6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 4, 2019
in Esai
12 Naskah Teater Karya Bung Karno: Soekarno, Frankenstein & Indonesia Tanpa Nyawa

Foto-foto: repro/istimewa

Ada 12 naskah drama yang ditulis Bung Karno di Ende-Flores (serta seluruhnya pernah dipentaskan di Ende-Flores) dan beberapa naskah drama yang ditulis di Bengkulu. Naskah-naskah itu seakan lenyap di  tengah kemasyuran SOEKARNO sebagai orator dan pengerak revolusi, pendiri dan proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Soekarno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia), pada 4 Juni 1927. Tujuan partai: Mendirikan Negara

Indonesia Merdeka. Akibatnya: Ia ditangkap 9 Desember 1929.

Setelah dipenjara sekitar 8 bulan, Bung Karno (BK) baru diadili, tepatnya tanggal 18 Agustus 1930. BK dikenai pasal Haatzaai Artikelen pasal 169, 161, 171 dan 153 KUHP. PNI dinyatakan sebagai partai terlarang.

Bebas dari penjara 31 Desember 1931, BK terpilih dengan suara bulat 28 Juli 1928 sebagai ketua Partindo.

Aktivitas politiknya dinilai semakin membahayakan penjajah, BK kembali ditangkap pada 1 Agustus 1933, tanpa diadili, dibuang ke Ende, Flores.

DI ENDE BERJUANG LEWAT TEATER

Masa pengasingan di Ende (14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938), BK didampingi istrinya, Inggit Gunarsih, mertuanya, Amsih, anak angkatnya, Ratna Juami dan guru dari anak angkatnya, Asmara Hadi. Mereka menempati sebuah rumah sederhana di sebuah sudut Kota Ende.

Sekarang rumah kediaman Bung Karno telah dijadikan situs sejarah. Lokasinya di Jalan Perwira Ende, berukuran 12 X 9 meter, di depannya tertulis: ‘Situs, Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende’. Masih terjejak banyak kenangan di sana: Dipan, korsi, meja dan beberapa perabotan rumah tangga semasa BK di sana masih disimpan disana.

Periode pembuangan dan pengucilan politik, seperti diakui Bung Karno dalam biografinya, sebagai periode “pergolakan intelektual” dan “pergolakan spiritual” yang sangat penting.

“Nasionalisme, Islamisme, dan Marxism”, adalah sebuah tulisan paling menarik untuk memahami gelora muda Bung Karno, ditulis tahun 1926 (dalam kumpulan dua jilid, 630 halaman, “Dibawah Bendera Revolusi”). Di Ende, kota kecil indah bersahaja itu, butir-butir tersebut direnungkan kembali dengan kedalam suasana hening-keterasingan.

Jika berkunjung ke Ende, silahkan tanyakan di mana letak Pohon Sukun, pohon tropis berdaun belah lima, tempat Soekarno merenung. Semua penduduk Ende akan memberitahu tempatnya. Dari titik itu tampak Pelabuhan Ende. Di sanalah diakui BK sebagai ground zero perumusan Pancasila. Warga kota Ende bilang ada kaitan antara lima jari daun pohon Sukun dengan jumlah sila dari Pancasila, sama-sama lima. Di sudut kota itu, pusaran pemikiran tersebut dipercaya terrumuskan menjadi butir-butir Pancasila.

Darah seni Soekarno berdenyut di Ende. Di rumah Soekarno, hingga kini terpajang lukisan Soekarno. Sebuah lukisan berwarna lembut, warna tanah dan warna coklat kayu, ada sosok 3 pemuda bertelanjang dada sembahyang, layaknya pemeluk Hindu Bali, menghadap sebuah altar sembahyang. Sebuah lukisan yang sunyi, sudut hening di depan altar dewa.

Selama di Ende, Soekarno membuat kamar khusus untuk merenung. Sekarang di rumah itu, di salah satu bilik belakangnya, pada kusennya bagian atas tertulis: Kamar Semedi. Di ruang semadi (renungan dan meditasi) itulah diceritakan oleh penduduk sekitarnya sebagai tempat Bung Karno merenung dan bersemadi memasuki kedalaman bathin.

