14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa Namanya “Rumah Sakit”, Bukan “Rumah Sehat”?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
May 12, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Cukup menarik jika dibahas, kenapa kita tidak memilih istilah “rumah sehat” untuk menyebut “rumah sakit”?

Mestinya, pilihan rumah sehat jauh lebih baik.  Dalam bahasa Inggris, rumah sakit adalah hospital yang berasal dari kata hospitality yang bermakna keramah-tamahan. Kata itu sendiri berasal dari bahasa Latin, hospes yang berarti tuan rumah/inang, yang juga kemudian diserap menjadi kata hotel.

Hotel dan hospital dibedakan, seakan-akan karena hospital memiliki peran dalam pelayanan medis, diagnosis sampai terapi. Sisanya, keduanya memiliki spirit dasar yang sama yaitu keramah-tamahan dan interaksi humanis antara “tuan rumah” dan “tamu”-nya.

Maka, pilihan istilah rumah sehat jauh lebih tepat ketimbang rumah sakit. Namun kenapa rumah sakit? Rupanya ini terkait dengan sejarah bangsa kita yang dijajah Belanda. Istilah rumah sakit memang diadopsi langsung dari bahasa Belanda yaitu ziekenhuis atau kalau didekatkan dengan bahasa Inggris adalah “sick house” yang tentu saja artinya rumah sakit.

Itulah makanya, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dahulu bernama Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ). Negara-negara yang dekat dengan Belanda pun menggunakan istilah rumah sakit untuk hospital seperti Jerman krankenhaus atau Norwegia sykehus.

Nama dan kata-kata, diyakini adalah doa dan harapan. Demikian juga dengan istilah rumah sakit. Adakah istilah ini kemudian kerap kali dan masih saja terjadi hingga saat ini menciptakan konflik lantaran keluhan pasien dan keluarganya atau masyarakat karena pelayanan petugas rumah sakit yang dinilai kurang ramah dan humanis? Rumah sakit bukan lagi hotel yang ramah, ceria dan wangi, namun sebaliknya seolah-olah menjelma menjadi bangunan angker yang menakutkan. Bahkan sering dijadikan tema untuk film-film horor yang dekat dengan kengerian dan kematian.

Dalam film-film itu, bukan hanya bangunan rumah sakit saja yang menebarkan aura seram, susternya pun bernasib malang karena dipilih menjadi pemeran sentral sebagai jagal kejam atau tukang siksa seperti suster ngesot dan lain-lain. Betul-betul gambaran yang jungkir balik dari hospital yang seharusnya melindungi, memeluk hangat, memberi rasa aman, menumbuhkan psikis yang kuat dan pada akhirnya memberi kesembuhan. Meskipun itu semua hanya fiksi, namun jangan lupa, karya seni dan produk kreatif sering terinspirasi dari kultur masyarakat, fakta-fakta yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, meskipun bukan merupakan kecenderungan umum.

Saat masih kanak-kanak, bukan hal langka jika orang tua kami dan generasinya bertutur kisah tentang seorang dokter yang galak, judes dan kurang berperasaan. Deskripsi terbalik dari sosok seharusnya seorang dokter yaitu ramah, sabar dan humanis. Sifat dan sikap ini penting dan mendasar, sebab dokter punya tugas dan misi besar yaitu mengobati orang sakit. Seakan-akan nyawa seseorang telah berada dalam genggaman tangan seorang dokter. Namun demikianlah cerita-cerita yang saya dengar sejak kanak-kanak.

Kisah paling terkenal adalah saat seorang dokter menjawab dengan ketus ketika seorang pasien bertanya, apa saja yang ia tak boleh makan karena sakit yang telah diidapnya. Dokter tersebut menjawab dengan singkat, padat namun tidak jelas, “Batu!”. Hahaha! Tentu saja siapapun tidak mau makan batu. Apalagi orang sakit, lebih-lebih kalau pasien dengan keluhan sakit menelan. Jangankan batu, bubur sumsum saja sulit dicerna. Atau ada seorang dokter yang begitu sensitif dan merasa diajari saat seorang bapak menjelaskan keluhan anaknya yang sakit. Bapak itu mengantar anaknya untuk berobat ke dokter dan bercerita bahwa anaknya panas sejak kemarin, disertai nyeri menelan dan batuk berdahak. Selesai bercerita, dengan jutek si dokter memberi respon, “Bapak kan sudah pintar, sudah tahu sakit anaknya, ngapain lagi dibawa ke sini?” Hahaha! 

Pada masa-masa itu, di era sekitar tahun tujuhpuluhan, jumlah dokter dan rumah sakit memang belum banyak. Maka seorang dokter seakan-akan posisinya sudah seperti sosok dewa. Sangat tinggi dan terhormat. Posisi ini, tanpa disadari kemudian, bisa jadi telah membuat mereka sombong, angkuh dan congkak. Masyarakat dalam posisi lemah yang sangat membutuhkan pertolongan seorang dokter lalu hanya bisa menerima nasib mereka seikhlas-ikhlasnya. Sebuah gambaran yang sangat tidak egaliter antara seorang dokter dan pasiennya.

Situasi seperti ini tentu dapat memberi potensi risiko menjadi tidak profesional untuk seorang dokter dan terjadi ketidakadilan bagi seorang pasien. Namun saat ini, dengan bertambahnya jumlah dokter, meskipun belum sampai pada rasio ideal 1:1.000 dengan jumlah penduduk, sikap-sikap dokter feodal seperti demikian niscaya akan berkurang dan seharusnya tidak ada lagi. Kita dapat meniru interaksi dokter-pasien atau rumah sakit-pasien di negara-negara barat yang sudah maju dan modern. Dokter/rumah sakit dan pasien berada pada satu garis datar profesionalisme dan garis lingkar humanisme. Dokter dan nakes yang baik adalah roh sebuah rumah sakit yang baik dan rumah sakit yang baik akan terganti namanya menjadi rumah sehat. [T]

____

BACA KOLOM DOKTER ARYA YANG LAIN

Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Tags: Bahasakesehatanrumah sakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ranupura” | Wajah Bangli sebagai Hulu

Next Post

Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian

Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co