25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi 4 Sekawan Mahasiswa Muslim di Bali – Sekadar Cerita yang Tak Berat

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
March 9, 2019
in Esai
Nyepi 4 Sekawan Mahasiswa Muslim di Bali – Sekadar Cerita yang Tak Berat

Ilustrasi foto: tatkala

Hari Raya Nyepi di Bali itu tidak sama dengan hari Minggu, apalagi malam minggu, wong Nyepi kok disamain dengan malam minggu. Enggak mungkinlah yaa…

Berbicara tentang Hari Raya Nyepi memang sungguh berkesan. Buktinya, menjelang Hari Raya Nyepi saja, tatkala.co sudah diserbu habis-habisan oleh tulisan-tulisan cantik.

Berikut ini, saya telah merangkum lima tulisan cantik yang memiliki kaitan dengan penyambutan Hari Raya Nyepi dari media tatkala.co:

Pertama:Melasti Kekinian Tak Perlu “Ma-songket-an” dan “Nyalon” dari Putu Lilik Surya Ariani – seorang wartawan baik hati. Tulisan tersebut menyuarakan kalau tampilan melasti saat sekarang lebih ramah, simpel dan mengerti sesama, serta mengurangi perlombaan tebar pesona harta benda. Dengan seperti itu, melasti sekarang tidak menjadi ajang pameran harta benda. Nyepi bisa lebih tentram terasa.

Kedua:Panduan Nyepi ala Cangak karya IGA Darma Putra – penulis keren dari Bangli. Tulisan ini menawarkan delapan metode Nyepi yang perlu dilakukan supaya Anda tidak terkena kartu merah. Apalagi kartu merahnya di garis penalti, nanti suporter e bisa marah-marah.

Ketiga: Nyepi Diri karyaDewa Putu Sahadewa yang mengajak kita untuk nyepi diri dengan cara menarik diri ke dalam, sehingga kita bisa sampai ke titik hening alam raya. Tidak seperti anu-anu itu, yang selalu menarik masalalu sehingga masa sekarang menjadi tidak menentu.

Keempat:Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban dari Pak Dokter Putu Arya Nugraha. Tulisan ini menerangkan tentang filosofi Nyepi sebagai terapi efektif untuk bumi dan bahkan untuk jiwa dan raga manusia. Bukan nyepi gara-gara jomlo yaa… itu mah, beda lagi cerita.

Kelima:Belajar Iklas dari Pertiwi karya I Gusti Agung Paramita – pengajar di FIAK Unhi Denpasar. Tulisan ini mengatakan, sebenarnya kita bisa belajar kebhinekaan dan keragaman dari tanah. Karena, dari tanahlah kita bisa menumbuhkan sikap nrimo dan iklas atas apapun yang meresapi. Cobak, mana ada tanah yang mengeluarkan jurus seribu bayangan atau jurus pendekar dari Gua Hantu ketika dikencingi. Atau mana ada tanah yang mengutuki kaki-kaki yang menginjaknya walaupun di antara kaki-kaki itu ada kaki orang ateis–nya. Kalau begitu, resepnya apa, bli? Yaa, Nyepi dong…

Tunggu sebentar! Ini sampean mau cerita apa, sih? Kok malah nggak nyambung sama judul.

Begini:

Karena membaca tulisan-tulisan filosofis itu, saya bersemangat menikmati Nyepi di Bali – jadi tidak berniat untuk keluar Bali, apalagi harus pulang kampung ke desa saya di Sumatera sana. Meski tidak sekhidmat warga Hindu di Bali, setidaknya saya akan merasakan aura Nyepi, yang tentu saja memang sepi.

Maka, menjelang Hari Raya Nyepi, saya bersama tiga orang sahabat saya dari Compok Basi (sebuah komunitas kreatif, hehehe, di Singaraja) sepakat menyusun strategi. Karena kami berempat (kebetulan) beragama Islam, maka kami pun merencanakan untuk Nyepi bersama-sama di Gerokgak, di rumah Fathorrahman Zairazi, salah seorang dari sahabat saya itu. Kebetulan juga dia sudah lama tidak pulang kampung.

Pada hari Rabu, 6 Maret 2018, sehari menjelang Nyepi, sekitar jam 11 siang, saya, Fathorrahman Zairazi, Muhammad Fathur Rozi, dan B.B. Soegiono berangkat dari Singaraja menuju Gerokgak. Kami berangkat menggunakan dua kendaraan sepeda motor. Kendaraan kami melaju secara beriring-iringan.

Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun melanda, angin pun berhembus kencang serta menerpa dedaunan di pinggiran jalan. Kami pun memutuskan untuk singgah di salah satu supermarket yang ada di Lovina. Karena hujan tidak juga kunjung reda, kami kemudian membeli mantel hujan di supermarket tempat kami singgah itu. Setelah mantel hujan kami dapatkan, kemudian kami melanjutkan perjalanan meskipun pada saat itu hujannya masih sangat-sangat lebat.

Setelah agak lama di perjalanan, tiba-tiba hujan pun reda, dan kami berempat tetap melanjutkan perjalanan. Tidak lama setelah itu, kemudian hujan lebat kembali turun melanda. Aduuhh e… Hujan lagi!

Di sepanjang perjalanan kami menyaksikan bagaimaba warga mempersiapkan pawai ogoh-ogoh yang biasanya dilaksanakan sore hari, yakni sehari sebelum Nyepi. Kasian anak-anak muda itu, karena hujan, persiapan mereka jadi sedikit terganggu.

