15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi 4 Sekawan Mahasiswa Muslim di Bali – Sekadar Cerita yang Tak Berat

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
March 9, 2019
in Esai
Nyepi 4 Sekawan Mahasiswa Muslim di Bali – Sekadar Cerita yang Tak Berat

Ilustrasi foto: tatkala

Hari Raya Nyepi di Bali itu tidak sama dengan hari Minggu, apalagi malam minggu, wong Nyepi kok disamain dengan malam minggu. Enggak mungkinlah yaa…

Berbicara tentang Hari Raya Nyepi memang sungguh berkesan. Buktinya, menjelang Hari Raya Nyepi saja, tatkala.co sudah diserbu habis-habisan oleh tulisan-tulisan cantik.

Berikut ini, saya telah merangkum lima tulisan cantik yang memiliki kaitan dengan penyambutan Hari Raya Nyepi dari media tatkala.co:

Pertama:Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon” dari Putu Lilik Surya Ariani – seorang wartawan baik hati. Tulisan tersebut menyuarakan kalau tampilan melasti saat sekarang lebih ramah, simpel dan mengerti sesama, serta mengurangi perlombaan tebar pesona harta benda. Dengan seperti itu, melasti sekarang tidak menjadi ajang pameran harta benda. Nyepi bisa lebih tentram terasa.

Kedua:Panduan Nyepi ala Cangak karya IGA Darma Putra – penulis keren dari Bangli. Tulisan ini menawarkan delapan metode Nyepi yang perlu dilakukan supaya Anda tidak terkena kartu merah. Apalagi kartu merahnya di garis penalti, nanti suporter e bisa marah-marah.

Ketiga: Nyepi Diri karyaDewa Putu Sahadewa yang mengajak kita untuk nyepi diri dengan cara menarik diri ke dalam, sehingga kita bisa sampai ke titik hening alam raya. Tidak seperti anu-anu itu, yang selalu menarik masalalu sehingga masa sekarang menjadi tidak menentu.

Keempat:Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban dari Pak Dokter Putu Arya Nugraha. Tulisan ini menerangkan tentang filosofi Nyepi sebagai terapi efektif untuk bumi dan bahkan untuk jiwa dan raga manusia. Bukan nyepi gara-gara jomlo yaa… itu mah, beda lagi cerita.

Kelima:Belajar Iklas dari Pertiwi karya I Gusti Agung Paramita – pengajar di FIAK Unhi Denpasar. Tulisan ini mengatakan, sebenarnya kita bisa belajar kebhinekaan dan keragaman dari tanah. Karena, dari tanahlah kita bisa menumbuhkan sikap nrimo dan iklas atas apapun yang meresapi. Cobak, mana ada tanah yang mengeluarkan jurus seribu bayangan atau jurus pendekar dari Gua Hantu ketika dikencingi. Atau mana ada tanah yang mengutuki kaki-kaki yang menginjaknya walaupun di antara kaki-kaki itu ada kaki orang ateis–nya. Kalau begitu, resepnya apa, bli? Yaa, Nyepi dong…

Tunggu sebentar! Ini sampean mau cerita apa, sih? Kok malah nggak nyambung sama judul.

Begini:

Karena membaca tulisan-tulisan filosofis itu, saya bersemangat menikmati Nyepi di Bali – jadi tidak berniat untuk keluar Bali, apalagi harus pulang kampung ke desa saya di Sumatera sana. Meski tidak sekhidmat warga Hindu di Bali, setidaknya saya akan merasakan aura Nyepi, yang tentu saja memang sepi.

Maka, menjelang Hari Raya Nyepi, saya bersama tiga orang sahabat saya dari Compok Basi (sebuah komunitas kreatif, hehehe, di Singaraja) sepakat menyusun strategi. Karena kami berempat (kebetulan) beragama Islam, maka kami pun merencanakan untuk Nyepi bersama-sama di Gerokgak, di rumah Fathorrahman Zairazi, salah seorang dari sahabat saya itu. Kebetulan juga dia sudah lama tidak pulang kampung.

Pada hari Rabu, 6 Maret 2018, sehari menjelang Nyepi, sekitar jam 11 siang, saya, Fathorrahman Zairazi, Muhammad Fathur Rozi, dan B.B. Soegiono berangkat dari Singaraja menuju Gerokgak. Kami berangkat menggunakan dua kendaraan sepeda motor. Kendaraan kami melaju secara beriring-iringan.

Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun melanda, angin pun berhembus kencang serta menerpa dedaunan di pinggiran jalan. Kami pun memutuskan untuk singgah di salah satu supermarket yang ada di Lovina. Karena hujan tidak juga kunjung reda, kami kemudian membeli mantel hujan di supermarket tempat kami singgah itu. Setelah mantel hujan kami dapatkan, kemudian kami melanjutkan perjalanan meskipun pada saat itu hujannya masih sangat-sangat lebat.

Setelah agak lama di perjalanan, tiba-tiba hujan pun reda, dan kami berempat tetap melanjutkan perjalanan. Tidak lama setelah itu, kemudian hujan lebat kembali turun melanda. Aduuhh e… Hujan lagi!

Di sepanjang perjalanan kami menyaksikan bagaimaba warga mempersiapkan pawai ogoh-ogoh yang biasanya dilaksanakan sore hari, yakni sehari sebelum Nyepi. Kasian anak-anak muda itu, karena hujan, persiapan mereka jadi sedikit terganggu.

