14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon, Saudara Tertua Kehidupan | Renungan Tumpek Wariga

I Ketut Sumarta by I Ketut Sumarta
March 20, 2021
in Esai
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

SETELAH tekun melakukan pembelajaran demi pembelajaran kepada pepohonan, sang siswa Universitas Kehidupan yang merasa telah tercerahkan itu pun berseru girang, ”Tubuhku pohon, jiwaku inti (les, unteng) kayu!”

Para pembelajar Universitas Kehidupan yang telah tersadarkan kerap, memang, tersentak oleh hal-hal kecil, sederhana—yang bagi kalangan umum justru tak terpikirkan, diabaikan, dianggap remeh. Sebaliknya, bagi guru-guru terlatih, menyadari yang kecil-kecil, sederhana, itulah justru pencerahan sempurna.

”Pencerahan itu menyadari penuh betapa tak ada yang salah dengan kepala kita: dia sempurna ada di atas bahu, ditopang leher,” ujar seorang guru yang telah tercerahkan.

Guru lain berujar, ”Pencerahan itu menyadari betapa setia napas yang tak pernah kau sadari!”

Begitu enteng kedengarannya. Lantas, apa yang aneh dari sang siswa universitas kehidupan yang berseru, ”Tubuhku pohon, jiwaku inti (les, unteng) kayu!” itu?

Tak ada aneh.

HIDUP ITU memang pohon hayat yang terus bertumbuh, meningkat, meninggi, maju, meluas, mendalam. Pohon itulah hayat atau sumber nutrisi hidup pertama dalam wujud fisik yang membentuk lapisan tubuh ragawi setiap anak-anak manusia, sebelum disusul hewan, dan lain-lain kemudian. Setiap sel dalam tubuh manusia mengandung jejak jasa mulia sang pohon. Tetua Bali berkesantunan hidup, bahkan begitu penuh hormat mengakui, menyadari, dan menerima pohon sebagai ”saudara tertua” dalam Keluarga Besar Kehidupan. Baru menyusul berikutnya: hewan sebagai ”saudara kedua”. Adapun manusia bahkan diposisikan sebagai ”si bungsu”: ketiga.

Dari kesadaran demikian, Tetua Bali lantas mewariskan lelakon hidup Wana Kerti dengan Tumpek Wariga/Tumpek Atag/Tumpek Bubuh sebagai momentum kesadaran kolektif untuk memuliakan Dia Yang Telah Senantiasa Menumbuhkan Hidup dan Kehidupan, Hyang Tumuwuh.

Sepanjang manusia menjalani kehidupannya tidak pernah dapat dilepaskan dari pelukan cinta kasih jasa pepohonan yang masuk ke dalam tubuh maupun yang setia menyangga di luar tubuh hingga berwujud rumah, dengan segala perlengkapannya. Tak terkecuali piranti-piranti sarana kehidupan lainnya.

Meskipun manusia kini hidup dengan teknologi maju nan canggih yang kian sedikit berbahan dasar kayu, toh tetap saja manusia tak bisa mengenyangkan samudra perut masing-masing dengan makan besi, misalnya. Bahkan tidak juga manusia bisa hidup dengan makan langsung uang yang dimiliki.

Saban hari perut tetap patut diisi dengan makanan yang berasal dari pepohonan kaya nutrisi, entah berupa biji-bijian, buah, daun, pucuk, bunga, batang, kulit, sampai akar. Pohon pula yang mengandung aneka keragaman hayati, bahan obat penyembuh.

Bahkan manakala manusia menghidupi tubuh ragawinya dengan binatang pun, sejatinyalah hewan itu juga hidup dari topangan cinta kasih sang pohon—sehingga manusia berarti secara tak langsung juga mengonsumsi pohon. Itu sebab para guru kehidupan yang telah tercerahkan sempurna menghargai dan memuliakan pohon sebagai Ibu Kehidupan. Dalam ”dialog ekologis” berupa saa, tradisi Bali menyapa pepohonan dengan lembut, hormat, nan puitis, ”Nini-Nini, Kaki-Kaki.”

Sebagaimana anak-anak manusia terlahir dari guagarba rahim sang Ibu Kandung, begitu pulalah manusia terlahir sempurna dari guagarba Ibu Kehidupan berwujud-rupa pepohonan. Sasmita apakah yang hendak dituturkan Semesta Raya Kehidupan manakala Siddharta Gautama dikisahkan menemukan Kesadaran Penuh inti-sari-pati-hakikat tujuan, makna, dan guna Hidup dalam Kehidupan—yang kelak orang-orang menamakan ”pencerahan”—setelah bertekun-tekun menyelami ruang-ruang dirinya sendiri di bawah Keheningan Pohon Boddhi, hingga menjadi Buddha dan mencapai Nibbhana?

SIMBOLIK APAKAH yang hendak diingatkan rakawi Mpu Tanakung dalam kakawin Siwaratrikalpa gubahannya manakala membabarkan kembali kisah si manusia pemburu bernama Lubdhaka yang pada suatu momentum kritis nan krusial di tengah hutan lantas memanjat Pohon Bilwa? Dalam gelap hutan dia memetik lembar demi lembar daun sebagai sadana diri menemui Lingga Siwa di telaga—dan karena itu kelak di ujung hayatnya atman-nya pun dibebaskan sempurna dari segala ke-papa-an hingga bertemu Siwa, sang Maha Cinta Kasih?

Teks dan tradisi-tradisi tua Kehidupan begitu berlimpah, bahkan nyaris tanpa lupa, memang, mengingatkan hal mendasar ini: penting bagi setiap pejalan kehidupan untuk sampai pada suatu tahapan rela belajar kepada sang Pepohonan, ngawanaprasta—untuk kembali menjadi hidup berwatak selayaknya pohon: polos, sederhana, jujur, apa adanya, berbagi sama bagi semua. Terus bertumbuh dengan cara-cara santun merawat ruang-ruang kehidupan bersama, urip-nguripi: akar-akar semakin kuat dan mendalam memeluk hening gelap Ibu Bumi Pertiwi; terus meluas bercecabang menyerap sinar, air, bahkan racun untuk selanjutnya mengolah dan menebarkannya menjadi oksigen nutrisi kehidupan; seraya senantiasa tetap fokus tulus lurus kukuh meninggi memeluk Terang Bapa Akasa Raya Tak Berbatas.

Selamat menyempurna dalam tebaran cinta kasih Pepohonan, Sahabat-Sahabat. [T]

Saniscara Kliwon, Wariga, 20.03.2021

Tags: balihindulingkungantumpek wariga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Tjahjono Widijanto | Pisang Bakar dan Sebiji Trembesi Serupa Khuldi

Next Post

Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

I Ketut Sumarta

I Ketut Sumarta

Pejalan sunyi

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co