2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batur, dari Kosmos hingga ke Logos

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
April 19, 2019
in Esai
Batur, dari Kosmos hingga ke Logos

Foto: FB/Eriadi Ariana

Tensi aktivitas manusia di kawasan pinggiran Kaldera Batur I sebelah barat selama pelaksanaan Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur tahun 2019 meningkat. Lautan manusia pun mengalir tiada putus hampir selama setengah bulan ritus terbesar di pura tersebut digelar.

Kondisi ini hampir terjadi setiap tahun, menyebabkan Sasih Kadasa–bulan ke sepuluh tahun Saka– menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu masyarakat di kawasan itu. Di kala normal, aktivitas manusia di Perbukitan Kintamani biasanya akan terhenti seiring matahari pulang ke peraduannya. Meski dilintasi jalan provinsi yang menghubungkan Bangli dan Singaraja, jika tak ada urusan yang benar-benar penting dan mendesak, jalanan akan sepi ditelan malam. Gugusan warung dan toko yang menyebar di kanan-kiri jalan jarang yang buka sampai larut, selayaknya di kota-kota selatan dan utara Bali. Manusianya, tentu saja satu per satu masuk rumah dengan pintu dan jendela tertutup rapat. Segala aktivitasnya disembunyikan dalam dekapan halimun dingin yang senantiasa bersetia pada Perbukitan Kintamani.

Namun, kebiasaan itu sontak didobrak saat ritus Ngusaba Kadasa dilaksanakan. Manusia-manusia yang biasanya bersembunyi di balik kabut bagai terdorong energi hebat memusatkan diri pada satu titik, Pura Ulun Danu Batur. Dalam rentang waktu tersebut, malam dan hawa dingin seakan tak menjadi ancaman yang serius sebagaimana di hari-hari normal. Ada pekerjaan dan tanggungjawab yang lebih besar yang harus mereka selesaikan, memastikan para pendoa yang datang bisa bersembahyang dengan nyaman, siang maupun malam.

Bagi penganut Hindu, khususnya di Bali, berdoa kepada Hyang yang bersemayam di Pura Ulun Danu Batur ketika perayaan Ngusaba Kadasa seakan meenjadi keharusan, telah mendarah daging. Entah sejak kapan hal itu berjalan, yang jelas pendoa selalu datang berduyun-duyun siang dan malam, menyulut terjadinya kemacetan berbelas-belas kilometer di sekitar kawasan itu.

Konon, menurut narasi sejumlah teks, sosok yang dihormati di Pura Ulun Danu Batur, yang merupakan representasi penguasa Gunung Batur memang berkuasa ataskeberlimpahanamretadan kesejahteraan Bali. Narasi itulah yang kemudian membangun jejaring antara masyarakat Bali di Pegunungan Kintamani dengan masyarakat di kawasan dataran. Bahkan, dalam sejumlah narasi ditegaskan bahwa mereka yang abai pada sosok penguasa Gunung Batur akan mengalami kesulitan dalam hidupnya, sehingga menjadi keniscayaan mengupayakan sekeping waktu untuk sekadar menyembah di perayaan terbesar pura tersebut. Maka, terjadilah perayaan mahabesar yang tentunya banyak menguras energi, dan tak jarang melahirkan masalah yang justru kontradiktif dengan esensi perayaan, misalnya sampah.

Jejaring Kosmos

Dalam kalender ritual Desa Pakraman Batur, Ngusaba Kadasa bukanlah satu-satunya ritus yang ditujukan pada para Hyang yang dihormati di palinggih-palinggihdi kompleks pura itu. Ngusaba Kadasa hanyalah puncak perayaan. Namanya puncak, ia juga disokong oleh kaki dan badan ritus llainnya, yang dilakoni hampir sepanjang tahun. Dari 12 bulan –dalam keadaan normal– penanggalan Saka, hanya ada satu bulan yang bebas tanpa ada kegiatan upacara menyangkut hubungan manusia dengan Hyang. Sasih Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kaulu, Kasanga, Kadasa, hingga Jiesta semua adalah bulan-bulan upacara bagi masyarakat Batur.

Sibuk. Tentu saja sangat sibuk. Belum lagi upacara-upacara khusus semacam Danu Kretih, Tribhuwana,atau Candi Narmada yang digelar dalam kurun waktu tertentu. Semuanya itu ditujukan sebagai sebuah tanggungjawab terhadap Hyang, penguasa atas Gunung Batur dan Danau Batur.

