3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

COVID-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [3] – Rapid Lagi, Rapid Lagi…

Rsi Suwardana by Rsi Suwardana
August 14, 2020
in Esai
Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Apakah susah sekali untuk mencerna, mengapa setiap pasien yang hendak dirawat di rumah sakit—termasuk Ibu melahirkan—harus menjalani tes rapid berbasis antibodi COVID-19? Sederhananya, untuk memperkecil kemungkinan penularan pandemi kepada tenaga kesehatan (nakes).

Bukan bermaksud egois dan cenderung mengutamakan keselamatan nakes. Sayangnya, kami adalah penjaga gawang dalam pertandingan melawan virus ini. Tidak usah muluk-muluk melabeli nakes sebagai pahlawan garda terdepan, cukup mengerti akan posisi kami saat ini.

Jika banyak nakes yang terinfeksi COVID-19, dengan berat hati, maka layanan kesehatan terpaksa akan berhenti beroperasi. Bisa saja layanan kesehatan yang tutup itu adalah cuci darah rutin bagi pasien gagal ginjal stadium akhir; atau pemeriksaan kehamilan dan persalinan untuk Ibu hamil; atau mungkin pelayanan gawat darurat yang idealnya tetap beroperasi dua-puluh-empat-jam tanpa henti.  

Melakukan tes rapid bertujuan untuk mendeteksi secara dini kemungkinan seorang pasien terpapar COVID-19. Bila ternyata hasil tes rapid pasien adalah reaktif, maka perawatannya akan dipindahkan ke ruang isolasi, dirawat oleh tim nakes dengan APD lengkap, kemudian akan dilakukan tes usap rongga hidung (swab test) sebagai konfirmasi apakah sang pasien adalah penderita COVID-19 atau bukan.

Tidak usah bermanis-manis mengatakan bahwa tes rapid bertujuan untuk menekan kasus COVID-19 di masyarakat. Semua ini adalah prosedur untuk mencegah penularan COVID-19 pada nakes. Tagar #flatteningthecurve (datarkan kurva epidemi) juga sebenarnya memiliki tujuan agar kasus COVID-19 tidak membludak dalam kurun waktu yang singkat, sehingga memberikan waktu nakes untuk bernafas dan menghindari ditutupnya pelbagai layanan kesehatan.

Jika penjaga gawang cidera, apakah anda mau penyerang atau pemain tengah yang berdiri di bawah mistar? Berapa banyak gol yang akan diciptakan oleh tim lawan?

Berapa banyak korban jiwa yang harus berjatuhan jika layanan kesehatan ambruk bahkan kolaps?

Dengan memahami posisi nakes dan kegunaan tes rapid, lalu bagaimana bila ada sepercik aspirasi di masyarakat untuk menolak penggunaan tes rapid?

Satu hal yang tak akan lelah saya sampaikan, COVID-19 ini begitu unik. Ia memiliki gejala yang mirip dengan hampir seluruh penyakit infeksi pada saluran nafas: demam, batuk, atau sesak nafas. Di sisi lain, virus ini dapat menginfeksi pasien tanpa menimbulkan gejala klinis sebagai tanda keberadaannya.

Pasien yang mengeluh demam dan batuk mungkin saja tidak terpapar COVID-19, sebaliknya pasien yang merasa dirinya tidak ada gejala saluran nafas bisa saja mengidap virus ini.

Pasien pertama dengan demam dan batuk itu, tak ayal pasti sangat khawatir terinfeksi COVID-19. Stigma dan pikiran negatif lainnya boleh jadi sempat lalu-lalang di pikirannya. Sedangkan pasien kedua, bisa jadi ia jumawa dan terlalu yakin bahwa hasil tesnya akan negatif karena dirinya merasa sehat-sehat saja. Bukan tidak mungkin, ia akan menolak dan mencampakkan hasil tes yang menyatakan bahwa dirinya positif terinfeksi COVID-19.

Sayangnya, ilustrasi di atas adalah riil dan memang benar-benar terjadi pada kasus pandemi ini. Dalam situasi seperti sekarang, maka pemeriksaan penunjang benar-benar krusial untuk mendiagnosis si sakit dan si tidak sakit.

Sejujurnya, saya pribadi mempertanyakan keputusan pemerintah untuk menggunakan tes rapid sebagai deteksi dini kasus COVID-19, bahkan WHO pun sebenarnya tidak menyarankan penggunaan tes rapid berbasis antibodi—seperti yang beredar di Indonesia, untuk deteksi dini.

Seyogianya pemeriksaan konfirmasi COVID-19 menggunakan tes usap dengan metode RT-PCR. Namun karena terbatasnya kapasitas laboratorium RT-PCR di Indonesia, maka tes rapid menjadi pilihan satu-satunya yang tersisa.

Tes rapid memang memiliki akurasi yang rendah. Faktanya sampai saat ini belum ada penelitian atau rilis resmi tentang tingkat akurasi dari tes rapid di Indonesia. Sedangkan metode RT-PCR memiliki tingkat akurasi diatas 70%, bahkan beberapa reagen mampu menghasilkan akurasi hingga 95%.

Tetapi, tes rapid bisa mengisi kekurangan dari metode RT-PCR, yakni WAKTU. Butuh waktu berhari-hari bahkan mingguan untuk bisa mendapatkan hasil RT-PCR, sedangkan hasil tes rapid bisa diketahui hanya dalam hitungan jam.

