22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batur, dari Kosmos hingga ke Logos

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
April 19, 2019
in Esai
Batur, dari Kosmos hingga ke Logos

Foto: FB/Eriadi Ariana

Tensi aktivitas manusia di kawasan pinggiran Kaldera Batur I sebelah barat selama pelaksanaan Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur tahun 2019 meningkat. Lautan manusia pun mengalir tiada putus hampir selama setengah bulan ritus terbesar di pura tersebut digelar.

Kondisi ini hampir terjadi setiap tahun, menyebabkan Sasih Kadasa–bulan ke sepuluh tahun Saka– menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu masyarakat di kawasan itu. Di kala normal, aktivitas manusia di Perbukitan Kintamani biasanya akan terhenti seiring matahari pulang ke peraduannya. Meski dilintasi jalan provinsi yang menghubungkan Bangli dan Singaraja, jika tak ada urusan yang benar-benar penting dan mendesak, jalanan akan sepi ditelan malam. Gugusan warung dan toko yang menyebar di kanan-kiri jalan jarang yang buka sampai larut, selayaknya di kota-kota selatan dan utara Bali. Manusianya, tentu saja satu per satu masuk rumah dengan pintu dan jendela tertutup rapat. Segala aktivitasnya disembunyikan dalam dekapan halimun dingin yang senantiasa bersetia pada Perbukitan Kintamani.

Namun, kebiasaan itu sontak didobrak saat ritus Ngusaba Kadasa dilaksanakan. Manusia-manusia yang biasanya bersembunyi di balik kabut bagai terdorong energi hebat memusatkan diri pada satu titik, Pura Ulun Danu Batur. Dalam rentang waktu tersebut, malam dan hawa dingin seakan tak menjadi ancaman yang serius sebagaimana di hari-hari normal. Ada pekerjaan dan tanggungjawab yang lebih besar yang harus mereka selesaikan, memastikan para pendoa yang datang bisa bersembahyang dengan nyaman, siang maupun malam.

Bagi penganut Hindu, khususnya di Bali, berdoa kepada Hyang yang bersemayam di Pura Ulun Danu Batur ketika perayaan Ngusaba Kadasa seakan meenjadi keharusan, telah mendarah daging. Entah sejak kapan hal itu berjalan, yang jelas pendoa selalu datang berduyun-duyun siang dan malam, menyulut terjadinya kemacetan berbelas-belas kilometer di sekitar kawasan itu.

Konon, menurut narasi sejumlah teks, sosok yang dihormati di Pura Ulun Danu Batur, yang merupakan representasi penguasa Gunung Batur memang berkuasa ataskeberlimpahanamretadan kesejahteraan Bali. Narasi itulah yang kemudian membangun jejaring antara masyarakat Bali di Pegunungan Kintamani dengan masyarakat di kawasan dataran. Bahkan, dalam sejumlah narasi ditegaskan bahwa mereka yang abai pada sosok penguasa Gunung Batur akan mengalami kesulitan dalam hidupnya, sehingga menjadi keniscayaan mengupayakan sekeping waktu untuk sekadar menyembah di perayaan terbesar pura tersebut. Maka, terjadilah perayaan mahabesar yang tentunya banyak menguras energi, dan tak jarang melahirkan masalah yang justru kontradiktif dengan esensi perayaan, misalnya sampah.

Jejaring Kosmos

Dalam kalender ritual Desa Pakraman Batur, Ngusaba Kadasa bukanlah satu-satunya ritus yang ditujukan pada para Hyang yang dihormati di palinggih-palinggihdi kompleks pura itu. Ngusaba Kadasa hanyalah puncak perayaan. Namanya puncak, ia juga disokong oleh kaki dan badan ritus llainnya, yang dilakoni hampir sepanjang tahun. Dari 12 bulan –dalam keadaan normal– penanggalan Saka, hanya ada satu bulan yang bebas tanpa ada kegiatan upacara menyangkut hubungan manusia dengan Hyang. Sasih Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kaulu, Kasanga, Kadasa, hingga Jiesta semua adalah bulan-bulan upacara bagi masyarakat Batur.

Sibuk. Tentu saja sangat sibuk. Belum lagi upacara-upacara khusus semacam Danu Kretih, Tribhuwana,atau Candi Narmada yang digelar dalam kurun waktu tertentu. Semuanya itu ditujukan sebagai sebuah tanggungjawab terhadap Hyang, penguasa atas Gunung Batur dan Danau Batur.

