2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dramatari Arja : Sekilas Perkembangan, Struktur dan Pakem Style Singapadu

tatkala by tatkala
March 6, 2020
in Esai
Dramatari  Arja : Sekilas Perkembangan,  Struktur dan Pakem Style Singapadu

Ni Nyoman Tjandri mempergakan style arja Singapadu dalam Kriyaloka (Workshop) Arja Klasik di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa 3 Maret 2020.

Oleh: Ni Nyoman Tjandri

I. Pengantar

Fenomena kesenian tradisional seperti Dramatari Arja dewasa ini telah menimbulkan wacana memperihatinkan akibat  berbagai perubahan yang terjadi telah banyak mengalami distorsi dalam berbagai aspeknya. Pengembangan kreativitasnya telah menuai polemik karena dianggap melampaui batas-batas  kepantasan sehingga disinyalir  mengaburkan pakem dramatari Arja klasik yang telah memiliki pakem tersendiri. Fenomena yang kini menonjol adalah beberapa pelaku seni dari komunitas seni Arja terlalu condong larut dalam selera pasar. Demi memenuhi  kebutuhan pasar terutama memanjakan penonton dengan gelak tawa, berbagai pakem didobrak dengan gerak “genjrang-genjring” dan bahkan mengarah pada gerak-gerak dan wacana porno yang vulgar.

Selain itu tata rias dan busana beberapa tokoh juga kadang-kadang diplesetkan dan lebih fatal lagi terkadang mengarah pada pelecehan seperti Mantri Buduh menggunakan gelungan Mantri tetapi menggunakan  saput tentu tidak dapat diterima, dianggap suatu hal yang telah menyimpang dari tatanan pekemnya. Sehubungan dengan hal tersebut upaya pemerintah provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan untuk menggagas workshop Arja klasik  seperti sekarang ini tentu merupakan hal yang sangat positif  sebelum hal-hal yang lebih parah terjadi dan menimpa seni dramatari Arja yang kita banggakan.

Tulisan ini ingin mencoba mengungkap kembali tentang Pakem Arja klasik berdasarkan apa yang telah diwariskan oleh para maestro terdahulu berdasarkan aloran pemikirannya yang masih kuat memegang teguh prinsip-prinsip estetika seni pada pakem pearjaan. Sekilas juga akan disinggung tentang asal mula perkembangan, Struktur Arja secara umum dan Pakem Dramatari Arja Style Singapadu.

Dramatari Arja adalah seni pertunjukan berbentuk dramatari menggunakan tembang macapat sebagai unsur pokok dalam dialog. Merujuk pada buku ensiklopedi Tari Bali karya I Made Bandem (1983:10) istilah arja diduga dari kata reja bahasa Sansekerta yang mendapat awalan “a” sehingga menjadi “areja”. Oleh karena kasus pembentukan kata, istilah areja berubah menjadi arja yang berarti sesuatu hal yang mengandung keindahan.

Dramatari ini dilihat dari tata rias dan busananya tampaknya merupakan perkembangan lanjut dan mendapat pengaruh dari Gambuh. Hal ini tampak jelas pada bagian unsur gerak antara gerak-gerak putri pada pagambuhan dengan gerakan pepeson galuh pada dramatari Arja tidak jauh berbeda hanya saja ketika berdialog pada galuh sudah menggunakan bahasa Bali. Sementara Putri Gambuh menggunakan dialog berbahasa Jawa kuno (Bali Kawi).

