24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pementasan “Kaukah Itu, Ibu?” Katarsis Aktor di Tengah Lingkaran Penonton

Agus Wiratama by Agus Wiratama
April 6, 2020
in Ulasan
Pementasan “Kaukah Itu, Ibu?” Katarsis Aktor di Tengah Lingkaran Penonton

Gek Santi, dalam pementasan teater Kaukah itu, Ibu dalam acara Mahima March March March 2020

Beberapa lelaki membentuk lingkaran. Sarana upacara sederhana di tengah-tengah telah disiapkan oleh beberapa perempuan yang juga berada di sana. Upacara pun dipimpin oleh perempuan. Para lelaki bergerak sesuai dengan instruksi mereka sambil mengambil satu per satu sesajen dengan cekatan, mulai dari ­pembersihan tangan dengan Tirta, memberi instruksi gerak dari awal hingga akhir upacara. Upacara ini berlangsung di rumah saya setiap Pangerupukan, sehari menjelang hari raya Nyepi.

Dalam upacara tersebut, perempuan terlihat bekerja hanya untuk laki-laki, melakukan ritual, memanjatkan doa-doa untuk laki-laki. Tetapi pertanyaannya, apakah subjek ritual ini hanya laki-laki? Tentu saja tidak, di balik itu, para perempuan ini melangsungkan “pertunjukkan ritual”. Mereka eksis dalam upacara itu, mereka ditonton oleh laki-laki yang melingkarinya. Tangan yang cekatan mengambil sarana upacara, gerak tubuh yang tak ragu, mereka juga bisa saja membuka percakapan ringan di tengah ritual berlangsung. Sungguh, perempuan-perempuan itu adalah aktor yang sedang pentas!

Mungkin tidak berlebihan kiranya bila saya menyebutkan bahwa pada tanggal 13 Maret 2020, sebagai pembukaan acara “Mahima March March March” yang berlangsung di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Teater Perempuan Mahima mengelar sebuah “pertunjukkan ritual” yang berjudul “Kaukah itu, Ibu?”. Meski hanya potongan pentas karena masih dalam proses penggarapan, namun membuat saya sebagai penonton terngiang dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilempar oleh delapan perempuan itu.

Kadek Sonia Piscayanti yang merupakan sutradara dalam pementasan “Kaukah itu, Ibu?” mengangkat kisah seorang aktor, yaitu Santi Dewi yang merupakan seorang anggota Komunitas Mahima yang juga aktif di Teater Kampus Seribu Jendela, Undiksha. Kisah Santi Dewi sendiri kemudian diolah kembali oleh Kadek Sonia piscayanti menjadi sebuah naskah teater.

Mengangkat kisah seorang aktor untuk dipanggungkan bukanlah berarti hanya mencatat peristiwa kemudian memindahkannya ke panggung. Tentu saja dalam hal ini ada seleksi yang kemudian menjadi bingkai pementasan. Namun, seperti yang dikatakan oleh Kadek Sonia Piscayanti pada diskusi setelah pentas, ketika latihan, Santi Dewi yang menjadi pemeran utama dalam pentas “Kaukah itu, Ibu?” terkesan berjarak dengan serpihan kisah yang telah disusun menjadi naskah, sehingga ia mesti mendekati kisah itu lagi.

Pementasan ini dimulai dengan munculnya beberapa perempuan secara perlahan dengan tatapan yang tajam. Diikuti senandung dari seorang pemain yang muncul dari sisi lain panggung. Mereka masing-masing menuju ke beberapa bangku panjang yang telah dijejer. Terlihat setiap pemain memiliki panggung kecilnya masing-masing, yaitu bangku itu sendiri untuk bermain.  

Kursi berjejer di panggung adalah teks pementasan yang paralel. Para pemain yang kadang naik, kadang turun dari kursi, seperti realita abstrak manusia. Ketika memiliki masalah misalnya, kita memiliki ruang kecil yaitu diri, adalah sebuah keniscayaan pula ketika kita adalah bagian dari kosmos yang pada pementasan diwujudkan sebagai panggung besar.

