24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesantunan Digital

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
March 16, 2021
in Esai
Kesantunan Digital

Ilustrasi tatkala.co

Masyarakat Indonesia terkenal dengan keramahtamahan penduduknya. Keramahtamahan tersebut tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan selalu ramah dengan pendatang. Itu menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Kemungkinan, hal itu yang menjadi alasan wisatawan mancanegara datang ke Indonesia.   

Keramahan dan keterbukaan masyarakat Indonesia terhadap orang luar menandakan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang berbudi luhur yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Nilai tersebut tercermin dalam bentuk relasi komunikasi antar sesama. Hal ini hendaknya terus terpelihara sehingga generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya bangsa yang membentuk identitas dirinya.  

Arus globalisasi membawa dampak pada perubahan karakter masyarakat. Perubahan tersebut dapat dicermati  dari meningkatnya kasus kekerasan verbal dan non verbal dalam menyelesaikan konflik. Ujaran kebencian yang berbau sara kerap dilakukan. Hal ini bisa menimbulkan perpecahan bangsa. Warganet begitu mudahnya mencaci maki dan mengumbar kata-kata yang tidak santun dalam menanggapi sebuah konflik. Kesantunan yang mencirikan budaya masyarakat Indonesia seolah-olah hilang. Warganet begitu mudah menghujat, mencaci dan memaki.

Laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya, menunjukkan warganet atau netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara. Atau dengan kata lain, paling tidak sopan se Asia Tenggara (diramu dari beberapa sumber).

Hasil survei yang dilakukan oleh DCI membuat warganet geram dan tidak setuju dengan hasil survei tersebut. Terlepas dari pro dan kontra  tentang hasil survei tersebut, secara faktual warganet Indonesia ketika bermedia sosial sering melakukan hujatan-hujatan apabila tidak menyetujui postingan warganet lain. Hujatan-hujatan yang dilakukan terkadang mengarah pada ujaran kebencian yang berbau rasisme, sukuisme dan diskriminasi.

Ujaran kebencian sangat terasa ketika perhelatan pilpes beberapa tahun lalu. Polarisasi masyarakat masih sangat terasa walaupun pilpres telah usai. Pengkotakan antara kadrun dan cebong masih ada.  Dua kubu ini tidak hentinya saling serang dengan menggunakan kata yang kurang sopan. Tidak hanya saling serang di dunia maya tetapi juga saat acara debat atau wawancara di televisi dua kubu ini kerap saling serang.

Mereka lupa bahwa apa yang mereka ujarkan ditonton jutaan orang yang tentu juga berasal dari kalangan remaja. Mereka merasa tidak berdosa mengumpat, mencaci maki, dan bahkan menghina. Anehnya ujaran yang tidak sopan tersebut diujarkan oleh kaum politisi atau kaum intelektual. Mereka dengan bangganya menggunakan kata-kata yang tidak etis dalam mengkritik pemerintah. Presiden sebagai simbol negara sering disebut “dungu”. Tentunya hujatan seperti itu seharusnya dihindari untuk menghomati presiden sebagai simbol negara.

Hujatan tak jarang diumbar oleh pemuka agama di hadapan umat yang kemudian bisa terbakar emosinya dan  memungkinkan bisa menimbulkan tindak kekerasan. Ujaran kebencian yang mengarah rasisme juga kerap terjadi. Dengan alasan apa pun ujaran yang mengarah pada penghinaan tidak  dibenarkan.

Ujaran-ujaran kebencian tampaknya semakin meningkat. Hal ini tidak terlepas dari peran buzzer. Buzzer yang dianggap sebagai pembentuk opini publik kerap melempar opini yang terkadang hoaks yang bertujuan untuk menjatuhkan lawan politik. Masyarakat disuguhi opini yang bersifat persuasif yang terkadang menyesatkan. Unggahan-unggahan opini para buzzer membuat gaduh seakan negeri ini tidak terlepas dari isu-isu yang membuat masyarakat bingung menyikapinya.

