2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Kasta di Bibir Gelas

Agus Wiratama by Agus Wiratama
August 11, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Hari itu, Grudug terlihat aneh. Tingkah aneh itu diperhatikan oleh temannya. Ia diperhatikan lantaran lamanya ia mencecap gelas. Seperti biasa satu gelas diputar untuk bersama, tetapi ketika temannya ingin menuangkan minuman, ternyata gelas itu masih menempel di mulut Grudug. Sebelumnya ia terlihat normal. Begitu tiba gilirannya, Grudug langsung menyambar gelas dan mengangkat minuman, sehingga teman-temannya memberi julukan “bata kering”. Giliran tiba, minuman langsung diteguk habis. Tapi yang tidak normal kemudian terlihat ketika Grudug melekatkan gelas di bibirnya. Dilumatnya gelas itu sangat lama lalu diputar-putar di bibirnya. Bahkan sesekali lidahnya menjulur ke dalam gelas. Sebetulnya menjijikkan, tetapi tidak bagi teman-temannya yang sudah mulai oleng.

Temannya, katakanlah Gung Alem, adalah orang yang memperhatikan Grudug. Gung Alem duduk di sebelah Grudug dan itu berarti, setelah Grudug, adalah giliran Gung Alem yang minum dari gelas itu. Gung Alem yang kebetulan bertugas menuangkan minuman melihat apa yang dilakukan Grudug. Seketika saja, Gung Alem yang setengah sadar itu mengejek Grudug, katanya, “Sudah berapa lama kau tak bertemu pacar, sampai-sampai gelas kau begitukan.” Lalu terdengar ledakan tawa dari teman-temannya.

Grudug hanya ketawa sambil memejam-mejamkan matanya untuk berpura-pura susah payah menghabiskan minuman kecut itu. Tak luput, ia langsung mengeluarkan lidahnya untuk membuat ia terlihat susah meminum minuman yang warnanya putih pekat itu karena rasanya tajam di lidah.

Semenjak beberapa hari yang lalu, Grudug sebenarnya kesal dengan Gung Alem. Ketika itu, mereka minum-minum namun hanya berdua, tercurahkanlah segala perasaan Gung Alem. Mereka curhat masalah adik perempuan Gung Alem yang belum menikah hingga berumur lebih dari 25 tahun, padahal, adiknya, Gek Mirah punya rencana pada umur itu akan menikah, tetapi berhubung belum bertemu dengan orang yang berkasta, Gek Mirah dilarang menikah oleh orang tuanya.

“Jaman sekarang masih saja memperhitungkan kasta. Jaman udah modern tapi orang tuaku kok kolot gitu sih, kan kasihan adikku sudah tua belum juga menikah”

Grudug merasa tersentuh dengan perhatian Gung Alem pada adiknya, tetapi ia tak punya saran sehingga ia hanya berkata, “Mana bisa kita melawan kehendak orang tua, kecuali nekad kawin lari, Gung!”

“Padahal ya, pacar adikku itu ganteng, kerja di bank dengan penghasilan besar. Aku kenal betul dengan pacarnya itu, baik orangnya.”

Grudug sontak saja menanggapi itu, “Berarti Gung Alem setuju karena lelaki itu kaya dan ganteng?”

Gung alem pun langsung menyambar pertanyaan itu dengan segala pengetahuannya tentang kesetaraan meski tertatih-tatih, “Kita mestinya melihat orang sebagai manusia, masak cuma gara-gara kasta, kita tidak mau menerima orang, Sing dadi keto!”

“Mungkin orang tuanya Gung takut anaknya nikah jauh. Jodohin sama saya aja, Gung! hahaha” celetuk Grudug.

“Boleh saja, tapi masalahnya kau masih pengangguran, lulus belum, disebut kuliah juga gak pantas karena lebih sering di rumah. Nikah itu perlu status yang jelas!”

