22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi, Ogoh-ogoh dan Kenangan Pahit Saat Memandu Acara Radio

Dian Suryantini by Dian Suryantini
March 23, 2020
in Esai
Nyepi, Ogoh-ogoh dan Kenangan Pahit Saat Memandu Acara Radio

Ogoh-ogoh ST. PUTRA YASA di Banjar Pengiasan, Dauh Puri Kauh Denpasar Barat [Foto Dian]

Tulisan ini sebenarnya lebih kepada curhat yang tak pernah tersampaikan. Cerita yang dituliskan ini nyata. Saya mengalaminya sekitar tahun 2017 . Saya masih ingat, hari itu hari Rabu jam 7 pagi. Saya masih bekerja di salah satu stasiun radio.

Pagi itu saya menggantikan jadwal on air rekan saya. Acaranya semacam opini-opini pendengar tentang topik tertentu yang sedang hits. Saat itu, topik yang saya angkat adalah “Haruskah saat Nyepi ada Ogoh-ogoh?” Karena kebetulan seminggu kemudian adalah Hari Raya Nyepi dan sehari sebelum Nyepi, identik dengan pengarakan ogoh-ogoh.

Sesi on air saat itu saya buka. Saya mengundang siapa saja yang ingin berkomentar dan menyampaikan opininya terkait topik yang saya berikan. Mereka bebas memberikan jawaban beserta alasannya.

Di tengah-tengah acara, ada satu penelepon yang saya pikir akan menyampaikan saran ataupun komentar keharusan adanya ogoh-ogoh atau tidak. Ternyata saya salah. Seorang bapak dari suatu kelurahan malah memaki saya saat on air.

Bayangkan saja, suaranya bapak itu, suara yang memarahi saya, didengar banyak orang. Mungkin didengar satu kabupaten. Mungkin ya. Dengan suara lantang di udara si bapak mengatakan bahwa saya adalah orang yang tak paham sastra. Tidak bisa memilih topik yang menarik. Bahkan mengatakan saya lebih buruk dari seseorang yang sedang magang.

Mendengar kalimat-kalimat itu tentu saja saya terkejut. Tapiapa daya, marah pun saya tak bisa. Ingin mengomentari balik, tapi saya tidak boleh melakukan itu. Saya hanya memberikan topik, merekalah yang berkomentar. Jadi saya tahan saja kemarahan saya.

Si bapak mengatakan bahwa ogoh-ogoh itu tidak mungkin tidak ada saat Nyepi. Jika tidak ada ogoh-ogoh maka bukan Nyepi namanya. Dengan nada yang sedikit kasar si bapak juga menyebutkan saya kurang membaca literatur. Dia mengatakan ogoh-ogoh itu sudah ada turun temurun dan disebutkan dalam lontar Hindu.

Entah lontar apa. Saya tak tau. Saya tak paham mengenai itu. Karena saya tak pernah membaca lontar dan tak bisa. Sempat saya merasa diri saya bodoh saat itu. Saya malu sekali. Saya sempat down. Sampai tante saya menelepon saya ke kantor menanyakan kondisi saya. Karena memang saat itu dia mendengar hujatan yang diberikan kepada saya lewat radio.

Supaya tak terlalu larut, terpaksa telepon si bapak saya putus dengan alasan mungkin si bapak kehabisan pulsa karena terlalu lama mengudara. On air saya tutup, lanjut saya konfirmasi dengan Majelis Madia Desa Pakraman (MMDP) yang sekarang namanya Majelis Desa Adat Pakraman (MDAP).

Dewa Putu Budarsa yang sering saya sapa dengan Aji Dewa menjelaskan keterkaitan Hari Raya Nyepi dan Ogoh-ogoh. Beliau mengatakan memang saat Nyepi identik dengan adanya ogoh-ogoh. Boleh saja ada ogoh-ogoh asal ada uang yang dipakai untuk membuat. Keberadaan ogoh-ogoh saat malam pengrupukan itu tidak wajib dan tidak bersifat memaksa.

