6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teror Cleo pada Acara “Nonton Monolog” di Canasta

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
May 26, 2019
in Ulasan
Teror Cleo pada Acara “Nonton Monolog” di Canasta

Putu Cleo Chintya Rossa Devi pentas perdana Monolog Teror dalam acara Nonton Monolog di Canasta Creative Space, Denpasar Sabtu 25 Mei 2019,

Di Canasta Creative Space ada agenda terbaru, akan intens dilakukan tiap sebulan sekali, nama agendanya sederhana saja “Nonton Monolog”. Pada malam Sabtu, 25 Mei 2019, adalah kali pertama. Agenda perdana ini kita kedatangan bintang tamu aktor yang bermonolog, salah satu mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris di UNDIKSHA-Singaraja. Namanya Putu Cleo Chintya Rossa Devi, atau akrabnya saya sering memanggilnya Cleo.

Dia juga sering menjadi aktor pementasan di Singaraja kalau saya lihat, karena kebetulan saya juga dari Singaraja. Dia aktif berkegiatan di Teater Kampus Seribu Jendela, aktif juga di Komunitas Mahima, dan Teater Kalangan. Pada monolog kali ini Cleo membawakan naskah berjudul Teror, karya Putu Wijaya.

Pada pementasan kali ini dia memilih satu ruang kecil di Canasta yang hampir mirip dengan kamar, kemudian diubah menjadi seperti suasana di kelas. Dengan satu meja dan kursi di depan, lalu ada beberapa kursi untuk penonton. Penonton di ubah menjadi suasana kelas, yang tentunya kalau kita ketahui kehidupan dikelas ada guru dan murid. Dia menjadi guru, dan juga menjadi salah satu murid yang sama seperti penonton. Dalam artian tertentu dia menjadi dua karakter pada pementasan ini.

Kemudian saat pementasan berlangsung, dia menjadi seorang guru yang cantik. Menggunakan baju batik berwarna merah muda, lalu dengan rok hitam dengan sepatu fantopel. Mula-mula dia mengucapkan selamat siang kepada penonton yang diubah fungsikan olehnya menjadi murid. Lalu setelah mengucap salam, dia mulai mempertanyakan masalah yang terjadi pada suatu sekolah. Bahwa ada sebuah surat yang didapatnya, dan surat itu diwadahi oleh sebuah botol. Surat itu berisikan bahwa ada yang menyuarakan sesuatu untuk kemajuan sekolah, hanya saja pengirimnya tidak di ketahui.

Kemudian sang guru itu mempertanyakan itu kepada kami (penonton. Hingga tetap tidak ada yang jujur, akhirnya guru itu keluar kelas untuk memberikan waktu sekiranya kepada penonton untuk berpikir ulang. Tidak lama kemudian Cleo kembali masuk, kali ini dia berbeda. Yang awalnya dia memakai baju batik berwarna merah muda, kali ini dia memakai baju kemeja putih dan rok hitam. Kali ini dia menjadi ketua kelas kami sebagai penonton yang diubah menjadi murid dan teman sekelasnya, lalu dia membicarakan permasalahan yang sama seperti kepala sekolah.

Monolog Teror oleh Cleo di Canasta

Dia mempertanyakan, siapa sebenarnya di antara kita yang mengirimkan surat itu. Padahal isinya bagus, untuk kemajuan pendidikan kita. Tapi tidak ada yang mengakui, akhirnya karena tidak ada yang mengaku Cleo berkorban. Lalu ketua kelas itu keluar kelas, sepertinya dia menghadap ke kepala sekolah. Selang beberapa menit, guru di awal tadi kembali memasuki kelas. Dan berterima kasih karena akhirnya masalah itu selesai, karena sudah ada yang mengakui. Walau kami sebagai teman sekelasnya, sepertinya mengetahui bahwa bukan ketua kelas yang membuatnya. Lalu siapa? Maka pementasan itu usai oleh sebuah pertanyaan seperti itu.

Lalu setelah selesai pementasan tersebut, kurang lebih 25 menit. Ada sesi diskusi atau persentasi aktor. Sekiranya untuk mengulas dan membedah kerja aktor pada pementasan kali ini, untuk mengetahui bagaimana dan ketegangan apa yang terjadi pada aktor dan sutradara. Untuk membuat pementasan, serta interpretasi dan pemilihan ruang.

Tapi pada proses diskusinya justru tidak berpatok atau bertujuan untuk membedah tentang naskah dan alur ceritanya. Tapi pada permasalahan dan kinerja proses serta kerja aktor saat proses. Di mana letak eksistensi aktor, karena seperti yang kita ketahui pada teater tentunya bahwa suatu wadah pementasan ada kerja-kerja yang lain. Seperti misalnya ada lapisan sutradara, aktor, penata artistik, penata lampu dan lainnya.

Diskusi kali ini pendekatanya pada kerja aktor, bahwasannya pada suatu pementasan tidak terpaku pada sutradara saja. Karena sering kali terjebak pada pikiran bahwa sutradara berada pada menara tertinggi suatu pementasan, tapi kalau kita pikirkan kembali dan melihat jejaknya kembali. Ternyata aktor juga punya peranan sangat penting sama seperti yang lainya.

Karena dalam pencapaian suatu pementasan kerja aktor pun punya pernan penting jika dibagi beberapa lapisan. Misalnya selain pada bacaan buku teater yang sudah ada, ternyata pengalaman aktor dan latar belakangnya sangat mempengaruhi itu.

