3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesta Dansa

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
May 8, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Apa yang spesial dari sebuah pesta dansa?

Saya tidak tahu karena saya belum pernah berdansa. Bagaimana bergerak mengikuti irama musik, melangkahkan kaki, gerak tangan dan juga gestur tubuh. Semuanya harus cocok.

Saya hanya senang memperhatikan jika dalam suatu film, ada adegan berdansa. Seperti adegan dansa antara Lim Kwei Ing [dipanggil Ing] dan Kwee Tjie Hoei [dipanggil Hoei] dalam film Love and Faith. Ing adalah anak perempuan seorang bangker yang kaya, sedangkan Hoei adalah seorang lelaki yang menjadi guru di sekolah Ing. Ayah Ing tahu, kalau Hoei menyukai Ing. Lalu Hoei diundang untuk mengikuti pertemuan keluarga besar Ing.

Pada pertemuan itulah ayah Ing mengatakan bahwa ada seorang perwira yang mapan menyukai Ing. Ayah Ing berkata kepada Hoei, “Lihatlah Hoei, dia adalah seorang perwira yang mapan, dia anak dari saudara saya, dan dia menyukai Ing. Saya tahu, kamu juga suka pada Ing. Tapi seorang ayah tentu berharap yang terbaik untuk anaknya”. Hoei hanya diam tidak bicara, dan tampak sedikit kaget. Lalu ayah Ing melanjutkan, “Mungkin kamu menyukai Ing, tapi apa yang bisa kamu lakukan untuk membahagiakannya?”.

Hoei menjawab, “Saat ini saya memang belum mapan, tapi saya akan berusaha. Sekarang saya hanya punya cinta dan kesetiaan”.

“Saya tahu kamu punya itu semua. Hanya satu saja yang kamu belum punyai, kekayaan”, kata ayah Ing. Tanpa menunggu jawaban Hoei, ayah Ing berkata lagi, “Saya ini bukan jenis orang tua yang memaksakan kehendak pada anaknya Hoei. Sekarang dekatilah Ing, yakinkan dia”.

Hoei tersenyum, memberi hormat dengan sekali anggukan, lalu mendekati Ing yang sedang berdansa dengan perwira yang juga suka pada Ing. Musik masih terdengar sayup, dan Hoei mencoba berdansa dengan Ing. “Saya tidak pernah berdansa”, kata Hoei Ing hanya tersenyum, lalu berkata, “Kamu tinggal ikuti saja iramanya. Dan kemana pun kakimu melangkah, Ing akan mengikutinya”.

Saya tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Ing kepada Hoei. Konon seorang perempuan akan mengikuti kemana pun kaki pria yang disukainya melangkah. Apalagi yang lebih romantis dari itu?

Tapi itu juga berarti, seorang pria mesti bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya. Sebab satu keputusan, tidak lagi tentang satu orang pria, tapi juga seorang perempuan yang mengikutinya.

Saya ini Cangak yang juga bertanggungjawab. Segala jenis keputusan yang saya ambil, akan saya terima konsekuensinya. Kan dunia ini hanya milik mereka yang bernyali. Nah, saya ini salah satunya.

Nyali saya cukup besar untuk mengambil banyak resiko. Sebab hidup ini pada dasarnya hanyalah kumpulan resiko-resiko. Sisanya hanya tinggal bagaimana menyiasati resiko itu. Tapi bernyali tidak cukup. Orang harus punya kecerdasan, alias kebijaksanaan.

Percumalah keberanian itu jika hanya mendatangkan musibah. Makanya, orang berani, harus juga memiliki kecerdasan. Memangnya ada yang mau mati konyol? Tidak kan?

Oke. Mari kita pikirkan kembali tentang pesta dansa. Saya mencoba mencari rujukanrujukan sastra tentang dansa. Tapi tidak kunjung saya temukan. Yang saya temukan adalah rujukan tentang tarian. Namanya Dharma Pagambuhan. Ada ungkapan menarik di dalamnya. Konon, setiap penari mestilah berdoa terlebih dahulu kepada Dewa Smara. Tujuannya, agar penonton merasa tertarik dan betah melihat tarian.

Kata Smara berasal dari akar kata Smr dalam bahasa Sanskerta, yang artinya adalah ingat. Kata Smara ini juga bersinonim dengan Asmara, sehingga antara cinta dan ingat, berasal dari akar kata yang sama. Atau mungkin memang begitu? Orang yang sedang jatuh cinta, akan selalu mengingat-ingat yang dicintainya. Jika ada penari yang memuja Smara, barangkali tujuannya juga agar penonton selalu membayangkan dan mengingat-ingat tariannya.

