2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Transformasi Tradisi dari Penggunaan “Semat” ke “Staples” dalam “Majejaitan”

Suara Perubahan by Suara Perubahan
January 10, 2021
in Esai
Transformasi Tradisi dari Penggunaan “Semat” ke “Staples” dalam “Majejaitan”

Penulis: Ni Komang Ayu Gek Mahadewi

________

Ketika melewati ruas jalan di wilayah Kapal, Mengwi, Badung. sering kita jumpai ada banyak pedagang yang menjual sarana upakara. Jika di cermati mereka sebagian besar menggunakan staples ketimbang semat dalam jejaitan (bahan sarana upakara). Sarana banten (upakara) merupakan bagian dari kearifan lokal tradisi di Bali. Sarana banten biasanya menggunakan bahan alami dari alam seperti janur, buah-buahan dan lainnya.

Kegiatan membuat banten salah satunya disebut kegiatan mejejahitan. Mejejahitan adalah kegiatan pembuatan sarana persembahyanagan yang bahan dasarnya memanfaatkan daun atau janur. Dulu, dilingkungan masyarakat bali sering dijumpai proses pembuatan banten dengan mejejahitan kini hanya beberapa dearah yang masih eksis melakukan kegiatan ini bersama-sama di desa. Kegiatan mejejahiatan dilakukan melalui pengarah atau mendatangkan krama (masyarakat sekitar). Umumnya tujuan krama hadir untuk membantu mejejahitan banten untuk kegiatan tertentu.

Agama Hindu di Bali mengenal banyak jenis upacara yadnya (ritual) seperti pernikahan, ngaben (upacara kematian), upacara kelahiran bayi, dan lainnya. Dominan masyarakat hindu Bali akan membuat persiapan saranan upacara berupa banten (upakara). Hal ini karena kehidupan masyarakat hindu di Bali tidak terlepas dari adanya kegiatan upacara agama (Yadnya). Sering dijumpai pada masyarakat yang menghaturkan sesembahan yang disebut banten (sarana upakara).

Sesembahan ini merupakan bentuk hubungan manusia dengan Tuhan atau pencipta. Sarana banten yang sering kita jumpai saat ini di masyarakat banyak mengalami perubahan di era tahun 2000-an. Proses pembuatan banten yang melalui mejejahitan yang ada saat ini, jarang menggunakan semat (bahan pengait yang terbuat dari bambu dan tajam untuk mengkaitkan dan ditusukkan ke janur). Namun kini, masyarakat lebih memilih menggunakan staples untuk efisiensi waktu, kemudahan, simple dan menghindari luka pada tangan saat mejejahitan banten tersebut.

Pesatnya kemajuan imu pengetahuan merupakan salah satu faktor dominan penyebab cepatnya perubahan-perubahan sosial (social changes). Seiring dengan berkembangnya jaman, adanya perkembangan budaya dan ilmu pengetahuian tersebut, membuat pergeseran prilaku di masyarakat. Masyarakat mulai berpikir praktis, efektif,efisien, cepat dan tidak merepotkan. Kehadiran teknologi dan perubahan industrialisasi sangat berkembang pesat di beberapa sektor. Membuat kegiatan mejejahitan mulai menglami perubahan dimana masyarakat kini mulai memanfaatkan alat berupa staples ketimbang menggunakan semat. Staples merupakan alat pengencang dua arah yang terbuat dari metal, alat ini biasanya dipasangkan dengan stapler untuk menyatukan beberapa bagian. Beberapa masayarakat lebih menggunakan straples karena pertimbanagn lebih simple dan cepat dalam menyelesaikan kegiatan mejejahitan.

Tentu saja, simplisitas penggunaan alat dalam kegiatan mejejahitan banyak mengalami pro dan kontra di kalangan pembuat banten maupun masyarakat. Dominan pertimbangan eknomis dalam proses acara dibandingkan pertimbanagn maknawi. Penggunaan staples sebagai pengganti semat pada jejahitan banten upakara. Adanya konsepsi mental umat hindu yang dijelaskan bahwa sarana upacara lebih dimaknai sebagai alat dari pada religiusnya.

Penggunaan semat yang beralih dengan penggunaan staples dalam kegiatan mejejahitan, untuk tujuan pembuatan banten upakara hindu di Bali, kian megalami perubahan. Perubahan seperti ini sering disebut dengan perubahan transformasi tradisi. Transformasi tersebut, memaksa penyesuaian nilai dan norma dalam masyarakan. Beberapa kalangan brahmana (geria) berpendapat, penggunaan staples tidak sesuai etika hubungan manusia dengan lingkungan dalam pembuatan upakara. Alasannya karena bahan staples dalam menjejahitan terbuat dari bahan metal, yang tentu akan sangat susah terurai sehingga dipandang dapat merusak lingkungan. Disisi lain, masyarakat biasa kini lebih sering menggunakan staples ketimbang semat. Kelemahan penggunaan staples juga dapat mengganggu pakem pembuatan banten.