II. Perkembangan  Dramatari Arja

Dalam beberapa literatur dramatari Arja ini diduga berkembang dari Arja Dadap. Arja Dadap diduga muncul tahun 1775-1825, yaitu pada pemerintahan I Dewa Gde Sakti di Puri Klungkung, saat diadakannya upacara Pelebon yang dilakukan oleh menantu Beliau yang bernama I Gusti Ayu Karangasem. Upacara Pelebon untuk suami dan madunya dilakukan secara besar-besaran dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk raja-raja seluruh Bali dan membawa seni dari daerah masing-masing. Pada saat itulah I Dewa Agung Manggis asal Gianyar dan Dewa Agung Jambe menginisiasi pergelaran Arja untuk pertama kalinya. Ketika itu Arja dikenal dengan nama Dadap dan lakon yang dipertunjukkan adalah “Kesayang Limbur” (Bandem, 1983:10-11). Dadap adalah nama sejenis pohon dan juga berarti perisai. Pohon dadap adalah kayu sakti, sebagai lambang pembersihan atau alat penyucian yang selalu digunakan dalam setiap upacara di Bali.

 Arja Dadap digelar dengan tata cara wayang lemah untuk upacara pelebon, dengan memakai dahan dadap sebagai tiang kelir. Sejalan dengan wayang lemah maka tokoh-tokoh Arja pun dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan yang baik dan yang buruk. Ketika itu Arja tidak diringi gamelan tetapi penari-penarinya menari dengan menggunakan “tembang Lelawasan”, sejenis kidung upacara yang ada sekarang. Berpangkal dari Arja Dadap ini maka muncullah Arja di daerah dengan berbagai lakon yang berbeda-beda.

Di Singapadu muncul Arja Doyong atas prakarsa tokoh-tokoh  Gambuh Singapadu antara lain Nang Turun dan Cokorda Rai Panji. Semua tokoh diperankan oleh pria, dengan rias busana yang sederhana. Mereka bernyanyai bersahut-sahutan seperti halnya berpantun dewasa ini. Setelah Arja Doyong berkembang cukup lama maka muncullah Arja dengan lakon Pakang Raras di Banjar Tameng Sukawati yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh penari legong seperti Dewa Rai Perit  memerankan Putri, Anak  Agung Raka memerankan Mantri, I Kecar memerankan Penasar, dan yang lainnya. Arja Pakang Raras ini sudah diiringi dengan gamelan Geguntangan yaitu seperangkat gamelan yang terdiri dari sepasang kendang krumpungan, klenang, kajar, cengceng ricik, tawa-tawa, guntang  dan suling. Instrumen guntang ada dua jenis yang ukurannya lebih  kecil  berfungsi sebagai pemegang matra dan guntang yang lenbih besar sebagai finalis (gong).

Di Singapadu kemudian muncul Arja dengan lakon Sampik Ing Tai, dengan memasukkan unsur-unsur  budaya  Cina ke dalam format  Pearjaan seperti pepantunan, nyanyian, property dan kostum. Dalam waktu bersamaan muncul Arja di Blahbatuh dengan penari galuhnya yang terkenal bernama I Wayan Purna yang mahir menyajikan tembang Slopog. Tak lama kemudian di Keramas muncul Arja di Banjar Palaklagi dan kehidupannya didukung oleh tokoh-tokoh beken seperti I Karas, Ida Aji Gederan, I Klebit, dan I Reken.

Setelah populernya Arja di Bali Tengah sekitar tahun 1915-1920 di Singapadu muncul Arja dengan Lakon Jayaprana. Cerita ini konon dibawa oleh seorang pedagang Candu dari Liligundi Buleleng. Arja Jayaprana diperkenalkan oleh penari-penari I Made Tokolan, Nang Turun, dan I Gusti Ngurah Keceb. Keahlian Nang Turun diwarisi oleh I Wayan Geria dan I Made Kredek. Ketika I Wayan Geria dan I Made Kredek menjadi pembina Arja di Singapadu maka ditampilkan tokoh-tokoh wanita dalam pengembangan Arja Jayaprana di Singapadu dengan tokoh-tokoh wanita seperti Ni Nyoman Rindi (Ibu dari Prof. Wayan Dibia) Ni Made Senun, A.A. Rai Tangi, dan Ni Jero Sebita.

