6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Ajip, Yang Sapardi, dan Yang Segala Ditinggalkan

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
August 6, 2020
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Yang fana adalah waktu, kita abadi.

Selamat jalan, Pak Sapardi.

Demikianlah. Penggalan demi penggalan puisi karya Sapardi Djoko Damono melintas pada dinding facebook, feed story instagram, dan cuitan twitter sejak 19 Juli lalu. Belum habis mengenang sosok penyair aku ingin mencintaimu dengan sederhana ini, sepekan setelahnya, 29 Juli lalu, kembali kita dilimpahkan berita duka. Sastrawan Ajip Rosidi juga diberitakan telah berpulang. Juli tahun ini seolah menjadi bulan kita kehilangan.

Tak ada hujan di bulan Juni ini. Ada hanya gerimis acara tribute mengenang Sapardi yang melintas tipis-tipis di bulan Juli. Jika sampai tahun 2020 ini kita masih dapat menikmati suka cita para sastrawan bahasa daerah merayakan Penghargaan Sastra Rancage, entahlah tahun depan. Adakah acara yang khusus memberikan penghargan bagi sastra daerah ini akan tetap terselenggara? Setelah berpulangnya Ajip Rosidi yang notabene menjadi salah satu tokoh penting atas berdirinya Yayasan Kebudayaan Rancage selaku penyelenggara, adakah acara tahun depan tetap diteruskan? Atau mungkin akan hilang begitu saja mengikuti kepergian Ajip.

Sapardi dan Ajip, meski tak sempat mengenal secara langsung, nama mereka seperti medan magnet yang mau tak mau, langsung tak langsung, senantiasa menempel kuat khususnya bagi mereka yang membaca sastra, kuliah sastra, atau jatuh bangun dalam lingkungan pergaulan sastra. Sama kualitasnya seperti mendengar nama Rendra, Putu Wijaya, Arifin C Noer yang tak asing di telinga kawan-kawan teater, sekalipun tak pernah benar-benar menonton pentas mereka. Dari sini kemudian saya pribadi menyadari, bahwa pintu masuk menuju segala hal, bisa bermula dari segala hal.

Masuk mengenal Sapardi misalnya, bukan pada puisi saya berjumpa pertama kali. Melainkan dari mendengar rekaman musikalisasi puisi ‘Aku Ingin’ aransemen Nanoq da Kansas dan Kelompok Musik Penyanyi Sakit Jiwa (Pesaji) yang diputar kawan-kawan teater waktu SMA. Dari musikalisasi puisi satu, bertemu lagi dengan musikalisasi puisi lainnya. Bertemulah dengan rekaman Ari Reda yang aransemennya hampir semua menyajikan puisi-puisi karya Sapardi. Barulah kemudian meniatkan diri membeli buku puisi, lalu membacanya, lalu berangan-angan menulis puisi bak Sapardi. Sampai sini saya tahu, jalan panjang untuk sampai mendekati puisi Sapardi ternyata tak sependek bait-bait dalam karyanya.

Setali tiga uang dengan Sapardi. Nama Ajip Rosidi, meski santer tercatat pada buku paket sekolah, pada modul dan bacaan kuliah bahasa, sastra dan jurnalistik sebagai refrensi, saya justru dibuat tertarik pertama kali karena acara Penghargaan Sastra Rancage yang diinisiasi Ajip. Satu momen yang selalu mengingatkan saya dengan Ajip dan Rancage adalah pada tahun 2018, saat di Bali sedang marak-maraknya menggelar hari berbahasa Bali yang dicanangkan setiap hari Kamis. Pula dengan bulan bahasa Bali yang rencananya digelar setiap bulan Februari.

Betapa saat itu sebagian besar masyarakat di Bali merayakannya penuh suka cita. Seperti anak TK yang baru masuk SD, berbondong-bondong memakai seragam dan alat tulis baru. Menggunggah foto berpakaian adat bali, status berbahasa Bali, bahkan sampai menggunjingkan mana pasang aksara dan kosakata yang tepat dan benar untuk digunakan. Atas fenomena ini, sastrawan Made Adnyana Ole sempat menulis di dinding facebooknya.

Yen sube mebaju adat bali jak mebasa bali, mai imbuhin memace buku-buku sastra mebasa bali. Liu timpal cang nerbitang buku pupulan puisi, satua cutet (cerpen) jak novel mebasa bali, jeg care sing ade nak rungu. Nerbitang buku 100, nak ngomongang 500, nak nakonang 200, nak meli 20, nak mace 5. Sisane sumbangan ke perpustakaan, tetep nyangklek di rak paling bucu sing ade nak ngusud.

Nak demen sing dadi kudiang. Agetne, ade yayasan di Bandung, sebilang atiban ngemaang penghargaan ke pengarang sastra bali modern jak lembaga ane rungu teken sastra bali. Catet, ento di Bandung!

Begitulah kehadiran sosok Ajip. Meski sosoknya jauh dari Bali, meski namanya tak ada disebut saat itu, meski tak ada kaitan sama sekali dengan apa yang terjadi antara Ajip dan perayaan bahasa Bali, namun hal-hal yang dilakukan Ajip—meski kecil dan sederhana buat sebagian orang—menjadi begitu berarti kehadirannya bagi orang-orang yang mengerti niat, semangat, dan gagasan yang dibangunnya. Ajip Rosidi, meski jauh di sana namun tetap terasa dekat di sekitar kita. Pun demikian dengan Sapardi.

