27 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gunung Agung, Abu, Debu-debu Masa Lalu dan Segala Tafsir Tentangnya

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
May 28, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Judul kali ini saya tulis agak panjang. Soalnya beberapa teman katanya suka yang agak panjang. Kata mereka yang panjang membuatnya semakin penasaran. Sekali membaca yang panjang, mereka inginkan lagi-lagi-lagi-dan lagi. Maka untuk memuaskan rasa penasaran itu, saya ajukan satu judul seperti tertera di atas sana. Isi tulisan kali ini, begini:

Malam hari pada tanggal 24 Mei 2019 terdengar dentuman. Seseorang di sebelah saya berkata, “itu suara Gunung!”.Ia berkata demikian, hanya karena mendengarkan suara tanpa melihat langsung gunungnya. Orang-orang sekitarnya mulai memikirkan yang ia sebut “suara Gunung”. Lalu mereka hening. Tidak terkecuali saya.

Anak kecil di sebelah saya menanggapinya dengan berbeda. Dibukanya youtube, lalu dengan kata kunci Gunung Agung Live seketika ditemukannya situasi ter-up-to-date tentang Gunung Agung. Ternyata yang dikatakan bapak-bapak paruh baya tadi benar. Gunung Agung erupsi. Kejadian itu cukup membuat saya memikirkan kembali bahwa yang dapat dipercaya bukan hanya mata, tapi juga telinga. Bahkan menurut orang-orang pintar, segala jenis pengetahuan spiritual berawal dari telinga.

Pelan-pelan dijelaskannya tentang hubungan telinga dan ilmu spiritual. “Sru dalam bahasa Sanskerta berarti dengar. Sruti berarti segala yang didengar. Unsur halus yang digunakan untuk mendengar bernama Sruta, letaknya di telinga. Makanya telinga juga disbeut Sruta Indriya”. Jadi pengetahuan bernama Sruti itu didengar oleh telinga. Di Bali kan ada juga jenis pengetahuan seperti itu. Bukan Sruti sebutannya, tapi pawisik.

Pawisik itu, ya suara yang pelan dan dibisikkan ke telinga. Saking pelannya, tidak sembarang orang bisa mendengar. Hanya orang-orang yang sudah terlatih pendengarannya bisa mendengar bisikan yang sangat halus itu. Karena tidak banyak yang melatih pendengarannya, maka tidak banyak pula yang bisa mendengar bisikan super halus. Tapi tidak kurang juga orang mengira mendengar bisikan ilahi, tahu-tahunya yang didengar adalah suara konflik pikirannya sendiri. Makanya anak lingsir dulu bilang, hati-hati!

Keesokan harinya [25 Mei 2019] adalah Tumpek Landep. Tumpek adalah hasil pertemuan dari dua perhitungan hari. Dua perhitungan itu adalah lima [tri wara] dan tujuh [sapta wara]. Terjemahan istilah triwara[tri berarti tiga]menjadi lima,sengaja saya lakukan untuk meramal siapa yang masih hafal tentang istilah-istilah itu. Sekaligus untuk mengetahui siapa yang benar-benar khusuk membaca tulisan. Kan banyak yang konon suka baca, tapi tidak banyak yang suka khusuk. Baru baca judul, serasa sudah paham isi. Banyak yang begitu? Kita tahu sendiri jawabannya.

Tumpek itu pertemuan antara Saniscara [boleh dibaca Sabtu] dan Kliwon. Ada enam Tumpek yang disesuaikan dengan perhitungan wuku [ada 30 wuku]. Keenam tumpek itu adalah Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye dan Wayang. Konon keenamnya memiliki filosofis tersendiri. Landep itu artinya tajam, seperti senjata. Motor, mobil, alat kerja, HP, juga diberikan kain dan sejenis banten. Tujuannya saya tidak tahu, tapi begitulah kebanyakan.

Belakangan banyak juga tulisan beredar tentang makna-makna hari itu. Semuanya terlihat cerdas dan meyakinkan. Katanya tumpek itu begini, tumpek ini begitu. Pokoknya semuanya sangat menyegarkan karena menyediakan tafsir-tafsir atas apa yang banyak dilakukan orang. Saya sendiri tidak coba melihat apa itu Tumpek, apa maknanya, tujuannya dan lain sebagainya. Saya lebih suka memperhatikan orang yang menafsir kata-kata itu dan kalau beruntung, juga ingin melihat apa yang dilakukannya pada saat Tumpek. Soalnya seringkali, apa yang kita katakan sangat sulit kita lakukan. Lebih-lebih jika berhubungan dengan tradisi yang konon seperti buah mangga.

Ya, saya lebih tertarik dengan cara orang menghubungkan teori-teori dengan praktik. Entah apa penyebabnya, mungkin hanya karena alasan subjektif sendiri. Saya juga memandang, antara yang paham teori dengan yang tidak, dari luar terlihat sama saja. Tradisi lama berjalan, tradisi baru pun lahir. Keris, tombak pusaka dirias, dibersihkan dan diberikan tempat yang layak secara biologis maupun mistis. Mobil, motor, sepeda gayung, dan lain sebagainya juga demikian. Keduanya berjalan apa adanya, dengan atau tanpa tafsir.