Akan tetapi, kehadiran staples dalam kegiatan mejejahitan di lingkungan serati, juga memang cukup membantu mempersingkat waktu pembuatan banten. Banten yang dibuat sesuai target akan lebih cepat selesai. Penggunaan staples dalam menjejahitan juga menjadi lebih simple karena tidak banyak membuang tenaga dan tidak terlalu melukai tangan. Namun sisi lain sisi buruknya adalah beberapa serati harus membiasakan diri beralih dari penggunaan semat ke staples. Perubahan penggunaan alat staples pada serati yang usianya lebih tua akan mengalami penolakan karena keahlian penggunaan semat saat mejejahitan akan memerlukan waktu untuk membiasakannya.

Lebih lanjut. Penggunaan staples pada sarana upacara juga ditemukan pada pedagang sarana upakara di daerah mengwi badung. Seperti sarana penjor, bahkan banyak diantara mereka sudah dominan memilih menggunakan staples. Faktor ekonomi dan efisiensi waktu produksi menjadi beberapa pedagang sarana upakara memilih menggunakan staples ketimbang semat. Di sisi lain, beberapa masayrakat juga menganggap bahwa bahan semat sifatnya mudah rapuh, jadi penggunaan staples dalam jejahitan banten menjadi lebih kokoh dan tahan lama.

Dunia usaha sarana upakara (banten) pada saat ini mengalami banyak inovasi dan kesadaran modern. Penggunaan staples pada proses mejejahitan dalam pembuatan banten menjadi kian eksis karena kemudahan yang ditawarkan. Jika dilihat dari perspektif etika bisnis, penggunaan staples dalam jejahitan banten di untuk upakara yadnya di bali, ada beberapa aspek yang harus di perhatikan yaitu. Pertama adanya tanggung jawab hubungan dengan Tuhan. Bahan banten yang akan dipersembahkan kepada tuhan, harus menyeseuaikan dengan syarat dan kaidah. Penggunaan steples dalam mejejahitan masih kadang terjadi perdebatan dalam masyarakat.

Aspek kedua, tanggung jawab antara manusia. Pelayanan pembuatan banten yang dilakukan melalui proses mejejahitan biasanya memerlukan waktu dan tenaga yang cukup banyak. Sehingga untuk efisiensi waktu dan tenaga penggunaan staples kadang akan membantu meneyelsaikan banten tepat waktu. Aspek ketiga yaitu tanggung jawab lingkungan, etika penggunaan semat ke staples masih menjadi pro dan kontra. Mengingat semat sendiri didapat dari alam dan staples terbuat dari bahan metal yang sulit terurai. Hal ini memerlukan solusi yang tepat agar teknologi dan tradisi bisa berjalan beriringan.

Sehingga, penggunaan staples menjadi peluang bagi beberapa masyarakat. Alternative pembuatan banten melalui proses mejejahitan dari menggunakan semat menjadi beralih menggunakan staples merupakan suatu pilihan yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mempermudah waktu mereka dalam mengerjakan proses mejejahitan dan aman dari luka. Perubahan ini juga menjadi trend di masyarakat kini, bahwa kegiatan dinamis sosial yang terus berubah berdasarkan pemanfaatn tekniologi terbaru dan yang lebih praktis. Penggunaan staples dalam mejejhatian sarana upakara adalah hal yang dapat disimpulkan sebagai bentuk peningkatan hasil produksi. Masyarakat harus memperhatikan unsur-unsur berpikir cepat, memanfaatkan teknologi dalam kegiatan tradisi adat. [T]

  • Ni Komang Ayu Gek Mahadewi- Mahasiswa Pascasarjana S2 Ilmu Manajemen, Undiksha

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harmonisasi Adat dan Budaya Bali di Tengah Pandemi

Next Post

Strategi Survive Sektor Perhotelan di Kala Pandemi

Suara Perubahan

Suara Perubahan

Suara Perubahan berisi esai-esai tugas mata kuliah "Change Management" Program S2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja yang diampu oleh dosen Dr. I Nengah Suarmanayasa, S.E., M.Si.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Strategi Survive Sektor Perhotelan di Kala Pandemi

Strategi Survive Sektor Perhotelan di Kala Pandemi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co