6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
April 26, 2020
in Esai
Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Puisi adalah keindahan. Sepenuhnya mengenai keindahan. Tidak ada di luar itu. Puisi adalah puisi, bukan kata-kata puitis.

Ia keindahan di dalam, lebih dalam dari pikiran. Puisi ada sebelum pikiran. Ia syahdu dalam letupan inspirasi. Ia sesuatu yang bermula dari getaran spirit. Ia semacam fenomena spiritual.

Keindahan puisi itu misterius, seperti kilatan cahaya di bawah horizon yang jauh tapi menjangkau mata hati. Terkadang ia berkilau secerah layar perahu yang berlayar di nadi. Kadang-kadang seterang rembulan yang muncul di suatu tempat di ruang batin.

Maka penyair adalah seorang  pertapa. Ia bertapa untuk merenungi keindahan yang halus, syahdu dan spiritual, kemudian membahasakannya.

Puisi adalah puisi. Ia bagian yang misterius dari warna sekuntum mawar atau melodi lagu yang secara rahasia bergetar di hati membawa pesan-pesan kehidupan sebagai keindahan. Ia adalah impuls halus dari dalam putaran kehidupan yang kompleks. Ia selalu memiliki momennya sendiri untuk datang. Seperti tamu yang berkunjung, kadang-kadang pada saat kita sedang sendiri, meskipun tidak selalu. Ia datang dengan sendirinya. Tidak ada yang mengantarnya. Ia seakan bayangan dari hidup, emosi, impian kita.

Sewaktu menulis puisi, penyair bekerja dengan teknik yang melibatkan pikiran atau keterampilan. Itu tugas yang berat. Pekerjaan sulit. Tidak mudah sama sekali. Dibutuhkan ketekunan dan kekuatan besar untuk bekerja dengan kata-kata. Dibutuhkan kejujuran untuk menjangkau dan menyerap keindahannya dengan bahasa. Hal ini kemudian jadi semacam proses bermeditasi yang melibatkan suara hati, kedalaman imajinasi, pikiran, serta keterampilan menulis untuk merangkum dan meramu getaran puisi hingga sampai ke titik yang jernih.

Kata-kata puisi memiliki sukmanya sendiri. Ia dunia yang tumbuh dan bergerak dengan suara hati. Fenomena keindahan itu benar-benar tidak dapat diungkapkan secara verbal meski bisa dijangkau dan diolah oleh perasaan.  Karena itu, penyair menggunakan simbol atau metafora untuk mencapainya. Lewat metafora, puisi dapat tersampaikan ke luar dan ditangkap pikiran, setidaknya sebagai persepsi puitis. Di sini puisi kadang memerlukan pengamat, kritikus atau pengurai puisi untuk mengungkap, mengomunikasikan, dan mencairkan puisi dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. 

Begitulah puisi. Itu sebabnya puisi bukan kata-kata puitis. Kata-kata menjadi puitis semata-mata karena dia membawa dalam dirinya getaran puisi. Kita tidak dapat mengatakan kata-kata puitis sebagai puisi, tetapi kata-kata puitis terbentuk karena merupakan bayangan puisi. 

Ketika menulis puisi, penyair akan menyerahkan dirinya kepada energi alam semesta yang sepenuhnya menggerakkan hatinya. Setiap puisi adalah fenomena rohani, suara kesunyian, kerinduan, atau keterasingan yang gemanya abadi di ruang batin. Kalimat puisi adalah metafora yang membawa dunia dan pengertiannya sendiri. Sewaktu menulis puisi, penyair sepenuhnya sedang mengekplorasi keindahan melalui metafora.

Tidak sulit meramu kata menjadi kalimat puitis tetapi puisi yang dibangun dari ramuan kata-kata puitis adalah puisi hampa. Puisi adalah manifestasi keindahan yang lahir dari kontemplasi yang mendalam. Puisi yang membentuk rimbunan kata-kata puitis.

Puisi mengabadikan pengalaman yang mendalam dari rasa keterasingan, kehampaan, kerinduan, ataupun kegelisahan dari lapisan emosi kuno di alam bawah sadar. Ia muncul sebagai fenomena puitik yang tak habis-habisnya di ruang tak terbatas. Puisi  mengangkatnya ke ruang pikiran sadar yang terbatas.

Teks, kata-kata, atau metafora memiliki keterbatasan dalam mengaktualisasikan fenomena puitik ke alam pikiran sadar. Karena itu, puisi hanyalah indikator dari keindahan puitik di alam bawah sadar. Ia ibarat puncak sebuah gunung es yang tampak di permukaan yang merupakan bagian gunung es yang jauh lebih besar di alam bawah sadar. Pada dasarnya setiap puisi adalah upaya untuk mengekplorasi keindahan di alam bawah sadar.

