29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menarik Vaksin Covid-19 Dari Pusaran Kontroversi

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
November 26, 2020
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Pandemi Covid-19 terlanjur diselimuti kontroversi sejak kedatangannya. Meski hingga saat ini jumlah penduduk global yang terinfeksi telah mendekati angka 60 juta orang dan jumlah kematian mencapai 1.4 juta jiwa serta kerugian ekonomi menembus nilai 100 kuadrilium rupiah, aroma kontroversi masih menyengat.

Kali ini uap kontroversi berhembus dari perdebatan soal vaksin covid-19. Pertanyaan dan dugaan kritisnya adalah, mungkinkah vaksin tersedia dalam waktu kurang dari setahun? Akankah itu efektif dan aman? Jangan-jangan ada pihak yang telah merancang wabah virus ini sejak awal untuk kemudian meraup keuntungan besar dari bisnis vaksinnya, sebuah skenario yang terlalu mudah untuk dimaklumi.

Siapa saja yang beruntung akan divaksin dan siapa saja yang akan “dikorbankan” sebagai kelinci percobaan? Sepertinya, rumah sakit lagi-lagi  akan dapat kesempatan bermain bisnis, ya bisnis vaksin yang merugikan rakyat setelah beberapa waktu lalu “berbisnis” tes rapid.  Kontroversi memang telah menarik minat setiap orang seakan pesona kopi hangat yang baru dituang didampingi sepiring pisang goreng lezat, namun sebaliknya, kontroversi dapat menyandera kalangan sains dan otoritas menjadi sulit untuk bergerak lebih cepat. 

            Namun demikian, sains memiliki modal yang sangat mendasar saat mengemukakan  gagasannya, yaitu bukti ilmiah. Testimoni saja atau bahkan data empirik belum cukup kuat menopang sebuah gagasan/pendapat ilmiah. Ia harus didukung oleh bukti ilmiah yang telah dihasilkan oleh serangkaian riset sesuai kaidah-kaidah baku universal. Ia bersedia diuji dalam forum-forum ilmiah independen di mana saja. Seperti isu terkait vaksin Covid-19 ini misalnya.

Dua perusahaan farmasi kawakan, Pfizer dan Moderna yang berkedudukan di USA telah melaporkan dokumen riset mereka telah selesai tahap 3 dengan bukti efektifitas lebih dari 90% dan tingkat keamanan yang sangat baik. Tahap 3 sebuah uji klinis melibatkan jumlah sampel yang sangat besar, kedua perusahaan ini melibatkan  setidaknya 44 ribu dan 30 ribu orang relawan.

Sementara vaksin Cinovac, produksi China yang akan digunakan di Indonesia bekerja sama dengan perusahaan farmasi pemerintah PT Biofarma Indonesia diujikan pada sekitar 1.400 orang relawan. Jika uji klinis tahap 3 telah selesai, barulah badan POM dapat mengeluarkan izin kedaruratan penggunaan vaksin ini untuk masyarakat luas.

            Bagaimana mungkin hanya dalam setahun vaksin Covid-19 bisa diciptakan? Pengalaman di bidang medis, paling cepat vaksin dihasilkan 3 tahun setelah wabah merebak. Durasi waktu tersebut dinilai cukup ideal bagi ilmuwan untuk melakukan pemetaan gen kuman secara lengkap, merancang komponen antigenik yang paling sesuai serta uji klinis yang memadai.

Namun, kita selalu diingatkan, tak pernah ada yang absolut dalam dunia sains. Saat pandemi kian meraja lela dan korban semakin banyak, apa pun akan diupayakan oler para ahli. Maka, kembali pada konsep dasar kalangan ilmiah, penemuan mereka mesti didukung oleh hasil uji klinis yang valid. Pada titik ini, pertimbangan bisnis maupun politik dipastikan tidak bisa turut campur.

