23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Percayalah, Berkebun di Halaman Rumah Bisa Sebabkan Listrik Gratis

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
August 10, 2021
in Esai
Percayalah, Berkebun di Halaman Rumah Bisa Sebabkan Listrik Gratis

Berkebun di halaman rumah, tinggal petik [Foto-foto: Tobing]

Jika dipikir dan dihitung-hitung dengan baik hati, berkebun kecil-kecilan di halaman rumah bisa menyebabkan hal tak terduga, misalnya bayar listrik gratis. Eh, bagaimana bisa?

Senin sore, 9 Agustus 2021, saya baru saja datang dari kantor, seperti biasa, Si bungsu, Gede, datang menghampiri dan bergegas membuka pintu kendaraan “Bapak, Gede bawa tasnya” celotehnya.

“Makasi, Gede,” sahut saya.

Lantas dia berlari ke dalam kamar kerja, membawa tas yang di dalamnya berisi laptop dan segala berkas kerjaan dari kantor.

Saya pergi ke kamar, mengganti pakaian kerja, sembari bersiap untuk istirahat sejenak di depan rumah, duduk-duduk di teras rumah. Istri saya datang, dengan membawakan segelas teh campur sereh dan jahe yang dia petik dari kebun. Aroma campuran antara pucuk teh, sereh dan jahe sangat khas, terlebih ramuan ini ditambahkan dengan pemanis gula juruh yang kami dapatkan dari teman di les. Minuman ini mampu memberikan sensasi rileks setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan-pekerjaan administrasi.

Ibu memetik cabai di halaman rumah

Ibu saat itu sangat sibuk di dapur, mempersiapkan makan malam untuk bisa kami nikmati bersama keluarga. Saya penasaran dengan apa yang beliau masak, akhirnya saya memutuskan untuk menghampirinya di dapur.

Saya bertanya kepada ibu perihal apa yang beliau masak, dan Ibu menjawab, “Sedang masak sayur bening, baru saja habis memetik daun kelor dan daun katup di belakang rumah”.

Terlihat sayurnya sangat bersih dan warnanya hijau segar, saya saat itu melihat bumbu-bumbu yang beliau gunakan. Hampir sebagiannya kami dapatkan dari kebun belakang rumah, seperti kunyit, temu kunci, sereh, jangar ulam atau daun salam, tomat.

Memang sudah sejak beberapa tahun yang lalu kami memanfaatkan pekarangan rumah kami untuk menanam berbagai jenis tanaman pangan untuk ditanam, tujuannya sebenarnya hanya untuk memaksimalkan fungsi pekarangan agar bisa lebih produktif dan hijau.

Kembali lagi ke bumbu, saat itu ibu lupa memetik cabai dan kebetulan persediaan cabai di tempat bumbu habis, olehnya saya diminta untuk pergi ke kebun untuk memetik cabai, “Bing, tolong petikan beberapa buah cabai di belakang, ibu lupa baru memetik, dikira sudah ada di tempat bumbu!”

Saya mengikuti apa yang menjadi perintahnya, saya pergi ke kebun dan di kebun kami memiliki beberapa pohon cabai, kurang lebih sekitar 10 pohon, ada yang ditanam di bedengan dan ada beberapa di dalam pot.

Kira-kira saat itu saya dapat sekitar 15 buah cabai. Memang terasa beda sekali kalau kita punya kebun, sensasi memetik hasil kebun dari hasil kerja sendiri itu terasa nikmat sekali, kalau tidak percaya silahkan dibuktikan sendiri.

Sebelum saya memberikan cabai tersebut, saya mencucinya dengan air keran yang mengalir, dan sisa air pencucian saya tampung untuk kemudian saya gunakan untuk menyiram satu pot cabai yang kebetulan ada di sebelah keran air, pohon cabai itu baru saja saya petik buahnya.

Saya anggap itu sebagai ucapan terima kasih untuk buah yang sudah dia hasilkan, sesederhana itu sebenarnya kita berlingkungan hidup, ketika kita memberi, maka alam pasti akan memberi, jangan hanya mau meminta tanpa mau memberi, nanti alam murka, dan bencana bisa melanda diri kita.

