23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arak Bali Legal, Penjor Galungan pun Makin Megah, Kreatif dan Mandiri…

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 7, 2020
in Esai
Arak Bali Legal, Penjor Galungan pun Makin Megah, Kreatif dan Mandiri…

Ilustrasi Jro Adit Alamsta

SEBAIKNYA arak Bali memang dilestarikan. Maksudnya, diberdayakan dengan baik, diminum secara baik-baik, dan dijual dalam usaha dagang yang baik demi meningkatkan martabat perekonomian rakyat dengan baik-baik. Tak paham saya soal alasan ekonomi, alasan budaya, apalagi alasan politik. Saya hanya paham satu alasan: arak dilestarikan agar kita bisa dengan mudah menciptakan penjor secara kreatif dan mandiri, terutama pada Hari Raya Galungan. Percayalah, ini alasan subyektif.

Begini. Dulu, saat saya kanak-kanak hingga usia ABG, pada saban jelang Galungan, kami sekawan sekampung, berlomba memburu ambu (daun aren/jaka/nira muda) ke semak-semak tegalan, lereng bukit atau tepi-tepi sungai. Dasar anak-anak kampung, dulu, memburu ambu adalah salah satu mainan mewah serangkaian menyambut Galungan. Tentu lantas diikuti mata pelajaran membuat penjor, lengkap dengan pernak-pernik hiasan dari bahan ambu. Mendirikan penjor dan menciptakan hiasan dari ambu, seperti salang waluh dan gelang-gelangan, jadi ajang kreatifitas ala kampung, yang murah, meriah, membahagiakan dan mandiri.

Kini, setiap menjelang Galungan, banyak kawan-kawan saya di kampung, paman saya, bapak saya, dan tetangga saya, mengeluh betapa susah mendapatkan ambu secara murah dan meriah. Pohon aren sudah langka bahkan nyaris punah. Jika pun pohon itu tumbuh dengan sendirinya di semak-semak, tak ada yang sudi merawat. Pohon itu dibiarkan kesepian seperti jomblo dijauhi teman, akhirnya mati perlahan dikaput semak.

Lha, kok ya susah-susah memikirkan ambu. Hidup kini serba praktis. Melamunkan punahnya pohon aren adalah kerja intelektual gagal yang sia-sia. Jangan cengeng, ambu masih mudah didapat, tentu dengan membeli di pasar. Kiriman dari luar Bali melimpah. Atau, bahkan ada penjor langsung jadi yang bisa dibeli di tepi jalan. Harganya variatif, dari ratusan ribu hingga jutaan. Hanya, mungkin hiasannya bukan dari ambu, melainkan dari daun-daun sejenis palma, mungkin dari hutan di Kalimantan yang pohonnya saja tak kita kenal.

Memelihara pohon aren, di zaman sekarang tak ada untungnya. Ia dipuji oleh orang-orang bijaksana sebagai pohon serbaguna, tapi dicampakkan karena tak menguntungkan lagi secara ekonomi. Buahnya bisa dibuat es kolang-kaling, tapi anak-anak lebih suka es krim. Batangnya bisa dibuat sagu untuk bubur ongol-ongol atau untuk menu makan bebek. Tapi bubur ongol-ongol kalah jauh dengan bubur ayam mozzarella, dan bebek kini tak makan sagu tapi makan sentrat.

Batang besar buah aren bisa disadap. Hasilnya bisa jadi tuak manis, lalu jadi gula aren, atau bisa jadi tuak wayah dan arak. Tapi siapa yang mau jual tuak manis yang usia enaknya sangat-sangat terbatas. Siapa mau bikin gula aren? Selain rumit, harganya murah. Kalau pun tuak wayah dan arak masih disukai, tapi tak banyak yang mau ambil risiko di depan hukum. Sial sedikit, bisa dicokok polisi.

Pohon kelapa yang juga penghasil tuak dan arak bernasib sama. Ia dianggap serbaguna, seluruh unsur pada pohon kelapa punya manfaat dan guna. Daunnya untuk atap dan pohonnya untuk bangun rumah, tapi rumah kini dibuat dari beton dan kayunya dari Kalimantan. Buahnya bisa dibuat minyak tanusan yang diproses secara tradisional. Tapi tak banyak yang sudi bikin minyak tanusan dengan ketekunan dan energi ekstra itu.

