3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki yang Keliling Membonceng Grantang – [In Memoriam Ketut Jingga, Seniman Joged dari Runuh]

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 11, 2020
in Esai
Lelaki yang Keliling Membonceng Grantang – [In Memoriam Ketut Jingga, Seniman Joged dari Runuh]

Ketut Jingga sedang ngibing [Foto dipotong dari video Rahul Khana/facebook]

Lelaki itu biasanya keliling kota Singaraja, masuk satu kantor ke kantor lain. Ia berpakaian adat, naik sepeda motor. Yang selalu jadi perhatian, pada sadel belakang motornya terdapat grantang atau rindik (sebutan untuk perangkat gamelan joged bumbung).

Tentu saja ia bukan orang gila.

Ia masuk ke halaman Polres Buleleng, tak distop penjaga. Ia meluncurkan sepeda motornya hingga ke halaman belakang. Di tempat parkir, ia berhenti. Sendirian, dengan begitu semangat, sembari bersenandung tabuh jejogedan, ia membuka tali yang mengikat grantang di sadel belakang.

Grantang atau rindik itu terlepas dari ikatan. Lalu ia gotong sendiri, dengan begitu enteng, ia membawa grantang itu masuk, lewat pintu belakang, ke sebuah gedung. Ia masuk lorong menuju lobi depan, lalu menaruh grantang itu di sebuah sudut. Ia kemudian duduk bersila di belakang grantang, lalu memukul bilah-bilah bambu di grantang itu, dan terdengarlah alunan musik joged bumbung khas Buleleng, kadang juga terdengar familiar di telinga seperti musik joged bumbung di lobi-lobi hotel berbintang.

Lelaki itu cuek saja. Sejumlah polisi yang ngantor di lantai dua itu seakan tak terganggu. Beberapa polisi bahkan menonton sekilas sembari lalu begitu saja.

Mungkin sekitar seperempat jam, lelaki itu menaruh panggul (alat pemukul) di atas grantang, kemudian berdiri sembari mengusap-usap kancutnya yang tak kotor. Ia pergi begitu saja, sembari dan menyapa sejumlah polisi yang berpapasan dengannya. Ia menuju motor, menstarternya, lalu pergi.

Lha, grantangnya? Grantang itu ditinggalkan begitu saja, ditinggalkan di lobi kantor polisi itu.

***

Peristiwa itu terjadi ketika saya baru beberapa tahun bertugas jadi wartawan di Buleleng. Mungkin sekitar tahun 2005 atau sekitar-sekitar tahun itu. Lelaki yang membawa grantang itu adalah Ketut Jingga. Ia adalah seniman joged bumbung dari Desa Sari Mekar, atau biasa juga disebut Desa Runuh di Kecamatan Sukasada, Buleleng.

Saya mengingat peristiwa itu setelah mendengar dari teman wartawan di Buleleng, bahwa seniman yang nyentrik dan banyak senyum itu meninggal Selasa, 10 Maret 2020, sekitar pukul 18.00 wita.

Sebagaimana ditulis Denpost, Ketut Jingga menderita sakit diabetes dan TBC. Sakitnya itu sebenarnya tak pernah mengurangi semangatnya untuk berkarya. Namun setelah jatuh di ruang tamu sekitar 6 bulan lalu, kondisinya drop. Setelah diperiksa, kakek enam cucu ini mengalami patah di bagian pinggul. Hal inilah yang menjadi beban pikiran seniman yang selalu energik ini sehingga kondirinya terus menurun sampai kemudian meninggal dalam usia 68 tahun.

“Pinggulnya yang patah itu yang menjadi pikiran bapak sehingga terus kepikiran,” tutur Komang Adya Yana (42) anak ketiga almarhum, sebagaimana dikutip Denpost.

***

Saya mungkin sudah sering melihat Ketut Jingga pada awal-awal saya bertugas di Buleleng, namun perhatian pada lelaki itu menajdi lebih lekat ketika ia saya lihat membawa grantang di Mapolres Buleleng, sebagaimana yang saya ceritakan di awal tulisan ini.

Seorang polisi saat itu mengatakan bahwa Ketut Jingga memang sengaja menaruh grantangnya di lobi Mapolres agar para polisi bisa memukulnya di saat-saat istirahat. Sesekali Jingga akan datang ke lobi itu, lengkap dengan pakaian adat, lalu duduk di belakang grantang, memukulnya sambil senyum-senyum sendiri. Jika ada polisi yang berniat belajar, ia tak segan mengajarinya dengan sabar.

