2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Badai Pasti Berlalu, Tapi Masih Ada Badai-Badai Lain –Catatan Aktor Sebelum Pentas

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
February 26, 2019
in Esai
Badai Pasti Berlalu, Tapi Masih Ada Badai-Badai Lain –Catatan Aktor Sebelum Pentas

Dok: Sekali Pentas

Ini catatan proses pementasan drama musikal berjudul “SUKRENI WANG SISTRI LISTUAYU”, adaptasi Novel Sukreni Gadis Bali, karya A.A Pandji Tisna.

Ini bisa disebut media curhat saya sebagai salah satu aktor pada pementasan nanti, yang akan di gelar di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar, Bali. Pementasan akan berlangsung tanggal 28 Februari 2019, dalam rangkaian acara peringatan Bulan Bahasa Bali. Pementasan kali ini disutradarai oleh I Wayan Sumahardika atas nama Kelompok Sekali Pentas.

Pada proses kali ini saya selaku aktor mungkin tidak akan bercerita tentang tokoh-tokoh yang ada di novel, ataupun menceritakan tokoh yang saya mainkan. Melainkan lebih pada proses latihan dan pendalaman tiap aktor mengenali tokohnya sendiri, baik dari segi apapun,  seperti latar belakang antara satu tokoh dengan tokoh lainnya.

Pada proses latihan ini ada beberapa hal yang paling menarik bagi saya. Apalagi di saat hari-hari pertama kami mulai latihan. Pada minggu pertama latihan, sutradara memberikan kesempatan pada tiap aktor yang sekiranya sedikit memahami tentang dunia keaktoran, untuk berbagi ke teman-teman lainya.

Karena kebetulan pada garapan ini, kami atas nama Kelompok Sekali Pentas berkolaborasi bersama beberapa teater di Denpasar, baik dari Teater SMA, Teater Kampus maupun Teater Umum yang ada dan tanpa paksaan untuk mengikuti proses garapan ini.

Kemudian proses sharing atau berbagi ke teman-teman lainnya tentang proses yang biasa di lakukan pada teaternya masing-masing dan di bebaskan untuk sharing, tentang metode apapun, baik tubuh, ekspresi wajah, bahkan cara berdialog, tergantung setiap pemahaman metode yang di pahaminya di kelompoknya.

Saya mendapat banyak penemuan saat proses latihan minggu pertama, akhirnya saya menyadari ternyata banyak sekali terdapat metode pelatihan teater. Walaupun ada beberapa yang saya sudah pernah lakukan.  Sutradara juga menekankan untuk tidak menginterpretasi apa yang akan di bagikan dari teman yang sedang sharing tentang metode teaternya. Saya mengamini titah sutradara, untuk tidak menginterpreatasi metode-metode tersebut, ternyata hasilnya luar biasa, sekiranya untuk diri saya sendiri. Secara tidak sadar di saat saya mencari kemungkinan lain, ternyata banyak hal yang saya dapat saat pengulangan itu.

Apalagi di tambah dengan sesi diskusi setelah sharing metode tersebut, baik apa maksud metode itu dari pelaku yang membagikan metode atau penemuan tiap aktor lainya. Disini menariknya, saya banyak sekali mendapat kemungkinan lain tentang perteateran. Bahkan saya pernah berucap dalam hati, “oh ternyata ada ya metode teater kayak gini”. Seperti misalnya tentang metode ketubuhan, vocal dan ekspresi, ternyata pada proses ini saya banyak mendapat hal baru.

Saya menjadi salah satu, sebut saja mentor metode. Saya memberikan metode dasar tentang  kesadaran tubuh, dari masing-masing aktor. Saya menerapkan metode dasar yang pernah saya dapat saat mengikuti workshop beberapa bulan lalu di Jogja. Titik beratnya adalahmenstimulus kesadaran dan kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing aktor dari segi tubuh mereka, saya membagi beberapa kelompok ke teman-teman lainya yang terdiri dari tiga orang.

Kemudian tahap selanjutnya, lalu memilih salah satu orang untuk bergerak dengan lembut. Dengan tedensi untuk tidak mengejar keindahan atau ingin menunjukan sesuatu, hanya bergerak pelan saja. Kemudian dua orang dari kelompok itu memerhatikan teman yang sedang bergerak, dan mengarahkan atau cukup menyentuh saja bagian mana yang keliahatan tidak bergerak tanpa suara.

Kemudian setelah beberapa menit memperhatikan dan mengarahkan-diperhatikan dan diaarahkan, saya mencoba untuk memberikan waktu sekitar 3-4 menit untuk mereka berbicara atau saling memberitahukan tentang apa yang terjadi dari tiap kelompok. Begitupun secara bergantian, terus dilakukan berulang tanpa mengetahui apa sebenarnya tujuannya dan apa yang ingin saya capai.

Awalnya saya juga tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi pada mereka, apakah yang saya ingin capai sampai ke teman-teman lainya. Saya hanya mengikuti perintah arahan sutradara untuk sharing ke teman-teman tentang metode yang saya pahami, walaupun sedikit. Setelah waktu yang saya miliki untuk sharing itu selesai, diskusi secara keseluruhan berlangsung.

Saya sebelumnya menjelaskan tentang apa dan maksud tujuan dari metode tersebut dari perspektif saat saya yang melakukan kala itu, saya hanya menyadari waktu itu ternyata tubuh yang saya miliki sangat jarang sekali bergerak dan mengeksplor kemungkinan lain.

