2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Lahan Sepermainan di Ibu Kota

PanchoNgaco by PanchoNgaco
July 28, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

“Ayo oper bolanya ke sini, Par!”

“Ke sini aja, Par. Gue kosong!”

“Woi ada motor noh, minggir dulu nyok!”

Sore itu, keseruan pertandingan sepak bola di dalam sebuah gang sempit di tengah Kota Jakarta tertunda sejenak. Sebab, ada tukang ojek dengan motor tuanya lewat membawa penumpang. Sekelompok anak yang terdiri dari 10 orang itu menepi ke kanan kiri untuk memastikan mereka tidak tertabrak motor. Salah satu dari mereka menyempatkan diri menyelamatkan bola dari tengah jalan.

Lain kesempatan, sebuah jalan kompleks perumahan tampak penuh oleh anak-anak usia di bawah 10 tahun. Mereka sedang seru bermain sepeda bersama, sembari ditemani orang tuanya. Sejumlah anak yang lebih besar memboncengi yang lebih kecil. Ada pula beberapa anak yang bermain sepatu roda. Mereka yang tidak punya sepeda ataupun sepatu roda, ikut asyik bermain lari-larian.

“Tin! Tin!”

Ketika sedang seru-serunya main bersama, tiba-tiba sebuah mobil sedan membunyikan klakson meminta izin lewat. Buru-buru para orang tua menarik anaknya ke pinggiran. Mobil pun lewat dengan sang pemilik mobil membuka kaca menganggukkan kepala dan mengucap permisi ke sekumpulan orang tua dan anak tersebut. Para orang tua membalas senyum. Setelah mobil lewat, anak-anak pun kembali memenuhi jalan dan bermain.

Mungkin memang si tukang ojek tidak berkata apa-apa. Pun si pemilik mobil juga mengucap permisi dengan ramahnya. Tapi kita tidak tahu bahwa mungkin di dalam hati, mereka mengumpat kesal.

“Main kok di tengah jalan. Kayak tidak ada tempat lain saja!”.

Aku pernah menjadi salah satu orang yang mengumpat demikian dalam hati. Hal itu cukup sering terjadi semasa aku masih rajin naik motor untuk pergi pulang ngantor. Melewati banyak jalan tikus membuatku sering sekali menemui anak-anak memenuhi jalan untuk bermain. Beberapa anak paham bahwa ada orang yang akan lewat sehingga mereka bisa minggir sendiri sebelum aku mengucap permisi. Sebagian lain ada yang malah galak dan mengata-ngatai aku karena mengganggu permainan mereka.

***

Fenomena anak-anak bermain di tengah jalan sebenarnya bisa terjadi di mana saja. Di pinggiran kota sekalipun. Namun, bagiku ibu kota Jakarta yang kita kenal sebagai Kota Beton selalu memunculkan perasaan yang lebih miris. Selama lebih dari satu dekade lamanya aku tinggal di Jakarta, mungkin sudah puluhan bahkan ratusan kali aku hampir menyerempet anak-anak yang bermain di jalan raya.

Dulu aku sebal dengan anak-anak seperti itu. Aku kesal karena mereka mengganggu pengendara yang adalah pengguna jalan raya yang utama. Aku lebih kesal lagi dengan orang tua yang membiarkan anak-anaknya bermain di tengah jalan. Kok rasa-rasanya mereka tidak sayang nyawa.

Semakin tua, aku semakin menyadari bahwa kebiasaan anak-anak di Jakarta main di jalanan lebih karena keadaan. Kita semua tahu Jakarta adalah kota dengan beton lebih subur daripada pohon. Hal itu membuat lahan permainan tidak sebanding dengan jumlah anak-anak yang ingin bermain.

Kalaupun ada lahan bermain, sebagian besar tersedia di dalam mal dan sejumlah pusat hiburan keluarga yang harganya tak terjangkau kaum menengah ke bawah. Bahkan, mau lihat laut pun mereka harus ke akuarium yang dibangun di dalam mal mewah.

Alih-alih ke lapangan sepak bola yang entah sekarang ada di mana, anak-anak memasang gawang dengan dua batu atau sepasang sandal di tengah jalan. Aku pun jadi teringat lagu Bola Raya milik Silampukau. 


“Kami main bola di jalan raya

Beralaskan aspal, bergawang sandal

Tak peduli ada yang mencela

Terus berlari mencetak angka


Kami rindu lapangan yang hijau

Harus sewa dengan harga tak terjangkau

Tanah lapang kami berganti gedung

Mereka ambil untung, kami yang buntung”


Tak cuma soal main bola. Daripada ke kolam renang yang harga karcisnya mahal, anak-anak di Jakarta banyak yang memilih untuk nyemplung di kali besar yang airnya berwarna gelap pekat. Dibandingkan harus maksa minta uang sama orang tua, mending tertawa gembira di kali kotor saja. Mereka pun mungkin tidak lagi peduli jika habis berenang bukannya segar malah jadi kudisan.

Kurangnya lahan bermain kurasa juga dialami oleh anak-anak kelas menengah ke atas di ibu kota. Mereka tak bisa serta merta merasakan serunya bermain di lapangan terbuka, dengan keringat keceriaan bercucuran. Pilihan pun berakhir pada pusat hiburan yang mahal dalam mal atau terpaku pada permainan dalam gawai, tanpa kesempatan bertemu dan bercengkrama secara fisik dengan teman-temannya. Ujung-ujungnya, kasus anak-anak kurang mampu bersosialisasi karena terlalu kecanduan main gawai pun terus naik.

***

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tanpa kesempatan bermain yang layak, anak-anak sangat mungkin tumbuh menjadi seorang yang tidak bahagia, yang akhirnya menjadi akar masalah hidup lainnya di saat dewasa nanti. Kurangnya lahan bermain di ibu kota membuat anak-anak tidak bisa total bermain, sebab mereka mungkin khawatir tertabrak, tenggelam, kudisan, atau takut makin melarat.

Mungkin dulu sempat ramai RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) dan taman tematik dibangun pemerintah sebagai tempat bermain anak-anak. Kini, ruang terbuka itu lebih banyak yang tidak terawat. Rumput meninggi, mainan dan fasilitas umum rusak, pohon rontok, dan sampah berserakan menjadi pemandangan umum. Jika sudah begitu, mungkinkah anak-anak bisa bermain dengan perasaan aman dan nyaman?

Anak-anak di Jakarta mungkin bisa dengan mudah menemukan kawan sepermainan. Namun, bagaimana dengan lahan sepermainannya? Siapa yang bisa bantu carikan? [T]

Tags: anak-anakJakartalingkungansosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar Cerita Perajin Anyaman Bambu dari Desa Tigawasa di Musim Pandemi

Next Post

Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co