12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikalisasi Rasa Pink Floyd, Led Zepplin : Proses Musikalitas Lantaidua

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 7, 2019
in Esai
Musikalisasi Rasa Pink Floyd, Led Zepplin : Proses Musikalitas Lantaidua

Musikalisasi Puisi Adalah Ruang Nostalgia.

Saya mengenal musikalisasi puisi ketika duduk di bangku SMP, waktu itu saya menganggap musikalisasi puisi adalah varian lain dalam menyajikan puisi selain dibaca. Hingga saya duduk di sekolah menengah atas lomba musikalisasi puisi kerap menjadi satu cabang lomba yang selalu dinanti dan diminati, oleh kawan-kawan yang tergabung dalam kelompok teater di sekolahnya.

Dalam perlombaan yang menderu itu, menimbulkan banyak pergesekan dan uri mencuri teknik menggubah puisi menjadi lagu. Pun tidak jarang tumbuh dendam antar kelompok, sehingga ajang lomba dinanti sebagai perhelatan kekuatan dan peningkatan skill dalam meracik lagu. Para punggawa muda ini selalu menelisik hal baru, meraba teknik eksperimen, meramu upaya sajian yang terbaik.

Perseteruan dalam suatu lomba memang menjadi kenikmatan tersendiri dan menumbuhkan dinamika musikalisasi puisi.Namun di satu sisi juga jurang bagi perkembangan atas gubahan yang itu-itu saja karena ada kecenderungan siapa yang juara selalu ditiru untuk menggapai juara tahun berikutnya.Hal itu berlangsung hingga kini.

Dari saya SMP itu hingga saat ini ruang tumbuh musikalisasi Denpasar di dominasi oleh hegemoni institusi pendidikan, belum muncul banyak kelompok independen yang secara serius dan percaya diri melabeli dirinya sebagai pemusikalisasi puisi. Jikapun ada, kita masih dapat menghitungnya dengan  jari, semisal Kelompok Sekali Pentas yang dibentuk oleh Heri Windi Anggara, Bali Musik Puisinya milik penyair Tan Lio Lie, Kelompok Senja di Cakrawala milik Bayu Reinhard dan kawan-kawan seperjuangannya. Biasanya mereka pentas dalam mengisi suatu acara, kalaupun menelurkan album produktifitasnya masih kembang kempis.

Kembali lagi keperseteruan lomba musikalisasi puisi,celakanya dinamika tersebut menghasilkan rasa yang sama, hampir sama, 11-12. Kemudian terjadilah yang mungkin bisa dikatakan penyeragaman bentuk, lalu di mana letak kenikmatan-kebebasan dalam menafsir puisi menjadi lagu?Saya pernah menonton lomba musikalisasi puisi yang diadakan oleh Balai Bahasa Bali, tahun 2018.Beberapa garapan kawan-kawan dapat saya bentangkan kemudian mencari kemiripan gubahannya.

“Bagian ini mirip garapannya si itu yah, bagian penggunaan properti ini seperti yang dilakukan seniman itu, intronya mirip anak-anak komunitas itu yah” sekiranya begitulah saya menggerutu di bangku belakang penonton saat itu.

Memang tidak yang salah pada sebuah penyeragaman bentuk, ada beberapa kemungkinannya, yaitu refrensi-refrensi kawan-kawan pada corak bermusikalisasi pendahulunya yang juara-juara itu, yang  notabene digemari kaum juri. Para punggawa-punggawanya malas berexplorasi pada bentuk baru, tidak ada pembina musikalisasi puisi yang memberi ruang bebas muridnya agar tidak mengikuti kekhasan sang pembina. aaaaarrrggh ada banyak kemungkinan lainnya yang jika dijabarkan mungkin panjang dan dapat didiskusikan dengan hangat.

Pertemuan Dengan Lantai Dua

Kemudian, bertemulah saya dengan kelompok Lantai Dua di Festival Musik Rumah 2019.Mereka tampil dalam mengisi konser sederhana di rumah pelukis Made Bhudiana.Sebelumnya kawan-kawan juga membicarakan kelompok ini dibeberapa pertemuan dan diskusi, mulai dari musikalitasnya hingga menuju suatukemungkinan baru di dunia persilatan musikalisasi puisi Bali.Saya dan kawan-kawan menyimpulkan dengan serampangan bahwa Lantai Dua hadir tidak dalam skena sejarah musikalisasi puisi yang kami pahami dari dulu. Lantai Dua hadir di luar skena, musiknya tidak berbatas  pada ranah-ranah biasanya.

