23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meboya – Jejak “Laut” Orang Buleleng?

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
April 1, 2019
in Esai
Meboya – Jejak “Laut” Orang Buleleng?

Pelabuihan Buleleng . (Foto: Mursal Buyung)

Persembahan untuk Hari Jadi Kota Singaraja ke-415 — Glukkige Verjaardag Mijn Stad

Akhir pekan kemarin, 30 Maret 2019, saya bersama kompatriot, Pak Made Pageh menghadiri acara bedah buku berjudul Plitik karya Nanoq da Kansas. Keikutsertaan Pak Made Pageh dalam acara itu bukan tanpa alasan, beberapa pekan sebelumnya, yang bersangkutan mengutarakan kekecewaan karena tidak saya ajak mendengarkan “clotehan” Sugi Lanus tentang filsafat “galang”.

Novel Plitik yang dibedah itu kebetulan sudah saya baca deskripsinya, dan sejauh yang saya tangkap merupakan refleksi terhadap pengalaman pribadi penulis yang menawarkan ulasan politik dalam bentuk satir nan jenaka. Meski demikian, kandungan nilai-nilainya sungguh serius dan berat bila didiskusikan secara frontal. Penulis novel sadar bahwa untuk menjangkau pembaca yang luas, narasi politik yang kaku dan berjarak itu harus disampaikan dengan gaya bahasa yang santai, gembira bahka absurd.

Pun demikian, salah satu pembahas (kebetulan gen Z) yang saya tanya responnya terhadap dinamika politik nasional menjawab pesimistis dan berniat golput (mengaku gusdurian-tetapi mungkin Gusdur sendiri akan kecewa dengan sikapya di alam kubur) menjelang Pilpres 17 April mendatang. Ini artinya, Novel Plitik sebagai satir politik reformasi yang telah dibaca atau mungkin bacaan-bacaan lain, alih-alih mengubah persepsi, namun dianggap gagal meleburkan sekat antara politik dengan milenial yang semakin berjarak dan tabu dibicarakan selama 32 tahun Orde Baru.

Dekolonisasi Orde Baru mungkin saja berlangsung singkat sejak gelombang krisis moneter di Asia sejak 1997 dan mencapai puncak 1998, namun dekolonialisasi terhadapnya berjalan sangat lambat. Jejak-jejak mentalitas Orde Baru masih tercecer, dan dapat disaksikan pada gen Z di atas sekalipun. Atau mungkin saja gaya hidup (baca : fesyen) kekinian sebagai bahasa politik kontestan pilpres demi meraup suara milenial yang diperkirakan 60-a juta, dianggap artifisial, terlalu dibuat dan tentu saja sebatas embedded (baca : tempelan).      

Saat kami tiba di TKP, acara masih belum juga dimulai, padahal sudah telat 30 menit dari jadwal semula pukul 19.00. Kehadiran kompatriot saya, Pak Made Pageh cukup menjadi kejutan, khususnya bagi tuan rumah Tatkala, Pak Ole dan Bu Sonia. Sebab mereka telah saling kenal – Pak Made Pageh mengenal Pak Ole sebagai jurnalis “kakap” di Bali Post, sedangkan Bu Sonia (mantan pacar Pak Ole), pernah menjadi mahasiswi binaan pak Made Pageh di awal tahun 2000-an.

Seperti yang sudah-sudah dan tradisi menyambut tamu ala tua rumah Tatkala, basa basi terlontar dari pak Ole. “selamat datang di rumah Tatkala, tempat diskusi alternatif yang menjadi wadah berkumpul lintas ilmu, dan yang paling penting menjadi “the other” dalam membaca narasi Bali dari “depan” yang berpusat di Bali Selatan – Bali Barat, Utara dan Timur bisa menjadi simpul antitesis terhadap narasi itu ”.

Saya dan Pak Made Pageh saling bertatapan dan mengernyitkan dahi setelah mendengar sambutan tuan rumah. Berbagai pertanyaan muncul bahkan hingga terbawa ke alam mimpi. Keesokan harinya, 31 Maret, dengan berbekal satu gelas air putih, saya nongkrong di ruang inspirasi (baca : WC) sambil menuliskan ide-ide tulisan ini via rekaman hp.

Tulisan ini dibuat dan terinspirasi dari pernyataan AHISTORIS tuan rumah Tatkala. Kompatriot saya, Pak Made Pageh mungkin mengamini pendapat saya karena tesis beliau di UGM membahas salah satu ikon Buleleng, yakni Eks Pelabuhan Buleleng.  

