2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arak Bali Legal, Penjor Galungan pun Makin Megah, Kreatif dan Mandiri…

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 7, 2020
in Esai
Arak Bali Legal, Penjor Galungan pun Makin Megah, Kreatif dan Mandiri…

Ilustrasi Jro Adit Alamsta

SEBAIKNYA arak Bali memang dilestarikan. Maksudnya, diberdayakan dengan baik, diminum secara baik-baik, dan dijual dalam usaha dagang yang baik demi meningkatkan martabat perekonomian rakyat dengan baik-baik. Tak paham saya soal alasan ekonomi, alasan budaya, apalagi alasan politik. Saya hanya paham satu alasan: arak dilestarikan agar kita bisa dengan mudah menciptakan penjor secara kreatif dan mandiri, terutama pada Hari Raya Galungan. Percayalah, ini alasan subyektif.

Begini. Dulu, saat saya kanak-kanak hingga usia ABG, pada saban jelang Galungan, kami sekawan sekampung, berlomba memburu ambu (daun aren/jaka/nira muda) ke semak-semak tegalan, lereng bukit atau tepi-tepi sungai. Dasar anak-anak kampung, dulu, memburu ambu adalah salah satu mainan mewah serangkaian menyambut Galungan. Tentu lantas diikuti mata pelajaran membuat penjor, lengkap dengan pernak-pernik hiasan dari bahan ambu. Mendirikan penjor dan menciptakan hiasan dari ambu, seperti salang waluh dan gelang-gelangan, jadi ajang kreatifitas ala kampung, yang murah, meriah, membahagiakan dan mandiri.

Kini, setiap menjelang Galungan, banyak kawan-kawan saya di kampung, paman saya, bapak saya, dan tetangga saya, mengeluh betapa susah mendapatkan ambu secara murah dan meriah. Pohon aren sudah langka bahkan nyaris punah. Jika pun pohon itu tumbuh dengan sendirinya di semak-semak, tak ada yang sudi merawat. Pohon itu dibiarkan kesepian seperti jomblo dijauhi teman, akhirnya mati perlahan dikaput semak.

Lha, kok ya susah-susah memikirkan ambu. Hidup kini serba praktis. Melamunkan punahnya pohon aren adalah kerja intelektual gagal yang sia-sia. Jangan cengeng, ambu masih mudah didapat, tentu dengan membeli di pasar. Kiriman dari luar Bali melimpah. Atau, bahkan ada penjor langsung jadi yang bisa dibeli di tepi jalan. Harganya variatif, dari ratusan ribu hingga jutaan. Hanya, mungkin hiasannya bukan dari ambu, melainkan dari daun-daun sejenis palma, mungkin dari hutan di Kalimantan yang pohonnya saja tak kita kenal.

Memelihara pohon aren, di zaman sekarang tak ada untungnya. Ia dipuji oleh orang-orang bijaksana sebagai pohon serbaguna, tapi dicampakkan karena tak menguntungkan lagi secara ekonomi. Buahnya bisa dibuat es kolang-kaling, tapi anak-anak lebih suka es krim. Batangnya bisa dibuat sagu untuk bubur ongol-ongol atau untuk menu makan bebek. Tapi bubur ongol-ongol kalah jauh dengan bubur ayam mozzarella, dan bebek kini tak makan sagu tapi makan sentrat.

Batang besar buah aren bisa disadap. Hasilnya bisa jadi tuak manis, lalu jadi gula aren, atau bisa jadi tuak wayah dan arak. Tapi siapa yang mau jual tuak manis yang usia enaknya sangat-sangat terbatas. Siapa mau bikin gula aren? Selain rumit, harganya murah. Kalau pun tuak wayah dan arak masih disukai, tapi tak banyak yang mau ambil risiko di depan hukum. Sial sedikit, bisa dicokok polisi.

Pohon kelapa yang juga penghasil tuak dan arak bernasib sama. Ia dianggap serbaguna, seluruh unsur pada pohon kelapa punya manfaat dan guna. Daunnya untuk atap dan pohonnya untuk bangun rumah, tapi rumah kini dibuat dari beton dan kayunya dari Kalimantan. Buahnya bisa dibuat minyak tanusan yang diproses secara tradisional. Tapi tak banyak yang sudi bikin minyak tanusan dengan ketekunan dan energi ekstra itu.

