13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Lahan Sepermainan di Ibu Kota

PanchoNgaco by PanchoNgaco
July 28, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

“Ayo oper bolanya ke sini, Par!”

“Ke sini aja, Par. Gue kosong!”

“Woi ada motor noh, minggir dulu nyok!”

Sore itu, keseruan pertandingan sepak bola di dalam sebuah gang sempit di tengah Kota Jakarta tertunda sejenak. Sebab, ada tukang ojek dengan motor tuanya lewat membawa penumpang. Sekelompok anak yang terdiri dari 10 orang itu menepi ke kanan kiri untuk memastikan mereka tidak tertabrak motor. Salah satu dari mereka menyempatkan diri menyelamatkan bola dari tengah jalan.

Lain kesempatan, sebuah jalan kompleks perumahan tampak penuh oleh anak-anak usia di bawah 10 tahun. Mereka sedang seru bermain sepeda bersama, sembari ditemani orang tuanya. Sejumlah anak yang lebih besar memboncengi yang lebih kecil. Ada pula beberapa anak yang bermain sepatu roda. Mereka yang tidak punya sepeda ataupun sepatu roda, ikut asyik bermain lari-larian.

“Tin! Tin!”

Ketika sedang seru-serunya main bersama, tiba-tiba sebuah mobil sedan membunyikan klakson meminta izin lewat. Buru-buru para orang tua menarik anaknya ke pinggiran. Mobil pun lewat dengan sang pemilik mobil membuka kaca menganggukkan kepala dan mengucap permisi ke sekumpulan orang tua dan anak tersebut. Para orang tua membalas senyum. Setelah mobil lewat, anak-anak pun kembali memenuhi jalan dan bermain.

Mungkin memang si tukang ojek tidak berkata apa-apa. Pun si pemilik mobil juga mengucap permisi dengan ramahnya. Tapi kita tidak tahu bahwa mungkin di dalam hati, mereka mengumpat kesal.

“Main kok di tengah jalan. Kayak tidak ada tempat lain saja!”.

Aku pernah menjadi salah satu orang yang mengumpat demikian dalam hati. Hal itu cukup sering terjadi semasa aku masih rajin naik motor untuk pergi pulang ngantor. Melewati banyak jalan tikus membuatku sering sekali menemui anak-anak memenuhi jalan untuk bermain. Beberapa anak paham bahwa ada orang yang akan lewat sehingga mereka bisa minggir sendiri sebelum aku mengucap permisi. Sebagian lain ada yang malah galak dan mengata-ngatai aku karena mengganggu permainan mereka.

***

Fenomena anak-anak bermain di tengah jalan sebenarnya bisa terjadi di mana saja. Di pinggiran kota sekalipun. Namun, bagiku ibu kota Jakarta yang kita kenal sebagai Kota Beton selalu memunculkan perasaan yang lebih miris. Selama lebih dari satu dekade lamanya aku tinggal di Jakarta, mungkin sudah puluhan bahkan ratusan kali aku hampir menyerempet anak-anak yang bermain di jalan raya.

Dulu aku sebal dengan anak-anak seperti itu. Aku kesal karena mereka mengganggu pengendara yang adalah pengguna jalan raya yang utama. Aku lebih kesal lagi dengan orang tua yang membiarkan anak-anaknya bermain di tengah jalan. Kok rasa-rasanya mereka tidak sayang nyawa.

Semakin tua, aku semakin menyadari bahwa kebiasaan anak-anak di Jakarta main di jalanan lebih karena keadaan. Kita semua tahu Jakarta adalah kota dengan beton lebih subur daripada pohon. Hal itu membuat lahan permainan tidak sebanding dengan jumlah anak-anak yang ingin bermain.

Kalaupun ada lahan bermain, sebagian besar tersedia di dalam mal dan sejumlah pusat hiburan keluarga yang harganya tak terjangkau kaum menengah ke bawah. Bahkan, mau lihat laut pun mereka harus ke akuarium yang dibangun di dalam mal mewah.

Alih-alih ke lapangan sepak bola yang entah sekarang ada di mana, anak-anak memasang gawang dengan dua batu atau sepasang sandal di tengah jalan. Aku pun jadi teringat lagu Bola Raya milik Silampukau. 


“Kami main bola di jalan raya

Beralaskan aspal, bergawang sandal

Tak peduli ada yang mencela

Terus berlari mencetak angka


Kami rindu lapangan yang hijau

Harus sewa dengan harga tak terjangkau

Tanah lapang kami berganti gedung

Mereka ambil untung, kami yang buntung”


Tak cuma soal main bola. Daripada ke kolam renang yang harga karcisnya mahal, anak-anak di Jakarta banyak yang memilih untuk nyemplung di kali besar yang airnya berwarna gelap pekat. Dibandingkan harus maksa minta uang sama orang tua, mending tertawa gembira di kali kotor saja. Mereka pun mungkin tidak lagi peduli jika habis berenang bukannya segar malah jadi kudisan.

Kurangnya lahan bermain kurasa juga dialami oleh anak-anak kelas menengah ke atas di ibu kota. Mereka tak bisa serta merta merasakan serunya bermain di lapangan terbuka, dengan keringat keceriaan bercucuran. Pilihan pun berakhir pada pusat hiburan yang mahal dalam mal atau terpaku pada permainan dalam gawai, tanpa kesempatan bertemu dan bercengkrama secara fisik dengan teman-temannya. Ujung-ujungnya, kasus anak-anak kurang mampu bersosialisasi karena terlalu kecanduan main gawai pun terus naik.

***

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tanpa kesempatan bermain yang layak, anak-anak sangat mungkin tumbuh menjadi seorang yang tidak bahagia, yang akhirnya menjadi akar masalah hidup lainnya di saat dewasa nanti. Kurangnya lahan bermain di ibu kota membuat anak-anak tidak bisa total bermain, sebab mereka mungkin khawatir tertabrak, tenggelam, kudisan, atau takut makin melarat.

Mungkin dulu sempat ramai RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) dan taman tematik dibangun pemerintah sebagai tempat bermain anak-anak. Kini, ruang terbuka itu lebih banyak yang tidak terawat. Rumput meninggi, mainan dan fasilitas umum rusak, pohon rontok, dan sampah berserakan menjadi pemandangan umum. Jika sudah begitu, mungkinkah anak-anak bisa bermain dengan perasaan aman dan nyaman?

Anak-anak di Jakarta mungkin bisa dengan mudah menemukan kawan sepermainan. Namun, bagaimana dengan lahan sepermainannya? Siapa yang bisa bantu carikan? [T]

Tags: anak-anakJakartalingkungansosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar Cerita Perajin Anyaman Bambu dari Desa Tigawasa di Musim Pandemi

Next Post

Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

Perupa Putrayasa: “Ayo, Bersiap Melihat Sunrise di Pantai Kuta!”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co