12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Transformasi Tradisi dari Penggunaan “Semat” ke “Staples” dalam “Majejaitan”

Suara Perubahan by Suara Perubahan
January 10, 2021
in Esai
Transformasi Tradisi dari Penggunaan “Semat” ke “Staples” dalam “Majejaitan”

Penulis: Ni Komang Ayu Gek Mahadewi

________

Ketika melewati ruas jalan di wilayah Kapal, Mengwi, Badung. sering kita jumpai ada banyak pedagang yang menjual sarana upakara. Jika di cermati mereka sebagian besar menggunakan staples ketimbang semat dalam jejaitan (bahan sarana upakara). Sarana banten (upakara) merupakan bagian dari kearifan lokal tradisi di Bali. Sarana banten biasanya menggunakan bahan alami dari alam seperti janur, buah-buahan dan lainnya.

Kegiatan membuat banten salah satunya disebut kegiatan mejejahitan. Mejejahitan adalah kegiatan pembuatan sarana persembahyanagan yang bahan dasarnya memanfaatkan daun atau janur. Dulu, dilingkungan masyarakat bali sering dijumpai proses pembuatan banten dengan mejejahitan kini hanya beberapa dearah yang masih eksis melakukan kegiatan ini bersama-sama di desa. Kegiatan mejejahiatan dilakukan melalui pengarah atau mendatangkan krama (masyarakat sekitar). Umumnya tujuan krama hadir untuk membantu mejejahitan banten untuk kegiatan tertentu.

Agama Hindu di Bali mengenal banyak jenis upacara yadnya (ritual) seperti pernikahan, ngaben (upacara kematian), upacara kelahiran bayi, dan lainnya. Dominan masyarakat hindu Bali akan membuat persiapan saranan upacara berupa banten (upakara). Hal ini karena kehidupan masyarakat hindu di Bali tidak terlepas dari adanya kegiatan upacara agama (Yadnya). Sering dijumpai pada masyarakat yang menghaturkan sesembahan yang disebut banten (sarana upakara).

Sesembahan ini merupakan bentuk hubungan manusia dengan Tuhan atau pencipta. Sarana banten yang sering kita jumpai saat ini di masyarakat banyak mengalami perubahan di era tahun 2000-an. Proses pembuatan banten yang melalui mejejahitan yang ada saat ini, jarang menggunakan semat (bahan pengait yang terbuat dari bambu dan tajam untuk mengkaitkan dan ditusukkan ke janur). Namun kini, masyarakat lebih memilih menggunakan staples untuk efisiensi waktu, kemudahan, simple dan menghindari luka pada tangan saat mejejahitan banten tersebut.

Pesatnya kemajuan imu pengetahuan merupakan salah satu faktor dominan penyebab cepatnya perubahan-perubahan sosial (social changes). Seiring dengan berkembangnya jaman, adanya perkembangan budaya dan ilmu pengetahuian tersebut, membuat pergeseran prilaku di masyarakat. Masyarakat mulai berpikir praktis, efektif,efisien, cepat dan tidak merepotkan. Kehadiran teknologi dan perubahan industrialisasi sangat berkembang pesat di beberapa sektor. Membuat kegiatan mejejahitan mulai menglami perubahan dimana masyarakat kini mulai memanfaatkan alat berupa staples ketimbang menggunakan semat. Staples merupakan alat pengencang dua arah yang terbuat dari metal, alat ini biasanya dipasangkan dengan stapler untuk menyatukan beberapa bagian. Beberapa masayarakat lebih menggunakan straples karena pertimbanagn lebih simple dan cepat dalam menyelesaikan kegiatan mejejahitan.

Tentu saja, simplisitas penggunaan alat dalam kegiatan mejejahitan banyak mengalami pro dan kontra di kalangan pembuat banten maupun masyarakat. Dominan pertimbangan eknomis dalam proses acara dibandingkan pertimbanagn maknawi. Penggunaan staples sebagai pengganti semat pada jejahitan banten upakara. Adanya konsepsi mental umat hindu yang dijelaskan bahwa sarana upacara lebih dimaknai sebagai alat dari pada religiusnya.

Penggunaan semat yang beralih dengan penggunaan staples dalam kegiatan mejejahitan, untuk tujuan pembuatan banten upakara hindu di Bali, kian megalami perubahan. Perubahan seperti ini sering disebut dengan perubahan transformasi tradisi. Transformasi tersebut, memaksa penyesuaian nilai dan norma dalam masyarakan. Beberapa kalangan brahmana (geria) berpendapat, penggunaan staples tidak sesuai etika hubungan manusia dengan lingkungan dalam pembuatan upakara. Alasannya karena bahan staples dalam menjejahitan terbuat dari bahan metal, yang tentu akan sangat susah terurai sehingga dipandang dapat merusak lingkungan. Disisi lain, masyarakat biasa kini lebih sering menggunakan staples ketimbang semat. Kelemahan penggunaan staples juga dapat mengganggu pakem pembuatan banten.

