24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergulatan dengan Puisi

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
October 31, 2021
in Esai
Pergulatan dengan Puisi

Wayan Jengki Sunarta

Terkadang, orang bertanya, untuk apa menulis puisi? Apa gunanya menjadi penyair? Apa profesi penyair bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari? Sebagian orang menganggap, menulis puisi hanya sekedar klangenan. Bahkan, ada yang sinis, menilai puisi sebagai sesuatu yang alay, lebay, atau sejenisnya.

Setiap minggu puisi muncul di koran. Puisi juga muncul di internet, facebook, twitter, blog, IG, dan sejenisnya, menawarkan kemudahan publikasi. Dunia maya banjir puisi. Muncul pertanyaan, kenapa banyak orang menulis puisi, dan bahkan ingin dikenal sebagai penyair?

Mahaguru penyair Umbu Landu Paranggi, memaknai puisi sebagai kehidupan, dan kehidupan adalah puisi. Bagi saya, pernyataan itu mengandung renungan yang sangat dalam. Puisi adalah ungkapan atau ekspresi kejujuran. Puisi membuka ruang untuk merenungi kehidupan dengan berbagai aspek dan persoalannya. Dalam hal ini, puisi bukan sekadar klangenan atau kecengengan, namun sublimasi untuk merenungi hakikat sang diri dan kehidupan.

Sebagian orang menganggap menulis puisi itu mudah, sehingga siapa pun merasa memiliki kemampuan menulis puisi. Di lain pihak, banyak pula yang menganggap betapa susahnya menulis sebait puisi, karena puisi semacam mahkluk unik yang kemunculannya tak bisa diduga di alam pikiran dan perasaan.

Kemunculan puisi selalu didahului dengan inspirasi, percikan ide atau gagasan. Memang, inspirasi tidak harus ditunggu, tapi mesti dicari atau digali. Tapi, kehadiran puisi juga sering tak terduga. Hal ini pula yang menyebabkan banyak penyair merasa gamang, uring-uringan, karena tak sebaris puisi pun tercipta, meski si penyair begitu berhasrat melahirkan puisi.

Apa sih puisi? Ada banyak konsep, definisi, teori, pandangan perihal puisi yang dilontarkan oleh banyak tokoh terkemuka. Namun, saya tidak akan mengulas panjang lebar tentang teori-teori puisi dari para tokoh itu di sini.

Saya sendiri menganggap puisi sebagai anak rohani. Sebab, puisi memang lahir dari hasil perkawinan perasaan dan pikiran. Kekuatan perasaan dan pikiran setiap orang tentu berbeda-beda. Hal itu berkaitan dengan segala bentuk interaksinya dengan berbagai hal, baik yang berasal dari dalam diri maupun di luar diri. Jelas pula, setiap interaksi melahirkan kenangan dan pengalaman yang berpengaruh pada cara memandang sesuatu, maupun melihat masa depan. Biasanya puisi lahir di atas landasan kondisi-kondisi seperti ini.

Sebagai anak rohani, tentu puisi memiliki nasibnya masing-masing ketika dilepas ke khalayak yang beragam. Bukan hanya komunitas sastra, atau komunitas seni, namun juga masyarakat luas. Mungkin beragam pujian akan didapat si puisi, mungkin pula aneka kritik, atau bahkan makian atau hinaan. Semua itu adalah resiko yang mesti ditanggung si puisi.

Tugas penyair menuntun puisi agar lebih “berharga” dan “bermartabat” di hati pembaca, agar mampu “memberi” pada pembaca. Selebihnya, penyair sebagai ibu sekaligus ayah dari si puisi, hanya bisa mendoakan keselamatan anak-anak rohaninya, agar menjadi anak yang baik dan berguna bagi banyak umat manusia.

Penyair yang bijak tidak akan merasa kebakaran jenggot ketika puisinya dihina/dicela/dikritik, tidak akan merasa jumawa ketika puisinya dipuja-puji. Sebab dia telah mengatasi keterikatan dengan anak-anak rohaninya. Sebab, setiap puisi memiliki nasibnya masing-masing, entah itu masuk ke tong sampah, tidak dihiraukan, muncul di dunia maya, nongol di media cetak, atau menghias kartu undangan pernikahan.

Di hadapan kritikus (dalam pengertian seluas-luasnya), setiap puisi akan berupaya membela dirinya sendiri, tentu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Maka, hanya dengan itu pula, puisi menjadi abadi. Sebab, siapa yang mampu menindas atau membunuh puisi? Tak ada. Yang ada, hanya mengritisi puisi, agar bisa lebih berbenah diri, dari yang tampangnya jelek agar tampak lebih elok, dari yang dangkal agar lebih dalam, dan seterusnya.

Sejauh penyair menghindar atau lari dari puisi, pada waktu-waktu tertentu, atau pada waktu yang dijanjikan, puisi akan kembali hadir, akan kembali memeluk dan merangkul penyairnya dengan kerinduan dan kemesraan yang tak terukur. Persis seperti kerinduan seorang anak pada ibu atau ayahnya. Sebab, antara penyair dan puisi, terikat benang merah, hubungan batin yang tak terhindarkan. Selama penyair masih bernafas, hubungan batin itu tak lekang oleh waktu, jarak, kesibukan, atau bentuk-bentuk duniawi yang coba memisahkan mereka.

