25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harmonisasi Adat dan Budaya Bali di Tengah Pandemi

Suara Perubahan by Suara Perubahan
January 10, 2021
in Esai
Harmonisasi Adat dan Budaya Bali di Tengah Pandemi

Suasana upacara adat di Desa Adat Buleleng

Penulis: Ni Putu Arix Nirmala

________

Tatanan kehidupan masyarakat adat di Bali yang penuh dengan kehidupan sosial, adat dan budaya, di tengah pandemi Covid-19 saat ini benar-benar sedang diuji. Bali yang sebelumnya dikenal dengan istilah “banyak libur” karena kegiatan ritual, budaya dan adat yang dilakukan oleh masyarakatnya, kini harus berhadapan dengan pembatasan-pembatasan prilaku yang dirubah guna tidak menjadi klaster penyebar Covid-19.

Sebelum adanya pandemi Covid-19, adat serta budaya Bali yang hampir setiap saat digelar selalu melibatkan banyak orang karena keterikatan adat atau gotong royong yang kuat. Namun keramaian yang menimbulkan kerumunan  seperti itu meyebabkan kekhawatiran akan menjadi salah satu tempat potensi klaster baru Covid-19.

Oleh sebab itu pada September 2020 Pemprov Bali bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali menghasilkan sebuah pesan edaran yang berkaitan dengan pelaksanaan protokol kesehatan di kala melaksanakan aktivitas ritual adat serta budaya tersebut. Di Bali, desa adat mempunyai hak otonom dalam mengatur kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu harapan pemerintah, keterlibatan desa adat di dalam menekan angka penyebaran penularan Covid-19 di Bali.

Pesan edaran tersebut intinya adalah menghalangi atau membatasi aktivitas adat serta budaya yang dapat menimbulkan keramaian dalam upacara. Dalam penerapannya, pecalang yang selaku satuan pengamanan adat bersama tokoh – tokoh desa adat menjadi garda terdepan dalam mengendalikan suatu pelaksanaan protokol kesehatan. Kepatuhan setiap masyarakat terhadap ketentuan adat serta tokoh adatnya jadi kunci dalam menanggulangi wabah virus mematikan itu.

          Secara umum, kebiasaan yang ada di tengah kehidupan masyarakat adat di Bali, kegiatan ritual tersebut tentu dilaksanakan dengan melibatkan seluruh krama adat. Namun disebabkan pandemi Covid-19, pemerintah desa adat setempat harus bekerja keras melakukan ubah laku kebiasaan masyarakat dan mengharmonisasikan sejumlah pelaksanaan kegiatan upacara atau ritual sehingga tidak sampai melanggar dari protocol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah.

Misalnya saat persembahyangan di Pura, dengan membawa ‘thermo gun’ pecalang memantau temperatur badan umat yang muncul. Pengawasan pula dalam perihal pemakaian masker ataupun perlengkapan pelindung wajah, cuci tangan serta jumlah umat yang dapat mengikuti kegiatan upacara atau ritual optimal 25 orang di tiap termin persembahyangan. Tanpa mengurangi makna dari kegiatan ritual yang dilaksanakan, pelaksanaann upacara berlangsung hanya melibatkan prajuru atau pengurus adat saja. Mulai dari persiapan, pelaksanaan dan pakemitan dilakukan oleh prajuru saja.

          Senyuman para penari Bali tidak lagi tampak mengiringi kelenturan gerakan tangan dan tubuhnya. Ekspresi wajah yang mencerminkan karakter tari Bali yang dibawakannya sirna dikarenakan harus ditutupi masker. Begitu pula dengan pemuka agama Hindu harus malantunkan doa-doa dari balik masker dan alat pelindung wajah ‘face shield’ saat memimpin sebuah upacara persembahyangan di Pura. Adat dan budaya Bali yang dikenal dengan keunikan, kental dengan kebersamaan dan gotong royong seketika harus berubah karena harus menerapkan tahapan-tahapan adaptasi kebiasaan baru dalam upaya mengatasi penularan wabah Covid-19.

