24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Identitas; Jadi Siapa, Bukan Jadi Apa

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
May 19, 2019
in Esai
Krisis Identitas; Jadi Siapa, Bukan Jadi Apa

Ilustrasi: Google

Setelah lama tak bersua di Tatkala, saya menjadi ragu dengan jati diri saya sebagai salah satu donatur di salah satu platform tentang jurnalisme warga terbesar di Bali ini.   

Bicara tentang jati diri, kali ini saya membawa sebuah keresahan tentang krisis identitas yang secara pribadi saya alami. Jikalau teman-teman pembaca mengalaminya juga, maka kelak kalian harus bagikan tulisan ini. Mari sebarkan virus penuh keresahan ini agar saya tidak “gila” sendirian. haha. Jadi apa yang dimaksud dengan krisis identitas? Adalah tentang sebuah generalisasi atau kalau boleh dibilang semacam pengkotak-kotak kan atas diri kita yang dilakukan oleh orang lain.

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan saya tentang sebuah cap atau label yang orang lain berikan kepada kita. Pernahkah kalian di judge kalau semisal kalian sedang duduk di pojokan sebuah ruangan, sendirian dan sedang asyik mendengarkan lagu galau maka orang akan bilang “wah ni anak patah hati kayaknya”

Atau ketika kalian tamat (wisuda) tidak sesuai dengan waktu seharusnya, maka kalian akan di cap hidupnya akan susah, karir mencari kerja bakal terancam. Sebenarnya masih banyak lagi contoh lain. Tetapi poin yang saya coba sampaikan ke pembaca semua adalah jikalau kalian merasakan menjadi bagian dari contoh-contoh yang saya sebutkan tadi dan kalian sudah merubah diri atau sikap karena paksaan dari orang lain, berarti fix kalian hidup dalam definisi orang lain.

Apa yang dimaksud dari hidup dalam definisi orang lain adalah tiap orang seolah punya SOP (Standar Operasional) nya tersendiri. Mereka seolah punya standar hidup sukses dan bahagia itu seperti apa. Nyatanya, hidup kita ini bhineka, beda-beda serta beragam. Jika saya ibaratkan dalam sebuah tahap pencapaian dari A-C, maka dengan sampai pada tahap A saja sudah cukup membuat saya bahagia dan mungkin bagi beberapa orang justru letak kebahagiaan mereka terletak pada tahap C. Ini tidaklah salah dan amat sangat sah.

Permasalahan yang kini kerap muncul ialah bahwa hal ini belum sepenuhnya dipahami oleh para golongan tua. Saya akan ambil beberapa contoh situasi dimana kita hidup dari definisi orang lain berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa teman;

“Kalau gak PNS, hidupnya bakal sulit apalagi di jaman sekarang”.

Di satu sisi, orang tua ngebet banget saya bisa jadi PNS khususnya guru karena saya mahasiswa kependidikan. Nah, disaat yang sama beberapa dosen di kampus menyarankan saya agar tidak usah menjadi PNS. Katanya PNS itu berat, kami tak akan kuat biar mereka aja. Haha..

Pernah di sebuah kesempatan, saya nongkrong asik di kantin kampus dan bercengkrama dengan salah seorang dosen. Beliau bilang bahwa kalau kita mau sukses, kerja di swasta, kalau kita mau santai, cari PNS.

“Kenapa? Karena kita gak bakal bisa sukses di PNS. PNS itu udah ada standar nya gimana. Jadi mau kita kerja sekeras apapun gak bakal gampang naiknya”.

Kurang lebih itulah poin salah satu pembicaraan yang kami rundingkan saat itu. Saya sangat mengerti akan pesan dan keinginan dari orang tua saya tentang menjadi seorang PNS khususnya guru. Keuntungan dari PNS dibanding pegawai swasta menurut saya hanya ada 1. PNS mendapatkan gaji pensiunan. Saya tidak bilang bahwa gaji pensiunan itu tidak penting. Itu sangat penting. Siapa coba yang hidupnya tidak mau dijamin di masa tua?

