26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Ajip, Yang Sapardi, dan Yang Segala Ditinggalkan

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
August 6, 2020
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Yang fana adalah waktu, kita abadi.

Selamat jalan, Pak Sapardi.

Demikianlah. Penggalan demi penggalan puisi karya Sapardi Djoko Damono melintas pada dinding facebook, feed story instagram, dan cuitan twitter sejak 19 Juli lalu. Belum habis mengenang sosok penyair aku ingin mencintaimu dengan sederhana ini, sepekan setelahnya, 29 Juli lalu, kembali kita dilimpahkan berita duka. Sastrawan Ajip Rosidi juga diberitakan telah berpulang. Juli tahun ini seolah menjadi bulan kita kehilangan.

Tak ada hujan di bulan Juni ini. Ada hanya gerimis acara tribute mengenang Sapardi yang melintas tipis-tipis di bulan Juli. Jika sampai tahun 2020 ini kita masih dapat menikmati suka cita para sastrawan bahasa daerah merayakan Penghargaan Sastra Rancage, entahlah tahun depan. Adakah acara yang khusus memberikan penghargan bagi sastra daerah ini akan tetap terselenggara? Setelah berpulangnya Ajip Rosidi yang notabene menjadi salah satu tokoh penting atas berdirinya Yayasan Kebudayaan Rancage selaku penyelenggara, adakah acara tahun depan tetap diteruskan? Atau mungkin akan hilang begitu saja mengikuti kepergian Ajip.

Sapardi dan Ajip, meski tak sempat mengenal secara langsung, nama mereka seperti medan magnet yang mau tak mau, langsung tak langsung, senantiasa menempel kuat khususnya bagi mereka yang membaca sastra, kuliah sastra, atau jatuh bangun dalam lingkungan pergaulan sastra. Sama kualitasnya seperti mendengar nama Rendra, Putu Wijaya, Arifin C Noer yang tak asing di telinga kawan-kawan teater, sekalipun tak pernah benar-benar menonton pentas mereka. Dari sini kemudian saya pribadi menyadari, bahwa pintu masuk menuju segala hal, bisa bermula dari segala hal.

Masuk mengenal Sapardi misalnya, bukan pada puisi saya berjumpa pertama kali. Melainkan dari mendengar rekaman musikalisasi puisi ‘Aku Ingin’ aransemen Nanoq da Kansas dan Kelompok Musik Penyanyi Sakit Jiwa (Pesaji) yang diputar kawan-kawan teater waktu SMA. Dari musikalisasi puisi satu, bertemu lagi dengan musikalisasi puisi lainnya. Bertemulah dengan rekaman Ari Reda yang aransemennya hampir semua menyajikan puisi-puisi karya Sapardi. Barulah kemudian meniatkan diri membeli buku puisi, lalu membacanya, lalu berangan-angan menulis puisi bak Sapardi. Sampai sini saya tahu, jalan panjang untuk sampai mendekati puisi Sapardi ternyata tak sependek bait-bait dalam karyanya.

Setali tiga uang dengan Sapardi. Nama Ajip Rosidi, meski santer tercatat pada buku paket sekolah, pada modul dan bacaan kuliah bahasa, sastra dan jurnalistik sebagai refrensi, saya justru dibuat tertarik pertama kali karena acara Penghargaan Sastra Rancage yang diinisiasi Ajip. Satu momen yang selalu mengingatkan saya dengan Ajip dan Rancage adalah pada tahun 2018, saat di Bali sedang marak-maraknya menggelar hari berbahasa Bali yang dicanangkan setiap hari Kamis. Pula dengan bulan bahasa Bali yang rencananya digelar setiap bulan Februari.

Betapa saat itu sebagian besar masyarakat di Bali merayakannya penuh suka cita. Seperti anak TK yang baru masuk SD, berbondong-bondong memakai seragam dan alat tulis baru. Menggunggah foto berpakaian adat bali, status berbahasa Bali, bahkan sampai menggunjingkan mana pasang aksara dan kosakata yang tepat dan benar untuk digunakan. Atas fenomena ini, sastrawan Made Adnyana Ole sempat menulis di dinding facebooknya.

Yen sube mebaju adat bali jak mebasa bali, mai imbuhin memace buku-buku sastra mebasa bali. Liu timpal cang nerbitang buku pupulan puisi, satua cutet (cerpen) jak novel mebasa bali, jeg care sing ade nak rungu. Nerbitang buku 100, nak ngomongang 500, nak nakonang 200, nak meli 20, nak mace 5. Sisane sumbangan ke perpustakaan, tetep nyangklek di rak paling bucu sing ade nak ngusud.

Nak demen sing dadi kudiang. Agetne, ade yayasan di Bandung, sebilang atiban ngemaang penghargaan ke pengarang sastra bali modern jak lembaga ane rungu teken sastra bali. Catet, ento di Bandung!

Begitulah kehadiran sosok Ajip. Meski sosoknya jauh dari Bali, meski namanya tak ada disebut saat itu, meski tak ada kaitan sama sekali dengan apa yang terjadi antara Ajip dan perayaan bahasa Bali, namun hal-hal yang dilakukan Ajip—meski kecil dan sederhana buat sebagian orang—menjadi begitu berarti kehadirannya bagi orang-orang yang mengerti niat, semangat, dan gagasan yang dibangunnya. Ajip Rosidi, meski jauh di sana namun tetap terasa dekat di sekitar kita. Pun demikian dengan Sapardi.

