2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Untuk Rekan Guru “Sekolah Tidak Favorit” – [Kisah Lain PPDB Zonasi]

I Gusti Bagus Weda Sanjaya by I Gusti Bagus Weda Sanjaya
July 2, 2019
in Esai
Untuk Rekan Guru “Sekolah Tidak Favorit” – [Kisah Lain PPDB Zonasi]

“Sepertinya malam ini saja raga bisa gabung. Besok sudah sekolah lagi. PPDB sudah mulai,” kata temanku setelah beberapa lama terdiam sendiri, tanpa memperhatikan obrolan kami berempat sebelumnya. Aku pikir dia serius dalam permainan ini, tetapi ternyata dari tadi dia memikirkan hal yang jauh lebih serius; pendidikan.

Sebagai seorang guru, kami tentu tak bisa lempas dari pemikiran akan pendidikan bangsa. Dalam obrolan-obrolan di group whatsapp – meski sambil bercanda, kami acap kali membahas tentang sistem pendidikan kita. Keburukan-keburukannya tentu menjadi hal yang lebih menarik dibahas ketimbang kebaikan-kebaikan yang telah ada. Bahkan di meja ini, saat kami berlima duduk dengan cukup serius, mendengar ucapan teman kami tadi, kami langsung tahu kemana arah obrolan kami selanjutnya. 

Penerimaan Peserta Didik Baru. Ya, PPDB belakangan ini menjadi hal yang sangat sexy untuk dipergunjingkan. Terlebih adanya penerapan sistem zonasi, yang hingga di tahun ketiga ini masih belum terpolakan dengan baik. Hal tersebut tentu menjadi perbincangan yang sangat menarik. Seperti yang aku sampaikan tadi, membicarakan keburukan terasa lebih mengasikkan.

Kami duduk melingkar. Temanku, yang duduk di sebelah kananku adalah salah seorang guru di sekolah pinggiran. Berdasarkan stratifikasi sekolah di benak masyarakat, sekolahnya berada pada strata “tidak favorit”. Kami sebenarnya tak terlalu mengerti sejak kapan, dan mengapa sekolahnya ada pada strata itu. Tidak ada sertifikat khusus yang dikeluarkan pemerintah untuk label itu, tetapi mereka – temanku tadi, bersama rekan-rekan guru di sekolahnya – seakan sepakat dengan strata yang melekat pada sekolah mereka.

Sekolahnya berada di pinggiran kota. Setiap tahun, siswa yang mendaftar di sana adalah siswa-siswa yang tidak lolos di sekolah “favorit”. Itupun setelah dikurangi beberapa siswa yang memutuskan untuk sekolah di sekolah swasta yang dianggap lebih “favorit”. Jumlah siswanya kadang tak lebih dari empat kelas pertahun. Kondisi seperti ini, mewajarkan sekolah itu untuk tidak terlalu aktif dalam perlombaan dan kegiatan-kegiatan lain, karena SDM dan dana yang terbatas. Terlebih sejak sekolah negeri tidak diperkenankan untuk memungut SPP. Mereka hanya mengandalkan dana dari pemerintah pusat dan daerah yang besarannya diukur berdasarkan jumlah siswa.

“Nau ti ba ente, o? Liu maan murid jani” ujar salah seorang teman yang membayangkan perasaan temanku tadi terhadap hasil PPDB yang tentunya menguntungkan sekolahnya. Secara hitungan kasar kami memikirkan bahwa sekolahnya akan menerima siswa dengan jumlah yang cukup, sesuai daya tampung sekolah. Dengan jumlah siswa yang memadai, dana BOS yang diterima akan meningkat dan sekolahnya akan punya cukup biaya untuk memperbaiki fasilitas dan mengembangkan program pengembangan siswa dan guru.

Alih-alih tanggapan positif datang dari temanku tadi, dia malah melontarkan ucapan berbau pesimis yang menyatakan kasihan pada siswa-siswa berprestasi yang harus bersekolah di sekolahnya. Ini merupakan pembunuhan potensi siswa, menurutnya. Mereka yang potensial, akan meredup di sekolahnya, kemudian akan tumbuh menjadi siswa-siswa biasa seperti lulusan-lulusan sebelumnya. Seorang teman guru di sekolahnya masih berjibaku untuk bisa mendaftarkan anaknya di salah satu sekolah “favorit”, meski jarak rumahnya lebih dekat ke sekolah tempat tugasnya. Sebegitu pesimis guru-guru di sekolah itu dengan sekolahnya sendiri.

