4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teman Tidak Makan Teman

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
April 16, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Tubuh adalah kuburan.

Itulah kesimpulan dari sebuah penjelasan tentang tubuh di suatu tempat yang tidak akan saya sebutkan namanya. Yang memberikan penjelasan itu, juga tidak saya beritahu namanya disini. Barangkali, jika membaca tulisan ini, beberapa pembaca akan membayangkan satu atau dua orang. Itu terserah. Saya tidak punya hak untuk melarang. Sebagaimana juga saya tidak punya hak untuk mengarahkan penilaian-penilaian yang lahir atas Cangak seperti saya. Jadi, tidak ada masalah dengan itu.

Bagi yang masih bertanya-tanya, akan saya jelaskan kenapa tubuh disebut olehnya seperti kuburan. Bagi yang sudah tahu dan paham, ini hanya pengulangan. Pengulangan itu penting juga, gunanya untuk mengingat-ingat.

Tubuh disebut kuburan karena tubuh inilah tempat segala macam bangkai. Ada bangkai babi guling, ada bangkai sapi yang sudah dilawar, ada bangkai ikan pindang yang telah diisi sambel matah, ada juga bangkai daun kelor yang dicampur celengis.Intinya, bangkai itu bukan hanya dari hewan tapi juga tumbuhan. Di dalam tubuhlah semua bangkai itu berkumpul dan terurai.

Bangkai-bangkai yang terurai itu kemudian menjadi darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Darah yang mengalir itu, adalah salah satu penyebab tubuh bisa hidup. Artinya, tubuh hidup karena bangkai. Karena tubuh hidup dari bangkai, maka ia dipengaruhi oleh bangkai-bangkai yang menghidupinya. Bagi yang suka makan babi guling, maka babi guling itu yang mempengaruhinya. Biasanya jika makan babi, mata jadi cepat ngantuk. Apalagi ditambah tuak bertuang-tuang.

Sampai disana, saya akhiri dulu tentang tuak bertuang-tuang. Karena hanya dengan memikirkannya saja, saya sudah mabuk. Maklumlah, saya ini jenis burung yang tidak suka minum-minuman sejenis itu. Terkecuali dipaksa dan gratis.

Makan dan minum memang perlu diatur agar tidak sembarangan. Karena makanan dan minuman mempengaruhi tubuh. Lapisan tubuh yang terbuat dari makanan dan minuman adalah lapisan paling luar. Konon ada lima lapisan tubuh. Dan kelima lapisan itu memiliki fungsinya masing-masing. Mari kita bicarakan nanti saja lapisan-lapisan tubuh itu. Soalnya, membicarakan yang begitu-begitu disini, takutnya nanti dikiranya saya ahli agama. Kalau sudah dikira ahli, disuruhlah saya berdharma wacana kemana-kemana.

Suara saya akan terdengar di radio-radio. Wajah saya akan dilihat di tipi-tipi. Kalau sudah begitu, terkenallah saya ini. Kalau sudah terkenal, banyak orang yang akan mendekat dan ingin tahu latar belakang. Padahal sesungguhnya saya bukan ahli. Apalagi ahlinya ahli.Kalau terkenal ada ruginya juga. Soalnya kalau terkenal, akan banyak orang yang percaya dengan kata-kata saya. Itu tidak bagus. Karena makin banyak yang percaya, makin banyak pula yang tertipu.

Dari pada menipu, lebih baik kita belajar dulu. Pada tulisan kali ini, kita akan membicarakan tentang makanan. Makanan dalam paragraf di atas, kesimpulannya adalah bangkai. Terdengar kasar memang, tapi itu kenyataan. Kenyataan lainnya adalah bahwa kehidupan ini ada karena adanya kematian. Jadi berterimakasihlah pada yang mati-mati itu, karena mereka kita bisa hidup.

