2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Clara Listya Dewi by Clara Listya Dewi
April 8, 2021
in Esai
Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Foto ilustrasi: Pementasan Teater Modern " Negeri Perempuan" oleh Komunitas Mahima, Singaraja di Taman Budaya Denpasar pada PKB 2012 [foto by agus wiryadi]

Apa yang pertama kali Anda pikirkan jika mendengar kata aktivisme?

Perlawanan? Pemberontakan? Kebebasan? Atau perjuangan? Secara umum aktivisme adalah tindakan atas upaya untuk menyampaikan ide/gagasan/keluh kesah terhadap isu-isu sosial; politik; ekonomi yang bertujuan untuk mencapai perubahan sosial. Aktivisme juga merupakan perjuangan, tindakan persuasif yang mampu mendorong publik untuk berpartisipasi dalam mengubah tatanan yang selama ini dianggap terlalu mengekang kebebasan manusia.

Ada bermacam-macam bentuk aktivisme yang bisa dilakukan oleh publik. Terdapat sekitar 198 metode aksi nirkekerasan a la Gene Sharp yang meliputi beragam aksi mulai dari menulis di media massa, turun ke jalan, pemogokan, aksi seni, hingga menyiapkan strategi komunikasi alternatif. Aktivisme adalah bagian dari kesadaran revolusioner sehingga ia akan tetap ada selama manusia memiliki kesadaran atas bentuk ketidakadilan yang saat ini menimpa diri dan lingkungannya.

Sejarah Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Aktivisme bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak terkecuali bagi para kaum feminisme. Sejarah aktivisme feminis di dunia sudah dimulai sejak lama. Gerakan feminis pertama kali ditandai dengan dibentuknya konvensi pertama hak perempuan yang dinamakan Seneca Falls Convention pada tahun 1848. Konvensi ini diinisiasi oleh Lucretia Mott (1793 — 1880), seorang aktivis gerakan perempuan pertama yang lahir dan dibesarkan di Massachusetts, Amerika Serikat. Bersama rekannya, Elizabeth Cady Stanton (1815 — 1902), mereka berhasil melibatkan kurang lebih sebanyak 300 orang dalam Seneca Falls Convention untuk menyurakan pendapat dan menuntut hak sipil, sosial, politik dan agama bagi perempuan. Tuntutan ini kemudian diberi nama Declaration of Right and Sentiment yang dibacakan di New York pada bulan Juli 1848. Salah satu kutipan yang cukup fenomenal dalam deklarasi tersebut adalah “we hold these truth to be self evident; that all men and women are created equal”.

Aktivisme feminis pun terus berlanjut. Sojournet Truth (1797 — 1883), adalah aktivis hak asasi perempuan dari kota New York. Truth merupakan mantan budak yang mengkritik gerakan perempuan yang pada era tersebut cenderung berpihak pada ras dan kelas tertentu. Ucapannya yang paling fenomenal adalah “Ain’t I Women?”, yang disampaikan pada Konvensi Hak Asasi Perempuan di Ohio pada tahun 1851. Truth kemudian melanjutkan perjuangannya membela hak-hak perempuan secara penuh, bertemu dan berdiskusi dengan Presiden Abraham Lincoln, dan dikenal sebagai salah satu pejuang hak asasi manusia. Salah satu kutipannya yang membekas adalah “If the first woman God ever made was strong enough to turn the world upside down all alone, these women together ought to be able to turn it back, and get it right side up again! And now they is asking to do it, the men better let them.”

Tidak hanya berkembang di Amerika Serikat (AS), aktivisme feminis juga merambah ke belahan negara lainnya termasuk Selandia Baru. Pada awal masa kolonialisme Inggris, para perempuan di Selandia Baru tidak diberi kesempatan untuk berpolitik dan terlibat penuh dalam proses partisipasi publik. Kelompok Suffrage kemudian hadir untuk menuntut terbukanya kesempatan bagi perempuan terlibat di ruang publik dan politik. Katherine Wilson Sheppard (1847 — 1934), adalah tokoh dalam gerakan perjuangan hak suara perempuan di Selandia Baru yang menginisiasi adanya petisi besar-besaran dan meminta parlemen untuk memberikan suara kepada perempuan.

Petisi yang diluncurkan pada saat itu berhasil mencapai 32.000 dukungan yang ditandatangai di atas kain sepanjang 270 meter. Upaya bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Pada 19 September 1893, Lord Glasglow berhasil menandatangani undang-undang pemilihan yang baru yang menyatakan bahwa perempuan memiliki hak untuk dipilih dan memilih dalam parlemen. Atas perjuangan Sheppard dan kelompok Suffrage maka perempuan di Selandia Baru kini telah memegang posisi kunci dalam konstitusional negaranya.

Awal Mula Munculnya Hari Perempuan Internasional

Hari perempuan internasional kini dirayakan pada tanggal 8 maret setiap tahunnya. Ini adalah peringatan terhadap perjuangan kaum perempuan untuk menuntut kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan, seperti aspek sosial dan politik. Sejarah perayaan hari perempuan internasional ini pun telah dimulai di banyak negara di dunia. Salah satunya yang terjadi di New York, AS pada tahun 1908. Ada sekitar 15,000 perempuan yang turun ke jalan untuk melakukan aksi menuntut jam kerja yang lebih pendek, upah kerja yang lebih setara dan hak-hak untuk bersuara.

