23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Saya Ingin Bunuh Diri, Saya Tak Benar-benar Ingin Mati

Anonim by Anonim
March 9, 2023
in Esai
Ketika Saya Ingin Bunuh Diri, Saya Tak Benar-benar Ingin Mati

Penulis sedang monolog (Foto ilustrasi: Mursal Buyung)

Ini bukan tulisan serius, tapi saya serius dengan tulisan ini. Bolehlah sesekali saya membuat curahan hati saya sendiri di sini, dan harap dimaklumi jika tulisan ini tidak bagus sama sekali.

 Jadi begini, dari dulu itu, saya ingin sekali bunuh diri. Barangkali dengan mengantung diri saya sendiri dengan selendang yang sering saya gunakan beribadah, dengan mengiris nadi menggunakan pisau cukur di lemari, dengan meminum racun serangga yang selalu tergeltak di pojokan kamar saya, atau dengan mencoba metode-metode bunuh diri yang sekali dua kali saya temukan di komik Detective Conan favorit saya.

Saya merasa terlalu banyak masalah dalam hidup ini, bahkan saya merasa bahwa saya sendiri adalah sebuah masalah bagi dunia. Saya merasa kelahiran dan kehadiran saya adalah sebuah kesalahan.

Saya tahu, saya bukan satu-satunya di dunia ini yang punya masalah. Tapi setiap orang memiliki batasnya masing, memiliki masalahnya masing-masing. Tak ada seorang pun yang pernah berada dalam posisi yang sama dengan yang lain dan tak ada seorang pun yang merasakan sama persis dengan apa yang orang lain rasakan.

Tak elok rasanya jika saya kemudian membanding-bandingkan masalah saya dengan masalah orang lain. Saya sendiri pun tidak tahu bagaimana cara menjelaskan apa dan bagaimana masalah saya sampai saya memiliki keinginan untuk bunuh diri. Saya tidak bisa menjelaskan, dan orang-orang tidak akan mengerti. Apa yang bisa dimengerti bisa jadi kemungkinan bahwa saya mengalami gangguan jiwa, atau depresi. Ya, bisa jadi.

Entah bisa dipercaya atau tidak, meski terkesan tak masuk akal, pikiran-pikiran tentang bunuh diri itu setidaknya dapat mengurangi sakit yang ada di hati saya, sakit yang ada di pikiran saya. Saya lebih banyak tidur, berharap saya terjebak di dunia mimpi untuk selama-lamanya tanpa perlu lagi ke dunia nyata. Saya kadang memukul-mukul sendiri kepala saya agar sakit yang terasa dapat sedikit berkurang.

Sampai akhirnya saya ingin bunuh diri hanya karena saya tidak tahu bagaimana lagi caranya untuk mengurangi sakit yang saya rasakan, terlebih saat tak ada orang yang benar-benar bisa memahami apa yang saya rasakan, termasuk keluarga, atau mereka-mereka yang menganggap dirinya keluarga. Bukan salah mereka jika mereka tidak mengerti apa yang saya rasakan, namun saya juga tidak bisa menjelaskan kepada semuanya, entah mengapa. Katakanlah itu semua adalah kesalahan murni saya sendiri.

Saya sempat berpikir untuk membuat diri saya sesibuk dan selelah mungkin, sehingga tak ada waktu dan tenaga bagi saya untuk memikirkan keinginan tersebut. Saya mengikuti banyak kegiatan kampus, saya turut gabung dalam banyak organisasi dan komunitas, saya hadir dalam berbagaai acara-acara yang diselenggarakan oleh siapapun.

Terkadang saya di kota satu, besoknya sudah di kota dua, kemudian kembali lagi ke kota satu, atau meluncur ke kota tiga, semata-mata agar saya bisa melupakan semua masalah saya, segala kepedihan yang bersarang di hati saya. Namun, pikiran-pikiran untuk bunuh diri ternyata lebih besar dari harapan saya. Saya sampai saat ini, sampai detik ini, secara sadar bisa masih bisa merasakan keinginan tersebut ada di dalam diri saya.

Karena punya keinginan untuk bunuh diri, banyak yang kemudian mengatai saya sebagai orang yang tak pernah bersyukur, orang yang tak menyanyangi hidupnya, orang yang bodoh, atau orang yang tak beriman. Dan saya yakin sekali, kata-kata sampai caci maki paling kasar akan kembali saya terima setelah saya benar-benar mati, benar-benar bunuh diri.

Contoh nyata bisa ditemui di kolom komentar saat ada berita tentang perkara bunuh diri di facebook. Banyak yang berkomentar seolah-olah mereka paham apa yang sebenarnya orang yang bunuh diri tersebut rasakan tanpa menunjukan sempati sama sekali, hanya hujatan dan hinaan, sesekali sumpah sarapah dan sejenisnya. Aneh, apa memang orang yang sudah mati memang harus dibegitukan?

 Saya tak berharap ini terjadi juga kepada saya nanti jika seandainya memang betul saya akan mebunuh diri saya sendiri. Cukup dengan komentar “semoga tenang”, atau “semoga damai”, dan lain sebagainya.

 Nah, teman-teman saya mungkin sudah bosan dengan ungkapan-ungkapan, celoteh singkat, atau curhatan saya di media sosial tentang keinginan saya untuk bunuh diri. Ada yang menganggap itu semua sebagai ungkapan semata, sebagian menganggap ungkapan-ungkapan itu memang berasal dari dasar hati saya.

Ada juga yang menganggap saya haus perhatian. Mereka hanya tak tahu bahwa sebenarnya sekali saya tak ingin mati, tapi saya terkadang merasa tak tahan dengan rasa sakit yang senantiasa mendekam di dalam pikiran dan perasaan saya, sehingga berpikir untuk bunuh diri rasanya bisa membuat saya sedikit melupakan rasa sakit saya.

Namun, seandainya saya khilaf, saya berharap teman-teman, sahabat, keluarga, seluruh yang saya cintai akan memaafkan saya. Saya minta maaf karena tidak menjadi pribadi yang sempurna untuk kalian semua. Saya minta maaf karena selalu bersikap negative belakangan ini. Saya minta maaf jika kalian semua tidak tahan lagi menghadapi sikap saya. Saya minta maaf jika saya teramat menganggu kalian.

Saya minta maaf karena telah mengasingkan diri dan menjauhkan kalian dari kehidupan saya. Saya minta maaf karena tidak jujur. Saya minta maaf karena menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Saya minta maaf karena saya begitu menyedihkan. Saya minta maaf karena sudah berada dalam lingkaran hidup kalian. Saya minta maaf untuk semuanya pada dasarnya.

Saya pikir saya sudah siap untuk pergi tetapi sebenarnya saya tidak pernah cukup siap. Saya ingin bunuh diri tapi tak sepenuhnya saya ingin mati. Banyak hal yang harus diperbaiki. Begitu banyak bisnis yang harus dikerjakan. Begitu banyak persiapan yang harus diselesaikan. [T]

Tags: curhatkehidupanrenungan
Share2TweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa itu Pekerjaan Tanpa Gaji – Maka, Anggap Saja Sedang “Ngayah”…

Next Post

Isotopi Kerusakan Lingkungan Hidup dalam Puisi “Dongeng dari Utara” karya Made Adnyana Ole

Anonim

Anonim

Seseorang mengirim tulisan tanpa menyebutkan namanya...

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Si Pungguk Akhirnya Menemukan Buku Kritik Sastra Katrin Bandel

Isotopi Kerusakan Lingkungan Hidup dalam Puisi “Dongeng dari Utara” karya Made Adnyana Ole

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co