25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Lahan Sepermainan di Ibu Kota

PanchoNgaco by PanchoNgaco
July 28, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

“Ayo oper bolanya ke sini, Par!”

“Ke sini aja, Par. Gue kosong!”

“Woi ada motor noh, minggir dulu nyok!”

Sore itu, keseruan pertandingan sepak bola di dalam sebuah gang sempit di tengah Kota Jakarta tertunda sejenak. Sebab, ada tukang ojek dengan motor tuanya lewat membawa penumpang. Sekelompok anak yang terdiri dari 10 orang itu menepi ke kanan kiri untuk memastikan mereka tidak tertabrak motor. Salah satu dari mereka menyempatkan diri menyelamatkan bola dari tengah jalan.

Lain kesempatan, sebuah jalan kompleks perumahan tampak penuh oleh anak-anak usia di bawah 10 tahun. Mereka sedang seru bermain sepeda bersama, sembari ditemani orang tuanya. Sejumlah anak yang lebih besar memboncengi yang lebih kecil. Ada pula beberapa anak yang bermain sepatu roda. Mereka yang tidak punya sepeda ataupun sepatu roda, ikut asyik bermain lari-larian.

“Tin! Tin!”

Ketika sedang seru-serunya main bersama, tiba-tiba sebuah mobil sedan membunyikan klakson meminta izin lewat. Buru-buru para orang tua menarik anaknya ke pinggiran. Mobil pun lewat dengan sang pemilik mobil membuka kaca menganggukkan kepala dan mengucap permisi ke sekumpulan orang tua dan anak tersebut. Para orang tua membalas senyum. Setelah mobil lewat, anak-anak pun kembali memenuhi jalan dan bermain.

Mungkin memang si tukang ojek tidak berkata apa-apa. Pun si pemilik mobil juga mengucap permisi dengan ramahnya. Tapi kita tidak tahu bahwa mungkin di dalam hati, mereka mengumpat kesal.

“Main kok di tengah jalan. Kayak tidak ada tempat lain saja!”.

Aku pernah menjadi salah satu orang yang mengumpat demikian dalam hati. Hal itu cukup sering terjadi semasa aku masih rajin naik motor untuk pergi pulang ngantor. Melewati banyak jalan tikus membuatku sering sekali menemui anak-anak memenuhi jalan untuk bermain. Beberapa anak paham bahwa ada orang yang akan lewat sehingga mereka bisa minggir sendiri sebelum aku mengucap permisi. Sebagian lain ada yang malah galak dan mengata-ngatai aku karena mengganggu permainan mereka.

***

Fenomena anak-anak bermain di tengah jalan sebenarnya bisa terjadi di mana saja. Di pinggiran kota sekalipun. Namun, bagiku ibu kota Jakarta yang kita kenal sebagai Kota Beton selalu memunculkan perasaan yang lebih miris. Selama lebih dari satu dekade lamanya aku tinggal di Jakarta, mungkin sudah puluhan bahkan ratusan kali aku hampir menyerempet anak-anak yang bermain di jalan raya.

Dulu aku sebal dengan anak-anak seperti itu. Aku kesal karena mereka mengganggu pengendara yang adalah pengguna jalan raya yang utama. Aku lebih kesal lagi dengan orang tua yang membiarkan anak-anaknya bermain di tengah jalan. Kok rasa-rasanya mereka tidak sayang nyawa.

Semakin tua, aku semakin menyadari bahwa kebiasaan anak-anak di Jakarta main di jalanan lebih karena keadaan. Kita semua tahu Jakarta adalah kota dengan beton lebih subur daripada pohon. Hal itu membuat lahan permainan tidak sebanding dengan jumlah anak-anak yang ingin bermain.

Kalaupun ada lahan bermain, sebagian besar tersedia di dalam mal dan sejumlah pusat hiburan keluarga yang harganya tak terjangkau kaum menengah ke bawah. Bahkan, mau lihat laut pun mereka harus ke akuarium yang dibangun di dalam mal mewah.

Alih-alih ke lapangan sepak bola yang entah sekarang ada di mana, anak-anak memasang gawang dengan dua batu atau sepasang sandal di tengah jalan. Aku pun jadi teringat lagu Bola Raya milik Silampukau. 


“Kami main bola di jalan raya

Beralaskan aspal, bergawang sandal

Tak peduli ada yang mencela

Terus berlari mencetak angka


Kami rindu lapangan yang hijau

Harus sewa dengan harga tak terjangkau

Tanah lapang kami berganti gedung

Mereka ambil untung, kami yang buntung”


Tak cuma soal main bola. Daripada ke kolam renang yang harga karcisnya mahal, anak-anak di Jakarta banyak yang memilih untuk nyemplung di kali besar yang airnya berwarna gelap pekat. Dibandingkan harus maksa minta uang sama orang tua, mending tertawa gembira di kali kotor saja. Mereka pun mungkin tidak lagi peduli jika habis berenang bukannya segar malah jadi kudisan.

Kurangnya lahan bermain kurasa juga dialami oleh anak-anak kelas menengah ke atas di ibu kota. Mereka tak bisa serta merta merasakan serunya bermain di lapangan terbuka, dengan keringat keceriaan bercucuran. Pilihan pun berakhir pada pusat hiburan yang mahal dalam mal atau terpaku pada permainan dalam gawai, tanpa kesempatan bertemu dan bercengkrama secara fisik dengan teman-temannya. Ujung-ujungnya, kasus anak-anak kurang mampu bersosialisasi karena terlalu kecanduan main gawai pun terus naik.

***

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tanpa kesempatan bermain yang layak, anak-anak sangat mungkin tumbuh menjadi seorang yang tidak bahagia, yang akhirnya menjadi akar masalah hidup lainnya di saat dewasa nanti. Kurangnya lahan bermain di ibu kota membuat anak-anak tidak bisa total bermain, sebab mereka mungkin khawatir tertabrak, tenggelam, kudisan, atau takut makin melarat.

Mungkin dulu sempat ramai RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) dan taman tematik dibangun pemerintah sebagai tempat bermain anak-anak. Kini, ruang terbuka itu lebih banyak yang tidak terawat. Rumput meninggi, mainan dan fasilitas umum rusak, pohon rontok, dan sampah berserakan menjadi pemandangan umum. Jika sudah begitu, mungkinkah anak-anak bisa bermain dengan perasaan aman dan nyaman?

Anak-anak di Jakarta mungkin bisa dengan mudah menemukan kawan sepermainan. Namun, bagaimana dengan lahan sepermainannya? Siapa yang bisa bantu carikan? [T]

Tags: anak-anakJakartalingkungansosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar Cerita Perajin Anyaman Bambu dari Desa Tigawasa di Musim Pandemi

Next Post

Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co