13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergulatan dengan Puisi

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
October 31, 2021
in Esai
Pergulatan dengan Puisi

Wayan Jengki Sunarta

Terkadang, orang bertanya, untuk apa menulis puisi? Apa gunanya menjadi penyair? Apa profesi penyair bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari? Sebagian orang menganggap, menulis puisi hanya sekedar klangenan. Bahkan, ada yang sinis, menilai puisi sebagai sesuatu yang alay, lebay, atau sejenisnya.

Setiap minggu puisi muncul di koran. Puisi juga muncul di internet, facebook, twitter, blog, IG, dan sejenisnya, menawarkan kemudahan publikasi. Dunia maya banjir puisi. Muncul pertanyaan, kenapa banyak orang menulis puisi, dan bahkan ingin dikenal sebagai penyair?

Mahaguru penyair Umbu Landu Paranggi, memaknai puisi sebagai kehidupan, dan kehidupan adalah puisi. Bagi saya, pernyataan itu mengandung renungan yang sangat dalam. Puisi adalah ungkapan atau ekspresi kejujuran. Puisi membuka ruang untuk merenungi kehidupan dengan berbagai aspek dan persoalannya. Dalam hal ini, puisi bukan sekadar klangenan atau kecengengan, namun sublimasi untuk merenungi hakikat sang diri dan kehidupan.

Sebagian orang menganggap menulis puisi itu mudah, sehingga siapa pun merasa memiliki kemampuan menulis puisi. Di lain pihak, banyak pula yang menganggap betapa susahnya menulis sebait puisi, karena puisi semacam mahkluk unik yang kemunculannya tak bisa diduga di alam pikiran dan perasaan.

Kemunculan puisi selalu didahului dengan inspirasi, percikan ide atau gagasan. Memang, inspirasi tidak harus ditunggu, tapi mesti dicari atau digali. Tapi, kehadiran puisi juga sering tak terduga. Hal ini pula yang menyebabkan banyak penyair merasa gamang, uring-uringan, karena tak sebaris puisi pun tercipta, meski si penyair begitu berhasrat melahirkan puisi.

Apa sih puisi? Ada banyak konsep, definisi, teori, pandangan perihal puisi yang dilontarkan oleh banyak tokoh terkemuka. Namun, saya tidak akan mengulas panjang lebar tentang teori-teori puisi dari para tokoh itu di sini.

Saya sendiri menganggap puisi sebagai anak rohani. Sebab, puisi memang lahir dari hasil perkawinan perasaan dan pikiran. Kekuatan perasaan dan pikiran setiap orang tentu berbeda-beda. Hal itu berkaitan dengan segala bentuk interaksinya dengan berbagai hal, baik yang berasal dari dalam diri maupun di luar diri. Jelas pula, setiap interaksi melahirkan kenangan dan pengalaman yang berpengaruh pada cara memandang sesuatu, maupun melihat masa depan. Biasanya puisi lahir di atas landasan kondisi-kondisi seperti ini.

Sebagai anak rohani, tentu puisi memiliki nasibnya masing-masing ketika dilepas ke khalayak yang beragam. Bukan hanya komunitas sastra, atau komunitas seni, namun juga masyarakat luas. Mungkin beragam pujian akan didapat si puisi, mungkin pula aneka kritik, atau bahkan makian atau hinaan. Semua itu adalah resiko yang mesti ditanggung si puisi.

Tugas penyair menuntun puisi agar lebih “berharga” dan “bermartabat” di hati pembaca, agar mampu “memberi” pada pembaca. Selebihnya, penyair sebagai ibu sekaligus ayah dari si puisi, hanya bisa mendoakan keselamatan anak-anak rohaninya, agar menjadi anak yang baik dan berguna bagi banyak umat manusia.

Penyair yang bijak tidak akan merasa kebakaran jenggot ketika puisinya dihina/dicela/dikritik, tidak akan merasa jumawa ketika puisinya dipuja-puji. Sebab dia telah mengatasi keterikatan dengan anak-anak rohaninya. Sebab, setiap puisi memiliki nasibnya masing-masing, entah itu masuk ke tong sampah, tidak dihiraukan, muncul di dunia maya, nongol di media cetak, atau menghias kartu undangan pernikahan.

Di hadapan kritikus (dalam pengertian seluas-luasnya), setiap puisi akan berupaya membela dirinya sendiri, tentu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Maka, hanya dengan itu pula, puisi menjadi abadi. Sebab, siapa yang mampu menindas atau membunuh puisi? Tak ada. Yang ada, hanya mengritisi puisi, agar bisa lebih berbenah diri, dari yang tampangnya jelek agar tampak lebih elok, dari yang dangkal agar lebih dalam, dan seterusnya.

Sejauh penyair menghindar atau lari dari puisi, pada waktu-waktu tertentu, atau pada waktu yang dijanjikan, puisi akan kembali hadir, akan kembali memeluk dan merangkul penyairnya dengan kerinduan dan kemesraan yang tak terukur. Persis seperti kerinduan seorang anak pada ibu atau ayahnya. Sebab, antara penyair dan puisi, terikat benang merah, hubungan batin yang tak terhindarkan. Selama penyair masih bernafas, hubungan batin itu tak lekang oleh waktu, jarak, kesibukan, atau bentuk-bentuk duniawi yang coba memisahkan mereka.