Ajip Sapardi, meski lahir berbeda, hidup berbeda, keduanya sama-sama punya nasib yang sama yakni dikenang sebagai sosok maestro sastra. Sebagai tokoh sastra, secara kebetulan Sapardi dan Ajip sempat kami, sebagai mahasiswa mengusungnya sebagai tema Festival Sastra di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Undiksha, Singaraja. Tahun 2015 adalah tahun Sapardi, sementara 2016 adalah Ajip Rosidi. Saya pribadi—serta kawan-kawan mahasiswa—tentu bersyukur dapat mengikuti acara ini. Sebab dalam acara Festival Sastra Undiksha inilah, kami berkesempatan untuk mengenal sosok dan karya mereka, mengapresiasi sekaligus menelaahnya dalam berbagai bentuk kegiatan semacam membaca puisi, musikalisasi puisi, diskusi sastra, dan sebagainya.

Pada kecenderungan estetika, ciri khas dan karakternya masing-masing, Sapardi dan Ajip sama-sama memberikan pelajaran setidaknya bagi kami kala itu, bahwa dimanapun kita berada, siapapun kita, kau tetap bisa membawa sastra bagaimanapun caranya. Sapardi dan Ajip, sama-sama menulis puisi, sama-sama menulis cerpen, sama-sama menulis novel, bahkan sama-sama pula pernah menjadi dosen. Sapardi adalah guru besar di Universitas Indonesia, Ajip Rosidi, meski tak menamatkan pendidikan SMP, tetap mampu menjadi dosen di perguruan tinggi Indonesia, bahkan dipercaya mengajar sampai ke Jepang.

Tak ada pengkotakan bagi keduanya, antara akademisi dan sastrawan, kampus dan jalanan. Sapardi dan Ajip bergerak di antaranya, atau bahkan boleh dikata bertempat di manapun mereka suka. Ajip, selain pernah menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku, mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku dan Tenri Daigaku. Ia juga pernah menjadi editor, pimpinan redaksi di majalah Suluh Pelajar, Mingguan Sunda, dan majalah kebudayaan Budaya Jaya. Pula menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta periode 1972-1981 dan masih banyak lagi pekerjaan yang sempat ditekuni. Sedang Sapardi, yang meski telah jadi guru besar di Universitas Indonesia, juga sempat menjadi redaktur di sejumlah majalah seperti Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, dan Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia. Dalam berjibun kesibukannya, Ajip Sapardi tetap produktif menghasilkan karya sastra.

Perihal karya, Ajip dan Sapardi meski lebih dikenal dengan puisi dan prosa, juga punya perhatian lebih pada bidang teater, khususnya naskah drama. Ajip pernah membuat drama berbahasa Sunda yang berjudul ‘Masyitoh’, diterbitkan pertama kali pada 1962. Yang menarik dari drama ini adalah gagasannya yang berangkat dari kisah Siti Masyitoh di zaman Firaun. Ajip mencoba menggali nilai kemanusiaan dan religiusitas Masyitoh yang pada masa penjajahan dimaknai sebagai perempuan yang gila agama. Penggalian gagasan semacam ini boleh jadi jarang dilakukan menggunakan media bahasa daerah mungkin dalam sastra daerah hari ini.

Sementara Sapardi, sampai di usia senjanya sempat menerbitkan buku kumpulan esai yang menelaah perkembangan naskah drama di Indonesia berjudul ‘Drama di Indonesia’. Meski tak sepopuler buku puisinya, catatan drama Sapardi sejatinya cukup penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana perkembangan naskah drama Indonesia. Ketika teater kontemporer hari ini cenderung lebih banyak membicarakan perihal teater, tubuh, panggunggung dengan segala aspek dramaturgi dan gagasan lintas disiplin, ketika dalam sastra sendiri, drama begitu jarang ditelaah dibandingkan dengan telaah puisi dan prosa, buku ‘Drama di Indonesia’ Sapardi tentulah menjadi bahan penting untuk sumber telaah naskah drama dalam konteks sastra.

Maka, apa-apa yang dilakukan oleh Sapardi dan Ajip dalam konteks ini dapat dibaca sebagai usaha untuk menggenapi hal-hal yang belum tergenapi dalam khasanah kesastraan kita. Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, bahwa pintu masuk menuju segala hal, bisa bermula dari segala hal. Membaca Sapardi tak melulu perihal puisi, pun dengan Ajip Rosidi tak melulu perihal karya-karyanya. Antara sosok, karya, dan lingkungan sosial sesungguhnya saling berhubungan satu sama lain. Memberi pengaruh pada siapapun di kejauhan. Selamanya. Meski Sapardi dan Ajip telah tak ada, akan tetap ada begitu banyak pintu untuk masuk mengabadikannya. Sebab yang fana adalah waktu, kita abadi.

Denpasar, 2020

Tags: Ajip Rosidiin memoriamSapardi Djoko DamonosastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memaknai Calonarang

Next Post

Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co