Saya setuju jika Bali Utara dianggap sebagai “the other” dalam narasi Bali kontemporer yang memposisikan industri pariwisata sebagai pusatnya. Riset kecil dalam sub bab di dalam tesis saya di kawasan hutan Bali Barat yang dibiayai sepenuhnya oleh Universitas Adger Norwegia memperkuat hal itu. Akan tetapi, jika beranjak pada fakta historis, Bali Barat dan Bali utara justru garda depan  kebudayaan Bali. Artefak manusia purba berupa porselen dan keramik dari Cina di Situs Gilimanuk, Situs Candi Budha di Lovina hingga kemasyuran Eks Pelabuhan Buleleng pada medio abad XVIII hingga awal abad XX memberi bukti bahwa bagian utara pulau Bali ini adalah kawasan maritim yang ramai dikunjungi bahkan sejak awal abad masehi sehingga menghasilkan interaksi antarperadaban di masa lalu.

Tulisan ini tidak hendak menguraikan kejayaan Bali utara thus Bali Barat di masa lalu, namun lebih dari itu memperlihatkan karakteristik air (baca : laut) yang pernah dimiliki orang Buleleng. Di era kontemporer, karakter khas itu mengarah pada stigma negatif, alih-alih positif. Spirit kebaharian sengaja saya ketengahkan karena selama ini masyarakat Buleleng khususnya terkesan abai terhadap diskursus “air” (laut) sehingga narasi tentang nya selalu “absen” ketika memikir ulang Buleleng sebagai kesatuan identitas.

Fakta historis di masa lalu membuktikan kota Singaraja pernah menjadi pusat pemerintahan Bali dan Lombok sejak era Kolonial.  Eks pelabuhan Buleleng dan tempat-tempat lain di seputaran jalan Diponegoro, Hasanudin, Imam Bonjol, Surapati, Pramuka hingga Ngurah Rai menjadi saksi bisu masa-masa kejayaan laut yang dibalut budaya urban kota yang mulai bertumbuh seiring persentuhannya dengan peradaban Barat sejak takluk dari Belanda pasca Puputan Jagaraga 1849.

Dikuasainya Singaraja dan juga kota-kota lain di Bali oleh pihak Belanda  yang menghasilkan Puputan Badung 1906 dan Klungkung 1908 bukan tanpa alasan, sebab di tahun-tahun kekuasaan Inggris di bawah Raffles (1811-1815) yang sempat berkunjung ke Bali, telah merencakan akan menjadikan Bali sebagai sea port– sejenis pelabuhan transito mirip negara Singapura (baca : Tumasik) sekarang, dan Pelabuhan Buleleng sebagai pusatnya yang menghubungkan aktivitas niaga Pantai Utara Jawa dengan Makassar.

Namun kekuasaan Inggris yang singkat itu segera digantikan oleh Belanda diikuti pula dengan pemindahan pusat pemerintahan dari Singaraja ke Denpasar. Sejak saat itu, sandi kala pelabuhan Buleleng  telah di depan mata, orientasi laut kota pelabuhan Buleleng  beralih menjadi orang “darat”.

Meskipun Buleleng di era koloial Belanda mengalami disorientasi laut, jejak kebaharian itu hingga kini masih bisa disaksikan dalam praktik sosial- sikap meboya.  Sikap ini dianggap sebagai respon “alamiah” ketika orang Buleleng diajak berkomunikasi oleh pihak tertentu yang bertujuan menyampaikan himbauan, ajakan pendapat dan sejenisnya. Reaksi pertama – dahi mengkerut, mulut munju, geleng-geleng kepala yang dibalut senyum sinis pertanda ketidaksetujuan. Pun begitu sikap ini bertaut dengan tagline egalitarianisme orang Buleleng dalam merespon kebudayaan Bali.

Jika budaya Bali diekspresikan dengan simbol-simbol kepiawaian dalam ukiran, tarian, ketaatan adat dan agama, serta lukisan, maka hal tersebut adalah hal yang sulit ditemukan pada diri orang Buleleng. Orang Buleleng seakan ingin terus mendefinisikan ulang budaya kebaharian meboya yang tidak harus lemah lembut dalam bertutur kata, tunduk dengan feodalisme kasta dan tidak harus piawai mengukir. Orang Buleleng menjadi komunitas bahari sebagai antitesis agraris yang membedakannya dengan komunitas Bali di luar Buleleng. [T]

Tags: bulelenglautSingaraja
Share66TweetSendShareSend
Previous Post

Counscious Healthy Eating

Next Post

Evolusi Pasca Darwin

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Evolusi Pasca Darwin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co