23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelelahan & Kematian

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
May 11, 2019
in Esai
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

“Orang mati, bukanlah karena sungai yang deras dan punya jeram-jeram terjal atau pesawat terbang dalam sekapan badai, orang mati karena sebuah hukum kekekalan energi yang eksak. Cuma, memang cara mati orang yang beranekaragam, biasa, tragis atau mengerikan. Kematian, menjadi disegani berkat rasa takut kita yang telah menjadi-jadi.” (Merayakan Ingatan, Mahima 2019)

Publik hari ini diributkan oleh laporan-laporan kematian petugas yang bekerja untuk pemilu serentak hingga merenggut ratusan jiwa anak bangsa. Banyak hal yang menjadi aspek perdebatan. Seakan-akan tragedi ini bukan sebuah keadaan yang masuk akal, mengingat begitu banyaknya korban jiwa. Perspektif politis pun tak pernah betul-betul bisa ditanggalkan hingga peristiwa ini dikaitkan dengan satu upaya delegitimasi penyelenggara pemilu oleh segelintir oknum.

Namun secara kwalitatif isu akhirnya mengerucut pada sebuah diskusi, adakah kelelahan dapat menyebabkan kematian?

Di negeri yang banyak “orang pintar” ini, segala hal dapat dibuat menjadi ramai, dan itu sah-sah saja. Meski kemudian terkesan konyol. Setera dengan kepongahan saat menyangsikan bahkan menuduh quick count sebagai sebuah sihir sains! Ini hanya bisa terjadi saat sains yang begitu teknis dianalisis dari sudut pandang politik yang sedemikian pragmatis.

Adakah kelelahan dapat menyebabkan kematian? Salah seorang dokter, dalam sebuah talk show di stasiun televisi swasta, secara tegas mengatakan kelelahan itu sendiri bukanlah penyebab kematian langsung. Namun ia dapat menjadi pemicu kematian, pada mereka yang sebelumnya sudah memiliki dasar-dasar penyakit-penyakit fatal di dalam tubuhnya. Entah itu diketahui atau tidak, disadari atau tidak.

Penyakit-penyakit yang dimaksud adalah penyakit-penyakit metabolik antara lain, hipertensi, diabetes dan kolesterol. Atau penyakit-penyakit organ seperti jantung, paru, hati dan ginjal. Dokter ini menegaskan, hanya dengan adanya latar belakang penyakit-penyakit tersebut pada seseorang yang lalu oleh karena satu kelelahan dapat menimbulkan kematian. Artinya, cuma kelelahan semata takkan dapat membunuh seseorang, seekstrim apapun kelelahan itu. Betulkah?

Taruhlah satu contoh, seorang pemuda sesuai hasil tes kesehatannya, ia dinyatakan sehat. Lalu, ia diminta bekerja, ambil contoh memotong rumput dengan mesin rumput, seminggu penuh tanpa istirahat. Akan tetap hidupkah ia? Overwork Death adalah terminologi resmi yang digunakan oleh Medical Subject Heading (MeSH).

MeSH sejak 1980 juga menggunakan istilah Karoshi-Death, terminologi yang berasal dari bahasa Jepang untuk menyebutkan kasus kematian akibat kelelahan kerja. Karoshi pertama kali digunakan untuk menjelaskan kasus kematian kerja yang terjadi di tahun 1969 menimpa gadis pekerja di Jepang berusia 29 tahun yang mengalami long working hours selama 56 jam nonstop (Nishiyama & Johnson, 1997).

Jurnal BMC Medicine, 2016, dalam artikelnya, Fatique is associated with excess mortality in the general population : result from the EPIC-Norflok study, menyimpulkan, tingkat kelelahan ekstrim berhubungan dengan tingkat kematian di dalam populasi umum. Jadi bukan hanya pada populasi yang memiliki faktor risiko atau latar belakang penyakit metabolik atau penyakit organ vital.

Namun demikian, temuan ini pun mengingatkan kita untuk meneliti lebih jauh individu-individu yang tampak sehat tak ada keluhan apapun. Karena mungkin saja yang bersangkutan membawa potensi masalah medis yang tersembunyi namun dapat manifes jika dipicu oleh suatu kelelahan yang ekstrim.

