4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teman Tidak Makan Teman

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
April 16, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Tubuh adalah kuburan.

Itulah kesimpulan dari sebuah penjelasan tentang tubuh di suatu tempat yang tidak akan saya sebutkan namanya. Yang memberikan penjelasan itu, juga tidak saya beritahu namanya disini. Barangkali, jika membaca tulisan ini, beberapa pembaca akan membayangkan satu atau dua orang. Itu terserah. Saya tidak punya hak untuk melarang. Sebagaimana juga saya tidak punya hak untuk mengarahkan penilaian-penilaian yang lahir atas Cangak seperti saya. Jadi, tidak ada masalah dengan itu.

Bagi yang masih bertanya-tanya, akan saya jelaskan kenapa tubuh disebut olehnya seperti kuburan. Bagi yang sudah tahu dan paham, ini hanya pengulangan. Pengulangan itu penting juga, gunanya untuk mengingat-ingat.

Tubuh disebut kuburan karena tubuh inilah tempat segala macam bangkai. Ada bangkai babi guling, ada bangkai sapi yang sudah dilawar, ada bangkai ikan pindang yang telah diisi sambel matah, ada juga bangkai daun kelor yang dicampur celengis.Intinya, bangkai itu bukan hanya dari hewan tapi juga tumbuhan. Di dalam tubuhlah semua bangkai itu berkumpul dan terurai.

Bangkai-bangkai yang terurai itu kemudian menjadi darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Darah yang mengalir itu, adalah salah satu penyebab tubuh bisa hidup. Artinya, tubuh hidup karena bangkai. Karena tubuh hidup dari bangkai, maka ia dipengaruhi oleh bangkai-bangkai yang menghidupinya. Bagi yang suka makan babi guling, maka babi guling itu yang mempengaruhinya. Biasanya jika makan babi, mata jadi cepat ngantuk. Apalagi ditambah tuak bertuang-tuang.

Sampai disana, saya akhiri dulu tentang tuak bertuang-tuang. Karena hanya dengan memikirkannya saja, saya sudah mabuk. Maklumlah, saya ini jenis burung yang tidak suka minum-minuman sejenis itu. Terkecuali dipaksa dan gratis.

Makan dan minum memang perlu diatur agar tidak sembarangan. Karena makanan dan minuman mempengaruhi tubuh. Lapisan tubuh yang terbuat dari makanan dan minuman adalah lapisan paling luar. Konon ada lima lapisan tubuh. Dan kelima lapisan itu memiliki fungsinya masing-masing. Mari kita bicarakan nanti saja lapisan-lapisan tubuh itu. Soalnya, membicarakan yang begitu-begitu disini, takutnya nanti dikiranya saya ahli agama. Kalau sudah dikira ahli, disuruhlah saya berdharma wacana kemana-kemana.

Suara saya akan terdengar di radio-radio. Wajah saya akan dilihat di tipi-tipi. Kalau sudah begitu, terkenallah saya ini. Kalau sudah terkenal, banyak orang yang akan mendekat dan ingin tahu latar belakang. Padahal sesungguhnya saya bukan ahli. Apalagi ahlinya ahli.Kalau terkenal ada ruginya juga. Soalnya kalau terkenal, akan banyak orang yang percaya dengan kata-kata saya. Itu tidak bagus. Karena makin banyak yang percaya, makin banyak pula yang tertipu.

Dari pada menipu, lebih baik kita belajar dulu. Pada tulisan kali ini, kita akan membicarakan tentang makanan. Makanan dalam paragraf di atas, kesimpulannya adalah bangkai. Terdengar kasar memang, tapi itu kenyataan. Kenyataan lainnya adalah bahwa kehidupan ini ada karena adanya kematian. Jadi berterimakasihlah pada yang mati-mati itu, karena mereka kita bisa hidup.

