24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Clara Listya Dewi by Clara Listya Dewi
April 8, 2021
in Esai
Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Foto ilustrasi: Pementasan Teater Modern " Negeri Perempuan" oleh Komunitas Mahima, Singaraja di Taman Budaya Denpasar pada PKB 2012 [foto by agus wiryadi]

Apa yang pertama kali Anda pikirkan jika mendengar kata aktivisme?

Perlawanan? Pemberontakan? Kebebasan? Atau perjuangan? Secara umum aktivisme adalah tindakan atas upaya untuk menyampaikan ide/gagasan/keluh kesah terhadap isu-isu sosial; politik; ekonomi yang bertujuan untuk mencapai perubahan sosial. Aktivisme juga merupakan perjuangan, tindakan persuasif yang mampu mendorong publik untuk berpartisipasi dalam mengubah tatanan yang selama ini dianggap terlalu mengekang kebebasan manusia.

Ada bermacam-macam bentuk aktivisme yang bisa dilakukan oleh publik. Terdapat sekitar 198 metode aksi nirkekerasan a la Gene Sharp yang meliputi beragam aksi mulai dari menulis di media massa, turun ke jalan, pemogokan, aksi seni, hingga menyiapkan strategi komunikasi alternatif. Aktivisme adalah bagian dari kesadaran revolusioner sehingga ia akan tetap ada selama manusia memiliki kesadaran atas bentuk ketidakadilan yang saat ini menimpa diri dan lingkungannya.

Sejarah Aktivisme Feminis Dunia Dari Masa ke Masa

Aktivisme bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak terkecuali bagi para kaum feminisme. Sejarah aktivisme feminis di dunia sudah dimulai sejak lama. Gerakan feminis pertama kali ditandai dengan dibentuknya konvensi pertama hak perempuan yang dinamakan Seneca Falls Convention pada tahun 1848. Konvensi ini diinisiasi oleh Lucretia Mott (1793 — 1880), seorang aktivis gerakan perempuan pertama yang lahir dan dibesarkan di Massachusetts, Amerika Serikat. Bersama rekannya, Elizabeth Cady Stanton (1815 — 1902), mereka berhasil melibatkan kurang lebih sebanyak 300 orang dalam Seneca Falls Convention untuk menyurakan pendapat dan menuntut hak sipil, sosial, politik dan agama bagi perempuan. Tuntutan ini kemudian diberi nama Declaration of Right and Sentiment yang dibacakan di New York pada bulan Juli 1848. Salah satu kutipan yang cukup fenomenal dalam deklarasi tersebut adalah “we hold these truth to be self evident; that all men and women are created equal”.

Aktivisme feminis pun terus berlanjut. Sojournet Truth (1797 — 1883), adalah aktivis hak asasi perempuan dari kota New York. Truth merupakan mantan budak yang mengkritik gerakan perempuan yang pada era tersebut cenderung berpihak pada ras dan kelas tertentu. Ucapannya yang paling fenomenal adalah “Ain’t I Women?”, yang disampaikan pada Konvensi Hak Asasi Perempuan di Ohio pada tahun 1851. Truth kemudian melanjutkan perjuangannya membela hak-hak perempuan secara penuh, bertemu dan berdiskusi dengan Presiden Abraham Lincoln, dan dikenal sebagai salah satu pejuang hak asasi manusia. Salah satu kutipannya yang membekas adalah “If the first woman God ever made was strong enough to turn the world upside down all alone, these women together ought to be able to turn it back, and get it right side up again! And now they is asking to do it, the men better let them.”

Tidak hanya berkembang di Amerika Serikat (AS), aktivisme feminis juga merambah ke belahan negara lainnya termasuk Selandia Baru. Pada awal masa kolonialisme Inggris, para perempuan di Selandia Baru tidak diberi kesempatan untuk berpolitik dan terlibat penuh dalam proses partisipasi publik. Kelompok Suffrage kemudian hadir untuk menuntut terbukanya kesempatan bagi perempuan terlibat di ruang publik dan politik. Katherine Wilson Sheppard (1847 — 1934), adalah tokoh dalam gerakan perjuangan hak suara perempuan di Selandia Baru yang menginisiasi adanya petisi besar-besaran dan meminta parlemen untuk memberikan suara kepada perempuan.

Petisi yang diluncurkan pada saat itu berhasil mencapai 32.000 dukungan yang ditandatangai di atas kain sepanjang 270 meter. Upaya bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Pada 19 September 1893, Lord Glasglow berhasil menandatangani undang-undang pemilihan yang baru yang menyatakan bahwa perempuan memiliki hak untuk dipilih dan memilih dalam parlemen. Atas perjuangan Sheppard dan kelompok Suffrage maka perempuan di Selandia Baru kini telah memegang posisi kunci dalam konstitusional negaranya.

Awal Mula Munculnya Hari Perempuan Internasional

Hari perempuan internasional kini dirayakan pada tanggal 8 maret setiap tahunnya. Ini adalah peringatan terhadap perjuangan kaum perempuan untuk menuntut kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan, seperti aspek sosial dan politik. Sejarah perayaan hari perempuan internasional ini pun telah dimulai di banyak negara di dunia. Salah satunya yang terjadi di New York, AS pada tahun 1908. Ada sekitar 15,000 perempuan yang turun ke jalan untuk melakukan aksi menuntut jam kerja yang lebih pendek, upah kerja yang lebih setara dan hak-hak untuk bersuara.