Penggunaan media sosial selama pandemi meningkat. Sebagian besar masyarakat berada di rumah karena dirumahkan atau bekerja dari rumah. Masyarakat punya banyak waktu luang dan untuk mengisi waktu luang masyarakat  menghabiskan waktu dengan bermedia sosial. Entah karena situasi ekonomi yang terpuruk akibat pandemi Covid 19 sebagian masyarakat mudah terpancing emosinya dalam mengemukakan pendapat. Berita bohong yang diunggah dalam media sosial dengan mudah direspon tanpa melakukan suatu pemikiran yang mendalam.

Warganet dalam berkomunikasi di media sosial hendaknya tetap memerhatikan kesantunan berbahasa. Kesantunan hendaknya tetap terpelihara walaupun pendapat yang disampaikan orang lain berbeda. Perbedaan pendapat disampaikan tidak harus dengan menggunakan kata-kata yang tidak sopan yang bertujuan untuk menghujat. Hujatan yang dilakukan tentu menimbulkan konflik yang tidak menyelesaikan suatu permasalahan. Apabila ada perbedaan pandangan selesaikan dengan dialog yang lebih mengedepankan argumentasi yang rasional.  

Lakoff (1990: 34) mendefinisikan kesantunan sebagai suatu sistem relasi interpersonal yang dirancang untuk memfasilitasi interaksi dengan cara meminimalkan potensi konflik yang secara alami terdapat dalam interaksi antarindividu. Berbagai temuan empiris maupun kajian teoritis, menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa digunakan sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan sosial dan sekaligus menjadi dukungan interpersonal dalam rangka mencegah konfrontasi.

Kesantunan berbahasa secara umum dikelompokkan ke dalam dua jenis. Pertama, kesantunan tingkat pertama (first-order politeness), yang merujuk pada etiket atau kaidah kepatutan bertingkah laku dalam suatu kelompok masyarakat masyarakat tertentu. Pada sisi ini kesantunan merujuk kepada seperangkat kaidah tatakrama yang disepakati oleh suatu kelompok. Pemahaman atas kaidah tatakrama kelompok menjadi indikator kesuksesan seorang dalam bertutur yang santun. Kesantunan tingkat pertama ini disebut kesantunan sosial. Kedua, kesantunan tingkat kedua (second-order politeness), yang merujuk pada penggunaan bahasa untuk menjaga hubungan interpersonal. Pada sisi ini indikator kesuksesan dalam bertutur ditentukan oleh perangkat pemahaman bahasa yang dikuasai penutur, misalnya knowledge of the world (pengetahuan tentang dunia), knowledge of culture (pengetahuan tentang budaya), kecerdasan seseorang dalam mencerna segala fenomena interaksi, dan sebagainya. Kesantunan tingkat kedua ini disebut kesantunan interpersonal (Kuntarto, 2016:59).

Seseorang dalam berkomunikasi wajib memerhatikan kesantunan sosial yang merujuk pada etika berkomunikasi yang telah disepakati oleh suatu masyarakat. Norma-norma, etika dan nilai sosial humaniora yang terpelihara oleh suatu masyarakat dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat. Di samping memerhatikan nilai sosial, dalam berkomunikasi seseorang perlu  pemahaman terhadap bahasa yang digunakan dalam bertutur. Masing-masing bahasa mempunyai sistem tata tingkatan bahasa yang berbeda. Hal ini perlu diketahui sehingga dalam berargumentasi terhindar dari menggunakan kata-kata yang tidak santun. [T]

Tags: digitalsopan santuntata krama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Api Baru Usai Hening

Next Post

Halusinasi MR HIT | Dari Sudut Skizofrenia

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Halusinasi MR HIT | Dari Sudut Skizofrenia

Halusinasi MR HIT | Dari Sudut Skizofrenia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co