2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Clara Listya Dewi by Clara Listya Dewi
April 8, 2021
in Esai
Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Foto ilustrasi: Pementasan Teater Modern " Negeri Perempuan" oleh Komunitas Mahima, Singaraja di Taman Budaya Denpasar pada PKB 2012 [foto by agus wiryadi]

Apa yang pertama kali Anda pikirkan jika mendengar kata aktivisme?

Perlawanan? Pemberontakan? Kebebasan? Atau perjuangan? Secara umum aktivisme adalah tindakan atas upaya untuk menyampaikan ide/gagasan/keluh kesah terhadap isu-isu sosial; politik; ekonomi yang bertujuan untuk mencapai perubahan sosial. Aktivisme juga merupakan perjuangan, tindakan persuasif yang mampu mendorong publik untuk berpartisipasi dalam mengubah tatanan yang selama ini dianggap terlalu mengekang kebebasan manusia.

Ada bermacam-macam bentuk aktivisme yang bisa dilakukan oleh publik. Terdapat sekitar 198 metode aksi nirkekerasan a la Gene Sharp yang meliputi beragam aksi mulai dari menulis di media massa, turun ke jalan, pemogokan, aksi seni, hingga menyiapkan strategi komunikasi alternatif. Aktivisme adalah bagian dari kesadaran revolusioner sehingga ia akan tetap ada selama manusia memiliki kesadaran atas bentuk ketidakadilan yang saat ini menimpa diri dan lingkungannya.

Sejarah Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Aktivisme bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak terkecuali bagi para kaum feminisme. Sejarah aktivisme feminis di dunia sudah dimulai sejak lama. Gerakan feminis pertama kali ditandai dengan dibentuknya konvensi pertama hak perempuan yang dinamakan Seneca Falls Convention pada tahun 1848. Konvensi ini diinisiasi oleh Lucretia Mott (1793 — 1880), seorang aktivis gerakan perempuan pertama yang lahir dan dibesarkan di Massachusetts, Amerika Serikat. Bersama rekannya, Elizabeth Cady Stanton (1815 — 1902), mereka berhasil melibatkan kurang lebih sebanyak 300 orang dalam Seneca Falls Convention untuk menyurakan pendapat dan menuntut hak sipil, sosial, politik dan agama bagi perempuan. Tuntutan ini kemudian diberi nama Declaration of Right and Sentiment yang dibacakan di New York pada bulan Juli 1848. Salah satu kutipan yang cukup fenomenal dalam deklarasi tersebut adalah “we hold these truth to be self evident; that all men and women are created equal”.

Aktivisme feminis pun terus berlanjut. Sojournet Truth (1797 — 1883), adalah aktivis hak asasi perempuan dari kota New York. Truth merupakan mantan budak yang mengkritik gerakan perempuan yang pada era tersebut cenderung berpihak pada ras dan kelas tertentu. Ucapannya yang paling fenomenal adalah “Ain’t I Women?”, yang disampaikan pada Konvensi Hak Asasi Perempuan di Ohio pada tahun 1851. Truth kemudian melanjutkan perjuangannya membela hak-hak perempuan secara penuh, bertemu dan berdiskusi dengan Presiden Abraham Lincoln, dan dikenal sebagai salah satu pejuang hak asasi manusia. Salah satu kutipannya yang membekas adalah “If the first woman God ever made was strong enough to turn the world upside down all alone, these women together ought to be able to turn it back, and get it right side up again! And now they is asking to do it, the men better let them.”

Tidak hanya berkembang di Amerika Serikat (AS), aktivisme feminis juga merambah ke belahan negara lainnya termasuk Selandia Baru. Pada awal masa kolonialisme Inggris, para perempuan di Selandia Baru tidak diberi kesempatan untuk berpolitik dan terlibat penuh dalam proses partisipasi publik. Kelompok Suffrage kemudian hadir untuk menuntut terbukanya kesempatan bagi perempuan terlibat di ruang publik dan politik. Katherine Wilson Sheppard (1847 — 1934), adalah tokoh dalam gerakan perjuangan hak suara perempuan di Selandia Baru yang menginisiasi adanya petisi besar-besaran dan meminta parlemen untuk memberikan suara kepada perempuan.

Petisi yang diluncurkan pada saat itu berhasil mencapai 32.000 dukungan yang ditandatangai di atas kain sepanjang 270 meter. Upaya bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Pada 19 September 1893, Lord Glasglow berhasil menandatangani undang-undang pemilihan yang baru yang menyatakan bahwa perempuan memiliki hak untuk dipilih dan memilih dalam parlemen. Atas perjuangan Sheppard dan kelompok Suffrage maka perempuan di Selandia Baru kini telah memegang posisi kunci dalam konstitusional negaranya.

Awal Mula Munculnya Hari Perempuan Internasional

Hari perempuan internasional kini dirayakan pada tanggal 8 maret setiap tahunnya. Ini adalah peringatan terhadap perjuangan kaum perempuan untuk menuntut kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan, seperti aspek sosial dan politik. Sejarah perayaan hari perempuan internasional ini pun telah dimulai di banyak negara di dunia. Salah satunya yang terjadi di New York, AS pada tahun 1908. Ada sekitar 15,000 perempuan yang turun ke jalan untuk melakukan aksi menuntut jam kerja yang lebih pendek, upah kerja yang lebih setara dan hak-hak untuk bersuara.

