12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Lagu dan Hujan

Ni Luh Meisa Wulandari by Ni Luh Meisa Wulandari
January 10, 2021
in Esai
Tentang Lagu dan Hujan

Ilustrasi tatkala.co

Sederas hujan di sore itu, beberapa orang tampak sibuk membuka payung masing-masing. Beberapa mulai berbagi payung dan memegang pada sudut yang berbeda. Melindungi diri dan orang terkasih, dari guyuran hujan tanpa ampun. Seperti itulah, cara mengukur seberapa besar cinta dan kasih sayang mereka. Dengan begitu, cinta dan hujan adalah sesuatu yang saling terhubung.

Suara hujan terdengar merdu, mengalun di setiap sedih juga riang. Detik dan menit mulai hilang dari perkiraan. Sementara perhatianku yang mulai teralihkan, saat mendengar sebuah lagu kesukaanku.  Dibawakan oleh Payung Teduh, sebuah lagu yang berjudul Di Atas Meja. Lagu ini merupakan single ke-2, dan masuk ke dalam album ke-3 mereka yang bertajuk Ruang Tunggu, dirilis tahun 2017. Meskipun cukup lama, kalau suka akan selalu ingin kembali. Aku tengah mengangguk dan menyanyikan lagu itu berulang-ulang. Lirik lagu yang terdengar seperti ini:


Di atas meja rindu itu hilang, dalam kata-kata

Sebentar lagi kita saling lupa

Kita menjelma pagi dingin yang dipayungi kabut

Tak bisa lagi bercerita apa adanya


Kekaguman yang masih sama, saat kuputar lagu yang dibawakan oleh Payung Teduh dengan gaya khasnya; keroncong folk indie. Ini bukanlah sekedar musik biasa. Kekuatan liriknya mampu melesat jauh ke dalam ingatan. Kini musik mengiringi keseharian, menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sebagai bahasa universal yang menyapa setiap insan, dengan caranya sendiri. Bak, teman bercerita dikala pagi, siang, sore, bahkan menjadi hal wajib menjelang tidur.

Memang terkadang ada beberapa waktu, yang membuat diri harus terpaku beberapa saat. Sebagai sebuah pengingat, mengenai pentingnya merawat hati dan pikiran. Karena seringkali kita merasa sulit menyadari emosi. Hal itu, bisa saja disebabkan oleh kebiasaan menekan emosi. Demi menunjukkan pada orang lain, bahwa kita baik-baik saja. Meski tengah marah atau sedih, untuk meredam semua gejolak dalam diri. Seseorang seolah tidak memiliki waktu, untuk memusatkan perhatiannya terhadap emosi, dan cenderung mengabaikannya. Meskipun emosi-emosi ini, selalu mencoba berkomunikasi dengan sang pemiliknya. Namun, menjadi asing kembali. Ketidakmampuan mengenali emosi inilah, yang memicu timbulnya  berbagai masalah.

Memang tidak selalu manis, ketika berbicara soal kenyataan. Yang membedakan hal itu adalah cara menjalaninya. Ini  tentang bagaimana cara menyikapi emosi. Untuk meredakan perasaan negatif yang muncul, mendengarkan musik dirasa cukup efektif, sebagai strategi mengatur emosi. Ketika seseorang mendengarkan sebuah lagu, dapat memicu terjadinya aktivitas di daerah limbik dan paralimbik pada otak. Ini adalah bagian yang berhubungan dengan respon emosi. Sekaligus menyebabkan seseorang menyukai musik.

Otak manusia secara alami, menyukai hal-hal yang dapat diprediksi. Manusia akan merasa nyaman, ketika bertemu dengan  sesuatu yang sudah terbiasa. Begitu pula ketika seseorang mendengarkan musik. Pola repetisi pada lagu, memunculkan variasi ketukan ritmis secara teratur dan terus-menerus. Selalu ada bagian pada lagu yang diulang, akan memberikan rasa nyaman di telinga. Itu sebabnya seseorang bisa memiliki playlist lagu, yang itu-itu saja.

Komponen ritmis dari sebuah lagu juga mempengaruhi aktivitas fisiologis tubuh. Ketika mendengar lagu dengan tempo lambat, maka detak jantung dan laju pernapasan mulai relaksasi. Begitu juga sebaliknya. Aktivitas yang terjadi pada tubuh inilah, yang dapat membuat otak mengira, seseorang sedang merasakan emosi tertentu. Musik dapat membantu melepaskan diri, dari situasi yang menyedihkan. Dikarenakan seseorang memindahkan fokus, dari kesedihan yang dirasakannya, ke dalam aspek-aspek estetik sebuah lagu. Kemudian menyentuh ruang-ruang, yang sangat sulit disentuh oleh hal lain. Sehingga persepsi menyebar ke  perasaan, dan memunculkan emosi sesuai dengan memori episodik, berupa peristiwa.

Hubungan emosi dan ingatan itu rumit. Musik mengalun bertautan memeluk ingatan. Menelusuri jejak panjang ingatan, tetang segala hal yang ditemukan dalam waktu yang singkat. Mengenai yang tak sempat terucap atau hal yang tak bisa dibicarakan. Apa yang lebih sederhana, dari mengekspresikan sebuah perasaan? Melalui lagu yang disuka atau setiap lirik yang mampu mewakili perasaan seseorang. Nyatanya kita tidak pernah berhenti pada satu lagu, juga tidak pernah berakhir pada satu emosi. Kenali, pelajari dan obati. Demi membangun emosi yang sehat.

Sama halnya dengan hujan, emosi-emosi itu akan reda juga pada waktunya. Dan datang kembali pada masanya. Berbagai macam rasa tumpah, terjebak pada hujan yang sama. Bertahan adalah keyakinan, bahwa kita dalam perjalanan menelusuri diri, agar bisa memahami sebuah kesederhanaan. Jangan memaki payung yang patah, jika tak ingin basah kuyup. Bersabarlah, mungkin jalan tengahnya adalah berdiam diri, sembari menunggu hujan reda. Lalu lanjutkan lagi, langkah yang sempat terhenti.

Lagu itu kembali terdengar


Di tiap langkah rindu kita menghilang, penuh keraguan

Lalu kita pun sungguh semakin lupa

Kita menjelma kebisuan yang tak kunjung terungkap

Tak bisa lagi bercerita apa adanya

Mengapa takut pada lara

Sementara semua rasa bisa kita cipta

Akan selalu ada terang

Di sela-sela gelisah yang menunggu reda


Menjadi serupa hujan, meniadakan walaupun terkadang masih ada rindu. Seperti jejak-jejak yang saling menghapus dirinya sendiri. Namun, melupa tak pernah sederhana. Sebuah seni menikmati malam yang teduh, selepas hujan turun ditemani Payung Teduh.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Strategi Survive Sektor Perhotelan di Kala Pandemi

Next Post

Pandemi, dan Petugas Parkir yang Kemudian Menjamur

Ni Luh Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari

Lahir di Batur Tengah, 9 Mei 1998. Kini mahasiswa Jurusaan Kesehatan Gigi Poltekkes Denpasar

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Pandemi, dan Petugas Parkir yang Kemudian Menjamur

Pandemi, dan Petugas Parkir yang Kemudian Menjamur

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co