Saya menjadikan intropeksi diri dalam diskusi kali ini, bagaimana dan proses apa yang sudah terjadi pada diri saya sendiri. Tentang masalah teks naskah, pergerakan tubuh, serta pembacaan ruang. Bahwasanya juga eksistensi aktor itu berada pada posisi yang tidak terpikirkan, atau blur pada teater hari ini khususnya di Bali. Seberapa banyak ada acara yang khusus membahas aktor dan kemungkinanya, selain hanya workshop. Itupun hanya berpacu pada beberapa pertemuan saja, lalu apa yang harus dilakukan sebagai seorang aktor?

Maka pada ruang ini kebebasan berbicara khususnya aktor lebih dicondongkan untuk berbagi pengalaman bahwasanya yang harus diingatkan adalah aktor sangat punya peranan sangat penting saat proses sebuah penciptaan. Misalnya pada jejak latar belakang Cleo sebagai aktor, dengan refrensi yang dia ketahui dan baca.

Dia juga mempunyai sebuah pengalaman bertemu banyak sutradara yang berbeda, dia menyadari betul bahwa ada tiap perbedaan yang ada pada tiap diri sutradara.Baik secara penyoalan tubuh, serta dialog yang menjadi kepentingan penting saat pentas.

Kalau saya rumuskan, yang saya dapatkan adalah suatu kesadaran aktor yang punya kesadaran pentingnya sebuah kerja aktor yang mengaktifkan sebuah sikap untuk mencipta serta melakukan tawar-menawar untuk sebuah proses. Akhirnya yang mengharuskan aktor itu sendiri memiliki kesadaran untuk mendengarkan dan berdialog dengan sutradara, sekiranya juga untuk menemukan jalan tengah.

Karena tentunya pula tiap proses selalu ada tiap bentrokan antar individu yang bertemu, kemudian selalu ada pementalan yang rasanya tidak pas dan tidak cocok. Akhirnya yang lahir pada antar dialog sutradara dan aktor adalah jalan tengah hasil tawar-menawar, yang awalnya memang punya interpretasi sendiri soal naskah terentu.

Ada pula misalnya beberapa teori yang sekiranya menjadi pondasi aktor tertentu yang tidak mudah begitu saja diamini tanpa adanya cara menyikapi atau bersentuhan langsung dengan teori tertentu.Secara tidak langsungpun intensitas latihan seorang aktor itu juga perlu untuk sekiranya mengembangkan imajinatif aktor saat mencipta. Lalu kemudian selalu melakukan tawar-menawar dan dialog oleh sutradara. Karena pada prosesnya kali ini Cleo banyak berdialog dan melakukan penawaran yang dia miliki dengan melakukan sharing dengan Bli Curek dan Kak Suma yang kebetulan menjadi pembimbingnya. Mereka tidak mau di sebut sutradara karena suatu kebutuhan untuk memurnikan persentasi aktor itu sendiri.

“Bahwasanya pada saat ini aktor menjadi lapisan yang sangat jarang diperhatikan. Dan mengapapa dikatakan teater karena ada ruang panggung dan penonton, saat pementasan berlangsung sutradara sudah tidak mempunyai peranan penting saat pentas berlangsung. Dan teater itu menjadi kolektif karena ada bagian dan lapisanya, termasuk juga aktor. Sekiranya perlu sesekali merekam kembali jejak keaktoran.”Kata Sumahardika selaku moderator.

Monolog Teror oleh Cleo di Canasta

Hal seperti ini menjadi menarik bagi saya dan teman yang masih muda, tentunya yang masih aktif dalam dunia keaktoran.Karena sangat berpotensi untuk membaca kembali jejak aktor. Serta menimbulkankembali kesadaran kecil tiap pegiat aktor muda, untuk lebih banyak lagi melakukan proses dan bertemu refrensi lain soal aktor. Baik dengan cara membaca buku atau bermain dan mencoba hal baru oleh sutradara tertentu, mungkin saja nantinya kita sebagai aktor yang masih muda mendapat hal baru. Dan bisa menjadikan tabungan aktor dan rekam jejak keaktoran kita tiap peorangan, untuk sekiranya lebih baik dalam menyikapi suatu pementasan.

Ini pun menjadi PR kita bersama khususnya dunia keaktoran di Bali, agar nantinya ke depan lebih muda di petakan melalui agenda yang akan dirutinkan setiap bulan nantinya. Sekiranya segitu dulu untuk ulasan dari segi keaktoran pada pentas monolog kali ini, bulan depan akan ada lagi acara “Nonton Monolog”.

Pantengin terus Canasta Creative Space. Atau sekiranya ada teman-teman yang ingin berbagi tentang jejak keaktoranya, bisa lah teman-teman berbagi di Canasta. Ruang ini juga sangat berpotensi untuk mengembangkan hal itu, khususnya kita sebagai anak muda yang akan dan pasti bertemu masa yang akan datang di depanya. Salam. [T]

Tags: guruKomunitas MahimaMonologTeaterTeater KalanganTeater Kampus Seribu Jendela
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Landep, Upacara Motor Massal – Tak Ngantuk Lagi Nunggu Jro Mangku

Next Post

Pameran ‘Hands On’! Charcoal For Children (CFC) 2019 di CushCush Gallery

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pameran ‘Hands On’! Charcoal For Children (CFC) 2019 di CushCush Gallery

Pameran 'Hands On'! Charcoal For Children (CFC) 2019 di CushCush Gallery

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co