Taruhlah akurasi tes rapid sebesar 30% seperti data dari lembaga Cochrane’s, Inggris. Artinya dalam satu-hingga-dua jam kita bisa mendapatkan hasil dengan akurasi 30% sembari menunggu konfirmasi yang lebih akurat dari RT-PCR. Sekecil apapun akurasi dari tes rapid, akan sangat berguna untuk melindungi para nakes jika dibandingkan tidak sama sekali.

Akurasi memang menjadi parameter utama untuk menilai kualitas suatu modalitas penunjang diagnosis. Praktik kesehatan mengenal banyak dilema, termasuk menimang apakah layak menggunakan pemeriksaan yang cepat namun tidak akurat; atau bergeming hanya menggunakan pemeriksaan yang akurat namun lama.

Tes usap berbasis RT-PCR sebenarnya hanya memakan waktu kurang dari 6 jam, dengan syarat tersedianya mesin, reagen, dan tenaga terlatih untuk mengerjakan pemeriksaan ini. Molornya hasil tes usap hingga berhari-hari dikarenakan karena kurangnya kuantitas dan kualitas laboratorium RT-PCR di Indonesia. Jadi, jalan keluar terbaik dari dilema di atas adalah memfasilitasi sebanyak mungkin laboratorium supaya mampu melakukan pemeriksaan RT-PCR.

Jika solusi ideal diatas belum bisa terpenuhi, maka keputusan menggunakan tes rapid atau hanya menunggu hasil RT-PCR adalah otoritas mutlak tenaga kesehatan. Dengan segala hormat, masyarakat awam tentang kesehatan, tidak memiliki kewenangan untuk menentukan apakah tes rapid layak atau patut ditolak.

Latahnya penolakan terhadap tes rapid saya khawatirkan juga akan merembet terhadap varian tes rapid yang sedang dikembangkan, yakni tes rapid berbasis antigen. Pokoknya, asal ada embel-embel kata tes rapid, maka hanya ada satu kata: TOLAK!. Padahal, tidak seperti tes rapid berbasis antibodi yang telah beredar di pasaran, tes rapid berbasis antigen secara teori memiliki tingkat akurasi yang lebih baik.

Mengapa? Antibodi dihasilkan oleh tubuh setelah terinfeksi kuman (termasuk virus korona), sedangkan antigen adalah fragmen atau potongan protein yang memang terdapat pada kuman tersebut. Artinya, antibodi perlu waktu untuk terbentuk dalam tubuh (bisa saja tidak terbentuk, namun terbatas pada kasus-kasus tertentu), sedangkan antigen bisa terdeteksi saat kuman menginfeksi tubuh. Prinsip antigen juga digunakan pada metode RT-PCR. Lebih cepat, lebih akurat.

Selain itu, serendah-rendahnya akurasi tes rapid berbasis antibodi, tetap saja memiliki kegunaan tertentu: yakni pada kasus survei serologi. Seiring dengan perkembangan teknologi yang dimotori oleh para ilmuwan di seluruh dunia, diharapakan tes rapid berbasis antibodi ini akan semakin baik tingkat akurasinya. Survei serologi menggunakan tes rapid antibodi utamanya berguna untuk skrining efektivitas vaksinasi, termasuk kemungkinan pembukaan kembali aktivitas sosial-ekonomi.

**

Demokrasi memang memberikan kebebasan tiap orang untuk berpendapat, termasuk kebebasan tiap orang untuk memilih menjadi praktisi kesehatan, musisi, atau pilihan karier lainnya. Lebih mengikuti pendapat musisi sebagai pedoman menghadapi pandemi COVID-19, dibandingkan ilmu dan pengalaman akademisi serta tenaga kesehatan adalah sebaik-baiknya tanda democrazy.

You demo, I crazy. Anda demonstrasi menolak tes rapid, kami sebagai nakes yang gila memikirkan kemungkinan penularan COVID-19 pada kerumunan yang tidak mengindahkan masker dan protokol kesehatan secara garis besar. Kami yang hilang pikir dan harapan jika kasus COVID-19 membludak—termasuk peningkatan angka infeksi pada nakes, sehingga harus menutup layanan kesehatan.

Kecuali anda mau operasi usus buntu anda dilakukan oleh seorang penabuh drum, atau prosedur cuci darah anda dilakukan oleh seorang pengacara dan aktivis lingkungan, ya silahkan saja melakukan apapun terkait pandemi ini.

Terima kasih atas kekhawatiran masyarakat dengan akurasi atau penyalahgunaan tes rapid di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Karena saya, dan hampir seluruh nakes lainnya juga memiliki dilema yang sama. Tetapi, jika boleh saya meminta: sampaikanlah aspirasi kepada pemerintah agar menyediakan pemeriksaan RT-PCR sebanyak-banyaknya. Atau percepat pengembangan tes rapid berbasis antigen.

Jangan lupa sertakan klausul agar kedua pemeriksaan itu bisa ditanggung sepenuhnya oleh negara. Saya amat sangat mendambakan pemeriksaan yang ideal, dan bisa diakses seluas-luasnya secara gratis. Dengan begitu, ketergantungan terhadap tes rapid antibodi bisa dikikis secara perlahan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Budaya Bali, Kunci Pengembangan Pariwisata Medis

Next Post

Benci, Benar-benar Cinta

Rsi Suwardana

Rsi Suwardana

Lulus sebagai dokter umum tahun 2018, memiliki ketertarikan dalam bidang mikrobiologi

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Benci, Benar-benar Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co