25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Lagu dan Hujan

Ni Luh Meisa Wulandari by Ni Luh Meisa Wulandari
January 10, 2021
in Esai
Tentang Lagu dan Hujan

Ilustrasi tatkala.co

Sederas hujan di sore itu, beberapa orang tampak sibuk membuka payung masing-masing. Beberapa mulai berbagi payung dan memegang pada sudut yang berbeda. Melindungi diri dan orang terkasih, dari guyuran hujan tanpa ampun. Seperti itulah, cara mengukur seberapa besar cinta dan kasih sayang mereka. Dengan begitu, cinta dan hujan adalah sesuatu yang saling terhubung.

Suara hujan terdengar merdu, mengalun di setiap sedih juga riang. Detik dan menit mulai hilang dari perkiraan. Sementara perhatianku yang mulai teralihkan, saat mendengar sebuah lagu kesukaanku.  Dibawakan oleh Payung Teduh, sebuah lagu yang berjudul Di Atas Meja. Lagu ini merupakan single ke-2, dan masuk ke dalam album ke-3 mereka yang bertajuk Ruang Tunggu, dirilis tahun 2017. Meskipun cukup lama, kalau suka akan selalu ingin kembali. Aku tengah mengangguk dan menyanyikan lagu itu berulang-ulang. Lirik lagu yang terdengar seperti ini:


Di atas meja rindu itu hilang, dalam kata-kata

Sebentar lagi kita saling lupa

Kita menjelma pagi dingin yang dipayungi kabut

Tak bisa lagi bercerita apa adanya


Kekaguman yang masih sama, saat kuputar lagu yang dibawakan oleh Payung Teduh dengan gaya khasnya; keroncong folk indie. Ini bukanlah sekedar musik biasa. Kekuatan liriknya mampu melesat jauh ke dalam ingatan. Kini musik mengiringi keseharian, menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sebagai bahasa universal yang menyapa setiap insan, dengan caranya sendiri. Bak, teman bercerita dikala pagi, siang, sore, bahkan menjadi hal wajib menjelang tidur.

Memang terkadang ada beberapa waktu, yang membuat diri harus terpaku beberapa saat. Sebagai sebuah pengingat, mengenai pentingnya merawat hati dan pikiran. Karena seringkali kita merasa sulit menyadari emosi. Hal itu, bisa saja disebabkan oleh kebiasaan menekan emosi. Demi menunjukkan pada orang lain, bahwa kita baik-baik saja. Meski tengah marah atau sedih, untuk meredam semua gejolak dalam diri. Seseorang seolah tidak memiliki waktu, untuk memusatkan perhatiannya terhadap emosi, dan cenderung mengabaikannya. Meskipun emosi-emosi ini, selalu mencoba berkomunikasi dengan sang pemiliknya. Namun, menjadi asing kembali. Ketidakmampuan mengenali emosi inilah, yang memicu timbulnya  berbagai masalah.

Memang tidak selalu manis, ketika berbicara soal kenyataan. Yang membedakan hal itu adalah cara menjalaninya. Ini  tentang bagaimana cara menyikapi emosi. Untuk meredakan perasaan negatif yang muncul, mendengarkan musik dirasa cukup efektif, sebagai strategi mengatur emosi. Ketika seseorang mendengarkan sebuah lagu, dapat memicu terjadinya aktivitas di daerah limbik dan paralimbik pada otak. Ini adalah bagian yang berhubungan dengan respon emosi. Sekaligus menyebabkan seseorang menyukai musik.

Otak manusia secara alami, menyukai hal-hal yang dapat diprediksi. Manusia akan merasa nyaman, ketika bertemu dengan  sesuatu yang sudah terbiasa. Begitu pula ketika seseorang mendengarkan musik. Pola repetisi pada lagu, memunculkan variasi ketukan ritmis secara teratur dan terus-menerus. Selalu ada bagian pada lagu yang diulang, akan memberikan rasa nyaman di telinga. Itu sebabnya seseorang bisa memiliki playlist lagu, yang itu-itu saja.

Komponen ritmis dari sebuah lagu juga mempengaruhi aktivitas fisiologis tubuh. Ketika mendengar lagu dengan tempo lambat, maka detak jantung dan laju pernapasan mulai relaksasi. Begitu juga sebaliknya. Aktivitas yang terjadi pada tubuh inilah, yang dapat membuat otak mengira, seseorang sedang merasakan emosi tertentu. Musik dapat membantu melepaskan diri, dari situasi yang menyedihkan. Dikarenakan seseorang memindahkan fokus, dari kesedihan yang dirasakannya, ke dalam aspek-aspek estetik sebuah lagu. Kemudian menyentuh ruang-ruang, yang sangat sulit disentuh oleh hal lain. Sehingga persepsi menyebar ke  perasaan, dan memunculkan emosi sesuai dengan memori episodik, berupa peristiwa.

Hubungan emosi dan ingatan itu rumit. Musik mengalun bertautan memeluk ingatan. Menelusuri jejak panjang ingatan, tetang segala hal yang ditemukan dalam waktu yang singkat. Mengenai yang tak sempat terucap atau hal yang tak bisa dibicarakan. Apa yang lebih sederhana, dari mengekspresikan sebuah perasaan? Melalui lagu yang disuka atau setiap lirik yang mampu mewakili perasaan seseorang. Nyatanya kita tidak pernah berhenti pada satu lagu, juga tidak pernah berakhir pada satu emosi. Kenali, pelajari dan obati. Demi membangun emosi yang sehat.

Sama halnya dengan hujan, emosi-emosi itu akan reda juga pada waktunya. Dan datang kembali pada masanya. Berbagai macam rasa tumpah, terjebak pada hujan yang sama. Bertahan adalah keyakinan, bahwa kita dalam perjalanan menelusuri diri, agar bisa memahami sebuah kesederhanaan. Jangan memaki payung yang patah, jika tak ingin basah kuyup. Bersabarlah, mungkin jalan tengahnya adalah berdiam diri, sembari menunggu hujan reda. Lalu lanjutkan lagi, langkah yang sempat terhenti.

Lagu itu kembali terdengar


Di tiap langkah rindu kita menghilang, penuh keraguan

Lalu kita pun sungguh semakin lupa

Kita menjelma kebisuan yang tak kunjung terungkap

Tak bisa lagi bercerita apa adanya

Mengapa takut pada lara

Sementara semua rasa bisa kita cipta

Akan selalu ada terang

Di sela-sela gelisah yang menunggu reda


Menjadi serupa hujan, meniadakan walaupun terkadang masih ada rindu. Seperti jejak-jejak yang saling menghapus dirinya sendiri. Namun, melupa tak pernah sederhana. Sebuah seni menikmati malam yang teduh, selepas hujan turun ditemani Payung Teduh.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Strategi Survive Sektor Perhotelan di Kala Pandemi

Next Post

Pandemi, dan Petugas Parkir yang Kemudian Menjamur

Ni Luh Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari

Lahir di Batur Tengah, 9 Mei 1998. Kini mahasiswa Jurusaan Kesehatan Gigi Poltekkes Denpasar

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pandemi, dan Petugas Parkir yang Kemudian Menjamur

Pandemi, dan Petugas Parkir yang Kemudian Menjamur

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co