24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Identitas; Jadi Siapa, Bukan Jadi Apa

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
May 19, 2019
in Esai
Krisis Identitas; Jadi Siapa, Bukan Jadi Apa

Ilustrasi: Google

Setelah lama tak bersua di Tatkala, saya menjadi ragu dengan jati diri saya sebagai salah satu donatur di salah satu platform tentang jurnalisme warga terbesar di Bali ini.   

Bicara tentang jati diri, kali ini saya membawa sebuah keresahan tentang krisis identitas yang secara pribadi saya alami. Jikalau teman-teman pembaca mengalaminya juga, maka kelak kalian harus bagikan tulisan ini. Mari sebarkan virus penuh keresahan ini agar saya tidak “gila” sendirian. haha. Jadi apa yang dimaksud dengan krisis identitas? Adalah tentang sebuah generalisasi atau kalau boleh dibilang semacam pengkotak-kotak kan atas diri kita yang dilakukan oleh orang lain.

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan saya tentang sebuah cap atau label yang orang lain berikan kepada kita. Pernahkah kalian di judge kalau semisal kalian sedang duduk di pojokan sebuah ruangan, sendirian dan sedang asyik mendengarkan lagu galau maka orang akan bilang “wah ni anak patah hati kayaknya”

Atau ketika kalian tamat (wisuda) tidak sesuai dengan waktu seharusnya, maka kalian akan di cap hidupnya akan susah, karir mencari kerja bakal terancam. Sebenarnya masih banyak lagi contoh lain. Tetapi poin yang saya coba sampaikan ke pembaca semua adalah jikalau kalian merasakan menjadi bagian dari contoh-contoh yang saya sebutkan tadi dan kalian sudah merubah diri atau sikap karena paksaan dari orang lain, berarti fix kalian hidup dalam definisi orang lain.

Apa yang dimaksud dari hidup dalam definisi orang lain adalah tiap orang seolah punya SOP (Standar Operasional) nya tersendiri. Mereka seolah punya standar hidup sukses dan bahagia itu seperti apa. Nyatanya, hidup kita ini bhineka, beda-beda serta beragam. Jika saya ibaratkan dalam sebuah tahap pencapaian dari A-C, maka dengan sampai pada tahap A saja sudah cukup membuat saya bahagia dan mungkin bagi beberapa orang justru letak kebahagiaan mereka terletak pada tahap C. Ini tidaklah salah dan amat sangat sah.

Permasalahan yang kini kerap muncul ialah bahwa hal ini belum sepenuhnya dipahami oleh para golongan tua. Saya akan ambil beberapa contoh situasi dimana kita hidup dari definisi orang lain berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa teman;

“Kalau gak PNS, hidupnya bakal sulit apalagi di jaman sekarang”.

Di satu sisi, orang tua ngebet banget saya bisa jadi PNS khususnya guru karena saya mahasiswa kependidikan. Nah, disaat yang sama beberapa dosen di kampus menyarankan saya agar tidak usah menjadi PNS. Katanya PNS itu berat, kami tak akan kuat biar mereka aja. Haha..

Pernah di sebuah kesempatan, saya nongkrong asik di kantin kampus dan bercengkrama dengan salah seorang dosen. Beliau bilang bahwa kalau kita mau sukses, kerja di swasta, kalau kita mau santai, cari PNS.

“Kenapa? Karena kita gak bakal bisa sukses di PNS. PNS itu udah ada standar nya gimana. Jadi mau kita kerja sekeras apapun gak bakal gampang naiknya”.

Kurang lebih itulah poin salah satu pembicaraan yang kami rundingkan saat itu. Saya sangat mengerti akan pesan dan keinginan dari orang tua saya tentang menjadi seorang PNS khususnya guru. Keuntungan dari PNS dibanding pegawai swasta menurut saya hanya ada 1. PNS mendapatkan gaji pensiunan. Saya tidak bilang bahwa gaji pensiunan itu tidak penting. Itu sangat penting. Siapa coba yang hidupnya tidak mau dijamin di masa tua?

