25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesta Dansa

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
May 8, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Apa yang spesial dari sebuah pesta dansa?

Saya tidak tahu karena saya belum pernah berdansa. Bagaimana bergerak mengikuti irama musik, melangkahkan kaki, gerak tangan dan juga gestur tubuh. Semuanya harus cocok.

Saya hanya senang memperhatikan jika dalam suatu film, ada adegan berdansa. Seperti adegan dansa antara Lim Kwei Ing [dipanggil Ing] dan Kwee Tjie Hoei [dipanggil Hoei] dalam film Love and Faith. Ing adalah anak perempuan seorang bangker yang kaya, sedangkan Hoei adalah seorang lelaki yang menjadi guru di sekolah Ing. Ayah Ing tahu, kalau Hoei menyukai Ing. Lalu Hoei diundang untuk mengikuti pertemuan keluarga besar Ing.

Pada pertemuan itulah ayah Ing mengatakan bahwa ada seorang perwira yang mapan menyukai Ing. Ayah Ing berkata kepada Hoei, “Lihatlah Hoei, dia adalah seorang perwira yang mapan, dia anak dari saudara saya, dan dia menyukai Ing. Saya tahu, kamu juga suka pada Ing. Tapi seorang ayah tentu berharap yang terbaik untuk anaknya”. Hoei hanya diam tidak bicara, dan tampak sedikit kaget. Lalu ayah Ing melanjutkan, “Mungkin kamu menyukai Ing, tapi apa yang bisa kamu lakukan untuk membahagiakannya?”.

Hoei menjawab, “Saat ini saya memang belum mapan, tapi saya akan berusaha. Sekarang saya hanya punya cinta dan kesetiaan”.

“Saya tahu kamu punya itu semua. Hanya satu saja yang kamu belum punyai, kekayaan”, kata ayah Ing. Tanpa menunggu jawaban Hoei, ayah Ing berkata lagi, “Saya ini bukan jenis orang tua yang memaksakan kehendak pada anaknya Hoei. Sekarang dekatilah Ing, yakinkan dia”.

Hoei tersenyum, memberi hormat dengan sekali anggukan, lalu mendekati Ing yang sedang berdansa dengan perwira yang juga suka pada Ing. Musik masih terdengar sayup, dan Hoei mencoba berdansa dengan Ing. “Saya tidak pernah berdansa”, kata Hoei Ing hanya tersenyum, lalu berkata, “Kamu tinggal ikuti saja iramanya. Dan kemana pun kakimu melangkah, Ing akan mengikutinya”.

Saya tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Ing kepada Hoei. Konon seorang perempuan akan mengikuti kemana pun kaki pria yang disukainya melangkah. Apalagi yang lebih romantis dari itu?

Tapi itu juga berarti, seorang pria mesti bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya. Sebab satu keputusan, tidak lagi tentang satu orang pria, tapi juga seorang perempuan yang mengikutinya.

Saya ini Cangak yang juga bertanggungjawab. Segala jenis keputusan yang saya ambil, akan saya terima konsekuensinya. Kan dunia ini hanya milik mereka yang bernyali. Nah, saya ini salah satunya.

Nyali saya cukup besar untuk mengambil banyak resiko. Sebab hidup ini pada dasarnya hanyalah kumpulan resiko-resiko. Sisanya hanya tinggal bagaimana menyiasati resiko itu. Tapi bernyali tidak cukup. Orang harus punya kecerdasan, alias kebijaksanaan.

Percumalah keberanian itu jika hanya mendatangkan musibah. Makanya, orang berani, harus juga memiliki kecerdasan. Memangnya ada yang mau mati konyol? Tidak kan?

Oke. Mari kita pikirkan kembali tentang pesta dansa. Saya mencoba mencari rujukanrujukan sastra tentang dansa. Tapi tidak kunjung saya temukan. Yang saya temukan adalah rujukan tentang tarian. Namanya Dharma Pagambuhan. Ada ungkapan menarik di dalamnya. Konon, setiap penari mestilah berdoa terlebih dahulu kepada Dewa Smara. Tujuannya, agar penonton merasa tertarik dan betah melihat tarian.

Kata Smara berasal dari akar kata Smr dalam bahasa Sanskerta, yang artinya adalah ingat. Kata Smara ini juga bersinonim dengan Asmara, sehingga antara cinta dan ingat, berasal dari akar kata yang sama. Atau mungkin memang begitu? Orang yang sedang jatuh cinta, akan selalu mengingat-ingat yang dicintainya. Jika ada penari yang memuja Smara, barangkali tujuannya juga agar penonton selalu membayangkan dan mengingat-ingat tariannya.