Soal minyak kelapa ini, saya pernah dengar cerita samar-samar. Bahwa dulu ada semacam kampanye  yang mempengaruhi citra orang terhadap minyak kelapa. Minyak kelapa dikatakan tidak sehat, kolestrolnya tinggi, tak bagus untuk dikonsumsi. Kampanye berhasil, ibu-ibu kemudian beralih ke minyak kelapa sawit yang memang kemudian beredar melimpah di toko dan warung-warung.

Saya tak tahu apakah cerita itu benar, namun kenyataannya pabrik kopra yang dulu banyak dibangun di Bali kini perlahan tutup. Imbasnya, pohon kelapa pun banyak ditebang karena buahnya jadi murah, hanya dibutuhkan untuk upacara agama, dan tak begitu diperlukan oleh industri. Untunglah (jika ini bisa disebut menguntungkan), pariwisata jadi penyelamat, karena buah kelapa yang muda bisa dijual mahal di restoran, bahkan lebih mahal dari buah kelapa matang yang sebenarnya bisa digunakan untuk banyak hal.           

Jadi, saya melamun lebih jauh, bagaimana kalau bahan-bahan tradisional untuk pelestarian kebudayaan adiluhung itu diselamatkan dengan memberdayakan produk-produk dari pohon tropis peninggalan leluhur itu sehingga ia bisa masuk dengan leluasa ke arena industri. Ambu dan janur, diselamatkan dengan cara memberdayakan produk gula aren dan memperjuangkan kembali citra minyak kelapa di dunia industri, setidaknya industri kecil dan menengah. Bila perlu pembuat gula aren dan minyak kelapa diberi subsidi, lalu tata niaganya dilindungi dengan cara apa pun agar tak mudah dikuasai tengkulak nakal.

Saya tahu sejumlah teman secara swadaya sudah mulai membangkitkan citra gula aren, tuak manis dan minyak kelapa tradisional di lapak-lapak modern, bahkan banyak yang dijual online. Selain itu, ada juga yang kembali memasarkan dengan amat gembira kue-kue tradisional yang masih punya kaitan erat dengan gula aren semacam laklak dan klepon, atau kue yang berhubungan dengan kelapa semacam urab ubi. Itu semua, saya pikir, adalah satu cara bagus untuk menyelamatkan ambu dan janur, agar kita bisa bikin penjor Galungan dengan kreatif dan mandiri.  

Jadi, ketika Gubernur Wayan Koster melegalkan arak Bali, saya termasuk orang yang tak sadar mengangguk-ngangguk bukan karena mabuk. Karena jika arak Bali diproduksi dengan  tata niaga yang baik dan aman, maka ambu pun bisa diselamatkan. Penjor Galungan bisa dibuat dengan mudah. Sekali lagi, ini alasan yang sangat subyektif dan personal, mungkin hanya pelamun seperti saya yang tak punya kerjaan ini yang menghubung-hubungkan hal-hal seperti ini    

Kalau ditanya apakah arak itu minuman baik atau minuman yang punya pengaruh buruk? Saya tak bisa menjawab karena saya bukan penggemar arak. Saya penggemar tuak manis campur mujito di restoran seorang teman di Tanjungbungkak Denpasar. Tapi tunggu, saya punya teman sekaligus guru. Ia seorang petani berpikiran modern dari Munduk, Buleleng. Namanya  Putu Ardana. Ia punya cerita tentang tahapan orang minum arak.

Kata dia, di Bali ada tertulis dalam naskah kuno tentang tahapan dan tata cara minum arak. Satu sloki itu menyehatkan, disebut Eka Padma Sari. Dua sloki menggembirakan, disebut Dwi Martani. Tiga  sloki menaikkan rasa percaya diri. Empat sloki sudah mulai berpengaruh buruk, mulai kehilangan kendali diri. Dalam naskah kuno hal itu disebut Catur Wanara Rukem, atau setelah meminum sloki keempat itu prilaku si peminum jadi seperti monyet berebut buah. Yang lucu itu istilah sloki kesembilan, Nawa Wagra Lupa, yang artinya macan lunglai setelah muntah-muntah, dan sloki kesepuluh disebut Dasa Buta Mati atau bangkai raksasa.

Nah, jika berhadapan dengan arak, tinggal pilih, mau menyehatkan, menggembirakan, atau mau jadi “bangkai raksasa”. [T]

Catatan:

  • Tulisan ini pertama kali disiarkan dalam kolom Lolohin Malu di Bali Express dengan judul “Lestarikan Arak Bali Agar Penjor Galungan Kreatif dan Mandiri”

Tags: arakarak balihari raya galungan
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Salah Ulat, atau Kita?

Next Post

Tanah Air – Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Tanah Air – Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan

Tanah Air - Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co