2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harmonisasi Adat dan Budaya Bali di Tengah Pandemi

Suara Perubahan by Suara Perubahan
January 10, 2021
in Esai
Harmonisasi Adat dan Budaya Bali di Tengah Pandemi

Suasana upacara adat di Desa Adat Buleleng

Penulis: Ni Putu Arix Nirmala

________

Tatanan kehidupan masyarakat adat di Bali yang penuh dengan kehidupan sosial, adat dan budaya, di tengah pandemi Covid-19 saat ini benar-benar sedang diuji. Bali yang sebelumnya dikenal dengan istilah “banyak libur” karena kegiatan ritual, budaya dan adat yang dilakukan oleh masyarakatnya, kini harus berhadapan dengan pembatasan-pembatasan prilaku yang dirubah guna tidak menjadi klaster penyebar Covid-19.

Sebelum adanya pandemi Covid-19, adat serta budaya Bali yang hampir setiap saat digelar selalu melibatkan banyak orang karena keterikatan adat atau gotong royong yang kuat. Namun keramaian yang menimbulkan kerumunan  seperti itu meyebabkan kekhawatiran akan menjadi salah satu tempat potensi klaster baru Covid-19.

Oleh sebab itu pada September 2020 Pemprov Bali bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali menghasilkan sebuah pesan edaran yang berkaitan dengan pelaksanaan protokol kesehatan di kala melaksanakan aktivitas ritual adat serta budaya tersebut. Di Bali, desa adat mempunyai hak otonom dalam mengatur kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu harapan pemerintah, keterlibatan desa adat di dalam menekan angka penyebaran penularan Covid-19 di Bali.

Pesan edaran tersebut intinya adalah menghalangi atau membatasi aktivitas adat serta budaya yang dapat menimbulkan keramaian dalam upacara. Dalam penerapannya, pecalang yang selaku satuan pengamanan adat bersama tokoh – tokoh desa adat menjadi garda terdepan dalam mengendalikan suatu pelaksanaan protokol kesehatan. Kepatuhan setiap masyarakat terhadap ketentuan adat serta tokoh adatnya jadi kunci dalam menanggulangi wabah virus mematikan itu.

          Secara umum, kebiasaan yang ada di tengah kehidupan masyarakat adat di Bali, kegiatan ritual tersebut tentu dilaksanakan dengan melibatkan seluruh krama adat. Namun disebabkan pandemi Covid-19, pemerintah desa adat setempat harus bekerja keras melakukan ubah laku kebiasaan masyarakat dan mengharmonisasikan sejumlah pelaksanaan kegiatan upacara atau ritual sehingga tidak sampai melanggar dari protocol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah.

Misalnya saat persembahyangan di Pura, dengan membawa ‘thermo gun’ pecalang memantau temperatur badan umat yang muncul. Pengawasan pula dalam perihal pemakaian masker ataupun perlengkapan pelindung wajah, cuci tangan serta jumlah umat yang dapat mengikuti kegiatan upacara atau ritual optimal 25 orang di tiap termin persembahyangan. Tanpa mengurangi makna dari kegiatan ritual yang dilaksanakan, pelaksanaann upacara berlangsung hanya melibatkan prajuru atau pengurus adat saja. Mulai dari persiapan, pelaksanaan dan pakemitan dilakukan oleh prajuru saja.

          Senyuman para penari Bali tidak lagi tampak mengiringi kelenturan gerakan tangan dan tubuhnya. Ekspresi wajah yang mencerminkan karakter tari Bali yang dibawakannya sirna dikarenakan harus ditutupi masker. Begitu pula dengan pemuka agama Hindu harus malantunkan doa-doa dari balik masker dan alat pelindung wajah ‘face shield’ saat memimpin sebuah upacara persembahyangan di Pura. Adat dan budaya Bali yang dikenal dengan keunikan, kental dengan kebersamaan dan gotong royong seketika harus berubah karena harus menerapkan tahapan-tahapan adaptasi kebiasaan baru dalam upaya mengatasi penularan wabah Covid-19.

