam keluarga
  • e) Hambatan dalam karir dan pendidikan tanpa alasan yang jelas
  • f) Ketidakmampuan untuk menikah
  • g) Kecanduan
  • h) Kelahiran anak tunagrahita
  • i) Kematian anak-anak di usia muda

Para ahli astrologi India biasanya membantu menangani masalah yang dipercaya berkaitan dengan kawitan masyarakat India. Direkomendasikan: Cara terbaik bagi penerusnya (damuh atau keturunan) adalah dengan berdoa kepada Tuhan untuk pengampunan. Karena nenek moyang juga dianggap sebagai jiwa ilahi atau pitara/pirata, seseorang harus meminta pengampunan dari mereka juga. Setiap jiwa yang terlunta, gelisah karena menunggu mukti (keselamatan), maka para penerus harus mengambil langkah-langkah yang ditentukan dalam teks-teks agama untuk “mukti” jiwa leluhur.

Kalau orang India merasa ‘salahang kawitan’ atau kena pitṛśāpa, mereka melakukan langkah-langkah (ini menjadi pengetahuan umum yang beredar di kalangan Hindu India):

a) Seseorang harus bersumpah untuk memberikan pelayanan tanpa syarat kepada orang tua dan orang yang lebih tua. Ini membantu dalam mendapatkan berkah dan ampunan dari leluhur.

b) Diperlukan perilaku yang baik dan amal kepada orang yang membutuhkan. Perilaku yang baik kepada orang-orang yang berada dalam pelayanan kita juga diperlukan. Kedua hal ini direkomendasikan untuk menghilangkan “pitra dosha”

c) Menyembah Dewa-Dewa dianjurkan karena semua jiwa akhirnya bergabung menjadi entitas besar Dewa-Dewa. Penggabungan ini disebut “mukti”.

d) Menyembah “Samarth Sadguru” seperti “Shri Sai Nath of Shirdi” juga akan membantu karena Sadguru seperti lampu suar yang membimbing kita menuju keilahian agung Yang Mahakuasa.

e) Seseorang harus bertanggung jawab dalam urusan perkawinan anak gadis, bertindak baik pada keluarga miskin untuk mendapatkan rahmat Tuhan dan leluhur.

f) Penyembahan harus dilakukan untuk “mukti” jiwa leluhur seperti yang disarankan dan ditentukan dalam sastra Garuda Purana dalam bentuk Pinda, Sraddha, atau Tarpana.

g) Pelafalan atau japa mantra seperti “Shri Gurudev Datta” dikatakan dapat mengurangi efek buruk dari “Pitra dosha”.

Dari mana sumber ajaran bahwa leluhur dikatakan bisa menyakiti keturunannya?

Ada anggapan dalam beberapa kalangan bahwa lebih penting untuk melakukan Pitra Kriya (ritual-pemujaan untuk nenek moyang) daripada Deva Kriya (ritual untuk memuja Deva dan atau Tuhan).

Juga karena leluhur bisa menimbulkan beban atau kutuk jika perjalanan badan halus atau ruhnya setelah kematian tidak lancar.

Garuḍa Purāṇa bab 13 menjelaskan prihal perjalanan ruh leluhur yang telah meninggal dan kemungkinannya memberikan hukuman ke keturunannya jika tidak melakukan pemujaan pada leluhur.

Dalam proses kematian, tubuh halus orang yang telah mati tiba di depan Citragupta. Citragupta lalu menjelaskan kepada jiwa tersebut perbuatan baik dan buruknya selama hidupnya di bumi.

Garuḍa Purāṇa 13 selanjutnya membahas tentang beberapa persembahan bagi tubuh halus yang meninggal ini jika berbuat baik di dunia. Jalan yang ditempuh tubuh halus untuk mencapai dunia Yama sangat gelap. Disebutkan, karena itu sebaiknya keturunannya menyalakan lampu tanah yang harus dinyalakan dan disimpan di tempat kematian atau rumah duka selama empat belas hari. Lampu ini harus menyala terus menerus. Lampu ini diharapkan menerangi jalan yang gelap. Lampu tanah lainnya juga harus diberikan. Sebuah tempayan tanah berisi air harus diberikan pada hari keempat belas atau di bulan karttika. Pemberian tempayan tanah memuaskan dahaga para pelayan Yama.