Manusia banyak berterimakasih kepada alam. Dari langit turunlah hujan, karenanya tanah jadi basah dan subur. Tanah yang subur menyebabkan tumbuhan bisa hidup. Tumbuhan rumput yang hidup itu dimakan oleh hewan pemakan tumbuhan. Hewan pemakan tumbuhan dimakan oleh hewan pemakan daging. Hewan pemakan daging dan pemakan tumbuhan, termasuk tumbuh-tumbuhan dimakan oleh manusia. Maka kepada merekalah manusia mengucapkan terimakasih dengan berbagai cara, salah satunya adalah upacara.

Pepohonan menyediakan makanan bagi manusia, maka manusia mengucapkan terimakasih kepadanya. Para hewan juga menyediakan makanan bagi manusia, dengan cara yang serupa manusia kemudian berterimakasih. Matahari menyediakan sumber cahaya, dan cahaya matahari adalah energi. Dari energi itu tumbuhan, hewan dan manusia bisa hidup. Maka kepadanya juga diucapkan terimakasih.

Begitulah terus-menerus, manusia berterimakasih kepada alam dan kepada dirinya. Terimakasih kepada diri, bisa berupa ucapan selamat ulang tahun atas hari lahir. Ada juga yang mengucapkannya enam bulan sekali. Tergantung keinginan. Tapi jika manusia mati, tidak ada yang mengucapkan selamat mati. Padahal konon, mati itu sama dengan pulang. Apa yang lebih indah dari pada pulang dan istirahat?

Begitulah tumbuhan dan hewan menjadi makanan dan sekaligus salah satu sumber kehidupan manusia. Meskipun karena makanan dan minuman, hidup itu bisa ada. Bukan berarti orang boleh makan dan minum sesuka hatinya. Ada jenis-jenis makanan yang tidak boleh dimakan sembarangan. Contohnya kacang-kacangan, nanti asam urat. Daging dan lemak terlalu banyak juga tidak boleh, nanti kolesterol. Itu berarti, meskipun boleh dimakan, tetap dalam batas-batas tertentu. Itu semua untuk kesehatan.

Ada juga minuman berupa ramuan yang disebut loloh. Loloh itu baik diminum jika panas dalam. Contohnya adalah loloh samiroto atau loloh sembung. Jika keduanya diminum dalam takaran yang pas maka akan menjadi obat. Sedangkan jika diminum banyak-banyak, tidak baiknya karena tensi turun dan kepala jadi puyeng. Mirip orang mabuk karena tuak.

Tidak hanya kesehatan yang menjadi salah satu faktor makanan dan minuman itu mesti diatur. Makanan dan minuman yang bisa dinikmati, juga tergantung dari perilaku hidup. Ada yang melakukan janji diri tidak akan makan daging. Ada yang berjanji tidak makan garam. Bahkan ada juga yang berjanji tidak makan-makan. Itu terserah yang berjanji, pasti ada suatu hal yang melatarbelakangi janji itu dipikirkan, diucapkan dan dilakukan. Yang tidak berjanji, tidak boleh sinis.

Sama seperti saya, Cangak yang sudah berjanji tidak makan ikan. Bagi saya, kini ikan tidak saya lihat sebagai ikan semata. Tetapi tubuh yang berjiwa. Saya punya jiwa dan ikan-ikan juga punya jiwa. Tidaklah sesuai dengan norma jika saya memakan sesama yang berjiwa. Tentu saja terkecuali saya terpaksa. Pemaksaan itu bisa jadi oleh situasi, keadaan, kondisi dan sebagainya yang lain.

Cara melihat makanan, juga sama dengan melihat lawan jenis. Karena saya lelaki, maka saya akan memberikan contoh makanan seperti wanita. Bukan berarti wanita adalah makanan, nanti saya dimarahi oleh kawan-kawan yang suka membela. Ucapan sastranya begini: bagi seorang pemuda, wanita adalah pasangan hidupnya yang harus dicintai. Bagi seekor serigala, wanita adalah makanan. Sedangkan bagi seorang yang sudah berjanji untuk berlaku suci, seorang wanita adalah anak. Contoh itu bisa juga dibalik, dengan merubah kata wanita menjadi pria.