Dalam biografinya, Bung Karno mengakui dalam renungannya di Ende, BK melihat “Brahma, Wisnu, dan Siwa” manunggal.

Rumah yang ditempati beliau itu disewa dari penduduk setempat, selain ditambahi sebuah kamar semadi, BK juga membangun dapur dan kamar kecil di bagian belakangnya. Ada pula sumur di belakang rumah tersebut, biasanya setiap “peziarah” akan mengambil air di sumur tersebut untuk dibasuhkan, mengenang bahwa BK selama 4 tahun (1934-1938) hidup dari air sumur itu.

Di bawah tekanan dan pengawasan Belanda, Bung Karno sempat sangat tertekan dan goyang. Dalam situasi tertekan itulah, tepatnya pada tahun 1934, BK membentuk grup tonil alias teater alias group sandiwara, bernama: TONEEL KLUB KELIMUTU. Nama itu sudah tentu berasal dari nama danau 3 warna yang juga terletak di Kabupaten Ende, Danau Kelimutu. Inilah bagian terindah yang secara mendalam dikenang beberapa warga kota ini: BK menjadi sutradara dan penulis naskah teater selama pengasingan di Ende.

Bung Karno bercerita tentang proses latihan Klub Kelimutu, sebagai berikut:

“Kami hanya mempunyai satu naskah. Karena itu, aku membacakan setiap peran dan para pemainku yang bermain secara sukarela mengingatnya dengan mengulang-ulang. Kalau orang dalam keadaan kecewa, betapapun besarnya rintangan akan dapat disingkirkannya. Inilah salah satu napas kehidupanku. Aku harus menjaganya supaya ia hidup terus.

“Kalau salah seorang tidak dapat memainkan perannya dengan baik, aku melatihnya sampai jauh malam. Aku malahan berbaring berkali-kali di lantai untuk memberi contoh kepada ALI PAMBE, seorang montir mobil, bagaimana memerankan dengan baik seorang yang mati.”

Setiap naskah butuh 40 hari latihan. Teater yang dipimpin BK ini biasanya menggelar pertunjukan di Gedung Imakulata milik Paroki Katedral Ende.

Pastor HUIJTINK SVD, misionaris serta teman diskusi Bung Karno, yang memberi izin penggunaan fasilitas milik Gereja Katolik itu. Juga kursi, bangku, hingga listrik. Uskup Ende menyumbang cat. Karcis dicetak oleh PERCETAKAN ARNOLDUS milik para pastor dan bruder SVD (SOCIETAS VERBI DIVINI).

Riwu Ga alias Riwu Sabu adalah salah satu anggota Toneel Klub Kelimutu serta pelayan setia Bung Karno semasa pembuangan di Flores. Kepada PETER A. ROHI, wartawan senior

asal Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur, Riwu Ga (almarhum) suatu hari bercerita sedikit tentang teater pimpinan Bung Karno ini:

“Bung Karno sebagai direktur Toneel Klub Kelimutu. Pendampingnya IBRAHIM H OEMAR SYAH dan DARHAM OTTAH. Di samping orang-orang dari berbagai suku di Nusa Tenggara Timur, ada orang Jawa seperti Atmosudirdjo dan Suminem, istrinya, school opziner Aburtidjo dan seorang guru schakel school bernama Wasirin. Bung Karno juga berhasil menggodok orang-orang Tionghoa menjadi muridnya, antara lain Go Djun Pio, Jo Ho Siu, dan Liek Sin Tek.

“Pak Atmosudirdjo dan istrinya sangat dekat dengan Bung Karno dan Ibu Inggit Garnasi (istrinya). Dengan demikian, ia juga menjadi adik angkat Ratna Djuami (Omi). Pak Atmo bekerja sebagai mantri ukur di Flores. Jalan di sini belum diaspal. Mobil sedikit, di antaranya beberapa buah milik Silalahi.

