23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki yang Keliling Membonceng Grantang – [In Memoriam Ketut Jingga, Seniman Joged dari Runuh]

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 11, 2020
in Esai
Lelaki yang Keliling Membonceng Grantang – [In Memoriam Ketut Jingga, Seniman Joged dari Runuh]

Ketut Jingga sedang ngibing [Foto dipotong dari video Rahul Khana/facebook]

Lelaki itu biasanya keliling kota Singaraja, masuk satu kantor ke kantor lain. Ia berpakaian adat, naik sepeda motor. Yang selalu jadi perhatian, pada sadel belakang motornya terdapat grantang atau rindik (sebutan untuk perangkat gamelan joged bumbung).

Tentu saja ia bukan orang gila.

Ia masuk ke halaman Polres Buleleng, tak distop penjaga. Ia meluncurkan sepeda motornya hingga ke halaman belakang. Di tempat parkir, ia berhenti. Sendirian, dengan begitu semangat, sembari bersenandung tabuh jejogedan, ia membuka tali yang mengikat grantang di sadel belakang.

Grantang atau rindik itu terlepas dari ikatan. Lalu ia gotong sendiri, dengan begitu enteng, ia membawa grantang itu masuk, lewat pintu belakang, ke sebuah gedung. Ia masuk lorong menuju lobi depan, lalu menaruh grantang itu di sebuah sudut. Ia kemudian duduk bersila di belakang grantang, lalu memukul bilah-bilah bambu di grantang itu, dan terdengarlah alunan musik joged bumbung khas Buleleng, kadang juga terdengar familiar di telinga seperti musik joged bumbung di lobi-lobi hotel berbintang.

Lelaki itu cuek saja. Sejumlah polisi yang ngantor di lantai dua itu seakan tak terganggu. Beberapa polisi bahkan menonton sekilas sembari lalu begitu saja.

Mungkin sekitar seperempat jam, lelaki itu menaruh panggul (alat pemukul) di atas grantang, kemudian berdiri sembari mengusap-usap kancutnya yang tak kotor. Ia pergi begitu saja, sembari dan menyapa sejumlah polisi yang berpapasan dengannya. Ia menuju motor, menstarternya, lalu pergi.

Lha, grantangnya? Grantang itu ditinggalkan begitu saja, ditinggalkan di lobi kantor polisi itu.

***

Peristiwa itu terjadi ketika saya baru beberapa tahun bertugas jadi wartawan di Buleleng. Mungkin sekitar tahun 2005 atau sekitar-sekitar tahun itu. Lelaki yang membawa grantang itu adalah Ketut Jingga. Ia adalah seniman joged bumbung dari Desa Sari Mekar, atau biasa juga disebut Desa Runuh di Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Saya mengingat peristiwa itu setelah mendengar dari teman wartawan di Buleleng, bahwa seniman yang nyentrik dan banyak senyum itu meninggal Selasa, 10 Maret 2020, sekitar pukul 18.00 wita.

Sebagaimana ditulis Denpost, Ketut Jingga menderita sakit diabetes dan TBC. Sakitnya itu sebenarnya tak pernah mengurangi semangatnya untuk berkarya. Namun setelah jatuh di ruang tamu sekitar 6 bulan lalu, kondisinya drop. Setelah diperiksa, kakek enam cucu ini mengalami patah di bagian pinggul. Hal inilah yang menjadi beban pikiran seniman yang selalu energik ini sehingga kondirinya terus menurun sampai kemudian meninggal dalam usia 68 tahun.

“Pinggulnya yang patah itu yang menjadi pikiran bapak sehingga terus kepikiran,” tutur Komang Adya Yana (42) anak ketiga almarhum, sebagaimana dikutip Denpost.

***

Saya mungkin sudah sering melihat Ketut Jingga pada awal-awal saya bertugas di Buleleng, namun perhatian pada lelaki itu menajdi lebih lekat ketika ia saya lihat membawa grantang di Mapolres Buleleng, sebagaimana yang saya ceritakan di awal tulisan ini.

Seorang polisi saat itu mengatakan bahwa Ketut Jingga memang sengaja menaruh grantangnya di lobi Mapolres agar para polisi bisa memukulnya di saat-saat istirahat. Sesekali Jingga akan datang ke lobi itu, lengkap dengan pakaian adat, lalu duduk di belakang grantang, memukulnya sambil senyum-senyum sendiri. Jika ada polisi yang berniat belajar, ia tak segan mengajarinya dengan sabar.