Semangat para perempuan tersebut kemudian merambat ke berbagai belahan dunia. Maka pada tahun 1910, Clara Zetkin (1857 — 1933), mengusulkan adanya perayaan hari perempuan internasional pada International Conference of Working Women kedua yang diadakan di Copenhagen, Denmark. Zetkin merupakan pemimpin Women’s Office dari Partai Demokrat Sosial Jerman yang merupakan teoritikus Marxis dan perjuang hak-hak perempuan. Perayaan hari perempuan internasional untuk pertama kalinya diadakan pada tanggal 19 Maret 1911 di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss.

Namun, seminggu setelah perayaan tersebut, di kota New York terjadi tragedi yang sangat menyedihkan yang dikenal dengan “Triangle Fire”. Ini adalah tragedi kebakaran hebat yang melanda Triangle Shirtwaist Factory di Manhattan, yang memakan banyak korban jiwa dan merupakan bencana industri tertinggi keempat dalam sejarah AS. Sayangnya sebagian besar pekerja di pabrik tersebut adalah para perempuan muda yang baru saja tiba di Eropa, yang tidak memiliki cukup waktu untuk melarikan diri dari kebakaran tersebut.

Satu dekade berikutnya, sekitar tahun 1920-an, aktivisme feminis mulai berkembang dengan lebih massive di berbagai wilayah di dunia. Ada beberapa peristiwa sejarah yang menandai kebangkitan gerakan perempuan di dunia. Diantaranya adalah perjuangan perempuan di AS dalam meloloskan amandemen hak pilih perempuan pada tahun 1920, perkumpulan para dokter di Mesir yang menolak female genital mutilation (FGM), hingga hadirnya instrumen internasional perempuan pertama yang secara spesifik mengatur penjaminan hak asasi perempuan yang dikenal dengan Committee on The Elimination of Discrimination Againts Women (CEDAW). Aturan ini diterbitkan lima dekade berikutnya, tepatnya pada tahun 1979 dan telah diratifikasi oleh 189 negara.

Tersebarnya berbagai aktivisme feminis mampu menginspirasi perempuan-perempuan lainnya di seluruh dunia. Media massa berperan penting dalam membentuk perilaku perempuan untuk mengakhiri praktik diskriminasi lewat kampanye dan artikel yang ditulis di media massa. Kisah perjuangan para perempuan menuntut kesetaraan telah menginspirasi banyak orang, termasuk dengan kisah Malala Yousafzai, salah satu korban penembakan oleh Taliban karena keberaniannya dalam menyuarakan hak pendidikan bagi perempuan.

Kisah perjuangan dan keberaniannya telah menarik perhatian masyarakat dunia sehingga ia mendapatkan Nobel Perdamaian pada tahun 2014. Gerakan perempuan era modern pun bermunculan. Salah satunya adalah Women’s March yang muncul pertama kali pada awal tahun 2017 di AS yang mampu mendorong berkembangnya gerakan ini di banyak wilayah di dunia termasuk Indonesia. Perempuan kini mempunyai ruang yang lebih banyak untuk menyuarakan pendapatnya dan menuntut kesetaraan dalam berbagai sektor.

Kini dengan semakin berkembangnya teknologi, kampanye terhadap kesetaraan bisa dilakukan secara digital dengan memanfaatkan media sosial. Berbagai tagar seperti #HeforShe #BringBackOurGrils #WomenPower #EmpowerWomen #MeToo menjadi jargon kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan kampanye pemberdayaan perempuan. Media sosial harusnya dapat menjadi safe space bagi para perempuan untuk berbagi kisahnya sekaligus dalam mengutarakan ide-idenya. Solidaritas yang dibangun bersama terhadap isu keperempuanan, akan semakin memperkuat peran perempuan di sektor publik. Perubahan pola pikir baik bagi laki-laki ataupun perempuan menjadi komponen yang penting untuk segera menghentikan praktik ketidaksetaraan. Kepedulian dan solidaritas adalah aspek transformasi sosial yang penting untuk menciptakan keadilan karena berangkat dari dukungan dan rasa sepenanggungan yang sama. Jadi, apakah kita siap untuk beraksi memperjuangkan keadilan? [T]

___

BACA ARTIKEL LAIN DARI CLARA LISTYA DEWI

Ilustrasi perempuan dan politik {diolah tatkala.co dari sumber gambar di Google]

Maskulinitas Perpolitikan Indonesia: Glass Ceiling bagi Perempuan dalam Ranah Politik

Tags: feminisfeminismePerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sebuah Cerita Tanpa Judul | Cerpen Anton Chekhov

Next Post

Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Clara Listya Dewi

Clara Listya Dewi

Ni Nyoman Clara Listya Dewi, Lecture & Engagement Director at BASAbali Wiki

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co