23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jika Dokter Identik dengan Keseriusan, Apakah Mereka Baca Karya Sastra?

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 14, 2019
in Esai
Jika Dokter Identik dengan Keseriusan, Apakah Mereka Baca Karya Sastra?

Dokter Suantara

Dunia medis  identik dengan keseriusan. Kalau anda meragukannya, mungkin anda akan dibilang kurang waras. Bahkan kalau anda menanyakannya langsung pada mereka, barangkali jawaban ketus akan anda terima. “Profesi yang menyangkut nyawa orang, kau anggap main-main?”

Kejadian berikut bisa jadi gambaran yang gamblang dari pernyataan di atas.

Pada saat saya  kuliah dulu, saya sempat membaca sebuah survey tingkat kelucuan mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Saya lupa mahasiswa jurusan apa yang dianggap mempunyai selera humor yang tinggi, dan saya juga tak mendalami metode apa yang dipakai sehingga didapatkan kesimpulan tersebut.

Yang saya ingat dengan jelas, bahwa mahasiswa fakultas kedokteran menempati urutan paling buncit dalam hal tingkat selera humor tersebut. Saya yang sejak SMA suka baca buku humor, misalnya Mati Ketawa Cara Rusia, dsb-nya. Dan juga menggemari acara Bagito Show di stasiun TV swasta saat itu, merasa selera humor saya masih dalam taraf yang wajar, artinya tidak rendah rendah amat.

Akhirnya sampai pada titik tertentu saya harus menerima kenyataan bahwa kami mahasiswa muda FK memang terlalu disibukkan dengan kuliah, praktikum dan sebagainya. Sehingga kami lupa meng-upgrade pengetahuan humor kami.

Kejadiannya seperti ini. Saat itu kami menerima kuliah Pengantar Ilmu Penyakit Dalam dari seorang dosen yang senior, yang bahkan saat ini sudah bergelar guru besar di bidang penyakit dalam.

Begini katanya:

“Dalam menentukan penyakit seseorang kita harus melakukan pemeriksaan fisik sederhana, dan untuk mendiagnose adanya infeksi awal, kita bisa melakukan pengukuran suhu tubuh orang tersebut.

Pengukuran suhu tubuh bisa dilakukan dengan tiga cara, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yaitu diukur di mulut, ketiak dan dubur.

Pengukuran di ketiak paling lazim kita lakukan, karena sederhana dan nyaman untuk pasien. Tapi yang paling akurat adalah pengukuran suhu  di mulut pasien. Kendalanya pengukuran di mulut sangat sulit dilakukan pada dua kategori pasien. Pertama pada balita karena mereka biasanya kurang kooperatif.

Dan yang sulit kedua adalah pengukuran pada pemain kuda lumping.”

Saya tertawa terbahak mendengar guyonan ini, dan baru sadar ternyata saya tertawa sendiri, dan seisi ruangan tetap hening. Berarti ada dua pesakitan di ruang kuliah itu, saya yang tertawa sendiri, dan dosen saya yang hendak membuat lelucon tapi belum cukup memancing tawa pendengarnya.

Dan yang paling tragis, beberapa minggu kemudian , saya meminjam catatan kuliah penyakit dalam dari pacar saya. Di sana jelas tertulis, kontra indikasi pemeriksaan suhu badan secara oral adalah pada bayi dan pemain kuda lumping.

Ternyata memang benar, kami adalah orang-orang yang ditakdirkan untuk selalu serius memandang hidup.

Kembali ke pernyataan pada judul, kami yang memang golongan orang yang super serius itu, apakah otomatis juga pembaca sastra yang tekun? Saya jawab tidak, dengan tegas. Karena dari status-status di media social, percakapan di grup pertemanan, jarang sekali kami membabahas karya sastra, baik tulisan, buku maupun penulis sastra, sekali sebulan saya rasa tidak. Kalaupun dibicarakan, yang terlibat aktif mungkin cuma satu dua orang.

Dan ini terus terang cukup membuat jengah, untuk kita yang ingin generasi kita ke depan tak lupa pada hasil karya anak bangsa, sehingga saya selalu berusaha menyelipkan pesan-pesan berbau sastra pada setiap kesempatan berbicara di depan orang banyak.

Kesempatan pertama hadir saat survey akreditasi puskesmas, yang mendatangkan tim surveyor dari luar Bali dengan level nasional. Pada saat penerimaan mereka, dengan kapasitas saya sebagai kepala puskesmas, saya berkesempatan memberikan sambutan pembukaan.

Saat itu pidato saya tutup dengan sebuah kutipan dari tulisan Goenawan Muhammad (saya kurang yakin mereka membaca GM).

“Harapan, layaknya jalan setapak di tengah rimba, dia terlihat saat makin banyak orang yang melaluinya.“

Lalu, saya melanjutkan: “Bersama bapak dan ibu tim surveyor, mari bimbing kami melewati jalan itu, agar semakin jelas harapan di depan untuk puskesmas yang terakreditasi, yang ujungnya nanti adalah pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.”

Dan saya tak terlalu terkejut, saat sebulan kemudian hadir pemberitahuan bahwa puskesmas kami lulus akreditasi dengan status memuaskan

Kesempatan lainnya datang kemudian. Momen pelatihan kepala puskesmas tingkat provinsi menjadi ajang unjuk gigi. Dalam setiap kesempatan diskusi selalu saya aktif mengajukan pertanyaan yang beraroma sastra. Pemaparan materi tentang kepemimpinan yang efektif, menggunakan teori dan konsep konsep asing, yang saya rasa juga terlalu usang dan tak cukup membumi.