          Semenjak wabah virus tersebut merenggut dua korban yaitu korban asal Negara Inggris dan Prancis di Bali sekitar Maret 2020, Bali sempat seakan menjadi kawasan wisata yang menakutkan. Kasus demi kasus virus Covid-19 mengalami peningkatan melalui transmisi lokal atau penularan antar warga. Hal tersebutlah yang menyebabkan Bali harus jengah dalam membentengi diri guna menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Selain kegiatan ritual keagamaan, dikala prosesi upacara  Ngaben yang tidak lagi diwarnai arak – arakan jenazah. Prosesi Ngaben dikala ini diiringi oleh keluarga ini serta saudara terdekat saja. Apalagi dalam permasalahan kematian akibat Covid-19, prosesi Ngaben dicoba oleh anggota Regu Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 dengan menggunakan perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD). Keluarga hanya dapat melihat prosesi kremasi dari jarak jauh dengan kelengkapan upacara yang sederhana. Dalam hal upacara Ngaben yang umumnya dilakukan oleh masyarakat adat dengan melibatkan petedunan krama adat dengan membunyikan kentongan atau kulkul, kini ditengah pandemic virus Covid-19, pelaksanaan disesuaikan.

Demikian pula halnya dalam kegiatan upacara perkawinan yang biasanya dilaksanakan dengan sangat meriah dan dengan banyaknya tamu undangan yang hadir kini harus dipangkas dan harus memenuhi protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Harmonisasi pelaksanaan upacaranya disesuaikan dengan kondisi Covid-19, dengan sejumlah pembatasan-pembatasan keterlibatan masyarakat adat, namun tidak mengurangi arti dan makna dari upacara berdasarkan ajaran agama Hindu.

Banyak perubahan adat dan budaya Bali yang terjadi akibat virus Covid-19, selain perihal diatas perubahan juga nampak pada tradisi mengarak ogoh-ogoh atau patung raksasa yang biasa dilakukan sehari menjelang Nyepi ditiadakan. Tradisi mengarak ogoh-ogoh, seperti yang selalu dilakukan setiap tahun, selalu menjadi peristiwa yang sangat dinanti oleh masyarakat, baik umat Hindu maupun pemeluk agama lain. Namun balik lagi, ini semua guna memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Perubahan yang tidak mudah namun harus tetap dijalani adat dan budaya Bali di tengah pandemic Covid-19.

Perubahan ini diharapkan dapat memutus mata rantai penularan dan penyebaran virus Covid-19 di Bali. Perubahan di dalam adat dan budaya Bali awalnya sulit diterapkan oleh masyarakat sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan, namun demi kenyamanan dan keamanan bersama perubahan dalam persembahyangan yang menimbulkan kerumunan dalam melaksanakan upacara tersebut tetap harus dilaksanakan tanpa menghilangkan makna setiap adat dan budaya Bali.

Hikmah adanya virus Covid-19 di tengah-tengah masyarakat adalah, dapat memberikan perubahan sehingga mampu menyadari masyarakat bahwa kebersihan adalah hal yang selalu menjadi sangat penting baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang seperti slogan yang sering kita jumpai yaitu ‘sehat itu mahal’. Masyarakat yang dulunya abai akan kebersihan diri dan lingkungan, kini menjadi sangat memperhatikan kebersihan sekitarnya. Menjaga imunitas atau daya tahan tubuh merupakan salah satu cara untuk membentengi diri agar tidak mudah terpapar virus Covid-19.

Ni Putu Arix Nirmala, Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Manajemen Undiksha

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan dan Perubahan Zaman

Next Post

Transformasi Tradisi dari Penggunaan “Semat” ke “Staples” dalam “Majejaitan”

Suara Perubahan

Suara Perubahan

Suara Perubahan berisi esai-esai tugas mata kuliah "Change Management" Program S2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja yang diampu oleh dosen Dr. I Nengah Suarmanayasa, S.E., M.Si.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Transformasi Tradisi dari Penggunaan “Semat” ke “Staples” dalam “Majejaitan”

Transformasi Tradisi dari Penggunaan “Semat” ke “Staples” dalam “Majejaitan”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co