8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menarik Vaksin Covid-19 Dari Pusaran Kontroversi

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
November 26, 2020
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Pandemi Covid-19 terlanjur diselimuti kontroversi sejak kedatangannya. Meski hingga saat ini jumlah penduduk global yang terinfeksi telah mendekati angka 60 juta orang dan jumlah kematian mencapai 1.4 juta jiwa serta kerugian ekonomi menembus nilai 100 kuadrilium rupiah, aroma kontroversi masih menyengat.

Kali ini uap kontroversi berhembus dari perdebatan soal vaksin covid-19. Pertanyaan dan dugaan kritisnya adalah, mungkinkah vaksin tersedia dalam waktu kurang dari setahun? Akankah itu efektif dan aman? Jangan-jangan ada pihak yang telah merancang wabah virus ini sejak awal untuk kemudian meraup keuntungan besar dari bisnis vaksinnya, sebuah skenario yang terlalu mudah untuk dimaklumi.

Siapa saja yang beruntung akan divaksin dan siapa saja yang akan “dikorbankan” sebagai kelinci percobaan? Sepertinya, rumah sakit lagi-lagi  akan dapat kesempatan bermain bisnis, ya bisnis vaksin yang merugikan rakyat setelah beberapa waktu lalu “berbisnis” tes rapid.  Kontroversi memang telah menarik minat setiap orang seakan pesona kopi hangat yang baru dituang didampingi sepiring pisang goreng lezat, namun sebaliknya, kontroversi dapat menyandera kalangan sains dan otoritas menjadi sulit untuk bergerak lebih cepat. 

            Namun demikian, sains memiliki modal yang sangat mendasar saat mengemukakan  gagasannya, yaitu bukti ilmiah. Testimoni saja atau bahkan data empirik belum cukup kuat menopang sebuah gagasan/pendapat ilmiah. Ia harus didukung oleh bukti ilmiah yang telah dihasilkan oleh serangkaian riset sesuai kaidah-kaidah baku universal. Ia bersedia diuji dalam forum-forum ilmiah independen di mana saja. Seperti isu terkait vaksin Covid-19 ini misalnya.

Dua perusahaan farmasi kawakan, Pfizer dan Moderna yang berkedudukan di USA telah melaporkan dokumen riset mereka telah selesai tahap 3 dengan bukti efektifitas lebih dari 90% dan tingkat keamanan yang sangat baik. Tahap 3 sebuah uji klinis melibatkan jumlah sampel yang sangat besar, kedua perusahaan ini melibatkan  setidaknya 44 ribu dan 30 ribu orang relawan.

Sementara vaksin Cinovac, produksi China yang akan digunakan di Indonesia bekerja sama dengan perusahaan farmasi pemerintah PT Biofarma Indonesia diujikan pada sekitar 1.400 orang relawan. Jika uji klinis tahap 3 telah selesai, barulah badan POM dapat mengeluarkan izin kedaruratan penggunaan vaksin ini untuk masyarakat luas.

            Bagaimana mungkin hanya dalam setahun vaksin Covid-19 bisa diciptakan? Pengalaman di bidang medis, paling cepat vaksin dihasilkan 3 tahun setelah wabah merebak. Durasi waktu tersebut dinilai cukup ideal bagi ilmuwan untuk melakukan pemetaan gen kuman secara lengkap, merancang komponen antigenik yang paling sesuai serta uji klinis yang memadai.

Namun, kita selalu diingatkan, tak pernah ada yang absolut dalam dunia sains. Saat pandemi kian meraja lela dan korban semakin banyak, apa pun akan diupayakan oler para ahli. Maka, kembali pada konsep dasar kalangan ilmiah, penemuan mereka mesti didukung oleh hasil uji klinis yang valid. Pada titik ini, pertimbangan bisnis maupun politik dipastikan tidak bisa turut campur.