Iseng saya mendebat, “Dalam budaya minang ada sebuah pepatah, pemimpin itu semestinya cuma dimajukan selangkah, dan ditinggikan sedahan, dan itu konsep yang ada di bumi nusantara, mengapa tidak kita belajar dari sana?”

“Selama ini pemimpin kita selau berjarak dengan yang dipimpin, dan benar kata bijaksana, bahwasanya seorang pemimpin adalah cerminan masyarakat yang dipimpinnya,” begitu lanjut saya.

Sang fasilititator tergugun, dan terkesan sependapat dengan ide tersebut.

Aksi terakhir hadir saat perpisahan. Pelatihan selama sepuluh hari tak terasa panjang bagi semua peserta, termasuk fasilitator kami yang jujur mengaku sangat berkesan karena keragaman kelompok ini dengan beragam inisiatif dari anggotanya.

“Ayo siapa yang mewakili grup ini untuk memberikan kesan dan pesan setelah mengikuti pelatihan yang lama dan melelahkan ini?” tantang koordinator fasilitator pelatihan.

“Ayo Tut, kita Buleleng peserta paling banyak, masak kalah dengan Denpasar yang cuma seorang?” begitu provokasi teman-teman saya.

Baiklah saya terima tantangan ini,  kata saya di depan peserta pelatihan dan segenap fasilitator yang sempat hadir. Tetapi barangkail gaya saya, tak bisa disamakan dengan rekan dari Bangli, Denpasar, yang saya rasa memang penggiat multi level.

“Gaya saya lebih sebagai pencerita,” begitu saya membuka pidato. “Tapi bagaimanapun, seperti kata Chairil Anwar, “Semua dicatat, semua dapat tempat”…bukan begitu teman-teman?”

Penonton terdiam, tak ada yang merespons pernyataan saya.

“Sepuluh hari kebersamaan kita, dalam suka dan duka, sedih senang, makan bersama, bercanda bersama sudah cukup menumbuhkan “cinta” di antara kita. Untuk merayakannya, saya persembahkan sebuah puisi, karya Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin…”

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya arang

Aku ingi mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan  yang menjadikannya tiada

            Terdengar sorakan keras di penjuru kelas, menanggapi puisi wajib bagi penyuka puisi Indonesia ini.

“Biar saya tak melebar ke mana-mana, akhirnya saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh fasilitator yang telah membimbing kami dalam sepuluh hari yang kita lewatkan bersama.

Seperti kata bijak dari Cina.”Anda bisa menemukan seratus orang pandai dalam jarak seratus li, tapi untuk menemukan satu orang bijak, anda mungkin harus mencari sejauh seribu li.

Mudah mudahan setelah pelatihan ini, kita bisa menjadi orang orang bijak , minimal di tempat kerja kita, dan di wilayah kerja yang menjadi tanggung jawab kita.

Seperti dalam sajak Sapardi yang lain, Hujan Bulan Juni:

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni

Dihapuskannya jejak kakinya yang ragu ragu di jalan itu

Terlihat wajah-wajah bingung menagggapi puisi yang saya bacakan itu. Sebelum mereka melempari saya dengan buku, saya lanjutkan:

“Hujan Bulan Juni adalah hujan sisa sisa, hujan penghabisan. Dia turun sebentar untuk sekedar memadamkan debu, lalu bekasnya akan segera hilang. Kita harus bisa seperti itu. Saat menggerakkkan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan mereka, kita terlibat secara langsung , dan saat mereka berhasil, mari kita tinggalkan , dan biarkan mereka merasakan itu sebagai keberhasilan mereka sendiri.”

Terdengar desahan puas dari pendengar puisi, atas interpretasi sederhana saya itu.

Dan akhirnya sekali, untuk menutup pidato kebudayaan saya selama sepuluh menit ini, saya coba menyentuh sisi nasionalisme teman-teman seprofesi saya.

“Para pendiri bangsa ini telah memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mesti kita junjung bersama. Tugas kitalah untuk menggunakannya dengan baik, salah satunya dengan membaca karya-karya sastra yang berbahasa Indonesia. Mari mulai dari diri kita sendiri, untuk memberi contoh pada lingkungan terdekat, keluarga, pasien, tetangga dan seterusnya. Jangan nanti kita baru terkejut kalau saat nanti ada yang mengakui bahwa Chairil Anwar adalah orang Malaysia”.

Saya menutup pidato dengan berapi api.

Sepi menyelimuti kelas sesaat, baru dilanjutkan tepuk tangan, yang entah karena kagum atau karena kasihan dengan saya yang berbicara sendiri di depan kelas seperti orang tak waras.

Dari hati kecil saya berharap mereka tergerak untuk membaca karya sastra anak bangsa, walaupun saya rasa harapan itu agak kejauhan. Tapi satu yang bisa saya pastikan, suatu saat ketika mereka yang ada di kelas itu mendengar nama saya, mereka akan segera teringat, “Ooo, dokter dari pelosok Buleleng yang merangkap pujangga itu!?” [T]

Tags: dokterhumorPendidikanPengetahuansastra
Share125TweetSendShareSend
Previous Post

Memandang Pendongeng, Menatap Selintas “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”

Next Post

Puisi-puisi Pranita Dewi # Benteng, Episode, Chaplin

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Pranita Dewi # Benteng, Episode, Chaplin

Puisi-puisi Pranita Dewi # Benteng, Episode, Chaplin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co