2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Lagu dan Hujan

Ni Luh Meisa Wulandari by Ni Luh Meisa Wulandari
January 10, 2021
in Esai
Tentang Lagu dan Hujan

Ilustrasi tatkala.co

Sederas hujan di sore itu, beberapa orang tampak sibuk membuka payung masing-masing. Beberapa mulai berbagi payung dan memegang pada sudut yang berbeda. Melindungi diri dan orang terkasih, dari guyuran hujan tanpa ampun. Seperti itulah, cara mengukur seberapa besar cinta dan kasih sayang mereka. Dengan begitu, cinta dan hujan adalah sesuatu yang saling terhubung.

Suara hujan terdengar merdu, mengalun di setiap sedih juga riang. Detik dan menit mulai hilang dari perkiraan. Sementara perhatianku yang mulai teralihkan, saat mendengar sebuah lagu kesukaanku.  Dibawakan oleh Payung Teduh, sebuah lagu yang berjudul Di Atas Meja. Lagu ini merupakan single ke-2, dan masuk ke dalam album ke-3 mereka yang bertajuk Ruang Tunggu, dirilis tahun 2017. Meskipun cukup lama, kalau suka akan selalu ingin kembali. Aku tengah mengangguk dan menyanyikan lagu itu berulang-ulang. Lirik lagu yang terdengar seperti ini:


Di atas meja rindu itu hilang, dalam kata-kata

Sebentar lagi kita saling lupa

Kita menjelma pagi dingin yang dipayungi kabut

Tak bisa lagi bercerita apa adanya


Kekaguman yang masih sama, saat kuputar lagu yang dibawakan oleh Payung Teduh dengan gaya khasnya; keroncong folk indie. Ini bukanlah sekedar musik biasa. Kekuatan liriknya mampu melesat jauh ke dalam ingatan. Kini musik mengiringi keseharian, menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sebagai bahasa universal yang menyapa setiap insan, dengan caranya sendiri. Bak, teman bercerita dikala pagi, siang, sore, bahkan menjadi hal wajib menjelang tidur.

Memang terkadang ada beberapa waktu, yang membuat diri harus terpaku beberapa saat. Sebagai sebuah pengingat, mengenai pentingnya merawat hati dan pikiran. Karena seringkali kita merasa sulit menyadari emosi. Hal itu, bisa saja disebabkan oleh kebiasaan menekan emosi. Demi menunjukkan pada orang lain, bahwa kita baik-baik saja. Meski tengah marah atau sedih, untuk meredam semua gejolak dalam diri. Seseorang seolah tidak memiliki waktu, untuk memusatkan perhatiannya terhadap emosi, dan cenderung mengabaikannya. Meskipun emosi-emosi ini, selalu mencoba berkomunikasi dengan sang pemiliknya. Namun, menjadi asing kembali. Ketidakmampuan mengenali emosi inilah, yang memicu timbulnya  berbagai masalah.

Memang tidak selalu manis, ketika berbicara soal kenyataan. Yang membedakan hal itu adalah cara menjalaninya. Ini  tentang bagaimana cara menyikapi emosi. Untuk meredakan perasaan negatif yang muncul, mendengarkan musik dirasa cukup efektif, sebagai strategi mengatur emosi. Ketika seseorang mendengarkan sebuah lagu, dapat memicu terjadinya aktivitas di daerah limbik dan paralimbik pada otak. Ini adalah bagian yang berhubungan dengan respon emosi. Sekaligus menyebabkan seseorang menyukai musik.

Otak manusia secara alami, menyukai hal-hal yang dapat diprediksi. Manusia akan merasa nyaman, ketika bertemu dengan  sesuatu yang sudah terbiasa. Begitu pula ketika seseorang mendengarkan musik. Pola repetisi pada lagu, memunculkan variasi ketukan ritmis secara teratur dan terus-menerus. Selalu ada bagian pada lagu yang diulang, akan memberikan rasa nyaman di telinga. Itu sebabnya seseorang bisa memiliki playlist lagu, yang itu-itu saja.

Komponen ritmis dari sebuah lagu juga mempengaruhi aktivitas fisiologis tubuh. Ketika mendengar lagu dengan tempo lambat, maka detak jantung dan laju pernapasan mulai relaksasi. Begitu juga sebaliknya. Aktivitas yang terjadi pada tubuh inilah, yang dapat membuat otak mengira, seseorang sedang merasakan emosi tertentu. Musik dapat membantu melepaskan diri, dari situasi yang menyedihkan. Dikarenakan seseorang memindahkan fokus, dari kesedihan yang dirasakannya, ke dalam aspek-aspek estetik sebuah lagu. Kemudian menyentuh ruang-ruang, yang sangat sulit disentuh oleh hal lain. Sehingga persepsi menyebar ke  perasaan, dan memunculkan emosi sesuai dengan memori episodik, berupa peristiwa.

Hubungan emosi dan ingatan itu rumit. Musik mengalun bertautan memeluk ingatan. Menelusuri jejak panjang ingatan, tetang segala hal yang ditemukan dalam waktu yang singkat. Mengenai yang tak sempat terucap atau hal yang tak bisa dibicarakan. Apa yang lebih sederhana, dari mengekspresikan sebuah perasaan? Melalui lagu yang disuka atau setiap lirik yang mampu mewakili perasaan seseorang. Nyatanya kita tidak pernah berhenti pada satu lagu, juga tidak pernah berakhir pada satu emosi. Kenali, pelajari dan obati. Demi membangun emosi yang sehat.

Sama halnya dengan hujan, emosi-emosi itu akan reda juga pada waktunya. Dan datang kembali pada masanya. Berbagai macam rasa tumpah, terjebak pada hujan yang sama. Bertahan adalah keyakinan, bahwa kita dalam perjalanan menelusuri diri, agar bisa memahami sebuah kesederhanaan. Jangan memaki payung yang patah, jika tak ingin basah kuyup. Bersabarlah, mungkin jalan tengahnya adalah berdiam diri, sembari menunggu hujan reda. Lalu lanjutkan lagi, langkah yang sempat terhenti.

Lagu itu kembali terdengar


Di tiap langkah rindu kita menghilang, penuh keraguan

Lalu kita pun sungguh semakin lupa

Kita menjelma kebisuan yang tak kunjung terungkap

Tak bisa lagi bercerita apa adanya

Mengapa takut pada lara

Sementara semua rasa bisa kita cipta

Akan selalu ada terang

Di sela-sela gelisah yang menunggu reda


Menjadi serupa hujan, meniadakan walaupun terkadang masih ada rindu. Seperti jejak-jejak yang saling menghapus dirinya sendiri. Namun, melupa tak pernah sederhana. Sebuah seni menikmati malam yang teduh, selepas hujan turun ditemani Payung Teduh.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Strategi Survive Sektor Perhotelan di Kala Pandemi

Next Post

Pandemi, dan Petugas Parkir yang Kemudian Menjamur

Ni Luh Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari

Lahir di Batur Tengah, 9 Mei 1998. Kini mahasiswa Jurusaan Kesehatan Gigi Poltekkes Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pandemi, dan Petugas Parkir yang Kemudian Menjamur

Pandemi, dan Petugas Parkir yang Kemudian Menjamur

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co