Saya dijajaran depan menikmati mereka yang tengah beraksi, saya hanyut dalam dendangan sang vokalis. Jika tadi di awal saya mengatakan menonton musikalisasi puisi merupakan ruang nostalgia, hal itu terbantahkan.Saya seperti menonton konser sebuah band etnik, sekelas Theori of Discoutic dari Makasar atau Rubah Di Selatan dari Yogjakarta. Apalagi saat mereka membawakan lagu kedua, dengan menambah bunyi kulkul bambu kecil dengan suara sang vokalis yang lantang nan magis  diramu dengan gesekan gitar yang rancak bana !

“Lah ini mah bukan musikalisasi puisi, bentukin band aja sekalian, lebih masuk tu”ujar saya kepada seorang kawan yang menonton dengan khusyuk.

Dan akhirnya saya pun berkesempatan menilik lebih jauh (dalam tulisan ini), bagaimana mereka  merancang bangunan musik, serta aksi-aksi spontan yang menggugah penonton untuk tetap diamdalam menikmati hidangan musik mereka.

Lantai Dua adalah ruang eksistensi berkelanjutan bagi sekelompok muda yang dulunya satu ekstrakulikuler di SMA N 7 Denpasar, Teater Antariksa. Mereka adalah Anak Agung Ngurah Bagus Adiprana Kusuma (Vocal arr), Anak Agung Ngurah Gyan Satria Daiva (Lead Guitar arr), Septian Efendy (Rhytm arr), I Putu Adi Subaktha Putra (Percussion), I Putu Agus Artadi Jaya (Bass), Ragil Mangku Alam Sampurna (Puitor)dan  Andries Lisardo Bibim Setiawan (ex Rhytm arr). Kerinduan menimba ilmu dan berkehidupan di Teater Antariksa menuntun mereka dengan sadar untuk membentuk kelompok independen, yang awalnya bernama Lante Dua.

Adip sang vokalis sekaligus pemimpin kelompok ini menjelaskan awalnya Lantai Dua tidak hanya bermusikalisasi puisi, tapi juga bermain operet, drama modern, pantomime dan bentuk seni pertunjukan lainnya. ternyata selain kelangenan berkarya ada motif di balik perkumpulan ini, mereka hendak membuktikan kepada orang tua, bahwa kegiatan kumpul-kumpul yang mereka lakukan memiliki suatu capaian dan menghasilkan (dalam hal ini uang). Mereka pun menerima pembuatan karya pertunjukan pesanan dari suatu acara, lalu mengikuti lomba musikalisasi puisi, mengisi acara di beberapa café dan lain sebagainya. Terkait lomba mereka selalu mendapat juara,  biasanya uang pembianaan mereka bagi rata dan piala mereka gilir untuk ditunjukan kepada orang tua di rumah.

“Kalau kita juara, pialanya digilir dibawa pulang, semingguan, lalu ganti lagi ke yang lain. Agar orang rumah tahu kami juga serius dalam menjalani pilihan” ujar Adip yang saat ini menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali

Dari tahun 2016 (awal terbentuk) hingga tahun 2018 mereka mengalami kontemplasi diri secara tidak sadar, kemudian memilih jalan Musikalisasi Puisi sebagai jalur gerakan kelompok.Karena masih terpaut erat dengan sastra Indonesia khususnya puisi.

“Ternyata teman-teman memiliki potensi untuk menggubah lagu, terbukti dari juara yang kami dapatkan. lah kenapa tidak untuk membuat kelompok musik. Lagian kami udah tahu malu, malu aja main operet lagi” tambah Adip sambil tertawa

Bagi Adip alih wahana puisi menjadi musik adalah suatu tantangan besar, puisi sendiri memiliki ruang interpretasi yang luas terhadap pengalaman pembaca, kemudian ruang sublim itu harus diejawantahkan dalam alunan musik.Kadang mendekati makna, kadang pula sangat jauh, tapi begitulah suatu upaya dalam mengenali puisi.Dalam pemaknaan puisi saja perdebatannya sangat panjang karena setiap anggota memiliki kedalaman empiris yang berbeda-beda.

Untuk itu Lantai Dua memiliki dua tahap sistematis dalam penciptaan karyanya. Pertama dijabarkan berdasarkan hasil tangkapan interpretasi yang dilakukan oleh tiga personel yaitu Anak Agung Ngurah Bagus  Adiprana Kusuma (vokal arr), Anak Agung Ngurah Gyan Satria Daiva (Lead Guitar Arr) dan Septian Efendy (Rhytm arr). Dari mereka bertigalah makna puisi menghasilkan aransemen dasar, mungkin bisa saya katakan sebagai akar, cikal bakal penciptaan,

Setelah itu aransemen dasar, mereka bertigamempresentasikan kepada personel lainnya. Dari sana terdapat tambahan ritme, tambahan beat atau tambahan konten yang tentu saja dibincangkan lebih dalam untuk menuju kata setuju. Satu gubahan memakan waktu yang cukup panjang, tergantung perdebatan dalam tahap kedua tersebut.