Adakah kemungkinan model vaksin ini telah dirancang jauh-jauh hari sebelum wabah “diledakkan” sebagai sebuah konspirasi? Selalu ada kemungkinan dalam kehidupan di dunia yang fana ini. Namun jika kita lihat saat ini provider vaksin adalah perusahaan-perusahaan farmasi yang memang profesional bergerak di bidangnya sedari dulu, dugaan konspirasi menjadi tak cukup kuat.

Dugaan mengorbankan masyarakat sebagai kelinci percobaan dalam uji klinis vaksin ini juga sebetulnya hanya merupakan sebuah kecemasan dan prasangka. Siapapun yang turut serta menjadi sampel dalam penelitian tersebut memang disebut sebagai relawan karena mereka memang tak pernah dipaksa untuk ikut.

Sebelum menyatakan kesediannya, kandidat relawan harus membaca informed concent dengan seksama terlebih dahulu dan jika setuju barulah diikutkan dalam uji klinis. Bahkan saat relawan ingin berhenti di tengah jalan sebelum penelitian berakhir pun ada haknya. Bersama relawan lain yang keluar karena berbagai alasan sebelum riset kelar dimasukkan ke dalam kelompok drop out. Siapapun boleh menjadi relawan, apakah masyarakat biasa, pejabat, seorang dokter, pelajar, laki-laki, perempuan dan seterusnya. Sebelum menjalani perlakuan medis sebagai sebuah uji coba, semua relawan harus diperiksa terlebih dahulu kesehatan mereka, untuk kemudian dapat direkrut menjadi sampel penelitian. Jadi ketentuan prinsip dari siapapun yang akan menjadi relawan penelitian adalah setuju dan layak.

Lalu siapa sajakah yang akan divaksin? Wabah ini berakhir jika telah terjadi herd immunity atau kekebalan bersama. Tak harus seluruh populasi yang harus kebal untuk itu. Sedikitnya 60-70% yang telah kebal, maka dapat terbentuk kekebalan bersama yang memagari seluruh populasi dan wabah akan berakhir. Kekebalan ini dapat terjadi secara alami yang tentu saja sangat berisiko karena harus banyak orang yang terinfeksi dengan risiko mengalami sakit berat dan kematian. Itulah kemudian vaksinasi menjadi solusi lebih baik dengan menciptakan kekebalan komunitas buatan.

Semakin banyak yang divaksin tentu semakin baik, namun ketersediaan vaksin tentu tidak dapat mengikuti dalam sekejap, oleh karena itu harus diterapkan prioritas bagi populasi yang lebih rentan dan berisiko tertular. Pemerintah merencanakan vaksinasi untuk 100 juta penduduk. Maka karena untuk satu orang perlu dua dosis yang diberikan dalam interval 3-4 minggu, maka harus disiapkan vaksin sebanyak 200 juta dosis. Tentu ini bukan jumlah yang kecil. Maka panduan vaksinasi nasional tentu sudah dirancang dengan memberi prioritas vaksinasi untuk kelompok lebih berisiko seperti nakes, TNI/Polri, kelompok lansia, anak-anak dan seterusnya.

Hal yang sangat penting perlu diperhatikan pemerintah dengan penuh kehati-hatian adalah, saat mana menentukan harga jika vaksin tersebut dijual untuk kebutuhan mandiri atau bagi mereka yang tidak memiliki jaminan kesehatan karena mampu secara ekonomi. Ada baiknya, pemerintah satu persepsi dengan rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan lain dalam menentukan biaya pelayanan vaksin tersebut. 

Harus dipahami, tentu saja ada perbedaan antara harga vaksin saja dari produsen dengan biaya pelayanan vaksin di sebuah tempat yang lebih terpencil misalnya. Maka dengan memahami segala aspek yang telah dikemukakan di atas, vaksin diharapkan kelak betul-betul mewujudkan kekebalan bersama untuk menghentikan wabah, bukannya justru kegaduhan baru.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Anjing Hingga Babi, Babi, Babi

Next Post

FLUID: Sebuah Pameran Kolektif yang Mencairkan Pandemi

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
FLUID: Sebuah Pameran Kolektif yang Mencairkan Pandemi

FLUID: Sebuah Pameran Kolektif yang Mencairkan Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co