23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gus Bass, Bumbu Sate dan Tempe | Catatan Orang Tua tentang Menu untuk Anak

Gus Surya Bharata by Gus Surya Bharata
January 17, 2021
in Esai
Gus Bass, Bumbu Sate dan Tempe | Catatan Orang Tua tentang Menu untuk Anak

Gus Bass [Foto dokumentasi penulis]

Sejak mengenal makanan berupa nasi, Gus Bass tidak mau kalau makan dengan lauk beragam. Cukup satu jenis lauk saja. Satu lauk yang ia suka.

Saat itu sekitar umur 3 tahun tepatnya 3,5 tahun lalu, setiap pagi dan sore, saya harus membelikan anak ketiga ini bubur ayam Bang Boem yang lokasinya di depan Toko Rela, Jalan A Yani Singaraja. Menu bubur ayamnya pun cukup simpel. Cukup bubur dan kuahnya saja. Tidak berisi campuran lain seperti daging ayam suir, kerupuk,  kedele, seledri, kecap apalagi sambel.

Siangnya, Gus Bass hanya mau makan nasi jika dikunyahi dulu oleh ibunya, dengan lauk spesial yakni kacang keplos. Tidak ada yang istimewa.

Begitu kesehariannya hingga Gus Bass mulai mengenal tempe goreng dan sate ayam. Memang awal perkenalan Gus Bass dengan dua makanan ini terjadi secara tidak langsung. Itu terjadi ketika kami sekeluarga sering mengkonsumsi tempe goreng tepung. Kalau sate ayam, sih memang langganan dari dulu dengan dagang sate ayam madura yang mangkal di Taman Lila Singaraja.

Malam-malam ketika anak-anak ingin ngemil, saya selalu diminta membelikan lontong sate. Selain saya, yang paling suka lontong sate juga anak saya yang sulung dan nomor dua. Tidak ketinggalan juga si anak mertua yang sering minta oleh-oleh ini jika saya pulang malam. Alhasil Gus Bass yang saat itu mulai tahu makan makanan selain bubur ikut coba-coba merasakan bumbu sate ayam yang lembut enak dan gurih itu.

Disitu Gus Bass mulai makan dengan bumbu sate ayam Madura. Mas Ari nama dagangnya. Dari pegalamannya maem berlauk bumbu sate, ternyata Gus Bass mulai doyan. Doyan hanya dengan bumbu satenya doang, tidak suka sama satenya. Walau pernah dicoba, langsung menuju tempat sampah untuk memuntahkan. Itu berlangsung sampai sekarang.

Dikarenakan Mas Ari hanya buka malam hari, maka saat Gus Bass mau makan bumbu sate siang hari mulailah saya coba belikan sate ayamnya Mas Djoko. Untuk sore hari ada Sate Ayam 28. Mas Djoko dagang sate legend berjualan di Jalan Yudistira, seberang Selatan IGD RSUD Buleleng. Kalau Mas Heri, Sate Ayam yang gerobak dorongnya bertuliskan angka 28 biasa jualan sore di depan Indomaret ,Jalan Gajah Mada. 

Kedua pedagang itupun kemusian jadi langganan saya untuk menu Gus Bass. Ketika saya mau beli sate, saya cukup bilang, “Mas, biasa” begitu ujar saya ke Mas Djoko dan Mas Heri. Mereka pun mengerti apa yang saya maksud. Kata “Mas, biasa” itu untuk pesan sate ayam sepuluh ribu rupiah, tidak isi pedas dan bawang.

Ya sate ayam, bukan bumbu satenya saja. Jika hanya beli bumbu sate saja Gus Bass tidak mau makan. Harus ada satenya dan itu sate ayam, walau dia tidak makan satenya. Praktis  saat-saat itu tiap hari kami makan sate ayam. Gus Bass hanya ambil bumbunya buat teman si beras matang untuk makan siang ataupun makan malam.

Seiring waktu ternyata Gus Bass tertarik juga dengan tempe goreng. Ini terjadi saat kakak sulungnya, Dayu Radhra menggoreng tempe tepung untuk lauk makan siang, suatu hari. Istri mencoba menawarkan ke Gus Bass ternyata dia mau asal disuapi. Sejak itu sekitar umur 5 tahun, Gus Bass mulai makan tempe goreng isi tepung bumbu instan. Saking lahapnya terkadang sampe minta nambah.

Dari dua menu kesukaan itu, Gus Bass saat makan tidak pernah mau menyantap bumbu sate ayam dan tempe goreng secara bersamaan dalam satu piring. Ya, cukup satu lauk saja setiap kali makan nasi. Terkadang tempe tepung goreng juga buat camilan, yang disantap saat masih hangat. Jika sudah dingin, dipastikan tidak mau dinikmatinya.

Selain olahan kedele dan kacang itu, Gus Bass juga doyan makan mie instan. Mie goreng dan mie kuah juga menjadi idaman pelepas rasa laparnya saat mulai bosan dengan tempe dan bumbu sate. Eitt…tetap. mie tanpa ada tambahan apa-apa lagi. Sayur, daging dan telor yang biasa kita tambahkan saat masak mie instan, dipastikan tidak akan mau disentuh apalagi disantapnya.

Ya sebagai anak-anak Gus Bass sampai saat ini memang belum bisa makan selain lauk-lauk itu yang menemani nasi putihnya. Sayur, buah-buahan nyaris belum bisa dinikmatinya. Semangat untuk mengajak dan memberi contoh mencoba untuk sekadar tahu rasa-rasa penganan lain nampak tidak dipedulikan siswa kelas satu SD ini. Sebagai orang tua saya awalnya sedikit khawatir dengan kondisinya ini. Tetapi ada beberapa keluarga seperti adik dan keponakan saya juga tidak suka makan buah dan sayur. Mereka nampak normal dan ada juga yang sudah menikah dan memiliki anak.

Besar harapan saya kalau Gus Bass nanti banyak tahu manfaat dari makanan-makanan bergizi seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan daging saat ia berinteraksi di sekolah. Istri dan saya sudah sering mencoba memberikannya, terkadang dengan menyelipkan di makanan saat menyuapi ataupun sedikit memaksa. Tapi ketika dia tahu langsung mengeluarkan dari mulutnya dan tidak mau melanjutkan makanannya.

Semoga melalui pelajaran dan pergaulannya nanti Gus Bass mau mulai berani mencoba makanan-makanan bergizi lainnya. Tidak hanya ingin makan nasi dengan lauk tempe goreng dan bumbu sate ayam. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MISIONARIS DE VROOM DIBUNUH DI BULELENG | Tragedi Kristenisasi di Bali

Next Post

Dilarang Meniru Petani

Gus Surya Bharata

Gus Surya Bharata

Bertugas di Dinas Pendidikan Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Hantu Kotak Kosong

Dilarang Meniru Petani

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co