Jingga memang sudah sempat menaruh grantang di lobi Mapolres itu beberapa bulan sebelumnya, namun grantang itu diambil kembali karena mengganggap suara bumbungnya sudah tak bagus lagi. Setelah diperbaiki, grantang itu dibawa kembali ke Mapolres. Atau mungkin saja grantang yang dibawa itu memang grantang baru, karena Jingga juga dikenal sebagai pembuat grantang yang piawi.

Apakah Mapolres memang memesan grantang untuk ditaruh di lobi?

Dari seseorang saya mendengar bahwa grantang di lobi itu adalah inisiatif Ketut Jingga sendiri yang kemudian disetujui oleh pihak Mapolres. Mungkin maksud Ketut Jingga tak sepenuhnya berniat berdagang, namun pihak Polres memberi dia penghargaan dengan membayar grantang itu dengan jumlah yang layak.   

Saya menduga Ketut Jingga punya niat mulia untuk memasyarakatkan tabuh-tabuh joged untuk semua lapiran masyarakat. Ia ingin semua orang bisa megambel joged, sehingga musik bambu terdengar bukan hanya di desa-desa, melainkan juga di kantor-kantor. Jika pun kemudian ia mendapat bayaran, itu hal yang sah.

Dugaan saya makin kuat ketika saya menyadari kemudian bahwa hampir di setiap lobi di kantor-kantor pemerintahan di Buleleng terdapat grantang milik Ketut Jingga, termasuk di lobi Kantor Bupati. Jingga menaruh grantang itu di lobi, ada yang karena memang dipesan oleh kepala kantor, ada yang ditaruh dengan inisiatif sendiri, meski mungkin saja empunya kantor tak menginginkannya.

Hampir setiap hari Ketut Jingga keliling naik motor. Secara bergiliran ia singgahi kantor-kantor itu, untuk sekadar menengok grantangnya di lobi kantor. Jika tak ada yang memainkannya, ia sendiri memainkannya. Atau, jika ada pegawai pada jam istirahat iseng-iseng memainkannya, ia akan senang melihatnya, bahkan ikut membagi ilmu megambel joged.

Maka, tidak heran jika pada masa-masa itu ketemu seseorang naik motor, berpakaian adat, kadang dengan udeng prada seperti penabuh joged yang sedang pentas, dia dipastikan adalah Ketut Jingga. Mungkin ia sedang membawa pesanan grantang di rumah seseorang, mungkin juga grantang itu bakal ditaruh dengan cuma-cuma di lobi sebuah kantor.

***

Saya beberapa kali bertemu Ketut Jingga, terutama di Kantor Bupati atau pada acara-acara seni di Buleleng. Ia memang punya komitmen besar untuk melestarikan kesenian joged bumbung. Di desanya di Sari Mekar, ia juga mengasuh sekaa joged bumbung, selain juga di desa-desa lain di Buleleng dan di luar Buleleng.

Tercatat 33 sekeha seni joged se-Bali telah dibinanya.  “Penghargaan sudah banyak, hanya satu penghargaan yang belum diraih, yakni Dharma Kusuma Propinsi Bali. Sudah tiga kali bapak mengajukan,” kata Adya..

Ketika merebak joged porno yang mengundang polemik berkepanjangan, Ketut Jingga termasuk seniman yang marah besar terhadap berkembangnya joged porno, baik di Buleleng maupun di kabupaten lain di Bali. Selain memberi pesan kepada sekaa joged yang dibinanya, ia juga menolak dengan cara terus-menerus memperkenalkan joged asli, sebagaimana pada awalnya diciptakan di Bali Utara.

Kata-kata yang sering ia ucapkan adalah, “Ngegol joged itu ke samping, bukan ke depan angkuk-angkuk!”

Berbagai pengalaman dan penghargaan sudah diterimanya dalam upaya melestarikan Joged Bumbung. Namun, kini sang “pembonceng rindik” ini sudah berpulang. Menurut rencana, jenasah akan di aben pada tanggal 17 Maret 2020 di Setra Runuh, Sukasada. [T]

Tags: bulelengin memoriamjoged bumbungSeni
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Belajar pada Belalang “Makules”

Next Post

“Menunggangi” Winasa Adalah Konyol – [Catatan Kecil Jelang Pilkada Jembrana]

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
“Menunggangi” Winasa Adalah Konyol – [Catatan Kecil Jelang Pilkada Jembrana]

“Menunggangi” Winasa Adalah Konyol – [Catatan Kecil Jelang Pilkada Jembrana]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co