22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Kasta di Bibir Gelas

Agus Wiratama by Agus Wiratama
August 11, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Hari itu, Grudug terlihat aneh. Tingkah aneh itu diperhatikan oleh temannya. Ia diperhatikan lantaran lamanya ia mencecap gelas. Seperti biasa satu gelas diputar untuk bersama, tetapi ketika temannya ingin menuangkan minuman, ternyata gelas itu masih menempel di mulut Grudug. Sebelumnya ia terlihat normal. Begitu tiba gilirannya, Grudug langsung menyambar gelas dan mengangkat minuman, sehingga teman-temannya memberi julukan “bata kering”. Giliran tiba, minuman langsung diteguk habis. Tapi yang tidak normal kemudian terlihat ketika Grudug melekatkan gelas di bibirnya. Dilumatnya gelas itu sangat lama lalu diputar-putar di bibirnya. Bahkan sesekali lidahnya menjulur ke dalam gelas. Sebetulnya menjijikkan, tetapi tidak bagi teman-temannya yang sudah mulai oleng.

Temannya, katakanlah Gung Alem, adalah orang yang memperhatikan Grudug. Gung Alem duduk di sebelah Grudug dan itu berarti, setelah Grudug, adalah giliran Gung Alem yang minum dari gelas itu. Gung Alem yang kebetulan bertugas menuangkan minuman melihat apa yang dilakukan Grudug. Seketika saja, Gung Alem yang setengah sadar itu mengejek Grudug, katanya, “Sudah berapa lama kau tak bertemu pacar, sampai-sampai gelas kau begitukan.” Lalu terdengar ledakan tawa dari teman-temannya.

Grudug hanya ketawa sambil memejam-mejamkan matanya untuk berpura-pura susah payah menghabiskan minuman kecut itu. Tak luput, ia langsung mengeluarkan lidahnya untuk membuat ia terlihat susah meminum minuman yang warnanya putih pekat itu karena rasanya tajam di lidah.

Semenjak beberapa hari yang lalu, Grudug sebenarnya kesal dengan Gung Alem. Ketika itu, mereka minum-minum namun hanya berdua, tercurahkanlah segala perasaan Gung Alem. Mereka curhat masalah adik perempuan Gung Alem yang belum menikah hingga berumur lebih dari 25 tahun, padahal, adiknya, Gek Mirah punya rencana pada umur itu akan menikah, tetapi berhubung belum bertemu dengan orang yang berkasta, Gek Mirah dilarang menikah oleh orang tuanya.

“Jaman sekarang masih saja memperhitungkan kasta. Jaman udah modern tapi orang tuaku kok kolot gitu sih, kan kasihan adikku sudah tua belum juga menikah”

Grudug merasa tersentuh dengan perhatian Gung Alem pada adiknya, tetapi ia tak punya saran sehingga ia hanya berkata, “Mana bisa kita melawan kehendak orang tua, kecuali nekad kawin lari, Gung!”

“Padahal ya, pacar adikku itu ganteng, kerja di bank dengan penghasilan besar. Aku kenal betul dengan pacarnya itu, baik orangnya.”

Grudug sontak saja menanggapi itu, “Berarti Gung Alem setuju karena lelaki itu kaya dan ganteng?”

Gung alem pun langsung menyambar pertanyaan itu dengan segala pengetahuannya tentang kesetaraan meski tertatih-tatih, “Kita mestinya melihat orang sebagai manusia, masak cuma gara-gara kasta, kita tidak mau menerima orang, Sing dadi keto!”

“Mungkin orang tuanya Gung takut anaknya nikah jauh. Jodohin sama saya aja, Gung! hahaha” celetuk Grudug.

“Boleh saja, tapi masalahnya kau masih pengangguran, lulus belum, disebut kuliah juga gak pantas karena lebih sering di rumah. Nikah itu perlu status yang jelas!”