Mendengar itu semua, tentu saja Grudug bahagia meski ditolak begitu. Toh itu cuma candaan. Ia berpikir, inilah perkembangan zaman, perkembangan kesadaran kesetaraan manusia, toh sekarang bukan zaman kerajaan lagi yang membuat orang harus menyembah-nyembah orang yang berkasta lebih tinggi.

Tapi tunggu dulu. Grudug adalah seseorang dari kasta biasa, tentu secara harfiah tidak bisa disejajarkan dengan Gung Alem yang tergolong kasta tinggi. Beberapa hari yang lalu odalan digelar di rumah Grudug, Gung Alem pun datang ke sana dengan niat ngobrol melanjutkan obrolan sebelumnya. Ketika itulah kasta bekerja.

Datanglah Ibu Grudug, membawakan buah-buahan berkelas impor, kue yang khusus dipesan dengan rasa dan penampilan berkualitas, lalu disodorkanlah pada mereka, “Ini silakan Gung, tapi ini lungsuran di Sanggah, Ibu gak punya makanan selain lungsuran, maaf ya, Gung”

Memang hal yang normal, makanan yang sempat dijadikan sesajen di Sanggah tak boleh disantap oleh orang berkasta yang lebih tinggi. Tetapi, kalau makanan itu dijadikan sesajen di Pura umum, sah-sah saja bagi siapa pun.

Ibu Grudug ketika itu, hanya menawari yang terbaik. Semua lungsuran itu dianggap istimewa dan berkelas, sementara makanan yang belum dijadikan sesajen atau Sukla hanya beberapa biji pisang yang masak pun belum, jadi terpaksa yang ditawarkan itu adalah lungsuran. Lagi pula, apabila teman-teman Grudug datang ke rumah, biasanya mereka ditawari lungsuran toh langsung disambar.

“Anak-anak sepantaran Grudug kayaknya sudah enggak mikirin hal begituan,” pikir ibu Grudug dalam hati. Tetapi sebagai rasa hormat, Ibunya selalu memberitahu, makanan itu entah Sukla, Lungsuran Pura, atau Lungsuran Sanggah pada orang yang disajikan.

Mungkin hanya sebagai bentuk kesopanan, Gung Alem pun menjawab, “Gak apa-apa, Bu. Makasi Nggih” tanpa gestur yang mengikuti ucapan itu.

Selama obrolan, Grudug terus memperhatikan tangan Gung Alem. Ia ingin tahu bagaimana responnya terhadap lungsuran itu. Setiap Gung Alem mengangkat atau memindahkan tanggannya, dalam hati Grudug tersenyum. Tetapi sampai obrolan habis, jajan terpilih yang dianggap paling enak oleh ibunya tak disentuh oleh Gung Alem.

Merasa tak sabar, Grudug mengambil jajan itu, dan menawarinya pada Gung Alem, “Enak ni, Gung. Coba aja,” kata Grudug menawari

Gung Alem menolak, Grudug jadi kesal terlebih Gung Alem bertanya, “Gak ada yang masih sukla?”

Seketika wajah Grudug memerah, namun ia tak menyampaikan isi hatinya. Biasanya hal-hal seperti ini akan diceritakan pada saat minum-minum dan kesadaran sedikit menurun, baru plong rasanya ia bercerita.

Entah bagaimana ceritanya, Gurudug tidak menyampaikan kekesalan itu pada Gung Alem pada saat minum-minum itu. Sebagai gantinya ia justru mengerjai temannya itu. Ia melumat gelasnya. Ketika gelas ia ambil, perlahan lahan ia tempelkan bibir gelas ke bibirnya lalu ia putarlah bibir gelas itu sehingga semua bagian gelas itu basah oleh bibir Grudug.

“Kalau ngomong berbuih-buih soal kesetaraan, tapi masih juga gak mau lungsuran, nih rasain senjata andalanku” kata Grudug dalam hati dengan berkobar-kobar. [T]

Tags: balikastapersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aud Kelor: “Anak Kedua” Carma Citrawati yang Komikal, Satir dan Menggemaskan

Next Post

New Normal, New Acne

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

New Normal, New Acne

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co