Soal minyak kelapa ini, saya pernah dengar cerita samar-samar. Bahwa dulu ada semacam kampanye  yang mempengaruhi citra orang terhadap minyak kelapa. Minyak kelapa dikatakan tidak sehat, kolestrolnya tinggi, tak bagus untuk dikonsumsi. Kampanye berhasil, ibu-ibu kemudian beralih ke minyak kelapa sawit yang memang kemudian beredar melimpah di toko dan warung-warung.

Saya tak tahu apakah cerita itu benar, namun kenyataannya pabrik kopra yang dulu banyak dibangun di Bali kini perlahan tutup. Imbasnya, pohon kelapa pun banyak ditebang karena buahnya jadi murah, hanya dibutuhkan untuk upacara agama, dan tak begitu diperlukan oleh industri. Untunglah (jika ini bisa disebut menguntungkan), pariwisata jadi penyelamat, karena buah kelapa yang muda bisa dijual mahal di restoran, bahkan lebih mahal dari buah kelapa matang yang sebenarnya bisa digunakan untuk banyak hal.           

Jadi, saya melamun lebih jauh, bagaimana kalau bahan-bahan tradisional untuk pelestarian kebudayaan adiluhung itu diselamatkan dengan memberdayakan produk-produk dari pohon tropis peninggalan leluhur itu sehingga ia bisa masuk dengan leluasa ke arena industri. Ambu dan janur, diselamatkan dengan cara memberdayakan produk gula aren dan memperjuangkan kembali citra minyak kelapa di dunia industri, setidaknya industri kecil dan menengah. Bila perlu pembuat gula aren dan minyak kelapa diberi subsidi, lalu tata niaganya dilindungi dengan cara apa pun agar tak mudah dikuasai tengkulak nakal.

Saya tahu sejumlah teman secara swadaya sudah mulai membangkitkan citra gula aren, tuak manis dan minyak kelapa tradisional di lapak-lapak modern, bahkan banyak yang dijual online. Selain itu, ada juga yang kembali memasarkan dengan amat gembira kue-kue tradisional yang masih punya kaitan erat dengan gula aren semacam laklak dan klepon, atau kue yang berhubungan dengan kelapa semacam urab ubi. Itu semua, saya pikir, adalah satu cara bagus untuk menyelamatkan ambu dan janur, agar kita bisa bikin penjor Galungan dengan kreatif dan mandiri.  

Jadi, ketika Gubernur Wayan Koster melegalkan arak Bali, saya termasuk orang yang tak sadar mengangguk-ngangguk bukan karena mabuk. Karena jika arak Bali diproduksi dengan  tata niaga yang baik dan aman, maka ambu pun bisa diselamatkan. Penjor Galungan bisa dibuat dengan mudah. Sekali lagi, ini alasan yang sangat subyektif dan personal, mungkin hanya pelamun seperti saya yang tak punya kerjaan ini yang menghubung-hubungkan hal-hal seperti ini    

Kalau ditanya apakah arak itu minuman baik atau minuman yang punya pengaruh buruk? Saya tak bisa menjawab karena saya bukan penggemar arak. Saya penggemar tuak manis campur mujito di restoran seorang teman di Tanjungbungkak Denpasar. Tapi tunggu, saya punya teman sekaligus guru. Ia seorang petani berpikiran modern dari Munduk, Buleleng. Namanya  Putu Ardana. Ia punya cerita tentang tahapan orang minum arak.

Kata dia, di Bali ada tertulis dalam naskah kuno tentang tahapan dan tata cara minum arak. Satu sloki itu menyehatkan, disebut Eka Padma Sari. Dua sloki menggembirakan, disebut Dwi Martani. Tiga  sloki menaikkan rasa percaya diri. Empat sloki sudah mulai berpengaruh buruk, mulai kehilangan kendali diri. Dalam naskah kuno hal itu disebut Catur Wanara Rukem, atau setelah meminum sloki keempat itu prilaku si peminum jadi seperti monyet berebut buah. Yang lucu itu istilah sloki kesembilan, Nawa Wagra Lupa, yang artinya macan lunglai setelah muntah-muntah, dan sloki kesepuluh disebut Dasa Buta Mati atau bangkai raksasa.

Nah, jika berhadapan dengan arak, tinggal pilih, mau menyehatkan, menggembirakan, atau mau jadi “bangkai raksasa”. [T]

Catatan:

  • Tulisan ini pertama kali disiarkan dalam kolom Lolohin Malu di Bali Express dengan judul “Lestarikan Arak Bali Agar Penjor Galungan Kreatif dan Mandiri”

Tags: arakarak balihari raya galungan
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Salah Ulat, atau Kita?

Next Post

Tanah Air – Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tanah Air – Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan

Tanah Air - Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co