23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Kasta di Bibir Gelas

Agus Wiratama by Agus Wiratama
August 11, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Hari itu, Grudug terlihat aneh. Tingkah aneh itu diperhatikan oleh temannya. Ia diperhatikan lantaran lamanya ia mencecap gelas. Seperti biasa satu gelas diputar untuk bersama, tetapi ketika temannya ingin menuangkan minuman, ternyata gelas itu masih menempel di mulut Grudug. Sebelumnya ia terlihat normal. Begitu tiba gilirannya, Grudug langsung menyambar gelas dan mengangkat minuman, sehingga teman-temannya memberi julukan “bata kering”. Giliran tiba, minuman langsung diteguk habis. Tapi yang tidak normal kemudian terlihat ketika Grudug melekatkan gelas di bibirnya. Dilumatnya gelas itu sangat lama lalu diputar-putar di bibirnya. Bahkan sesekali lidahnya menjulur ke dalam gelas. Sebetulnya menjijikkan, tetapi tidak bagi teman-temannya yang sudah mulai oleng.

Temannya, katakanlah Gung Alem, adalah orang yang memperhatikan Grudug. Gung Alem duduk di sebelah Grudug dan itu berarti, setelah Grudug, adalah giliran Gung Alem yang minum dari gelas itu. Gung Alem yang kebetulan bertugas menuangkan minuman melihat apa yang dilakukan Grudug. Seketika saja, Gung Alem yang setengah sadar itu mengejek Grudug, katanya, “Sudah berapa lama kau tak bertemu pacar, sampai-sampai gelas kau begitukan.” Lalu terdengar ledakan tawa dari teman-temannya.

Grudug hanya ketawa sambil memejam-mejamkan matanya untuk berpura-pura susah payah menghabiskan minuman kecut itu. Tak luput, ia langsung mengeluarkan lidahnya untuk membuat ia terlihat susah meminum minuman yang warnanya putih pekat itu karena rasanya tajam di lidah.

Semenjak beberapa hari yang lalu, Grudug sebenarnya kesal dengan Gung Alem. Ketika itu, mereka minum-minum namun hanya berdua, tercurahkanlah segala perasaan Gung Alem. Mereka curhat masalah adik perempuan Gung Alem yang belum menikah hingga berumur lebih dari 25 tahun, padahal, adiknya, Gek Mirah punya rencana pada umur itu akan menikah, tetapi berhubung belum bertemu dengan orang yang berkasta, Gek Mirah dilarang menikah oleh orang tuanya.

“Jaman sekarang masih saja memperhitungkan kasta. Jaman udah modern tapi orang tuaku kok kolot gitu sih, kan kasihan adikku sudah tua belum juga menikah”

Grudug merasa tersentuh dengan perhatian Gung Alem pada adiknya, tetapi ia tak punya saran sehingga ia hanya berkata, “Mana bisa kita melawan kehendak orang tua, kecuali nekad kawin lari, Gung!”

“Padahal ya, pacar adikku itu ganteng, kerja di bank dengan penghasilan besar. Aku kenal betul dengan pacarnya itu, baik orangnya.”

Grudug sontak saja menanggapi itu, “Berarti Gung Alem setuju karena lelaki itu kaya dan ganteng?”

Gung alem pun langsung menyambar pertanyaan itu dengan segala pengetahuannya tentang kesetaraan meski tertatih-tatih, “Kita mestinya melihat orang sebagai manusia, masak cuma gara-gara kasta, kita tidak mau menerima orang, Sing dadi keto!”

“Mungkin orang tuanya Gung takut anaknya nikah jauh. Jodohin sama saya aja, Gung! hahaha” celetuk Grudug.

“Boleh saja, tapi masalahnya kau masih pengangguran, lulus belum, disebut kuliah juga gak pantas karena lebih sering di rumah. Nikah itu perlu status yang jelas!”