Sosok Hyang yang dimaksud, menurut hemat saya tidak kurang dari personifikasi terhadap energi ekologis yang berada di sekitar badan manusia. Energi itu dalam khazanah pengetahuan batin Bali kemudian dihormati sebagai Sad Kretih. Versi teks Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, enam energi yang harus dihormati itu meliputi Giri Kretih (pemuliaan terhadap gunung), Danu Kretih (pemuliaan terhadap danau), Wana Kretih (pemuliaan terhadap hutan), Sagara Kretih (pemuliaan terhadap laut), SwiKretih (pemuliaan terhadap sawah), dan Jagat Kretih (pemuliaan terhadap dunia atau negara).

Batur sebagai salah satu “kepala” Pulau Bali tentu saja memiliki tanggungjawab yang penting terhadap kelangsungan keenam unsur tersebut. Sebagai kawasan pegunungan vulkanis, Batur memiliki Gunung Batur yang belum tidur. Ia siap kapan saja memuntahkan aneka material dari perut bumi sebagaimana yang dilakukannya beberapa kali, termasuk erupsi terdahsyat yang tercatat dalam sejarah terjadi pada Agustus 1926, yang melahap Desa Batur Tua.

Merujuk sejumlah teks tradisional seperti Usana Bali, Gunung Batur konon merupakan potongan Gunung Mahameru di Jambudwipa, yang dibawa oleh Hyang Pasupati sebagai paku Balidwipa. Gunung Batur dibawa bersama-sama Gunung Agung, yang juga gunung berapi. Dengan adanya dua pasak itu, Bali yang konon terombang-ambing di samudera luas dapat kembali harmonis. Memantapkan keharmonisan itu, ditugaskan juga dua putra-putrinya sebagai penguasa dua gunung utama, Hyang Putrajaya di Gunung Agung yang bertanggungjawab atas jiwa manusia Bali dan Hyang Dewi Danuh di Gunung Batur yang bertanggungjawab atas kesejahteraan manusia Bali.

Di pinggir Gunung Batur, gugusan perbukitan Kaldera Batur I dan Kaldera Batur II yang menumbuhkan hutan tak ditampik sebagai sumber resapan air bagi daerah di bawahnya. Kini, pemuliaan terhadap hutan itu salah satunya dapat dijejak melalui keberadaan Pura Alas Arum Batur. Sebagai daerah resapan air, keberadaan kawasan Batur juga dikaitkan dengan mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah1 yang konon “berjualan” air ke sejumlah desa di kawasan Bali dataran.

Keberadaan hutan menjadi penyebab utama lahirnya air, danau, sungai, dan juga berujung pada isi perut manusia melalui keberadaan sawah. Di sinilah titik kunci peradaban Batur modern, yang menghubungkan ratusan komunitas subak di Balidwipa. Atas dasar jejaring inilah, Pura Ulun Danu Batur kemudian ditasbihkan sebagaiPura PangulunSubak di Balidwipa2.

Konsep ketahanan pangan yang melibatkan aliran air Batur ke masyarakat desa di bawahnya juga tersaji daalam mitos Ida Ratu Kentel Gumi. Dalam mitos tersebut dikisahkan, akibat pertengkaran hebat Hyang Putrajaya dan Hyang Dewii Danuh lahirlah hama, yang kemudian merusak hasil panen masyarakat Bali. Hyang Pasupati harus turun tangan mendamaikan kedua putra-putrinya, dan untuk menetralisir hama, maka hadirlah sosok Ida Ratu Kentel Gumi. Kisah itu saat ini juga dicandikan dalam proses ritus bernama NgusabaKalima atau NgusabaNangluk Merana yang digelar setiap purnama Kalima di palinggih Ida Ratu Ayu Kentel Gumi di kompleks Pura Batur.

Dalam catatan tentang kisah itu, Raja Purana Batur juga mengajukan konsep Kahyangan Tri Guna, yang memunculkan Pura Besakih, Pura Kentel Gumi (Klungkung), dan Pura Ulun Danu Batur sebagai tiga titik spiritual masyarakat Bali. Pura Besakih berperan sebagai Pura Balem Bali, Pura Kentel Gumi sebagai Pura Puseh Bali, dan Pura Ulun Danu Batur sebagai Pura Bale Agung Bali3.

Mengucilkan Pengetahuan

Jejaring alam semesta, sistem kemasyarakatan, dan sistem ketuhanan sebagaimana dinyatakan di depan memang cukup logis menggiring hati dan kepala manusia Bali untuk “menyokong dan membenamkan” Batur dalam panggung ekospiritual penting di Bali, tentunya selain titik-titik lain seperti Besakih, Batukaru, Lempuyang, Beratan (Pucak Mangu). Melalui konsep tersebut, Batur sejatinya telah menjelma menjadi kelas pengetahuan yang disabdakan langsung oleh alam semesta dan diramu kekayaan pikir leluhur.