Ketika perkembangan dramatari Arja mulai meningkat sekitar tahun 1930, I Made Kredek mengajarkan Arja dengan aliran pemikirannya ke desa-desa di Bali seperti Kerambitan (Tabanan), Apuan (Bangli), Peliatan Ubud Gianyar, Kedaton dan Renon (Denpasar), bahkan sampai ke Pujungan Pupuan (Tabanan). Berkembangnya Arja di daerah-daerah maka kemudian berkembang istilah Arja Sebunan yakni sebuah group atau komunitas seni Arja yang berasal (nyebun) dari sebuah Banjar atau Desa Adat.

Sekitar tahun 1940-an berkembang istilah Arja Gede yaitu group Arja yang jumlah penari-penarinya relatif besar. Seperti menggunakan Mantri 17 orang penari untuk melakonkan Sayembara Drupadi. Dalam perkembangnnya pentolan-pentolan Arja Sebunan menghimpun diri dalam sebuah pementasan secara profesional yang disebut Arja Bon Bali. Dalam perkembangannya Arja Bon Bali kemudian disebut dengan Arja Roras karena terdiri dari dua belas (12) orang penari. Setelah sebutan Arja Roras pudar kemudian muncul istilah Arja telu aji siu karena ongkos yang diterima seorang penari Rp 1000,00 dibagi tiga yakni Rp 333, 33 tiga ratus tiga puluh tiga rupiah dan tiga puluh tiga sen). Setelah terjadi perubahan nilai mata uang, istilah arja telu aji siu berubah menjadi Arja Ri karena tokoh-tokoh idola penarinya diawali dengan nama Ri seperti Ribu, Riuh, Rinun, dan Rideng.

Tahun 1968 Arja RI bergabung dengan Arja Candra Metu Keluarga Kesenian Bali (KKB) Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Denpasar dengan memilih cerita Pakang Raras sebagai lakon utama. Arja ini dibintangi oleh penari-penari seperti Ni Nyoman Tjandri, Ni Made Suci, Cok Istri Rai Partini, Ni Wayan Ribu, dan Ni Made Rusni. Kemunculan Arja Candra Metu RRI Denpasar membawa perubahan dalam hal iringan yakni menggunkan gamelan Gong Kebyar, untuk mendapat kebebasan dalam hal kreativitas.

Ni Nyoman Tjandri sebagai pewaris langsung gaya I Made Kredek, hingga kini masih aktif mewariskan ilmunya dalam bidang tembang dan seni klasik Pearjaan kepada beberapa generasi muda di Desa Singapadu terutama di Banjar Mukti, Abasan, dan sekitarnya. Bahkan juga menghimpun anak-anak berbakat. Hasil binaannya beberapa kali  telah mampu menampilkan arja klasik dan arja inovatif melalui Sanggar Makaradhwaja, Singapadu, Gianyar. Beberapa inovasi dilakukan tidak saja terhadap lakonnya juga bentuk iringannya, dan kemasan struktur dramatiknya. Dalam konteks yang lebih luas juga masih aktif membina komunitas dari beberapa Seka Arja dari pelosok Bali dan juga murid-murd dari berbagai negara seperti Eropa, Jepang, dan Amerika.

Dilihat dari unsur-unsurnya Arja merupakan seni teater yang bersifat kerakyatan dan sangat kompleks karena merupakan perpaduan dari berbagai jenis kesenian yang hidup di Bali, seperti seni tari, seni drama, seni vokal, seni instrumental, puisi, seni peran, seni pantomim, seni busana, seni rupa dan sebagainya. Semua jenis seni yang bersatu dalam Arja dapat saling menyatu dan padu, sehingga satu sama lain tidak saling merugikan. Perpaduan ini amat menyatu dan padu, seperti halnya seni suara baik vokal (tembang) maupun bunyi gamelan yang bertangga nada slendro/pelog menjadi sajian yang sangat merdu dan menarik, sedangkan sebagai pendukung dan penegasan ceritera dilakukan melalui monolog dan dialog. 

