22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon, Saudara Tertua Kehidupan | Renungan Tumpek Wariga

I Ketut Sumarta by I Ketut Sumarta
March 20, 2021
in Esai
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

SETELAH tekun melakukan pembelajaran demi pembelajaran kepada pepohonan, sang siswa Universitas Kehidupan yang merasa telah tercerahkan itu pun berseru girang, ”Tubuhku pohon, jiwaku inti (les, unteng) kayu!”

Para pembelajar Universitas Kehidupan yang telah tersadarkan kerap, memang, tersentak oleh hal-hal kecil, sederhana—yang bagi kalangan umum justru tak terpikirkan, diabaikan, dianggap remeh. Sebaliknya, bagi guru-guru terlatih, menyadari yang kecil-kecil, sederhana, itulah justru pencerahan sempurna.

”Pencerahan itu menyadari penuh betapa tak ada yang salah dengan kepala kita: dia sempurna ada di atas bahu, ditopang leher,” ujar seorang guru yang telah tercerahkan.

Guru lain berujar, ”Pencerahan itu menyadari betapa setia napas yang tak pernah kau sadari!”

Begitu enteng kedengarannya. Lantas, apa yang aneh dari sang siswa universitas kehidupan yang berseru, ”Tubuhku pohon, jiwaku inti (les, unteng) kayu!” itu?

Tak ada aneh.

HIDUP ITU memang pohon hayat yang terus bertumbuh, meningkat, meninggi, maju, meluas, mendalam. Pohon itulah hayat atau sumber nutrisi hidup pertama dalam wujud fisik yang membentuk lapisan tubuh ragawi setiap anak-anak manusia, sebelum disusul hewan, dan lain-lain kemudian. Setiap sel dalam tubuh manusia mengandung jejak jasa mulia sang pohon. Tetua Bali berkesantunan hidup, bahkan begitu penuh hormat mengakui, menyadari, dan menerima pohon sebagai ”saudara tertua” dalam Keluarga Besar Kehidupan. Baru menyusul berikutnya: hewan sebagai ”saudara kedua”. Adapun manusia bahkan diposisikan sebagai ”si bungsu”: ketiga.

Dari kesadaran demikian, Tetua Bali lantas mewariskan lelakon hidup Wana Kerti dengan Tumpek Wariga/Tumpek Atag/Tumpek Bubuh sebagai momentum kesadaran kolektif untuk memuliakan Dia Yang Telah Senantiasa Menumbuhkan Hidup dan Kehidupan, Hyang Tumuwuh.

Sepanjang manusia menjalani kehidupannya tidak pernah dapat dilepaskan dari pelukan cinta kasih jasa pepohonan yang masuk ke dalam tubuh maupun yang setia menyangga di luar tubuh hingga berwujud rumah, dengan segala perlengkapannya. Tak terkecuali piranti-piranti sarana kehidupan lainnya.

Meskipun manusia kini hidup dengan teknologi maju nan canggih yang kian sedikit berbahan dasar kayu, toh tetap saja manusia tak bisa mengenyangkan samudra perut masing-masing dengan makan besi, misalnya. Bahkan tidak juga manusia bisa hidup dengan makan langsung uang yang dimiliki.

Saban hari perut tetap patut diisi dengan makanan yang berasal dari pepohonan kaya nutrisi, entah berupa biji-bijian, buah, daun, pucuk, bunga, batang, kulit, sampai akar. Pohon pula yang mengandung aneka keragaman hayati, bahan obat penyembuh.

Bahkan manakala manusia menghidupi tubuh ragawinya dengan binatang pun, sejatinyalah hewan itu juga hidup dari topangan cinta kasih sang pohon—sehingga manusia berarti secara tak langsung juga mengonsumsi pohon. Itu sebab para guru kehidupan yang telah tercerahkan sempurna menghargai dan memuliakan pohon sebagai Ibu Kehidupan. Dalam ”dialog ekologis” berupa saa, tradisi Bali menyapa pepohonan dengan lembut, hormat, nan puitis, ”Nini-Nini, Kaki-Kaki.”

Sebagaimana anak-anak manusia terlahir dari guagarba rahim sang Ibu Kandung, begitu pulalah manusia terlahir sempurna dari guagarba Ibu Kehidupan berwujud-rupa pepohonan. Sasmita apakah yang hendak dituturkan Semesta Raya Kehidupan manakala Siddharta Gautama dikisahkan menemukan Kesadaran Penuh inti-sari-pati-hakikat tujuan, makna, dan guna Hidup dalam Kehidupan—yang kelak orang-orang menamakan ”pencerahan”—setelah bertekun-tekun menyelami ruang-ruang dirinya sendiri di bawah Keheningan Pohon Boddhi, hingga menjadi Buddha dan mencapai Nibbhana?

SIMBOLIK APAKAH yang hendak diingatkan rakawi Mpu Tanakung dalam kakawin Siwaratrikalpa gubahannya manakala membabarkan kembali kisah si manusia pemburu bernama Lubdhaka yang pada suatu momentum kritis nan krusial di tengah hutan lantas memanjat Pohon Bilwa? Dalam gelap hutan dia memetik lembar demi lembar daun sebagai sadana diri menemui Lingga Siwa di telaga—dan karena itu kelak di ujung hayatnya atman-nya pun dibebaskan sempurna dari segala ke-papa-an hingga bertemu Siwa, sang Maha Cinta Kasih?

Teks dan tradisi-tradisi tua Kehidupan begitu berlimpah, bahkan nyaris tanpa lupa, memang, mengingatkan hal mendasar ini: penting bagi setiap pejalan kehidupan untuk sampai pada suatu tahapan rela belajar kepada sang Pepohonan, ngawanaprasta—untuk kembali menjadi hidup berwatak selayaknya pohon: polos, sederhana, jujur, apa adanya, berbagi sama bagi semua. Terus bertumbuh dengan cara-cara santun merawat ruang-ruang kehidupan bersama, urip-nguripi: akar-akar semakin kuat dan mendalam memeluk hening gelap Ibu Bumi Pertiwi; terus meluas bercecabang menyerap sinar, air, bahkan racun untuk selanjutnya mengolah dan menebarkannya menjadi oksigen nutrisi kehidupan; seraya senantiasa tetap fokus tulus lurus kukuh meninggi memeluk Terang Bapa Akasa Raya Tak Berbatas.

Selamat menyempurna dalam tebaran cinta kasih Pepohonan, Sahabat-Sahabat. [T]

Saniscara Kliwon, Wariga, 20.03.2021

Tags: balihindulingkungantumpek wariga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Tjahjono Widijanto | Pisang Bakar dan Sebiji Trembesi Serupa Khuldi

Next Post

Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

I Ketut Sumarta

I Ketut Sumarta

Pejalan sunyi

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

Usaha Menulis Pandemi | Cerpen Komang Adnyana

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co