24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kolaborasi Apa Adanya” | Catatan Pra Release Benten+62

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
March 15, 2021
in Esai
“Kolaborasi Apa Adanya” | Catatan Pra Release Benten+62

Benten+62

Pada masa-masa seperti sekarang ini, produktifitas pasti dipertanyakan. Ditambah lagi bagaimana kita mengidentitaskan diri sebagai seorang “sok seniman”. Yang artinya sebagian kawan atau orang yang mengenal kita akan mempertanyakan suatu hal yang lumrah. Misal dengan pertanyaan, “ada projek apa sekarang?”, atau “eh, Guk gimana Teater Kalangan? Ada garapan apalagi sekarang?”. Pertanyaan-pertanyaan itu bakal lumrah ditanyakan oleh teman dekat kita ketika bertemu. Baik dari lintas disiplin manapun. Yang akhirnya mau tidak mau sebagai seorang yang bergerak dibidang kesenian selalu mencari jawaban yang benar-benar “nyeniman”.

Sebagai sebuah pertanggungjawaban atas diri sendiri dan juga atas kelompok. Saya akhirnya menjaga diri tetap awas jika suatu waktu bertemu teman dan pertanyaan itu keluar. Akhirnya haus produktifitas terjadi. Ditambah lagi dengan situasi seperti ini. Jarang ada konser musik, pentas teater dan kegiatan nyeni lainnya. Sebagai orang yang sering berkegiatan di arena kultural seperti ini keresahan pasti timbul. Mencari kemungkinan lain untuk menjaga ide-ide kreatif tetap ada.

Kemudian mulai menalaah lebih jauh lagi. Apa yang sekiranya bisa dilakukan di situasi seperti ini? Membaca diri pada hari ini. Apa saja kecendrungan kegiatan yang sering dilakukan saat masa-masa sulit seperti ini. Akhirnya saya menemukan jawaban. Belakangan ini saya sering mendengarkan musik, menonton arsip pertunjukan teater, dan lain sebagainya. Sebagai sebuah perasaan rindu terhadap kegiatan di hari-hari normal. Banyak ide yang kemudian muncul dan mengendap di kepala. Ingin buat ini itu di saat nanti pandemi sudah berakhir. Tapi adakah kemungkinan lain yang bisa direalisasikan dari ide-ide yang mengendap belakangan ini?

Kalaupun nekat sepertinya bisa saja saya membuat sesuatu dan mengadakan acara dengan memanfaatkan situasi seperti sekarang. Saat segala pertemuan dibatasi. Saat segala pertemuan memiliki kapasitas yang distandarisasi. Memaksakan diri untuk membuat sesuatu dan bertemu oleh publik yang banyak, memang mustahil terjadi belakangan ini. Ibarat menjemput kematian dengan sengaja. Ternyata banyak pula kemungkinan buruknya yang mesti ditawar.

Tapi jika kemudian dibaca ulang, ada cara bertemu dengan publik luas tanpa harus melakukan pertemuan dan mendatangkan massa yang banyak. Membaca seberapa jauh akhirnya media sosial mencapai ruang-ruang pribadi kawan sekitar. Bahkan lebih, dia bisa mengakses dan muncul pada beranda orang yang bahkan tidak kita kenal. Katakanlah misalnya Instagram, Youtube, Twitter dan aplikasi lainnya. Yang sangat membantu kita untuk bertukar kabar lewat dunia maya. Pada hari ini segala kegiatan dan waktu kita hampir habis berada di depan smartphone pribadi kita. Saya mulai membaca ulang bisakah pengendapan ide kreatif saya menyentuh ruang-ruang itu?

Apalagi di saat kelompok sendiri sedang menyiapkan sesuatu yang panjang, saya pribadi butuh sebuah tantangan tersendiri sebagai angin segar. Sembari menjalankan apa yang sedang disiapkan oleh kelompok pada waktu mendatang. Apa yang dapat saya lakukan dalam waktu dekat ini? Berkolaborasi. Kolaborasi yang melibatkan pertanggung jawaban individu tanpa melibatkan kelompok. Walaupun pada akhirnya orang akan tetap membaca saya sebagai bagian dari Teater Kalangan. Kebetulan waktu itu teman saya Hendra Harmanda atau yang akrab saya panggil Ginting, menghubungi untuk mengajak kolaborasi.

Ginting memiliki sebuah grup band bernama Benten+62, sebuah band bergendre rock alternative asal Denpasar. Yang beranggota 4 orang anak muda mahasiswa yaitu Ginting (Vocal/Gitar), Dona (Gitar), Edo (Bass), dan Acong (Drum). Ginting dan bandnya hendak merilis sebuah single yang ingin dijadikan bentuk film pendek, atau video clip. Ginting kemudian menguhubungi saya untuk mengisi peran dalam video clipnya. Saya mengiyakan. Ternyata, tidak hanya mengisi peran dalam video clip saja. Tapi saya juga ditugaskan untuk mengisi vokal utama dalam lagu tersebut.

Bertanya saya kepadanya, “liriknya mana, Ting?”. Dia menjawab dengan nada yang santai, “kau dah yang buat, Guk.” Saya kaget bukan kepalang, apa-apaan saya yang notabene tidak punya latar belakang menyanyi dan menulis lirik kemudian dimintai pertanggung jawaban atas hal ini. Tapi Ginting tidak melempar hal itu dengan begitu saja. Dia tetap mendirect seperti seorang sutradara dalam sebuah pementasan teater. Dia intens mengajak saya untuk bertemu. Membicarakan segala konsep yang hendak direalisasikan oleh ide-idenya. Sebagai orang yang diajaknya dalam penggarapan ini tentu menempatkan diri bak gawang yang menerima segala idenya.