Mendengar itu semua, tentu saja Grudug bahagia meski ditolak begitu. Toh itu cuma candaan. Ia berpikir, inilah perkembangan zaman, perkembangan kesadaran kesetaraan manusia, toh sekarang bukan zaman kerajaan lagi yang membuat orang harus menyembah-nyembah orang yang berkasta lebih tinggi.

Tapi tunggu dulu. Grudug adalah seseorang dari kasta biasa, tentu secara harfiah tidak bisa disejajarkan dengan Gung Alem yang tergolong kasta tinggi. Beberapa hari yang lalu odalan digelar di rumah Grudug, Gung Alem pun datang ke sana dengan niat ngobrol melanjutkan obrolan sebelumnya. Ketika itulah kasta bekerja.

Datanglah Ibu Grudug, membawakan buah-buahan berkelas impor, kue yang khusus dipesan dengan rasa dan penampilan berkualitas, lalu disodorkanlah pada mereka, “Ini silakan Gung, tapi ini lungsuran di Sanggah, Ibu gak punya makanan selain lungsuran, maaf ya, Gung”

Memang hal yang normal, makanan yang sempat dijadikan sesajen di Sanggah tak boleh disantap oleh orang berkasta yang lebih tinggi. Tetapi, kalau makanan itu dijadikan sesajen di Pura umum, sah-sah saja bagi siapa pun.

Ibu Grudug ketika itu, hanya menawari yang terbaik. Semua lungsuran itu dianggap istimewa dan berkelas, sementara makanan yang belum dijadikan sesajen atau Sukla hanya beberapa biji pisang yang masak pun belum, jadi terpaksa yang ditawarkan itu adalah lungsuran. Lagi pula, apabila teman-teman Grudug datang ke rumah, biasanya mereka ditawari lungsuran toh langsung disambar.

“Anak-anak sepantaran Grudug kayaknya sudah enggak mikirin hal begituan,” pikir ibu Grudug dalam hati. Tetapi sebagai rasa hormat, Ibunya selalu memberitahu, makanan itu entah Sukla, Lungsuran Pura, atau Lungsuran Sanggah pada orang yang disajikan.

Mungkin hanya sebagai bentuk kesopanan, Gung Alem pun menjawab, “Gak apa-apa, Bu. Makasi Nggih” tanpa gestur yang mengikuti ucapan itu.

Selama obrolan, Grudug terus memperhatikan tangan Gung Alem. Ia ingin tahu bagaimana responnya terhadap lungsuran itu. Setiap Gung Alem mengangkat atau memindahkan tanggannya, dalam hati Grudug tersenyum. Tetapi sampai obrolan habis, jajan terpilih yang dianggap paling enak oleh ibunya tak disentuh oleh Gung Alem.

Merasa tak sabar, Grudug mengambil jajan itu, dan menawarinya pada Gung Alem, “Enak ni, Gung. Coba aja,” kata Grudug menawari

Gung Alem menolak, Grudug jadi kesal terlebih Gung Alem bertanya, “Gak ada yang masih sukla?”

Seketika wajah Grudug memerah, namun ia tak menyampaikan isi hatinya. Biasanya hal-hal seperti ini akan diceritakan pada saat minum-minum dan kesadaran sedikit menurun, baru plong rasanya ia bercerita.

Entah bagaimana ceritanya, Gurudug tidak menyampaikan kekesalan itu pada Gung Alem pada saat minum-minum itu. Sebagai gantinya ia justru mengerjai temannya itu. Ia melumat gelasnya. Ketika gelas ia ambil, perlahan lahan ia tempelkan bibir gelas ke bibirnya lalu ia putarlah bibir gelas itu sehingga semua bagian gelas itu basah oleh bibir Grudug.

“Kalau ngomong berbuih-buih soal kesetaraan, tapi masih juga gak mau lungsuran, nih rasain senjata andalanku” kata Grudug dalam hati dengan berkobar-kobar. [T]

Tags: balikastapersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aud Kelor: “Anak Kedua” Carma Citrawati yang Komikal, Satir dan Menggemaskan

Next Post

New Normal, New Acne

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

New Normal, New Acne

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co