Sebagai pertunjukan tradisional, Arja memerlukan penonton yang intim. Antara penari dan penonton sering saling berinteraksi untuk membangun komunikasi yang mampu menghidupkan suasana pertunjukan. Lelucon-lelucon yang baik bukan berdasarkan hafalan tetapi idealnya menurut Made Kredek   muncul dari ide cerita. Jika gagal minimal alur cerita di dapat, namun  jika lepas dari cerita,  besar kemungkinan istilah Bali “tengal”. Dan untuk mendukung keakraban antara penari dan penonton penari harus  cerdas dan bernas dalam memainkan diksi-diksi yang aktual. Oleh karena demikian maka model panggung yang dibutuhkan berbentuk kalangan.

Sumber lakon Arja yang utama adalah cerita Panji (Malat), yang merupkan kisah perburuan cinta antara Raden Inu Kerta Pati dengan Galuh Candra Kirana. Panji sebagai tokoh sentral sering dianggap sebagai culture hero (pahlawan budaya), yang berpetualang untuk memperjuangkan cintanya dengan berbagai rintangan dan ujian-ujian. Seringkali untuk mencapai tujuannya ia harus melakukan  penyamaran-penyamaran (nyineb wangsa), atau mengalami perubahan wujud tertentu.  

Siklus cerita seperti ini yang kemudian mampu memperkaya khasanah cerita dalam berbagai versinya seperti cerita Bandasura, Pakang Raras, Linggar Petak, I Godogan, Made Umbara, Cilinaya, I Made Ulangun, Kantong Bolong, dan Dempu Awang yang telah dikenal secara luas oleh masyarakat. Dalam perkembangannya cerita yang berkembang di masyarakat kerap menjadi sumber lakon seperti Jayaprana, Rare Angon, Japatuan, Cupak Gerantang, dan Basur. Epik Mahabaratha dan Ramayana yang begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat Bali juga tidak luput menjadi sasaran lakon Arja seperti Senepati Salya, Sayembara Drupadi. Fleksibilitas Arja juga mampu mengadopsi cerita yang bersumber dari novel, cerpen Bali Modern, dan fenomena  alam.  Waluh Kambang adalah lakon Arja yang ide ceritanya terisipirasi dari fenomena gelombang Tsunami tahun 2004.

Koreogreafer andal I Wayan Dibia juga menggagas lakon Arja dengan mengambil sumber cerita dari Novel Romeo dan Juliet, kemudian novel karya Sastra Bali Modern karya I Made Sanggra sehingga lahir kemudian Arja berjudul Ketemu di Tampak Siring.  Tahun 2015 Komang Sudirga menyusun naskah Arja berjudul  Tresna di Air Sanih  dengan mengadaptasi  Novel Bali Modern karya I Jelantik Santa, yang dipentaskan tahun 2015 oleh Group Arja dari Desa Singapadu Tengah sebagai Duta Gianyar. Kemasan lakon baru adalah salah satu bentuk pengembangan dramatari arja dalam berbagai inovasinya untuk memberikan semacam kemasan sajian alternatif. 

Lakon apapun yang dibawakan Arja selalu menampilkan tokoh-tokoh utama yang meliputi Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing – masing terdiri dari Punta dan Kartala.

Sebagai seni pertunjukan, Arja mempunyai fungsi untuk pendidikan. Biasanya masyarakat sesudah menonton Arja berhari-hari akan menirukan nyanyian dan lelucon yang ditampilkan oleh kelompok yang baru saja mereka tonton. Gerakan-gerakan lucu atau ungkapan tentang kejadian-kejadian yang menggelitik akan mereka ulangi dalam pergaulan sehari-hari. Dengan demikian Arja merupakan suatu media komunikasi yang sangat ampuh untuk menyampaikan pesan.

