3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikalisasi Rasa Pink Floyd, Led Zepplin : Proses Musikalitas Lantaidua

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 7, 2019
in Esai
Musikalisasi Rasa Pink Floyd, Led Zepplin : Proses Musikalitas Lantaidua

Musikalisasi Puisi Adalah Ruang Nostalgia.

Saya mengenal musikalisasi puisi ketika duduk di bangku SMP, waktu itu saya menganggap musikalisasi puisi adalah varian lain dalam menyajikan puisi selain dibaca. Hingga saya duduk di sekolah menengah atas lomba musikalisasi puisi kerap menjadi satu cabang lomba yang selalu dinanti dan diminati, oleh kawan-kawan yang tergabung dalam kelompok teater di sekolahnya.

Dalam perlombaan yang menderu itu, menimbulkan banyak pergesekan dan uri mencuri teknik menggubah puisi menjadi lagu. Pun tidak jarang tumbuh dendam antar kelompok, sehingga ajang lomba dinanti sebagai perhelatan kekuatan dan peningkatan skill dalam meracik lagu. Para punggawa muda ini selalu menelisik hal baru, meraba teknik eksperimen, meramu upaya sajian yang terbaik.

Perseteruan dalam suatu lomba memang menjadi kenikmatan tersendiri dan menumbuhkan dinamika musikalisasi puisi.Namun di satu sisi juga jurang bagi perkembangan atas gubahan yang itu-itu saja karena ada kecenderungan siapa yang juara selalu ditiru untuk menggapai juara tahun berikutnya.Hal itu berlangsung hingga kini.

Dari saya SMP itu hingga saat ini ruang tumbuh musikalisasi Denpasar di dominasi oleh hegemoni institusi pendidikan, belum muncul banyak kelompok independen yang secara serius dan percaya diri melabeli dirinya sebagai pemusikalisasi puisi. Jikapun ada, kita masih dapat menghitungnya dengan  jari, semisal Kelompok Sekali Pentas yang dibentuk oleh Heri Windi Anggara, Bali Musik Puisinya milik penyair Tan Lio Lie, Kelompok Senja di Cakrawala milik Bayu Reinhard dan kawan-kawan seperjuangannya. Biasanya mereka pentas dalam mengisi suatu acara, kalaupun menelurkan album produktifitasnya masih kembang kempis.

Kembali lagi keperseteruan lomba musikalisasi puisi,celakanya dinamika tersebut menghasilkan rasa yang sama, hampir sama, 11-12. Kemudian terjadilah yang mungkin bisa dikatakan penyeragaman bentuk, lalu di mana letak kenikmatan-kebebasan dalam menafsir puisi menjadi lagu?Saya pernah menonton lomba musikalisasi puisi yang diadakan oleh Balai Bahasa Bali, tahun 2018.Beberapa garapan kawan-kawan dapat saya bentangkan kemudian mencari kemiripan gubahannya.

“Bagian ini mirip garapannya si itu yah, bagian penggunaan properti ini seperti yang dilakukan seniman itu, intronya mirip anak-anak komunitas itu yah” sekiranya begitulah saya menggerutu di bangku belakang penonton saat itu.

Memang tidak yang salah pada sebuah penyeragaman bentuk, ada beberapa kemungkinannya, yaitu refrensi-refrensi kawan-kawan pada corak bermusikalisasi pendahulunya yang juara-juara itu, yang  notabene digemari kaum juri. Para punggawa-punggawanya malas berexplorasi pada bentuk baru, tidak ada pembina musikalisasi puisi yang memberi ruang bebas muridnya agar tidak mengikuti kekhasan sang pembina. aaaaarrrggh ada banyak kemungkinan lainnya yang jika dijabarkan mungkin panjang dan dapat didiskusikan dengan hangat.

Pertemuan Dengan Lantai Dua

Kemudian, bertemulah saya dengan kelompok Lantai Dua di Festival Musik Rumah 2019.Mereka tampil dalam mengisi konser sederhana di rumah pelukis Made Bhudiana.Sebelumnya kawan-kawan juga membicarakan kelompok ini dibeberapa pertemuan dan diskusi, mulai dari musikalitasnya hingga menuju suatukemungkinan baru di dunia persilatan musikalisasi puisi Bali.Saya dan kawan-kawan menyimpulkan dengan serampangan bahwa Lantai Dua hadir tidak dalam skena sejarah musikalisasi puisi yang kami pahami dari dulu. Lantai Dua hadir di luar skena, musiknya tidak berbatas  pada ranah-ranah biasanya.

