24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buka-Bukaan di Teater #Catatan Aktor Sebelum Pentas “Sang Guru”

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
May 14, 2019
in Esai
Buka-Bukaan di Teater #Catatan Aktor Sebelum Pentas “Sang Guru”

Komunitas Senja yang akan pentas Sang Guru di Taman Budaya Denpasar

Ini adalah catatan aktor sebelum pementasan Komunitas Senja dengan judul  “SANG GURU” adaptasi naskah monolog “Pidato 7 Menit” karya Hendra Utay, Sabtu, 18 Mei 2019 pukul 18:00 WITA. Pementasan ini dalam rangka “Program Penyajian dan Pembangunan Seni UPTD Taman Budaya Art Centre 2019”, di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Taman Budaya Denpasar.

***

Pada proses kali ini saya sedikit ingin berbagi pengalaman saja, karena tidak bisa menulis terlalu banyak tentang teater dan seni pertunjukan. Jadi mungkin pilihan gaya bahasa saya lebih seperti bahasa sehari-hari. Bukankah teater juga seperti itu?

Untuk proses kali ini, saya selaku aktor yang mendapat kewajiban serta “paksaan” menulis pengalaman sebelum pentas hanya sedikit ingin bercerita. Kebetulan pada garapan ini saya sebagai salah satu anggota yang tidak begitu aktif di Komunitas Senja, dipilih secara kesadaran untuk ikut bergabung dalam garapan ini.

Padahal saya tidak begitu sering terlibat pada saat komunitas ini berproses kreatif ataupun hanya sekedar kumpul-kumpul. Tapi kalau dihitung-hitung pada kenyataan di luar masalah itu, kan lumayan buat saya belajar lebih banyak lagi tentang teater dan lain sebagainya yang bersangkutan. Termasuk aktor, karena kebetulan di sini saya dipercaya menjadi salah satu aktor di lini tengah, udah kayak pemain sepak bola saja.

“Ngomong-ngomong soal bola, kasian ya Barca kalah sama Liverpool di semifinal Liga Champions, hahaa”.

Lanjut. Banyak sekali temuan saya pada saat proses dengan Komunitas Senja, karena sebelumnya saya lebih sering terlibat proses kreatif dan lebih banyak berproses di Teater Kalangan yang bisa saya sebut sebagai rumah saya. Tapi karena ini pengalaman saya dengan Komunitas Senja, jadi saya simpan dulu rumah saya dan tinggalkan sebentar. Sekiranya untuk mencari referensi serta pandangan lain tentang teater dan keaktoran.

Pada awal-awal proses saya tentunya sedikit kaget dengan ruang dan arena kultural dalam komunitas ini. Ya, walaupun kami sesekali kadang berjumpa dan minum-minum bareng, untuk gabung proses yang seserius ini baru pertama kali. Karena sangat berbeda dengan ruang dan arena kultural di rumah teater saya. Kemudian saya mengira, sepertinya saya harus memang benar-benar menaruh dulu apa yang saya ketahui di ruang rumah saya untuk kemudian mulai memasuki ruang yang baru.

Karena saat awal proses saja sudah terjadi ketegangan yang luar biasa, cekcok antar anggota untuk memilih tim kreatif atau pengurus lainya, serta debat soal pengadaptasian naskah. Karena kebetulan juga proses kali ini, kami berangkat dari naskah monolog karya dramawan tersohor Hendra Utay dengan judul “Pidato 7 Menit”, yang saya kenal seringkali digadang-gadang sebagai dewa monolog (bukan dewa mabok ya).

Saat cekcok dan debat besar di hari pertama itu, ternyata tidak membuahkan hasil sama sekali, yang ada malah hampir melahirkan perkelahian entah apa yang terjadi sebelumnya. Tiba-tiba dua salah teman sudah mulai emosi dengan nada yang naik. Saat melihat kejadian itu saya berpikir, sampai sejauh inikah teater?

Tapi dalam cekcok itu mereka sepertinya sadar bahwa harus ada yang mengalah, serta menurunkan egonya masing-masing, saya rasa harus menanamkan kesadaran bahwa kita sedang kerja berkelompok.