Menurut fungsinya Arja digolongkan ke dalam kelompok tari balih-balihan (hiburan) berbentuk teater. Arja merupakan seni teater yang sangat kompleks karena merupakan perpaduan dari berbagai jenis kesenian yang hidup di Bali, seperti seni tari, seni drama, seni vokal, seni instrumental, puisi, seni peran, seni pantomim, seni busana dan seni rupa. Sesungguhnya Arja adalah perpaduan antara dua pendukung teater, yaitu gagasan yang datang dari para pendukung (pemain) dan penonton.

Sebagai bentuk seni teater, Arja ini sangat komunikatif dengan masyarakat penikmatnya. Dari perkembangan selama ini dapat dikatakan bahwa Arja masih sangat populer di masyarakat Bali. Hal ini dapat dilihat dari kemauan masyarakat untuk berbondong-bondong meramaikan festival yang diadakan setiap tahun. Arja di Bali masih tersebar di banyak wilayah, seperti Denpasar, Bangli, Klungkung, Gianyar, Karangasem, Badung, Tabanan, dan Jembrana.

III. Struktur Arja

Pengertian struktur dalam kaitan adalah susunan atau urutan dari adegan-adegan dalam pertunjukan Arja. Secara umum dramatari arja klasik memiliki struktur seperti berikut.

Babak I

Diawali dengan pepeson tari ngugal oleh masing-masing tokohnya. Seperti Condong, Galuh, Desak Rai,  Limbur, dan Liku. Secara individual masing-masing tokoh selain menarikan  pepeson ngugal juga akan diselingi dengan  penyerita sebelum mengakhiri adegannya. Masing -masing tokoh ini menggunakan materi tembang yang berbeda untuk pengugalnya dan hal tersebut menjadi identitas karakternya seperti Condong menggunakan Tembang Pangkur, Galuh menggunakan tembang Dangdang atau Adri.

Desak Rai juga menggunakan tembang Dangdang namun pola wewiletannya lebih lincah sehingga karakter tembangnya lebih nglatir (genit). Limbur menggunakan Tembang Sinom lumrah namun agung dan berwibawa secara ambitus suara berada pada posisi vocal placement dengan nada register rendah (suara di madyaning lidah). Pada bagian penyerita Limbur biasanya melakukan monolog dengan ungkapan-ungkapan yang dipetik dari bait-bait karya sastra kakawin, kidung atau prosa yang dilagukan (palawakya).

Sementara Liku juga menggunakan tembang pangkur namun banyak di deviasi (penyimpangan). Tokoh ini sangat norak, ceplas-ceplos, dan gandrung akan hal-hal yang tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga sering memanfaatkan segala cara untuk mewujudakan kehendaknya.

Babak II

Diawali dengan penasar manis, menggunakan tembang Durma untuk pepeson ngugalnya. Gerak-geraknya luwes, agung dan berwibawa. Setelah melakukan penyerita ia akan memanggilnya adiknya  yang bernama Kartala. Tembang pepeson Kartala biasanya menggunakan Ginada, Ginanti, atau Pucung tergantung kemampuan penarinya. Usai melakukan dialog-dialog pemaparan situasi tertentu tentang kondisi istana dan junjungannya segera ia menghadap tuannya. Keluar Tokoh Mantri Manis dengan menggunakan Tembang Sinom Lumrah sebagai pengugalnya. Sinom yang dinyanyikan dengan suara nyaring, tinggi dan merdu. Posisi suara berada di tungtunging lidah.

Dalam penyerita Mantri Manis akan menggambarkan perasaan hatinya yang rindu akan kekasihnya, dan meminta kedua abdinya untuk tetap setia menemaninya. Penyerita Mantri Manis umumnya menggunakan Ginada Lumrah atau Sinom Wug Payangan. Untuk mengakhiri percakapan dan mengubah suasana yakni mengangkat suasana dari melankolis ke suasana yang lebih dinamis/tegang biasanya digunakan frase pendek “durung puput bebawosan” sebagai penciri perubahan adegan menuju pada alur cerita berikutnya. Bababk ini diakhiri dengan  masuknya semua pemain ke dalam rangki (out stage).

