4 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gunung Agung, Abu, Debu-debu Masa Lalu dan Segala Tafsir Tentangnya

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
May 28, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Judul kali ini saya tulis agak panjang. Soalnya beberapa teman katanya suka yang agak panjang. Kata mereka yang panjang membuatnya semakin penasaran. Sekali membaca yang panjang, mereka inginkan lagi-lagi-lagi-dan lagi. Maka untuk memuaskan rasa penasaran itu, saya ajukan satu judul seperti tertera di atas sana. Isi tulisan kali ini, begini:

Malam hari pada tanggal 24 Mei 2019 terdengar dentuman. Seseorang di sebelah saya berkata, “itu suara Gunung!”.Ia berkata demikian, hanya karena mendengarkan suara tanpa melihat langsung gunungnya. Orang-orang sekitarnya mulai memikirkan yang ia sebut “suara Gunung”. Lalu mereka hening. Tidak terkecuali saya.

Anak kecil di sebelah saya menanggapinya dengan berbeda. Dibukanya youtube, lalu dengan kata kunci Gunung Agung Live seketika ditemukannya situasi ter-up-to-date tentang Gunung Agung. Ternyata yang dikatakan bapak-bapak paruh baya tadi benar. Gunung Agung erupsi. Kejadian itu cukup membuat saya memikirkan kembali bahwa yang dapat dipercaya bukan hanya mata, tapi juga telinga. Bahkan menurut orang-orang pintar, segala jenis pengetahuan spiritual berawal dari telinga.

Pelan-pelan dijelaskannya tentang hubungan telinga dan ilmu spiritual. “Sru dalam bahasa Sanskerta berarti dengar. Sruti berarti segala yang didengar. Unsur halus yang digunakan untuk mendengar bernama Sruta, letaknya di telinga. Makanya telinga juga disbeut Sruta Indriya”. Jadi pengetahuan bernama Sruti itu didengar oleh telinga. Di Bali kan ada juga jenis pengetahuan seperti itu. Bukan Sruti sebutannya, tapi pawisik.

Pawisik itu, ya suara yang pelan dan dibisikkan ke telinga. Saking pelannya, tidak sembarang orang bisa mendengar. Hanya orang-orang yang sudah terlatih pendengarannya bisa mendengar bisikan yang sangat halus itu. Karena tidak banyak yang melatih pendengarannya, maka tidak banyak pula yang bisa mendengar bisikan super halus. Tapi tidak kurang juga orang mengira mendengar bisikan ilahi, tahu-tahunya yang didengar adalah suara konflik pikirannya sendiri. Makanya anak lingsir dulu bilang, hati-hati!

Keesokan harinya [25 Mei 2019] adalah Tumpek Landep. Tumpek adalah hasil pertemuan dari dua perhitungan hari. Dua perhitungan itu adalah lima [tri wara] dan tujuh [sapta wara]. Terjemahan istilah triwara[tri berarti tiga]menjadi lima,sengaja saya lakukan untuk meramal siapa yang masih hafal tentang istilah-istilah itu. Sekaligus untuk mengetahui siapa yang benar-benar khusuk membaca tulisan. Kan banyak yang konon suka baca, tapi tidak banyak yang suka khusuk. Baru baca judul, serasa sudah paham isi. Banyak yang begitu? Kita tahu sendiri jawabannya.

Tumpek itu pertemuan antara Saniscara [boleh dibaca Sabtu] dan Kliwon. Ada enam Tumpek yang disesuaikan dengan perhitungan wuku [ada 30 wuku]. Keenam tumpek itu adalah Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye dan Wayang. Konon keenamnya memiliki filosofis tersendiri. Landep itu artinya tajam, seperti senjata. Motor, mobil, alat kerja, HP, juga diberikan kain dan sejenis banten. Tujuannya saya tidak tahu, tapi begitulah kebanyakan.

Belakangan banyak juga tulisan beredar tentang makna-makna hari itu. Semuanya terlihat cerdas dan meyakinkan. Katanya tumpek itu begini, tumpek ini begitu. Pokoknya semuanya sangat menyegarkan karena menyediakan tafsir-tafsir atas apa yang banyak dilakukan orang. Saya sendiri tidak coba melihat apa itu Tumpek, apa maknanya, tujuannya dan lain sebagainya. Saya lebih suka memperhatikan orang yang menafsir kata-kata itu dan kalau beruntung, juga ingin melihat apa yang dilakukannya pada saat Tumpek. Soalnya seringkali, apa yang kita katakan sangat sulit kita lakukan. Lebih-lebih jika berhubungan dengan tradisi yang konon seperti buah mangga.

Ya, saya lebih tertarik dengan cara orang menghubungkan teori-teori dengan praktik. Entah apa penyebabnya, mungkin hanya karena alasan subjektif sendiri. Saya juga memandang, antara yang paham teori dengan yang tidak, dari luar terlihat sama saja. Tradisi lama berjalan, tradisi baru pun lahir. Keris, tombak pusaka dirias, dibersihkan dan diberikan tempat yang layak secara biologis maupun mistis. Mobil, motor, sepeda gayung, dan lain sebagainya juga demikian. Keduanya berjalan apa adanya, dengan atau tanpa tafsir.

Tapi ada satu hal lain di balik berbagai tafsir yang ada. Hal itu adalah semacam kerinduan tentang penjelasan yang bisa dipahami. Pemahaman biasanya dibarengi dengan keyakinan. Dan tiap keyakinan adalah kebenaran. Setidaknya kebenaran bagi yang meyakininya. Jika ada yang berkonflik karena keyakinan, yang sedang terjadi adalah konflik tentang kebenaran sendiri.