Kemudian setelah beberapa pertemuan akhirnya kami merasa bahwa bentuk kasar dalam apa yang hendak dibuat sudah terbayang dalam pikiran. Kemudian pengembangan ide pasti terjadi. Bagaimana sudut pandang memandang ide awal itu pasti memiliki perkembangan antara saya dan Ginting. Ide memang harus terus berkembang sampai nanti penggarapan berlangsung. Kemudian selang beberapa hari Ginting kembali mengabarkan bahwa akan mengajak salah satu teman nongkrong kami untuk ikut dalam kolaborasi ini. Galih, seorang mahasiswa Sastra Indonesia teman kampus Ginting. Tergabung dalam penggarapan ini sebagai orang yang nanti mengatur pengambilan gambar dan video.

Artinya, kini ada tiga kepala dan satu ide. Yang kemudian menjadikan ide awal yang disepakati menjadi berhamburan kesana kemari. Segala macam reverensi masuk. Sagala macam bentuk diceritakan sesuai pengalaman antara kami memandang video clip sebuah band. Tapi dari segala percakapan soal ide awal yang kini sudah jauh berkembang, akhirnya kami harus menyadari bahwa ide tersebut tidak bisa kami biarkan begitu saja ejakulasi.

Kami harus dengan sadar mendisiplinkan diri untuk mengetahui batasan-batasan ide. Kami seolah harus memberi pagar dalam semua ide yang diutarakan. Akhirnya kami menyepakati konsep sederhana yang hendak kami garap. Kami menghabiskan waktu dua minggu untuk sekedar membicarakan ide tersebut. Intensitas pertemuan di antara kami terawat dijaga. Hampir setiap hari kami berusaha bertemu walau hanya 1-2 jam untuk membicarakan penggarapan mendatang.

Menyatukan sebuah gagasan dengan sudut pandang berbeda-beda memang sangat tegang sekaligus seru. Bagaimana menyampaikan suatu gagasan dari lintas disiplin yang biasa intens dilakukan. Seperti saya yang berlatar belakang sebagai aktor dalam sebuah kelompok teater. Ginting sebagai anak band yang berkutat pada musiknya. Dan Galih seorang mahasiswa Sastra yang tidak sastra-sastra banget, yang berusaha menampung ide antara kami untuk divisualkan.

Saya rasa letak kolaborasi itu berada pada titik ini. Bagaimana kami dengan latar belakang yang berbeda tidak saling tumpang tindih dalam mengambil keputusan. Menyusun segala persiapan dengan pertanggung jawaban yang pasti. Agar kemudian jika nantinya yang kami lakukan dipertanyakan oleh teman atau kalangan manapun, pertanggung jawaban atas karya itu ada.

Beberapa waktu mendatang kami akan merilis sebuah video clip untuk band Benten+62, berkolaborasi bersama saya dan Galih. Berjudul “Penguntit”, yang lirik kami tulis dengan kesepakatan bersama dan mengalami perombakan yang berulang. Penempatan dan pemilihan ruang yang kami jadikan set utama dalam video clip-pun telah kami sepakati bersama. Bagaimana kostum dan segala simbol lainnya sudah kami pikirkan dengan matang. Tapi pada catatan pra realese ini saya tidak akan mengintervensi para penonton. Kami biarkan apa yang kami godok bersama menjadi sebuah hidangan yang dinikmati publik. Kami tidak akan memberitahu resep yang ada dalam tiap detik lagu dan video clip nanti. Kami biarkan hal tersebut terjadi begitu saja pada pikiran penotnon. Tapi sebagai sebuah pertanggung jawaban, nantinya akan ada juga catatan paska realese. Itupun kami susun bukan untuk membunuh segala interpretasi penonton paska menonton video clip “Penguntit”. Tapi yang sudah kami sepakati, itu hanya sebuah pertanggung jawaban kami dari tiap kolaborator dalam merealisasikan maksud dan idenya.

Menceritakan ketegangan dalam ruang diskusi dalam penggarapan video clip tersebut. Video clip “Penguntit”, tidak seseram dan setegang bagaimana catatan pra realese ini ditulis. Kami menggarapnya dengan sebegitu sederhana. Alat yang apa adanya, ruang yang apa adanya. Segala yang apa adanya. Dan hasil yang apa adanya.

Setidaknya di antara kami sama-sama puas ketika ide itu menjadi berguna. Ya walaupun sekali lagi jika nanti hasilnya apa adanya, dinikmati saja. Karena memang begini adanya. Catatan inipun ditulis apa adanya. Tidak menggebu-gebu. Sebagai penutup, FYI nantikan video clip “Penguntit” dari Benten+62, berkolaborasi dengan Agus Noval Rivaldi salah satu anggota dari Teater Kalangan dan AA Gita Galih Gumalang seorang mahasiswa Sastra Indonesia yang tidak sastra-sastra banget.

Untuk info lebih lanjut, teman-teman bisa pantau media massa Benten+62. Di akun Instagramnya : bentenofficials, Twitter: @bentenofficials dan karya-karya dari Benten+62 dapat didengarkan di Spotify: Benten 62, Soundcloud: BENTEN+62, dan digital platform lain kesayangan kalian. Salam 😊 [T]

Tags: Benten+62Teater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tahun ‘Caka’ Tidak Ada

Next Post

Api Baru Usai Hening

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Api Baru Usai Hening

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co