3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesantunan Digital

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
March 16, 2021
in Esai
Kesantunan Digital

Ilustrasi tatkala.co

Masyarakat Indonesia terkenal dengan keramahtamahan penduduknya. Keramahtamahan tersebut tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan selalu ramah dengan pendatang. Itu menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Kemungkinan, hal itu yang menjadi alasan wisatawan mancanegara datang ke Indonesia.   

Keramahan dan keterbukaan masyarakat Indonesia terhadap orang luar menandakan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang berbudi luhur yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Nilai tersebut tercermin dalam bentuk relasi komunikasi antar sesama. Hal ini hendaknya terus terpelihara sehingga generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya bangsa yang membentuk identitas dirinya.  

Arus globalisasi membawa dampak pada perubahan karakter masyarakat. Perubahan tersebut dapat dicermati  dari meningkatnya kasus kekerasan verbal dan non verbal dalam menyelesaikan konflik. Ujaran kebencian yang berbau sara kerap dilakukan. Hal ini bisa menimbulkan perpecahan bangsa. Warganet begitu mudahnya mencaci maki dan mengumbar kata-kata yang tidak santun dalam menanggapi sebuah konflik. Kesantunan yang mencirikan budaya masyarakat Indonesia seolah-olah hilang. Warganet begitu mudah menghujat, mencaci dan memaki.

Laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya, menunjukkan warganet atau netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara. Atau dengan kata lain, paling tidak sopan se Asia Tenggara (diramu dari beberapa sumber).

Hasil survei yang dilakukan oleh DCI membuat warganet geram dan tidak setuju dengan hasil survei tersebut. Terlepas dari pro dan kontra  tentang hasil survei tersebut, secara faktual warganet Indonesia ketika bermedia sosial sering melakukan hujatan-hujatan apabila tidak menyetujui postingan warganet lain. Hujatan-hujatan yang dilakukan terkadang mengarah pada ujaran kebencian yang berbau rasisme, sukuisme dan diskriminasi.

Ujaran kebencian sangat terasa ketika perhelatan pilpes beberapa tahun lalu. Polarisasi masyarakat masih sangat terasa walaupun pilpres telah usai. Pengkotakan antara kadrun dan cebong masih ada.  Dua kubu ini tidak hentinya saling serang dengan menggunakan kata yang kurang sopan. Tidak hanya saling serang di dunia maya tetapi juga saat acara debat atau wawancara di televisi dua kubu ini kerap saling serang.

Mereka lupa bahwa apa yang mereka ujarkan ditonton jutaan orang yang tentu juga berasal dari kalangan remaja. Mereka merasa tidak berdosa mengumpat, mencaci maki, dan bahkan menghina. Anehnya ujaran yang tidak sopan tersebut diujarkan oleh kaum politisi atau kaum intelektual. Mereka dengan bangganya menggunakan kata-kata yang tidak etis dalam mengkritik pemerintah. Presiden sebagai simbol negara sering disebut “dungu”. Tentunya hujatan seperti itu seharusnya dihindari untuk menghomati presiden sebagai simbol negara.

Hujatan tak jarang diumbar oleh pemuka agama di hadapan umat yang kemudian bisa terbakar emosinya dan  memungkinkan bisa menimbulkan tindak kekerasan. Ujaran kebencian yang mengarah rasisme juga kerap terjadi. Dengan alasan apa pun ujaran yang mengarah pada penghinaan tidak  dibenarkan.

Ujaran-ujaran kebencian tampaknya semakin meningkat. Hal ini tidak terlepas dari peran buzzer. Buzzer yang dianggap sebagai pembentuk opini publik kerap melempar opini yang terkadang hoaks yang bertujuan untuk menjatuhkan lawan politik. Masyarakat disuguhi opini yang bersifat persuasif yang terkadang menyesatkan. Unggahan-unggahan opini para buzzer membuat gaduh seakan negeri ini tidak terlepas dari isu-isu yang membuat masyarakat bingung menyikapinya.