Kira-kira pukul 13.30, akhirnya kami tiba di Gerokgak, di rumah Fathorrahman Zairazi. Ketika itu, di rumah dia tidak ada siapa-siapa. Berdasarkan apa yang dia disampaikan ketika saya tanya kenapa tidak ada siapa-siapa di sana, dia pun menjawab kalau ayahnya sedang bekerja dan belum pulang dari pekerjaan. Karena kami berempat sama-sama merasa lelah, kemudian kami beristirahat sebentar di pelantaran rumah sahabat saya itu.

Pantai yang Sepi

Tepat pukul 14. 30, kami berangkat ke sebuah pantai dengan berjalan kaki, dan sampai di tempat tujuan sekitar dua puluh menit kemudian. Pantai itu sungguh indah. Pohon-pohon bakau tumbuh subur di sana serta lumut-lumut hijau mengapung di permukaan air laut bagian tepi.

Pantai itu sepi. Ternyata masih ada pantai yang sepi di Bali. Bayangan saya, dulu, semua pantai di Bali itu seperti Kuta atau Nusa Dua. Kalau pantai di Kuta itu pastilah sepi pada saat Nyepi. Namun pantai di sudut Gerokgak ini benar-benar sepi, padahal Nyepi belum mulai.

Pemandangannya pun indah dan memanjakan mata kami. Tidak hanya itu! Ternyata ada hal lain lagi yang lebih menggoda. Di atas lumut-lumut hijau yang mengapung itu, tampak bertebaran sekian banyak kepiting dan lobster. Fathorrahman Zairazi, Muhammad Fathur Rosi, B.B. Soegiono, dan saya, ketika itu langsung berburu kepiting dan lobster.

Tetapi, kami tidak mengambil semuanya, karena kami tidak serakus itu. Kami hanya mengambil secukupnya saja untuk kami masak nanti malam apabila sudah kembali ke rumah Fathorrahman Zairazi.

Ketika sinar matahari sudah tidak terang lagi, kami pun kembali pulang. Ketika sedang dalam perjalanan, Muhammad Fathur Rosi mengatakan kepada kami kalau pantai yang baru saja kami datangi itu tidak boleh diketahui oleh para pemodal nakal.

B.B. Soegiono kemudian meneruskan perkataan itu dengan celotehan: kalau itu diketahui oleh para pemodal nakal, takutnya nanti di Bali ini tidak ada lagi pantai yang indah bagi warga sekitarnya. Kami serentak tertawa.

Nyepi dengan Cerita Sastra

Pada hari Kamis, 7 Maret 2018, Nyepi sudah diselenggarakan. Kami baru bangun tidur kira-kira pukul 10 siang. Keadaan benar-benar sepi. Tidak ada suara kendaraan dari luar. Jaringan internet pun ikut-ikutan sepi, eh bukan sepi lagi malahan, tapi mampus.

Pada siang hari itu, kami makan bersama dengan ayah Fathorrahman Zairazi. Kami tidak terlalu banyak berbincang. Setelah makan siang usai, kami mulai sibuk dengan kesibukan kami masing-masing. Ada yang menulis. Ada yang membaca buku. Ada juga yang menonton vidio.

Ketika malam hari sudah tiba, keadaan terasa semakin sepi, dari jendela kamar saya mengintip ke luar, dan keadaan di luar benar-benar gelap sekali. Di dalam rumah, kami menggunakan penerangan secukupnya. Kami menggunakan penerangan kecil saja, hanya di dalam kamar, dan sinarnya sekiranya tidak sampai memancar ke luar rumah. Kenyataannya bagaimana, saya tidak tahu betul, karena tidak ada di antara kami yang mencoba melihatnya dari luar.

Setelah selesai makan malam, kemudian Ayah Fathorrahman Zairazi bercerita. Pertama-tama dia bercerita tentang sastra. Dia menceritakan kisah Zainudin dalam novel Tenggelamnja Kapal Van der Wijck karangan Buya Hamka dan kisah cinta Kais dalam buku Layla dan Majnun.

Airmata lelaki tua itu tampak membayang-bayang pada kedua belah matanya. Dia bergetar menceritakan kisah percintaan yang baru saja dia ceritakan. Dia secara terbuka mengatakan kepada kami bahwa dia mengalami kisah seperti itu.

Setelah beberapa lama berlalu, kemudian pembicaraan kami berganti topik. Kami mulai membicarakan tentang kerukunan penduduk beragama Hindu dengan penduduk beragama Islam di Gerokgak.

Di Gerokgak, kerukunan penduduknya sangat toleran. Apabila ada upacara keagamaan dari agama Hindu, maka orang-orang muslim di sana ikut membantu, dan apabila ada upacara keagamaan Islam, maka orang-orang beragama Hindu ikut pula membantu.

BACA:

  • Di Pemuteran, Sekaa Teruna dan Pemuda Ansor Riang Bersama dalam Pawai Ogoh-ogoh

Kira-kira pukul 23.00 kami pun segera berbaring di atas tempat tidur. Tidak terasa kami berempat tertidur karena kelelahan. Keesokan harinya, ketika kami bagun, tiba-tiba jaringan internet sudah muncul di ponsel kami masing-masing. Nyepi pun sudah berlalu. Kami kembali sibuk dengan ponsel milik kami masing-masing.

Kalau Anda ingin melakukan perjalanan beriringan dengan kami, itu sudah terlambat, kami sudah pada balik ke Singaraja. Namun, di lain waktu, kami akan senang kalau ditemani oleh Anda. Apalagi Anda-Anda cewe cantik yang masih jomlo. Hehehee… enggak lucu ya? Yuk ketawain saja saya… [T]

Tags: balibulelengHari Raya NyepihinduMuslim
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Solidaritas Nak Buleleng

Next Post

Acintya

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Acintya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co