15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teman Tidak Makan Teman

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
April 16, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Tubuh adalah kuburan.

Itulah kesimpulan dari sebuah penjelasan tentang tubuh di suatu tempat yang tidak akan saya sebutkan namanya. Yang memberikan penjelasan itu, juga tidak saya beritahu namanya disini. Barangkali, jika membaca tulisan ini, beberapa pembaca akan membayangkan satu atau dua orang. Itu terserah. Saya tidak punya hak untuk melarang. Sebagaimana juga saya tidak punya hak untuk mengarahkan penilaian-penilaian yang lahir atas Cangak seperti saya. Jadi, tidak ada masalah dengan itu.

Bagi yang masih bertanya-tanya, akan saya jelaskan kenapa tubuh disebut olehnya seperti kuburan. Bagi yang sudah tahu dan paham, ini hanya pengulangan. Pengulangan itu penting juga, gunanya untuk mengingat-ingat.

Tubuh disebut kuburan karena tubuh inilah tempat segala macam bangkai. Ada bangkai babi guling, ada bangkai sapi yang sudah dilawar, ada bangkai ikan pindang yang telah diisi sambel matah, ada juga bangkai daun kelor yang dicampur celengis.Intinya, bangkai itu bukan hanya dari hewan tapi juga tumbuhan. Di dalam tubuhlah semua bangkai itu berkumpul dan terurai.

Bangkai-bangkai yang terurai itu kemudian menjadi darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Darah yang mengalir itu, adalah salah satu penyebab tubuh bisa hidup. Artinya, tubuh hidup karena bangkai. Karena tubuh hidup dari bangkai, maka ia dipengaruhi oleh bangkai-bangkai yang menghidupinya. Bagi yang suka makan babi guling, maka babi guling itu yang mempengaruhinya. Biasanya jika makan babi, mata jadi cepat ngantuk. Apalagi ditambah tuak bertuang-tuang.

Sampai disana, saya akhiri dulu tentang tuak bertuang-tuang. Karena hanya dengan memikirkannya saja, saya sudah mabuk. Maklumlah, saya ini jenis burung yang tidak suka minum-minuman sejenis itu. Terkecuali dipaksa dan gratis.

Makan dan minum memang perlu diatur agar tidak sembarangan. Karena makanan dan minuman mempengaruhi tubuh. Lapisan tubuh yang terbuat dari makanan dan minuman adalah lapisan paling luar. Konon ada lima lapisan tubuh. Dan kelima lapisan itu memiliki fungsinya masing-masing. Mari kita bicarakan nanti saja lapisan-lapisan tubuh itu. Soalnya, membicarakan yang begitu-begitu disini, takutnya nanti dikiranya saya ahli agama. Kalau sudah dikira ahli, disuruhlah saya berdharma wacana kemana-kemana.

Suara saya akan terdengar di radio-radio. Wajah saya akan dilihat di tipi-tipi. Kalau sudah begitu, terkenallah saya ini. Kalau sudah terkenal, banyak orang yang akan mendekat dan ingin tahu latar belakang. Padahal sesungguhnya saya bukan ahli. Apalagi ahlinya ahli.Kalau terkenal ada ruginya juga. Soalnya kalau terkenal, akan banyak orang yang percaya dengan kata-kata saya. Itu tidak bagus. Karena makin banyak yang percaya, makin banyak pula yang tertipu.

Dari pada menipu, lebih baik kita belajar dulu. Pada tulisan kali ini, kita akan membicarakan tentang makanan. Makanan dalam paragraf di atas, kesimpulannya adalah bangkai. Terdengar kasar memang, tapi itu kenyataan. Kenyataan lainnya adalah bahwa kehidupan ini ada karena adanya kematian. Jadi berterimakasihlah pada yang mati-mati itu, karena mereka kita bisa hidup.