Akhirnya dengan realitas seperti itu di awal proses, saya selaku aktor yang baru membaca ruang di komunitas ini memilih untuk mengambil jalan yang terbuka. Terbuka dalam artian bahwa saya di sini menjadi aktor, apapun yang berkaitan dengan kerja aktor harus saya pelajari dan jalankan. 

Karena yang saya takutkan adalah kejadian tidak menyenangkan itu kembali terjadi, akhirnya malah membuat ruang pada komunitas itu mulai melemah karena kebanyakan debat dan cekcok antar mulut tanpa dibarengin dengan kerja nyata.

Menariknya lagi saat saya sudah mulai memposisikan diri saya menjadi aktor yang terbuka, banyak hal yang masuk dan mulai menginterpretasi pikiran saya menjadi aktor. Dalam keterbukaan itu saya mengerti suatu hal apa yang sutradara maksud dan yang dia inginkan, perantaranya lewat obrolan diskusi serta evaluasi usai latihan dengan batasan-batasanya agar tidak keluar kesana kemari, agar pembicaraanya juga jelas tujuanya kemana.

Bahkan pada satu kesempatan saya ditunjuk oleh sutradara untuk memberi materi latihan olah tubuh yang baru sedikit saya pahami, saya terbuka dan memberikan apa yang saya ketahui kepada teman-teman aktor yang ikut terlibat.

Di sini saya merasa bahwa sangat susah memang mengubah kebiasaan suatu kelompok yang sudah punya titah serta pemahaman tentang teater sebelumnya, kemudian diberikan pemahaman lain dan baru. Di hari pertama saya benar merasakan betapa berat dan susah sekali untuk menggiring teman-teman ke arah dan tujuan yang saya maksudkan, tapi disini juga saya menyadari bahwa pada pijakan dan tahapan tertentu saya tidak bisa semata-mata melompat begitu saja.

Jika hari pertama temuan dari teman-teman memang baru sedikit dan bahkan ada yang tidak ada, mungkin bagi saya memang belum sampai atau saya yang kurang efektif menyampaikan. Kemudian pada hari-hari berikutnya, saya mencoba mengulang lagi dengan perlahan serta lebih terbuka menerima apapun yang diberikan. Akhirnya satu persatu teman-teman mulai sedikit paham dari apa yang saya maksud, pun begitu sebaliknya timbal baliknya kepada saya.

Sangat sadar saya akan hal ini, bahwa dalam setiap kelompok yang tergabung dalam banyak elemen memang susah untuk menyatukan menjadi satu pemikiran dan tujuan. Tapi jika dipadukan dengan diskusi serta obrolan, di momen inilah kami belajar untuk menyamakan tujuan serta cara pandang untuk proses pentas kedepanya.

Itu juga saya lakukan dengan sutradara, kebetulan sutradara saya kali ini beda lagi. Namanya Adi Wiguna, saya akrabnya memanggil dia Kak Legu. Saya sering menanyakan serta banyak ngobrol saat jam latihan, maupun diluar jam latihan. Karena saya rasa dengan begitu saya menjadi lebih terbuka lagi menjadi aktor, biasanya orang yang tidak mau membuka dirinya saat menjadi aktor yang terjadi adalah jika bersikap pun akan mempengaruhinya saat proses.

Atau bisa jadi aktor yang kurang terbuka tersebut menganggap dirinya sudah selesai dan paham betul tentang aktor. Itu juga yang menjadi bekal saya saat tiap menjalani proses teater, saya sangat berjarak sekali untuk mencetuskan diri saya sudah paham betul soal dunia keaktoran. Karena setiap saya pentas, saya selalu sering di koreksi orang lain serta sering juga saya melakukan evaluasi terhadap diri saya sendiri. Karena usai pentas, yang terjadi dalam diri saya hanya kata-kata, “seharusnya tu tadi aku kayak gini, seharusnya tu tadi aku kayak gitu”.