Manusia banyak berterimakasih kepada alam. Dari langit turunlah hujan, karenanya tanah jadi basah dan subur. Tanah yang subur menyebabkan tumbuhan bisa hidup. Tumbuhan rumput yang hidup itu dimakan oleh hewan pemakan tumbuhan. Hewan pemakan tumbuhan dimakan oleh hewan pemakan daging. Hewan pemakan daging dan pemakan tumbuhan, termasuk tumbuh-tumbuhan dimakan oleh manusia. Maka kepada merekalah manusia mengucapkan terimakasih dengan berbagai cara, salah satunya adalah upacara.

Pepohonan menyediakan makanan bagi manusia, maka manusia mengucapkan terimakasih kepadanya. Para hewan juga menyediakan makanan bagi manusia, dengan cara yang serupa manusia kemudian berterimakasih. Matahari menyediakan sumber cahaya, dan cahaya matahari adalah energi. Dari energi itu tumbuhan, hewan dan manusia bisa hidup. Maka kepadanya juga diucapkan terimakasih.

Begitulah terus-menerus, manusia berterimakasih kepada alam dan kepada dirinya. Terimakasih kepada diri, bisa berupa ucapan selamat ulang tahun atas hari lahir. Ada juga yang mengucapkannya enam bulan sekali. Tergantung keinginan. Tapi jika manusia mati, tidak ada yang mengucapkan selamat mati. Padahal konon, mati itu sama dengan pulang. Apa yang lebih indah dari pada pulang dan istirahat?

Begitulah tumbuhan dan hewan menjadi makanan dan sekaligus salah satu sumber kehidupan manusia. Meskipun karena makanan dan minuman, hidup itu bisa ada. Bukan berarti orang boleh makan dan minum sesuka hatinya. Ada jenis-jenis makanan yang tidak boleh dimakan sembarangan. Contohnya kacang-kacangan, nanti asam urat. Daging dan lemak terlalu banyak juga tidak boleh, nanti kolesterol. Itu berarti, meskipun boleh dimakan, tetap dalam batas-batas tertentu. Itu semua untuk kesehatan.

Ada juga minuman berupa ramuan yang disebut loloh. Loloh itu baik diminum jika panas dalam. Contohnya adalah loloh samiroto atau loloh sembung. Jika keduanya diminum dalam takaran yang pas maka akan menjadi obat. Sedangkan jika diminum banyak-banyak, tidak baiknya karena tensi turun dan kepala jadi puyeng. Mirip orang mabuk karena tuak.

Tidak hanya kesehatan yang menjadi salah satu faktor makanan dan minuman itu mesti diatur. Makanan dan minuman yang bisa dinikmati, juga tergantung dari perilaku hidup. Ada yang melakukan janji diri tidak akan makan daging. Ada yang berjanji tidak makan garam. Bahkan ada juga yang berjanji tidak makan-makan. Itu terserah yang berjanji, pasti ada suatu hal yang melatarbelakangi janji itu dipikirkan, diucapkan dan dilakukan. Yang tidak berjanji, tidak boleh sinis.

Sama seperti saya, Cangak yang sudah berjanji tidak makan ikan. Bagi saya, kini ikan tidak saya lihat sebagai ikan semata. Tetapi tubuh yang berjiwa. Saya punya jiwa dan ikan-ikan juga punya jiwa. Tidaklah sesuai dengan norma jika saya memakan sesama yang berjiwa. Tentu saja terkecuali saya terpaksa. Pemaksaan itu bisa jadi oleh situasi, keadaan, kondisi dan sebagainya yang lain.

Cara melihat makanan, juga sama dengan melihat lawan jenis. Karena saya lelaki, maka saya akan memberikan contoh makanan seperti wanita. Bukan berarti wanita adalah makanan, nanti saya dimarahi oleh kawan-kawan yang suka membela. Ucapan sastranya begini: bagi seorang pemuda, wanita adalah pasangan hidupnya yang harus dicintai. Bagi seekor serigala, wanita adalah makanan. Sedangkan bagi seorang yang sudah berjanji untuk berlaku suci, seorang wanita adalah anak. Contoh itu bisa juga dibalik, dengan merubah kata wanita menjadi pria.