Hanya saja, kalau boleh saya kutip kata-kata Soe Hok Gie, seorang demonstrant. Dia bilang bahwa kekayaan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda adalah idealisme. Nah, idealisme inilah yang orang se-umuran saya atau kami para anak muda masih miliki. Idealisme tentang mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat meskipun bayaran tidak seberapa adalah lumrah di pikiran kami.

Kalau kita bicara tentang pekerjaan di jaman sekarang yang katanya era industri 4.0, maka ada jutaan pekerjaan baru yang pasti tergolong unik di mata para golongan tua. Content creator, EO (Event Organizer), Gamers dan masih banyak lagi. Namun definisi PNS dari golongan tua inilah yang menghambat sebagian besar impian anak mereka. PNS masih menjadi “Kartu AS” dalam menjamin keberlangsungan hidup saat ini. Kalau gak PNS, gak bisa hidup lama.

“Gak lulus atau wisuda tepat waktu, susah cari kerja”.

Mari merenung sejenak, Founder KFC saja baru menemukan skillnya di usia tua. Ibu Susi? Menteri Kelautan kita, tidak lulus SMA namun kini menjadi Menteri yang ditakuti Negara tetangga. Apa yang saya coba ingin sampaikan adalah bahwa setiap orang memiliki timeline nya tersendiri.

Dan ketika saya berkata demikian bukan berarti saya menyuruh para pembaca untuk hidup malas-malasan. Tetaplah bekerja dan belajar. Kita berjalan di zona waktu hidup kita sendiri. Jangan men-generalisasi setiap kegagalan yang kita alami. Beberapa orang tua biasanya akan berfikir demikian. Apalagi kalau mereka kerap membanding-bandingkan anak mereka dengan anak dari teman atau mungkin kerabat yang lain yang mungkin hasil belajar anak orang lain tersebut lebih lancar daripada kita.

Maka jangan dikhawatirkan lagi. Definisi sukses dimata mereka pasti akan melonjak dan semakin parah.

“Nikahlah di usia sekian karena idealnya segitu”.

Menikah ialah masalah kesiapan. Siap mental dan siap finansial khususnya. Terlebih adalah kesiapan komitmen menjalani bahtera rumah tangga berdua. intinya, yang akan menjalankan hidup setelah menikah adalah kita, bukan mereka yang memaksa kita untuk menikah di umur yang mereka tentukan sendiri.

Ya, bukannya kita para anak muda tidak mau menikah. Kita pasti akan menghasilkan keturunan hanya saja jangan dipaksakan dan jangan diberikan label juga.

Nah, semua keresahan itu sempat saya tanyakan ke dosen pembimbing skripsi saya. Sungguh nekat rasanya ketika bimbingan justru hal seperti ini yang saya konsultasikan. Beliau berpesan bahwa ini adalah masa pencarian jati diri.

“Susah itu wajar. Gak ngerti wajar. Dan di masa inilah kita menemukan jati diri kita itu siapa”. Katanya.

Keyword atau kata kunci nya adalah jati diri. Yang berarti berfokus pada kata tanya “siapa?”

Sudah cukup lama rasanya saya, kalian bahkan kita hidup dalam definisi yang dibuat oleh orang lain. Renungan terbesar yang muncul dalam benak saya setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing saya tempo hari itu adalah:

“habis wisuda, aku bakal jadi orang yang hidup dari definisi yang aku ciptakan sendiri dan bukan dari definisi sukses milik orang lain yang belum tentu buat aku bahagia. Aku yang bakal kerja! aku yang bakal ngerasain, dan aku yang bakal nerima gajinya! So, Life is a choice. I must decide it!”

Itu saya ungkap saya dalam hati. [T]

Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Siswa Seperti Apa Masuk SMKN Bali Mandara? – Inilah Ceritanya…

Next Post

Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan

Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co