Akan tetapi, kehadiran staples dalam kegiatan mejejahitan di lingkungan serati, juga memang cukup membantu mempersingkat waktu pembuatan banten. Banten yang dibuat sesuai target akan lebih cepat selesai. Penggunaan staples dalam menjejahitan juga menjadi lebih simple karena tidak banyak membuang tenaga dan tidak terlalu melukai tangan. Namun sisi lain sisi buruknya adalah beberapa serati harus membiasakan diri beralih dari penggunaan semat ke staples. Perubahan penggunaan alat staples pada serati yang usianya lebih tua akan mengalami penolakan karena keahlian penggunaan semat saat mejejahitan akan memerlukan waktu untuk membiasakannya.

Lebih lanjut. Penggunaan staples pada sarana upacara juga ditemukan pada pedagang sarana upakara di daerah mengwi badung. Seperti sarana penjor, bahkan banyak diantara mereka sudah dominan memilih menggunakan staples. Faktor ekonomi dan efisiensi waktu produksi menjadi beberapa pedagang sarana upakara memilih menggunakan staples ketimbang semat. Di sisi lain, beberapa masayrakat juga menganggap bahwa bahan semat sifatnya mudah rapuh, jadi penggunaan staples dalam jejahitan banten menjadi lebih kokoh dan tahan lama.

Dunia usaha sarana upakara (banten) pada saat ini mengalami banyak inovasi dan kesadaran modern. Penggunaan staples pada proses mejejahitan dalam pembuatan banten menjadi kian eksis karena kemudahan yang ditawarkan. Jika dilihat dari perspektif etika bisnis, penggunaan staples dalam jejahitan banten di untuk upakara yadnya di bali, ada beberapa aspek yang harus di perhatikan yaitu. Pertama adanya tanggung jawab hubungan dengan Tuhan. Bahan banten yang akan dipersembahkan kepada tuhan, harus menyeseuaikan dengan syarat dan kaidah. Penggunaan steples dalam mejejahitan masih kadang terjadi perdebatan dalam masyarakat.

Aspek kedua, tanggung jawab antara manusia. Pelayanan pembuatan banten yang dilakukan melalui proses mejejahitan biasanya memerlukan waktu dan tenaga yang cukup banyak. Sehingga untuk efisiensi waktu dan tenaga penggunaan staples kadang akan membantu meneyelsaikan banten tepat waktu. Aspek ketiga yaitu tanggung jawab lingkungan, etika penggunaan semat ke staples masih menjadi pro dan kontra. Mengingat semat sendiri didapat dari alam dan staples terbuat dari bahan metal yang sulit terurai. Hal ini memerlukan solusi yang tepat agar teknologi dan tradisi bisa berjalan beriringan.

Sehingga, penggunaan staples menjadi peluang bagi beberapa masyarakat. Alternative pembuatan banten melalui proses mejejahitan dari menggunakan semat menjadi beralih menggunakan staples merupakan suatu pilihan yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mempermudah waktu mereka dalam mengerjakan proses mejejahitan dan aman dari luka. Perubahan ini juga menjadi trend di masyarakat kini, bahwa kegiatan dinamis sosial yang terus berubah berdasarkan pemanfaatn tekniologi terbaru dan yang lebih praktis. Penggunaan staples dalam mejejhatian sarana upakara adalah hal yang dapat disimpulkan sebagai bentuk peningkatan hasil produksi. Masyarakat harus memperhatikan unsur-unsur berpikir cepat, memanfaatkan teknologi dalam kegiatan tradisi adat. [T]

  • Ni Komang Ayu Gek Mahadewi- Mahasiswa Pascasarjana S2 Ilmu Manajemen, Undiksha

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harmonisasi Adat dan Budaya Bali di Tengah Pandemi

Next Post

Strategi Survive Sektor Perhotelan di Kala Pandemi

Suara Perubahan

Suara Perubahan

Suara Perubahan berisi esai-esai tugas mata kuliah "Change Management" Program S2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja yang diampu oleh dosen Dr. I Nengah Suarmanayasa, S.E., M.Si.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Strategi Survive Sektor Perhotelan di Kala Pandemi

Strategi Survive Sektor Perhotelan di Kala Pandemi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co