12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kami, Elegi Riau yang Ditinggal Pergi: Antara Kegelisahan dan Optimisme

I Made Kridalaksana by I Made Kridalaksana
February 14, 2021
in Esai
Kami, Elegi Riau yang Ditinggal Pergi: Antara Kegelisahan dan Optimisme
  • Judul Buku      : Kami, Elegi Riau yang Ditinggal Pergi (Kumpulan Karya Forum Literasi Remaja Riau)
  • Penulis             : Putri Ayu Aulia, dan kawan-kawan. 
  • Penerbit           : Soega Publishing
  • Tebal               : 118 halaman
  • Cetakan ke-     : 1 Tahun 2018
  • ISBN               : 978-602-6817-74-7

Putri Ayu Aulia, Qonitah Rifda Zahirah, Sausan Najda Andriani, Dang Mawar, Ratu Carissa, Hananni, Riza Dermawan, Putri Marsya, Muhammad de Putra, Ahna Shofy, dan Muhammad Abyan Syah, adalah potret generasi milenial yang kreatif. Buah kreatifitas mereka terangkum pada sebuah buku yang berjudul Kami, Elegi Riau yang Ditinggal Pergi. Meski masih berstatus pelajar (SMP, dan SMA atau sederajat), para penulis yang tergabung dalam Forum Literasi Remaja (FLR) Provinsi Riau ini adalah anak-anak muda sarat prestasi pada dunia sastra, khususnya puisi, cerpen, teater, maupun beberapa bentuk karya sastra lainnya. Kiprah kesusasteraan mereka tidak hanya teruji pada tingkat lokal Riau semata. Sebagaimana diungkapkan pada halaman biografi buku ini, beberapa penulisnya bahkan sudah menancapkan kukunya pada level nasional, ASEAN, bahkan internasional.

Kami, Elegi Riau yang Ditinggal Pergi, memuat kumpulan cerpen, monolog,  puisi dan syair. Sebagaimana judulnya, kumpulan karya ini banyak merekam ekspresi dukacita, ratapan, serta kegelisahan. Menariknya, meski para penulisnya masih sedang duduk di bangku sekolah, mereka tidak hanya mengangkat problematika terkait dengan dunia mereka sebagai pelajar maupun permasalahan di lingkungan keluarga semata. Lebih dari itu, mereka berbicara tentang isu-isu yang lebih luas seperti: kegelisahan akan kelestarian alam, adat serta budaya yang terpotret di tanah kelahiran mereka, Riau, termasuk juga ekspresi kegelisahan mereka terhadap fenomena yang terjadi di negeri ini, Indonesia.

Putri Ayu Aulia,  pada cerpen Tsunami dan Ayah yang Pergi dalam Kematian Keluarga, mengisahkan dukacita mendalam yang dialami tokoh akunya bernama Ahmad. Berlatar tsunami yang merenggut nyawa ibu, ayah, serta ketiga adiknya, si tokoh aku ini meratapi kepergian orangtua serta saudara-saudaranya. “Ayah semakin menjauhkan perjalanannya. Sedangkan ibu, dan tiga adikku mulai bahagia di pangkuan Tuhan yang menerima bila mereka menggelakkan tawa di atas sana ketika aku merasa begitu luka nestapa. Entah mereka lupa kepadaku yang merana di sini entah bagaimana.” (hal. 23). Kutipan cerpen ini adalah ratapan si tokoh aku sekaligus sindiran kepada para para pemimpin untuk ingat dengan rakyat dengan segala problematikanya.

Cerpen Qonitah Rifda Zahirah berjudul Yas juga berkisah tentang ratapan. Del, dan semua warga sekolah tidak dapat menerima ketidakadilan menimpa Yas, rekan mereka.  Yas yang secara fisik kurang menarik serta kurang mapan secara ekonomi di-bully oleh tiga rekan mereka, bahkan, hingga meninggal. “… Pem-bully-an, penindasan, dan segala macam perlakuan seperti itu, bukanlah diajarkan bunda Kartini. Hanya karena fisiknya yang tidak menarik, hanya karena ia tidak mampu, bukan berarti kesetaraan tidak berlaku untuknya. … ” (hal. 42). Kutipan ini menegaskan kesetaraan bukan hanya urusan gender tetapi juga dalam hal status sosial.