Semangat para perempuan tersebut kemudian merambat ke berbagai belahan dunia. Maka pada tahun 1910, Clara Zetkin (1857 — 1933), mengusulkan adanya perayaan hari perempuan internasional pada International Conference of Working Women kedua yang diadakan di Copenhagen, Denmark. Zetkin merupakan pemimpin Women’s Office dari Partai Demokrat Sosial Jerman yang merupakan teoritikus Marxis dan perjuang hak-hak perempuan. Perayaan hari perempuan internasional untuk pertama kalinya diadakan pada tanggal 19 Maret 1911 di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss.

Namun, seminggu setelah perayaan tersebut, di kota New York terjadi tragedi yang sangat menyedihkan yang dikenal dengan “Triangle Fire”. Ini adalah tragedi kebakaran hebat yang melanda Triangle Shirtwaist Factory di Manhattan, yang memakan banyak korban jiwa dan merupakan bencana industri tertinggi keempat dalam sejarah AS. Sayangnya sebagian besar pekerja di pabrik tersebut adalah para perempuan muda yang baru saja tiba di Eropa, yang tidak memiliki cukup waktu untuk melarikan diri dari kebakaran tersebut.

Satu dekade berikutnya, sekitar tahun 1920-an, aktivisme feminis mulai berkembang dengan lebih massive di berbagai wilayah di dunia. Ada beberapa peristiwa sejarah yang menandai kebangkitan gerakan perempuan di dunia. Diantaranya adalah perjuangan perempuan di AS dalam meloloskan amandemen hak pilih perempuan pada tahun 1920, perkumpulan para dokter di Mesir yang menolak female genital mutilation (FGM), hingga hadirnya instrumen internasional perempuan pertama yang secara spesifik mengatur penjaminan hak asasi perempuan yang dikenal dengan Committee on The Elimination of Discrimination Againts Women (CEDAW). Aturan ini diterbitkan lima dekade berikutnya, tepatnya pada tahun 1979 dan telah diratifikasi oleh 189 negara.

Tersebarnya berbagai aktivisme feminis mampu menginspirasi perempuan-perempuan lainnya di seluruh dunia. Media massa berperan penting dalam membentuk perilaku perempuan untuk mengakhiri praktik diskriminasi lewat kampanye dan artikel yang ditulis di media massa. Kisah perjuangan para perempuan menuntut kesetaraan telah menginspirasi banyak orang, termasuk dengan kisah Malala Yousafzai, salah satu korban penembakan oleh Taliban karena keberaniannya dalam menyuarakan hak pendidikan bagi perempuan.

Kisah perjuangan dan keberaniannya telah menarik perhatian masyarakat dunia sehingga ia mendapatkan Nobel Perdamaian pada tahun 2014. Gerakan perempuan era modern pun bermunculan. Salah satunya adalah Women’s March yang muncul pertama kali pada awal tahun 2017 di AS yang mampu mendorong berkembangnya gerakan ini di banyak wilayah di dunia termasuk Indonesia. Perempuan kini mempunyai ruang yang lebih banyak untuk menyuarakan pendapatnya dan menuntut kesetaraan dalam berbagai sektor.

Kini dengan semakin berkembangnya teknologi, kampanye terhadap kesetaraan bisa dilakukan secara digital dengan memanfaatkan media sosial. Berbagai tagar seperti #HeforShe #BringBackOurGrils #WomenPower #EmpowerWomen #MeToo menjadi jargon kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan kampanye pemberdayaan perempuan. Media sosial harusnya dapat menjadi safe space bagi para perempuan untuk berbagi kisahnya sekaligus dalam mengutarakan ide-idenya. Solidaritas yang dibangun bersama terhadap isu keperempuanan, akan semakin memperkuat peran perempuan di sektor publik. Perubahan pola pikir baik bagi laki-laki ataupun perempuan menjadi komponen yang penting untuk segera menghentikan praktik ketidaksetaraan. Kepedulian dan solidaritas adalah aspek transformasi sosial yang penting untuk menciptakan keadilan karena berangkat dari dukungan dan rasa sepenanggungan yang sama. Jadi, apakah kita siap untuk beraksi memperjuangkan keadilan? [T]

___

BACA ARTIKEL LAIN DARI CLARA LISTYA DEWI

Ilustrasi perempuan dan politik {diolah tatkala.co dari sumber gambar di Google]

Maskulinitas Perpolitikan Indonesia: Glass Ceiling bagi Perempuan dalam Ranah Politik

Tags: feminisfeminismePerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sebuah Cerita Tanpa Judul | Cerpen Anton Chekhov

Next Post

Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Clara Listya Dewi

Clara Listya Dewi

Ni Nyoman Clara Listya Dewi, Lecture & Engagement Director at BASAbali Wiki

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Pameran Bali Emerging Artist 2021 | Membuka Ruang Bagi yang Muda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co