14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Panduan Nyepi ala Cangak

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 5, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sebelum internet dimatikan karena harus Nyepi, ada baiknya saya memberikan panduan untuk menyepi kepada khalayak luas maupun sempit.

Saya akan berusaha menghindari penjelasan berulang-ulang tentang empat janji diri beramai-ramai saat nyepi. Untuk sekadar mengingatkan, keempat itu adalah tidak pergi, tidak makan, tidak bekerja, tidak menyalakan api. Begitulah hasil hapal-hapalannya. Namanya saja hapalan, maka jangan heran jika nanti bisa terlupakan dengan sengaja.

Jangan lupa, kalau Nyepi itu adalah tahun baru. Namanya tahun baru Saka. Karena tahun baru, maka banyak yang merayakan. Merayakan tahun baru Saka dengan Nyepi.

Menurut seorang pakar, ada yang tidak nyambung antara kata merayakan dan Nyepi. Sebab keduanya mewakili ide yang berbeda. Perayaan baginya, mewakili ide tentang kemeriahan dan ramai-ramai. Sedangkan Nyepi tidak begitu. Nyepi adalah situasi yang disengaja untuk menjadi sepi. Gitu lho.

Memang akan ada banyak pengamat agama, budaya, yang melejit memberikan tafsir begini dan begitu tentang Nyepi. Ada yang bilang, bahwa menyepi berarti meng-Nol-kan kembali seluruh jagat setelah setahun bergerak. Tapi jagat mana yang berhenti bergerak? Kan Bumi yang konon bulat ini menurut para sekelompok ahli – saya sebut sekelompok, sebab ada ahli-ahli lain yang berpendapat bumi ini datar—terus berputar pada sumbunya sambil mengelilingi matahari.

Mungkin maksudnya adalah menghentikan sehari aktifitas penghuni Bumi. Penghuni Bumi memang begitu kesukaannya, selalu dicarinya penyebab dari luar dirinya atas segala jenis kejadian. Penghuni Bumi itu pun hanya satu pulau kecil. Karena merasa kecil, maka banyaklah yang sangat amat bangga dengan tradisinya itu. Meski kecil, sumbangannya terhadap dunia yang sangat besar itu tidak kalah besarnya.

Begitulah Nyepi dalam kepala kebanyakan orang. Selalu memikir-mikirkan Nyepi, malah kepalanya sendiri tidak sepi-sepi. Maka, ada juga yang berkata, kalau nyepi itu adalah waktunya introspeksi diri. Introspeksi diri ini, dibumbui dengan istilah mulat sarira. Padahal artinya tidak ruwet seperti kelihatannya. Arti mulat sarira adalah melihat tubuh. Sesederhana itu. Apanya yang ruwet dari melihat tubuh? Tidak ada yang ruwet. Cukup ambil cermin lalu lihat-lihatlah tubuh sendiri. Jangan bercermin dengan cermin buram.

Tidak kurang banyak yang ngomong, kalau Nyepi adalah cara menghargai alam semesta. Jadi polusi udara dan suara bisa dipersedikit karena Nyepi. Begitu konon menurut mereka yang terpelajar di bidangnya. Pokoknya, semua untuk kebaikan alam.

Yang paling mencengangkan di antara segala tafsir Nyepi, adalah bahwa Nyepi itu tidak melulu tentang alam semesta tapi juga tubuh. Nyepi jagat dan nyepi diri! Demikian tafsir lain yang mengejutkan dan juga mengharukan. Mendengarnya saja, pasti akan membuat haru biru menderu-deru. Air mata meleleh dibuatnya karena memikirkan tentang pandangan leluhur yang tidak kalah luhurnya.

Filsuf tidak akan melewatkan kesempatan Nyepi ini untuk merenung. Yang direnungkannya adalah nyepi atau kesepian. Kedua kata itu sama-sama dibangun oleh kata sepi, tapi maknanya tidak sama.

Nyepi berarti tindakan yang disengaja untuk menjadi sepi, sedangkan kesepian barangkali tidak. Mana ada orang sengaja membuat dirinya kesepian. Kesepian itu adalah hadiah dari pura-pura. Tidak kurang tidak lebih.

Agar tidak kesepian, berhentilah pura-pura. Nyepi menjadi momentum yang selalu dicari dan dinanti. Hanya saat nyepi, para pemburunya tidak dihantui pertanyaan-pertanyaan begini dan begitu oleh yang tidak suka memburu sepi. Jika ada yang bertanya tentang mengapa begini mengapa begitu, maka jawabannya sudah tersedia. Ya, karena Nyepi. Nyepi jagat dan nyepi diri. Begitu jawabannya.

Agar sukses, Nyepi diri bisa diawali dengan persiapan-persiapan. Persiapan itu haruslah matang, supaya didapatnya Sepi itu, bukan malah kesepian. Ada juga yang tidak tahu bagaimana caranya menyongsong Nyepi. Maka dalam tulisan ini akan saya berikan metode Nyepi ala Cangak, beginilah caranya.