Adakah kemungkinan model vaksin ini telah dirancang jauh-jauh hari sebelum wabah “diledakkan” sebagai sebuah konspirasi? Selalu ada kemungkinan dalam kehidupan di dunia yang fana ini. Namun jika kita lihat saat ini provider vaksin adalah perusahaan-perusahaan farmasi yang memang profesional bergerak di bidangnya sedari dulu, dugaan konspirasi menjadi tak cukup kuat.

Dugaan mengorbankan masyarakat sebagai kelinci percobaan dalam uji klinis vaksin ini juga sebetulnya hanya merupakan sebuah kecemasan dan prasangka. Siapapun yang turut serta menjadi sampel dalam penelitian tersebut memang disebut sebagai relawan karena mereka memang tak pernah dipaksa untuk ikut.

Sebelum menyatakan kesediannya, kandidat relawan harus membaca informed concent dengan seksama terlebih dahulu dan jika setuju barulah diikutkan dalam uji klinis. Bahkan saat relawan ingin berhenti di tengah jalan sebelum penelitian berakhir pun ada haknya. Bersama relawan lain yang keluar karena berbagai alasan sebelum riset kelar dimasukkan ke dalam kelompok drop out. Siapapun boleh menjadi relawan, apakah masyarakat biasa, pejabat, seorang dokter, pelajar, laki-laki, perempuan dan seterusnya. Sebelum menjalani perlakuan medis sebagai sebuah uji coba, semua relawan harus diperiksa terlebih dahulu kesehatan mereka, untuk kemudian dapat direkrut menjadi sampel penelitian. Jadi ketentuan prinsip dari siapapun yang akan menjadi relawan penelitian adalah setuju dan layak.

Lalu siapa sajakah yang akan divaksin? Wabah ini berakhir jika telah terjadi herd immunity atau kekebalan bersama. Tak harus seluruh populasi yang harus kebal untuk itu. Sedikitnya 60-70% yang telah kebal, maka dapat terbentuk kekebalan bersama yang memagari seluruh populasi dan wabah akan berakhir. Kekebalan ini dapat terjadi secara alami yang tentu saja sangat berisiko karena harus banyak orang yang terinfeksi dengan risiko mengalami sakit berat dan kematian. Itulah kemudian vaksinasi menjadi solusi lebih baik dengan menciptakan kekebalan komunitas buatan.

Semakin banyak yang divaksin tentu semakin baik, namun ketersediaan vaksin tentu tidak dapat mengikuti dalam sekejap, oleh karena itu harus diterapkan prioritas bagi populasi yang lebih rentan dan berisiko tertular. Pemerintah merencanakan vaksinasi untuk 100 juta penduduk. Maka karena untuk satu orang perlu dua dosis yang diberikan dalam interval 3-4 minggu, maka harus disiapkan vaksin sebanyak 200 juta dosis. Tentu ini bukan jumlah yang kecil. Maka panduan vaksinasi nasional tentu sudah dirancang dengan memberi prioritas vaksinasi untuk kelompok lebih berisiko seperti nakes, TNI/Polri, kelompok lansia, anak-anak dan seterusnya.

Hal yang sangat penting perlu diperhatikan pemerintah dengan penuh kehati-hatian adalah, saat mana menentukan harga jika vaksin tersebut dijual untuk kebutuhan mandiri atau bagi mereka yang tidak memiliki jaminan kesehatan karena mampu secara ekonomi. Ada baiknya, pemerintah satu persepsi dengan rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan lain dalam menentukan biaya pelayanan vaksin tersebut. 

Harus dipahami, tentu saja ada perbedaan antara harga vaksin saja dari produsen dengan biaya pelayanan vaksin di sebuah tempat yang lebih terpencil misalnya. Maka dengan memahami segala aspek yang telah dikemukakan di atas, vaksin diharapkan kelak betul-betul mewujudkan kekebalan bersama untuk menghentikan wabah, bukannya justru kegaduhan baru.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Anjing Hingga Babi, Babi, Babi

Next Post

FLUID: Sebuah Pameran Kolektif yang Mencairkan Pandemi

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
FLUID: Sebuah Pameran Kolektif yang Mencairkan Pandemi

FLUID: Sebuah Pameran Kolektif yang Mencairkan Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co