24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jika Dokter Identik dengan Keseriusan, Apakah Mereka Baca Karya Sastra?

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 14, 2019
in Esai
Jika Dokter Identik dengan Keseriusan, Apakah Mereka Baca Karya Sastra?

Dokter Suantara

Dunia medis  identik dengan keseriusan. Kalau anda meragukannya, mungkin anda akan dibilang kurang waras. Bahkan kalau anda menanyakannya langsung pada mereka, barangkali jawaban ketus akan anda terima. “Profesi yang menyangkut nyawa orang, kau anggap main-main?”

Kejadian berikut bisa jadi gambaran yang gamblang dari pernyataan di atas.

Pada saat saya  kuliah dulu, saya sempat membaca sebuah survey tingkat kelucuan mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Saya lupa mahasiswa jurusan apa yang dianggap mempunyai selera humor yang tinggi, dan saya juga tak mendalami metode apa yang dipakai sehingga didapatkan kesimpulan tersebut.

Yang saya ingat dengan jelas, bahwa mahasiswa fakultas kedokteran menempati urutan paling buncit dalam hal tingkat selera humor tersebut. Saya yang sejak SMA suka baca buku humor, misalnya Mati Ketawa Cara Rusia, dsb-nya. Dan juga menggemari acara Bagito Show di stasiun TV swasta saat itu, merasa selera humor saya masih dalam taraf yang wajar, artinya tidak rendah rendah amat.

Akhirnya sampai pada titik tertentu saya harus menerima kenyataan bahwa kami mahasiswa muda FK memang terlalu disibukkan dengan kuliah, praktikum dan sebagainya. Sehingga kami lupa meng-upgrade pengetahuan humor kami.

Kejadiannya seperti ini. Saat itu kami menerima kuliah Pengantar Ilmu Penyakit Dalam dari seorang dosen yang senior, yang bahkan saat ini sudah bergelar guru besar di bidang penyakit dalam.

Begini katanya:

“Dalam menentukan penyakit seseorang kita harus melakukan pemeriksaan fisik sederhana, dan untuk mendiagnose adanya infeksi awal, kita bisa melakukan pengukuran suhu tubuh orang tersebut.

Pengukuran suhu tubuh bisa dilakukan dengan tiga cara, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yaitu diukur di mulut, ketiak dan dubur.

Pengukuran di ketiak paling lazim kita lakukan, karena sederhana dan nyaman untuk pasien. Tapi yang paling akurat adalah pengukuran suhu  di mulut pasien. Kendalanya pengukuran di mulut sangat sulit dilakukan pada dua kategori pasien. Pertama pada balita karena mereka biasanya kurang kooperatif.

Dan yang sulit kedua adalah pengukuran pada pemain kuda lumping.”

Saya tertawa terbahak mendengar guyonan ini, dan baru sadar ternyata saya tertawa sendiri, dan seisi ruangan tetap hening. Berarti ada dua pesakitan di ruang kuliah itu, saya yang tertawa sendiri, dan dosen saya yang hendak membuat lelucon tapi belum cukup memancing tawa pendengarnya.

Dan yang paling tragis, beberapa minggu kemudian , saya meminjam catatan kuliah penyakit dalam dari pacar saya. Di sana jelas tertulis, kontra indikasi pemeriksaan suhu badan secara oral adalah pada bayi dan pemain kuda lumping.

Ternyata memang benar, kami adalah orang-orang yang ditakdirkan untuk selalu serius memandang hidup.

Kembali ke pernyataan pada judul, kami yang memang golongan orang yang super serius itu, apakah otomatis juga pembaca sastra yang tekun? Saya jawab tidak, dengan tegas. Karena dari status-status di media social, percakapan di grup pertemanan, jarang sekali kami membabahas karya sastra, baik tulisan, buku maupun penulis sastra, sekali sebulan saya rasa tidak. Kalaupun dibicarakan, yang terlibat aktif mungkin cuma satu dua orang.

Dan ini terus terang cukup membuat jengah, untuk kita yang ingin generasi kita ke depan tak lupa pada hasil karya anak bangsa, sehingga saya selalu berusaha menyelipkan pesan-pesan berbau sastra pada setiap kesempatan berbicara di depan orang banyak.

Kesempatan pertama hadir saat survey akreditasi puskesmas, yang mendatangkan tim surveyor dari luar Bali dengan level nasional. Pada saat penerimaan mereka, dengan kapasitas saya sebagai kepala puskesmas, saya berkesempatan memberikan sambutan pembukaan.

Saat itu pidato saya tutup dengan sebuah kutipan dari tulisan Goenawan Muhammad (saya kurang yakin mereka membaca GM).

“Harapan, layaknya jalan setapak di tengah rimba, dia terlihat saat makin banyak orang yang melaluinya.“

Lalu, saya melanjutkan: “Bersama bapak dan ibu tim surveyor, mari bimbing kami melewati jalan itu, agar semakin jelas harapan di depan untuk puskesmas yang terakreditasi, yang ujungnya nanti adalah pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.”

Dan saya tak terlalu terkejut, saat sebulan kemudian hadir pemberitahuan bahwa puskesmas kami lulus akreditasi dengan status memuaskan

Kesempatan lainnya datang kemudian. Momen pelatihan kepala puskesmas tingkat provinsi menjadi ajang unjuk gigi. Dalam setiap kesempatan diskusi selalu saya aktif mengajukan pertanyaan yang beraroma sastra. Pemaparan materi tentang kepemimpinan yang efektif, menggunakan teori dan konsep konsep asing, yang saya rasa juga terlalu usang dan tak cukup membumi.