Sosok Hyang yang dimaksud, menurut hemat saya tidak kurang dari personifikasi terhadap energi ekologis yang berada di sekitar badan manusia. Energi itu dalam khazanah pengetahuan batin Bali kemudian dihormati sebagai Sad Kretih. Versi teks Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, enam energi yang harus dihormati itu meliputi Giri Kretih (pemuliaan terhadap gunung), Danu Kretih (pemuliaan terhadap danau), Wana Kretih (pemuliaan terhadap hutan), Sagara Kretih (pemuliaan terhadap laut), SwiKretih (pemuliaan terhadap sawah), dan Jagat Kretih (pemuliaan terhadap dunia atau negara).

Batur sebagai salah satu “kepala” Pulau Bali tentu saja memiliki tanggungjawab yang penting terhadap kelangsungan keenam unsur tersebut. Sebagai kawasan pegunungan vulkanis, Batur memiliki Gunung Batur yang belum tidur. Ia siap kapan saja memuntahkan aneka material dari perut bumi sebagaimana yang dilakukannya beberapa kali, termasuk erupsi terdahsyat yang tercatat dalam sejarah terjadi pada Agustus 1926, yang melahap Desa Batur Tua.

Merujuk sejumlah teks tradisional seperti Usana Bali, Gunung Batur konon merupakan potongan Gunung Mahameru di Jambudwipa, yang dibawa oleh Hyang Pasupati sebagai paku Balidwipa. Gunung Batur dibawa bersama-sama Gunung Agung, yang juga gunung berapi. Dengan adanya dua pasak itu, Bali yang konon terombang-ambing di samudera luas dapat kembali harmonis. Memantapkan keharmonisan itu, ditugaskan juga dua putra-putrinya sebagai penguasa dua gunung utama, Hyang Putrajaya di Gunung Agung yang bertanggungjawab atas jiwa manusia Bali dan Hyang Dewi Danuh di Gunung Batur yang bertanggungjawab atas kesejahteraan manusia Bali.

Di pinggir Gunung Batur, gugusan perbukitan Kaldera Batur I dan Kaldera Batur II yang menumbuhkan hutan tak ditampik sebagai sumber resapan air bagi daerah di bawahnya. Kini, pemuliaan terhadap hutan itu salah satunya dapat dijejak melalui keberadaan Pura Alas Arum Batur. Sebagai daerah resapan air, keberadaan kawasan Batur juga dikaitkan dengan mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah1 yang konon “berjualan” air ke sejumlah desa di kawasan Bali dataran.

Keberadaan hutan menjadi penyebab utama lahirnya air, danau, sungai, dan juga berujung pada isi perut manusia melalui keberadaan sawah. Di sinilah titik kunci peradaban Batur modern, yang menghubungkan ratusan komunitas subak di Balidwipa. Atas dasar jejaring inilah, Pura Ulun Danu Batur kemudian ditasbihkan sebagaiPura PangulunSubak di Balidwipa2.

Konsep ketahanan pangan yang melibatkan aliran air Batur ke masyarakat desa di bawahnya juga tersaji daalam mitos Ida Ratu Kentel Gumi. Dalam mitos tersebut dikisahkan, akibat pertengkaran hebat Hyang Putrajaya dan Hyang Dewii Danuh lahirlah hama, yang kemudian merusak hasil panen masyarakat Bali. Hyang Pasupati harus turun tangan mendamaikan kedua putra-putrinya, dan untuk menetralisir hama, maka hadirlah sosok Ida Ratu Kentel Gumi. Kisah itu saat ini juga dicandikan dalam proses ritus bernama NgusabaKalima atau NgusabaNangluk Merana yang digelar setiap purnama Kalima di palinggih Ida Ratu Ayu Kentel Gumi di kompleks Pura Batur.

Dalam catatan tentang kisah itu, Raja Purana Batur juga mengajukan konsep Kahyangan Tri Guna, yang memunculkan Pura Besakih, Pura Kentel Gumi (Klungkung), dan Pura Ulun Danu Batur sebagai tiga titik spiritual masyarakat Bali. Pura Besakih berperan sebagai Pura Balem Bali, Pura Kentel Gumi sebagai Pura Puseh Bali, dan Pura Ulun Danu Batur sebagai Pura Bale Agung Bali3.

Mengucilkan Pengetahuan

Jejaring alam semesta, sistem kemasyarakatan, dan sistem ketuhanan sebagaimana dinyatakan di depan memang cukup logis menggiring hati dan kepala manusia Bali untuk “menyokong dan membenamkan” Batur dalam panggung ekospiritual penting di Bali, tentunya selain titik-titik lain seperti Besakih, Batukaru, Lempuyang, Beratan (Pucak Mangu). Melalui konsep tersebut, Batur sejatinya telah menjelma menjadi kelas pengetahuan yang disabdakan langsung oleh alam semesta dan diramu kekayaan pikir leluhur.