“Biasanya kami bertiga duluan garap, setelah itu ditambah aranseman atau tambahan warna alat musik oleh teman lainya, karena kawan-kawan memiliki karakter yang berbeda dalam selera musiknya” kata Adip

Dari selera musik merekalah hadir gubahan yang memiliki karakter berbeda dari  musikalisasi yang biasanya saya dengar. Adip pun mengamini hal ini, gerakan musikalisasi puisinya memang menjauhi rasa puisi yang biasa. Baginya jika meniru yang sudah-sudah, untuk apa mereka berkarya jika tidak memiliki ciri khas untuk tampil di publik.

Pendirian tegas inilah yang saya suka dari Lantai Dua, mereka tidak sekedar hadir dikancah musikalisasi puisi Denpasar, namun juga memikirkan bagaimana dia hadir sebagai kelompok dalam mencuri perhatian lebih penonton. Khususnya saya sebagai penonton musik yang agak maniak, dan suka membanding-bandingkan refrensi dari grup musik lainnya.nah menonton Lantai Dua ini kepala saya jauh terlempar  pada grup band aliran rock progressive, lalu ada rasa Pink Floyd, kemudian ada rasa  Led Zeppelin.

Kalau orang Bali bilang, Pokokne melenan lah ne asane I Lantai Dua ne.

“Ada yang suka blues, ada yang suka metal, ada yang suka progressive rock, kalau saya suka yang etnik, makanya jadi nano-nano kan gubahan kami” ujar Adip.

Lantai Dua memiliki tempat favorit untuk berkumpul serta merampungkan lagu, di salah satu café kesukaan anak muda di Denpasar, jalan W.R Supratman. Di sanalah mereka biasa untuk mendebatkan seluruh materi lagu, sayang saya tidak sempat melihat mereka latihan dan berkumpul ke sana. Tapi saya tahu café yang di maksud, sebab semasa saya SMA, saya juga sering nongkrong ke sana, sekedar mencari teman untuk melawati malam, tapi memang café ini sangat terbuka untuk kawan-kawan muda dalam berkarya, khususnya mereka yang ingin menjadi musisi, bayangkan saja latihan di café,  udah riweh dan ramai, tapi bisa-bisanya juga  bermain dan latihan di sana .

“Biasanya kalau udah kumpul, banyakan ketawa-ketawa karena memang kita guyub dan hangat seperti keluarga, hingga satu anggota mengatakan, eh serius serius e, barulah kita semua khusyuk mengerjakan” akunya sambil tertawa. 

Dalam garapan Apresiasi Sastra Festival Seni Bali Jani 2019, Lantai Dua akan membawakan dua buah  gubahan anyarnya. Musikalisasi A Second Than Good Bye puisi Karya  Devy Agustina dan Betel. Adip menjelaskan ini adalah pertama kalinya dia menggarap musikalisasi berbahasa Inggris, merupakan tantangan yang harus dijawab dengan tegas tapi santai-santai, sebab jika terlalu serius mereka tidak bisa berfikir.

Baginya puisi Devy Agustina sangat menggambarkan keadaan Lantai Dua dalam perjalanannya membangun kelompok. Dalam puisi tersebut menceritakan tentang bagaimana orang-orang datang tapi pergi begitu cepat setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Begitu juga dengan kelompok Lantai Dua , semakin besar kelompok lingkaran pertemanan semakin kecil, akan terlihat siapa yang menjadi keluarga dan hanya mencari keuntungan. Hari ini selain personel tetap Lantai Dua, mereka memiliki 27 orang anggota keluarga basis loyalis Lantai Dua, yang akan selalu hadir ketika mereka pentas atau ikut nimbrung dalam proses mengerjakan lagu.

Lagu pertama yang berbahasa Inggris akan terasa seperti aliran heavy rock, dengan tempo pelan dan syahdu namun memekakkan, sementara Betel digubah rasa satanic rock, karena mengisahkan tentang alam yang tidak terlihat, sangat erat hubungan dengan alam sekala niskala di Bali. [T]

Mari saksikan.

Tags: Festival Seni Bali Janimusikalisasi puisi
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Kala Kerja Kolaborasi pada Novel Kalamata

Next Post

Bandara Bali Utara: Apakah Ide Baik?

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Bandara Bali Utara: Apakah Ide Baik?

Bandara Bali Utara: Apakah Ide Baik?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co