14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dilarang Meniru Petani

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
January 18, 2021
in Esai
Hantu Kotak Kosong

Made Adnyana Ole [Ilustrasi Nana Partha]

Yang kaya, yang rumahnya mewah, yang garasi mobilnya panjang seperti deretan blok perumahan di perumnas, ya, ya, memang sudah sepatutnya menanam tanaman hias, terserah di halaman depan, samping, belakang, atau di atas rumah tiga lantai. Terserah juga mau tanam anggrek langka seharga 100 juta sebatang, atau tanam keladi-keladian berdaun bolong seharga 25 juta per daun. Yang penting, jangan ikut-ikutan tanam sayur. Apalagi dengan alasan ngirit agar tak perlu beli sayur di pasar sayur. Itu namanya meniru-niru petani. Jika orang kaya meniru petani, lalu petani sayur yang hidupnya hanya bertopang pada hasil jualan sayur meniru siapa? Meniru orang kaya yang kerja enak gaji enak rumah besar beranak-pinak? Ah, itu mujair, eh mustahil.

Di Bali ada istilah “sing dadi memada-mada”. Artinya, tidak boleh menyama-nyamakan diri dengan orang berstatus-berderajat lebih tinggi. Misalnya, jika menikah, payas dan kostum pengantin dari keluarga yang biasa-biasa saja tak boleh serupa dengan riasan dan kostum pengantin keluarga raja. Raja tak boleh ditiru. Jika bengkung, itu namanya “memada-mada”. Sangsinya bisa hukuman mati, setidaknya bisa diselong, dibuang ke pulau seberang.

Yang dianggap mulia oleh orang berderajat tinggi, tidak boleh diikuti oleh orang biasa-biasa semacam petani sayur. Kemuliaan hanya milik raja, dan karena hanya milik raja, maka salahnya jika orang biasa ikut memiliki kemuliaan itu. Itu namanya “memada-mada”. Jika raja punya anak kembar buncing, itu kemuliaan. Jika rakyat jelata punya anak kembar buncing, hal itu malah dianggap leteh, sehingga, sesuai tradisi di sejumlah desa, anak kembar itu harus diasingkan ke luar desa.

Tradisi “membuang” bayi kembar buncing, sebagaimana pernah dikatakan ahli sejarah dari Undiksha I Made Pageh dalam sebuah diskusi di Komunitas Mahima, patut diduga dibuat oleh raja-raja di masa lalu. Tujuannya, ya, agar kemuliaan kembar buncing pada keluarga istana tak ditandingi oleh rakyat biasa. Rakyat biasa tak boleh meniru kemuliaan raja. Jika takdir mengharuskan sepasang pengantin dari keluarga jelata punya bayi kembar buncing, maka takdir pun dianggap salah. Intinya, rakyat biasa, apalagi rakyat dari keluarga petani tulen, atau dari keluarga petani sayur yang penghasilannya panas-dingin seperti musim kacau pancaroba, dilarang sama dengan raja, Perbedaan harus dipelihara, agar jelas mana rakyat mana raja.

Kalau dalam urusan bangunan bisalah kita maklum jika rakyat jelata tak boleh “memada-mada” untuk turut-serta membangun istana megah dengan pintu masuk yang besar dan penuh ukiran. Ya, karena jika dibolehkan pun mereka tak akan mampu. Berapa truk sayur harus terbeli setiap hari agar mereka bisa membangun istana dengan halaman penuh patung dan bunga-bunga hiasan? Nah, untuk hal ini, biarlah petani tulen tak perlu memaksa diri untuk “memada-mada”. Itu bukan lagi bernama tulah, tapi “telah” alias habis.

Tunggu dulu. Hukum “memada-mada”, larangan menyama-nyamakan, aturan meniru-meniru dan ikut-ikutan, kini tampaknya tak seketat dulu. Perlahan tradisi kuno yang kadang dianggap aturan baku itu kini tampaknya luntur dikikis zaman. Bahkan, kini seakan-akan ada gerakan baru untuk membuat semua menjadi sama derajatnya. Itu bagus tentu saja. Yang miskin digenjot dengan berbagai program agar mereka bisa kaya, atau dalam bahasa umum disebut sejahtera, sama dengan sejahteranya orang-orang kaya. Petani belajar dan diajari dengan berbagai cara untuk bisa menjadi kaya. Misalnya bekerja giat untuk meningkatkan hasil panen, atau dalam bahasa Orde Baru, dilakukan intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian. Banyak yang sukses, tampaknya lebih banyak yang gagal.

Cara yang lebih mudah juga banyak diterapkan pada zaman modern ini, misalnya ada petani yang kaya mendadak setelah menjual padi, sayur dan kolam ikan lengkap dengan semua tanah sekaligus sertifikatnya. Ada yang menjual dengan sengaja, ada juga yang menjual dengan terpaksa akibat sawahnya ditabrak jalan by-pass atau short-cut. Dan setelah kaya, ramai-ramailah mereka “memada-mada”. Mereka membangun rumah semegah puri, bahkan lebih megah dari puri-puri besar di masa lalu.

Gerakan petani miskin agar bisa jadi kaya akibat giat bekerja mengelola tanah sawahnya, lalu meniru-niru gaya orang kaya, tentu bisa disambut gembira. Tapi, gerakan meniru orang kaya dengan menjual tanah sawah tentu membuat miris.

Tapi, tunggu dulu. Ada hal yang sesungguhnya lebih membuat miris. Yakni, fenomena di mana banyak orang kaya “memada-mada” alias meniru-niru petani miskin. Salah satunya, orang kaya turut serta menanam sayur mayur di halaman rumahnya. Anehnya, gerakan-gerakan semacam ini kerap disambut gembira, bahkan kadang dilengkapi puja-puji dan decak kebanggan. Meniru petani miskin dengan ikut serta menanam sayur di halaman rumah mewah atau rumah megah, seakan-akan menjadi alasan mulia dan masuk akal untuk meningkatkan swasembaga pangan. Ah.

Maka dari itu, saya punya saran. Jika ada orang kaya membeli tanaman hias dengan harga yang sama dengan harga mobil untuk ditanam di rumahnya yang megah, janganlah mereka ditertawai, jangan disindir-sindir di media sosial. Rumah megah memang cocoknya berisi tanaman mahal. Jangan didorong-dorong untuk menanam sayur dan rempah-rempah dengan berbagai gaya dan metode modern. Jika mereka juga menanam sayur, lalu siapa yang membeli sayur milik petani yang mungkin saja biaya sekolah anak mereka bertopang sepenuhnya pada penjualan sayur?

Ingat, semahal apa pun tanaman hias dalam pot orang kaya di rumah megah, mereka tetap butuh sayur sebagai pelengkap menu sehari-hari. Belum pernah ada berita, daun janda bolong yang harganya selangit itu dipakai sayur. Tak pernah. [T]

  • Esai ini pertamakali dimuat dalam kolom Lolohin Malu di Bali Express (Jawa Pos Group) edisi cetak

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gus Bass, Bumbu Sate dan Tempe | Catatan Orang Tua tentang Menu untuk Anak

Next Post

“Satua Bali”, Cerminan Kehidupan

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
“Satua Bali”, Cerminan Kehidupan

“Satua Bali”, Cerminan Kehidupan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co