Sausan Nadja  Andriani pada cerpennya Lautan Perasaanmu, Ayah berkisah tentang tokoh Pak Hasan yang meratapi kelakuan Fikri, anak sulungnya yang sedang duduk di bangku SMA. Di hadapan teman-temannya, Fikri merasa malu mengakui pekerjaan ayahnya sebagai badut keliling. “Fikri malu punya Ayah kayak Ayah! Ayah cuma kerja jadi badut keliling, Cuma jadi badut yang biasanya cuma disewa buat acara ulang tahun anak orang saja! Ayah nggak sehebat Ayah teman-teman Fikri yang lain! Ayah nggak bisa kerja kantoran kayak Ayah-Ayah yang lain! … “ (hal. 49). Kutipan ini juga merupakan sindiran keras bagi kita untuk tidak gengsi menerima kenyataan. Jika diambil hikmahnya bukan tidak mungkin kondisi tersebut membuat kita bangkit dari ratapan.

Dang Mawar pada puisinya Membaca Riau 1 secara eksplisit mengungkapkan ratapan sekaligus kerinduan akan kembalinya kejayaan masa lalu tanah kelahirannya. Alam yang dulunya asri dan subur kini berubah gersang dan hancur oleh tangan-tangan modernisasi. Riau yang menurutnya identik dengan budaya Melayu, kini sudah turut tergerus seiring pesatnya perkembangan era globalisasi ini. //Membaca Riau Membaca Melayu/ Yang kini kian tergerus zaman/Alam punah Ranah, masa silam jadi kenangan/Bagai langit ditikam kelam, badai menghantam, ia meranggas/ … // (hal. 68). Larik-larik ini selain ratapan sekaligus juga menjadi peneguh semangat untuk tidak kehilangan Riau dengan budaya penduduk Melayu-nya yang ramah ditingkahi sopan-santun serta adat-istiadat yang adiluhung.

Putri Marsya melalui puisinya, Dendang Sumpang Lancang Kuning menyiratkan hal senada dengan Dang Mawar. Ia meratapi ‘mutiara’ tanah Riau yang kini banyak dinikmati orang luar. Meminjam istilah Sapardi Djoko Damono ‘bilang begini maksudnya begitu’, tentu yang dimaksudkan bukan mutiara dalam pengertian harfiahnya. Secara metaforik, setidaknya kehilangan mutiara yang dimaksudkan adalah hilangnya sesuatu yang sangat berharga seperti hilangnya harapan serta kesempatan untuk menikmati kekayaan serta keindahan alam, adat, dan budaya yang dulu pernah mereka miliki. //Kini anak negeri menangis pilu dendang sendu berlalu/menyentak batin ibu pertiwi/Berteriak dalam bisu/… tak pernah menggapai asa/Di mana nak kucari mutiaraku/Untuk membalut lukaku/ … // (hal. 95). Ratapan ini bisa juga menjadi optimisme untuk bersama-sama berupaya menata kembali puing-puing kehancuran menjadi sesuatu yang memberi harapan di masa mendatang.

Jika karya-karya cerpenis maupun pemuisi lainnya menyuarakan kegelisahan tentang tanah Riau, Muhammad de Putra mengamplifikasi kegelisahannya secara lebih luas. Pada puisinya, Elegi Anak-anak Indonesia, melalui pengisahnya, ia menggambarkan kerusakan tanah negeri kita, Indonesia. //Tubuh pertiwi sudah mengelupas, membiru laut dan merah darah./ sedang orang-orang menangisinya dengan isak/ yang menyesak dan menyeka air mata kami./ Apakah ada upacara untuk mengobati mata dan hatinya yang dilukai, Mak?// (hal. 99). Larik-larik puisi ini mengajak kita melakukan introspeksi untuk turut serta dalam upaya melakukan penyelamatan terhadap kerusakan yang dialami pertiwi tercinta, Indonesia.