Tapi ada satu hal lain di balik berbagai tafsir yang ada. Hal itu adalah semacam kerinduan tentang penjelasan yang bisa dipahami. Pemahaman biasanya dibarengi dengan keyakinan. Dan tiap keyakinan adalah kebenaran. Setidaknya kebenaran bagi yang meyakininya. Jika ada yang berkonflik karena keyakinan, yang sedang terjadi adalah konflik tentang kebenaran sendiri.

Menurut banyak guru, konflik itulah yang akan melahirkan sesuatu yang baru. Bahkan bukannya tidak mungkin, “sesuatu” yang baru lahir itu justru yang lebih diyakini dari pada sumber asalnya. Jadi jangan heran.

Gunung Agung erupsi. Tumbuhan di sekitar saya yang jauh dari gunung agung, ditutupi abu. Tumpek Landep tanggal 25 Mei 2019 ini dipenuhi harapan agar hujan turun [karena menurut keyakinan beberapa orang, setiap tumpek biasanya hujan]. Yang dikhawatirkannya adalah padi-padi yang sudah hamil. Jangankan ditutupi abu, diselimuti kabut saja padi-padi itu bisa mati pelan-pelan. Pinggiran daunnya memerah lalu kering seperti terbakar. Padahal kabut itu dingin seperti air, tapi kenapa malah membakar? Mungkin benar kata kumpi, di dalam air itu ada api!

Abu memang masalah bagi sebagian orang dalam kondisi tertentu. Tapi hari itu di tempat saya berada, hujan tidak turun. Harapan agar hujan turun belum surut. Seorang petani sangat yakin bahwa Ida Bhatara Gunung Agung akan memberikan anugerah yang disebutnya swecan widdhi. “Widdhi sudah adil”, begitu keyakinannya. Hari itu hujan tidak turun, meski keyakinan pada widdhi masih ada.

Minggu, 26 Mei 2019 menurut perhitungan wariga adalah Redite Umanis Ukir. Beberapa keluarga ngodalinpada hari itu. Diyakini hari itu sebagai waktu pemujaan kepada Hyang Pramesti Guru atau Bhatara Hyang Guru. Pagi-pagi mulai turun gerimis. Gerimis jatuh seperti benang-benang halus. Harapan yang kemarin belum tercapai, sekarang mulai terjawab. Barangkali “swecan widdhi” itu memang ada. Tapi balada petani belum berakhir. Katanya, “hujan gerimis tidak mampu menjatuhkan abu gunung yang melekat di daun padi. Abu itu akan bersih, hanya jika hujan deras. Tiang tidak mau memohon banyak, cukup satu jam saja”.

Satu jam saja. Seperti lagu-lagu melankolis ABG-ABG. Lalu hujan turun deras setelahnya. Senyum mereka merekah. Abu yang tadinya menjelma jadi bayangan menakutkan, kini sudah dibersihkan hujan. Bahkan menurutnya, abu itu nanti bisa jadi pupuk alami yang bagus bagi tanaman padinya. Saya hanya diam karena tidak mengerti, suka-duka itu memang dipisahkan oleh tirai yang sangat tipis. Mungkin itu yang disebutnya swecan widdhi yang turun pada wuku Ukir. Ukir juga berarti gunung.

Tentang abu, ada ajaran yang menarik tentangnya. Sebuah pustaka kuno menyebut-nyebut abu ini sebagai sarana penyucian. Bahkan konon ada mantra khusus untuk abu. Setelahnya, para pemuja itu akan melumuri tubuhnya dengan abu. Zaman sekarang, mungkin masih ada yang melumuri tubuhnya dengan abu. Tapi tidak seluruh tubuhnya. Melainkan hanya pada tengah-tengah keningnya. Pada tempat itu juga orang meletakkan bija setelah nunas tirtha.

Gunung Agung menurut keyakinan adalah pusat bunga Padma Bhuwana. Di pusat itu pula didirikan tempat pemusatan bernama Padmasana. Entah apa warna bunga Padma itu saya tidak tahu. Kelopaknya konon ada delapan yang menyebar ke seluruh penjuru mata angin. Tafsir memang selalu begitu. Ia menghubungkan satu hal dengan hal lainnya dengan pengetahuan.


BACA CANGAK YANG LAIN

DI SINI

Sehabis menafsir itu, saya berpikir, bagaimana jika kita pindah dari tempat yang banyak gunung ini kemudian tinggal di wilayah yang datar tanpa pegunungan. Dimana harus saya cari Padma itu? Saat kebingungan seperti itu, saya berlindung pada shastra dengan membaca puisi terjemahan karya Syekh Fattaah berjudul Ayunan Asmara.

wahai pencinta dengarlah,

jangan boroskan hidupmu,

cari-cari dalam dunia,

yang terdapat di hatimu […]

Begitulah tulisan kali ini. Saya tidak tahu lagi harus menulis apa karena pengetahuan yang kurang. Kurangnya silahkan tambahkan, lebihnya silahkan kurangi. Ingat! Ini bukan basa-basi. [T]

Tags: balierupsiGunung Agunghindurenungantumpek landep
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Awas! Ada Kepala Besar di Desa Wisata Pinge, Marga, Tabanan

Next Post

Soal Mudik Gratis Bupati Eka: Suara Warganet, Politik Identitas, Framing Media, dll…

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Soal Mudik Gratis Bupati Eka: Suara Warganet, Politik Identitas, Framing Media, dll…

Soal Mudik Gratis Bupati Eka: Suara Warganet, Politik Identitas, Framing Media, dll…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co