          Semenjak wabah virus tersebut merenggut dua korban yaitu korban asal Negara Inggris dan Prancis di Bali sekitar Maret 2020, Bali sempat seakan menjadi kawasan wisata yang menakutkan. Kasus demi kasus virus Covid-19 mengalami peningkatan melalui transmisi lokal atau penularan antar warga. Hal tersebutlah yang menyebabkan Bali harus jengah dalam membentengi diri guna menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Selain kegiatan ritual keagamaan, dikala prosesi upacara  Ngaben yang tidak lagi diwarnai arak – arakan jenazah. Prosesi Ngaben dikala ini diiringi oleh keluarga ini serta saudara terdekat saja. Apalagi dalam permasalahan kematian akibat Covid-19, prosesi Ngaben dicoba oleh anggota Regu Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 dengan menggunakan perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD). Keluarga hanya dapat melihat prosesi kremasi dari jarak jauh dengan kelengkapan upacara yang sederhana. Dalam hal upacara Ngaben yang umumnya dilakukan oleh masyarakat adat dengan melibatkan petedunan krama adat dengan membunyikan kentongan atau kulkul, kini ditengah pandemic virus Covid-19, pelaksanaan disesuaikan.

Demikian pula halnya dalam kegiatan upacara perkawinan yang biasanya dilaksanakan dengan sangat meriah dan dengan banyaknya tamu undangan yang hadir kini harus dipangkas dan harus memenuhi protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Harmonisasi pelaksanaan upacaranya disesuaikan dengan kondisi Covid-19, dengan sejumlah pembatasan-pembatasan keterlibatan masyarakat adat, namun tidak mengurangi arti dan makna dari upacara berdasarkan ajaran agama Hindu.

Banyak perubahan adat dan budaya Bali yang terjadi akibat virus Covid-19, selain perihal diatas perubahan juga nampak pada tradisi mengarak ogoh-ogoh atau patung raksasa yang biasa dilakukan sehari menjelang Nyepi ditiadakan. Tradisi mengarak ogoh-ogoh, seperti yang selalu dilakukan setiap tahun, selalu menjadi peristiwa yang sangat dinanti oleh masyarakat, baik umat Hindu maupun pemeluk agama lain. Namun balik lagi, ini semua guna memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Perubahan yang tidak mudah namun harus tetap dijalani adat dan budaya Bali di tengah pandemic Covid-19.

Perubahan ini diharapkan dapat memutus mata rantai penularan dan penyebaran virus Covid-19 di Bali. Perubahan di dalam adat dan budaya Bali awalnya sulit diterapkan oleh masyarakat sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan, namun demi kenyamanan dan keamanan bersama perubahan dalam persembahyangan yang menimbulkan kerumunan dalam melaksanakan upacara tersebut tetap harus dilaksanakan tanpa menghilangkan makna setiap adat dan budaya Bali.

Hikmah adanya virus Covid-19 di tengah-tengah masyarakat adalah, dapat memberikan perubahan sehingga mampu menyadari masyarakat bahwa kebersihan adalah hal yang selalu menjadi sangat penting baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang seperti slogan yang sering kita jumpai yaitu ‘sehat itu mahal’. Masyarakat yang dulunya abai akan kebersihan diri dan lingkungan, kini menjadi sangat memperhatikan kebersihan sekitarnya. Menjaga imunitas atau daya tahan tubuh merupakan salah satu cara untuk membentengi diri agar tidak mudah terpapar virus Covid-19.

Ni Putu Arix Nirmala, Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Manajemen Undiksha

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan dan Perubahan Zaman

Next Post

Transformasi Tradisi dari Penggunaan “Semat” ke “Staples” dalam “Majejaitan”

Suara Perubahan

Suara Perubahan

Suara Perubahan berisi esai-esai tugas mata kuliah "Change Management" Program S2 Ilmu Manajemen Undiksha Singaraja yang diampu oleh dosen Dr. I Nengah Suarmanayasa, S.E., M.Si.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Transformasi Tradisi dari Penggunaan “Semat” ke “Staples” dalam “Majejaitan”

Transformasi Tradisi dari Penggunaan “Semat” ke “Staples” dalam “Majejaitan”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co