3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Atat Yang Bijaksana #1

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
May 5, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Saya masih Cangak, tapi kadang-kadang dikira perkutut yang manggut-manggut dan manut-manut. Kadang-kadang dikira burung tadahasih yang penuh kasih. Tidak jarang dikira beo yang cuman bisa niru tapi loyo. Padahal saya ingin jadi burung Atat si tukang catat. Bukannya beo itu Atat?

Kenapa tukang catat? Karena sekarang sudah zamannya banyak yang bicara tanpa mencatat, nanti kalau mereka lupa, bagaimana? Makanya perlu ada yang mencatat, mengambil tugas jadi burung peniru segala kata-kata yang dikatakan tuannya. Kalau tuannya sudah mati, catatan bisa dijual nanti.

Ada dua burung Atat dalam cerita Tantri. Soal tekhnik bercerita, jangan lawan Tantri. Ceritanya bisa meluluhkan hati Aiswaryadala yang memang menargetkannya untuk jadi permaisuri. Raja itu tinggal pura-pura jadi bejat, lalu Tantri datang membawa cerita ini dan itu. Raja manggut-manggut, menahan tawa sambil terkentut-kentut.

Tantri merasa jadi wanita paling cerdas, karena sang Raja yang batil itu berhasil disadarkannya hanya dengan cerita. Itu sisi lain yang barangkali jarang dilihat makhluk lain-lain. Melihat dari sisi berbeda selalu ada kurang lebihnya. Jika berhasil, dipuja bagai dewa. Jika gagal, akan dijegal. Seperti ngubuh bebek muani! Selain dapat munyi, juga dapat tai.

Dua burung Atat dalam cerita Dyah Tantri dirawat oleh dua keluarga berbeda. Yang satunya pada keluarga pemburu, yang satunya keluarga pendeta. Beda keluarga, beda suasana. Konon, keluarga pemburu kerjanya hanya membunuh para binatang. Binatang-binatang itu dibunuh untuk dimakan. Pemburu ini bukan vegetarian. Karena mereka tahu, mereka masih punya amarah. Pemarah, masih boleh makan daging. Kalau pemakan tumbuhan, sudah tidak boleh lagi ada dendam, amarah, dengki, iri, ego. Seperti sapi dicambuk terus-terusan, tetap sabar menarik bajak. Kalau belum begitu, makan saja, tapi aharalagawa. Tahu kan aharalagawa? Kalau belum, coba cari tahu sendiri tanpa baca buku panduan.

Karena tiap hari kerjanya membunuh, keluarga pemburu hanya kenal kata potong, bunuh, makan, minum darahnya! Itu terus yang didengar Atat, itu juga yang ditirunya. Tiap ketemu makhluk lain, bicaranya selalu keras ingin bunuh, ingin cincang, ingin makan. Bukan salah Atat, bukan salah keluarga pemburu. Bukan salah dewi kata-kata. Bukankah tiap kata ada betaranya? Jadi siapa yang salah? Kalau pertanyaannya begitu, selamat datang di bumi manusia. Karena hanya manusia yang bertanya tentang kesalahan atau mencari-carinya.

Atat di keluarga pendeta, tiap hari mendengar mantra. Selain mantra, ia juga sering mendengar isi sastra-sastra. Dari sastra tentang kehidupan, sampai sastra tentang kematian. Mantra-mantra itu didapat turun temurun oleh keluarga pendeta. Siapa pembuatnya, tidak bisa dilacak. Menurut keluarga itu, mantra-mantra akan didapat oleh orang-orang yang berhasil mengendalikan indriyanya. Apa saja indriya itu? Jumlahnya ada sepuluh, dikendalikan oleh Raja bernama pikiran. Agar sepuluh indriya bisa dikendalikan, maka harus saling kenal dengan rajanya.

Begitulah tradisi dipegang oleh keluarga pendeta. Tradisi itu pula yang secara tidak sengaja dipelajari oleh si burung Atat. Kemana-mana tradisi itu juga yang diputar-putar olehnya. Dibolak-balik sampai lelah. Makhluk lain yang melihat si Atat, ketawa terbahak bahak sampai keluar dahak.

‘Kamu itu bukan turunan Pendeta, Atat bodoh! Kamu itu burung. Burung yang hinggap di jendela, ngintip gigi ompong kakek yang sudah tua. Jadi, kamu jangan mimpi jadi Pendeta!’. Begitu pakrimik para makhluk yang heran melihat si Atat.

‘Ya, aku ini Atat yang hanya bisa meniru. Tapi aku tidak ingin jadi Pendeta! Jadi Pendeta itu susah. Banyak ujiannya’.

Barangkali Atat tahu kalau tidak mudah jadi Pendeta. Harus ada keistimewaan yang dimiliki sebagai Pendeta yang mumpuni. Kalau disuruh nebak isi telur, harus tahu isinya telur apa. Itu telur ayam, bebek, angsa, atau buaya? Kalau disuruh nebak isi lubang buatan di tanah, harus tahu juga isinya. Jangan-jangan yang bertanya bermaksud menguji. Lubang di tanah diisi Angsa, Pendeta menjawab Naga!

Para penguji yang budiman, pastilah menyediakan jebakan pada tiap pertanyaan. Kalau salah jawab, diketawai para pujangga yang suci, juga para manusia yang mengira dirinya dewa. Itu susahnya. Kecuali mau jadi Pendeta abal-abal. Terus melakukan Sewana, sambil memeriksa isi kantung celana. Jadi Pendeta itu susah. Harus bijaksana. Bagaimana caranya bijaksana?

Entahlah. Otak Cangak saya ini, belum kepikiran. Makanya saya mau jadi Atat si tukang catat. Tugasnya, nyatat-nyatat apa saja yang sudah didapat. Catatan itu nanti jadikan kitab. Pada masa akhir, catatan si Atat akan terus dicari. Oleh mereka yang kepingin sakti, juga mereka yang kepingin mati.

Lihat! Ada jejak burung di langit biru! Itu jejak burung betul, atau hanya ngibul? [T]

Tags: filsafatsastra
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Penyanyi Ope Menggemakan Indonesia Kuat

Next Post

Kelak Pandemi Usai, Kenapa Tidak Solo Traveling?

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kelak Pandemi Usai, Kenapa Tidak Solo Traveling?

Kelak Pandemi Usai, Kenapa Tidak Solo Traveling?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co