Babak III

Diawali dengan Pengugal tokoh Penasar Buduh dengan  mengunakan pupuj Durma  namun denga  gerak-gerak yang lebih keras, dengang, dan sombong. Analogi tokoh ini dalam pewayangan tidak jauh  berbeda dengan Tokoh Delem. Usai pernyerita ia memaggil adiknya bernama Wijil, biasanya menggunakan tembang Sinom Kalangwan, atau pupuh lainnya tergantung kemampuan penarinya. Watak tokoh  Wijil ini tak ubahnya Sangut dalam pewayangan, yang sangat cerdas dan pintar mencari aman untuk dirinya. Adegan ini biasanya lebih kocak dan wacvana tentang aktualisai fenomena dan kritik sosial yang dijadikan wacana  adu silang pendapat antara Punta dan Wijil.

Dialog ini akan diakhiri ketika tiba-tiba tuannya memanggil-manggil, aka tetapi saking asyiknya mereka berpura-pura tidak mendengar. Setelah diyakinkan yang memanggil junjungannya barulah mereka kaget dan siap siaga. Mantri Buduh sebelum menari pepeson akan menyanyi dalam krebeng dengan  pupuh Pangkur Jawa. Selama dalam krebeng Punta dan Wijil melakukan demonstrasi beratraksi gerak  improvisasi merespon nyanyian yang ditembangkan oleh Mantri Buduh. Adegan pengugal Mantri Buduh  dimulai dengan Tembang Durma Manis sebagai tembang  pengugalnya.

Dalam  adegan ini suasana tetap kocak karena Punta dan Wijil secara bergantian diminta menemani Tuannya untuk menari bersama (ngayah). Usai adegan pepeson ngugal dua orang parekannya mengabaikan tuannya dengan asyik bercerita tanpa peduli, sampai akhirnya mereka kena demprat. Sampai-sampai Tuannya ngambek  barulah mereka  mau menemai kembali untuk memasuki adegan penyerita.

Babak IV 

Adalah struktur dramatik tentang alur cerita yang sebenarnya. Pada adegan ini berbagai konflik dan ketegangan dibangun, melalui taktik yang licik, fitnah, provokasi, asutan, dan tipu ,uslihat lainnya suasana diinversi, wacana dimanipulasi yang mengakibatkan kesedihan, penderitaan, kejengkelan, dan berbagai perasaan yang terkadang membuat penonton, marah, iba, jengkel dan kecewa. Namun pada akhirnya ketegangan mengendor menuju pada penyelesaian masalah yakni kebenaranlah pada akhirnya yang menang. Dan terjadi instropeksi diri  tentang tindakan yang  khilaf menuju penyadaran bathin akan hal kebenaran  dan kekuatan cinta sejati.

IV Style (Gaya) Singapadu

Berbicara mengenai style adalah bicara mengenai gaya yakni suatu bentuk penampilan yang khas yang dapat dikaji dari bentuknya sebagai penciri. Bicara mengenai style juga tidak lepas bicara mengenai ciri khas yang menjadi habitus dalam sebuah penyajian. Sesuai konsep “desa kala patra” (tempat waktu dan situasi),  “desa mawa cara” (setiap desa memilki tata cara masing-masing) dan negara mawa tatwa” (setiap negara memiliki falsafahnya masing-masing), maka dalam persoalan style atau gaya,  konsep ini dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu gaya daerah (provinsi, kabupaten, desa), gaya kelompok atau komunitas, dan gaya individu. Terkadang dari gaya individu kemudian bisa berkembang menjadi gaya daerah.