Tubuh halus sang mati ini menjadi tidak murni setelah meninggalkan tubuh kasar pada saat kematian. Itu mencapai kemurnian hanya pada hari kesebelas. Apapun hadiah yang diberikan atas nama almarhum membantu tubuh halus almarhum untuk melintasi jalan menuju dunia Yama dengan sedikit mudah.

Dari kitab ini juga para penekun kitab memberikan catatan: “Setelah kematian, tubuh halus seseorang dikenali hanya karena karmanya dan bukan karena kekayaan atau kecerdasannya. Harus diingat bahwa kecerdasan spiritual berbeda dari pengetahuan materialistis. Pengetahuan spiritual adalah perlindungang langsung dari Yang Mahakuasa”.

Perlu dibekali atau dihaturkan bagi yang meninggal di antaranya:  Tujuh item payung, alas kaki, pakaian, cincin, toples air, kursi dan bejana disebut ‘pada’. Ketujuh benda ini berguna untuk tubuh halus almarhum saat melintasi dari bumi ke tempat tinggal Yama. Memberi hadiah bejana tembaga berisi air dianggap sebagai yang terbaik. Hadiah yang ditawarkan atas nama almarhum diambil oleh dewa Varua dan diserahkan kepada Viṣṇu, yang pada gilirannya menyerahkannya kepada matahari. Matahari memberikan hadiah ini kepada almarhum.

Kitab ini menjelaskan secara rinci perjalanan jiwa halus orang-orang yang meninggal.

Orang yang melakukan dosa dikirim ke neraka dan tinggal di sana sampai semua dosanya habis. Setelah periode di neraka berakhir, tubuh halus diizinkan untuk melihat berbagai jenis neraka. Jumlah neraka digambarkan sebagai 8.400.000, di mana 21 di antaranya digambarkan sebagai yang mengerikan.

Di sinilah disebutkan pentingnya memiliki keturunan.

Jika seseorang tidak memiliki keturunan dan tidak ada yang memberikan persembahan apa pun atas nama mereka, terus tinggal di neraka ini untuk waktu yang sangat lama dan akhirnya menjadi pasukan Yama.

Ketika tubuh halus disiksa dalam waktu lama di neraka, tubuh halus menjadi perwujudan siksaan. Berdasarkan teori ini, pasukan Yama dikatakan berwajah-rupa mengerikan.

Dikatakan juga bahwa pada saat kematian, panjang tubuh halus adalah sepanjang lengan. Setelah menjalani siksaan di neraka yang berbeda, ia dibawa untuk muncul di hadapan Yama. Pada saat itu, tubuh halus menjadi seukuran ibu jari, sering digambarkan dalam Upaniṣad.

Jika seseorang telah melakukan banyak dharma, dia akan terlahir kembali sebagai manusia. Para pendosa dibuat terlahir sebagai cacing, serangga, hewan, tumbuhan, dll., atau mereka dibuat kembali ke neraka lagi untuk menjalani penderitaan lebih lanjut. Semua ini tergantung pada baik-buruknya karma yang dilakukan seseorang ketika ia masih hidup.

Beberapa orang berdosa dibuat untuk dilahirkan sebagai ‘ruh kesasar’. Terlahir sebagai ‘ruh kesasar’. Mereka menyiksa kerabat mereka karena tidak melakukan ritual shrāddha atau pemujaan leluhur, dan karena tidak mempersembahkan piṇḍa atau tumpeng-banten kepada leluhur.