Manusia banyak berterimakasih kepada alam. Dari langit turunlah hujan, karenanya tanah jadi basah dan subur. Tanah yang subur menyebabkan tumbuhan bisa hidup. Tumbuhan rumput yang hidup itu dimakan oleh hewan pemakan tumbuhan. Hewan pemakan tumbuhan dimakan oleh hewan pemakan daging. Hewan pemakan daging dan pemakan tumbuhan, termasuk tumbuh-tumbuhan dimakan oleh manusia. Maka kepada merekalah manusia mengucapkan terimakasih dengan berbagai cara, salah satunya adalah upacara.

Pepohonan menyediakan makanan bagi manusia, maka manusia mengucapkan terimakasih kepadanya. Para hewan juga menyediakan makanan bagi manusia, dengan cara yang serupa manusia kemudian berterimakasih. Matahari menyediakan sumber cahaya, dan cahaya matahari adalah energi. Dari energi itu tumbuhan, hewan dan manusia bisa hidup. Maka kepadanya juga diucapkan terimakasih.

Begitulah terus-menerus, manusia berterimakasih kepada alam dan kepada dirinya. Terimakasih kepada diri, bisa berupa ucapan selamat ulang tahun atas hari lahir. Ada juga yang mengucapkannya enam bulan sekali. Tergantung keinginan. Tapi jika manusia mati, tidak ada yang mengucapkan selamat mati. Padahal konon, mati itu sama dengan pulang. Apa yang lebih indah dari pada pulang dan istirahat?

Begitulah tumbuhan dan hewan menjadi makanan dan sekaligus salah satu sumber kehidupan manusia. Meskipun karena makanan dan minuman, hidup itu bisa ada. Bukan berarti orang boleh makan dan minum sesuka hatinya. Ada jenis-jenis makanan yang tidak boleh dimakan sembarangan. Contohnya kacang-kacangan, nanti asam urat. Daging dan lemak terlalu banyak juga tidak boleh, nanti kolesterol. Itu berarti, meskipun boleh dimakan, tetap dalam batas-batas tertentu. Itu semua untuk kesehatan.

Ada juga minuman berupa ramuan yang disebut loloh. Loloh itu baik diminum jika panas dalam. Contohnya adalah loloh samiroto atau loloh sembung. Jika keduanya diminum dalam takaran yang pas maka akan menjadi obat. Sedangkan jika diminum banyak-banyak, tidak baiknya karena tensi turun dan kepala jadi puyeng. Mirip orang mabuk karena tuak.

Tidak hanya kesehatan yang menjadi salah satu faktor makanan dan minuman itu mesti diatur. Makanan dan minuman yang bisa dinikmati, juga tergantung dari perilaku hidup. Ada yang melakukan janji diri tidak akan makan daging. Ada yang berjanji tidak makan garam. Bahkan ada juga yang berjanji tidak makan-makan. Itu terserah yang berjanji, pasti ada suatu hal yang melatarbelakangi janji itu dipikirkan, diucapkan dan dilakukan. Yang tidak berjanji, tidak boleh sinis.

Sama seperti saya, Cangak yang sudah berjanji tidak makan ikan. Bagi saya, kini ikan tidak saya lihat sebagai ikan semata. Tetapi tubuh yang berjiwa. Saya punya jiwa dan ikan-ikan juga punya jiwa. Tidaklah sesuai dengan norma jika saya memakan sesama yang berjiwa. Tentu saja terkecuali saya terpaksa. Pemaksaan itu bisa jadi oleh situasi, keadaan, kondisi dan sebagainya yang lain.

Cara melihat makanan, juga sama dengan melihat lawan jenis. Karena saya lelaki, maka saya akan memberikan contoh makanan seperti wanita. Bukan berarti wanita adalah makanan, nanti saya dimarahi oleh kawan-kawan yang suka membela. Ucapan sastranya begini: bagi seorang pemuda, wanita adalah pasangan hidupnya yang harus dicintai. Bagi seekor serigala, wanita adalah makanan. Sedangkan bagi seorang yang sudah berjanji untuk berlaku suci, seorang wanita adalah anak. Contoh itu bisa juga dibalik, dengan merubah kata wanita menjadi pria.

