24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Panduan Nyepi ala Cangak

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 5, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sebelum internet dimatikan karena harus Nyepi, ada baiknya saya memberikan panduan untuk menyepi kepada khalayak luas maupun sempit.

Saya akan berusaha menghindari penjelasan berulang-ulang tentang empat janji diri beramai-ramai saat nyepi. Untuk sekadar mengingatkan, keempat itu adalah tidak pergi, tidak makan, tidak bekerja, tidak menyalakan api. Begitulah hasil hapal-hapalannya. Namanya saja hapalan, maka jangan heran jika nanti bisa terlupakan dengan sengaja.

Jangan lupa, kalau Nyepi itu adalah tahun baru. Namanya tahun baru Saka. Karena tahun baru, maka banyak yang merayakan. Merayakan tahun baru Saka dengan Nyepi.

Menurut seorang pakar, ada yang tidak nyambung antara kata merayakan dan Nyepi. Sebab keduanya mewakili ide yang berbeda. Perayaan baginya, mewakili ide tentang kemeriahan dan ramai-ramai. Sedangkan Nyepi tidak begitu. Nyepi adalah situasi yang disengaja untuk menjadi sepi. Gitu lho.

Memang akan ada banyak pengamat agama, budaya, yang melejit memberikan tafsir begini dan begitu tentang Nyepi. Ada yang bilang, bahwa menyepi berarti meng-Nol-kan kembali seluruh jagat setelah setahun bergerak. Tapi jagat mana yang berhenti bergerak? Kan Bumi yang konon bulat ini menurut para sekelompok ahli – saya sebut sekelompok, sebab ada ahli-ahli lain yang berpendapat bumi ini datar—terus berputar pada sumbunya sambil mengelilingi matahari.

Mungkin maksudnya adalah menghentikan sehari aktifitas penghuni Bumi. Penghuni Bumi memang begitu kesukaannya, selalu dicarinya penyebab dari luar dirinya atas segala jenis kejadian. Penghuni Bumi itu pun hanya satu pulau kecil. Karena merasa kecil, maka banyaklah yang sangat amat bangga dengan tradisinya itu. Meski kecil, sumbangannya terhadap dunia yang sangat besar itu tidak kalah besarnya.

Begitulah Nyepi dalam kepala kebanyakan orang. Selalu memikir-mikirkan Nyepi, malah kepalanya sendiri tidak sepi-sepi. Maka, ada juga yang berkata, kalau nyepi itu adalah waktunya introspeksi diri. Introspeksi diri ini, dibumbui dengan istilah mulat sarira. Padahal artinya tidak ruwet seperti kelihatannya. Arti mulat sarira adalah melihat tubuh. Sesederhana itu. Apanya yang ruwet dari melihat tubuh? Tidak ada yang ruwet. Cukup ambil cermin lalu lihat-lihatlah tubuh sendiri. Jangan bercermin dengan cermin buram.

Tidak kurang banyak yang ngomong, kalau Nyepi adalah cara menghargai alam semesta. Jadi polusi udara dan suara bisa dipersedikit karena Nyepi. Begitu konon menurut mereka yang terpelajar di bidangnya. Pokoknya, semua untuk kebaikan alam.

Yang paling mencengangkan di antara segala tafsir Nyepi, adalah bahwa Nyepi itu tidak melulu tentang alam semesta tapi juga tubuh. Nyepi jagat dan nyepi diri! Demikian tafsir lain yang mengejutkan dan juga mengharukan. Mendengarnya saja, pasti akan membuat haru biru menderu-deru. Air mata meleleh dibuatnya karena memikirkan tentang pandangan leluhur yang tidak kalah luhurnya.

Filsuf tidak akan melewatkan kesempatan Nyepi ini untuk merenung. Yang direnungkannya adalah nyepi atau kesepian. Kedua kata itu sama-sama dibangun oleh kata sepi, tapi maknanya tidak sama.

Nyepi berarti tindakan yang disengaja untuk menjadi sepi, sedangkan kesepian barangkali tidak. Mana ada orang sengaja membuat dirinya kesepian. Kesepian itu adalah hadiah dari pura-pura. Tidak kurang tidak lebih.

Agar tidak kesepian, berhentilah pura-pura. Nyepi menjadi momentum yang selalu dicari dan dinanti. Hanya saat nyepi, para pemburunya tidak dihantui pertanyaan-pertanyaan begini dan begitu oleh yang tidak suka memburu sepi. Jika ada yang bertanya tentang mengapa begini mengapa begitu, maka jawabannya sudah tersedia. Ya, karena Nyepi. Nyepi jagat dan nyepi diri. Begitu jawabannya.

Agar sukses, Nyepi diri bisa diawali dengan persiapan-persiapan. Persiapan itu haruslah matang, supaya didapatnya Sepi itu, bukan malah kesepian. Ada juga yang tidak tahu bagaimana caranya menyongsong Nyepi. Maka dalam tulisan ini akan saya berikan metode Nyepi ala Cangak, beginilah caranya.