Aku sangat tak sepaham dengannya dalam hal itu. Hanya perlu sebuah lecutan pada temanku (dan teman-teman guru di sekolahnya) untuk membuktikan bahwa intake dan dana adalah satu-satunya penyebab sekolahnya tak mampu bersaing dengan sekolah lain. Jika saja dari dulu sekolahnya diberikan intake yang sama, maka saat ini sekolah itu sudah memiliki kualitas yang sama dengan sekolah-sekolah lainnya. Jika saja sekolah itu dari dulu diberikan mengelola dana yang sama, maka saat ini fasilitas dan budaya sekolah akan sama dengan sekolah lainnya.

Bukankah ini harapan utama pelaksanaan sistem zonasi? Agar tak ada lagi stratifikasi sekolah. Tak ada lagi istilah “favorit” dan “tak favorit” yang dilabelkan pada sebuah sekolah. Semua sekolah memiliki intake yang merata. Memiliki fasilitas dan dana yang sama. Semua siswa memiliki hak yang sama dalam mendapat layanan pendidikan.

“Semua sekolah adalah sekolah favorit” itu harapan dari menteri pendidikan kita. Dengan pemerataan kuantitas dan kualitas siswa, setiap sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Setiap tahun semua sekolah akan mendapat siswa baru dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan di sekolahnya. Pun jika prestasi digunakan sebagai sebuah tolak ukur, maka semua sekolah memiliki peluang yang sama untuk berprestasi.

Bukankah dengan intake yang merata, peluang sekolahnya untuk berkembang semakin ada? Intake yang baik – yang dulu pasti diserap habis oleh “sekolah favorit” – sekarang akan ada di sekolahnya. Permasalahannya hanyalah, siap atau tidak temanku tadi (dan teman-teman guru di sekolahnya) untuk mengembangkan siswa-siswa potensial itu?

Dengan setengah konsentrasi pada permainan, aku meneguk teh hangat yang sudah tak hangat lagi. “Coba ente tertantang untuk membuktikan diri, siswa-siswa potensial itu akan menjadi motor penggerak sistem mutu di sekolah entene.” Aku mulai sedikit menyeramahinya dengan gaya mengguruiku.

Aku memang percaya, dengan diberdayakan secara baik, tahun depan, atau tahun depannya lagi sistem mutu akan mulai terbentuk. Beberapa ‘anak biasa saja’ akan termotivasi pada anak-anak potensial itu. Prestasi akan mulai tersemaikan di sekolah dengan strata “tidak favorit” itu. Maka perlahan, sekolah itu akan merangkak pada strata yang lebih tinggi. Orang tua yang tahun ini merasa kecewa anaknya ‘hanya’ diterima di sekolah itu, perlahan akan bersyukur dan mendapati anaknya telah berkembang secara sepatutnya.

Dan jika hal ini berhasil terjadi juga di sekolah-sekolah lain, setiap sekolah akan bergerak menuju strata di atasnya, bahkan bukan hal yang tak mungkin, stratifikasi sekolah akan perlahan hilang di benak masyarakat. Kualitas pendidikan di semua sekolah akan berada pada satu titik yang terstandarkan. Orang tua tak sibuk lagi update status dan berdoa di facebook agar anaknya diterima di sekolah favorit.

Melalui beberapa perdebatan, akhirnya temanku mulai sepaham. “Doakan nah, siswa yang mendaftar di sekolah raga bagus-bagus. Raga akan menggerakkan teman-teman di sekolah untuk bangkit dan keluar dari balik bayang-bayang citra sekolah yang selama ini. Kalian yang hanya menerima siswa-siswa miskin dengan kemampuan akademik standar saja mampu, masa kami tidak?” Dia berucap dengan semangat sambil meneguk kopinya yang hampir dingin.

Sesaat kemudian aku menjatuhkan kartu, diapun tersenyum. “Ne apa soca raga! Ceki!” [T]

Tags: guruPendidikansekolahzonasizonasi PPDB
Share76TweetSendShareSend
Previous Post

“Kamu kan Anak TI. Plis, Benerin Laptop Pacarku Dong!” – Uh, Sakitnya…

Next Post

Ayo Beranak Empat

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

Pembelajar yang ditugaskan menemani pembelajar lain untuk belajar. Serupa guru. Lahir di Tabanan, lereng selatan Gunung Batukaru.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Ayo Beranak Empat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co