13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pementasan “Kaukah Itu, Ibu?” Katarsis Aktor di Tengah Lingkaran Penonton

Agus Wiratama by Agus Wiratama
April 6, 2020
in Ulasan
Pementasan “Kaukah Itu, Ibu?” Katarsis Aktor di Tengah Lingkaran Penonton

Gek Santi, dalam pementasan teater Kaukah itu, Ibu dalam acara Mahima March March March 2020

Beberapa lelaki membentuk lingkaran. Sarana upacara sederhana di tengah-tengah telah disiapkan oleh beberapa perempuan yang juga berada di sana. Upacara pun dipimpin oleh perempuan. Para lelaki bergerak sesuai dengan instruksi mereka sambil mengambil satu per satu sesajen dengan cekatan, mulai dari ­pembersihan tangan dengan Tirta, memberi instruksi gerak dari awal hingga akhir upacara. Upacara ini berlangsung di rumah saya setiap Pangerupukan, sehari menjelang hari raya Nyepi.

Dalam upacara tersebut, perempuan terlihat bekerja hanya untuk laki-laki, melakukan ritual, memanjatkan doa-doa untuk laki-laki. Tetapi pertanyaannya, apakah subjek ritual ini hanya laki-laki? Tentu saja tidak, di balik itu, para perempuan ini melangsungkan “pertunjukkan ritual”. Mereka eksis dalam upacara itu, mereka ditonton oleh laki-laki yang melingkarinya. Tangan yang cekatan mengambil sarana upacara, gerak tubuh yang tak ragu, mereka juga bisa saja membuka percakapan ringan di tengah ritual berlangsung. Sungguh, perempuan-perempuan itu adalah aktor yang sedang pentas!

Mungkin tidak berlebihan kiranya bila saya menyebutkan bahwa pada tanggal 13 Maret 2020, sebagai pembukaan acara “Mahima March March March” yang berlangsung di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Teater Perempuan Mahima mengelar sebuah “pertunjukkan ritual” yang berjudul “Kaukah itu, Ibu?”. Meski hanya potongan pentas karena masih dalam proses penggarapan, namun membuat saya sebagai penonton terngiang dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilempar oleh delapan perempuan itu.

Kadek Sonia Piscayanti yang merupakan sutradara dalam pementasan “Kaukah itu, Ibu?” mengangkat kisah seorang aktor, yaitu Santi Dewi yang merupakan seorang anggota Komunitas Mahima yang juga aktif di Teater Kampus Seribu Jendela, Undiksha. Kisah Santi Dewi sendiri kemudian diolah kembali oleh Kadek Sonia piscayanti menjadi sebuah naskah teater.

Mengangkat kisah seorang aktor untuk dipanggungkan bukanlah berarti hanya mencatat peristiwa kemudian memindahkannya ke panggung. Tentu saja dalam hal ini ada seleksi yang kemudian menjadi bingkai pementasan. Namun, seperti yang dikatakan oleh Kadek Sonia Piscayanti pada diskusi setelah pentas, ketika latihan, Santi Dewi yang menjadi pemeran utama dalam pentas “Kaukah itu, Ibu?” terkesan berjarak dengan serpihan kisah yang telah disusun menjadi naskah, sehingga ia mesti mendekati kisah itu lagi.

Pementasan ini dimulai dengan munculnya beberapa perempuan secara perlahan dengan tatapan yang tajam. Diikuti senandung dari seorang pemain yang muncul dari sisi lain panggung. Mereka masing-masing menuju ke beberapa bangku panjang yang telah dijejer. Terlihat setiap pemain memiliki panggung kecilnya masing-masing, yaitu bangku itu sendiri untuk bermain.  

Kursi berjejer di panggung adalah teks pementasan yang paralel. Para pemain yang kadang naik, kadang turun dari kursi, seperti realita abstrak manusia. Ketika memiliki masalah misalnya, kita memiliki ruang kecil yaitu diri, adalah sebuah keniscayaan pula ketika kita adalah bagian dari kosmos yang pada pementasan diwujudkan sebagai panggung besar.