Semangat para perempuan tersebut kemudian merambat ke berbagai belahan dunia. Maka pada tahun 1910, Clara Zetkin (1857 — 1933), mengusulkan adanya perayaan hari perempuan internasional pada International Conference of Working Women kedua yang diadakan di Copenhagen, Denmark. Zetkin merupakan pemimpin Women’s Office dari Partai Demokrat Sosial Jerman yang merupakan teoritikus Marxis dan perjuang hak-hak perempuan. Perayaan hari perempuan internasional untuk pertama kalinya diadakan pada tanggal 19 Maret 1911 di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss.

Namun, seminggu setelah perayaan tersebut, di kota New York terjadi tragedi yang sangat menyedihkan yang dikenal dengan “Triangle Fire”. Ini adalah tragedi kebakaran hebat yang melanda Triangle Shirtwaist Factory di Manhattan, yang memakan banyak korban jiwa dan merupakan bencana industri tertinggi keempat dalam sejarah AS. Sayangnya sebagian besar pekerja di pabrik tersebut adalah para perempuan muda yang baru saja tiba di Eropa, yang tidak memiliki cukup waktu untuk melarikan diri dari kebakaran tersebut.

Satu dekade berikutnya, sekitar tahun 1920-an, aktivisme feminis mulai berkembang dengan lebih massive di berbagai wilayah di dunia. Ada beberapa peristiwa sejarah yang menandai kebangkitan gerakan perempuan di dunia. Diantaranya adalah perjuangan perempuan di AS dalam meloloskan amandemen hak pilih perempuan pada tahun 1920, perkumpulan para dokter di Mesir yang menolak female genital mutilation (FGM), hingga hadirnya instrumen internasional perempuan pertama yang secara spesifik mengatur penjaminan hak asasi perempuan yang dikenal dengan Committee on The Elimination of Discrimination Againts Women (CEDAW). Aturan ini diterbitkan lima dekade berikutnya, tepatnya pada tahun 1979 dan telah diratifikasi oleh 189 negara.

Tersebarnya berbagai aktivisme feminis mampu menginspirasi perempuan-perempuan lainnya di seluruh dunia. Media massa berperan penting dalam membentuk perilaku perempuan untuk mengakhiri praktik diskriminasi lewat kampanye dan artikel yang ditulis di media massa. Kisah perjuangan para perempuan menuntut kesetaraan telah menginspirasi banyak orang, termasuk dengan kisah Malala Yousafzai, salah satu korban penembakan oleh Taliban karena keberaniannya dalam menyuarakan hak pendidikan bagi perempuan.

Kisah perjuangan dan keberaniannya telah menarik perhatian masyarakat dunia sehingga ia mendapatkan Nobel Perdamaian pada tahun 2014. Gerakan perempuan era modern pun bermunculan. Salah satunya adalah Women’s March yang muncul pertama kali pada awal tahun 2017 di AS yang mampu mendorong berkembangnya gerakan ini di banyak wilayah di dunia termasuk Indonesia. Perempuan kini mempunyai ruang yang lebih banyak untuk menyuarakan pendapatnya dan menuntut kesetaraan dalam berbagai sektor.

Kini dengan semakin berkembangnya teknologi, kampanye terhadap kesetaraan bisa dilakukan secara digital dengan memanfaatkan media sosial. Berbagai tagar seperti #HeforShe #BringBackOurGrils #WomenPower #EmpowerWomen #MeToo menjadi jargon kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan kampanye pemberdayaan perempuan. Media sosial harusnya dapat menjadi safe space bagi para perempuan untuk berbagi kisahnya sekaligus dalam mengutarakan ide-idenya. Solidaritas yang dibangun bersama terhadap isu keperempuanan, akan semakin memperkuat peran perempuan di sektor publik. Perubahan pola pikir baik bagi laki-laki ataupun perempuan menjadi komponen yang penting untuk segera menghentikan praktik ketidaksetaraan. Kepedulian dan solidaritas adalah aspek transformasi sosial yang penting untuk menciptakan keadilan karena berangkat dari dukungan dan rasa sepenanggungan yang sama. Jadi, apakah kita siap untuk beraksi memperjuangkan keadilan? [T]

___

BACA ARTIKEL LAIN DARI CLARA LISTYA DEWI

Ilustrasi perempuan dan politik {diolah tatkala.co dari sumber gambar di Google]

Maskulinitas Perpolitikan Indonesia: Glass Ceiling bagi Perempuan dalam Ranah Politik

Tags: feminisfeminismePerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sebuah Cerita Tanpa Judul | Cerpen Anton Chekhov

Next Post

Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Clara Listya Dewi

Clara Listya Dewi

Ni Nyoman Clara Listya Dewi, Lecture & Engagement Director at BASAbali Wiki

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co