13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arak Bali Legal, Penjor Galungan pun Makin Megah, Kreatif dan Mandiri…

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 7, 2020
in Esai
Arak Bali Legal, Penjor Galungan pun Makin Megah, Kreatif dan Mandiri…

Ilustrasi Jro Adit Alamsta

SEBAIKNYA arak Bali memang dilestarikan. Maksudnya, diberdayakan dengan baik, diminum secara baik-baik, dan dijual dalam usaha dagang yang baik demi meningkatkan martabat perekonomian rakyat dengan baik-baik. Tak paham saya soal alasan ekonomi, alasan budaya, apalagi alasan politik. Saya hanya paham satu alasan: arak dilestarikan agar kita bisa dengan mudah menciptakan penjor secara kreatif dan mandiri, terutama pada Hari Raya Galungan. Percayalah, ini alasan subyektif.

Begini. Dulu, saat saya kanak-kanak hingga usia ABG, pada saban jelang Galungan, kami sekawan sekampung, berlomba memburu ambu (daun aren/jaka/nira muda) ke semak-semak tegalan, lereng bukit atau tepi-tepi sungai. Dasar anak-anak kampung, dulu, memburu ambu adalah salah satu mainan mewah serangkaian menyambut Galungan. Tentu lantas diikuti mata pelajaran membuat penjor, lengkap dengan pernak-pernik hiasan dari bahan ambu. Mendirikan penjor dan menciptakan hiasan dari ambu, seperti salang waluh dan gelang-gelangan, jadi ajang kreatifitas ala kampung, yang murah, meriah, membahagiakan dan mandiri.

Kini, setiap menjelang Galungan, banyak kawan-kawan saya di kampung, paman saya, bapak saya, dan tetangga saya, mengeluh betapa susah mendapatkan ambu secara murah dan meriah. Pohon aren sudah langka bahkan nyaris punah. Jika pun pohon itu tumbuh dengan sendirinya di semak-semak, tak ada yang sudi merawat. Pohon itu dibiarkan kesepian seperti jomblo dijauhi teman, akhirnya mati perlahan dikaput semak.

Lha, kok ya susah-susah memikirkan ambu. Hidup kini serba praktis. Melamunkan punahnya pohon aren adalah kerja intelektual gagal yang sia-sia. Jangan cengeng, ambu masih mudah didapat, tentu dengan membeli di pasar. Kiriman dari luar Bali melimpah. Atau, bahkan ada penjor langsung jadi yang bisa dibeli di tepi jalan. Harganya variatif, dari ratusan ribu hingga jutaan. Hanya, mungkin hiasannya bukan dari ambu, melainkan dari daun-daun sejenis palma, mungkin dari hutan di Kalimantan yang pohonnya saja tak kita kenal.

Memelihara pohon aren, di zaman sekarang tak ada untungnya. Ia dipuji oleh orang-orang bijaksana sebagai pohon serbaguna, tapi dicampakkan karena tak menguntungkan lagi secara ekonomi. Buahnya bisa dibuat es kolang-kaling, tapi anak-anak lebih suka es krim. Batangnya bisa dibuat sagu untuk bubur ongol-ongol atau untuk menu makan bebek. Tapi bubur ongol-ongol kalah jauh dengan bubur ayam mozzarella, dan bebek kini tak makan sagu tapi makan sentrat.

Batang besar buah aren bisa disadap. Hasilnya bisa jadi tuak manis, lalu jadi gula aren, atau bisa jadi tuak wayah dan arak. Tapi siapa yang mau jual tuak manis yang usia enaknya sangat-sangat terbatas. Siapa mau bikin gula aren? Selain rumit, harganya murah. Kalau pun tuak wayah dan arak masih disukai, tapi tak banyak yang mau ambil risiko di depan hukum. Sial sedikit, bisa dicokok polisi.

Pohon kelapa yang juga penghasil tuak dan arak bernasib sama. Ia dianggap serbaguna, seluruh unsur pada pohon kelapa punya manfaat dan guna. Daunnya untuk atap dan pohonnya untuk bangun rumah, tapi rumah kini dibuat dari beton dan kayunya dari Kalimantan. Buahnya bisa dibuat minyak tanusan yang diproses secara tradisional. Tapi tak banyak yang sudi bikin minyak tanusan dengan ketekunan dan energi ekstra itu.