Menurut banyak guru, konflik itulah yang akan melahirkan sesuatu yang baru. Bahkan bukannya tidak mungkin, “sesuatu” yang baru lahir itu justru yang lebih diyakini dari pada sumber asalnya. Jadi jangan heran.

Gunung Agung erupsi. Tumbuhan di sekitar saya yang jauh dari gunung agung, ditutupi abu. Tumpek Landep tanggal 25 Mei 2019 ini dipenuhi harapan agar hujan turun [karena menurut keyakinan beberapa orang, setiap tumpek biasanya hujan]. Yang dikhawatirkannya adalah padi-padi yang sudah hamil. Jangankan ditutupi abu, diselimuti kabut saja padi-padi itu bisa mati pelan-pelan. Pinggiran daunnya memerah lalu kering seperti terbakar. Padahal kabut itu dingin seperti air, tapi kenapa malah membakar? Mungkin benar kata kumpi, di dalam air itu ada api!

Abu memang masalah bagi sebagian orang dalam kondisi tertentu. Tapi hari itu di tempat saya berada, hujan tidak turun. Harapan agar hujan turun belum surut. Seorang petani sangat yakin bahwa Ida Bhatara Gunung Agung akan memberikan anugerah yang disebutnya swecan widdhi. “Widdhi sudah adil”, begitu keyakinannya. Hari itu hujan tidak turun, meski keyakinan pada widdhi masih ada.

Minggu, 26 Mei 2019 menurut perhitungan wariga adalah Redite Umanis Ukir. Beberapa keluarga ngodalinpada hari itu. Diyakini hari itu sebagai waktu pemujaan kepada Hyang Pramesti Guru atau Bhatara Hyang Guru. Pagi-pagi mulai turun gerimis. Gerimis jatuh seperti benang-benang halus. Harapan yang kemarin belum tercapai, sekarang mulai terjawab. Barangkali “swecan widdhi” itu memang ada. Tapi balada petani belum berakhir. Katanya, “hujan gerimis tidak mampu menjatuhkan abu gunung yang melekat di daun padi. Abu itu akan bersih, hanya jika hujan deras. Tiang tidak mau memohon banyak, cukup satu jam saja”.

Satu jam saja. Seperti lagu-lagu melankolis ABG-ABG. Lalu hujan turun deras setelahnya. Senyum mereka merekah. Abu yang tadinya menjelma jadi bayangan menakutkan, kini sudah dibersihkan hujan. Bahkan menurutnya, abu itu nanti bisa jadi pupuk alami yang bagus bagi tanaman padinya. Saya hanya diam karena tidak mengerti, suka-duka itu memang dipisahkan oleh tirai yang sangat tipis. Mungkin itu yang disebutnya swecan widdhi yang turun pada wuku Ukir. Ukir juga berarti gunung.

Tentang abu, ada ajaran yang menarik tentangnya. Sebuah pustaka kuno menyebut-nyebut abu ini sebagai sarana penyucian. Bahkan konon ada mantra khusus untuk abu. Setelahnya, para pemuja itu akan melumuri tubuhnya dengan abu. Zaman sekarang, mungkin masih ada yang melumuri tubuhnya dengan abu. Tapi tidak seluruh tubuhnya. Melainkan hanya pada tengah-tengah keningnya. Pada tempat itu juga orang meletakkan bija setelah nunas tirtha.

Gunung Agung menurut keyakinan adalah pusat bunga Padma Bhuwana. Di pusat itu pula didirikan tempat pemusatan bernama Padmasana. Entah apa warna bunga Padma itu saya tidak tahu. Kelopaknya konon ada delapan yang menyebar ke seluruh penjuru mata angin. Tafsir memang selalu begitu. Ia menghubungkan satu hal dengan hal lainnya dengan pengetahuan.


BACA CANGAK YANG LAIN

DI SINI

Sehabis menafsir itu, saya berpikir, bagaimana jika kita pindah dari tempat yang banyak gunung ini kemudian tinggal di wilayah yang datar tanpa pegunungan. Dimana harus saya cari Padma itu? Saat kebingungan seperti itu, saya berlindung pada shastra dengan membaca puisi terjemahan karya Syekh Fattaah berjudul Ayunan Asmara.

wahai pencinta dengarlah,

jangan boroskan hidupmu,

cari-cari dalam dunia,

yang terdapat di hatimu […]

Begitulah tulisan kali ini. Saya tidak tahu lagi harus menulis apa karena pengetahuan yang kurang. Kurangnya silahkan tambahkan, lebihnya silahkan kurangi. Ingat! Ini bukan basa-basi. [T]

Tags: balierupsiGunung Agunghindurenungantumpek landep
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Awas! Ada Kepala Besar di Desa Wisata Pinge, Marga, Tabanan

Next Post

Soal Mudik Gratis Bupati Eka: Suara Warganet, Politik Identitas, Framing Media, dll…

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails
Next Post
Soal Mudik Gratis Bupati Eka: Suara Warganet, Politik Identitas, Framing Media, dll…

Soal Mudik Gratis Bupati Eka: Suara Warganet, Politik Identitas, Framing Media, dll…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali
Khas

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
Fiksi

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

by Chusmeru
July 2, 2026
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton
Esai

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali
Panggung

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co