17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Ajip, Yang Sapardi, dan Yang Segala Ditinggalkan

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
August 6, 2020
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Yang fana adalah waktu, kita abadi.

Selamat jalan, Pak Sapardi.

Demikianlah. Penggalan demi penggalan puisi karya Sapardi Djoko Damono melintas pada dinding facebook, feed story instagram, dan cuitan twitter sejak 19 Juli lalu. Belum habis mengenang sosok penyair aku ingin mencintaimu dengan sederhana ini, sepekan setelahnya, 29 Juli lalu, kembali kita dilimpahkan berita duka. Sastrawan Ajip Rosidi juga diberitakan telah berpulang. Juli tahun ini seolah menjadi bulan kita kehilangan.

Tak ada hujan di bulan Juni ini. Ada hanya gerimis acara tribute mengenang Sapardi yang melintas tipis-tipis di bulan Juli. Jika sampai tahun 2020 ini kita masih dapat menikmati suka cita para sastrawan bahasa daerah merayakan Penghargaan Sastra Rancage, entahlah tahun depan. Adakah acara yang khusus memberikan penghargan bagi sastra daerah ini akan tetap terselenggara? Setelah berpulangnya Ajip Rosidi yang notabene menjadi salah satu tokoh penting atas berdirinya Yayasan Kebudayaan Rancage selaku penyelenggara, adakah acara tahun depan tetap diteruskan? Atau mungkin akan hilang begitu saja mengikuti kepergian Ajip.

Sapardi dan Ajip, meski tak sempat mengenal secara langsung, nama mereka seperti medan magnet yang mau tak mau, langsung tak langsung, senantiasa menempel kuat khususnya bagi mereka yang membaca sastra, kuliah sastra, atau jatuh bangun dalam lingkungan pergaulan sastra. Sama kualitasnya seperti mendengar nama Rendra, Putu Wijaya, Arifin C Noer yang tak asing di telinga kawan-kawan teater, sekalipun tak pernah benar-benar menonton pentas mereka. Dari sini kemudian saya pribadi menyadari, bahwa pintu masuk menuju segala hal, bisa bermula dari segala hal.

Masuk mengenal Sapardi misalnya, bukan pada puisi saya berjumpa pertama kali. Melainkan dari mendengar rekaman musikalisasi puisi ‘Aku Ingin’ aransemen Nanoq da Kansas dan Kelompok Musik Penyanyi Sakit Jiwa (Pesaji) yang diputar kawan-kawan teater waktu SMA. Dari musikalisasi puisi satu, bertemu lagi dengan musikalisasi puisi lainnya. Bertemulah dengan rekaman Ari Reda yang aransemennya hampir semua menyajikan puisi-puisi karya Sapardi. Barulah kemudian meniatkan diri membeli buku puisi, lalu membacanya, lalu berangan-angan menulis puisi bak Sapardi. Sampai sini saya tahu, jalan panjang untuk sampai mendekati puisi Sapardi ternyata tak sependek bait-bait dalam karyanya.

Setali tiga uang dengan Sapardi. Nama Ajip Rosidi, meski santer tercatat pada buku paket sekolah, pada modul dan bacaan kuliah bahasa, sastra dan jurnalistik sebagai refrensi, saya justru dibuat tertarik pertama kali karena acara Penghargaan Sastra Rancage yang diinisiasi Ajip. Satu momen yang selalu mengingatkan saya dengan Ajip dan Rancage adalah pada tahun 2018, saat di Bali sedang marak-maraknya menggelar hari berbahasa Bali yang dicanangkan setiap hari Kamis. Pula dengan bulan bahasa Bali yang rencananya digelar setiap bulan Februari.

Betapa saat itu sebagian besar masyarakat di Bali merayakannya penuh suka cita. Seperti anak TK yang baru masuk SD, berbondong-bondong memakai seragam dan alat tulis baru. Menggunggah foto berpakaian adat bali, status berbahasa Bali, bahkan sampai menggunjingkan mana pasang aksara dan kosakata yang tepat dan benar untuk digunakan. Atas fenomena ini, sastrawan Made Adnyana Ole sempat menulis di dinding facebooknya.

Yen sube mebaju adat bali jak mebasa bali, mai imbuhin memace buku-buku sastra mebasa bali. Liu timpal cang nerbitang buku pupulan puisi, satua cutet (cerpen) jak novel mebasa bali, jeg care sing ade nak rungu. Nerbitang buku 100, nak ngomongang 500, nak nakonang 200, nak meli 20, nak mace 5. Sisane sumbangan ke perpustakaan, tetep nyangklek di rak paling bucu sing ade nak ngusud.

Nak demen sing dadi kudiang. Agetne, ade yayasan di Bandung, sebilang atiban ngemaang penghargaan ke pengarang sastra bali modern jak lembaga ane rungu teken sastra bali. Catet, ento di Bandung!

Begitulah kehadiran sosok Ajip. Meski sosoknya jauh dari Bali, meski namanya tak ada disebut saat itu, meski tak ada kaitan sama sekali dengan apa yang terjadi antara Ajip dan perayaan bahasa Bali, namun hal-hal yang dilakukan Ajip—meski kecil dan sederhana buat sebagian orang—menjadi begitu berarti kehadirannya bagi orang-orang yang mengerti niat, semangat, dan gagasan yang dibangunnya. Ajip Rosidi, meski jauh di sana namun tetap terasa dekat di sekitar kita. Pun demikian dengan Sapardi.