Soal minyak kelapa ini, saya pernah dengar cerita samar-samar. Bahwa dulu ada semacam kampanye  yang mempengaruhi citra orang terhadap minyak kelapa. Minyak kelapa dikatakan tidak sehat, kolestrolnya tinggi, tak bagus untuk dikonsumsi. Kampanye berhasil, ibu-ibu kemudian beralih ke minyak kelapa sawit yang memang kemudian beredar melimpah di toko dan warung-warung.

Saya tak tahu apakah cerita itu benar, namun kenyataannya pabrik kopra yang dulu banyak dibangun di Bali kini perlahan tutup. Imbasnya, pohon kelapa pun banyak ditebang karena buahnya jadi murah, hanya dibutuhkan untuk upacara agama, dan tak begitu diperlukan oleh industri. Untunglah (jika ini bisa disebut menguntungkan), pariwisata jadi penyelamat, karena buah kelapa yang muda bisa dijual mahal di restoran, bahkan lebih mahal dari buah kelapa matang yang sebenarnya bisa digunakan untuk banyak hal.           

Jadi, saya melamun lebih jauh, bagaimana kalau bahan-bahan tradisional untuk pelestarian kebudayaan adiluhung itu diselamatkan dengan memberdayakan produk-produk dari pohon tropis peninggalan leluhur itu sehingga ia bisa masuk dengan leluasa ke arena industri. Ambu dan janur, diselamatkan dengan cara memberdayakan produk gula aren dan memperjuangkan kembali citra minyak kelapa di dunia industri, setidaknya industri kecil dan menengah. Bila perlu pembuat gula aren dan minyak kelapa diberi subsidi, lalu tata niaganya dilindungi dengan cara apa pun agar tak mudah dikuasai tengkulak nakal.

Saya tahu sejumlah teman secara swadaya sudah mulai membangkitkan citra gula aren, tuak manis dan minyak kelapa tradisional di lapak-lapak modern, bahkan banyak yang dijual online. Selain itu, ada juga yang kembali memasarkan dengan amat gembira kue-kue tradisional yang masih punya kaitan erat dengan gula aren semacam laklak dan klepon, atau kue yang berhubungan dengan kelapa semacam urab ubi. Itu semua, saya pikir, adalah satu cara bagus untuk menyelamatkan ambu dan janur, agar kita bisa bikin penjor Galungan dengan kreatif dan mandiri.  

Jadi, ketika Gubernur Wayan Koster melegalkan arak Bali, saya termasuk orang yang tak sadar mengangguk-ngangguk bukan karena mabuk. Karena jika arak Bali diproduksi dengan  tata niaga yang baik dan aman, maka ambu pun bisa diselamatkan. Penjor Galungan bisa dibuat dengan mudah. Sekali lagi, ini alasan yang sangat subyektif dan personal, mungkin hanya pelamun seperti saya yang tak punya kerjaan ini yang menghubung-hubungkan hal-hal seperti ini    

Kalau ditanya apakah arak itu minuman baik atau minuman yang punya pengaruh buruk? Saya tak bisa menjawab karena saya bukan penggemar arak. Saya penggemar tuak manis campur mujito di restoran seorang teman di Tanjungbungkak Denpasar. Tapi tunggu, saya punya teman sekaligus guru. Ia seorang petani berpikiran modern dari Munduk, Buleleng. Namanya  Putu Ardana. Ia punya cerita tentang tahapan orang minum arak.

Kata dia, di Bali ada tertulis dalam naskah kuno tentang tahapan dan tata cara minum arak. Satu sloki itu menyehatkan, disebut Eka Padma Sari. Dua sloki menggembirakan, disebut Dwi Martani. Tiga  sloki menaikkan rasa percaya diri. Empat sloki sudah mulai berpengaruh buruk, mulai kehilangan kendali diri. Dalam naskah kuno hal itu disebut Catur Wanara Rukem, atau setelah meminum sloki keempat itu prilaku si peminum jadi seperti monyet berebut buah. Yang lucu itu istilah sloki kesembilan, Nawa Wagra Lupa, yang artinya macan lunglai setelah muntah-muntah, dan sloki kesepuluh disebut Dasa Buta Mati atau bangkai raksasa.

Nah, jika berhadapan dengan arak, tinggal pilih, mau menyehatkan, menggembirakan, atau mau jadi “bangkai raksasa”. [T]

Catatan:

  • Tulisan ini pertama kali disiarkan dalam kolom Lolohin Malu di Bali Express dengan judul “Lestarikan Arak Bali Agar Penjor Galungan Kreatif dan Mandiri”

Tags: arakarak balihari raya galungan
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Salah Ulat, atau Kita?

Next Post

Tanah Air – Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Tanah Air – Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan

Tanah Air - Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co