Pertama, makan dan minumlah secukupnya. Makan secukupnya ini dilakukan sebelum matahari terbit setelah melakukan tawur kasanga. Setelah semua ogoh-ogoh diarak oleh yang suka minum arak, siap-siapkan diri untuk menyongsong sepi. Jangan makan dan minum berlebihan, tidak lucu jika sedang serius menyepi tiba-tiba perut sakit dan kepala pusing.

Kedua, mandilah yang bersih. Ini gunanya agar bau badan tidak menyebar kemana-mana. Jadi ini bisa bermanfaat bagi diri sendiri, tidak akan diganggu oleh bau badan. Selain itu, badan bisa lebih segar karena selama sehari penuh akan didiamkan. Jangan lupa pakai deodorant. Siapa tahu, nanti datang bidadari untuk memberikan anugerah.

Ketiga, kuncilah kamar rapat-rapat. Fungsinya adalah untuk meminimalisir gangguan dari yang ingin mengganggu atau tidak sengaja mengganggu. Ini juga berguna untuk menciptakan suasana yang hening. Jadi proses Nyepi bisa aman terkendali.

Keempat, berikan pesan kepada yang lain bahwa akan mabrata. Point yang keempat ini sangatlah penting, agar jangan digedor-gedor. Mana bagus saat diam mengolah nafas tiba-tiba jadi sesak karena kaget pintu digedor.

Kelima, matikan segala jenis alat komunikasi. Sebelum melakukan ini, bagi yang punya pacar, silahkan kabari terlebih dahulu pacarnya. Agar tidak timbul kecurigaan setelahnya. Jadi Nyepi pun bisa lebih khusuk. Bagi yang tidak punya pacar, point kelima ini bisa menjadi solusi untuk tidak narsis. Contohnya foto selfie saat Nyepi.

Keenam, jangan taruh makanan atau pun minuman di kamar. Ini akan sangat membantu, sebab meminimalisir keinginan untuk melanggar. Karena segala jenis pelanggaran umumnya dilakukan karena ada kesempatan.

Ketujuh, sediakan alas duduk yang nyaman. Kalau bisa jangan di kasur, sebab kasur itu godaan paling hakiki. Kan saat Nyepi tidak boleh tidur. Namanya majagra.

Kedelapan, siapkan diri untuk ngembak geni. Point kedelapan ini, sangat penting untuk diperhatikan. Karena menyelesaikan sama pentingnya dengan memulai dan menjalani. Menyelesaikan Nyepi jangan buru-buru. Pelan-pelan saja. Kalau ingin mulai makan, minumlah terlebih dahulu. Akan sangat baik jika yang diminum adalah yang manis-manis. Gunanya untuk membiasakan kembali fungsi tubuh dengan makanan serta minuman. Itu gunanya yang manismanis, asal yang manis-manis itu bukan kenangan, apalagi sama mantan. Jangan!

Delapan langkah itu saja sepertinya cukup. Itu berdasarkan pada permenungan ala Cangak. Maka akan sangat penting untuk diperhatikan satu persatu. Kalau bisa, jangan dilanggar. Nanti kena kartu merah.

CANGAK SEBELUMNYA:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?

Oh iya, Nyepi berbeda dengan Galungan. Jadi tidak ada yang namanya manis Nyepi, karena perhitungan waktu keduanya berbeda. Setelah Nyepi bernama ngembak geni, artinya membuka api. Sedangkan setelah Galungan disebut Manis Galungan karena perhitungannya adalah lima hari dimulai dari Umanis, Paing, Pon, Wage dan Kliwon. Begitu seterusnya kembali ke Umanis. Galungan terjadi tepat pada Kliwon, makanya sehari setelah Galungan adalah hari Umanis. Ini juga penting diingat, jangan lupa. Ok?

Sekian dulu panduan Nyepi ini, sebab saya pun harus menyiapkan segala sesuatunya. Terutama menyiapkan badan agar siap diajak diam. Apalagi kaki Cangak saya yang mungil ini berisi tahi lalat. Konon bagi yang kakinya begitu, pastilah tidak suka diam. Inginnya hanya jalan-jalan saja.

Memang beberapa hari ini, kaki Cangak saya sudah gatal untuk jalan-jalan, apalagi setelah melihat kondisi penghuni telaga yang menyedihkan seperti ini. Hati Cangak saya yang lembut ini merasa terenyuh. Sungguh sangat ingin saya membantu mengentaskan penderitaan semua makhluk.

Lalu apa yang bisa kita dapatkan dari Nyepi? Nah, itu tergantung cara menjalani. Kalau saya pribadi, yang saya dapat adalah sebuah rumus. Rumusnya adalah “penghargaan diam, sama menariknya dengan penghargaan gerak”. Itu saja. [T]B

Tags: baliHari Raya Nyepihindupanduanrenungantips
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

Malasti, Dari Tepi Air ke Hening

Next Post

Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

Kamu Tahu Apa? Aku ini Orang Berpendidikan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co