Biasanya, pujaan kepada Dewa Smara juga disertai dengan pujaan kepada Dewi Ratih. Ratih itu nama lain dari Bulan. Jadi pasangan dari cinta dan ingatan adalah bulan. Wah, saya ini terkejut sendiri memikirkan itu. Tetapi ada yang belum jelas, kenapa antara cinta dan bulan itu berhubungan?

Tentang kedua tokoh ini, bisa kita cari-cari penjelasannya dalam kakawin Smaradahana. Kisahnya sudah tersohor. Mengisahkan tentang Dewa Smara yang dibakar oleh Shiwa karena telah berani mengganggu tapanya. Sedangkan Ratih, menunjukkan kesetiaannya. Ia dengan sadar meminta ikut dibakar, agar bisa menyatu dengan Smara. Kurang setia apa lagi Dewi Ratih itu?

Tentang kesetiaan, ada banyak cerita yang bisa kita baca. Kesemua cerita itu, adalah tentang kesetiaan wanita. Barangkali, wanita adalah perwujudan hakiki dari kesetiaan. Entahlah, saya juga belum mengerti. Jika perempuan adalah wujud kesetiaan, lalu apa sebenarnya keunggulan lelaki?

Kesetiaan Ratih cukup membuat hati Cangak saya yang suci ini terenyuh. Tahu tidak apa yang dia katakan sewaktu Smara baru saja dibakar oleh Siwa?

Kalau belum tahu, mari saya beritahu. Begini.

“Tuan, Dewa Smara pujaan hati hamba. Ruang mana yang mesti hamba masuki, Tuan tak kunjung nampak. Mungkinkah Tuan sembunyi pada cahaya bulan yang terang memandang lautan. Atau pada pohon kelapa yang tinggi dan miring ke jurang seperti menusuk langit. Apakah Tuan di sana, pada dawai pandan harum yang hamba tunggu membawa puisi”

“Tahukah Tuan? Hamba selalu teringat pada Tuan, saat menyaksikan kabut lembut memeluk gunung. Lebih lagi saat perlahan ia menghilang diterpa cahaya mentari, seperti tanda bagi hamba ketika jiwa Tuan turut musna”

“Tidakkah Tuan merasa terenyuh menyaksikan pohon-pohon berguguran, kering disengat cahaya matahari. Ranting-rantingnya menggapai-gapai, mengharap datang hujan gerimis. Lihatlah Tuan, tunas bunga Pudak yang tak sengaja dipukul oleh bambu yang digerakkan angin. Ia patah seperti Tuan kini, dan tiada yang peduli”

Smara yang tubuhnya telah dibakar, tapi suara-suaranya masih bisa didengar oleh Ratih berkata, “Dinda penguasa nafasku. Lihatlah, nasibku kini yang hancur jadi debu. Maafkan aku yang tak bisa membahagiakanmu”.

“Barangkali takdirku kini berpisah denganmu Dewi. Tubuhku boleh saja tak mungkin kembali. Tapi tidak dengan hatiku. Hanya dirimu, dan satu-satunya. Maafkan aku”.

Pesta dansa tidak ada ketika Smara dan Ratih dipisahkan oleh keadaan. Tapi pada tiap pesta dansa yang diadakan, Smara dan Ratih selalu bersemayam. Mereka bersembunyi di sana, jauh di relung hati yang tidak mungkin kelihatan.

Mereka sembunyi disana, pada tiap hamparan musik, langkah kaki, gerak tangan dan gestur tubuh masing-masing. Jadi wahai sodara-sodaraku para ikan, mari kita buat pesta dansa sambil berdoa agar hujan turun. Bukankah konon, hujan juga pertanda cinta langit kepada bumi?

Sejujurnya, saya ingin bertanya kepada Bumi tempat saya berpijak kini. “Wahai Bumi, yang konon berputar-putar seperti tarian para sufi. Kenapa kau menari?” [T]


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening
  • Siang Malam Berpikir Sendiri
  • Teman Tidak Makan Teman
  • Menerima Tanpa Terlena
  • Perlindungan
Tags: renunganSeni
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Bangga Menjadi Buddhis di Seminar Remaja Patria Denpasar 2019

Next Post

“Laklak Gede” Isi Pisang di Pasar Penebel, Namanya Laklak Biu Men Bayu

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
“Laklak Gede” Isi Pisang di Pasar Penebel, Namanya Laklak Biu Men Bayu

“Laklak Gede” Isi Pisang di Pasar Penebel, Namanya Laklak Biu Men Bayu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co