2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Krisis Identitas; Jadi Siapa, Bukan Jadi Apa

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
May 19, 2019
in Esai
Krisis Identitas; Jadi Siapa, Bukan Jadi Apa

Ilustrasi: Google

Setelah lama tak bersua di Tatkala, saya menjadi ragu dengan jati diri saya sebagai salah satu donatur di salah satu platform tentang jurnalisme warga terbesar di Bali ini.   

Bicara tentang jati diri, kali ini saya membawa sebuah keresahan tentang krisis identitas yang secara pribadi saya alami. Jikalau teman-teman pembaca mengalaminya juga, maka kelak kalian harus bagikan tulisan ini. Mari sebarkan virus penuh keresahan ini agar saya tidak “gila” sendirian. haha. Jadi apa yang dimaksud dengan krisis identitas? Adalah tentang sebuah generalisasi atau kalau boleh dibilang semacam pengkotak-kotak kan atas diri kita yang dilakukan oleh orang lain.

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan saya tentang sebuah cap atau label yang orang lain berikan kepada kita. Pernahkah kalian di judge kalau semisal kalian sedang duduk di pojokan sebuah ruangan, sendirian dan sedang asyik mendengarkan lagu galau maka orang akan bilang “wah ni anak patah hati kayaknya”

Atau ketika kalian tamat (wisuda) tidak sesuai dengan waktu seharusnya, maka kalian akan di cap hidupnya akan susah, karir mencari kerja bakal terancam. Sebenarnya masih banyak lagi contoh lain. Tetapi poin yang saya coba sampaikan ke pembaca semua adalah jikalau kalian merasakan menjadi bagian dari contoh-contoh yang saya sebutkan tadi dan kalian sudah merubah diri atau sikap karena paksaan dari orang lain, berarti fix kalian hidup dalam definisi orang lain.

Apa yang dimaksud dari hidup dalam definisi orang lain adalah tiap orang seolah punya SOP (Standar Operasional) nya tersendiri. Mereka seolah punya standar hidup sukses dan bahagia itu seperti apa. Nyatanya, hidup kita ini bhineka, beda-beda serta beragam. Jika saya ibaratkan dalam sebuah tahap pencapaian dari A-C, maka dengan sampai pada tahap A saja sudah cukup membuat saya bahagia dan mungkin bagi beberapa orang justru letak kebahagiaan mereka terletak pada tahap C. Ini tidaklah salah dan amat sangat sah.

Permasalahan yang kini kerap muncul ialah bahwa hal ini belum sepenuhnya dipahami oleh para golongan tua. Saya akan ambil beberapa contoh situasi dimana kita hidup dari definisi orang lain berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa teman;

“Kalau gak PNS, hidupnya bakal sulit apalagi di jaman sekarang”.

Di satu sisi, orang tua ngebet banget saya bisa jadi PNS khususnya guru karena saya mahasiswa kependidikan. Nah, disaat yang sama beberapa dosen di kampus menyarankan saya agar tidak usah menjadi PNS. Katanya PNS itu berat, kami tak akan kuat biar mereka aja. Haha..

Pernah di sebuah kesempatan, saya nongkrong asik di kantin kampus dan bercengkrama dengan salah seorang dosen. Beliau bilang bahwa kalau kita mau sukses, kerja di swasta, kalau kita mau santai, cari PNS.

“Kenapa? Karena kita gak bakal bisa sukses di PNS. PNS itu udah ada standar nya gimana. Jadi mau kita kerja sekeras apapun gak bakal gampang naiknya”.

Kurang lebih itulah poin salah satu pembicaraan yang kami rundingkan saat itu. Saya sangat mengerti akan pesan dan keinginan dari orang tua saya tentang menjadi seorang PNS khususnya guru. Keuntungan dari PNS dibanding pegawai swasta menurut saya hanya ada 1. PNS mendapatkan gaji pensiunan. Saya tidak bilang bahwa gaji pensiunan itu tidak penting. Itu sangat penting. Siapa coba yang hidupnya tidak mau dijamin di masa tua?