Perihal yang terjadi dalam penghayatan personal ini divisualkan secara sederhana dalam pentas. Pemain ulang-alik panggung. Keluar dari panggung kecil menuju panggung besar, keluar dari panggung besar menuju panggung kecil dengan bentuk gerak yang berbeda.

Kemudian masuklah Santi Dewi dari penonton dengan berbagai pertanyaan tentang Ibu. Tujuh pemain lainnya kemudian merespon pertanyaan Santi Dewi dengan menirukan, sesekali menanggapi, sesekali berpendapat, sesekali riuh, sesekali suara-suara terdengar kompak.

Hal yang disengaja ini membuat saya merasa mendengarkan sebuah nyanyian. Nyanyian pertanyaan-pertanyaan tentang Ibu yang tidak dikenal, tentang ibu yang diduga-duga wujudnya. Entah berambut ikal, lurus, berkulit putih, hitam, bertubuh tinggi, rendah, dan sebagainya. Sebuah pertanyaan yang gelisah seperti nyanyian sumbang yang menyiksa sehingga harus ditinggalkan namun terkadang harus dinikmati, bahkan berlangsung begitu saja tanpa disadari.

Pada bagian akhir, Santi Dewi mengambil sebuah kanvas, cat, dan kuas. Di panggung ia terlihat begitu sibuk melukis, begitu sibuk membayangkan wujud ibunya. Gambar abstrak yang dibuat dengan proporsi tidak utuh seolah adalah muntahan visual kusut dalam dirinya, bayangan tentang ibu yang sangat abstrak.

Para penonton yang melingkari panggung ini terlihat khusyuk, meski beberapa di antaranya terlihat gelisah mondar-mandir. Memang penonton tidak dibatasi untuk duduk rapi, seperti upacara yang saya ikuti, saya bisa saja berdiri melingkar mengikuti upacara sambil ngobrol dengan orang lain. Tetapi para perempuan tetap menjalankan “pementasan ritual”-nya dengan dimensi kesadaran berbeda yang mereka hayati. Begitu pula dalam pementasan Teater Perempuan Mahima.

Pementasan ini sungguh tidak bisa dilihat dari satu sisi. Hal inilah yang saya pikir mirip dengan ritual yang saya ikuti menjelang Nyepi— selain bentuknya yang sama, (perempuan pentas di dalam lingkaran) juga perasaan berjarak dengan kisah. Pada ritual yang saya ikuti pun, saya merasa tidak terlalu terlibat dengan apa yang dilakukan para perempuan dengan sarana upacara yang mereka buat. Ketika menonton pementasan ini, saya merasa tidak terlibat dengan masalah yang dibawakan, namun ditarik untuk tidak memalingkan pandangan lama-lama.

Pada akhirnya, pertunjukkan itu bukan hanya objek tontonan yang mempersembahkan pertunjukkan untuk hadirin. Bukan eksotisme semata. Pementasan ini menjadi sebuah katarsis bagi aktor itu sendiri. Aktor yang sedang berusaha secara sadar mendekati, mengenali, dan memilih jarak yang tepat terhadap kisahnya. Karena, kadang kala bukan hal yang baik ketika aktor terlalu dekat dengan kisah yang diangkat, tetapi akan buruk ketika tidak bisa mendekati kisah yang diracik menjadi naskah. [T]

Tags: Komunitas MahimaMahima March March March 2020PerempuanTeater
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Kaki Tirtagangga-Tianyar-Trunyan – [Kenangan Lagu “Berita Kepada Kawan”]

Next Post

Arsitektur Pura Agung Besakih: Menjaga Tradisi

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Arsitektur Pura Agung Besakih: Menjaga Tradisi

Arsitektur Pura Agung Besakih: Menjaga Tradisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co