Hanya saja, kalau boleh saya kutip kata-kata Soe Hok Gie, seorang demonstrant. Dia bilang bahwa kekayaan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda adalah idealisme. Nah, idealisme inilah yang orang se-umuran saya atau kami para anak muda masih miliki. Idealisme tentang mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat meskipun bayaran tidak seberapa adalah lumrah di pikiran kami.

Kalau kita bicara tentang pekerjaan di jaman sekarang yang katanya era industri 4.0, maka ada jutaan pekerjaan baru yang pasti tergolong unik di mata para golongan tua. Content creator, EO (Event Organizer), Gamers dan masih banyak lagi. Namun definisi PNS dari golongan tua inilah yang menghambat sebagian besar impian anak mereka. PNS masih menjadi “Kartu AS” dalam menjamin keberlangsungan hidup saat ini. Kalau gak PNS, gak bisa hidup lama.

“Gak lulus atau wisuda tepat waktu, susah cari kerja”.

Mari merenung sejenak, Founder KFC saja baru menemukan skillnya di usia tua. Ibu Susi? Menteri Kelautan kita, tidak lulus SMA namun kini menjadi Menteri yang ditakuti Negara tetangga. Apa yang saya coba ingin sampaikan adalah bahwa setiap orang memiliki timeline nya tersendiri.

Dan ketika saya berkata demikian bukan berarti saya menyuruh para pembaca untuk hidup malas-malasan. Tetaplah bekerja dan belajar. Kita berjalan di zona waktu hidup kita sendiri. Jangan men-generalisasi setiap kegagalan yang kita alami. Beberapa orang tua biasanya akan berfikir demikian. Apalagi kalau mereka kerap membanding-bandingkan anak mereka dengan anak dari teman atau mungkin kerabat yang lain yang mungkin hasil belajar anak orang lain tersebut lebih lancar daripada kita.

Maka jangan dikhawatirkan lagi. Definisi sukses dimata mereka pasti akan melonjak dan semakin parah.

“Nikahlah di usia sekian karena idealnya segitu”.

Menikah ialah masalah kesiapan. Siap mental dan siap finansial khususnya. Terlebih adalah kesiapan komitmen menjalani bahtera rumah tangga berdua. intinya, yang akan menjalankan hidup setelah menikah adalah kita, bukan mereka yang memaksa kita untuk menikah di umur yang mereka tentukan sendiri.

Ya, bukannya kita para anak muda tidak mau menikah. Kita pasti akan menghasilkan keturunan hanya saja jangan dipaksakan dan jangan diberikan label juga.

Nah, semua keresahan itu sempat saya tanyakan ke dosen pembimbing skripsi saya. Sungguh nekat rasanya ketika bimbingan justru hal seperti ini yang saya konsultasikan. Beliau berpesan bahwa ini adalah masa pencarian jati diri.

“Susah itu wajar. Gak ngerti wajar. Dan di masa inilah kita menemukan jati diri kita itu siapa”. Katanya.

Keyword atau kata kunci nya adalah jati diri. Yang berarti berfokus pada kata tanya “siapa?”

Sudah cukup lama rasanya saya, kalian bahkan kita hidup dalam definisi yang dibuat oleh orang lain. Renungan terbesar yang muncul dalam benak saya setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing saya tempo hari itu adalah:

“habis wisuda, aku bakal jadi orang yang hidup dari definisi yang aku ciptakan sendiri dan bukan dari definisi sukses milik orang lain yang belum tentu buat aku bahagia. Aku yang bakal kerja! aku yang bakal ngerasain, dan aku yang bakal nerima gajinya! So, Life is a choice. I must decide it!”

Itu saya ungkap saya dalam hati. [T]

Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Siswa Seperti Apa Masuk SMKN Bali Mandara? – Inilah Ceritanya…

Next Post

Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan

Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co