Tetapi penyair memerlukan tema untuk menyalurkan getaran puitik. Meski tidak terlalu relevan, namun tema adalah triger yang dapat membantu untuk masuk dan merasakan getaran puisi. Itu bagian dari teknik. Tema puisi memang tak lebih dari agregasi keterasingan, kerinduan, pencarian, atau kegelisahan jiwa manusia.

Puisi adalah puisi. Ia semata-mata keindahan. Keindahan yang jauh, dalam, redup di ruang batin. Ia mengajari kita mengenali atau memahami banyak hal namun tanpa memiliki satu kesimpulan. Ia seakan berada di ruang yang terpencil dan sunyi namun ketika kita memasukinya, kita akan dibawa untuk memahami kehidupan yang luas dan riuh. Puisi ibarat benih api dari ruang bawah sadar yang kemudian meledak, menyulut dan membakar ruang kesadaran estetika kita. Puisi terus menerus bekerja di ruangan ini.

Penyair mungkin tidak banyak berbicara mengenai teknik, tapi teknik adalah bagian dari proses kreatif dan penemuan individual. Penyair bekerja dengan tekniknya masing-masing untuk mengadopsi keindahan yang menginspirasi. Penyair mendalami tekniknya sesuai visinya. 

Puisi itu unik dan misterius. Puisi bukan cerpen atau novel yang dipadatkan. Puisi bisa hadir dalam cerpen atau novel. Puisi bisa hadir dalam lukisan atau musik. Ia bukan risalah, surat pembaca, atau pamflet protes yang ditulis dengan kalimat puitis. Juga bukan sekadar kata-kata puitis. Puisi adalah puisi. Ia adalah spirit keindahan tersendiri.

Setiap penyair menulis larik, membentuk bait-bait, dan dengan gaya bahasa yang dihidupi oleh pengalaman individual. Di sini, penyair akan berhadapan dengan dirinya sendiri dan dipaksa menjadi dirinya sendiri. 

Jika penyair disamakan dengan pelukis akan mudah untuk memahami betapa beragamnya teknik itu, dan bagaimana setiap seniman memroses visi artistiknya. Dapat dilihat Paul Gauguin, Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Amedeo Modigliani, atau Marc Chagall yang dengan tekniknya masing-masing menghadirkan puisi yang sangat intens dalam karya lukis mereka yang berbeda. Demikian juga dengan penyair mesti mengeksplorasi teknik untuk dapat mengekspresikan puisi mereka secara mendalam.

Namun perpuisian kita hari ini kelihatannya hidup dalam dunia yang seragam, dibentuk oleh selera dan teknik seragam. Itu mudah dilihat dari puisi-puisi yang menguasai media mainstream. Puisi berkerumun dalam teknik senada dan dalam spirit pertemanan. Penyair dilahirkan dan dipromosikan oleh pertemanan. Para penyair sibuk membangunan persekutuan. Orang-orang awam bertindak sebagai kurator atau redaktur dan menilai puisi berdasar selera pribadi, “teknik” yang sedang tren, atau karena pertemanan.

Pekerjaan penyair sekarang adalah sibuk mengumpulkan kata-kata dan istilah dari kamus. Kata-kata itu disusun, dirangkai, dibolak-balik, menjadi larik dan digabung-gabung dengan membuat bayangan benang merah di baliknya seakan mereka sedang menceritakan sesuatu. Kalimat-kalimatnya dibiarkan tanggung atau sengaja dipotong supaya jadi puitis. Penyair lebih suka menjadi produktif dan tergesa-gesa dan tidak mendalami spirit puisinya. Bila sekarang mereka masih menulis puisi seperti itu, sebagai teknik menulis puisi bagi pemula, walau mungkin mendapat apresiasi dari beberapa kalangan, tentu tidak lama lagi hati nurani mereka akan merasa dengan sendirinya bahwa yang ditulisnya itu adalah puisi hampa yang tidak berakar pada keorisinalan puisi sejati. [T]

Tags: keindahanPuisisastra
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Tenggelam Dalam Janji dan Narasi yang Tak Pernah Sejalan dengan Realisasi; Itulah Indonesia

Next Post

Mari Kita Bercermin; Politik Pandemi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Mari Kita Bercermin; Politik Pandemi

Mari Kita Bercermin; Politik Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co