Namun, di era kekinian, romantismepengetahuan yang disemai leluhur terdahulu tak banyak mampu menjawab persoalan generasi penerus. Ada jarak dan keterpotongan yang jauh antara pengetahuan leluhur dan generasi penerus, juga pada penyimbolannyayang kinidiwarisi dalam wujud ritus.

Kini, di balik megahnya proses berkebudayaan yang dilakoni masyarakat Batur (dan juga Bali), tak banyak yang benar-benar termaknai secara komprehensif. Pecahan-pecahan mutiara pemikiran itu tersebar dalam sejumlah bentuk, ada dalam wujud mitos, artefak, ritus, hingga situs. Mereka terpenggal-penggal menurut versi dan tafsiran masing-masing pengembaang.

Narasi-narasi yang kemudian berevolusi menjadi mitos kadangkala menyebar secara brutal tergantung kultur yang menumbuhkannya. Narasi-narasi itu tak jarang mengandung kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan yang sarat akan pragmatisme. Bodohnya, masyarakat awam tak jarang melahapnya secara mentah, dan mempercayainya sebagai kebenaran absolut.

Situs dan artefak dari waktu ke waktu semakin hilang otentisitasnya. Situs seringkali dirombak sedemikian rupa atas nama kenyamanan. Bangunan yang berabad-abad berdiri kokoh dibumihanguskan, diganti dengan bangunan pualam yang berkilauan. Jika gerakan ini tak segera dihentikan, bukan tidak mungkin Bali yang awalnya sangat beragam akan menjelma menjadi Bali yang seragam. Tak ada pembeda antara langgam candi Bali Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Begitu juga pengarcaan dan wujud lainnya.

Dari semua itu, yang paling mengerikan adalah ritus. Sudah menjadi rahasia dan kekhawatiran umum pelaksanaan upacara saat ini cenderung bersifat hura-hura. Upacara menjadi kaya wujud, namun miskin arti. Berbagai sarana upacara hanya dimaknai sebagai alat belaka, bukan simbol yang semestinya diteruskan di kehidupan sehari-hari.


BACA JUGA:

  • “Majalah Batur: Kata Penyambung Peradaban” – Butuh Penajaman Vista Historis

Di kawasan Batur, meski krama Batur dan krama desa di sekelilingnya suntuk melakoni ritus yang sarat nilai ekologis, masalah lingkungan masih menjadi bayang-bayang menakutkan. Tambang pasir yang menghidupi sebagian besar masyarakat di kaki Gunung Batur berpeluang menjadi masalah lingkungan yang mengerikan. Begitu juga Danau Batur yang kini tergolong telah tercemar di level III, sehingga airnya tak layak lagi dikonsumsi. Belum lagi masalah perataan puncak Gunung Batur untuk kepentingan pariwisata, penggunaan zat kimia berbahaya untuk pertanian, pembuangan sampah plastik sembarangan di hutan, hingga alihfungsi lahan yang semakin tinggi guna memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan manusia.

Hingga titik ini, masihkah saya harus berbangga melakoni berbagai bentuk adab leluhur yang sarat nilai ekologis di tengah kondisi lingkungan yang berada di ambang batas kelestarian? Hingga tulisan ini selesai ditulis, saya belum dapat menentukan jawaban.

___________________

1lihatDuija, I Nengah. 2009. “Mitos I Ratu Ayu Mas Membah (Pendekatan Theo-Antropologi)”. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Antropologi Budaya pada Fakultas Dharma Acarya Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Denpasar: IHDN Denpasar

2lihat Supartha, Ngurah Oka. 1993. Karya Panca Walikrama di Danau Batur Sadhana NyegjegangBhatari Danuh. Panitia Pelaksana Karya Agung Candi Narmada, Panca Walikrama ring Segara Danu, Trubhuwana, dan Bhatara Turun Kabeh Pura Agung Besakih Tahun 1993

3lihat Ariana, I Ketut Eriadi. 2016. “Kearifan Ekologis dalam Tradisi NgusabaKalima Desa Pakraman Batur sebagai Upaya Kemandirian Pangan”. Makalah dibawakan dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tahun 2016 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Tags: agamaBaturGunung BaturhindulingkunganPura Batur
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu, Politik & Stres

Next Post

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Ranjang Bagi Leluhur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Ranjang Bagi Leluhur

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Ranjang Bagi Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co