Jadi satu objek bisa berarti berlainan tergantung yang memandang. Wanita bagi pemuda adalah cinta. Bagi serigala adalah makanan. Bagi orang bijaksana, ia adalah anak. Menarik juga ungkapan bahwa wanita adalah anak bagi seorang yang bijaksana. Mungkin karena anak, orang tua tidak boleh mengawininya. Bagaimana kalau anaknya mau dikawini? Wah, maaf saya tidak bisa menjawab itu. Kasus seperti itu susah untuk diselesaikan. Sama seperti kasus apakah surga dan neraka itu ada?

Kalau menurut cerita, ada banyak yang mengatakan itu ada. Bagi yang belum percaya, salah satu jalan membuktikannya adalah dengan mati terlebih dahulu. Begitu logikanya. Karena mana mungkin orang belum mati bisa bercerita tentang kematian. Tapi, kalau membaca teks-teks Bali yang sedikit agak kuna, ada teks yang menceritakan tentang kehidupan setelah kematian, proses mati, bahkan ciri-cirinya. Silahkan tanyakan kepada yang tahu-tahu. Jangan pada yang pura-pura.

Mari kita lanjutkan pada makanan dan minuman. Dengan begitu, berarti makan dan minum itu perlu diatur. Wajarlah jika orang mengambil jalan kesucian, mulai menata makanan dan minumannya. Bagi mereka, ada banyak aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Untuk tahu ini, ada buku-buku yang bisa dibaca contohnya adalah Wrati Sasana, Siwasasana, Purwaka Weda Buddha, dan mungkin ada lagi yang lain.

Ada satu teks bernama Aji Brata, yang mengatakan bahwa ada aturan hanya makan nasi satu kepal tiap-tiap purnama kasanga [kesembilan]. Brata itu dilakukan selama tiga kali purnama atau tiga tahun. Tujuannya adalah wajah cantik, ganteng dan merona. Juga kaya. Benar atau tidak, harus dialami dulu.

Di antara segala yang boleh dimakan itu, ada satu jenis yang tidak boleh dimakan bernama teman. Tentu saja teman tidak boleh dimakan. Jika teman dimakan, siapa lagi yang akan kita ajak berkeluh kesah tentang ini dan itu? Mungkin kalau sudah punya banyak teman, teman lama akan dimakan dengan lahap. Caranya? Oh, jangan tanya saya. Saya ini Cangak yang satya mitra. Artinya, saya ini setia pada teman.


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening
  • Siang Malam Berpikir Sendiri

Ajaran sastra tidak memperbolehkan teman makan teman. Teman yang memakan temannya sendiri disebut durmitra. Menurut sumbernya, ada tiga yang “kotor” di antara sewangsanya masing-masing. Di dalam wangsa burung, yang “kotor” adalah burung gagak. Di antara wangsa hewan, yang “kotor” adalah arddha bheka. Ardha bheka barangkali adalah keledai. Di antara wangsa pikiran, yang “kotor” adalah kemarahan. Sebab kemarahan menghilangkan kebijaksanaan dan rasa pemaaf. Dan di atas semua itu, yang paling “kotor” adalah ia yang durmitra.

Jadi begitulah kawan-kawan para ikan. Saya adalah Cangak yang sudah berjanji diri tidak akan makan sembarangan, apalagi makan ikan yang telah jadi teman. Saya sedang meniru-niru para bijaksana yang terlihat teduh dari pandangan mata dan sikap duduknya. Tidak mungkin saya akan menghianati janji diri itu.

Saya tidak mau disebut durmitra. Durmitra itu bukan teman, tapi pura-pura teman. Terus terang, setelah saya tinggalkan semua yang saya miliki untuk menjadi Cangak yang bijaksana, tidak ada lagi yang saya punya kecuali kesetiaan. [T]

Tags: lolohminuman zaman dulupersahabatanteman
Share65TweetSendShareSend
Previous Post

“Majalah Batur: Kata Penyambung Peradaban” – Butuh Penajaman Vista Historis

Next Post

Investasi Politik dan Ingatan Pemilih dalam Kontestasi Pemilu

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Menawar Harga-harga di Pasar Tradisional

Investasi Politik dan Ingatan Pemilih dalam Kontestasi Pemilu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co