Ibu nampak menunggu saya, dan memanggil apakah saya sudah usai untuk memetik cabai di kebun. Saya langsung berlari ke dapur. Ibu menerima cabai itu, dan memeriksa apakah ada kotoran di cabai, saya bilang, “Sudah bersih, Bu. Tiang sudah cuci”.

Ibu adalah orang yang sangat memperhatikan soal kebersihan, beliau agak rewel ketika berbicara soal kebersihan dan kesehatan pangan, sebab beliau ingin selalu memastikan kualitas terbaik untuk pangan yang diberikan kepada kami sekeluarga.

Ibu memotong cabai menjadi beberapa bagian, memang kalau sayur bening memang seperti itu caranya menambahkan cabai, tidak perlu di ulek, cabai tinggal di potong menjadi beberapa bagian dan dimasukkan ke dalam panci yang sudah berisi campuran sayur dan bumbu tadi.

Kebun kecil di halaman belakang rumah

Bluk, bluk, bluk, bluk…., suara air dari dalam panci, terlihat air mendidih dan beberapa menit setelahnya ibu mematikan kompor sebagai pertanda bahwa sayur sudah matang dan siap nanti untuk dihidangkan. Ibu masih nampak sibuk, saya ,memperhatikan dengan seksama apa yang beliau lakukan, hingga sebuah pertanyaan terlontar dari mulut, mencoba mencari tahu kira-kira berapa nilai ekonomis yang beliau dapatkan dari pengalaman memetik sayur dan bumbu di kebun belakang rumah.

Ibu hanya diam dan senyum saja, sambil berkata banyak. Saya terus menggali dengan detail, di kisaran angka yang bisa menggambarkan kondisi nyata, Ibu lantas menjawab dengan detail, “Kalau membeli cabai sehari itu bisa Rp. 2.000, itu kalau diperhitungkan satu bulan bisa mencapai Rp. 60.000, belum lagi kebutuhan sayur perhari bisa Rp.10.000, kalikan saja sebulan”.

Jika ditotal, untuk beli cabai dan sayur saja bisa habis Rp. 360.000 sebulan. Jika, cabai dan sayur selalu ada di halaman, artinya uang sebanyak itu bisa dipakai keperluan lain.

Saya berpikir tentang kebutuhan energi baik itu listrik dan juga air dalam sebulan, saya tanya ke istri yang kebetulan duduk di teras, berapa biaya listrik dan air sebulan, istri menjawab “Rp.300.000 sampai Rp.350.000 sebulan”.

Kalau seperti ini, artinya uang yang harusnya untuk beli cabai dan sayur di pasar bisa dipakai untuk membayar listrik dan air. Artinya, bayar listrik bisa gratis, karena sudah dibayar dengan uang yang seharusnya dipakai beli cabai dan sayur selama sebulan.

Terdengar menarik dan masuk akal bukan? Padahal kebun kami tidak terlalu luas, hanya beberapa petak, tapi kami bisa buktikan kalau kebun ini produktif juga dan bisa meringankan keperluan lain.

Perhitungan itu belum termasuk hasil buah-buahan seperti buah naga, pepaya hingga mangga, kalau disubsidi lagi kebutuhan pokok lainnya bisa mensubsidi kebutuhan pangan yang kami beli di luar seperti beras misalnya.

Terkadang kita tidak pernah memperhatikan hal-hal kecil seperti ini, karena menanam saja bukan hanya urusan untuk menjadikan pemandangan menjadi semakin indah, namun ketika kita menanam tanaman pangan kita juga mendapatkan nilai ekonomis dan juga akses pangan yang sehat dan bersih untuk keluarga, dengan catatan pengelolaannya harus dengan penerapan laku organik dan tidak menggunakan bahan kimia.

Akhirnya ibu selesai menyelesaikan pekerjaannya, dan dia memanggil menantu dan cucunya untuk datang ke dapur. Sore itu kami akhirnya bisa makan enak, sayur bening khas Lumbung Pangan Keluarga. [T]

Tags: perkebunanpertaniantanaman obattanaman pangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

3 Bocah Yatim Rajin Tabung Sampah untuk Beli Alat Sekolah | Ini Kisah Nasabah Bank Sampah Galang Panji

Next Post

Senjata Melawan Korupsi Itu Bernama Sastra

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Senjata Melawan Korupsi Itu Bernama Sastra

Senjata Melawan Korupsi Itu Bernama Sastra

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co