Tapi saat diarahkan teman lainnya dengan cara seperti tadi hanya di sentuh tanpa berbicara, kemudian setelah di persilahkan berbicara baru kami boleh berbicara seputaran tentang apa yang baru saja saya lakukan dan teman yang lain perhatikan. Ternayata banyak sekali masukan dari teman yang memerhatikan, dan di saat saya melihat itu sangat mudah, lalu saat saya yang melakukan ternyata susah sekali. Begitu penemuan saya waktu itu.

Kemudian saat diskusi secara keseluruhan, ternyata ada beberapa teman-teman yang menemukan kesamaan seperti apa yang saya dapatkan kala itu. Dan ada juga teman yang menemukan hal baru dan hal lain, yang tidak saya temukan saat di Jogja kala itu. Bahkan ada juga teman-teman yang tidak menemukan apa-apa, itu bagi saya sah-sah saja. Karena ini hanya sharing saja, dan saya pribadi juga ingin menerapkan makna pengulangan seperti suruhan Sutradara pada awal latihan.

Dan benar sekali ternyata, saat saya mencoba mengulang itu semakin banyak menemukan hal baru. Dan saya ingat juga waktu itu pemberi materi workshop di Jogja pernah bilang, “bahwa setiap metode itu harus di kembangkan sendiri, dan harus di ulang bersama temanmu nanti”.

 Kemudian untuk proses kali ini saya pun banyak sekali mendapat hal pengulangan, tanpa saya pernah ingin tahu apa sih tujuanya. Karena itu akan berbeda tiap orang, yang saya pentingkan adalah menemukan hal baru tentang keaktoran saya dan menjadi kamus keaktoran untuk pementasan nanti, mungkin.

Kemudian saya mencoba mengikuti apa saja perintah sutradara, tanpa membantah dan menginterpretasinya. Saya hanya mencari dan mecari, sampai pada suatu saat nantii mungkin, saat pementasan berlangsung itulah hasil pembelajaran dan proses panjang dari hasil sharing dan masukan saat latihan. Karena saya menyadari betul untuk mencapai suatu yang besar memang harus ada proses panjang yang harus saya lewati, bahkan saya pribadi melewati rasa sedih, senang bahkan kejenuhan itu bersama teman-teman yang ikut proses.

Itu saya jalani saja sebagaimana mestinya, karena memang begitulah proses bagi saya. Ada ego, tawar-menawar dan kemungkinan lain di dalamnya, sedih iya pasti kadang disaat saya sudah tepat waktu datang latihan teman-teman yang lain belum lengkap. Senangnya ada juga bisa berkumpul bersama teman-teman dari latar belakang berbeda dan berbagi pemahaman tentang teater, bercanda bareng, tertawa bareng, banyak hal keseruan di dalamnya. Bahkan pernah pada tahapan jenuh berlatih karena begitu-begitu saja, dan mungkin lelah karena setiap hari mengulang metode yang sama.

Tapi saya percaya suatu saat nanti hasilnya akan berbeda karena proses panjang ini, setidaknya diluar hasil pementasan ada pembelajaran dan kenangan yang membekas pada tiap aktor dan teman proses lainnya, baik dari pemusik, management dan artistik.

Karena menurut pembacaan saya pada proses ini tidak hanya membahas naskah, tapi sering juga kami berdiskusi tentang hal lain. Entah itu penanaman keaktoran, dan mencari lagi lapisan pinggir teater yang tidak kami tahu. Dengan banyak cara, mencari refrensi lain untuk sekiranya cocok jadi tempat berkaca pementasan kami. Kami menonton film dan video dokumentasi drama musikal yang bagi saya pribadi itu sangat keren, “pake bangetz”.

 Sekali lagi untuk mencapai hal yang keren, apalagi “pake bangetz” itu kayaknya tidak gampang dan butuh proses panjang. Makanya pada proses garapan drama musikal yang di garap oleh sutradara I Wayan Sumahardika, atas nama Sekali Pentas ini saya ikut dan mencoba se-serius mungkin berproses untuk mendapat hasil yang saya rasa maksimal nantinya.

Walaupun nanti, selesai pementasan, saya harus kembali mempunyai kesadaran untuk mencari lagi kemungkinan lain tentang teater dan tidak berhenti sampai disini saja. Karena mungkin saja kedepannya jika saya benar-benar serius dalam ingin tahu mencari tentang teater saya bisa menjadi tokoh teater, kan mungkin saja.

Tapi sekali lagi saya harus menyadarkan diri bahwa itu tidak gampang, saya harus lebih banyak lagi belajar dan mencari tahu tentang teater. Seperti candaan sutradara, “biarpun badai menghadang kita harus tetap maju”. Ya sudah kalau begitu tulisan ini saya sudahi dahulu ya, saya hendak menerjang panas, hujan bahkan badai di depan sana. Dan kembali berproses, sampai ketemu pada kesempatan curhat saya selanjutnya teman-teman.

Salam badai dari saya. [T]

Tags: DramanovelTeater
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Dendam Raksasa Rau: Tahun-Tahun Tanpa Matahari dan Bulan

Next Post

Arjuna, Bima, Karna, dan Antek-anteknya –Catatan Sie Artistik

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Arjuna, Bima, Karna, dan Antek-anteknya –Catatan Sie Artistik

Arjuna, Bima, Karna, dan Antek-anteknya --Catatan Sie Artistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co