Iseng saya mendebat, “Dalam budaya minang ada sebuah pepatah, pemimpin itu semestinya cuma dimajukan selangkah, dan ditinggikan sedahan, dan itu konsep yang ada di bumi nusantara, mengapa tidak kita belajar dari sana?”

“Selama ini pemimpin kita selau berjarak dengan yang dipimpin, dan benar kata bijaksana, bahwasanya seorang pemimpin adalah cerminan masyarakat yang dipimpinnya,” begitu lanjut saya.

Sang fasilititator tergugun, dan terkesan sependapat dengan ide tersebut.

Aksi terakhir hadir saat perpisahan. Pelatihan selama sepuluh hari tak terasa panjang bagi semua peserta, termasuk fasilitator kami yang jujur mengaku sangat berkesan karena keragaman kelompok ini dengan beragam inisiatif dari anggotanya.

“Ayo siapa yang mewakili grup ini untuk memberikan kesan dan pesan setelah mengikuti pelatihan yang lama dan melelahkan ini?” tantang koordinator fasilitator pelatihan.

“Ayo Tut, kita Buleleng peserta paling banyak, masak kalah dengan Denpasar yang cuma seorang?” begitu provokasi teman-teman saya.

Baiklah saya terima tantangan ini,  kata saya di depan peserta pelatihan dan segenap fasilitator yang sempat hadir. Tetapi barangkail gaya saya, tak bisa disamakan dengan rekan dari Bangli, Denpasar, yang saya rasa memang penggiat multi level.

“Gaya saya lebih sebagai pencerita,” begitu saya membuka pidato. “Tapi bagaimanapun, seperti kata Chairil Anwar, “Semua dicatat, semua dapat tempat”…bukan begitu teman-teman?”

Penonton terdiam, tak ada yang merespons pernyataan saya.

“Sepuluh hari kebersamaan kita, dalam suka dan duka, sedih senang, makan bersama, bercanda bersama sudah cukup menumbuhkan “cinta” di antara kita. Untuk merayakannya, saya persembahkan sebuah puisi, karya Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin…”

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya arang

Aku ingi mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan  yang menjadikannya tiada

            Terdengar sorakan keras di penjuru kelas, menanggapi puisi wajib bagi penyuka puisi Indonesia ini.

“Biar saya tak melebar ke mana-mana, akhirnya saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh fasilitator yang telah membimbing kami dalam sepuluh hari yang kita lewatkan bersama.

Seperti kata bijak dari Cina.”Anda bisa menemukan seratus orang pandai dalam jarak seratus li, tapi untuk menemukan satu orang bijak, anda mungkin harus mencari sejauh seribu li.

Mudah mudahan setelah pelatihan ini, kita bisa menjadi orang orang bijak , minimal di tempat kerja kita, dan di wilayah kerja yang menjadi tanggung jawab kita.

Seperti dalam sajak Sapardi yang lain, Hujan Bulan Juni:

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni

Dihapuskannya jejak kakinya yang ragu ragu di jalan itu

Terlihat wajah-wajah bingung menagggapi puisi yang saya bacakan itu. Sebelum mereka melempari saya dengan buku, saya lanjutkan:

“Hujan Bulan Juni adalah hujan sisa sisa, hujan penghabisan. Dia turun sebentar untuk sekedar memadamkan debu, lalu bekasnya akan segera hilang. Kita harus bisa seperti itu. Saat menggerakkkan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan mereka, kita terlibat secara langsung , dan saat mereka berhasil, mari kita tinggalkan , dan biarkan mereka merasakan itu sebagai keberhasilan mereka sendiri.”

Terdengar desahan puas dari pendengar puisi, atas interpretasi sederhana saya itu.

Dan akhirnya sekali, untuk menutup pidato kebudayaan saya selama sepuluh menit ini, saya coba menyentuh sisi nasionalisme teman-teman seprofesi saya.

“Para pendiri bangsa ini telah memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mesti kita junjung bersama. Tugas kitalah untuk menggunakannya dengan baik, salah satunya dengan membaca karya-karya sastra yang berbahasa Indonesia. Mari mulai dari diri kita sendiri, untuk memberi contoh pada lingkungan terdekat, keluarga, pasien, tetangga dan seterusnya. Jangan nanti kita baru terkejut kalau saat nanti ada yang mengakui bahwa Chairil Anwar adalah orang Malaysia”.

Saya menutup pidato dengan berapi api.

Sepi menyelimuti kelas sesaat, baru dilanjutkan tepuk tangan, yang entah karena kagum atau karena kasihan dengan saya yang berbicara sendiri di depan kelas seperti orang tak waras.

Dari hati kecil saya berharap mereka tergerak untuk membaca karya sastra anak bangsa, walaupun saya rasa harapan itu agak kejauhan. Tapi satu yang bisa saya pastikan, suatu saat ketika mereka yang ada di kelas itu mendengar nama saya, mereka akan segera teringat, “Ooo, dokter dari pelosok Buleleng yang merangkap pujangga itu!?” [T]

Tags: dokterhumorPendidikanPengetahuansastra
Share125TweetSendShareSend
Previous Post

Memandang Pendongeng, Menatap Selintas “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”

Next Post

Puisi-puisi Pranita Dewi # Benteng, Episode, Chaplin

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Pranita Dewi # Benteng, Episode, Chaplin

Puisi-puisi Pranita Dewi # Benteng, Episode, Chaplin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co