Peneguhan dramatari Arja style Singapadu bisa jadi bermula dari aliran pemikiran seseorang (inidividu) menandai gaya daerah dalam hal ini desa Singapadu. Persoalan gaya dalam dramatari Arja,  dapat dicermati melalui beberapa aspek salah satunya adalah  hubungan frase musikal dengan gerak tarinya. Di Singapadu berkembang adagium jika penari Arja harus mampu “ngigel nuwutin gending” dan “ngendingin igel” artinya “menari mengikuti  nyanyian” dan “bernyanyi mengikuti irama tari”.

Ungkapan tersebut mengandung maksud bahwa seorang penari tidak semata-mata hafal dengan bentuk tembangnya tetapi ia harus tahu bagaimana menari berdasarkan tembang tersebut berapa baris, berapa suku kata  pemenggalannya  harus diperhitungkan betul sesuai dengan angsel-angsel struktur tarian dan juga pedum karangnya (koreografinya). Sebaliknya dia tidak hanya sekedar menembang tetapi bagaimana bernyanyi agar sesuai dengan irama tarian secara harmonis, sebaliknya dengan mengikuti irama nyanyian sudah terbayangkan bentuk tariannya. Sinkronisasi antara nyanyian dan gerak tentu sesuatu yang tidak mudah oleh karenanya bagi pemula seringkali penggalan baris-baris tembang itu mesti dipolakan dengan hitungan-hitungan tertentu secara frasering sesuai rasa musikal sebagai semacam pembakuan, untuk memudahkan sistem komunikasi baik antara penabuh maupun penari.

Gerak dalam dramatari Arja masih tetap mengacu pada konsep gerak tari Bali yaitu agem, tandang, tangkis, tangkep sesuai dengan tokoh yang diperankan. Kekhasan gerak masing-masing tokoh tampak jelas pada adegan struktur papeson. Selama masa menarikan tari papeson struktur formal tarian tetap dipertahankan seperti agem dan aspek lainnya. Penari diperkenankan  mulai seolah-olah ngelebang igel (lepas menari) ketika memasuki adegan pendramaan. Namun demikian hal yang tidak dapat diabaikan adalah takeh  atau tangkep di atas panggung. Hal ini penting untuk menguatkan ekspresi dan maksud pesan yang ingin disampaikan.

Dalam struktur tarian Dramatari Arja style Singapadu seorang pemeran tokoh dramatari Arja  harus menguasai uger-uger bentuk tembang secara fasih.  Bagaimana tidak untuk kepentingan dialog di atas panggung mereka harus mampu mengarang tembang secara spontanitas sesuai dengan kebutuhan dialog. Demikiam pula untuk kepentingan struktur pepeson, mesti diperhatikan seberapa  baris  untuk  bertembang di rangki, berapa baris mungkah lawang   (seberapa suku kata untuk angsel bawak, angsel kado, dan angsel lantang), seberapa  baris untuk ngilehin kalangan, kapan metanganan, apa kyu-kyu atau penanda untuk mencari angsel dan sebagainya. Terutama untuk ngeseh dan ngangsel dalam dramatari arja kyunya selalu datang dari penari. Dalam konteks ini terjadi tari mendominir musik.

Pembagian frase gending  tiap-tiap penari tokoh antara penari satu dengan lainnya tentu tidak sama, hal ini disebabkan oleh karena bentuk tembang berbeda juga bentuk tabuh iringannya yang juga berbeda antara batel, tabuh dua, dan tabuh untuk gending Adri. Untuk jenis tembang pangkur, durma, umumnya menggunakan ukuran tabuh  batel sehingga kyu angselnya terletak usai pukulan Gong (sir). Sementara untuk tabuh dua yang wataknya lebih tenang kyu angselnya umumnya usai jatuhnya pukulan tawa-tawa (pung), sedangkan untuk tembang Adri yang karakternya lebih lembut kyu angselnya jatuh pada pukulan tawa-tawa (pung) menuju Gong (sir).