Masih banyak ternyata kemungkinan yang saya harus pelajari, saya rasa juga untuk mencapai dan memahami kemungkinan itu dasar menjadi aktor bagi saya adalah terbuka. Terbuka dalam artian menerima apapun itu yang di ucapkan sutradara, serta berbicaralah jika halnya memang tidak paham atau berbicaralah jika ada hal yang ditemukan atau ide apapun. Agar kedepanya juga sutradara bisa mengambil tindakan ke tahap selanjutnya.

Kesadaran menjadi aktor, saya juga tidak mengamini bahwa sudah berada pada tahap menjadi aktor yang terbuka. Tapi saya selalu menempatkan kesadaran dalam diri, bahwa saya adalah seorang aktor yang nantinya akan di pertontonkan di atas panggung dibawah bayangan wacana sutradara.

Kesadaran ini juga yang akhirnya bagi saya menimbulkan semacam perasaan untuk saya bermain dan belajar lebih maksimal, karena yang dilihat di atas panggung adalah kemampuan aktor memahami konteks naskah dan alur ceritanya untuk kemudian di pertunjukan.

Selain itu juga kesadaran saya berkelompok menjadi salah satu dorongan untuk belajar lebih maksimal lagi, walaupun di kenyataanya saya belum menjadi orang maksimal dalam berkelompok. Latihan jarang datang, ataupun sering telat, saya tidak akan membela diri. Tapi kalau di pikirkan kembali, ternyata itu juga mempengaruhi jalanya proses yang kelompok itu jalani.

Sebagai contoh, ketika dari sebagian banyak aktor yang ada ternyata lebih banyak yang tidak hadir di latihan tanpa keterangan, akhirnya itu mempengaruhi pikiran aktor yang pada proses awal rajin datang. Pikiran-pikiran tersebut saya dapatkan ketika saya paham kunci dasar sebagai aktor yang terbuka dan menjadi bagian dari kelompok itu.

Karena hanya itu saja yang saya dapatkan saat proses ini, semoga bermanfaat untuk saya sendiri khususnya dalam berproses kreatif menjadi aktor ataupun teman-teman aktor lainya.

Karena menjadi aktor yang terbuka itu sangat perlu bagi saya pribadi, selain itu juga di umur saya yang masih sangat muda ini saya harus banyak belajar dan menemukan sesuatu untuk di pertanyakan. Dengan cara menaruh dan menyimpan dulu ideologi dan pemahaman saya tentang teater untuk menyelaraskan kemungkinan lain dalam berteater.

Karena bagi saya teater tidak bisa di pelajari hanya setahun dua tahun. Saya rasa selalu ada evaluasi dan perbaikan, bahkan tak jarang soal pengulangan. “Udah kayak hidup aja hahaa”, tapi saya tidak menganggap teater sebagai hidup. Saat ini saya menganggap teater sebagai sarana dan jembatan belajar untuk masuk ke bidang apa saja. Tak terkecuali salah satunya menulis.

Dan untuk menjadi aktor yang bisa berbicara banyak tentang dunia keaktoran nanti, saya harus lebih sering dulu berbicara dasarnya saja selain itu juga karena memang itu yang saya dapatkan kali ini “hehee”. Untuk kemudian merumuskan sendiri dan menjadikanya metode sendiri kelak nanti, gimana besar tidak cita-cita saya menjadi seorang aktor yang profesional?

Dan saya kira, segini dulu bahasan dan cerita pengalaman saya menjadi aktor dalam pentas bersama Komunitas Senja.

Dan jangan lupa saksikan nanti pementasan kami dengan judul : “SANG GURU” adaptasi naskah monolog “Pidato 7 Menit” karya Hendra Utay. Sabtu, 18 Mei 2019 pukul 18:00 WITA. Dalam rangka “Program Penyajian dan Pembangunan Seni UPTD Taman Budaya Art Centre 2019”, di Gedung Ksirarnawa, Art Centre.

Salam sepoi-sepoi, dan sampai ketemu nanti terutama untuk cewek-cewek manis dan jomblo di luar sana. [T]

Tags: baliguruKomunitas Senjaseni pertunjukanTeater
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Mencintai Kesejatian Diri

Next Post

Ingatan Yang Coba Kita Lupakan

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Ingatan Yang Coba Kita Lupakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co