“Para pemain tonil terdiri atas berbagai profesi. Ada sopir macam Ali Pambe. Pembantu rumah tangga. Anak sekolah. Bung Karno terpaksa mengajari kami macam-macam untuk bisa menghafal peran masing-masing. Mulai cara mengeja bahasa sampai akting. Perempuan yang ada di klub tidak ikut main. Mereka cuma menyediakan perlengkapan atau tampil di bagian selingan sebagai penyanyi dan penari.

“Biasanya, setiap Ahad, terutama usai latihan atau pementasan, Bung Karno bersama rombongan Teater Kelimutu piknik di luar kota. Wolowona, sekitar lima kilometer dari Ende, adalah tempat favorit mereka. Di sepanjang jalan Bung Karno mengajak mereka menyanyi gembira. Lagunya antara lain NONA MANIS serta lagu-lagu keroncong diiringi ukulele dan cuk”.

PERSONIL TONEEL KLUB KELIMUTU

Pendiri : Ir Soekarno

Sutradara: Ir Soekarno

Penulis naskah : Ir Soekarno

Pementasan : 1934-1938

Anggota:

1. Ibrahim H Umar Sjah         

2. Darham Ottah        

3. Ruslan Ottah          

4. Djae H Mochtar                 

5. Abdul H Adjhar                 

6. Ahmad Polindih                 

7. Madu Rodja                       

8. Pranoto       

9. Atmosudirdjo         

10. Umar Gani           

11. Djae Bara 

12. Nganda Gande                 

13. Djae Gande                      

14. Ali Pambe            

15. Wahab Tandjo Palembang

16. Siku Wasim          

17. Wahit Djari

18. Weru Karara

19. Mansor Saripin     

20. Musa H Umar Sjah          

21. Prangga Kora

22. Ja Ali Ibrahim

23. Go Djun Pio

24. Awu Rodja

25. Jo Ho Siu

26. Alias Batawi

27. Molo Take

28. Wasim Palembang

29. Djafar Penatu        45. Imam

30. Riwu Sabu alias Riwu Ga

31. Lodo Nigi

32. Ndoa Wandu

33. Djamaludin

34. Baa Bahron

35. Da’man

36. Ibu Atmo

37. Ibu Pranoto

38. Suminem

39. Tin Mugda

40. Anang

41. Hamid Anang

42. Abdurrahman Anang

43. Abdurrahman Wani

44. Abdurrahman

45. Imam

DUA BELAS (12) NASKAH DRAMA BUNG KARNO

Ada 12 naskah drama yang ditulis Bung Karno di Ende-Flores (serta keseluruhnya pernah dipentaskan di Ende-Flores) dan beberapa naskah drama yang ditulis di Bengkulu. Naskah-naskah itu seakan lenyap di tengah kemasyuran SOEKARNO sebagai orator dan pengerak revolusi, pendiri dan proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam rak Rumah Bung Karno di Ende, sampai kini, kita melihat bentuk photocopy naskah drama tersebut. Konon, pihak keluarga telah mengambil “aslinya”. Dari para anggota teater Bung Karno di Ende, diketahui naskah drama yang ditulis Bung Karno selama di Ende berjumlah 12 judul, yaitu:

KUTKUTBI

RAHASIA KELIMUTU

AERO DINAMIT

DOKTER SYAITAN

ANAK HARAM JADAH

MAHA IBLIS

AMOEK

SANGHAI RUMBA

GERA ENDE

INDONESIA 1945

RENDO

JULA GUBI

Setelah pembuangan di Ende (14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938), BK dibuang kembali ke Bengkulu, juga selama empat tahun. Di sanalah ia menikahi Fatwamati (1943) yang memberinya lima orang anak; Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh Soekarnoputri.

Selama di Bengkulu BK juga membangun kelompok teater. Naskah-naskah yang dimainkan di Bengkulu sebagian dari naskah Ende, tapi ada beberapa naskah baru yang dimainkan di Bengkulu (1938-1942).