Secara fisiologis, aktivitas fisik yang berat dan terus-menerus, akan memacu kerja jantung yang berlebihan lalu membuat tubuh mengeluarkan lebih banyak hormon steroid (stres hormon) sebagai satu mekanisme kompensasi. Satu keadaan yang juga terjadi jika tubuh mengalami infeksi atau radang yang berat. Namun demikian, apabila mekanisme kompensasi itu telah melampaui batas kemampuan maksimal tubuh, ia akan jatuh pada keadaan dekompensasi atau failure. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya kadar gula dalam darah sebagai bahan baku energi. Lalu dibongkarlah cadangan energi yang tersimpan dalam lemak & protein tubuh.

Ekses dari peristiwa ini adalah menumpuknya limbah ikutan dari pembentukan energi tadi menyebabkan keasaman darah meningkat. Keadaan ini sangat buruk, ia dapat meracuni tubuh secara sitemik. Otak & otot jantung yang menjadi tumpuan tubuh untuk hidup justru menerima dampak yang paling cepat & kuat, maka kematian mendadak mudah saja terjadi.

Kerja marathon KPPS telah dimulai dari lima hari sebelum hari H hingga tiga hari pasca pemilu, dengan kesempatan tidur yang sangat minim. Jadi wajar saja jika mereka mengalami satu tingkat kelelahan yang ekstrim. Maka terjadinya hal-hal yang mengagetkan, adanya kematian-kematian mendadak di antara para korban pun dapat dipahami. Masalah mereka bukanlah hanya pada beban fisik yang sangat berat. Namun juga pada stres psikis yang sangat menekan, menyebabkan stimulasi berlebihan sistem hormon simpatis. Dampaknya adalah beban kerja jantung yang kian meningkat, pembuluh darah yang kian menyempit hingga memberi risiko kegagalan fungsi sistem sirkulasi darah dalam tubuh yang tiba-tiba.

Demikianlah kemungkinan yang telah terjadi pada anak-anak negeri yang gugur dalam perhelatan demokrasi terbesar sepanjang sejarah ini. Peristiwa ini telah memberi pelajaran berharga yang patut membuat kita tertunduk dalam nafas yang sesak untuk memikirkan pola pemilu yang lebih sehat. Bukan menjadikannya medan pertempuran yang baru untuk sesama anak bangsa beradu pendapat dalam kepentingan politik yang tamak tak berkesudahan. [T]

BACA JUGA KOLOM DOKTER YANG INI:

  • Acintya
  • Nyepi: Terapi Kesehatan
  • Pasien, Guru yang Sempurna
  • Dokter dan Sepotong Filsafat
  • Dokter & Dukun, Tujuan Sama, Satu Naik Heli, Satu Naik Boat, Tidaklah Bertabrakan…
  • Hantu itu Bernama Ateisme 
  • Seks: Barang & Gaya Itu-itu Saja, Yang Rumit adalah Persepsinya
  • Ideologi, Demokrasi & Kesehatan Bangsa
  • Musuh Dokter itu Bernama Keseriusan
  • Evolusi Pasca Darwin
  • Belajar dari Tubuh
  • Sudah Jelas, Penyebab Stoke adalah Nasib
  • Dokter, Profesi Paling Lucu
  • Pemilu, Politik & Stres
  • Biaya Kesehatan Harus Dibikin Semahal-mahalnya
  • Diabetes yang Menghentikan Kita, Atau Kita yang Menghentikan Diabetes
  • Bulan, Menelitinya atau Mengaguminya, Keduanya adalah Ibadah
  • Pendidikan & Keutuhan Bangsa
  • Puasa & Kesehatan
Tags: kehidupankematianpemilu
Share169TweetSendShareSend
Previous Post

“Letupan Erupsi Semesta Raga” – Pameran MilitanArt di Malang

Next Post

Memuja Saraswati, Keriangan yang Sama dari Seluruh Dunia

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Memuja Saraswati, Keriangan yang Sama dari Seluruh Dunia

Memuja Saraswati, Keriangan yang Sama dari Seluruh Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co