Hanya saja, kalau boleh saya kutip kata-kata Soe Hok Gie, seorang demonstrant. Dia bilang bahwa kekayaan terakhir yang dimiliki oleh seorang pemuda adalah idealisme. Nah, idealisme inilah yang orang se-umuran saya atau kami para anak muda masih miliki. Idealisme tentang mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat meskipun bayaran tidak seberapa adalah lumrah di pikiran kami.

Kalau kita bicara tentang pekerjaan di jaman sekarang yang katanya era industri 4.0, maka ada jutaan pekerjaan baru yang pasti tergolong unik di mata para golongan tua. Content creator, EO (Event Organizer), Gamers dan masih banyak lagi. Namun definisi PNS dari golongan tua inilah yang menghambat sebagian besar impian anak mereka. PNS masih menjadi “Kartu AS” dalam menjamin keberlangsungan hidup saat ini. Kalau gak PNS, gak bisa hidup lama.

“Gak lulus atau wisuda tepat waktu, susah cari kerja”.

Mari merenung sejenak, Founder KFC saja baru menemukan skillnya di usia tua. Ibu Susi? Menteri Kelautan kita, tidak lulus SMA namun kini menjadi Menteri yang ditakuti Negara tetangga. Apa yang saya coba ingin sampaikan adalah bahwa setiap orang memiliki timeline nya tersendiri.

Dan ketika saya berkata demikian bukan berarti saya menyuruh para pembaca untuk hidup malas-malasan. Tetaplah bekerja dan belajar. Kita berjalan di zona waktu hidup kita sendiri. Jangan men-generalisasi setiap kegagalan yang kita alami. Beberapa orang tua biasanya akan berfikir demikian. Apalagi kalau mereka kerap membanding-bandingkan anak mereka dengan anak dari teman atau mungkin kerabat yang lain yang mungkin hasil belajar anak orang lain tersebut lebih lancar daripada kita.

Maka jangan dikhawatirkan lagi. Definisi sukses dimata mereka pasti akan melonjak dan semakin parah.

“Nikahlah di usia sekian karena idealnya segitu”.

Menikah ialah masalah kesiapan. Siap mental dan siap finansial khususnya. Terlebih adalah kesiapan komitmen menjalani bahtera rumah tangga berdua. intinya, yang akan menjalankan hidup setelah menikah adalah kita, bukan mereka yang memaksa kita untuk menikah di umur yang mereka tentukan sendiri.

Ya, bukannya kita para anak muda tidak mau menikah. Kita pasti akan menghasilkan keturunan hanya saja jangan dipaksakan dan jangan diberikan label juga.

Nah, semua keresahan itu sempat saya tanyakan ke dosen pembimbing skripsi saya. Sungguh nekat rasanya ketika bimbingan justru hal seperti ini yang saya konsultasikan. Beliau berpesan bahwa ini adalah masa pencarian jati diri.

“Susah itu wajar. Gak ngerti wajar. Dan di masa inilah kita menemukan jati diri kita itu siapa”. Katanya.

Keyword atau kata kunci nya adalah jati diri. Yang berarti berfokus pada kata tanya “siapa?”

Sudah cukup lama rasanya saya, kalian bahkan kita hidup dalam definisi yang dibuat oleh orang lain. Renungan terbesar yang muncul dalam benak saya setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing saya tempo hari itu adalah:

“habis wisuda, aku bakal jadi orang yang hidup dari definisi yang aku ciptakan sendiri dan bukan dari definisi sukses milik orang lain yang belum tentu buat aku bahagia. Aku yang bakal kerja! aku yang bakal ngerasain, dan aku yang bakal nerima gajinya! So, Life is a choice. I must decide it!”

Itu saya ungkap saya dalam hati. [T]

Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Siswa Seperti Apa Masuk SMKN Bali Mandara? – Inilah Ceritanya…

Next Post

Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan

Pura Pucak Bukit Sangkur: Tangga Lumut dan Keheningan di Tengah Hutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co