Adapun naskah drama karya Bung Karno yang ditulis di Bengkulu, sebagai berikut:

RAINBOW (Poetri kentjana Boelan),

CHUNGKING-DJAKARTA, SI KECIL (Kleine Duimpje),

HANTOE GOENOENG BEONGKEOK

Pada kurun masa itu, konon kabarnya, ada kelompok tonil lain yang terkenal bernama Dardanella, namun naskah mereka tidak seperti naskah-naskah BK; naskah drama Bung Karno dengan sangat sublime menyulut “gerakan pemberontakan”. Seperti diceritakan beberapa anggota tonil yang diasuh dan dipimpin BK, lewat kelompok tonil Bung Karno senantiasa membangkitkan “semangat pembangkangan” terhadap Belanda.

Ada yang menarik tentang penulisan naskah drama INDONESIA 1945. Konon kabarnya ditulis Bung Karno atas pesanan Tuan NATHAN, orang Filipina yang memimpin sandiwara keliling. Drama ini berisi ramalan akan tiba saatnya bangsa Asia bangkit dan memberontak terhadap penjajah kulit putih.

Naskah “Indonesia 1945”, telah menjadi kenyataan: Indonesia merdeka tahun 1945, dan diproklamasikan oleh penulis naskah drama sendiri.

DOKTER SYAITAN ALIAS FRANKENSTEIN

Naskah drama yang berjudul DOKTER SYAITAN, yang ditulis Bung Karno pada 1936, dikabarkan sebagai pementasan yang cukup terkenal kala itu.

Naskah ini berkisah tentang dr Marzuki (peran utamanya) yang mampu menghidupkan orang mati.

Kenapa ada dokter penghidup mayat?

Menurut Bung Karno, naskah ini diilhami oleh Frankenstein, peran utamanya adalah dr Marzuki, seorang Boris Karloff ala Indonesia, yang menghidupkan mayat dengan melakukan transplantasi hati dari orang yang hidup.

Seperti yang dituturkan Bung Karno pada Cindy Adams, pesan moral di balik naskah tersebut adalah: “Tubuh Indonesia yang sudah tidak bernyawa dapat bangkit dan hidup lagi”, bangsa Indonesia akan bangkit dari tidur panjang masa penjajahan.

Dalam Dokter Sjaitan, adegan transplantasi hati dari orang yang hidup menjadi metafora kunci yang sangat menarik. Kita bertanya-tanya apa yang dipikirkan penonton kala itu tentang sebuah transplantasi? Terpikirkah oleh mereka bahwa BK sedang memberi sebuah himbauan “kebangkitan bangsa”?

Sampai kini, adegan transplantasi hati dari orang yang hidup ini masih relevan untuk “dibaca kembali”: Kita telah masuk dalam era (yang kita sebut) kemerdekaan, tapi benarkah kita sudah sepenuhnya siuman?

Kata Bung Karno, “Neokolonialisme menjangkiti negeri ini”.

Bung Karno berulangkali menyebut neokolonialisme dalam pidato-pidatonya. Neokolonialisme, semacam menjadi wabah dan penyakit sosial, yang membuat tubuh bangsa meredup dan meregang nyawa; perlu “dokter” pembangkit gelora dan api kebangsaan.

Jika kita hubungkan keberadaan naskah tersebut dengan kedekatan Bung Karno dengan Dr Tjipto, seorang dokter dan tokoh gerakan kebangsaan yang telah memberi teladan penting dalam perjuangan Bung Karno; bisa jadi tokoh dokter Marzuki dalam naskah itu sebuah “gambaran” teaterikal dari seorang “dokter kebangsaan” Dr Tjipto. Entah kebetulan atau tidak, nama lengkap Dr Tjipto adalah Tjipto Mangoenkoesoemo yang menandung arti “kebangkitan jiwa”. Tjipto berarti pikiran, cipta; Mangoen berarti bangun, bangkit; dan Koesoemo berarti bunga atau kemuliaan jiwa.

