12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Clara Listya Dewi by Clara Listya Dewi
April 8, 2021
in Esai
Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Foto ilustrasi: Pementasan Teater Modern " Negeri Perempuan" oleh Komunitas Mahima, Singaraja di Taman Budaya Denpasar pada PKB 2012 [foto by agus wiryadi]

Apa yang pertama kali Anda pikirkan jika mendengar kata aktivisme?

Perlawanan? Pemberontakan? Kebebasan? Atau perjuangan? Secara umum aktivisme adalah tindakan atas upaya untuk menyampaikan ide/gagasan/keluh kesah terhadap isu-isu sosial; politik; ekonomi yang bertujuan untuk mencapai perubahan sosial. Aktivisme juga merupakan perjuangan, tindakan persuasif yang mampu mendorong publik untuk berpartisipasi dalam mengubah tatanan yang selama ini dianggap terlalu mengekang kebebasan manusia.

Ada bermacam-macam bentuk aktivisme yang bisa dilakukan oleh publik. Terdapat sekitar 198 metode aksi nirkekerasan a la Gene Sharp yang meliputi beragam aksi mulai dari menulis di media massa, turun ke jalan, pemogokan, aksi seni, hingga menyiapkan strategi komunikasi alternatif. Aktivisme adalah bagian dari kesadaran revolusioner sehingga ia akan tetap ada selama manusia memiliki kesadaran atas bentuk ketidakadilan yang saat ini menimpa diri dan lingkungannya.

Sejarah Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Aktivisme bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak terkecuali bagi para kaum feminisme. Sejarah aktivisme feminis di dunia sudah dimulai sejak lama. Gerakan feminis pertama kali ditandai dengan dibentuknya konvensi pertama hak perempuan yang dinamakan Seneca Falls Convention pada tahun 1848. Konvensi ini diinisiasi oleh Lucretia Mott (1793 — 1880), seorang aktivis gerakan perempuan pertama yang lahir dan dibesarkan di Massachusetts, Amerika Serikat. Bersama rekannya, Elizabeth Cady Stanton (1815 — 1902), mereka berhasil melibatkan kurang lebih sebanyak 300 orang dalam Seneca Falls Convention untuk menyurakan pendapat dan menuntut hak sipil, sosial, politik dan agama bagi perempuan. Tuntutan ini kemudian diberi nama Declaration of Right and Sentiment yang dibacakan di New York pada bulan Juli 1848. Salah satu kutipan yang cukup fenomenal dalam deklarasi tersebut adalah “we hold these truth to be self evident; that all men and women are created equal”.

Aktivisme feminis pun terus berlanjut. Sojournet Truth (1797 — 1883), adalah aktivis hak asasi perempuan dari kota New York. Truth merupakan mantan budak yang mengkritik gerakan perempuan yang pada era tersebut cenderung berpihak pada ras dan kelas tertentu. Ucapannya yang paling fenomenal adalah “Ain’t I Women?”, yang disampaikan pada Konvensi Hak Asasi Perempuan di Ohio pada tahun 1851. Truth kemudian melanjutkan perjuangannya membela hak-hak perempuan secara penuh, bertemu dan berdiskusi dengan Presiden Abraham Lincoln, dan dikenal sebagai salah satu pejuang hak asasi manusia. Salah satu kutipannya yang membekas adalah “If the first woman God ever made was strong enough to turn the world upside down all alone, these women together ought to be able to turn it back, and get it right side up again! And now they is asking to do it, the men better let them.”

Tidak hanya berkembang di Amerika Serikat (AS), aktivisme feminis juga merambah ke belahan negara lainnya termasuk Selandia Baru. Pada awal masa kolonialisme Inggris, para perempuan di Selandia Baru tidak diberi kesempatan untuk berpolitik dan terlibat penuh dalam proses partisipasi publik. Kelompok Suffrage kemudian hadir untuk menuntut terbukanya kesempatan bagi perempuan terlibat di ruang publik dan politik. Katherine Wilson Sheppard (1847 — 1934), adalah tokoh dalam gerakan perjuangan hak suara perempuan di Selandia Baru yang menginisiasi adanya petisi besar-besaran dan meminta parlemen untuk memberikan suara kepada perempuan.

Petisi yang diluncurkan pada saat itu berhasil mencapai 32.000 dukungan yang ditandatangai di atas kain sepanjang 270 meter. Upaya bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Pada 19 September 1893, Lord Glasglow berhasil menandatangani undang-undang pemilihan yang baru yang menyatakan bahwa perempuan memiliki hak untuk dipilih dan memilih dalam parlemen. Atas perjuangan Sheppard dan kelompok Suffrage maka perempuan di Selandia Baru kini telah memegang posisi kunci dalam konstitusional negaranya.

Awal Mula Munculnya Hari Perempuan Internasional

Hari perempuan internasional kini dirayakan pada tanggal 8 maret setiap tahunnya. Ini adalah peringatan terhadap perjuangan kaum perempuan untuk menuntut kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan, seperti aspek sosial dan politik. Sejarah perayaan hari perempuan internasional ini pun telah dimulai di banyak negara di dunia. Salah satunya yang terjadi di New York, AS pada tahun 1908. Ada sekitar 15,000 perempuan yang turun ke jalan untuk melakukan aksi menuntut jam kerja yang lebih pendek, upah kerja yang lebih setara dan hak-hak untuk bersuara.

