14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asal Tahu Saja, Neno Warisman Pernah jadi Perempuan Bali Kolok

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 23, 2019
in Esai
Asal Tahu Saja, Neno Warisman Pernah jadi Perempuan Bali Kolok

Foto: tatkala

Ini asal tahu saja. Tak ada maksud apa-apa.

Neno Warisman, perempuan artis yang kini banyak dibincangkan karena puisi kontroversialnya, Munajat 212, pernah menjadi perempuan Bali yang kolok (bisu) dalam sebuah sinetron sangat bagus pada awal tahun 1990-an. Judul sinetronnya “Aksara Tanpa Kata”.

Ceritanya, ya, tentang Bali. Tentang Bali yang diserbu investasi, di mana banyak tanah dijual, terpaksa dijual, atau dipaksa dijual, kepada broker dan investor. Suting sinetron itu salah satunya dilakukan di Banjar Tubuh, Batubulan, Gianyar.

Putu Putri Suastini, istri Gubernur Koster saat ini, juga turut bermain dalam sinetron itu dan mendapatkan peran, kalau tidak salah, sebagai teman si perempuan kolok.

Saat itu, TVRI, sebagai stasiun televisi milik pemerintah, dianggap cukup berani menayangkan sinetron dengan tema sensitif semacam itu. Padahal itu di zaman Orde Baru, lho. Apalagi, para broker tanah dan investor yang berkeliaran pada masa-masa keemasan dunia pariwisata di Pulau Dewata saat itu, diduga punya hubungan erat dengan istana dan rezim pemerintahan saat itu.

Sebagai sebuah cerita, Aksara Tanpa Kata, pun tak kalah berani. Ceritanya menusuk langsung pada persoalan, tidak bertele-tele, dan klir. Diceritakan, seorang ibu (diperankan oleh Renny Jayusman) yang hidup di sebuah desa alami di Bali, bertahan untuk tidak menjual tanah warisan leluhurnya yang hendak disulap sebagai kawasan pembangunan akomodasi pariwisata, meski ia dirayu sekaligus mendapatkan berbagai tekanan.

“Tolong bilang pada bapak itu, tiang tak akan menjual tanah tiang walau sejengkal pun!” begitu penggalan kalimat  si ibu yang menggetarkan dalam sinetron itu        

Nah, Neno Warisman, dalam cerita itu berperan sebagai anak si ibu itu. Anak perempuan yang gagu, kolok, dan lugu. Neno saat itu main sangat cantik, natural,  dan tentu saja bagus. Aktingnya sebagai perempuan muda yang kolok benar-benar meyakinkan. Perempuan kolok itu punya suami, seorang lelaki pengangguran dan pemalas.

Si suami inilah yang kemudian menggerakkan konflik dalam cerita itu. Si lelaki, yang tak lain adalah menantu si ibu, punya keinginan besar untuk menjual tanah mertuanya. Lelaki itu ingin hidup enak dalam waktu cepat, kaya raya, dan setelah itu, apa lagi jika bukan berfoya-foya. Si ibu tetap kukuh mempertahankan tanahnya meski menantunya terus mendesak.

Sampai akhirnya si ibu tiba pada sebuah dilemma. Ia harus memilih antara kukuh untuk  mempertahankan tanahnya dan memilih untuk mempertahankan kebahagiaan anak perempuannya yang kolok itu. Sebab, ternyata suami anaknya — si lelaki pemalas itu — mengancam menceraikan si perempuan kolok jika si ibu tak mau menjual tanahnya. Si ibu tahu, anaknya sangat mencintai lelaki itu, dan si ibu juga mencintai anak perempuannya.

Sinetron itu ditutup dengan sangat miris dan menyedihkan. Si ibu akhirnya menyerah. Ia menjual tanahnya, dan semua uang diberikan kepada anaknya, si perempuan kolok. Si perempuan kolok kemudian mencari suaminya bermaksud untuk menyerahkan segepok uang hasil penjualan tanah itu. Tapi suaminya diketahui pergi ke bandara hendak berangkat keluar negeri.

Perempuan kolok itu mengejar suaminya hingga ke bandara dan menemukan sang suami menggandeng seorang perempuan bule dan sudah siap naik pesawat. Si perempuan kolok meminta suaminya kembali dan menunjukkan begitu banyak uang hasil penjualan tanah, namun sang suami menolak dan tetap pergi bersama perempuan bule itu.

Maaf, saya benar-benar tak ingat nama tokoh dalam sinetron itu. Yang saya ingat hanya dua pemerannya, yakni Renny Jayusman sebagai ibu dan Neno Warisman sebagai perempuan kolok. Saya ingat betul bagaimana ekspresi wajah Neno Warisman ketika bermain sebagai perempuan kolok yang lemah, terutama di bagian ending, ketika ia ditinggalkan suaminya yang kepincut perempuan bule di bandara. Saya ingat betul. Dan saya mengagumi Neno Warisman sampai bertahun-tahun kemudian.

Kehebatannya bermain dalam sinetron Aksara Tanpa Kata itu memang tak bisa dilupakan. Itu memang sinetron berkualitas dengan sutradara Irwinsyah, seorang sutradara yang punya kualitas melebihi rata-rata sutradara sinetron pada zaman sekarang ini. Irwinsyah banyak melahirkan sinetron penting pada zaman jayanya TVRI, sehingga sinetron saat itu jadi salah satu acara andalan dan ditunggu-tunggu pemirsa.  

Maka tidaklah mengejutkan Aksara Tanpa Kata menjadi jawara pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) tahun 1992. Irwinsyah saat itu ditetapkan sebagai sutaradara terbaik,  Renny Jayusman sebagai Aktris Pembantu Terbaik, dan Neno Warisman ditetapkan sebagai Aktris Utama Terbaik.

Saya menulis artikel ini bukan untuk maksud apa-apa. Asal tahu saja.

Asal tahu saja, bahwa Neno Warisman yang puisinya kini banyak dibincangkan, diberitakan, dan dipolemikkan, itu pernah bermain sinetron dan berperan sebagai perempuan muda Bali yang kolok.

Asal tahu saja, bahwa sinetron zaman kejayaan TVRI itu jauh lebih berkualitas dari kebanyakan sinetron-sinetronan pada zaman banyaknya stasiun TV saat ini.

Asal tahu saja, dulu, sekitar tahun 1990-an, cerita tentang Bali, di mana sekelompok warganya ramai-ramai melepaskan tanah warisan, pernah dibuatkan cerita yang bagus dalam sebuah sinetron yang bagus.

Asal tahu saja, dulu saya sangat mengagumi Neno Warisman, dan kini entahlah, saya sudah tak tahu lagi apa yang bisa dijadikan ukuran untuk mengagumi seseorang, terutama seorang artis di zaman perpolitikan yang kacau-balau ini. [T]   

Tags: baliceritaPilpressinetron
Share64TweetSendShareSend
Previous Post

Angga Wijaya# Sajak-sajak Jakarta

Next Post

Pemilu Pilih Siapa? Ruwet!

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

Pemilu Pilih Siapa? Ruwet!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co