23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Untuk Rekan Guru “Sekolah Tidak Favorit” – [Kisah Lain PPDB Zonasi]

I Gusti Bagus Weda Sanjaya by I Gusti Bagus Weda Sanjaya
July 2, 2019
in Esai
Untuk Rekan Guru “Sekolah Tidak Favorit” – [Kisah Lain PPDB Zonasi]

“Sepertinya malam ini saja raga bisa gabung. Besok sudah sekolah lagi. PPDB sudah mulai,” kata temanku setelah beberapa lama terdiam sendiri, tanpa memperhatikan obrolan kami berempat sebelumnya. Aku pikir dia serius dalam permainan ini, tetapi ternyata dari tadi dia memikirkan hal yang jauh lebih serius; pendidikan.

Sebagai seorang guru, kami tentu tak bisa lempas dari pemikiran akan pendidikan bangsa. Dalam obrolan-obrolan di group whatsapp – meski sambil bercanda, kami acap kali membahas tentang sistem pendidikan kita. Keburukan-keburukannya tentu menjadi hal yang lebih menarik dibahas ketimbang kebaikan-kebaikan yang telah ada. Bahkan di meja ini, saat kami berlima duduk dengan cukup serius, mendengar ucapan teman kami tadi, kami langsung tahu kemana arah obrolan kami selanjutnya. 

Penerimaan Peserta Didik Baru. Ya, PPDB belakangan ini menjadi hal yang sangat sexy untuk dipergunjingkan. Terlebih adanya penerapan sistem zonasi, yang hingga di tahun ketiga ini masih belum terpolakan dengan baik. Hal tersebut tentu menjadi perbincangan yang sangat menarik. Seperti yang aku sampaikan tadi, membicarakan keburukan terasa lebih mengasikkan.

Kami duduk melingkar. Temanku, yang duduk di sebelah kananku adalah salah seorang guru di sekolah pinggiran. Berdasarkan stratifikasi sekolah di benak masyarakat, sekolahnya berada pada strata “tidak favorit”. Kami sebenarnya tak terlalu mengerti sejak kapan, dan mengapa sekolahnya ada pada strata itu. Tidak ada sertifikat khusus yang dikeluarkan pemerintah untuk label itu, tetapi mereka – temanku tadi, bersama rekan-rekan guru di sekolahnya – seakan sepakat dengan strata yang melekat pada sekolah mereka.

Sekolahnya berada di pinggiran kota. Setiap tahun, siswa yang mendaftar di sana adalah siswa-siswa yang tidak lolos di sekolah “favorit”. Itupun setelah dikurangi beberapa siswa yang memutuskan untuk sekolah di sekolah swasta yang dianggap lebih “favorit”. Jumlah siswanya kadang tak lebih dari empat kelas pertahun. Kondisi seperti ini, mewajarkan sekolah itu untuk tidak terlalu aktif dalam perlombaan dan kegiatan-kegiatan lain, karena SDM dan dana yang terbatas. Terlebih sejak sekolah negeri tidak diperkenankan untuk memungut SPP. Mereka hanya mengandalkan dana dari pemerintah pusat dan daerah yang besarannya diukur berdasarkan jumlah siswa.

“Nau ti ba ente, o? Liu maan murid jani” ujar salah seorang teman yang membayangkan perasaan temanku tadi terhadap hasil PPDB yang tentunya menguntungkan sekolahnya. Secara hitungan kasar kami memikirkan bahwa sekolahnya akan menerima siswa dengan jumlah yang cukup, sesuai daya tampung sekolah. Dengan jumlah siswa yang memadai, dana BOS yang diterima akan meningkat dan sekolahnya akan punya cukup biaya untuk memperbaiki fasilitas dan mengembangkan program pengembangan siswa dan guru.

Alih-alih tanggapan positif datang dari temanku tadi, dia malah melontarkan ucapan berbau pesimis yang menyatakan kasihan pada siswa-siswa berprestasi yang harus bersekolah di sekolahnya. Ini merupakan pembunuhan potensi siswa, menurutnya. Mereka yang potensial, akan meredup di sekolahnya, kemudian akan tumbuh menjadi siswa-siswa biasa seperti lulusan-lulusan sebelumnya. Seorang teman guru di sekolahnya masih berjibaku untuk bisa mendaftarkan anaknya di salah satu sekolah “favorit”, meski jarak rumahnya lebih dekat ke sekolah tempat tugasnya. Sebegitu pesimis guru-guru di sekolah itu dengan sekolahnya sendiri.