Saya dijajaran depan menikmati mereka yang tengah beraksi, saya hanyut dalam dendangan sang vokalis. Jika tadi di awal saya mengatakan menonton musikalisasi puisi merupakan ruang nostalgia, hal itu terbantahkan.Saya seperti menonton konser sebuah band etnik, sekelas Theori of Discoutic dari Makasar atau Rubah Di Selatan dari Yogjakarta. Apalagi saat mereka membawakan lagu kedua, dengan menambah bunyi kulkul bambu kecil dengan suara sang vokalis yang lantang nan magis  diramu dengan gesekan gitar yang rancak bana !

“Lah ini mah bukan musikalisasi puisi, bentukin band aja sekalian, lebih masuk tu”ujar saya kepada seorang kawan yang menonton dengan khusyuk.

Dan akhirnya saya pun berkesempatan menilik lebih jauh (dalam tulisan ini), bagaimana mereka  merancang bangunan musik, serta aksi-aksi spontan yang menggugah penonton untuk tetap diamdalam menikmati hidangan musik mereka.

Lantai Dua adalah ruang eksistensi berkelanjutan bagi sekelompok muda yang dulunya satu ekstrakulikuler di SMA N 7 Denpasar, Teater Antariksa. Mereka adalah Anak Agung Ngurah Bagus Adiprana Kusuma (Vocal arr), Anak Agung Ngurah Gyan Satria Daiva (Lead Guitar arr), Septian Efendy (Rhytm arr), I Putu Adi Subaktha Putra (Percussion), I Putu Agus Artadi Jaya (Bass), Ragil Mangku Alam Sampurna (Puitor)dan  Andries Lisardo Bibim Setiawan (ex Rhytm arr). Kerinduan menimba ilmu dan berkehidupan di Teater Antariksa menuntun mereka dengan sadar untuk membentuk kelompok independen, yang awalnya bernama Lante Dua.

Adip sang vokalis sekaligus pemimpin kelompok ini menjelaskan awalnya Lantai Dua tidak hanya bermusikalisasi puisi, tapi juga bermain operet, drama modern, pantomime dan bentuk seni pertunjukan lainnya. ternyata selain kelangenan berkarya ada motif di balik perkumpulan ini, mereka hendak membuktikan kepada orang tua, bahwa kegiatan kumpul-kumpul yang mereka lakukan memiliki suatu capaian dan menghasilkan (dalam hal ini uang). Mereka pun menerima pembuatan karya pertunjukan pesanan dari suatu acara, lalu mengikuti lomba musikalisasi puisi, mengisi acara di beberapa café dan lain sebagainya. Terkait lomba mereka selalu mendapat juara,  biasanya uang pembianaan mereka bagi rata dan piala mereka gilir untuk ditunjukan kepada orang tua di rumah.

“Kalau kita juara, pialanya digilir dibawa pulang, semingguan, lalu ganti lagi ke yang lain. Agar orang rumah tahu kami juga serius dalam menjalani pilihan” ujar Adip yang saat ini menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali

Dari tahun 2016 (awal terbentuk) hingga tahun 2018 mereka mengalami kontemplasi diri secara tidak sadar, kemudian memilih jalan Musikalisasi Puisi sebagai jalur gerakan kelompok.Karena masih terpaut erat dengan sastra Indonesia khususnya puisi.

“Ternyata teman-teman memiliki potensi untuk menggubah lagu, terbukti dari juara yang kami dapatkan. lah kenapa tidak untuk membuat kelompok musik. Lagian kami udah tahu malu, malu aja main operet lagi” tambah Adip sambil tertawa

Bagi Adip alih wahana puisi menjadi musik adalah suatu tantangan besar, puisi sendiri memiliki ruang interpretasi yang luas terhadap pengalaman pembaca, kemudian ruang sublim itu harus diejawantahkan dalam alunan musik.Kadang mendekati makna, kadang pula sangat jauh, tapi begitulah suatu upaya dalam mengenali puisi.Dalam pemaknaan puisi saja perdebatannya sangat panjang karena setiap anggota memiliki kedalaman empiris yang berbeda-beda.

Untuk itu Lantai Dua memiliki dua tahap sistematis dalam penciptaan karyanya. Pertama dijabarkan berdasarkan hasil tangkapan interpretasi yang dilakukan oleh tiga personel yaitu Anak Agung Ngurah Bagus  Adiprana Kusuma (vokal arr), Anak Agung Ngurah Gyan Satria Daiva (Lead Guitar Arr) dan Septian Efendy (Rhytm arr). Dari mereka bertigalah makna puisi menghasilkan aransemen dasar, mungkin bisa saya katakan sebagai akar, cikal bakal penciptaan,

Setelah itu aransemen dasar, mereka bertigamempresentasikan kepada personel lainnya. Dari sana terdapat tambahan ritme, tambahan beat atau tambahan konten yang tentu saja dibincangkan lebih dalam untuk menuju kata setuju. Satu gubahan memakan waktu yang cukup panjang, tergantung perdebatan dalam tahap kedua tersebut.