Biasanya, pujaan kepada Dewa Smara juga disertai dengan pujaan kepada Dewi Ratih. Ratih itu nama lain dari Bulan. Jadi pasangan dari cinta dan ingatan adalah bulan. Wah, saya ini terkejut sendiri memikirkan itu. Tetapi ada yang belum jelas, kenapa antara cinta dan bulan itu berhubungan?

Tentang kedua tokoh ini, bisa kita cari-cari penjelasannya dalam kakawin Smaradahana. Kisahnya sudah tersohor. Mengisahkan tentang Dewa Smara yang dibakar oleh Shiwa karena telah berani mengganggu tapanya. Sedangkan Ratih, menunjukkan kesetiaannya. Ia dengan sadar meminta ikut dibakar, agar bisa menyatu dengan Smara. Kurang setia apa lagi Dewi Ratih itu?

Tentang kesetiaan, ada banyak cerita yang bisa kita baca. Kesemua cerita itu, adalah tentang kesetiaan wanita. Barangkali, wanita adalah perwujudan hakiki dari kesetiaan. Entahlah, saya juga belum mengerti. Jika perempuan adalah wujud kesetiaan, lalu apa sebenarnya keunggulan lelaki?

Kesetiaan Ratih cukup membuat hati Cangak saya yang suci ini terenyuh. Tahu tidak apa yang dia katakan sewaktu Smara baru saja dibakar oleh Siwa?

Kalau belum tahu, mari saya beritahu. Begini.

“Tuan, Dewa Smara pujaan hati hamba. Ruang mana yang mesti hamba masuki, Tuan tak kunjung nampak. Mungkinkah Tuan sembunyi pada cahaya bulan yang terang memandang lautan. Atau pada pohon kelapa yang tinggi dan miring ke jurang seperti menusuk langit. Apakah Tuan di sana, pada dawai pandan harum yang hamba tunggu membawa puisi”

“Tahukah Tuan? Hamba selalu teringat pada Tuan, saat menyaksikan kabut lembut memeluk gunung. Lebih lagi saat perlahan ia menghilang diterpa cahaya mentari, seperti tanda bagi hamba ketika jiwa Tuan turut musna”

“Tidakkah Tuan merasa terenyuh menyaksikan pohon-pohon berguguran, kering disengat cahaya matahari. Ranting-rantingnya menggapai-gapai, mengharap datang hujan gerimis. Lihatlah Tuan, tunas bunga Pudak yang tak sengaja dipukul oleh bambu yang digerakkan angin. Ia patah seperti Tuan kini, dan tiada yang peduli”

Smara yang tubuhnya telah dibakar, tapi suara-suaranya masih bisa didengar oleh Ratih berkata, “Dinda penguasa nafasku. Lihatlah, nasibku kini yang hancur jadi debu. Maafkan aku yang tak bisa membahagiakanmu”.

“Barangkali takdirku kini berpisah denganmu Dewi. Tubuhku boleh saja tak mungkin kembali. Tapi tidak dengan hatiku. Hanya dirimu, dan satu-satunya. Maafkan aku”.

Pesta dansa tidak ada ketika Smara dan Ratih dipisahkan oleh keadaan. Tapi pada tiap pesta dansa yang diadakan, Smara dan Ratih selalu bersemayam. Mereka bersembunyi di sana, jauh di relung hati yang tidak mungkin kelihatan.

Mereka sembunyi disana, pada tiap hamparan musik, langkah kaki, gerak tangan dan gestur tubuh masing-masing. Jadi wahai sodara-sodaraku para ikan, mari kita buat pesta dansa sambil berdoa agar hujan turun. Bukankah konon, hujan juga pertanda cinta langit kepada bumi?

Sejujurnya, saya ingin bertanya kepada Bumi tempat saya berpijak kini. “Wahai Bumi, yang konon berputar-putar seperti tarian para sufi. Kenapa kau menari?” [T]


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening
  • Siang Malam Berpikir Sendiri
  • Teman Tidak Makan Teman
  • Menerima Tanpa Terlena
  • Perlindungan
Tags: renunganSeni
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Bangga Menjadi Buddhis di Seminar Remaja Patria Denpasar 2019

Next Post

“Laklak Gede” Isi Pisang di Pasar Penebel, Namanya Laklak Biu Men Bayu

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
“Laklak Gede” Isi Pisang di Pasar Penebel, Namanya Laklak Biu Men Bayu

“Laklak Gede” Isi Pisang di Pasar Penebel, Namanya Laklak Biu Men Bayu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co