Pertama, makan dan minumlah secukupnya. Makan secukupnya ini dilakukan sebelum matahari terbit setelah melakukan tawur kasanga. Setelah semua ogoh-ogoh diarak oleh yang suka minum arak, siap-siapkan diri untuk menyongsong sepi. Jangan makan dan minum berlebihan, tidak lucu jika sedang serius menyepi tiba-tiba perut sakit dan kepala pusing.

Kedua, mandilah yang bersih. Ini gunanya agar bau badan tidak menyebar kemana-mana. Jadi ini bisa bermanfaat bagi diri sendiri, tidak akan diganggu oleh bau badan. Selain itu, badan bisa lebih segar karena selama sehari penuh akan didiamkan. Jangan lupa pakai deodorant. Siapa tahu, nanti datang bidadari untuk memberikan anugerah.

Ketiga, kuncilah kamar rapat-rapat. Fungsinya adalah untuk meminimalisir gangguan dari yang ingin mengganggu atau tidak sengaja mengganggu. Ini juga berguna untuk menciptakan suasana yang hening. Jadi proses Nyepi bisa aman terkendali.

Keempat, berikan pesan kepada yang lain bahwa akan mabrata. Point yang keempat ini sangatlah penting, agar jangan digedor-gedor. Mana bagus saat diam mengolah nafas tiba-tiba jadi sesak karena kaget pintu digedor.

Kelima, matikan segala jenis alat komunikasi. Sebelum melakukan ini, bagi yang punya pacar, silahkan kabari terlebih dahulu pacarnya. Agar tidak timbul kecurigaan setelahnya. Jadi Nyepi pun bisa lebih khusuk. Bagi yang tidak punya pacar, point kelima ini bisa menjadi solusi untuk tidak narsis. Contohnya foto selfie saat Nyepi.

Keenam, jangan taruh makanan atau pun minuman di kamar. Ini akan sangat membantu, sebab meminimalisir keinginan untuk melanggar. Karena segala jenis pelanggaran umumnya dilakukan karena ada kesempatan.

Ketujuh, sediakan alas duduk yang nyaman. Kalau bisa jangan di kasur, sebab kasur itu godaan paling hakiki. Kan saat Nyepi tidak boleh tidur. Namanya majagra.

Kedelapan, siapkan diri untuk ngembak geni. Point kedelapan ini, sangat penting untuk diperhatikan. Karena menyelesaikan sama pentingnya dengan memulai dan menjalani. Menyelesaikan Nyepi jangan buru-buru. Pelan-pelan saja. Kalau ingin mulai makan, minumlah terlebih dahulu. Akan sangat baik jika yang diminum adalah yang manis-manis. Gunanya untuk membiasakan kembali fungsi tubuh dengan makanan serta minuman. Itu gunanya yang manismanis, asal yang manis-manis itu bukan kenangan, apalagi sama mantan. Jangan!

Delapan langkah itu saja sepertinya cukup. Itu berdasarkan pada permenungan ala Cangak. Maka akan sangat penting untuk diperhatikan satu persatu. Kalau bisa, jangan dilanggar. Nanti kena kartu merah.

CANGAK SEBELUMNYA:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?

Oh iya, Nyepi berbeda dengan Galungan. Jadi tidak ada yang namanya manis Nyepi, karena perhitungan waktu keduanya berbeda. Setelah Nyepi bernama ngembak geni, artinya membuka api. Sedangkan setelah Galungan disebut Manis Galungan karena perhitungannya adalah lima hari dimulai dari Umanis, Paing, Pon, Wage dan Kliwon. Begitu seterusnya kembali ke Umanis. Galungan terjadi tepat pada Kliwon, makanya sehari setelah Galungan adalah hari Umanis. Ini juga penting diingat, jangan lupa. Ok?

Sekian dulu panduan Nyepi ini, sebab saya pun harus menyiapkan segala sesuatunya. Terutama menyiapkan badan agar siap diajak diam. Apalagi kaki Cangak saya yang mungil ini berisi tahi lalat. Konon bagi yang kakinya begitu, pastilah tidak suka diam. Inginnya hanya jalan-jalan saja.

Memang beberapa hari ini, kaki Cangak saya sudah gatal untuk jalan-jalan, apalagi setelah melihat kondisi penghuni telaga yang menyedihkan seperti ini. Hati Cangak saya yang lembut ini merasa terenyuh. Sungguh sangat ingin saya membantu mengentaskan penderitaan semua makhluk.

Lalu apa yang bisa kita dapatkan dari Nyepi? Nah, itu tergantung cara menjalani. Kalau saya pribadi, yang saya dapat adalah sebuah rumus. Rumusnya adalah “penghargaan diam, sama menariknya dengan penghargaan gerak”. Itu saja. [T]B

Tags: baliHari Raya Nyepihindupanduanrenungantips
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Malasti, Dari Tepi Air ke Hening

Next Post

Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co