3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“School from Home” | Menjadi Guru Sekaligus Menjadi Ibu Tunggal

Devy Gita by Devy Gita
February 1, 2021
in Esai
“School from Home” | Menjadi Guru Sekaligus Menjadi Ibu Tunggal

Ilustrasi | Penulis bersama anaknya

Apa kabar di 2020 lalu? Baik? Ya baik, berusaha untuk tetap baik dan waras. Menjaga imunitas dan mental agar senantiasa segar bugar menghadapi segala macam terjangan dan gempuran himbauan di kala pandemi Covid 19. Himbauan untuk melaksanakan rutinitas dari rumah. Kerja dan sekolah dari rumah atau istilah kerennya work from home dan school from home.

Bahkan ada yang dirumahkan ya, dirumahkan diam di rumah dan kehilangan pekerjaan sementara, katanya. Tapi kenyataannya, berlangsung lebih lama dari yang diharapkan. Sektor pariwisata terutama dan juga sektor lain, tidak sedikit pekerja dirumahkan dalam waktu yang belum pasti dan ada pula yang harus menyerah, diberhentikan bahkan menutup usahanya. Kemudian di rumah, mereka hanya mendapatkan himbauan. What a home sweet home.

Aku masih bersyukur walaupun pandemi dan bukan pegawai negeri, aku masih bisa bekerja dan mengajar dari rumah juga menerima gaji. Aku adalah ibu tunggal merangkap guru atau guru merangkap ibu tunggal bagaimana saja boleh. karena keduanya merupakan pekerjaan primer yang harus dijalani setiap hari. Di balik stereotype ibu tunggal, aku merasa bangga bisa menghidupi anakku dengan keringat sendiri dan HALAL tentunya. Aku mengajar di sebuah SD swasta di daerah Badung, Bali dan anakku bersekolah di sekolah dasar swasta juga di kawasan Badung.

Menjadi guru di masa pandemi seperti ini serba salah. Kenapa? Kan masih digaji walaupun tidak mengajar? Halo, maaf permisi numpang ngedumel. Jadi, banyak masyarakat terutama orang tua siswa yang mengeluh anaknya sekolah dari rumah dan merangkap sebagai guru. Mengeluhkan guru yang makan gaji buta. Tapi tidak semua guru, mungkin ada beberapa sekolah dan oknum guru yang hanya mengirimkan tugas saja tanpa materi ke anak didiknya. Sehingga orang tua merasa terbebani mengajarkan anaknya pelajaran yang tidak mereka kuasai. Sementara mereka harus tetap membayar SPP.

 Aku sendiri sebagai seorang guru di kota yang akses internet dan alat komunikasi mumpuni merasa kemampuanku sebagai guru  harus ditingkatkan ke level teratas. Bagaimana tidak? Biasanya saat sekolah biasa, materi yang dipersiapkan sebelum mengajar bisa aku dapatkan dari video hasil berselancar di internet kemudian mengajar anak-anak di kelas dengan ceria dan penuh semangat. Apalagi aku mengajar kelas 1 SD dimana kedekatan psikologis,  eye to eye, face to face dengan siswa sangat diperlukan. Lah terus? Bagaimana saat sekolah dari rumah? Kan enak cuma mengirim tugas? Ooooh. Tidak semudah itu Cinderella.

 Jadi selama sekolah dari rumah, guru-guru di sekolahku dan beberapa sekolah mendadak menjadi youtuber. Karena kami harus membuat video tutorial pembelajaran dan menguasai teknik mengedit video agar siswa tertarik untuk belajar, menonton sekaligus mengerti materi pembelajaran dari video itu. Jadi kami harus membuat script, merekam dan mengedit sendiri. Menjadi sutradara, sekaligus videographer, scriptwriter dan artis. Well, yang biasanya aku hanya tinggal baca naskah dan berakting saat bermain peran di teater maupun film.