Semangat para perempuan tersebut kemudian merambat ke berbagai belahan dunia. Maka pada tahun 1910, Clara Zetkin (1857 — 1933), mengusulkan adanya perayaan hari perempuan internasional pada International Conference of Working Women kedua yang diadakan di Copenhagen, Denmark. Zetkin merupakan pemimpin Women’s Office dari Partai Demokrat Sosial Jerman yang merupakan teoritikus Marxis dan perjuang hak-hak perempuan. Perayaan hari perempuan internasional untuk pertama kalinya diadakan pada tanggal 19 Maret 1911 di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss.

Namun, seminggu setelah perayaan tersebut, di kota New York terjadi tragedi yang sangat menyedihkan yang dikenal dengan “Triangle Fire”. Ini adalah tragedi kebakaran hebat yang melanda Triangle Shirtwaist Factory di Manhattan, yang memakan banyak korban jiwa dan merupakan bencana industri tertinggi keempat dalam sejarah AS. Sayangnya sebagian besar pekerja di pabrik tersebut adalah para perempuan muda yang baru saja tiba di Eropa, yang tidak memiliki cukup waktu untuk melarikan diri dari kebakaran tersebut.

Satu dekade berikutnya, sekitar tahun 1920-an, aktivisme feminis mulai berkembang dengan lebih massive di berbagai wilayah di dunia. Ada beberapa peristiwa sejarah yang menandai kebangkitan gerakan perempuan di dunia. Diantaranya adalah perjuangan perempuan di AS dalam meloloskan amandemen hak pilih perempuan pada tahun 1920, perkumpulan para dokter di Mesir yang menolak female genital mutilation (FGM), hingga hadirnya instrumen internasional perempuan pertama yang secara spesifik mengatur penjaminan hak asasi perempuan yang dikenal dengan Committee on The Elimination of Discrimination Againts Women (CEDAW). Aturan ini diterbitkan lima dekade berikutnya, tepatnya pada tahun 1979 dan telah diratifikasi oleh 189 negara.

Tersebarnya berbagai aktivisme feminis mampu menginspirasi perempuan-perempuan lainnya di seluruh dunia. Media massa berperan penting dalam membentuk perilaku perempuan untuk mengakhiri praktik diskriminasi lewat kampanye dan artikel yang ditulis di media massa. Kisah perjuangan para perempuan menuntut kesetaraan telah menginspirasi banyak orang, termasuk dengan kisah Malala Yousafzai, salah satu korban penembakan oleh Taliban karena keberaniannya dalam menyuarakan hak pendidikan bagi perempuan.

Kisah perjuangan dan keberaniannya telah menarik perhatian masyarakat dunia sehingga ia mendapatkan Nobel Perdamaian pada tahun 2014. Gerakan perempuan era modern pun bermunculan. Salah satunya adalah Women’s March yang muncul pertama kali pada awal tahun 2017 di AS yang mampu mendorong berkembangnya gerakan ini di banyak wilayah di dunia termasuk Indonesia. Perempuan kini mempunyai ruang yang lebih banyak untuk menyuarakan pendapatnya dan menuntut kesetaraan dalam berbagai sektor.

Kini dengan semakin berkembangnya teknologi, kampanye terhadap kesetaraan bisa dilakukan secara digital dengan memanfaatkan media sosial. Berbagai tagar seperti #HeforShe #BringBackOurGrils #WomenPower #EmpowerWomen #MeToo menjadi jargon kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan kampanye pemberdayaan perempuan. Media sosial harusnya dapat menjadi safe space bagi para perempuan untuk berbagi kisahnya sekaligus dalam mengutarakan ide-idenya. Solidaritas yang dibangun bersama terhadap isu keperempuanan, akan semakin memperkuat peran perempuan di sektor publik. Perubahan pola pikir baik bagi laki-laki ataupun perempuan menjadi komponen yang penting untuk segera menghentikan praktik ketidaksetaraan. Kepedulian dan solidaritas adalah aspek transformasi sosial yang penting untuk menciptakan keadilan karena berangkat dari dukungan dan rasa sepenanggungan yang sama. Jadi, apakah kita siap untuk beraksi memperjuangkan keadilan? [T]

___

BACA ARTIKEL LAIN DARI CLARA LISTYA DEWI

Ilustrasi perempuan dan politik {diolah tatkala.co dari sumber gambar di Google]

Maskulinitas Perpolitikan Indonesia: Glass Ceiling bagi Perempuan dalam Ranah Politik

Tags: feminisfeminismePerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sebuah Cerita Tanpa Judul | Cerpen Anton Chekhov

Next Post

Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Clara Listya Dewi

Clara Listya Dewi

Ni Nyoman Clara Listya Dewi, Lecture & Engagement Director at BASAbali Wiki

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co