Mendengar itu semua, tentu saja Grudug bahagia meski ditolak begitu. Toh itu cuma candaan. Ia berpikir, inilah perkembangan zaman, perkembangan kesadaran kesetaraan manusia, toh sekarang bukan zaman kerajaan lagi yang membuat orang harus menyembah-nyembah orang yang berkasta lebih tinggi.

Tapi tunggu dulu. Grudug adalah seseorang dari kasta biasa, tentu secara harfiah tidak bisa disejajarkan dengan Gung Alem yang tergolong kasta tinggi. Beberapa hari yang lalu odalan digelar di rumah Grudug, Gung Alem pun datang ke sana dengan niat ngobrol melanjutkan obrolan sebelumnya. Ketika itulah kasta bekerja.

Datanglah Ibu Grudug, membawakan buah-buahan berkelas impor, kue yang khusus dipesan dengan rasa dan penampilan berkualitas, lalu disodorkanlah pada mereka, “Ini silakan Gung, tapi ini lungsuran di Sanggah, Ibu gak punya makanan selain lungsuran, maaf ya, Gung”

Memang hal yang normal, makanan yang sempat dijadikan sesajen di Sanggah tak boleh disantap oleh orang berkasta yang lebih tinggi. Tetapi, kalau makanan itu dijadikan sesajen di Pura umum, sah-sah saja bagi siapa pun.

Ibu Grudug ketika itu, hanya menawari yang terbaik. Semua lungsuran itu dianggap istimewa dan berkelas, sementara makanan yang belum dijadikan sesajen atau Sukla hanya beberapa biji pisang yang masak pun belum, jadi terpaksa yang ditawarkan itu adalah lungsuran. Lagi pula, apabila teman-teman Grudug datang ke rumah, biasanya mereka ditawari lungsuran toh langsung disambar.

“Anak-anak sepantaran Grudug kayaknya sudah enggak mikirin hal begituan,” pikir ibu Grudug dalam hati. Tetapi sebagai rasa hormat, Ibunya selalu memberitahu, makanan itu entah Sukla, Lungsuran Pura, atau Lungsuran Sanggah pada orang yang disajikan.

Mungkin hanya sebagai bentuk kesopanan, Gung Alem pun menjawab, “Gak apa-apa, Bu. Makasi Nggih” tanpa gestur yang mengikuti ucapan itu.

Selama obrolan, Grudug terus memperhatikan tangan Gung Alem. Ia ingin tahu bagaimana responnya terhadap lungsuran itu. Setiap Gung Alem mengangkat atau memindahkan tanggannya, dalam hati Grudug tersenyum. Tetapi sampai obrolan habis, jajan terpilih yang dianggap paling enak oleh ibunya tak disentuh oleh Gung Alem.

Merasa tak sabar, Grudug mengambil jajan itu, dan menawarinya pada Gung Alem, “Enak ni, Gung. Coba aja,” kata Grudug menawari

Gung Alem menolak, Grudug jadi kesal terlebih Gung Alem bertanya, “Gak ada yang masih sukla?”

Seketika wajah Grudug memerah, namun ia tak menyampaikan isi hatinya. Biasanya hal-hal seperti ini akan diceritakan pada saat minum-minum dan kesadaran sedikit menurun, baru plong rasanya ia bercerita.

Entah bagaimana ceritanya, Gurudug tidak menyampaikan kekesalan itu pada Gung Alem pada saat minum-minum itu. Sebagai gantinya ia justru mengerjai temannya itu. Ia melumat gelasnya. Ketika gelas ia ambil, perlahan lahan ia tempelkan bibir gelas ke bibirnya lalu ia putarlah bibir gelas itu sehingga semua bagian gelas itu basah oleh bibir Grudug.

“Kalau ngomong berbuih-buih soal kesetaraan, tapi masih juga gak mau lungsuran, nih rasain senjata andalanku” kata Grudug dalam hati dengan berkobar-kobar. [T]

Tags: balikastapersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aud Kelor: “Anak Kedua” Carma Citrawati yang Komikal, Satir dan Menggemaskan

Next Post

New Normal, New Acne

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails
Next Post
Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

New Normal, New Acne

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co