12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siswa Seperti Apa Masuk SMKN Bali Mandara? – Inilah Ceritanya…

Eka Prasetya by Eka Prasetya
May 19, 2019
in Esai
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

SEKITAR pukul 12.30 Selasa (14/5) siang, ponsel saya bergetar. Segera saja saya mengecek pesan yang masuk. Ternyata pesan itu berasal dari I Komang Mudita, salah seorang guru di SMKN Bali Mandara.

Ia mengirimkan pesan berikut sebuah foto lembaran surat undangan. Dalam surat itu, pihak sekolah mengundang saya menjadi interviewer pada acara boot camp yang diselenggarakan sekolah.

Acara boot camp sendiri sebuah acara krusial pada proses penerimaan peserta didik baru di SMAN maupun SMKN Bali Mandara. Siswa yang diterima di sekolah Bali Mandara, akan terlihat pada boot camp.

Tahun ini, merupakan tahun ketiga saya menjadi interviewer di SMKN Bali Mandara. Beberapa rekan wartawan lain juga ada yang menjadi interviewer di SMKN Bali Mandara maupun SMAN Bali Mandara.

Selama tiga tahun ini, berbagai cerita sudah saya dengar dari calon siswa di SMKN Bali Mandara. Bila tiap tahun saya melakukan interview terhadap 15 orang siswa, artinya hingga kini saya sudah mendengar 45 cerita berbeda dari para siswa.

Setiap kali saya mendapat kepercayaan menjadi interviewer di SMKN Bali Mandara, saya berusaha melakukan tugas sebaik-baiknya. Mengingat sekolah ini didedikasikan bagi warga miskin yang ingin mengubah nasibnya. Siswa yang sekiranya layak, pasti akan mendapat nilai yang besar dalam proses interview.

Cerita yang saya dengar bermacam-macam. Mulai dari cerita yang demikian ambisius untuk menembus sekolah, cerita yang lucu, maupun cerita yang menyedihkan. Tentu saja sebagian besar cerita yang menyedihkan.

Tiap kali interview, saya selalu menemui siswa yang menangis. Bahkan tangis mereka sudah pecah ketika mereka baru saja masuk ruang interview. Calon siswa menangis bukan karena kami yang melakukan interview itu punya wajah menyeramkan. Tapi mereka menangis karena menceritakan kondisi keluarga yang serba sulit.

Hal ini tentu saja menyulitkan. Waktu ideal melakukan interview antara 15-20 menit. Namun bila ada siswa yang menangis saat proses interview, maka waktunya bisa molor menjadi 30-45 menit.

Berbagai cerita unik pun pernah saya dengar. Misalnya saja ada siswa yang kehilangan sahabat, sejak keluarganya jatuh miskin. Semenjak itu pula siswa ini menjadi seorang introvert. Tak percaya pada siapa pun lagi. Ia berusaha masuk ke SMKN Bali Mandara, untuk memulihkan keluarganya dari titik nadir. Termasuk memulihkan kondisi psikisnya sejak beberapa tahun terakhir.

Ada pula calon siswa yang punya delapan saudara kandung. Siswa ini tinggal di sebuah desa yang ada di kaki Gunung Agung. Untuk menemukan rumahnya perlu waktu 1 jam jalan kaki. Nah siswa ini adalah satu dari dua saudaranya yang punya pendidikan SMP. Selebihnya putus sekolah saat kelas 3 SD, atau saat sudah mahir baca-tulis-hitung.

Sekolah di Bali Mandara adalah satu-satunya harapan. Kalau tidak diterima, ia tidak akan sekolah. “Sekolah jauh, tidak ada biaya. Kalau tidak diterima ya nanti bantu bapak cari tuak jaka,” ujar siswa itu polos.

Cerita lainnya juga tak kalah menarik. Seorang calon siswa dengan terpaksa mendaftar ke SMKN Bali Mandara. Keluarganya begitu miskin. Siswa ini berasal dari keluarga broken home. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci atau buruh setrika dengan penghasilan tak menentu. Siswa ini dipaksa ibunya sekolah di Bali Mandara, demi mengubah taraf hidup keluarga. Namun siswa ini justru tidak sanggup hidup berasrama di Bali Mandara.

“Saya nggak kuat masuk asarama. Lebih baik saya nggak sekolah, daripada sekolah di sini,” ujar siswa itu. Siswa ini lebih memilih menuntaskan pendidikannya hingga SMP saja, lalu bekerja sebagai buruh serabutan. Baginya ikut boot camp hanya untuk menyenangkan ibunya.

Sebuah cerita ambisius juga sempat saya dengar. Seorang siswi, begitu ingin sekolah di SMKN Bali Mandara. Jurusan yang ia cari, sungguh anti-mainstrem di kalangan perempuan. Biasanya siswi hanya mencari jurusan Teknik Komputer Jaringan atau jurusan Desain Permodelan dan Informasi Bangunan (DPIB). Namun siswi satu ini justru memilih jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO).

Siswi ini mengaku sudah biasa melakukan servis sepeda motor. Mulai dari ganti oli, tambal ban, maupun ganti ban motor. “Ganti ban truk juga saya bisa pak. Tapi masih dibantu bapak. Saya ingin buktikan kalau perempuan itu bukan makhluk lemah,” ujar siswi itu berapi-api.

Sisanya cerita-cerita normatif seputar kemiskin, keterbatasan pendapatan, jarak sekolah yang jauh dari tempat tinggal, maupun keluarga yang berantakan. Sejujurnya hingga kini, dari 45 siswa yang pernah saya interview itu, saya tak tau siapa saja yang akhirnya diterima di SMKN Bali Mandara.

Hingga kini dokumen interview dan resume wawancara para calon siswa masih saya simpan dengan baik. Tak pernah pula saya tanyakan pada pihak sekolah, siapa saja yang diterima. Biarlah itu menjadi sebuah rahasia. Saya yakin, setiap orang berhak mendapat pendidikan yang layak. Sekalipun mereka berasal dari keluarga miskin.  [T]

Tags: PendidikansekolahsiswaSMK Bali Mandara
Share123TweetSendShareSend
Previous Post

Dari Pentas Satu ke Pentas Satunya Lagi -Catatan Aktor Menjelang Pentas Sang Guru

Next Post

Krisis Identitas; Jadi Siapa, Bukan Jadi Apa

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Krisis Identitas; Jadi Siapa, Bukan Jadi Apa

Krisis Identitas; Jadi Siapa, Bukan Jadi Apa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co