V. Penutup

Berdasarkan uraian di atas maka Dramatari Arja telah mengalami masa perkembangan pasang surut selama tiga abad  (1775-2020) sejak masa kemunculannya. Banyak hal yang telah terjadi selama tiga abad masa perkembangannya. Termasuk hadirnya Dramatari Arja di Singapadu tidak dapt dipisahkan dari peran sentral I Made Kredek sebagai pelanjut dari seniman-seniman besar sebelumnya yang telah  berjasa meletakkan fondasi penting bagi perkembanag Dramatari Arja berikutnya.  Setelah populernya Arja di Bali Tengah sekitar tahun 1915-1920 di Singapadu muncul Arja dengan Lakon Jayaprana. Cerita ini konon dibawa oleh seorang pedagang Candu dari Liligundi Buleleng. Arja Jayaprana diperkenalkan oleh penari-penari I Made Tokolan, Nang Turun, dan I Gusti Ngurah Keceb. Keahlian Nang Turun diwarisi oleh I Wayan Geria dan I Made Kredek. Ketika I Wayan Geria dan I Made Kredek menjadi pembina Arja di Singapadu maka ditampilkan tokoh-tokoh wanita dalam pengembangan Arja Jayaprana di Singapadu dengan tokoh-tokoh wanita seperti Ni Nyoman Rindi (Ibu dari Prof. Wayan Dibia) Ni Made Senun, A.A. Rai Tangi, dan Ni Jero Sebita.

Airan pemikirannya kemudian ditancapkan pada setiap seka binaannya di beberapa desa di Bali. Struktur Dramatari Arja dalam pementasannya terdiri dari sedikitnya empat Babak, yang kemudian masing-masing Babak memiliki sub-struktur  yang disebut “igel ngugal” (tari pengenalan tokoh) oleh setiap pemain tokohnya. Style  pakem  Dramatari Arja Singapadu terletak pada hubungan antara gerak tari dan nyanyian, antara gerak dengan musik iringan, dan pemenggalan kata (frasering lagu) agar sesuai antara teks dan konteks dalam mengatur pedum karang (pembagian ruang menyusun  koreografinya).

Selain hal tersebut salah satu yang menjadi ciri khas Arja Singapadu adalah penggunaan tembang Adri untuk papeson Galuh. Gerakan yang luwes menyerupai gerak penari Galuh dalam Pagambuhan. Karakternya sedikit berbeda dengan tembang Dangdang yang digunakan Galuh pada umumnya. Demikian pula karakter liku sangat proporsioal dalam hal serius dan pura-pura konyol bukan terus menerus  diperlakukan seperti orang tidak waras. [T] [*]

_____

Tulisan ini adalah materi yang disampaikan dalam Kriyaloka (Workshop) Arja Klasik di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali, Selasa 3 Maret 2020. Workshop digelar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengawali persiapan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLII, tahun 2020. 

***

Ni Nyoman Tjandri (Ninik Candri), Lahir di Singapadu, 31-12-1949, adalah penari arja dari Singapadu yang hingga kini masih tetap setia mengembangkan seni arja khas Singapadu, salah satu dengan mendidik anak-anak menari arja.   

Mulai tahun 1964 diangkat  sebagai  tenaga honorer pada bagian Keluarga Kesenian Bali (KKB) RRI Denpasar. Tahun 1980 diangkat  sebagai Dosen Luar Biasa di ASTI Denpasar untuk mengampu Mata Kuliah Tembang dan Seni Tari Klasik (Arja, Janger dan Calonarang).Tahun 1982 ditugaskan mengajar Tembang untuk mahasiswa D2 Unud. Tahun 1982 diangkat sebagai karyawan tetap RRI Stasiun Denpasar 31 Desember 2006 memasuki masa Purna Bakti sebagai PNS di LPP RRI Stasiun Denpasar.

Tags: arjaGianyarPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2020SingapaduTaman Budaya Denpasar
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Persoalan Jiwa Pramuka Semata – [Tanggapan Untuk Tulisan “Pembina Pramuka”]

Next Post

Jagung Bakar

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Priayi Kecil

Jagung Bakar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co