2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kukul Bulus

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 3, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Jaman Kali adalah jaman kehancuran. Jaman kehancuran adalah perlindungan atas segala macam problema yang terjadi. Bingung kan? Ya wajar, saya juga bingung. Untuk mengentaskan kebingungan, ayo bertanya mengapa? Karena, jika ada sesuatu yang terjadi menyangkut berbagai macam hal yang buruk, maka alasan terjadinya adalah Kali Yuga atau jaman Kali.

“Nak suba Kali Yuga”

Dengan mengucapkan itu, maka seluruh masalah selesai. Itulah perlindungan. Banyak yang sudah merasa cukup dengan jawaban itu. Jadi jika terjadi apa-apa, jawabannya sudah tersedia, ialah Jaman Kali! Benarkah Bali sekarang ada di dalam Jaman Kali? Jika iya, lalu kita harus bagaimana? Mari kita baca kata-kata di bawah ini.

[…] pada Kali Yuga janganlah akar permasalahan dicari dan divonis datang di luar, tapi temukanlah di dalam. Apabila kelak Bali mengalami Kali Yuga seperti Majapahit, maka cari dan temukanlah sebab-sebabnya di dalam Bali itu sendiri [IBM. Dharma Palguna, Shastra Wangsa].

Yang dikatakan dalam kutipan Shastra Wangsa itu tidak sepenuhnya benar. Akar permasalahan tidak melulu dari dalam, karena bukan tidak mungkin juga datang dari luar. Akar dari luar itu seperti stimulus untuk menumbuhkan pohon di dalam yang nantinya bisa berbiak, berbunga, dan berbuah.

Dari luar atau dari dalam, keduanya sama-sama memungkinkan dan sama-sama mempengaruhi. Seperti sebuah lingkaran, sudah tidak jelas lagi dimana letak awal dan akhirnya. Jadi akar masalah bisa tumbuh dimana-mana. Akar itu sudah seperti Tuhan yang berada dimana-mana, meresap ke segala arah, dia ada tapi tidak kelihatan, dibakar tidak hangus, direndam tidak basah, dijemur tidak kering, dimakan tidak habis. Hebat sekali akar masalah itu!

Menemukan akar masalah, bisa menjadi langkah awal untuk menyelesaikannya. Jika akar masalah itu ada di luar, maka bisa disiasati dengan membuat benteng pertahanan. Benteng itu bisa terbuat dari tembok tinggi berupa aturan-aturan. Untuk membuat benteng yang bagus, diperlukan arsitek yang hebat, bahan yang kuat, dan undagi yang tidak kalah hebatnya. Jika sudah demikian, benteng akan kokoh dan sulit ditembus.

Tapi hati-hati, jangan sampai justru benteng itu pula yang nanti mengasingkan dan memenjarakan yang dibentenginya. Kalau dalam ilmu arsitektur Bali, sebuah tembok biasanya dibolongi di bagian tertentu. Gunanya adalah untuk mengalirkan air hujan, namanya Song Embahan. Si Empunya benteng, juga dibuatkan celah untuk keluar masuk, namanya Pamesuan, yang artinya tempat keluar. Tempat keluarpun tidak hanya satu, tapi beberapa. Jadi saat ada keadaan darurat, penghuni rumah bisa keluar tanpa diketahui.

Lalu bagaimana jika akar masalah itu ada di dalam tubuh penghuninya seperti yang dimaksudkan oleh Shastra Wangsa? Diagnosa seperti itu terdengar segar meski tidak sepenuhnya baru. Masalahnya kemudian adalah penanggulangan dari masalah itu. Seperti halnya penyakit, perlu ada obat yang diberikan bagi pesakitan agar sakitnya hilang, lenyap. Memang jika membaca salah satu teks usadha, ada semacam formula yang bisa diajukan untuk mengobati penyakit tanpa obat-obatan.

Teks itu berjudul Kaputusan Punggung Tiwas. Meskipun demikian, bukan berarti semua jenis penyakit dilebur tanpa menggunakan obat, karena pada beberapa bagian, teks tersebut juga menjelaskan tanaman-tanaman obat yang digunakan dalam pengobatan. Dalam kasus jaman Kali ini, barangkali dua jenis cara itu bisa juga ditempuh. Maksudnya, pengobatan dilakukan tanpa sarana dan dengan sarana. Apa bentuknya?

Aturan adalah sarana. Aturan penting, karena aturan adalah pengikat. Pengikat ini penting diadakan agar ada batas-batas yang tidak boleh dilewati. Aturan dalam hal ini adalah sasana, atau tata susila. Setelah pemahaman yang benar tentang aturan ini didapat, barulah jenjang melepaskan ikatan dapat dimulai. Tahapan ini pula yang dimaksud sebagai tanpa sarana.

Disebut tanpa sarana, karena sarana itu telah ditinggalkan. Meninggalkan bukan berarti tidak lagi menggunakan. Meninggalkan sarana, lebih mirip seperti meninggalkan buku-buku, lontar-lontar, karena isinya sudah betul-betul menubuh. Bagi orang yang sudah mencapai tingkat itu, keberadaan buku, lontar, awig-awig, banten, arca, gedung, pura, sudah tidak berpengaruh lagi. Wujud fisik tidak lagi mengikat. Tetapi, tingkatan itu tidaklah didapat dengan mudah oleh semua orang. Oleh sebab itu, pentingnya atau tidaknya keberadaan dan ketiadaan sarana sangatlah relatif.

Menjaga jarak di antara keduanya memang penting untuk terus-menerus diadakan dan dijaga konsitensinya. Sayangnya, menjaga jarak ini juga yang membuat penjaganya kesulitan untuk mengambil keputusan. Sebuah keputusan selalu dipandangnya bersisi dua, baik-buruk. Maka, orang-orang yang berada di jalan tengah bisa diajak untuk bertimbang pandang dan mempertimbangkan. Selanjutnya keputusan mestilah diambil oleh para ksatria.

Setelah keputusan diambil, tahap selanjutnya adalah penyikapan atas konsekuensi dari keputusan tadi. Maka, bagi Cangak, kinilah saatnya menggali sumur atau mencari sumber air baru demi keberlangsungan kehidupan para ikan. Jika tidak, akan semakin banyak korban jiwa berjatuhan di negara Telaga ini. Telaga ini tidak lagi luas dan dalam, justru sudah berubah menjadi kolam kecil yang dangkal. Konsekuensi dari kedangkalan, adalah kecipak air yang terdengar riuh. Bukankah jika air sudah riuh, itu artinya tidak dalam?

Gali dulu sumurnya, jadi nanti saat air sudah surut, kita tahu kemana harus berlindung. Jika hanya diam dan menunggu, wah…

Maka dari itu, saya pikir menyediakan kolam yang lebih besar adalah salah satu cara agar lebih banyak ikan yang selamat. Kalau bisa, buatlah kolam yang airnya mengalir bukan menggenang. Air yang hanya tergenang dan tidak mengalir, tidak bisa menjamin kesehatan para ikan. Airnya bisa jadi busuk. Apalagi, kolam yang sekarang ini kolam yang sempit. Kita sudah terlalu sesak di dalam sini. Seberapa kalipun air-air kolam ini diganti, tetap saja kolam ini sudah tidak layak huni.

Ini tentang jangka panjang! [T]

Tags: filsafatfilsafat balisastra
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Pada “Peta Kesehatan”, Di Manakah Posisi Anda?

Next Post

Śivamba – Catatan Harian Sugi Lanus

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Śivamba – Catatan Harian Sugi Lanus

Śivamba - Catatan Harian Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co