Jingga memang sudah sempat menaruh grantang di lobi Mapolres itu beberapa bulan sebelumnya, namun grantang itu diambil kembali karena mengganggap suara bumbungnya sudah tak bagus lagi. Setelah diperbaiki, grantang itu dibawa kembali ke Mapolres. Atau mungkin saja grantang yang dibawa itu memang grantang baru, karena Jingga juga dikenal sebagai pembuat grantang yang piawi.

Apakah Mapolres memang memesan grantang untuk ditaruh di lobi?

Dari seseorang saya mendengar bahwa grantang di lobi itu adalah inisiatif Ketut Jingga sendiri yang kemudian disetujui oleh pihak Mapolres. Mungkin maksud Ketut Jingga tak sepenuhnya berniat berdagang, namun pihak Polres memberi dia penghargaan dengan membayar grantang itu dengan jumlah yang layak.   

Saya menduga Ketut Jingga punya niat mulia untuk memasyarakatkan tabuh-tabuh joged untuk semua lapiran masyarakat. Ia ingin semua orang bisa megambel joged, sehingga musik bambu terdengar bukan hanya di desa-desa, melainkan juga di kantor-kantor. Jika pun kemudian ia mendapat bayaran, itu hal yang sah.

Dugaan saya makin kuat ketika saya menyadari kemudian bahwa hampir di setiap lobi di kantor-kantor pemerintahan di Buleleng terdapat grantang milik Ketut Jingga, termasuk di lobi Kantor Bupati. Jingga menaruh grantang itu di lobi, ada yang karena memang dipesan oleh kepala kantor, ada yang ditaruh dengan inisiatif sendiri, meski mungkin saja empunya kantor tak menginginkannya.

Hampir setiap hari Ketut Jingga keliling naik motor. Secara bergiliran ia singgahi kantor-kantor itu, untuk sekadar menengok grantangnya di lobi kantor. Jika tak ada yang memainkannya, ia sendiri memainkannya. Atau, jika ada pegawai pada jam istirahat iseng-iseng memainkannya, ia akan senang melihatnya, bahkan ikut membagi ilmu megambel joged.

Maka, tidak heran jika pada masa-masa itu ketemu seseorang naik motor, berpakaian adat, kadang dengan udeng prada seperti penabuh joged yang sedang pentas, dia dipastikan adalah Ketut Jingga. Mungkin ia sedang membawa pesanan grantang di rumah seseorang, mungkin juga grantang itu bakal ditaruh dengan cuma-cuma di lobi sebuah kantor.

***

Saya beberapa kali bertemu Ketut Jingga, terutama di Kantor Bupati atau pada acara-acara seni di Buleleng. Ia memang punya komitmen besar untuk melestarikan kesenian joged bumbung. Di desanya di Sari Mekar, ia juga mengasuh sekaa joged bumbung, selain juga di desa-desa lain di Buleleng dan di luar Buleleng.

Tercatat 33 sekeha seni joged se-Bali telah dibinanya.  “Penghargaan sudah banyak, hanya satu penghargaan yang belum diraih, yakni Dharma Kusuma Propinsi Bali. Sudah tiga kali bapak mengajukan,” kata Adya..

Ketika merebak joged porno yang mengundang polemik berkepanjangan, Ketut Jingga termasuk seniman yang marah besar terhadap berkembangnya joged porno, baik di Buleleng maupun di kabupaten lain di Bali. Selain memberi pesan kepada sekaa joged yang dibinanya, ia juga menolak dengan cara terus-menerus memperkenalkan joged asli, sebagaimana pada awalnya diciptakan di Bali Utara.

Kata-kata yang sering ia ucapkan adalah, “Ngegol joged itu ke samping, bukan ke depan angkuk-angkuk!”

Berbagai pengalaman dan penghargaan sudah diterimanya dalam upaya melestarikan Joged Bumbung. Namun, kini sang “pembonceng rindik” ini sudah berpulang. Menurut rencana, jenasah akan di aben pada tanggal 17 Maret 2020 di Setra Runuh, Sukasada. [T]

Tags: bulelengin memoriamjoged bumbungSeni
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi, Belajar pada Belalang “Makules”

Next Post

“Menunggangi” Winasa Adalah Konyol – [Catatan Kecil Jelang Pilkada Jembrana]

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Menunggangi” Winasa Adalah Konyol – [Catatan Kecil Jelang Pilkada Jembrana]

“Menunggangi” Winasa Adalah Konyol – [Catatan Kecil Jelang Pilkada Jembrana]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co