Pertemuan dengan Puisi

Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sunyi dan sublim di mana saya bisa belajar tentang banyak hal, terutama perihal kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun pecahan-pecahan kaca menjadi cermin diri, dari mana saya kemudian mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga arah perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.

Ketertarikan saya pada puisi bermula ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SMPN 8 Denpasar, tahun 1990. Masih membekas dalam ingatan, bagaimana pada jam-jam istirahat saya suka menyelinap ke perpustakaan sekolah. Sebab uang bekal di saku jauh dari cukup untuk sekadar membeli semangkok bakso yang saat itu merupakan makanan mewah bagi saya. Sebagai penghibur rasa lapar, saya cukup puas “melahap” lembar demi lembar buku yang saya sukai (biasanya kumpulan cerpen atau novel) hingga bel pelajaran kembali berdentang.

Suatu kali, ketika asyik membongkar-bongkar rak buku di perpustakaan, saya menemukan Hari-hari Akhir Si Penyair karya Nasjah Djamin, yang menceritakan kehidupan penyair legendaris Chairil Anwar. Karena tertarik pada judulnya, saya lahap habis buku tipis itu dalam sehari. Akhirnya, saya kemudian terpesona pada puisi-puisi Chairil Anwar, pada sikap berkeseniannya, pada proses kreatifnya, pada gaya bohemian, eksentriksitas, serta jalan hidupnya yang dramatis. Dan “candu” puisi pun mulai bekerja pada jiwa remaja saya.

Sejak saat itu saya mulai suka mengkhayalkan diri sebagai penyair. Lantas saya mencoba merangkai dan menulis kata-kata indah yang saya bayangkan sebagai puisi. Hasilnya cukup melegakan diri saya. Buku tulis, sampul buku pelajaran, dan meja kelas menjadi korban pertama. Saat sekolah sepi, kadang-kadang saya suka menempel puisi-puisi itu di koran dinding. Keesokan harinya, kawan-kawan saya gempar dan meledek saya habis-habisan karena puisi-puisi itu dianggapnya terlalu gombal. Namun, saya tidak terlalu peduli, yang penting puisi telah mampu mewakili perasaan saya.

Memang, seseorang sering kali menjadi penulis karena memiliki kegemaran membaca. Sebelum mengenal perpustakaan sekolah, bacaan pertama saya kebanyakan adalah komik yang saya pinjam dari kakak sepupu. Saya menyukai cerita silat (cersil) hingga kisah Ramayana dan Mahabharata dengan gambar-gambar indah karya R.A. Kosasih. Saya sering larut dalam kisah dan imajinasi yang dibangun serial komik itu; bisa jadi saya menyukai momen-momen puitis dan romantisnya.

Memasuki dunia “putih-abu” di SMAN 3 Denpasar, tahun 1992, saya semakin tergila-gila menggauli puisi, sambil menjalani kegemaran mendaki gunung, menyusuri hutan, menyisir pantai, dan bersepeda ke beberapa pelosok desa di Bali. Di sekolah, kebetulan saya terlibat dalam kelompok pecinta alam. Namun, sampai saat itu, saya belum menemukan pergaulan kreatif di bidang sastra. Saya asyik seorang diri dengan dunia baru yang menggoda saya: puisi.

Setiap kali mendaki gunung, kemah, atau menyusuri hutan dan pantai, saya suka membawa notes atau buku diari yang siap sedia menampung untaian kata-kata yang mengisahkan keindahan alam, rahasia kabut, misteri laut, ketakjuban pada embun, kengerian akan kelam malam, pukau maut, pesona Tuhan, kerinduan, kecemasan, sampai pada rasa putus asa sebab cinta yang tak terbalas. Hal-hal inilah yang kemudian seringkali membekas dan mengerak pada puisi-puisi saya kelak.

Seperti benih, bakat alam akan tumbuh subur bila menemukan wadah yang tepat. Begitulah, akhirnya di tahun 1993 saya menemukan pergaulan sastra yang telah lama saya impikan. Percintaan dengan puisi pun semakin menggelora, seiring keterlibatan saya dalam berbagai kegiatan sastra di Sanggar Minum Kopi (SMK), sepanjang 1993-1995. Boleh dikatakan, di sinilah bakat, proses kepenyairan, pemahaman dan pengalaman saya dimatangkan, melalui diskusi-diskusi, kritik, pujian, pertemuan kreatif, apresiasi, motivasi, publikasi, dan sebagainya. Pada masa inilah saya belajar menulis puisi yang benar-benar puisi, yang tidak sekadar mengandalkan bakat alam saja.

