7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seharusnya Tak Ada Satu pun Hari Kemerdekaan

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
August 15, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: ”We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal.”  (I Have a Dream – Martin Luther King Jr)

___

Hari kemerdekaan, selalu memberi keriangan dan semangat kepahlawanan. Ia merangkul kita dalam tetes air mata haru dan debar jantung gempita saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dan sang saka Merah Putih meniti angkasa. Namun, seharusnya tak ada satu pun perayaan hari kemerdekaan di seluruh muka bumi yang indah ini!

Kemerdekaan, ia sesungguhnya petunjuk sederhana dan gamblang, bagaimana kejinya mahluk bernama manusia yang memiliki akal budi lebih daripada fauna. Sebuah kemerdekaan, selalu lahir dari api penindasan dan debu arang penderitaan sesama manusia.

Adakah yang lebih keji daripada penindasan terhadap sesama? Sesama anak-anak Adam dan Hawa atau sesama mahluk sempurna yang telah dilahirkan dari satu rahim evolusi yang sama?

Tak satu pun alasan terhormat saat secara sadar manusia yang satu merenggutkan hak-hak manusia lain. Lalu menyekap mereka dalam gulag kekuasaan ciptaannya sendiri. Bahkan, Tuhan sang pencipta saja, tiada pernah menguasai ciptaannya. Ia membebaskan kita melaju sedemikian rupa, semau kita. Ia menyerahkan takdir dan nasib sepenuhnya kita ciptakan sendiri. Lalu bagaimana bisa, manusia yang satu kemudian seakan-akan menentukan nasib manusia yang lain?

Maka membahas hingar bingar sebuah kemerdekaan tidaklah lebih penting daripada menyelami bagaimana prilaku keji penindasan terhadap sesama manusia itu bisa bertumbuh, bahkan masih ada hingga saat ini, dalam segala wajah dan siasatnya!

Walau tak pernah mengalami, namun kita, sebagai manusia biasa, akan dapat ikut merasakan bagaimana getir penderitaan mereka yang menjalani sistem tanam paksa (cultuurstelsel) atau romusha yang kejam. Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik kolonialisme Belanda di Indonesia. Seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda.

Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian yang disediakan pemerintah kolonial. Sistem tanam paksa telah mengakibatkan terjadinya bahaya kelaparan yang merenggut nyawa ribuan orang.Pada tahun 1844 di daerah Cirebon terjadi derita kelaparan yang merenggut ribuan nyawa orang dan pada tahun 1848 daerah Demak pun diserang wabah kelaparan.

Penduduk Demak yang kala itu berjumlah 336 ribu jiwa tinggal 120 ribu jiwa saja. Demikian pula bencana kelaparan di daerah Grobogan, Jawa Tengah, pada 1849 yang dikabarkan telah menelan korban jiwa lebih daripada separuh jumlah penduduk yang ada. Pun penjajah Jepang yang datang kemudian, tak lebih ringan menguliti bangsa kita yang malang tak berdaya. Dari tahun 1942 sampai 1945, diperkirakan sebanyak 4 hingga 10 juta orang dipaksa menjadi romusha. Jepang memerlukan romusha untuk mengerjakan proyek-proyek militer mereka, baik di Nusantara maupun di luar Indonesia.

Jika romusha diambil dari kaum lelaki, maka para gadis Nusantara dipaksa menjadi budak seks prajurit-prajurit Jepang di garis depan peperangan. Gadis-gadis malang itu dikenal dengan sebutan jugun ianfu alias wanita penghibur.

Nelson Mandela adalah simbol abadi perlawanan manusia terhadap penjajahan di era modern ini. Api semangat kemerdekaan dan kebebasan dalam jiwanya tak pernah redup meski digulag selama 28 tahun oleh pemerintahan keji apartheid di Afrika Selatan. “Saya menghargai cita-cita masyarakat demokrasi dan bebas, di mana semua orang hidup berdampingan dalam keselarasan dan memiliki kesempatan yang sama.

Saya rela mati demi cita-cita ini”, demikian penegasannya akan demokrasi dan persamaan hak. Kisah hidupnya yang sedemikian menakjubkan, menyentuh dan menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia untuk melawan diskriminasi rasial akhirnya dihargai Nobel Perdamaian di tahun 1993. Selalu ada seorang pahlawan pada setiap penindasan.

Homo homini lupus, adalah sebuah kalimat bahasa latin yang berarti “manusia adalah serigala bagi sesama manusianya”. Istilah tersebut pertama kali dicetuskan dalam karya Plautus berjudul Asinaria (195 SM lupus est homo homini). Istilah tersebut juga dapat diterjemahkan sebagai “manusia adalah serigalanya manusia” yang diinterpretasi berarti manusia sering menikam sesama manusia lainnya.

Istilah itu sering muncul dalam diskusi-diskusi mengenai kekejaman yang dapat dilakukan manusia bagi sesamanya. Kepekaan karya-karya sastrawan yang begitu visioner seperti ini seakan-akan punya kekuatan sehebat ayat-ayat dalam kitab suci agama, atau mungkin sebuah kutukan? Entahlah.

Mungkin karena mereka paham dan yakin, membangun sebuah kehidupan takkan bisa cuma dengan kebaikan semata. Di sana harus ada keburukan, ia mesti menghadapi kejamnya penindasan agar kehidupan itu menjadi penuh arti. Bukankah kehidupan itu sendiri telah dimulai oleh sebuah “dosa asal”? Atau sebuah persaingan kejam dalam evolusi yang panjang?

Nelson Mandela juga Martin Luther King Jr, atau Mahatma Gandhi juga Bunda Theresa, takkan pernah dapat beristirahat dengan tenang di sisi Sang Pengasih jika sepakat dengan gagasan ini. Gagasan yang justru telah menciptakan sebuah paradoks, mereka insan-insan humanis yang penuh kasih pembebasan ini, yang telah meraih kebesaran namanya, lahir dari setiap kejamnya penindasan itu sendiri.

Selamat hari ulang tahun kemerdekaan RI, NKRI harga mati, merdeka! [T]

___

Baca artikel lain dari penulis DOKTER ARYA

Tags: filsafatkemerdekaanrenungansejarah
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak yang Terpanggil dan Memanggil-manggil – [Catatan Terakhir KKN Undiksha di Desa Puhu 2019]

Next Post

Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

Back Again This Coming August, The Ubud Village Jazz Festival

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co