Namun, di era kekinian, romantismepengetahuan yang disemai leluhur terdahulu tak banyak mampu menjawab persoalan generasi penerus. Ada jarak dan keterpotongan yang jauh antara pengetahuan leluhur dan generasi penerus, juga pada penyimbolannyayang kinidiwarisi dalam wujud ritus.

Kini, di balik megahnya proses berkebudayaan yang dilakoni masyarakat Batur (dan juga Bali), tak banyak yang benar-benar termaknai secara komprehensif. Pecahan-pecahan mutiara pemikiran itu tersebar dalam sejumlah bentuk, ada dalam wujud mitos, artefak, ritus, hingga situs. Mereka terpenggal-penggal menurut versi dan tafsiran masing-masing pengembaang.

Narasi-narasi yang kemudian berevolusi menjadi mitos kadangkala menyebar secara brutal tergantung kultur yang menumbuhkannya. Narasi-narasi itu tak jarang mengandung kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan yang sarat akan pragmatisme. Bodohnya, masyarakat awam tak jarang melahapnya secara mentah, dan mempercayainya sebagai kebenaran absolut.

Situs dan artefak dari waktu ke waktu semakin hilang otentisitasnya. Situs seringkali dirombak sedemikian rupa atas nama kenyamanan. Bangunan yang berabad-abad berdiri kokoh dibumihanguskan, diganti dengan bangunan pualam yang berkilauan. Jika gerakan ini tak segera dihentikan, bukan tidak mungkin Bali yang awalnya sangat beragam akan menjelma menjadi Bali yang seragam. Tak ada pembeda antara langgam candi Bali Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Begitu juga pengarcaan dan wujud lainnya.

Dari semua itu, yang paling mengerikan adalah ritus. Sudah menjadi rahasia dan kekhawatiran umum pelaksanaan upacara saat ini cenderung bersifat hura-hura. Upacara menjadi kaya wujud, namun miskin arti. Berbagai sarana upacara hanya dimaknai sebagai alat belaka, bukan simbol yang semestinya diteruskan di kehidupan sehari-hari.


BACA JUGA:

  • “Majalah Batur: Kata Penyambung Peradaban” – Butuh Penajaman Vista Historis

Di kawasan Batur, meski krama Batur dan krama desa di sekelilingnya suntuk melakoni ritus yang sarat nilai ekologis, masalah lingkungan masih menjadi bayang-bayang menakutkan. Tambang pasir yang menghidupi sebagian besar masyarakat di kaki Gunung Batur berpeluang menjadi masalah lingkungan yang mengerikan. Begitu juga Danau Batur yang kini tergolong telah tercemar di level III, sehingga airnya tak layak lagi dikonsumsi. Belum lagi masalah perataan puncak Gunung Batur untuk kepentingan pariwisata, penggunaan zat kimia berbahaya untuk pertanian, pembuangan sampah plastik sembarangan di hutan, hingga alihfungsi lahan yang semakin tinggi guna memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan manusia.

Hingga titik ini, masihkah saya harus berbangga melakoni berbagai bentuk adab leluhur yang sarat nilai ekologis di tengah kondisi lingkungan yang berada di ambang batas kelestarian? Hingga tulisan ini selesai ditulis, saya belum dapat menentukan jawaban.

___________________

1lihatDuija, I Nengah. 2009. “Mitos I Ratu Ayu Mas Membah (Pendekatan Theo-Antropologi)”. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Antropologi Budaya pada Fakultas Dharma Acarya Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Denpasar: IHDN Denpasar

2lihat Supartha, Ngurah Oka. 1993. Karya Panca Walikrama di Danau Batur Sadhana NyegjegangBhatari Danuh. Panitia Pelaksana Karya Agung Candi Narmada, Panca Walikrama ring Segara Danu, Trubhuwana, dan Bhatara Turun Kabeh Pura Agung Besakih Tahun 1993

3lihat Ariana, I Ketut Eriadi. 2016. “Kearifan Ekologis dalam Tradisi NgusabaKalima Desa Pakraman Batur sebagai Upaya Kemandirian Pangan”. Makalah dibawakan dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tahun 2016 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Tags: agamaBaturGunung BaturhindulingkunganPura Batur
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu, Politik & Stres

Next Post

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Ranjang Bagi Leluhur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Ranjang Bagi Leluhur

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Ranjang Bagi Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co