Puisi-puisi bertema kegelisahan lainnya juga diekspresikan beberapa penulisnya. Ratu Carissa dengan puisi-puisinya Rumah yang Ditinggal Pergi, Perubahan, Tak Ada, dan Aku Menunggu. Selanjutnya, Hananni hadir dengan puisinya Pohon yang Gugur Daunnya, Metafora dari Rahim Batu, dan Kisah Anak-anak di Simpang Jalan. Selain itu, ada Riza Dermawan yang menampilkan Dahsyatnya Badai.

Pelibatan ratapan sekaligus optimisme yang terejawantah melalui karya-karya pada buku ini memberikan nilai lebih tersendiri.  Sebagai pembaca kita tidak hanya “diajak” meneteskan air mata, namun juga sebaliknya, menumbuhkan ketegaran serta optimisme untuk melakukan upaya mengatasi ratapan. Optimisme tersebut terekam dalam syair maupun monolog. Kehadiran syair Muhammad Abyan Syah yang berjudul Getir, misalnya. Melalui si aku liriknya, ia menyalakan semangat demi kehormatan bangsa. //Dengarkan nandung syair/dari generasi yang tak pernah getir///Wahai anak negeri/Semua tersergam di depan mata adalah/puncak karya, menyala/Raihlah, genggamlah/maka marilah kita goreskan impian/agar kelak menjadi keharuman bangsa//. (hal. 105). Kutipan lirik ini mengajak kita untuk bersemangat menyongsong kejayaan masa depan bangsa.

Rasa optimisme juga diekspresikan Ahna Shofy melalui monolognya Rahasia Sang Bintang. Ia memberikan semangat bagi kita untuk kuat serta tidak lekas menyerah. “Wahai manusia, jangan seperti aku. Kuatkanlah dirimu mesti kau serapuh kayu tua.  …. Simpan kerapuhan itu untuk dirimu sendiri, cukup indahmu saja yang mereka lihat.” (hal. 65). Si aku lirik pada monolog ini menyiratkan untuk menguatkan diri agar mampu memperlihatkan hal-hal terbaik.

Buku ini cocok dibaca oleh para generasi milenial untuk menumbuhkan budaya menulis serta membaca buku, khususnya tentang sastra, di tengah lesunya gairah membaca maupun menulis di kalangan mereka dewasa ini. Untuk itu, buku ini akan bertambah mantap seandainya lebih banyak lagi menghadirkan karya-karya yang bertemakan fenomena-fenomena kekinian yang sedang terjadi di kalangan generasi milenial. Bagi masyarakat luas, menikmati karya-karya yang terangkum pada buku ini dapat menggugah kepedulian terhadap persoalan-persoalan daerah dan bangsa sekaligus membangun optimisme mengatasi persoalan-persoalan dimaksud. Selamat membaca! [T]

Tags: Bukuresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putu Bagiada | Dari Bupati ke Bhawati, Dari Riuh Politik ke Hening Pengetahuan

Next Post

27 Perupa “Move On” di Bidadari Art Space, Mas, Ubud

I Made Kridalaksana

I Made Kridalaksana

Lahir di Bongkasa, Badung, Bali, tahun 1972. Pendidikan terakhir S2 Linguistik di Universitas Udayana Denpasar (2007). Kini, guru di SMA Negeri 2 Mengwi, Badung, Bali. Puisi-puisi penulis terhimpun pada antologi bersama: “Mengunyah Geram, Seratus Puisi Menolak Korupsi” (2017), dan banyak lagi.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
27 Perupa “Move On” di Bidadari Art Space, Mas, Ubud

27 Perupa “Move On” di Bidadari Art Space, Mas, Ubud

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co