Ajip Sapardi, meski lahir berbeda, hidup berbeda, keduanya sama-sama punya nasib yang sama yakni dikenang sebagai sosok maestro sastra. Sebagai tokoh sastra, secara kebetulan Sapardi dan Ajip sempat kami, sebagai mahasiswa mengusungnya sebagai tema Festival Sastra di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Undiksha, Singaraja. Tahun 2015 adalah tahun Sapardi, sementara 2016 adalah Ajip Rosidi. Saya pribadi—serta kawan-kawan mahasiswa—tentu bersyukur dapat mengikuti acara ini. Sebab dalam acara Festival Sastra Undiksha inilah, kami berkesempatan untuk mengenal sosok dan karya mereka, mengapresiasi sekaligus menelaahnya dalam berbagai bentuk kegiatan semacam membaca puisi, musikalisasi puisi, diskusi sastra, dan sebagainya.

Pada kecenderungan estetika, ciri khas dan karakternya masing-masing, Sapardi dan Ajip sama-sama memberikan pelajaran setidaknya bagi kami kala itu, bahwa dimanapun kita berada, siapapun kita, kau tetap bisa membawa sastra bagaimanapun caranya. Sapardi dan Ajip, sama-sama menulis puisi, sama-sama menulis cerpen, sama-sama menulis novel, bahkan sama-sama pula pernah menjadi dosen. Sapardi adalah guru besar di Universitas Indonesia, Ajip Rosidi, meski tak menamatkan pendidikan SMP, tetap mampu menjadi dosen di perguruan tinggi Indonesia, bahkan dipercaya mengajar sampai ke Jepang.

Tak ada pengkotakan bagi keduanya, antara akademisi dan sastrawan, kampus dan jalanan. Sapardi dan Ajip bergerak di antaranya, atau bahkan boleh dikata bertempat di manapun mereka suka. Ajip, selain pernah menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku, mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku dan Tenri Daigaku. Ia juga pernah menjadi editor, pimpinan redaksi di majalah Suluh Pelajar, Mingguan Sunda, dan majalah kebudayaan Budaya Jaya. Pula menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta periode 1972-1981 dan masih banyak lagi pekerjaan yang sempat ditekuni. Sedang Sapardi, yang meski telah jadi guru besar di Universitas Indonesia, juga sempat menjadi redaktur di sejumlah majalah seperti Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, dan Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia. Dalam berjibun kesibukannya, Ajip Sapardi tetap produktif menghasilkan karya sastra.

Perihal karya, Ajip dan Sapardi meski lebih dikenal dengan puisi dan prosa, juga punya perhatian lebih pada bidang teater, khususnya naskah drama. Ajip pernah membuat drama berbahasa Sunda yang berjudul ‘Masyitoh’, diterbitkan pertama kali pada 1962. Yang menarik dari drama ini adalah gagasannya yang berangkat dari kisah Siti Masyitoh di zaman Firaun. Ajip mencoba menggali nilai kemanusiaan dan religiusitas Masyitoh yang pada masa penjajahan dimaknai sebagai perempuan yang gila agama. Penggalian gagasan semacam ini boleh jadi jarang dilakukan menggunakan media bahasa daerah mungkin dalam sastra daerah hari ini.

Sementara Sapardi, sampai di usia senjanya sempat menerbitkan buku kumpulan esai yang menelaah perkembangan naskah drama di Indonesia berjudul ‘Drama di Indonesia’. Meski tak sepopuler buku puisinya, catatan drama Sapardi sejatinya cukup penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana perkembangan naskah drama Indonesia. Ketika teater kontemporer hari ini cenderung lebih banyak membicarakan perihal teater, tubuh, panggunggung dengan segala aspek dramaturgi dan gagasan lintas disiplin, ketika dalam sastra sendiri, drama begitu jarang ditelaah dibandingkan dengan telaah puisi dan prosa, buku ‘Drama di Indonesia’ Sapardi tentulah menjadi bahan penting untuk sumber telaah naskah drama dalam konteks sastra.

Maka, apa-apa yang dilakukan oleh Sapardi dan Ajip dalam konteks ini dapat dibaca sebagai usaha untuk menggenapi hal-hal yang belum tergenapi dalam khasanah kesastraan kita. Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, bahwa pintu masuk menuju segala hal, bisa bermula dari segala hal. Membaca Sapardi tak melulu perihal puisi, pun dengan Ajip Rosidi tak melulu perihal karya-karyanya. Antara sosok, karya, dan lingkungan sosial sesungguhnya saling berhubungan satu sama lain. Memberi pengaruh pada siapapun di kejauhan. Selamanya. Meski Sapardi dan Ajip telah tak ada, akan tetap ada begitu banyak pintu untuk masuk mengabadikannya. Sebab yang fana adalah waktu, kita abadi.

Denpasar, 2020

Tags: Ajip Rosidiin memoriamSapardi Djoko DamonosastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memaknai Calonarang

Next Post

Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co