Ajip Sapardi, meski lahir berbeda, hidup berbeda, keduanya sama-sama punya nasib yang sama yakni dikenang sebagai sosok maestro sastra. Sebagai tokoh sastra, secara kebetulan Sapardi dan Ajip sempat kami, sebagai mahasiswa mengusungnya sebagai tema Festival Sastra di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Undiksha, Singaraja. Tahun 2015 adalah tahun Sapardi, sementara 2016 adalah Ajip Rosidi. Saya pribadi—serta kawan-kawan mahasiswa—tentu bersyukur dapat mengikuti acara ini. Sebab dalam acara Festival Sastra Undiksha inilah, kami berkesempatan untuk mengenal sosok dan karya mereka, mengapresiasi sekaligus menelaahnya dalam berbagai bentuk kegiatan semacam membaca puisi, musikalisasi puisi, diskusi sastra, dan sebagainya.

Pada kecenderungan estetika, ciri khas dan karakternya masing-masing, Sapardi dan Ajip sama-sama memberikan pelajaran setidaknya bagi kami kala itu, bahwa dimanapun kita berada, siapapun kita, kau tetap bisa membawa sastra bagaimanapun caranya. Sapardi dan Ajip, sama-sama menulis puisi, sama-sama menulis cerpen, sama-sama menulis novel, bahkan sama-sama pula pernah menjadi dosen. Sapardi adalah guru besar di Universitas Indonesia, Ajip Rosidi, meski tak menamatkan pendidikan SMP, tetap mampu menjadi dosen di perguruan tinggi Indonesia, bahkan dipercaya mengajar sampai ke Jepang.

Tak ada pengkotakan bagi keduanya, antara akademisi dan sastrawan, kampus dan jalanan. Sapardi dan Ajip bergerak di antaranya, atau bahkan boleh dikata bertempat di manapun mereka suka. Ajip, selain pernah menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku, mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku dan Tenri Daigaku. Ia juga pernah menjadi editor, pimpinan redaksi di majalah Suluh Pelajar, Mingguan Sunda, dan majalah kebudayaan Budaya Jaya. Pula menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta periode 1972-1981 dan masih banyak lagi pekerjaan yang sempat ditekuni. Sedang Sapardi, yang meski telah jadi guru besar di Universitas Indonesia, juga sempat menjadi redaktur di sejumlah majalah seperti Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, dan Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia. Dalam berjibun kesibukannya, Ajip Sapardi tetap produktif menghasilkan karya sastra.

Perihal karya, Ajip dan Sapardi meski lebih dikenal dengan puisi dan prosa, juga punya perhatian lebih pada bidang teater, khususnya naskah drama. Ajip pernah membuat drama berbahasa Sunda yang berjudul ‘Masyitoh’, diterbitkan pertama kali pada 1962. Yang menarik dari drama ini adalah gagasannya yang berangkat dari kisah Siti Masyitoh di zaman Firaun. Ajip mencoba menggali nilai kemanusiaan dan religiusitas Masyitoh yang pada masa penjajahan dimaknai sebagai perempuan yang gila agama. Penggalian gagasan semacam ini boleh jadi jarang dilakukan menggunakan media bahasa daerah mungkin dalam sastra daerah hari ini.

Sementara Sapardi, sampai di usia senjanya sempat menerbitkan buku kumpulan esai yang menelaah perkembangan naskah drama di Indonesia berjudul ‘Drama di Indonesia’. Meski tak sepopuler buku puisinya, catatan drama Sapardi sejatinya cukup penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana perkembangan naskah drama Indonesia. Ketika teater kontemporer hari ini cenderung lebih banyak membicarakan perihal teater, tubuh, panggunggung dengan segala aspek dramaturgi dan gagasan lintas disiplin, ketika dalam sastra sendiri, drama begitu jarang ditelaah dibandingkan dengan telaah puisi dan prosa, buku ‘Drama di Indonesia’ Sapardi tentulah menjadi bahan penting untuk sumber telaah naskah drama dalam konteks sastra.

Maka, apa-apa yang dilakukan oleh Sapardi dan Ajip dalam konteks ini dapat dibaca sebagai usaha untuk menggenapi hal-hal yang belum tergenapi dalam khasanah kesastraan kita. Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, bahwa pintu masuk menuju segala hal, bisa bermula dari segala hal. Membaca Sapardi tak melulu perihal puisi, pun dengan Ajip Rosidi tak melulu perihal karya-karyanya. Antara sosok, karya, dan lingkungan sosial sesungguhnya saling berhubungan satu sama lain. Memberi pengaruh pada siapapun di kejauhan. Selamanya. Meski Sapardi dan Ajip telah tak ada, akan tetap ada begitu banyak pintu untuk masuk mengabadikannya. Sebab yang fana adalah waktu, kita abadi.

Denpasar, 2020

Tags: Ajip Rosidiin memoriamSapardi Djoko DamonosastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memaknai Calonarang

Next Post

Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co