Garuḍa Purāṇa bab 13 menjelaskan bahwa jika pemujaan leluhur tidak dilakukan seperti yang ditentukan oleh ajaran berleluhur maka pitara akan mengutuk keluarga mereka karena telah membuat mereka mengembara sebagai ‘ruh kesasar’ dan membuat mereka menderita. Kutukannya dapat dilihat secara kasat mata, seperti: Tanaman mereka tidak tumbuh, kekayaan mereka hancur, penyakit menyerang, tidak memiliki keturunan, kehilangan anak secara dini, dll. Penderitaan mereka bisa dalam banyak hal. Ini umumnya disebut pitṛśāpa atau kutukan oleh leluhur.

Satu-satunya cara untuk menghindari pitṛśāpa adalah dengan membuat orang tua bahagia selama masa tua mereka. Tidak ada gunanya melakukan upacara atau memberikan hadiah dalam jumlah berapa pun jika seseorang mengabaikan orang tua di hari tua mereka. Mengabaikan orang tua dianggap sebagai yang dosa terburuk. Semua kutukan leluhur yang menderita di alam sana bisa ditebus dengan melimpahkan kebajikan pada orang tua ita yang masih hidup — demikian penegasan kitab Garuda Purana.

Pentingkah silsilah leluhur atau ‘kawitan’ dalam masyarakat Hindu India?

Gotra adalah sebuah sistem garis silsilah yang sangat menjadi perhatian bagi masyarakat Hindu kuno.

Garis silsilah ini yang menghubungkan seseorang dengan leluhurnya yang paling kuno atau akarnya dalam garis keturunan laki-laki yang tidak terputus.

Katakanlah seseorang bagian dari Bharadwaja Gotra, maka itu berarti dia menelusuri kembali leluhur laki-lakinya ke Rishi Bharadwaja yang disebut dalam Rig Veda.

Gotra, jika dibandingkan dengan soroh atau sistem kawitan di Bali, sama-sama mengacu pada akar muasal dalam garis keturunan laki-laki seseorang. Memegang garis silsilah gotra dipraktikkan di antara sebagian besar umat Hindu di India.

Garis silsilah laki-laki ini kini menjadi pembahasan di India karena dikaitkan dengan temuan kromosom Y. Ini menambahi pendapat di India bahwa garis gotra terkait dengan diksa atau inisiasi kependetaan di kalangan brahmana dan kelompok ksatria. Gotra dikaitkan dengan pendapat bahwa Kromosom Y adalah satu-satunya Kromosom yang diturunkan hanya antara laki-laki dalam garis keturunan. Wanita tidak pernah mendapatkan Kromosom Y ini di dalam tubuh mereka. Dan karenanya Kromosom Y memainkan peran penting dalam genetika modern dalam mengidentifikasi silsilah yaitu nenek moyang laki-laki seseorang.

Disebutkan bahwa sistem Gotra dirancang untuk melacak akar Kromosom Y seseorang dengan cukup mudah. Jika seseorang termasuk Gotra Rśi Angirasa maka itu berarti bahwa Kromosom Y-nya turun jauh selama ribuan tahun dari Riśi Angirasa. Dan jika seseorang milik Gotra (katakanlah Bharadwaja) dengan Pravaras (Angirasa, Bhaarhaspatya, Bharadwaja), maka itu berarti bahwa Kromosom Y orang tersebut turun dari Angirasa ke Bhaarhaspatya ke Bharadwaja ke orang tersebut. Demikian perbincangan kalangan terdidik di India kini melihat silsilah garis kawitan kenapa konon berpatokan pada garis lelaki.

Urusan garis silsilah atau yang di Bali dikenal sebagai garis soroh atau kawitan, di India menjadi diskusi yang sangat serius dan menjadi jalan bagi pembelajaran dharma dan pelanjutan tradisi inisiasi suci atau diksa yang sangat ketat diturunkan dalam berbagai garis gotra. [T]

Tags: balihinduHindu BaliHindu Indiaindia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tunas | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat

Next Post

Berpartisipasi di Ruang Digital

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails
Next Post
Berpartisipasi di Ruang Digital

Berpartisipasi di Ruang Digital

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co