Kira-kira pukul 13.30, akhirnya kami tiba di Gerokgak, di rumah Fathorrahman Zairazi. Ketika itu, di rumah dia tidak ada siapa-siapa. Berdasarkan apa yang dia disampaikan ketika saya tanya kenapa tidak ada siapa-siapa di sana, dia pun menjawab kalau ayahnya sedang bekerja dan belum pulang dari pekerjaan. Karena kami berempat sama-sama merasa lelah, kemudian kami beristirahat sebentar di pelantaran rumah sahabat saya itu.

Pantai yang Sepi

Tepat pukul 14. 30, kami berangkat ke sebuah pantai dengan berjalan kaki, dan sampai di tempat tujuan sekitar dua puluh menit kemudian. Pantai itu sungguh indah. Pohon-pohon bakau tumbuh subur di sana serta lumut-lumut hijau mengapung di permukaan air laut bagian tepi.

Pantai itu sepi. Ternyata masih ada pantai yang sepi di Bali. Bayangan saya, dulu, semua pantai di Bali itu seperti Kuta atau Nusa Dua. Kalau pantai di Kuta itu pastilah sepi pada saat Nyepi. Namun pantai di sudut Gerokgak ini benar-benar sepi, padahal Nyepi belum mulai.

Pemandangannya pun indah dan memanjakan mata kami. Tidak hanya itu! Ternyata ada hal lain lagi yang lebih menggoda. Di atas lumut-lumut hijau yang mengapung itu, tampak bertebaran sekian banyak kepiting dan lobster. Fathorrahman Zairazi, Muhammad Fathur Rosi, B.B. Soegiono, dan saya, ketika itu langsung berburu kepiting dan lobster.

Tetapi, kami tidak mengambil semuanya, karena kami tidak serakus itu. Kami hanya mengambil secukupnya saja untuk kami masak nanti malam apabila sudah kembali ke rumah Fathorrahman Zairazi.

Ketika sinar matahari sudah tidak terang lagi, kami pun kembali pulang. Ketika sedang dalam perjalanan, Muhammad Fathur Rosi mengatakan kepada kami kalau pantai yang baru saja kami datangi itu tidak boleh diketahui oleh para pemodal nakal.

B.B. Soegiono kemudian meneruskan perkataan itu dengan celotehan: kalau itu diketahui oleh para pemodal nakal, takutnya nanti di Bali ini tidak ada lagi pantai yang indah bagi warga sekitarnya. Kami serentak tertawa.

Nyepi dengan Cerita Sastra

Pada hari Kamis, 7 Maret 2018, Nyepi sudah diselenggarakan. Kami baru bangun tidur kira-kira pukul 10 siang. Keadaan benar-benar sepi. Tidak ada suara kendaraan dari luar. Jaringan internet pun ikut-ikutan sepi, eh bukan sepi lagi malahan, tapi mampus.

Pada siang hari itu, kami makan bersama dengan ayah Fathorrahman Zairazi. Kami tidak terlalu banyak berbincang. Setelah makan siang usai, kami mulai sibuk dengan kesibukan kami masing-masing. Ada yang menulis. Ada yang membaca buku. Ada juga yang menonton vidio.

Ketika malam hari sudah tiba, keadaan terasa semakin sepi, dari jendela kamar saya mengintip ke luar, dan keadaan di luar benar-benar gelap sekali. Di dalam rumah, kami menggunakan penerangan secukupnya. Kami menggunakan penerangan kecil saja, hanya di dalam kamar, dan sinarnya sekiranya tidak sampai memancar ke luar rumah. Kenyataannya bagaimana, saya tidak tahu betul, karena tidak ada di antara kami yang mencoba melihatnya dari luar.

Setelah selesai makan malam, kemudian Ayah Fathorrahman Zairazi bercerita. Pertama-tama dia bercerita tentang sastra. Dia menceritakan kisah Zainudin dalam novel Tenggelamnja Kapal Van der Wijck karangan Buya Hamka dan kisah cinta Kais dalam buku Layla dan Majnun.

Airmata lelaki tua itu tampak membayang-bayang pada kedua belah matanya. Dia bergetar menceritakan kisah percintaan yang baru saja dia ceritakan. Dia secara terbuka mengatakan kepada kami bahwa dia mengalami kisah seperti itu.

Setelah beberapa lama berlalu, kemudian pembicaraan kami berganti topik. Kami mulai membicarakan tentang kerukunan penduduk beragama Hindu dengan penduduk beragama Islam di Gerokgak.

Di Gerokgak, kerukunan penduduknya sangat toleran. Apabila ada upacara keagamaan dari agama Hindu, maka orang-orang muslim di sana ikut membantu, dan apabila ada upacara keagamaan Islam, maka orang-orang beragama Hindu ikut pula membantu.

BACA:

  • Di Pemuteran, Sekaa Teruna dan Pemuda Ansor Riang Bersama dalam Pawai Ogoh-ogoh

Kira-kira pukul 23.00 kami pun segera berbaring di atas tempat tidur. Tidak terasa kami berempat tertidur karena kelelahan. Keesokan harinya, ketika kami bagun, tiba-tiba jaringan internet sudah muncul di ponsel kami masing-masing. Nyepi pun sudah berlalu. Kami kembali sibuk dengan ponsel milik kami masing-masing.

Kalau Anda ingin melakukan perjalanan beriringan dengan kami, itu sudah terlambat, kami sudah pada balik ke Singaraja. Namun, di lain waktu, kami akan senang kalau ditemani oleh Anda. Apalagi Anda-Anda cewe cantik yang masih jomlo. Hehehee… enggak lucu ya? Yuk ketawain saja saya… [T]

Tags: balibulelengHari Raya NyepihinduMuslim
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Solidaritas Nak Buleleng

Next Post

Acintya

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Acintya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co