Tidak hanya itu, selain video tutorial itu, kami juga harus membuat materi presentasi untuk dipresentasikan saat kelas virtual berlangsung. Pokoknya, bagaimana caranya seminimal mungkin membebani orang tua. Begitu pula dengan tugas-tugas, kami memberikan hanya sedikit tugas dengan waktu pengumpulan maksimal 3 hari untuk mengakomodasi orang tua yang bekerja dan tidak bisa menemani anaknya belajar di rumah. Tidak semua orang tua bekerja dari rumah dan dapat membantu anaknya belajar. Pun, walaupun mereka bekerja dari rumah, tidak sedikit yang kewalahan dalam mengajarkan materi kepada anak-anaknya. Apalagi memang dari arahan menteri pendidikan bahwa materi yang diberikan tidak harus memenuhi semua yang tercantum di kurikulum.

Selain guru, aku juga adalah ibu tunggal dari seorang anak sekolah dasar kelas 2.  Anakku juga sekolah secara daring, tiap hari mengikuti kelas virtual dan mendapatkan tugas dari gurunya. Sayangnya, karena jadwal belajar dia berbenturan waktu dengan jadwal mengajarku, jadinya dia selalu belajar sendiri dengan alat komunikasi sendiri. Juga, kami berbeda sekolah dan kebijakan. Itu sedikit menimbulkan gesekan. Hal yang lumrah diamini bahwa anak lebih mendengarkan gurunya daripada orang tuanya sendiri, begitu pun anak lelakiku. Walaupun aku seorang guru, tidak menjadikannya percaya sepenuhnya untuk aku ajari. Dia cenderung lebih moody, seenaknya dan manja jika aku yang mengajari dan sering melontarkan pertanyaan, “Bener emangnya begini? Coba ibu tanya Ms.X (nama gurunya)” dan aku hanya bisa menghela napas. Jangan tanya apa emosiku pernah naik saat membantunya belajar di rumah, jawabanku sering. Sering sekali malah. Maka dari itu sekolahku dan para gurunya, berusaha semaksimal mungkin mengurangi beban orang tua di rumah. Namun, mungkin itu tidak berlaku disemua sekolah. Aku tidak punya cukup data untuk membahas itu, mohon maaf.

Karena menjalani peran ganda sebagai guru dan orang tua siswa, seringnya aku mengajukan komplain ke guru dan sekolah anakku. Lah kok malah komplain? Ya bukan keluhan yang tidak mendatangkan solusi, namun untuk sharing atau berbagi pengalaman apa yang diterapkan di sekolah tempatku bekerja. Sekiranya ada beberapa hal yang bisa diadaptasi, disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan orang tua di sekolah itu. Agar memudahkan juga orang tua dan mengurangi beban kerja guru. Hanya jika aku pikir, kebijakan yang dibuat di sekolah itu memberatkan. Kalau tidak, ya pasti aku manut dengan keputusan yang diambil oleh sekolah. Hak orang tua untuk komplain karena membayar SPP, namun juga punya kewajiban untuk mengevaluasi dan memberikan solusi.  This is a stressful situation for all of us.

Tekanan untuk guru, orang tua, dan siswa memang berat di masa pandemi ini. Bukan hanya dalam memberikan materi namun juga assessment atau penilaian. Instruksi menteri pendidikan sih penilaian diberikan secara kualitatif, namun pada kenyataannya kami harus tetap memberikan nilai secara kuantitatif yang objektivitasnya sangat sulit dipertanggungjawabkan. Terutama, untuk tugas-tugas yang tidak secara langsung mereka kerjakan saat kelas virtual berlangsung. Karena bisa saja tugas itu dikerjakan oleh orang tuanya atau mencontoh dari tugas temannya. Bukannya berpikiran buruk, namun segala kemungkinan pasti ada kan? Tentu saja, nilai yang diberikan tidak hanya melalui tugas-tugas, namun sikap dan keaktifan saat mengikuti kelas virtual.

