2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

COVID-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [3] – Rapid Lagi, Rapid Lagi…

Rsi Suwardana by Rsi Suwardana
August 14, 2020
in Esai
Covid-19: Sebuah Pandemi, Sebuah Cerita [1]

Apakah susah sekali untuk mencerna, mengapa setiap pasien yang hendak dirawat di rumah sakit—termasuk Ibu melahirkan—harus menjalani tes rapid berbasis antibodi COVID-19? Sederhananya, untuk memperkecil kemungkinan penularan pandemi kepada tenaga kesehatan (nakes).

Bukan bermaksud egois dan cenderung mengutamakan keselamatan nakes. Sayangnya, kami adalah penjaga gawang dalam pertandingan melawan virus ini. Tidak usah muluk-muluk melabeli nakes sebagai pahlawan garda terdepan, cukup mengerti akan posisi kami saat ini.

Jika banyak nakes yang terinfeksi COVID-19, dengan berat hati, maka layanan kesehatan terpaksa akan berhenti beroperasi. Bisa saja layanan kesehatan yang tutup itu adalah cuci darah rutin bagi pasien gagal ginjal stadium akhir; atau pemeriksaan kehamilan dan persalinan untuk Ibu hamil; atau mungkin pelayanan gawat darurat yang idealnya tetap beroperasi dua-puluh-empat-jam tanpa henti.  

Melakukan tes rapid bertujuan untuk mendeteksi secara dini kemungkinan seorang pasien terpapar COVID-19. Bila ternyata hasil tes rapid pasien adalah reaktif, maka perawatannya akan dipindahkan ke ruang isolasi, dirawat oleh tim nakes dengan APD lengkap, kemudian akan dilakukan tes usap rongga hidung (swab test) sebagai konfirmasi apakah sang pasien adalah penderita COVID-19 atau bukan.

Tidak usah bermanis-manis mengatakan bahwa tes rapid bertujuan untuk menekan kasus COVID-19 di masyarakat. Semua ini adalah prosedur untuk mencegah penularan COVID-19 pada nakes. Tagar #flatteningthecurve (datarkan kurva epidemi) juga sebenarnya memiliki tujuan agar kasus COVID-19 tidak membludak dalam kurun waktu yang singkat, sehingga memberikan waktu nakes untuk bernafas dan menghindari ditutupnya pelbagai layanan kesehatan.

Jika penjaga gawang cidera, apakah anda mau penyerang atau pemain tengah yang berdiri di bawah mistar? Berapa banyak gol yang akan diciptakan oleh tim lawan?

Berapa banyak korban jiwa yang harus berjatuhan jika layanan kesehatan ambruk bahkan kolaps?

Dengan memahami posisi nakes dan kegunaan tes rapid, lalu bagaimana bila ada sepercik aspirasi di masyarakat untuk menolak penggunaan tes rapid?

Satu hal yang tak akan lelah saya sampaikan, COVID-19 ini begitu unik. Ia memiliki gejala yang mirip dengan hampir seluruh penyakit infeksi pada saluran nafas: demam, batuk, atau sesak nafas. Di sisi lain, virus ini dapat menginfeksi pasien tanpa menimbulkan gejala klinis sebagai tanda keberadaannya.

Pasien yang mengeluh demam dan batuk mungkin saja tidak terpapar COVID-19, sebaliknya pasien yang merasa dirinya tidak ada gejala saluran nafas bisa saja mengidap virus ini.

Pasien pertama dengan demam dan batuk itu, tak ayal pasti sangat khawatir terinfeksi COVID-19. Stigma dan pikiran negatif lainnya boleh jadi sempat lalu-lalang di pikirannya. Sedangkan pasien kedua, bisa jadi ia jumawa dan terlalu yakin bahwa hasil tesnya akan negatif karena dirinya merasa sehat-sehat saja. Bukan tidak mungkin, ia akan menolak dan mencampakkan hasil tes yang menyatakan bahwa dirinya positif terinfeksi COVID-19.

Sayangnya, ilustrasi di atas adalah riil dan memang benar-benar terjadi pada kasus pandemi ini. Dalam situasi seperti sekarang, maka pemeriksaan penunjang benar-benar krusial untuk mendiagnosis si sakit dan si tidak sakit.

Sejujurnya, saya pribadi mempertanyakan keputusan pemerintah untuk menggunakan tes rapid sebagai deteksi dini kasus COVID-19, bahkan WHO pun sebenarnya tidak menyarankan penggunaan tes rapid berbasis antibodi—seperti yang beredar di Indonesia, untuk deteksi dini.

Seyogianya pemeriksaan konfirmasi COVID-19 menggunakan tes usap dengan metode RT-PCR. Namun karena terbatasnya kapasitas laboratorium RT-PCR di Indonesia, maka tes rapid menjadi pilihan satu-satunya yang tersisa.

Tes rapid memang memiliki akurasi yang rendah. Faktanya sampai saat ini belum ada penelitian atau rilis resmi tentang tingkat akurasi dari tes rapid di Indonesia. Sedangkan metode RT-PCR memiliki tingkat akurasi diatas 70%, bahkan beberapa reagen mampu menghasilkan akurasi hingga 95%.

Tetapi, tes rapid bisa mengisi kekurangan dari metode RT-PCR, yakni WAKTU. Butuh waktu berhari-hari bahkan mingguan untuk bisa mendapatkan hasil RT-PCR, sedangkan hasil tes rapid bisa diketahui hanya dalam hitungan jam.