“Biasanya kami bertiga duluan garap, setelah itu ditambah aranseman atau tambahan warna alat musik oleh teman lainya, karena kawan-kawan memiliki karakter yang berbeda dalam selera musiknya” kata Adip

Dari selera musik merekalah hadir gubahan yang memiliki karakter berbeda dari  musikalisasi yang biasanya saya dengar. Adip pun mengamini hal ini, gerakan musikalisasi puisinya memang menjauhi rasa puisi yang biasa. Baginya jika meniru yang sudah-sudah, untuk apa mereka berkarya jika tidak memiliki ciri khas untuk tampil di publik.

Pendirian tegas inilah yang saya suka dari Lantai Dua, mereka tidak sekedar hadir dikancah musikalisasi puisi Denpasar, namun juga memikirkan bagaimana dia hadir sebagai kelompok dalam mencuri perhatian lebih penonton. Khususnya saya sebagai penonton musik yang agak maniak, dan suka membanding-bandingkan refrensi dari grup musik lainnya.nah menonton Lantai Dua ini kepala saya jauh terlempar  pada grup band aliran rock progressive, lalu ada rasa Pink Floyd, kemudian ada rasa  Led Zeppelin.

Kalau orang Bali bilang, Pokokne melenan lah ne asane I Lantai Dua ne.

“Ada yang suka blues, ada yang suka metal, ada yang suka progressive rock, kalau saya suka yang etnik, makanya jadi nano-nano kan gubahan kami” ujar Adip.

Lantai Dua memiliki tempat favorit untuk berkumpul serta merampungkan lagu, di salah satu café kesukaan anak muda di Denpasar, jalan W.R Supratman. Di sanalah mereka biasa untuk mendebatkan seluruh materi lagu, sayang saya tidak sempat melihat mereka latihan dan berkumpul ke sana. Tapi saya tahu café yang di maksud, sebab semasa saya SMA, saya juga sering nongkrong ke sana, sekedar mencari teman untuk melawati malam, tapi memang café ini sangat terbuka untuk kawan-kawan muda dalam berkarya, khususnya mereka yang ingin menjadi musisi, bayangkan saja latihan di café,  udah riweh dan ramai, tapi bisa-bisanya juga  bermain dan latihan di sana .

“Biasanya kalau udah kumpul, banyakan ketawa-ketawa karena memang kita guyub dan hangat seperti keluarga, hingga satu anggota mengatakan, eh serius serius e, barulah kita semua khusyuk mengerjakan” akunya sambil tertawa. 

Dalam garapan Apresiasi Sastra Festival Seni Bali Jani 2019, Lantai Dua akan membawakan dua buah  gubahan anyarnya. Musikalisasi A Second Than Good Bye puisi Karya  Devy Agustina dan Betel. Adip menjelaskan ini adalah pertama kalinya dia menggarap musikalisasi berbahasa Inggris, merupakan tantangan yang harus dijawab dengan tegas tapi santai-santai, sebab jika terlalu serius mereka tidak bisa berfikir.

Baginya puisi Devy Agustina sangat menggambarkan keadaan Lantai Dua dalam perjalanannya membangun kelompok. Dalam puisi tersebut menceritakan tentang bagaimana orang-orang datang tapi pergi begitu cepat setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Begitu juga dengan kelompok Lantai Dua , semakin besar kelompok lingkaran pertemanan semakin kecil, akan terlihat siapa yang menjadi keluarga dan hanya mencari keuntungan. Hari ini selain personel tetap Lantai Dua, mereka memiliki 27 orang anggota keluarga basis loyalis Lantai Dua, yang akan selalu hadir ketika mereka pentas atau ikut nimbrung dalam proses mengerjakan lagu.

Lagu pertama yang berbahasa Inggris akan terasa seperti aliran heavy rock, dengan tempo pelan dan syahdu namun memekakkan, sementara Betel digubah rasa satanic rock, karena mengisahkan tentang alam yang tidak terlihat, sangat erat hubungan dengan alam sekala niskala di Bali. [T]

Mari saksikan.

Tags: Festival Seni Bali Janimusikalisasi puisi
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Kala Kerja Kolaborasi pada Novel Kalamata

Next Post

Bandara Bali Utara: Apakah Ide Baik?

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Bandara Bali Utara: Apakah Ide Baik?

Bandara Bali Utara: Apakah Ide Baik?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co