Kenangan itu hingga kini sudah 2020 masih lekat diingatan saya. Diam-diam saya ketika bertemu seseorang yang berkutat dengan lontar, saya tanyakan. Apakah ada yang menyinggung tentang ogoh-ogoh. Mereka memang bilang “rasanya” tidak ada. Tapi dengan raut wajah yang meragukan. Saya pun sempat melupakan dan memutuskan untuk tidak menanyakannya lagi. Karena saya rasa percuma. Tak ada yang bisa memberikan jawaban yang pasti.

Sekarang tahun 2020. Kemeriahan hari Raya Nyepi tak lagi sama. Benar-benar sepi. Tak ada arak-arakan ogoh-ogoh disepanjang jalan. Karya seni ogoh-ogoh masing-masing sekaha teruna sudah diringkes rapi. Kenapa? Karena saat ini Bali, bahkan dunia tengah dilanda kegawatan. Ada virus jenis baru yang suka jalan-jalan lalu menyerang manusia. Hingga menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan serius. Virus itu disebut virus Corona atau Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Penularan virus ini sangat cepat. Bahkan melebihi perkembangan era 4.0. Virus ini dapat menular melalui kontak langsung dengan pasien yang positif. Untuk itu pemerintah menyarankan untuk menghindari keramaian dan melakukan social distancing dengan berdiam diri di rumah selama kurang lebih 2 pekan. Tujuannya untuk menekan penyebaran Covid-19 ini.

Dengan himbauan yang demikian, maka diputuskan parade ogoh-ogoh yang seharusnya dilakukan di malam pengrupukan (sehari sebelum Nyepi) diputuskan untuk ditiadakan. Jika tetap diadakan maka sangat berpotensi terjadi penularan virus massal. Karena banyaknya orang yang berkerumun di keramaian.

Sempat ada yang tidak terima dengan himbauan itu. Dan imbasnya pada saya. Tempat kerja saya yang baru menugaskan saya untuk menggali informasi dari berbagai sumber mengenai sejarah ogoh-ogoh. Saya iyakan saja dulu. Tiba-tiba saya teringat seorang budayawan yang juga ahli dibidang lontar, Sugi Lanus.

Saya langsung saja tanya tanpa bertele-tele. Karena saya tidak suka basa-basi. Saat saya tanya, Om Sugi, begitu saya sapa, mengatakan tidak ada lontar yang menyinggung tentang ogoh-ogoh. Pawai ogoh-ogoh hanyalah sebuah perayaan saja. Sesungguhnya ogoh-ogoh itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Tawur Agung dan Hari Raya Nyepi.

Sama halnya seseorang yang sedang menikah lalu mengadakan resepsi. Resepsi itu sebenarnya tidak mesti dirayakan, cukup banten biakaon saja. Resepsi itu hanya sebuah perayaan. Ogoh-ogoh sendiri muncul sekitar tahun 1983. Diwali di Denpasar. Tetapi filosofi dan sejarah adanya ogoh-ogoh tidak banyak diungkap.

Mungkin karena dari tahun 80-an ogoh-ogoh terus bermunculan dari tahun itu dan tetap ada hingga kini, maka dianggap suatu tradisi. Memang menjadi salah satu budaya Bali, tapi penjelasan mengenai ogoh-ogoh itu tak pernah disosialisasikan hingga kini. Makanya sedikit orang yang tahu bahwa sebenarnya memang tak ada kaitannya.

Termasuk saya. Dari tahun 2017, sekarang sudah 2020 baru mengetahui tentang ogoh-ogoh walau hanya ujungnya saja. Setidaknya saya dengan percaya diri megatakan ogoh-ogoh itu memang tidak wajib. Semoga bapak yang menghujat saya di tahun itu masih sehat dan membaca tulisan saya. Sehingga kedepannya tidak lagi menghujat orang dengan percaya diri tapi dengan pengetahuan yang terbatas. [T]

Tags: curhatHari Raya Nyepiogoh-ogohradio
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Virus Corona & Mahabharata — Hidup Aman Berdampingan dengan Bangsa Naga

Next Post

Efektifkah Stimulus Moneter di Tengah Resesi Ekonomi Akibat Covid-19?

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Efektifkah Stimulus Moneter di Tengah Resesi Ekonomi Akibat Covid-19?

Efektifkah Stimulus Moneter di Tengah Resesi Ekonomi Akibat Covid-19?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co