Pertemuan dengan Puisi

Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sunyi dan sublim di mana saya bisa belajar tentang banyak hal, terutama perihal kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun pecahan-pecahan kaca menjadi cermin diri, dari mana saya kemudian mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga arah perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.

Ketertarikan saya pada puisi bermula ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SMPN 8 Denpasar, tahun 1990. Masih membekas dalam ingatan, bagaimana pada jam-jam istirahat saya suka menyelinap ke perpustakaan sekolah. Sebab uang bekal di saku jauh dari cukup untuk sekadar membeli semangkok bakso yang saat itu merupakan makanan mewah bagi saya. Sebagai penghibur rasa lapar, saya cukup puas “melahap” lembar demi lembar buku yang saya sukai (biasanya kumpulan cerpen atau novel) hingga bel pelajaran kembali berdentang.

Suatu kali, ketika asyik membongkar-bongkar rak buku di perpustakaan, saya menemukan Hari-hari Akhir Si Penyair karya Nasjah Djamin, yang menceritakan kehidupan penyair legendaris Chairil Anwar. Karena tertarik pada judulnya, saya lahap habis buku tipis itu dalam sehari. Akhirnya, saya kemudian terpesona pada puisi-puisi Chairil Anwar, pada sikap berkeseniannya, pada proses kreatifnya, pada gaya bohemian, eksentriksitas, serta jalan hidupnya yang dramatis. Dan “candu” puisi pun mulai bekerja pada jiwa remaja saya.

Sejak saat itu saya mulai suka mengkhayalkan diri sebagai penyair. Lantas saya mencoba merangkai dan menulis kata-kata indah yang saya bayangkan sebagai puisi. Hasilnya cukup melegakan diri saya. Buku tulis, sampul buku pelajaran, dan meja kelas menjadi korban pertama. Saat sekolah sepi, kadang-kadang saya suka menempel puisi-puisi itu di koran dinding. Keesokan harinya, kawan-kawan saya gempar dan meledek saya habis-habisan karena puisi-puisi itu dianggapnya terlalu gombal. Namun, saya tidak terlalu peduli, yang penting puisi telah mampu mewakili perasaan saya.

Memang, seseorang sering kali menjadi penulis karena memiliki kegemaran membaca. Sebelum mengenal perpustakaan sekolah, bacaan pertama saya kebanyakan adalah komik yang saya pinjam dari kakak sepupu. Saya menyukai cerita silat (cersil) hingga kisah Ramayana dan Mahabharata dengan gambar-gambar indah karya R.A. Kosasih. Saya sering larut dalam kisah dan imajinasi yang dibangun serial komik itu; bisa jadi saya menyukai momen-momen puitis dan romantisnya.

Memasuki dunia “putih-abu” di SMAN 3 Denpasar, tahun 1992, saya semakin tergila-gila menggauli puisi, sambil menjalani kegemaran mendaki gunung, menyusuri hutan, menyisir pantai, dan bersepeda ke beberapa pelosok desa di Bali. Di sekolah, kebetulan saya terlibat dalam kelompok pecinta alam. Namun, sampai saat itu, saya belum menemukan pergaulan kreatif di bidang sastra. Saya asyik seorang diri dengan dunia baru yang menggoda saya: puisi.

Setiap kali mendaki gunung, kemah, atau menyusuri hutan dan pantai, saya suka membawa notes atau buku diari yang siap sedia menampung untaian kata-kata yang mengisahkan keindahan alam, rahasia kabut, misteri laut, ketakjuban pada embun, kengerian akan kelam malam, pukau maut, pesona Tuhan, kerinduan, kecemasan, sampai pada rasa putus asa sebab cinta yang tak terbalas. Hal-hal inilah yang kemudian seringkali membekas dan mengerak pada puisi-puisi saya kelak.

Seperti benih, bakat alam akan tumbuh subur bila menemukan wadah yang tepat. Begitulah, akhirnya di tahun 1993 saya menemukan pergaulan sastra yang telah lama saya impikan. Percintaan dengan puisi pun semakin menggelora, seiring keterlibatan saya dalam berbagai kegiatan sastra di Sanggar Minum Kopi (SMK), sepanjang 1993-1995. Boleh dikatakan, di sinilah bakat, proses kepenyairan, pemahaman dan pengalaman saya dimatangkan, melalui diskusi-diskusi, kritik, pujian, pertemuan kreatif, apresiasi, motivasi, publikasi, dan sebagainya. Pada masa inilah saya belajar menulis puisi yang benar-benar puisi, yang tidak sekadar mengandalkan bakat alam saja.