Aku sangat tak sepaham dengannya dalam hal itu. Hanya perlu sebuah lecutan pada temanku (dan teman-teman guru di sekolahnya) untuk membuktikan bahwa intake dan dana adalah satu-satunya penyebab sekolahnya tak mampu bersaing dengan sekolah lain. Jika saja dari dulu sekolahnya diberikan intake yang sama, maka saat ini sekolah itu sudah memiliki kualitas yang sama dengan sekolah-sekolah lainnya. Jika saja sekolah itu dari dulu diberikan mengelola dana yang sama, maka saat ini fasilitas dan budaya sekolah akan sama dengan sekolah lainnya.

Bukankah ini harapan utama pelaksanaan sistem zonasi? Agar tak ada lagi stratifikasi sekolah. Tak ada lagi istilah “favorit” dan “tak favorit” yang dilabelkan pada sebuah sekolah. Semua sekolah memiliki intake yang merata. Memiliki fasilitas dan dana yang sama. Semua siswa memiliki hak yang sama dalam mendapat layanan pendidikan.

“Semua sekolah adalah sekolah favorit” itu harapan dari menteri pendidikan kita. Dengan pemerataan kuantitas dan kualitas siswa, setiap sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Setiap tahun semua sekolah akan mendapat siswa baru dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan di sekolahnya. Pun jika prestasi digunakan sebagai sebuah tolak ukur, maka semua sekolah memiliki peluang yang sama untuk berprestasi.

Bukankah dengan intake yang merata, peluang sekolahnya untuk berkembang semakin ada? Intake yang baik – yang dulu pasti diserap habis oleh “sekolah favorit” – sekarang akan ada di sekolahnya. Permasalahannya hanyalah, siap atau tidak temanku tadi (dan teman-teman guru di sekolahnya) untuk mengembangkan siswa-siswa potensial itu?

Dengan setengah konsentrasi pada permainan, aku meneguk teh hangat yang sudah tak hangat lagi. “Coba ente tertantang untuk membuktikan diri, siswa-siswa potensial itu akan menjadi motor penggerak sistem mutu di sekolah entene.” Aku mulai sedikit menyeramahinya dengan gaya mengguruiku.

Aku memang percaya, dengan diberdayakan secara baik, tahun depan, atau tahun depannya lagi sistem mutu akan mulai terbentuk. Beberapa ‘anak biasa saja’ akan termotivasi pada anak-anak potensial itu. Prestasi akan mulai tersemaikan di sekolah dengan strata “tidak favorit” itu. Maka perlahan, sekolah itu akan merangkak pada strata yang lebih tinggi. Orang tua yang tahun ini merasa kecewa anaknya ‘hanya’ diterima di sekolah itu, perlahan akan bersyukur dan mendapati anaknya telah berkembang secara sepatutnya.

Dan jika hal ini berhasil terjadi juga di sekolah-sekolah lain, setiap sekolah akan bergerak menuju strata di atasnya, bahkan bukan hal yang tak mungkin, stratifikasi sekolah akan perlahan hilang di benak masyarakat. Kualitas pendidikan di semua sekolah akan berada pada satu titik yang terstandarkan. Orang tua tak sibuk lagi update status dan berdoa di facebook agar anaknya diterima di sekolah favorit.

Melalui beberapa perdebatan, akhirnya temanku mulai sepaham. “Doakan nah, siswa yang mendaftar di sekolah raga bagus-bagus. Raga akan menggerakkan teman-teman di sekolah untuk bangkit dan keluar dari balik bayang-bayang citra sekolah yang selama ini. Kalian yang hanya menerima siswa-siswa miskin dengan kemampuan akademik standar saja mampu, masa kami tidak?” Dia berucap dengan semangat sambil meneguk kopinya yang hampir dingin.

Sesaat kemudian aku menjatuhkan kartu, diapun tersenyum. “Ne apa soca raga! Ceki!” [T]

Tags: guruPendidikansekolahzonasizonasi PPDB
Share76TweetSendShareSend
Previous Post

“Kamu kan Anak TI. Plis, Benerin Laptop Pacarku Dong!” – Uh, Sakitnya…

Next Post

Ayo Beranak Empat

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

Pembelajar yang ditugaskan menemani pembelajar lain untuk belajar. Serupa guru. Lahir di Tabanan, lereng selatan Gunung Batukaru.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Ayo Beranak Empat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co