12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa Namanya “Rumah Sakit”, Bukan “Rumah Sehat”?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
May 12, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Cukup menarik jika dibahas, kenapa kita tidak memilih istilah “rumah sehat” untuk menyebut “rumah sakit”?

Mestinya, pilihan rumah sehat jauh lebih baik.  Dalam bahasa Inggris, rumah sakit adalah hospital yang berasal dari kata hospitality yang bermakna keramah-tamahan. Kata itu sendiri berasal dari bahasa Latin, hospes yang berarti tuan rumah/inang, yang juga kemudian diserap menjadi kata hotel.

Hotel dan hospital dibedakan, seakan-akan karena hospital memiliki peran dalam pelayanan medis, diagnosis sampai terapi. Sisanya, keduanya memiliki spirit dasar yang sama yaitu keramah-tamahan dan interaksi humanis antara “tuan rumah” dan “tamu”-nya.

Maka, pilihan istilah rumah sehat jauh lebih tepat ketimbang rumah sakit. Namun kenapa rumah sakit? Rupanya ini terkait dengan sejarah bangsa kita yang dijajah Belanda. Istilah rumah sakit memang diadopsi langsung dari bahasa Belanda yaitu ziekenhuis atau kalau didekatkan dengan bahasa Inggris adalah “sick house” yang tentu saja artinya rumah sakit.

Itulah makanya, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dahulu bernama Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ). Negara-negara yang dekat dengan Belanda pun menggunakan istilah rumah sakit untuk hospital seperti Jerman krankenhaus atau Norwegia sykehus.

Nama dan kata-kata, diyakini adalah doa dan harapan. Demikian juga dengan istilah rumah sakit. Adakah istilah ini kemudian kerap kali dan masih saja terjadi hingga saat ini menciptakan konflik lantaran keluhan pasien dan keluarganya atau masyarakat karena pelayanan petugas rumah sakit yang dinilai kurang ramah dan humanis? Rumah sakit bukan lagi hotel yang ramah, ceria dan wangi, namun sebaliknya seolah-olah menjelma menjadi bangunan angker yang menakutkan. Bahkan sering dijadikan tema untuk film-film horor yang dekat dengan kengerian dan kematian.

Dalam film-film itu, bukan hanya bangunan rumah sakit saja yang menebarkan aura seram, susternya pun bernasib malang karena dipilih menjadi pemeran sentral sebagai jagal kejam atau tukang siksa seperti suster ngesot dan lain-lain. Betul-betul gambaran yang jungkir balik dari hospital yang seharusnya melindungi, memeluk hangat, memberi rasa aman, menumbuhkan psikis yang kuat dan pada akhirnya memberi kesembuhan. Meskipun itu semua hanya fiksi, namun jangan lupa, karya seni dan produk kreatif sering terinspirasi dari kultur masyarakat, fakta-fakta yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, meskipun bukan merupakan kecenderungan umum.

Saat masih kanak-kanak, bukan hal langka jika orang tua kami dan generasinya bertutur kisah tentang seorang dokter yang galak, judes dan kurang berperasaan. Deskripsi terbalik dari sosok seharusnya seorang dokter yaitu ramah, sabar dan humanis. Sifat dan sikap ini penting dan mendasar, sebab dokter punya tugas dan misi besar yaitu mengobati orang sakit. Seakan-akan nyawa seseorang telah berada dalam genggaman tangan seorang dokter. Namun demikianlah cerita-cerita yang saya dengar sejak kanak-kanak.

Kisah paling terkenal adalah saat seorang dokter menjawab dengan ketus ketika seorang pasien bertanya, apa saja yang ia tak boleh makan karena sakit yang telah diidapnya. Dokter tersebut menjawab dengan singkat, padat namun tidak jelas, “Batu!”. Hahaha! Tentu saja siapapun tidak mau makan batu. Apalagi orang sakit, lebih-lebih kalau pasien dengan keluhan sakit menelan. Jangankan batu, bubur sumsum saja sulit dicerna. Atau ada seorang dokter yang begitu sensitif dan merasa diajari saat seorang bapak menjelaskan keluhan anaknya yang sakit. Bapak itu mengantar anaknya untuk berobat ke dokter dan bercerita bahwa anaknya panas sejak kemarin, disertai nyeri menelan dan batuk berdahak. Selesai bercerita, dengan jutek si dokter memberi respon, “Bapak kan sudah pintar, sudah tahu sakit anaknya, ngapain lagi dibawa ke sini?” Hahaha! 

Pada masa-masa itu, di era sekitar tahun tujuhpuluhan, jumlah dokter dan rumah sakit memang belum banyak. Maka seorang dokter seakan-akan posisinya sudah seperti sosok dewa. Sangat tinggi dan terhormat. Posisi ini, tanpa disadari kemudian, bisa jadi telah membuat mereka sombong, angkuh dan congkak. Masyarakat dalam posisi lemah yang sangat membutuhkan pertolongan seorang dokter lalu hanya bisa menerima nasib mereka seikhlas-ikhlasnya. Sebuah gambaran yang sangat tidak egaliter antara seorang dokter dan pasiennya.

Situasi seperti ini tentu dapat memberi potensi risiko menjadi tidak profesional untuk seorang dokter dan terjadi ketidakadilan bagi seorang pasien. Namun saat ini, dengan bertambahnya jumlah dokter, meskipun belum sampai pada rasio ideal 1:1.000 dengan jumlah penduduk, sikap-sikap dokter feodal seperti demikian niscaya akan berkurang dan seharusnya tidak ada lagi. Kita dapat meniru interaksi dokter-pasien atau rumah sakit-pasien di negara-negara barat yang sudah maju dan modern. Dokter/rumah sakit dan pasien berada pada satu garis datar profesionalisme dan garis lingkar humanisme. Dokter dan nakes yang baik adalah roh sebuah rumah sakit yang baik dan rumah sakit yang baik akan terganti namanya menjadi rumah sehat. [T]

____

BACA KOLOM DOKTER ARYA YANG LAIN

Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Tags: Bahasakesehatanrumah sakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ranupura” | Wajah Bangli sebagai Hulu

Next Post

Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian

Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co