Kegemaran nongkrong di perpustakaan terus berlanjut, seirama rasa dahaga akan bacaan bermutu. Selain buku sastra, saya juga tertarik membaca buku-buku filsafat, religi, antropologi, mitologi, dan kisah-kisah kemanusiaan. Saat itu, minat saya pada puisi seakan mengalahkan segalanya, pun pelajaran di sekolah nyaris berantakan. Saya mempelajari sejumlah buku teori dan teknik puisi karya kritikus dan penyair ternama. Saya studi-banding dengan puisi-puisi Kirjomulyo, Goenawan Mohamad, Rendra, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Frans Nadjira, Umbu Landu Paranggi, dan sejumlah penyair ternama lainnya.

Belakangan kemudian, wawasan dan pengetahuan puisi saya diperluas melalui pertemuan dengan para penyair dunia lewat dua jilid buku Puisi Dunia (Balai Pustaka, cet.II, 1967) susunan M. Taslim Ali. Kemudian, saya tertarik dengan puisi-puisi Prancis modern, terutama keliaran puisi Arthur Rimbaud. Untuk beberapa waktu, saya juga sempat menyerap teknik puisi dari karya-karya erotisme penyair Meksiko, Octavio Paz.

Perkenalan saya dengan puisi-puisi para penyair itu juga berkat diskusi dan pergaulan di SMK. Namun sayang, SMK membubarkan diri pada Agustus 1995, tepat di usianya yang ke sepuluh. Saya dan sejumlah kawan muda merasa kehilangan wadah yang sangat bermakna bagi proses kreatif kami. Yang jelas, pengalaman dan pergaulan di SMK terus membekas dan menjadi semangat kreatif dalam diri saya untuk membangun pergaulan-pergaulan kreatif lainnya.

Saya percaya komunitas dan pergaulan kreatif seringkali menjadi salah satu fondasi dan wadah untuk mengukuhkan serta menumbuhkan bakat, minat, obsesi, impian, dan kecenderungan individu dalam suatu proses berkesenian. Justru dari interaksi dan komunikasi yang intens itu pengaruh-mempengaruhi dalam berkarya tidak lagi menjadi suatu yang tabu, melainkan tumbuh alamiah.

Pencapaian “karakter” atau “ciri khas” dalam suatu karya, pada dasarnya juga berjalan seiring proses kreatif, kedewasaan, wawasan, pemahaman dan pengalaman berkesenian. Kalau pun ciri khas kemudian diperjuangkan, bagi saya, itu tidak lebih sebagai bagian dari sikap dan proses kreatif masing-masing individu yang sangat beragam.

Pertemuan dengan puisi merupakan suatu karunia yang tak bisa dinilai dengan ukuran-ukuran materi. Kalau pun kemudian puisi mendatangkan honor (yang tidak seberapa) atau mengantar penyairnya jalan-jalan ke sejumlah kota—diundang membaca puisi, menjadi pembicara pada seminar sastra, dibukukan, dibicarakan, bahkan dimitoskan orang—bagi saya, itu hanya berkah dari pergaulan yang intens dengan puisi.  

Namun, puisi sendiri tetap merupakan wilayah sunyi dan sublim yang—meminjam sebaris puisi Frans Nadjira—hanya orang-orang tak waras yang berani menyeberangi batas angan milik penyair. Dan saya beruntung menjadi bagian pergaulan orang yang “tak waras” itu.

Tematik dan Teknik

Puisi-puisi yang saya ciptakan mengandung beragam tema. Mulai dari tema cinta, pencarian jati diri, pengembaraan batin, ketuhanan, spiritualitas, kemanusiaan, lingkungan, sosial-budaya, bahkan kritik politik. Dalam beberapa puisi, saya juga berupaya mengeksplorasi lokalitas kebalian untuk memberi warna lain pada puisi yang saya ciptakan. Selain itu, saya juga berupaya menulis puisi dengan berbagai teknik. Tidak hanya teknik penulisan puisi lirik, namun juga balada, naratif, ode, dan sebagainya. Bahkan, saya juga kadang memakai teknik akrostik dan teknik penulisan otamatis (seperti mengigau) untuk menulis puisi. Seringkali tematik dan teknik menjadi suatu permainan yang mengasyikkan dalam proses menulis puisi.

Secara umum, tematik puisi berkaitan dengan kecenderungan penyairnya menyelami kehidupan. Jika si penyair hanya sibuk dengan urusan cinta asmara, maka secara tak sadar puisi-puisi yang diciptakannya mengandung tematik tersebut. Penyair yang matang akan berusaha keluar dari zona nyaman tematik yang digandrunginya, untuk merambah tematik baru.

Begitu pula halnya dengan teknik penulisan puisi. Seharusnya ada kegelisahan kreatif dan upaya-upaya sadar si penyair untuk mengeksplorasi teknik baru. Dari yang mahir menulis puisi lirik, sesekali perlu mencoba menulis puisi balada atau naratif. Ibarat pendekar, si penyair harus mampu menguasai banyak jurus agar semakin mumpuni dalam berbagai medan tempur. [T]

Tags: Cara Menulis PuisiFestival Seni Bali JaniKenapa Menulis PuisiPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara dari Sulung yang Lain: Merayakan Raya Raya Cinta

Next Post

Dari Canggu Bali menuju Canggu Mojokerta

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Dari Canggu Bali menuju Canggu Mojokerta

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co