4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Luluh Sate

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
January 26, 2021
in Esai
Hantu Kotak Kosong

Made Adnyana Ole [Ilustrasi Nana Partha]

Dulu, untuk bisa menyantap sate lilit, kita harus memilih dua cara: mengolah sendiri dari awal sampai akhir, atau membeli sate yang sudah jadi. Tapi, kini, ada pilihan alternatif: membeli luluh sate dan katik sate, lalu kita tinggal melilit luluh ke katik-nya, lalu memanggangnya ramai-ramai. Aneh, mungkin di zaman sekarang banyak orang lebih suka bekerja setengah-setengah, sehingga pilihan alternatif itu banyak disukai.

Pada perayaan menyambut Tahun Bari 2021, di sejumlah tempat di tepi jalan di Bali bagian selatan, saya melihat banyak orang menjajakan luluh sate di tepi jalan. Di sisi lain, banyak juga orang menjajakan katik sate. Saya tanya-tanya kepada teman yang saya ajak jalan-jalan. Yang aneh, saya tak banyak menemukan orang menjual sate yang sudah matang. Tentu saja. Seorang teman dari Klungkung sempat memberitahu saya; di malam Tahun Baru banyak pemuda merayakan pergantian tahun dengan ramai-ramai memanggang sate. 

Kenapa mereka tak sekalian memasak ramai-ramai dari awal sampai akhir, atau sekalian membeli sate yang sudah jadi? Selain mempertimbangkan soal biaya, ikut proses full dari awal hingga akhir mungkin dianggap terlalu merepotkan, tapi untuk tidak bekerja sama sekali mungkin juga dianggap terlalu mudah. Mereka tetap harus bekerja, meski hanya memanggang, agar sate lilit itu tetap terasa sebagai buah tangan sendiri, sehingga matang, terlalu matang atau setengah matang, dan sate lilit yang mereka panggang sendiri itu bisa dinikmati dengan rasa bangga. 

Nah, untuk alasan-alasan rumit semacam itulah pedagang luluh sate sangat berguna. Hormat sebesar-besarnya bagi siapa pun yang menemukan ide menjual luluh sate untuk pertamakali di Bali. Menjual luluh sate (adonan untuk kuliner sate lilit) di Bali adalah ide amat brilian. Karena dari ide itu, kemudian muncul ide-ide lain, misalnya banyak orang kemudian menjual katik sate, dan di tempat lain orang menjual bumbu dalam botol. Salah satunya, ya, bumbu sate. Ide untuk menjual bahan-bahan makanan “nyaris jadi” itu telah membuat banyak orang di Bali seakan-akan bisa memasak, lalu memamerkan masakannya di media sosial.

Padahal, jika diintip dengan agak seksama, kini banyak orang tak betul-betul paham bagaimana prosesi memasak dilakukan dari awal hingga makanan siap disantap. Banyak yang mulai gagap jika diminta ke pasar untuk membeli rempah-rempah, memilih daging atau menentukan mana ikan segar dan mana ikan setengah busuk. Atau, jangan-jangan banyak yang tak tahu, mana yang disebut daun salam, mana yang disebut jinten, mana benda kecil yang bernama merica.

Sampai di dapur apalagi, mungkin banyak yang tak tahu cara mengiris daging dengan benar, atau cara mencincang ikan tanpa menyisakan tulang. Soal menggoreng, semua pasti tahu caranya. Tinggal masukkan bahan ke minyak yang sudah dipanaskan dalam cekung penggorengan. Tapi soal seperti apa bahan makanan yang disebut matang, seperti apa disebut setengah matang, masih banyak juga ibu-ibu atau bapak-bapak yang harus tanya sana tanya sini termasuk tanya ke mesin pencari pada aplikasi di smartphone.

Di zaman sekarang, untuk urusan menggoreng daging ayam, lalu membuat sambal kecap dengan sedikit irisan bawang dan cabai mentah, mungkin masih bisa dianggap amat mudah. Tapi untuk urusan menghasilkan menu makanan dengan proses yang ruwet bin ribet, semisal jukut ares, sate lilit dan ayam betutu, tentu memerlukan keahlian dan tingkat kepakaran yang lumayan tinggi. Maka, dulu, di desa-desa di Bali, hanya beberapa orang saja bisa membuat jukut ares, jukut balung, atau sate lilit yang nikmat-maknyus. Ia adalah orang yang langka. Sama langkanya dengan tukang banten, pemangku, atau undagi pembuat bade.

Orang langka yang jago masak itu biasa disebut patus. Seorang patus, sesungguhnya bukan hanya jago memasak. Tapi ia juga lihai dalam memperhitungkan antara banyak sedikitnya undangan dalam sebuah pesta dan upacara dengan seberapa banyak harus membuat lawar, seberapa banyak harus memotong babi, seberapa banyak harus membeli rempah-rempah di pasar. Sehingga, dengan begitu, sebuah pesta atau upacara tak akan menyisakan banyak makanan.

Bayangkan betapa ruwetnya urusan memasak di Bali. Tapi kini semua keruwetan itu seakan ada solusinya. Kini, banyak orang bisa memamerkan masakannya di laman media sosial. Padahal banyak dari mereka tak benar-benar memasak. Mereka hanya mencampur-campur sedikit, menggoreng sedikit, atau mungkin hanya sekadar memanaskan. Mereka bekerja setengah saja, setengahnya lagi sudah tersedia di banyak tempat, dan kita cukup mengambil di rak swalayan atau memesan lewat online. Mau memasak betutu, sambel betutu sudah ada. Bahkan daging yang sudah dipotong-potong bersih pun sudah ada. Tinggal menggoreng ayamnya, lalu mencampur bumbunya. Setelah itu kita bisa berbangga karena semua itu seakan-akan sudah menjadi karya sendiri dan siap dipamerkan kepada teman-teman.

Jadi, luluh sate, dan bahan-bahan makanan setengah jadi, setengah matang, atau setengah ruwet itu, adalah penemuan luar biasa dalam budaya kuliner kita. Penemuan itu menutupi setengah dari masa lalu kita, dan setengah lagi memberi kita peluang untuk tetap tergesa-gesa di zaman modern ini. Atau, jangan-jangan penemuan luluh sate, bumbu rujak dalam botol, atau bumbu basa genep dalam botol itu sudah menutupi setengah dari kemalasan kita, sekaligus menghilangkan setengah dari kesempatan kita untuk belajar. Wah, serius sekali, ya. [T]

  • Esai ini pertama kali dimuat dalam kolom Lolohin Malu, Bali Express (Jawa Pos Group) edisi cetak.
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Okék nyen!” | Mengenal Sekilas Dialek dan Bahasa Desa Kedisan

Next Post

Bermain Ski ala Pandemi di Awal 2021 | Kabar dari Jepang

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Bermain Ski ala Pandemi di Awal 2021 | Kabar dari Jepang

Bermain Ski ala Pandemi di Awal 2021 | Kabar dari Jepang

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co