Perihal yang terjadi dalam penghayatan personal ini divisualkan secara sederhana dalam pentas. Pemain ulang-alik panggung. Keluar dari panggung kecil menuju panggung besar, keluar dari panggung besar menuju panggung kecil dengan bentuk gerak yang berbeda.

Kemudian masuklah Santi Dewi dari penonton dengan berbagai pertanyaan tentang Ibu. Tujuh pemain lainnya kemudian merespon pertanyaan Santi Dewi dengan menirukan, sesekali menanggapi, sesekali berpendapat, sesekali riuh, sesekali suara-suara terdengar kompak.

Hal yang disengaja ini membuat saya merasa mendengarkan sebuah nyanyian. Nyanyian pertanyaan-pertanyaan tentang Ibu yang tidak dikenal, tentang ibu yang diduga-duga wujudnya. Entah berambut ikal, lurus, berkulit putih, hitam, bertubuh tinggi, rendah, dan sebagainya. Sebuah pertanyaan yang gelisah seperti nyanyian sumbang yang menyiksa sehingga harus ditinggalkan namun terkadang harus dinikmati, bahkan berlangsung begitu saja tanpa disadari.

Pada bagian akhir, Santi Dewi mengambil sebuah kanvas, cat, dan kuas. Di panggung ia terlihat begitu sibuk melukis, begitu sibuk membayangkan wujud ibunya. Gambar abstrak yang dibuat dengan proporsi tidak utuh seolah adalah muntahan visual kusut dalam dirinya, bayangan tentang ibu yang sangat abstrak.

Para penonton yang melingkari panggung ini terlihat khusyuk, meski beberapa di antaranya terlihat gelisah mondar-mandir. Memang penonton tidak dibatasi untuk duduk rapi, seperti upacara yang saya ikuti, saya bisa saja berdiri melingkar mengikuti upacara sambil ngobrol dengan orang lain. Tetapi para perempuan tetap menjalankan “pementasan ritual”-nya dengan dimensi kesadaran berbeda yang mereka hayati. Begitu pula dalam pementasan Teater Perempuan Mahima.

Pementasan ini sungguh tidak bisa dilihat dari satu sisi. Hal inilah yang saya pikir mirip dengan ritual yang saya ikuti menjelang Nyepi— selain bentuknya yang sama, (perempuan pentas di dalam lingkaran) juga perasaan berjarak dengan kisah. Pada ritual yang saya ikuti pun, saya merasa tidak terlalu terlibat dengan apa yang dilakukan para perempuan dengan sarana upacara yang mereka buat. Ketika menonton pementasan ini, saya merasa tidak terlibat dengan masalah yang dibawakan, namun ditarik untuk tidak memalingkan pandangan lama-lama.

Pada akhirnya, pertunjukkan itu bukan hanya objek tontonan yang mempersembahkan pertunjukkan untuk hadirin. Bukan eksotisme semata. Pementasan ini menjadi sebuah katarsis bagi aktor itu sendiri. Aktor yang sedang berusaha secara sadar mendekati, mengenali, dan memilih jarak yang tepat terhadap kisahnya. Karena, kadang kala bukan hal yang baik ketika aktor terlalu dekat dengan kisah yang diangkat, tetapi akan buruk ketika tidak bisa mendekati kisah yang diracik menjadi naskah. [T]

Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2020PerempuanTeater
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Kaki Tirtagangga-Tianyar-Trunyan – [Kenangan Lagu “Berita Kepada Kawan”]

Next Post

Arsitektur Pura Agung Besakih: Menjaga Tradisi

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Arsitektur Pura Agung Besakih: Menjaga Tradisi

Arsitektur Pura Agung Besakih: Menjaga Tradisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co