Taruhlah akurasi tes rapid sebesar 30% seperti data dari lembaga Cochrane’s, Inggris. Artinya dalam satu-hingga-dua jam kita bisa mendapatkan hasil dengan akurasi 30% sembari menunggu konfirmasi yang lebih akurat dari RT-PCR. Sekecil apapun akurasi dari tes rapid, akan sangat berguna untuk melindungi para nakes jika dibandingkan tidak sama sekali.

Akurasi memang menjadi parameter utama untuk menilai kualitas suatu modalitas penunjang diagnosis. Praktik kesehatan mengenal banyak dilema, termasuk menimang apakah layak menggunakan pemeriksaan yang cepat namun tidak akurat; atau bergeming hanya menggunakan pemeriksaan yang akurat namun lama.

Tes usap berbasis RT-PCR sebenarnya hanya memakan waktu kurang dari 6 jam, dengan syarat tersedianya mesin, reagen, dan tenaga terlatih untuk mengerjakan pemeriksaan ini. Molornya hasil tes usap hingga berhari-hari dikarenakan karena kurangnya kuantitas dan kualitas laboratorium RT-PCR di Indonesia. Jadi, jalan keluar terbaik dari dilema di atas adalah memfasilitasi sebanyak mungkin laboratorium supaya mampu melakukan pemeriksaan RT-PCR.

Jika solusi ideal diatas belum bisa terpenuhi, maka keputusan menggunakan tes rapid atau hanya menunggu hasil RT-PCR adalah otoritas mutlak tenaga kesehatan. Dengan segala hormat, masyarakat awam tentang kesehatan, tidak memiliki kewenangan untuk menentukan apakah tes rapid layak atau patut ditolak.

Latahnya penolakan terhadap tes rapid saya khawatirkan juga akan merembet terhadap varian tes rapid yang sedang dikembangkan, yakni tes rapid berbasis antigen. Pokoknya, asal ada embel-embel kata tes rapid, maka hanya ada satu kata: TOLAK!. Padahal, tidak seperti tes rapid berbasis antibodi yang telah beredar di pasaran, tes rapid berbasis antigen secara teori memiliki tingkat akurasi yang lebih baik.

Mengapa? Antibodi dihasilkan oleh tubuh setelah terinfeksi kuman (termasuk virus korona), sedangkan antigen adalah fragmen atau potongan protein yang memang terdapat pada kuman tersebut. Artinya, antibodi perlu waktu untuk terbentuk dalam tubuh (bisa saja tidak terbentuk, namun terbatas pada kasus-kasus tertentu), sedangkan antigen bisa terdeteksi saat kuman menginfeksi tubuh. Prinsip antigen juga digunakan pada metode RT-PCR. Lebih cepat, lebih akurat.

Selain itu, serendah-rendahnya akurasi tes rapid berbasis antibodi, tetap saja memiliki kegunaan tertentu: yakni pada kasus survei serologi. Seiring dengan perkembangan teknologi yang dimotori oleh para ilmuwan di seluruh dunia, diharapakan tes rapid berbasis antibodi ini akan semakin baik tingkat akurasinya. Survei serologi menggunakan tes rapid antibodi utamanya berguna untuk skrining efektivitas vaksinasi, termasuk kemungkinan pembukaan kembali aktivitas sosial-ekonomi.

**

Demokrasi memang memberikan kebebasan tiap orang untuk berpendapat, termasuk kebebasan tiap orang untuk memilih menjadi praktisi kesehatan, musisi, atau pilihan karier lainnya. Lebih mengikuti pendapat musisi sebagai pedoman menghadapi pandemi COVID-19, dibandingkan ilmu dan pengalaman akademisi serta tenaga kesehatan adalah sebaik-baiknya tanda democrazy.

You demo, I crazy. Anda demonstrasi menolak tes rapid, kami sebagai nakes yang gila memikirkan kemungkinan penularan COVID-19 pada kerumunan yang tidak mengindahkan masker dan protokol kesehatan secara garis besar. Kami yang hilang pikir dan harapan jika kasus COVID-19 membludak—termasuk peningkatan angka infeksi pada nakes, sehingga harus menutup layanan kesehatan.

Kecuali anda mau operasi usus buntu anda dilakukan oleh seorang penabuh drum, atau prosedur cuci darah anda dilakukan oleh seorang pengacara dan aktivis lingkungan, ya silahkan saja melakukan apapun terkait pandemi ini.

Terima kasih atas kekhawatiran masyarakat dengan akurasi atau penyalahgunaan tes rapid di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Karena saya, dan hampir seluruh nakes lainnya juga memiliki dilema yang sama. Tetapi, jika boleh saya meminta: sampaikanlah aspirasi kepada pemerintah agar menyediakan pemeriksaan RT-PCR sebanyak-banyaknya. Atau percepat pengembangan tes rapid berbasis antigen.

Jangan lupa sertakan klausul agar kedua pemeriksaan itu bisa ditanggung sepenuhnya oleh negara. Saya amat sangat mendambakan pemeriksaan yang ideal, dan bisa diakses seluas-luasnya secara gratis. Dengan begitu, ketergantungan terhadap tes rapid antibodi bisa dikikis secara perlahan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Budaya Bali, Kunci Pengembangan Pariwisata Medis

Next Post

Benci, Benar-benar Cinta

Rsi Suwardana

Rsi Suwardana

Lulus sebagai dokter umum tahun 2018, memiliki ketertarikan dalam bidang mikrobiologi

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Benci, Benar-benar Cinta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co