3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Karang Binangun ke Singaraja

Jaswanto by Jaswanto
December 3, 2020
in Esai
Priayi Kecil

Saya dilahirkan di sebuah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Sebuah kampung yang selalu “dicap” sebagai  tempat tinggalnya orang-orang yang tidak berpendidikan. Kampung yang dijuluki “Karang Jaba” oleh orang-orang desa bagian utara. Kampung yang selalu mengalah atas apapun. Kampung yang menganggap orang yang berkuasa adalah dewa—juga diam-diam menghujatnya di belakang. Kampung yang semenjak kelahirannya tidak pernah mampu menangkap maksud tertinggi kehidupan. Tanah air yang saya cintai—yang tidak pernah bersungguh-sungguh mengembangkan akal budi sehingga masih terjebak lumpur kejahiliahan.

Saya lahir di lingkungan orang-orang yang berpikiran hirarki agraris totok tradisional. Orang-orang tua yang selalu merasa benar, feodal, patriarki, benci demokrasi, ingin selalu dihormati, dan selalu ingin mempertahankan status quo-nya dalam bidang apapun. Walaupun begitu saya tetap bersyukur mempunyai seorang bapak yang menurut saya sangat demokratis terhadap anak-anaknya.

Waktu saya masih kecil, saya tidak punya kesempatan untuk bertanya banyak hal. Apa yang menurut orang tua—kecuali bapak—baik, secara otomatis harus kami ikuti tanpa harus ada protes—atau pertanyaan-pertanyaan yang menurut mereka bakal menyusahkan saja. Ikuti saja, kalau tidak mau kualat.

Selain orang-orangnya—sekali lagi kecuali bapak—yang berpikiraan hirarki, kampung saya juga masih mempunyai aura magis tersendiri. Animisme dan dinamisme masih terjaga sampai hari ini. Kepercayaan-kepercayaan tetua-tetua dahulu, masih menjadi cerita wajib kepada kami sebagai anak-anak yang terlahir di zaman sekarang ini.

Memang, manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan, kata Cak Nur. Sebab, kepercayaan itu melahirkan nilai-nilai. Dan nilai-nilai itu kemudian melembaga dalam tradisi-tradisi yang diwariskan secara turun temurun; dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Demi untuk mempertahanya nilai-nilai tersebut, maka dalam kenyataan  ikatan-ikatan tradisi itu, malah sering menjadi penghambat perkembangan peradaban; dan kemajuan manusia. Di sinilah terdapat kontradiksi. Kepercayaan diperlukan sebagai sumber tata nilai guna menopang peradaban manusia, tetapi nilai-nilai itu melembaga dalam tradisi yang membeku dan  mengikat, maka justru merugikan peradaban.

Oleh karena itu, pada dasarnya, guna perkembangan peradaban dan kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap kepercayaan dan tata nilai yang membelenggu. Ciri manusia modern salah satunya adalah terbuka terhadap apa pun. Artinya, menerima segala bentuk nilai dalam komunitasnya.

Masih banyak masyarakat kampung saya yang menganut kepercayaan yang membelenggu kemajuan. Kepercayaan-kepercayaan itu mengikat setiap individu untuk tidak boleh melanggar. Kata “kualat” dijadikan doktrin yang cukup manjur dalam hal ini. Tapi, bukankah perubahan itu yang abadi?

***

Tetapi semua itu berubah sejak saya “keluar” dari kampung halaman. 2015 saya putuskan untuk merantau ke Pulau Bali. Di Pulau Dewata ini, saya menimba ilmu. Hampir empat tahun, saya merasa menjadi anak yang berbeda. Yang dulu berpikiran hirarkis, sekarang, saya selalu mencoba untuk berpikir egaliter. Dulu, di kampung saya dibesarkan di lingkungan petani yang kulturnya hirarkis tradisional. Sekarang, di sini, di Kota Singaraja, saya dibesarkan di lingkungan akademisi yang modern. Itu sangat mempengaruhi pola pikir saya, terhadap apapun—jalan intelektual saya.

Saya percaya salah satu tugas manusia adalah menapak di jalan intelektual, yaitu berkiblat kepada kebeneran ilmu, bukan kebenaran politik. Dan, sampai saat ini, saya hanya memahami tiga jalan: Jalan keindonesiaan, jalan agama, dan jalan intelektual (keindonesiaan dan keagamaan adalah kesatuan. Sedadangkan keduanya diperkuat oleh ilmu pengetahuan). Menurut saya, sebagai manusia, seharusnya tidak hanya mengenal bangsanya, tapi kenal agamanya dan kenal jalur ilmunya. Sekarang ini, saya mencoba sekuat-kuatnya berjalan di tiga jalur ini secara bersamaan.

Dulu saya demikian yakin membiarkan segala keudikan—apa adanya kampung saya adalah arif. Sekarang dengan pengetahuan dan kesadaran sendiri, pikiran saya berbalik: membiarkan kampung saya tetap bebal, pemabuk, pejudi, tak kenal pendidikan, patriarki, feodal, adalah bertentangan dengan misi menjadi seorang manusia. Menggembalakan mereka rasanya bukan suatu pekerjaan yang sulit. Yang menjadi persoalan adalah bila kampung saya memang harus diangkat dari lumpur kejahiliahan, maka siapakah yang bertanggungjawab atas tugas semacam itu?

Saya tidak berani berkata dan tidak akan berkata bahwa saya lah pihak pertama atau orang pertama yang harus mengemban tanggung jawab itu. Pihak pertama mestilah perangkah desa, ulama, kiyai, sarjana. Namun saya harus menyadari, budaya feodalisme nyatanya telah membutakan mata para penguasa untuk menjadi pihak yang paling utama dalam hal perubahan. Taraf nasional atau regional? Nyatanya juga tidak menukik dan rinci sampai ke masalah penduduk kecil seperti di kampung saya.

Seperti ada yang menuding diri saya. Saya lah yang secara moral paling layak mengambil tanggung jawab itu. Tanggung jawab kemanusiaan. Kalau memang saya mampu melakukan pekerjaan pengabdian itu saya akan sangat senang. Bekerja membangun kampung di atas pangkuan “ibu kandung” tentuakan sangat menyenangkan.

Saya tersenyum pada kesadaran jiwa yang mengambang. Hidup saya tentulah sangat kecil bila dibandingkan dengan luasnya totalitas kehidupan. Namun dalam kekecilan hidup, saya merasa telah menemukan sebuah makna. Memang tidak lengkap dan gemerlap. Tapi saya akan sampai kepada sebuah pertanyaan; apa yang sudah saya berikan kepada kampung saya? Apa yang sudah saya berikan kepada kampung yang telah membuat hidup saya demikian bersaja ini? Apa mungkin saya bisa mengajak kampung saya lepas dari pemikiran hirarki, patriarki, dan feodal? Dan terpenting membawa kampung saya pada jalan yang dikehendaki Sang Maha Agung. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu membuat jiwa saya terasa mengambang. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kiat Pembelajaran Daring di Sekolah Dasar

Next Post

Artisan Day-Out by Plataran Canggu Revisit the Tradition

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Artisan Day-Out by Plataran Canggu Revisit the Tradition

Artisan Day-Out by Plataran Canggu Revisit the Tradition

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co