Jadi satu objek bisa berarti berlainan tergantung yang memandang. Wanita bagi pemuda adalah cinta. Bagi serigala adalah makanan. Bagi orang bijaksana, ia adalah anak. Menarik juga ungkapan bahwa wanita adalah anak bagi seorang yang bijaksana. Mungkin karena anak, orang tua tidak boleh mengawininya. Bagaimana kalau anaknya mau dikawini? Wah, maaf saya tidak bisa menjawab itu. Kasus seperti itu susah untuk diselesaikan. Sama seperti kasus apakah surga dan neraka itu ada?

Kalau menurut cerita, ada banyak yang mengatakan itu ada. Bagi yang belum percaya, salah satu jalan membuktikannya adalah dengan mati terlebih dahulu. Begitu logikanya. Karena mana mungkin orang belum mati bisa bercerita tentang kematian. Tapi, kalau membaca teks-teks Bali yang sedikit agak kuna, ada teks yang menceritakan tentang kehidupan setelah kematian, proses mati, bahkan ciri-cirinya. Silahkan tanyakan kepada yang tahu-tahu. Jangan pada yang pura-pura.

Mari kita lanjutkan pada makanan dan minuman. Dengan begitu, berarti makan dan minum itu perlu diatur. Wajarlah jika orang mengambil jalan kesucian, mulai menata makanan dan minumannya. Bagi mereka, ada banyak aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Untuk tahu ini, ada buku-buku yang bisa dibaca contohnya adalah Wrati Sasana, Siwasasana, Purwaka Weda Buddha, dan mungkin ada lagi yang lain.

Ada satu teks bernama Aji Brata, yang mengatakan bahwa ada aturan hanya makan nasi satu kepal tiap-tiap purnama kasanga [kesembilan]. Brata itu dilakukan selama tiga kali purnama atau tiga tahun. Tujuannya adalah wajah cantik, ganteng dan merona. Juga kaya. Benar atau tidak, harus dialami dulu.

Di antara segala yang boleh dimakan itu, ada satu jenis yang tidak boleh dimakan bernama teman. Tentu saja teman tidak boleh dimakan. Jika teman dimakan, siapa lagi yang akan kita ajak berkeluh kesah tentang ini dan itu? Mungkin kalau sudah punya banyak teman, teman lama akan dimakan dengan lahap. Caranya? Oh, jangan tanya saya. Saya ini Cangak yang satya mitra. Artinya, saya ini setia pada teman.


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening
  • Siang Malam Berpikir Sendiri

Ajaran sastra tidak memperbolehkan teman makan teman. Teman yang memakan temannya sendiri disebut durmitra. Menurut sumbernya, ada tiga yang “kotor” di antara sewangsanya masing-masing. Di dalam wangsa burung, yang “kotor” adalah burung gagak. Di antara wangsa hewan, yang “kotor” adalah arddha bheka. Ardha bheka barangkali adalah keledai. Di antara wangsa pikiran, yang “kotor” adalah kemarahan. Sebab kemarahan menghilangkan kebijaksanaan dan rasa pemaaf. Dan di atas semua itu, yang paling “kotor” adalah ia yang durmitra.

Jadi begitulah kawan-kawan para ikan. Saya adalah Cangak yang sudah berjanji diri tidak akan makan sembarangan, apalagi makan ikan yang telah jadi teman. Saya sedang meniru-niru para bijaksana yang terlihat teduh dari pandangan mata dan sikap duduknya. Tidak mungkin saya akan menghianati janji diri itu.

Saya tidak mau disebut durmitra. Durmitra itu bukan teman, tapi pura-pura teman. Terus terang, setelah saya tinggalkan semua yang saya miliki untuk menjadi Cangak yang bijaksana, tidak ada lagi yang saya punya kecuali kesetiaan. [T]

Tags: lolohminuman zaman dulupersahabatanteman
Share65TweetSendShareSend
Previous Post

“Majalah Batur: Kata Penyambung Peradaban” – Butuh Penajaman Vista Historis

Next Post

Investasi Politik dan Ingatan Pemilih dalam Kontestasi Pemilu

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Menawar Harga-harga di Pasar Tradisional

Investasi Politik dan Ingatan Pemilih dalam Kontestasi Pemilu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co