Penggunaan media sosial selama pandemi meningkat. Sebagian besar masyarakat berada di rumah karena dirumahkan atau bekerja dari rumah. Masyarakat punya banyak waktu luang dan untuk mengisi waktu luang masyarakat  menghabiskan waktu dengan bermedia sosial. Entah karena situasi ekonomi yang terpuruk akibat pandemi Covid 19 sebagian masyarakat mudah terpancing emosinya dalam mengemukakan pendapat. Berita bohong yang diunggah dalam media sosial dengan mudah direspon tanpa melakukan suatu pemikiran yang mendalam.

Warganet dalam berkomunikasi di media sosial hendaknya tetap memerhatikan kesantunan berbahasa. Kesantunan hendaknya tetap terpelihara walaupun pendapat yang disampaikan orang lain berbeda. Perbedaan pendapat disampaikan tidak harus dengan menggunakan kata-kata yang tidak sopan yang bertujuan untuk menghujat. Hujatan yang dilakukan tentu menimbulkan konflik yang tidak menyelesaikan suatu permasalahan. Apabila ada perbedaan pandangan selesaikan dengan dialog yang lebih mengedepankan argumentasi yang rasional.  

Lakoff (1990: 34) mendefinisikan kesantunan sebagai suatu sistem relasi interpersonal yang dirancang untuk memfasilitasi interaksi dengan cara meminimalkan potensi konflik yang secara alami terdapat dalam interaksi antarindividu. Berbagai temuan empiris maupun kajian teoritis, menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa digunakan sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan sosial dan sekaligus menjadi dukungan interpersonal dalam rangka mencegah konfrontasi.

Kesantunan berbahasa secara umum dikelompokkan ke dalam dua jenis. Pertama, kesantunan tingkat pertama (first-order politeness), yang merujuk pada etiket atau kaidah kepatutan bertingkah laku dalam suatu kelompok masyarakat masyarakat tertentu. Pada sisi ini kesantunan merujuk kepada seperangkat kaidah tatakrama yang disepakati oleh suatu kelompok. Pemahaman atas kaidah tatakrama kelompok menjadi indikator kesuksesan seorang dalam bertutur yang santun. Kesantunan tingkat pertama ini disebut kesantunan sosial. Kedua, kesantunan tingkat kedua (second-order politeness), yang merujuk pada penggunaan bahasa untuk menjaga hubungan interpersonal. Pada sisi ini indikator kesuksesan dalam bertutur ditentukan oleh perangkat pemahaman bahasa yang dikuasai penutur, misalnya knowledge of the world (pengetahuan tentang dunia), knowledge of culture (pengetahuan tentang budaya), kecerdasan seseorang dalam mencerna segala fenomena interaksi, dan sebagainya. Kesantunan tingkat kedua ini disebut kesantunan interpersonal (Kuntarto, 2016:59).

Seseorang dalam berkomunikasi wajib memerhatikan kesantunan sosial yang merujuk pada etika berkomunikasi yang telah disepakati oleh suatu masyarakat. Norma-norma, etika dan nilai sosial humaniora yang terpelihara oleh suatu masyarakat dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat. Di samping memerhatikan nilai sosial, dalam berkomunikasi seseorang perlu  pemahaman terhadap bahasa yang digunakan dalam bertutur. Masing-masing bahasa mempunyai sistem tata tingkatan bahasa yang berbeda. Hal ini perlu diketahui sehingga dalam berargumentasi terhindar dari menggunakan kata-kata yang tidak santun. [T]

Tags: digitalsopan santuntata krama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Api Baru Usai Hening

Next Post

Halusinasi MR HIT | Dari Sudut Skizofrenia

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Halusinasi MR HIT | Dari Sudut Skizofrenia

Halusinasi MR HIT | Dari Sudut Skizofrenia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co