Sekali lagi aku merasa bersyukur dan beruntung menjadi guru yang bertugas di kota besar dengan akses internet yang mudah dan sarana lebih dari sekadar memadai untuk mendapatkan materi dan mengajar melalui kelas virtual. Sudah sangat jauh lebih beruntung dari kawan-kawan guru lain yang mengajar di daerah. Membayangkan bagaimana perjuangan kawan-kawan guru yang bertugas di pelosok desa, atau wilayah terpencil yang jangankan internet, listrik saja masih minim. Hanya bisa membaca di berita bagaimana mereka berjuang menyambangi tempat tinggal murid-muridnya. Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir deras, jalan setapak sempit, bahkan merayap di tebing. Tujuan mereka hanya agar murid-murid tetap bisa mendapatkan materi walaupun harus belajar di rumah saja. Perjuangan yang tentu sangat layak dan harus mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah terkait. Mudah-mudahan saja mereka mendapatkannya.

Begitu pula dengan siswanya. Mereka yang tinggal jauh dari akses internet dan sarana untuk belajar secara daring. Tentu saja mereka harus melakukan usaha lebih untuk mendapatkan pelajaran. Jangankan yang tinggal di pelosok, yang tinggal di kota pun masih banyak yang terancam putus sekolah atau tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kendala alat komunikasi. Kesulitan ekonomi kala pandemi juga menjadi faktornya. Anak-anak membutuhkan alat penunjang yang tidak murah, namun orang tua tersendat masalah biaya. Sekali lagi di sini perlu sinergi orang tua, sekolah dan guru agar anak-anak tidak sampai putus sekolah. Kembali lagi ke kebijakan sekolah masing-masing.

Aku teringat dengan cerita seorang kawan yang sempat integrasi di Dusun Birak Desa Bilok Petung, Kecamatan Sembalun Lombok Timur. Selama pandemi, sekitar 10 -15 anak di desa tersebut belajar di taman belajar. Guru mereka akan datang dan menyampaikan materi. tidak jarang, guru juga mengunjungi rumah-rumah siswa untuk mengajar. Kawan-kawan organisasi yang integrasi di desa tersebut juga mendirikan sanggar siswa untuk membantu anak-anak belajar. Hal ini cukup membantu anak-anak juga guru di sana.

Panjang juga curhatku. Setelah berpikir, menimbang dan bersemedi selama pembelajaran dari rumah, tentu kita harus mengambil hal positif dari setiap situasi yang kita hadapi. Bukan begitu? Ternyata mengajar dari rumah tidak selamanya merepotkan dan melelahkan.  Aku bisa mengajar sambil rebahan di kasur. Duduk santai dengan bersandar dengan hanya mengenakan celana pendek namun tetap memakai seragam. Pastinya tanpa mengenakan sepatu berhak seperti saat mengajar di kelas konvensional. Kemudian, aku bisa menghemat uang bensin, pengasuh dan pengantar jemput anakku. Sebelum pandemi aku bisa menghabiskan 1,5 juta untuk antar jemput dan pengasuh. Sekarang karena dia juga sekolah dari rumah, uangnya bisa aku alokasikan ke wifi dan masih ada kembalian. Dasar emak-emak. Lalu, aku bisa meningkatkan kemampuan mengedit video. Prestasi yang membanggakan untuk emak-emak gaptek ini. Siapa tahu bisa jadi youtuber. Yeah..

Tulisan ini hanya sekedar curhat, tidak untuk diperdebatkan. Kita tidak tahu kapan situasi ini berakhir bukan? Hadapi dengan tegar setegar batu karang di lautan yang menenggelamkan kapal Titanic. Tetap tersenyum dan mengoptimalkan segala potensi bertahan hidup. Semoga 2021 secercah cahaya menerangi keadaan bumi yang gulita. Walaupun tujuh hari pertama rasanya sudah ingin uninstall 2021, dengan segala bencana yang datang silih berganti. Tapi aku percaya, kita semua bisa. Ayo semangat!!! [T]

  • Karya dari Klub Menulis Balebengong.id. Diterbitkan pertama di Balebengong.id Minggu, 31 Januari 2021)
Tags: anak-anakKeluargapandemiWork From Home
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bahasa Bali | Pembukaan Tanpa Penonton

Next Post

Utak Atik Pilkada Buleleng Jika Digelar 2024

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Utak Atik Pilkada Buleleng Jika Digelar 2024

Utak Atik Pilkada Buleleng Jika Digelar 2024

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co