12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Lahan Sepermainan di Ibu Kota

PanchoNgaco by PanchoNgaco
July 28, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

“Ayo oper bolanya ke sini, Par!”

“Ke sini aja, Par. Gue kosong!”

“Woi ada motor noh, minggir dulu nyok!”

Sore itu, keseruan pertandingan sepak bola di dalam sebuah gang sempit di tengah Kota Jakarta tertunda sejenak. Sebab, ada tukang ojek dengan motor tuanya lewat membawa penumpang. Sekelompok anak yang terdiri dari 10 orang itu menepi ke kanan kiri untuk memastikan mereka tidak tertabrak motor. Salah satu dari mereka menyempatkan diri menyelamatkan bola dari tengah jalan.

Lain kesempatan, sebuah jalan kompleks perumahan tampak penuh oleh anak-anak usia di bawah 10 tahun. Mereka sedang seru bermain sepeda bersama, sembari ditemani orang tuanya. Sejumlah anak yang lebih besar memboncengi yang lebih kecil. Ada pula beberapa anak yang bermain sepatu roda. Mereka yang tidak punya sepeda ataupun sepatu roda, ikut asyik bermain lari-larian.

“Tin! Tin!”

Ketika sedang seru-serunya main bersama, tiba-tiba sebuah mobil sedan membunyikan klakson meminta izin lewat. Buru-buru para orang tua menarik anaknya ke pinggiran. Mobil pun lewat dengan sang pemilik mobil membuka kaca menganggukkan kepala dan mengucap permisi ke sekumpulan orang tua dan anak tersebut. Para orang tua membalas senyum. Setelah mobil lewat, anak-anak pun kembali memenuhi jalan dan bermain.

Mungkin memang si tukang ojek tidak berkata apa-apa. Pun si pemilik mobil juga mengucap permisi dengan ramahnya. Tapi kita tidak tahu bahwa mungkin di dalam hati, mereka mengumpat kesal.

“Main kok di tengah jalan. Kayak tidak ada tempat lain saja!”.

Aku pernah menjadi salah satu orang yang mengumpat demikian dalam hati. Hal itu cukup sering terjadi semasa aku masih rajin naik motor untuk pergi pulang ngantor. Melewati banyak jalan tikus membuatku sering sekali menemui anak-anak memenuhi jalan untuk bermain. Beberapa anak paham bahwa ada orang yang akan lewat sehingga mereka bisa minggir sendiri sebelum aku mengucap permisi. Sebagian lain ada yang malah galak dan mengata-ngatai aku karena mengganggu permainan mereka.

***

Fenomena anak-anak bermain di tengah jalan sebenarnya bisa terjadi di mana saja. Di pinggiran kota sekalipun. Namun, bagiku ibu kota Jakarta yang kita kenal sebagai Kota Beton selalu memunculkan perasaan yang lebih miris. Selama lebih dari satu dekade lamanya aku tinggal di Jakarta, mungkin sudah puluhan bahkan ratusan kali aku hampir menyerempet anak-anak yang bermain di jalan raya.

Dulu aku sebal dengan anak-anak seperti itu. Aku kesal karena mereka mengganggu pengendara yang adalah pengguna jalan raya yang utama. Aku lebih kesal lagi dengan orang tua yang membiarkan anak-anaknya bermain di tengah jalan. Kok rasa-rasanya mereka tidak sayang nyawa.

Semakin tua, aku semakin menyadari bahwa kebiasaan anak-anak di Jakarta main di jalanan lebih karena keadaan. Kita semua tahu Jakarta adalah kota dengan beton lebih subur daripada pohon. Hal itu membuat lahan permainan tidak sebanding dengan jumlah anak-anak yang ingin bermain.

Kalaupun ada lahan bermain, sebagian besar tersedia di dalam mal dan sejumlah pusat hiburan keluarga yang harganya tak terjangkau kaum menengah ke bawah. Bahkan, mau lihat laut pun mereka harus ke akuarium yang dibangun di dalam mal mewah.

Alih-alih ke lapangan sepak bola yang entah sekarang ada di mana, anak-anak memasang gawang dengan dua batu atau sepasang sandal di tengah jalan. Aku pun jadi teringat lagu Bola Raya milik Silampukau. 


“Kami main bola di jalan raya

Beralaskan aspal, bergawang sandal

Tak peduli ada yang mencela

Terus berlari mencetak angka


Kami rindu lapangan yang hijau

Harus sewa dengan harga tak terjangkau

Tanah lapang kami berganti gedung

Mereka ambil untung, kami yang buntung”


Tak cuma soal main bola. Daripada ke kolam renang yang harga karcisnya mahal, anak-anak di Jakarta banyak yang memilih untuk nyemplung di kali besar yang airnya berwarna gelap pekat. Dibandingkan harus maksa minta uang sama orang tua, mending tertawa gembira di kali kotor saja. Mereka pun mungkin tidak lagi peduli jika habis berenang bukannya segar malah jadi kudisan.

Kurangnya lahan bermain kurasa juga dialami oleh anak-anak kelas menengah ke atas di ibu kota. Mereka tak bisa serta merta merasakan serunya bermain di lapangan terbuka, dengan keringat keceriaan bercucuran. Pilihan pun berakhir pada pusat hiburan yang mahal dalam mal atau terpaku pada permainan dalam gawai, tanpa kesempatan bertemu dan bercengkrama secara fisik dengan teman-temannya. Ujung-ujungnya, kasus anak-anak kurang mampu bersosialisasi karena terlalu kecanduan main gawai pun terus naik.

***

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tanpa kesempatan bermain yang layak, anak-anak sangat mungkin tumbuh menjadi seorang yang tidak bahagia, yang akhirnya menjadi akar masalah hidup lainnya di saat dewasa nanti. Kurangnya lahan bermain di ibu kota membuat anak-anak tidak bisa total bermain, sebab mereka mungkin khawatir tertabrak, tenggelam, kudisan, atau takut makin melarat.

Mungkin dulu sempat ramai RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) dan taman tematik dibangun pemerintah sebagai tempat bermain anak-anak. Kini, ruang terbuka itu lebih banyak yang tidak terawat. Rumput meninggi, mainan dan fasilitas umum rusak, pohon rontok, dan sampah berserakan menjadi pemandangan umum. Jika sudah begitu, mungkinkah anak-anak bisa bermain dengan perasaan aman dan nyaman?

Anak-anak di Jakarta mungkin bisa dengan mudah menemukan kawan sepermainan. Namun, bagaimana dengan lahan sepermainannya? Siapa yang bisa bantu carikan? [T]

Tags: anak-anakJakartalingkungansosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar Cerita Perajin Anyaman Bambu dari Desa Tigawasa di Musim Pandemi

Next Post

Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co