Jadi satu objek bisa berarti berlainan tergantung yang memandang. Wanita bagi pemuda adalah cinta. Bagi serigala adalah makanan. Bagi orang bijaksana, ia adalah anak. Menarik juga ungkapan bahwa wanita adalah anak bagi seorang yang bijaksana. Mungkin karena anak, orang tua tidak boleh mengawininya. Bagaimana kalau anaknya mau dikawini? Wah, maaf saya tidak bisa menjawab itu. Kasus seperti itu susah untuk diselesaikan. Sama seperti kasus apakah surga dan neraka itu ada?

Kalau menurut cerita, ada banyak yang mengatakan itu ada. Bagi yang belum percaya, salah satu jalan membuktikannya adalah dengan mati terlebih dahulu. Begitu logikanya. Karena mana mungkin orang belum mati bisa bercerita tentang kematian. Tapi, kalau membaca teks-teks Bali yang sedikit agak kuna, ada teks yang menceritakan tentang kehidupan setelah kematian, proses mati, bahkan ciri-cirinya. Silahkan tanyakan kepada yang tahu-tahu. Jangan pada yang pura-pura.

Mari kita lanjutkan pada makanan dan minuman. Dengan begitu, berarti makan dan minum itu perlu diatur. Wajarlah jika orang mengambil jalan kesucian, mulai menata makanan dan minumannya. Bagi mereka, ada banyak aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Untuk tahu ini, ada buku-buku yang bisa dibaca contohnya adalah Wrati Sasana, Siwasasana, Purwaka Weda Buddha, dan mungkin ada lagi yang lain.

Ada satu teks bernama Aji Brata, yang mengatakan bahwa ada aturan hanya makan nasi satu kepal tiap-tiap purnama kasanga [kesembilan]. Brata itu dilakukan selama tiga kali purnama atau tiga tahun. Tujuannya adalah wajah cantik, ganteng dan merona. Juga kaya. Benar atau tidak, harus dialami dulu.

Di antara segala yang boleh dimakan itu, ada satu jenis yang tidak boleh dimakan bernama teman. Tentu saja teman tidak boleh dimakan. Jika teman dimakan, siapa lagi yang akan kita ajak berkeluh kesah tentang ini dan itu? Mungkin kalau sudah punya banyak teman, teman lama akan dimakan dengan lahap. Caranya? Oh, jangan tanya saya. Saya ini Cangak yang satya mitra. Artinya, saya ini setia pada teman.


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening
  • Siang Malam Berpikir Sendiri

Ajaran sastra tidak memperbolehkan teman makan teman. Teman yang memakan temannya sendiri disebut durmitra. Menurut sumbernya, ada tiga yang “kotor” di antara sewangsanya masing-masing. Di dalam wangsa burung, yang “kotor” adalah burung gagak. Di antara wangsa hewan, yang “kotor” adalah arddha bheka. Ardha bheka barangkali adalah keledai. Di antara wangsa pikiran, yang “kotor” adalah kemarahan. Sebab kemarahan menghilangkan kebijaksanaan dan rasa pemaaf. Dan di atas semua itu, yang paling “kotor” adalah ia yang durmitra.

Jadi begitulah kawan-kawan para ikan. Saya adalah Cangak yang sudah berjanji diri tidak akan makan sembarangan, apalagi makan ikan yang telah jadi teman. Saya sedang meniru-niru para bijaksana yang terlihat teduh dari pandangan mata dan sikap duduknya. Tidak mungkin saya akan menghianati janji diri itu.

Saya tidak mau disebut durmitra. Durmitra itu bukan teman, tapi pura-pura teman. Terus terang, setelah saya tinggalkan semua yang saya miliki untuk menjadi Cangak yang bijaksana, tidak ada lagi yang saya punya kecuali kesetiaan. [T]

Tags: lolohminuman zaman dulupersahabatanteman
Share65TweetSendShareSend
Previous Post

“Majalah Batur: Kata Penyambung Peradaban” – Butuh Penajaman Vista Historis

Next Post

Investasi Politik dan Ingatan Pemilih dalam Kontestasi Pemilu

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Menawar Harga-harga di Pasar Tradisional

Investasi Politik dan Ingatan Pemilih dalam Kontestasi Pemilu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co