Tentang hubungannya dengan Dokter Tjipto, ada sebuah peristiwa penting yang terus dikenang Bung Karno. Suatu hari, sebelum berangkat (dipenjara) Dr Tjipto Mangoenkoesoemo berkirim surat kepada Soekarno, isinya meminta agar: “Bertekun untuk berkorban, berkorban, dan berkorban bagi Indonesia!”

Kata-kata itu terus bergelora di hati Bung Karno, dapat kita jumpai dan rasakan getarnya dalam pidato-pidato dan tulisan-tulisan politik beliau. Demikian juga naskah-naskah drama karya Bung Karno. Getar “amarah” dan gelora bisa kita tangkap dari judul naskah-naskah yang ditulis BK: AMOEK, MAHA IBLIS, AERO DINAMIT, DOKTER SYAITAN, dan ANAK HARAM JADAH.

Di tengah era kemerdekaan, periode pembuangan dan pergulatan BK dalam teater di Ende dan Bengkulu seakan terlupakan begitu saja. Dalam kontek sejarah kebangsaan, periode pembuangan para pendiri bangsa adalah pilar-pilar maha penting pembentukan negara yang sekarang kita kenal sebagai Republik Indonesia.

Dari perjalanan intelektual dan pergulatan dengan dunia kesenian yang dilakoni Soekarno di masa pembuangan tersebut, kita belajar bahwa kesenian, politik dan perjuangan kebangsaan tidak terpisahkan. Politik dan seni saling menggenapi. Dalam seni ada perjuangan.

Di tengah ketertindasan penjajahan Belanda, dalam suasana larangan dan kebuntuan pergerakan, Soekarno memilih jalan teater untuk berbicara pada rakyat dan menjalin akar dan ikatan kekeluargaan. Bung Karno mengakui kesenianlah yang membuat beliau keluar dari tekanan kehidupan politik. Kebuntuan politik bisa diterobos lewat jalan tembus bernama kesenian.

“Jas Merah,” amanat Bung Karno. Jangan sekali-kali melupakan sejarah; termasuk kehidupan berkesenian Bung Karno dimasa pembuangan.

Jika pidato dan tulisan-tulisan Bung Karno disadari sebagai bagian-bagian terpenting dalam sejarah pembentukan NKRI, sudah waktunya “harta karun” naskah-naskah teater BK “dibuka”.

Memang keberadaan naskah-naskah asli itu masih simpang-siur, namun masih mungkin untuk ditelusuri dan diterbitkan.

“Ada salah satu keluarga Bung Karno kesini dan mengambil naskah aslinya,” kata salah seorang penjaga Rumah Soekarno di Ende.

Sembilan tahun sebelum proklamasi, tepatnya tanggal 19 Agustus 1936, naskah DR. SJAITAN yang diilhami oleh Frankenstein itu dipentaskan: Dr Marzuki menghidupkan mayat dengan melakukan transplantasi hati dari orang yang hidup.

Lewat pementasan itu sangat tegas terbaca pesan BK. Untuk kebangkitan dan kebangunan jiwa, kita perlu: Transplantasi hati (nurani)!

DAFTAR BACAAN

Di Bawah Bendera Revolusi (Ir Soekarno)

Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Cindy Adams, edisi revisi diterbitkan Yayasan Bung Karno, 2007)

Menjadi Indonesia (Parakitri T Simbolon, Penerbit Kompas, 2006).

Bung Karno dan Pancasila – Ilham dari Flores untuk Nusantara (Tim Nusa Indah, Penerbit Nusa Indah, 2006)

Bung Karno, Maestro Monte Calo – Kumpulan Naskah Drama Bung Karno Selama Masa Pengasingan di Bengkulu (Agus Setiyanto, Penerbit Ombak, 2006)

Kako Lami Angalai (Peter A Rohi)

Tags: Bung KarnoceritasejarahTeater
Share70TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Kecil dari Liburan di Bondowoso: Dari Bukit Arak-arak Hingga Situs Glingseran

Next Post

Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co