Kegemaran nongkrong di perpustakaan terus berlanjut, seirama rasa dahaga akan bacaan bermutu. Selain buku sastra, saya juga tertarik membaca buku-buku filsafat, religi, antropologi, mitologi, dan kisah-kisah kemanusiaan. Saat itu, minat saya pada puisi seakan mengalahkan segalanya, pun pelajaran di sekolah nyaris berantakan. Saya mempelajari sejumlah buku teori dan teknik puisi karya kritikus dan penyair ternama. Saya studi-banding dengan puisi-puisi Kirjomulyo, Goenawan Mohamad, Rendra, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Frans Nadjira, Umbu Landu Paranggi, dan sejumlah penyair ternama lainnya.

Belakangan kemudian, wawasan dan pengetahuan puisi saya diperluas melalui pertemuan dengan para penyair dunia lewat dua jilid buku Puisi Dunia (Balai Pustaka, cet.II, 1967) susunan M. Taslim Ali. Kemudian, saya tertarik dengan puisi-puisi Prancis modern, terutama keliaran puisi Arthur Rimbaud. Untuk beberapa waktu, saya juga sempat menyerap teknik puisi dari karya-karya erotisme penyair Meksiko, Octavio Paz.

Perkenalan saya dengan puisi-puisi para penyair itu juga berkat diskusi dan pergaulan di SMK. Namun sayang, SMK membubarkan diri pada Agustus 1995, tepat di usianya yang ke sepuluh. Saya dan sejumlah kawan muda merasa kehilangan wadah yang sangat bermakna bagi proses kreatif kami. Yang jelas, pengalaman dan pergaulan di SMK terus membekas dan menjadi semangat kreatif dalam diri saya untuk membangun pergaulan-pergaulan kreatif lainnya.

Saya percaya komunitas dan pergaulan kreatif seringkali menjadi salah satu fondasi dan wadah untuk mengukuhkan serta menumbuhkan bakat, minat, obsesi, impian, dan kecenderungan individu dalam suatu proses berkesenian. Justru dari interaksi dan komunikasi yang intens itu pengaruh-mempengaruhi dalam berkarya tidak lagi menjadi suatu yang tabu, melainkan tumbuh alamiah.

Pencapaian “karakter” atau “ciri khas” dalam suatu karya, pada dasarnya juga berjalan seiring proses kreatif, kedewasaan, wawasan, pemahaman dan pengalaman berkesenian. Kalau pun ciri khas kemudian diperjuangkan, bagi saya, itu tidak lebih sebagai bagian dari sikap dan proses kreatif masing-masing individu yang sangat beragam.

Pertemuan dengan puisi merupakan suatu karunia yang tak bisa dinilai dengan ukuran-ukuran materi. Kalau pun kemudian puisi mendatangkan honor (yang tidak seberapa) atau mengantar penyairnya jalan-jalan ke sejumlah kota—diundang membaca puisi, menjadi pembicara pada seminar sastra, dibukukan, dibicarakan, bahkan dimitoskan orang—bagi saya, itu hanya berkah dari pergaulan yang intens dengan puisi.  

Namun, puisi sendiri tetap merupakan wilayah sunyi dan sublim yang—meminjam sebaris puisi Frans Nadjira—hanya orang-orang tak waras yang berani menyeberangi batas angan milik penyair. Dan saya beruntung menjadi bagian pergaulan orang yang “tak waras” itu.

Tematik dan Teknik

Puisi-puisi yang saya ciptakan mengandung beragam tema. Mulai dari tema cinta, pencarian jati diri, pengembaraan batin, ketuhanan, spiritualitas, kemanusiaan, lingkungan, sosial-budaya, bahkan kritik politik. Dalam beberapa puisi, saya juga berupaya mengeksplorasi lokalitas kebalian untuk memberi warna lain pada puisi yang saya ciptakan. Selain itu, saya juga berupaya menulis puisi dengan berbagai teknik. Tidak hanya teknik penulisan puisi lirik, namun juga balada, naratif, ode, dan sebagainya. Bahkan, saya juga kadang memakai teknik akrostik dan teknik penulisan otamatis (seperti mengigau) untuk menulis puisi. Seringkali tematik dan teknik menjadi suatu permainan yang mengasyikkan dalam proses menulis puisi.

Secara umum, tematik puisi berkaitan dengan kecenderungan penyairnya menyelami kehidupan. Jika si penyair hanya sibuk dengan urusan cinta asmara, maka secara tak sadar puisi-puisi yang diciptakannya mengandung tematik tersebut. Penyair yang matang akan berusaha keluar dari zona nyaman tematik yang digandrunginya, untuk merambah tematik baru.

Begitu pula halnya dengan teknik penulisan puisi. Seharusnya ada kegelisahan kreatif dan upaya-upaya sadar si penyair untuk mengeksplorasi teknik baru. Dari yang mahir menulis puisi lirik, sesekali perlu mencoba menulis puisi balada atau naratif. Ibarat pendekar, si penyair harus mampu menguasai banyak jurus agar semakin mumpuni dalam berbagai medan tempur. [T]

Tags: Cara Menulis PuisiFestival Seni Bali JaniKenapa Menulis PuisiPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara dari Sulung yang Lain: Merayakan Raya Raya Cinta

Next Post

Dari Canggu Bali menuju Canggu Mojokerta

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Dari Canggu Bali menuju Canggu Mojokerta

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co